Meskipun disebut sebagai lembaga pelatihan penyihir, masing-masing tempat memiliki ciri khas tersendiri.
Salah satunya adalah "Bahtera Hampa" (Kyou no Hakobune) yang berlayar mengelilingi lautan luas. Karena sifatnya yang unik, mereka sering berhadapan dengan faktor kehancuran yang muncul di laut. Maka dari itu, bentuk arena latihan di dalam akademi ini pun sangat berbeda dibandingkan dengan milik "Taman Kekosongan" (Kuugeki no Teien).
Lapangan tempat berlatih dipenuhi pasir halus dan bahkan gelombang ombak yang datang dan pergi direproduksi secara realistis. Entah bagaimana caranya, sebagian dinding udara yang menyelimuti bahtera memungkinkan air laut masuk dan menyebar. Rasanya lebih cocok disebut pantai atau tempat wisata laut ketimbang arena latihan.
Dan sekarang, di arena latihan itu—
“Umm, tempatnya memang di sini, kan?”
“Ya. Di ‘WeSPER’ memang tertulis lokasi ini.”
“Jadi aku nggak salah lihat kemarin!”
Beberapa siswa berkumpul sambil tertawa dan berseru riang.
Bahkan, kalau diperhatikan lebih seksama, ada juga beberapa penyihir yang sepertinya guru ikut hadir. Suasananya seperti sebuah acara khusus.
Tapi memang wajar saja.
Karena hari ini, di tempat ini—akan diadakan kelas khusus oleh penyihir legendaris, Kuozaki Saika, si Penyihir Warna-warni.
“Ramai sekali, ya.”
“Tampaknya begitu.”
Dari sebuah bangunan kecil di sudut pantai yang dijadikan ruang tunggu, Mushiki dan Kuroe saling berbicara sambil mengintip keluar.
“Kesempatan diajar langsung oleh penyihir selevel kepala sekolah sangat langka. Terlebih lagi, jika itu Saika-sama dari luar akademi. Tentu saja semua orang akan penasaran.”
Kuozaki Saika adalah kepala sekolah dari Taman Kekosongan, sekaligus salah satu penyihir terkuat di dunia. Seorang legenda hidup. Hampir tidak ada penyihir yang belum pernah mendengar namanya.
Namun, mereka yang pernah melihatnya langsung jauh lebih sedikit, dan yang pernah diajar secara langsung bahkan bisa dihitung dengan jari.
Kini, penyihir legendaris itu datang ke Bahtera untuk mengajar secara langsung. Tentu para penyihir muda akan sangat tertarik untuk mengikuti kelasnya.
Tapi di balik itu semua, Mushiki punya satu hal yang mengganjal di pikirannya.
“Ngomong-ngomong, Kuroe.”
“Ada apa?”
“Apa maksud dari pakaian ini?”
Mushiki menunduk melihat penampilannya.
Ya—saat ini, Mushiki sedang mengenakan bikini sporty model halter-neck.
Bikini ketat itu membalut tubuh Saika (yang sedang "dikenakan" Mushiki) dengan sempurna, memperlihatkan proporsi tubuhnya yang luar biasa. Sebegitu indahnya hingga tampak seperti karya seni. Bahkan Mushiki sempat tidak bisa beranjak dari depan cermin setelah didandani oleh Kuroe.
Bukan hanya Mushiki, Kuroe dan para gadis lain di arena juga mengenakan pakaian renang yang berbeda desain namun sama tujuannya. Karena lokasi dan suasananya, ini lebih mirip sekolah musim panas daripada kelas khusus.
Namun Kuroe dengan tenang menjelaskan:
“Kalau di Taman Kekosongan pun, saat berlatih di arena, kita pakai pakaian olahraga, kan?”
“Ya… Benar juga.”
“Ini sama saja.”
“Perbedaan budaya daerahnya luar biasa...”
Mushiki berkomentar sambil merasa campur aduk, sementara Kuroe sedikit memiringkan kepala.
“Tidak suka?”
“Tidak, aku rasa ini luar biasa. Bahkan, aku ingin diterapkan juga di Taman Kekosongan.”
“Nanti malah dikira Saika-sama kehilangan akal sehat, jadi tolong jangan.”
Kuroe menjawab dengan mata setengah melotot. Mushiki mengangguk patuh.
“Yah, aku mengerti sekarang. Meski agak kaget, desainnya tidak buruk. Kau juga cocok sekali memakainya, Kuroe.”
“Terima kasih.”
Kuroe menjawab tenang, tapi raut wajahnya tampak sedikit tersipu malu.
Tepat di saat itu, terdengar ketukan di pintu ruang tunggu.
“Ya, masuk saja.”
Saat Mushiki menjawab, pintu terbuka dan seorang gadis masuk.
Dia mengenakan seragam dengan jubah luar dan mengenakan topeng—seorang anggota Dewan Disiplin. Dari pola pada topengnya, terlihat jelas bahwa dia adalah Asagi, gadis yang kemarin memandu mereka.
“Permisi. …Kepala sekolah Kuozaki, ini maksudnya apa sebenarnya?”
Kalimat pertama Asagi terdengar seperti protes. Meski ekspresinya tertutup topeng, bisa dirasakan ia sedang cemberut di baliknya.
“Apa yang kau maksud? Tidak ada aturan yang menentukan bentuk kelasnya, jadi kupilih praktik lapangan. Dengan begini, lebih banyak siswa bisa mengikuti dibandingkan kalau dilakukan di ruang kelas atau aula. Masalah?”
Asagi hanya terdiam, tak mampu membalas.
Ya—ini adalah rencana yang disebutkan Kuroe kemarin.
Pihak Bahtera tidak ingin Saika bertemu dengan Ruri, tapi karena Saika datang sebagai guru tamu, mereka tidak bisa melarangnya mengajar. Jika ingin bertemu dengan Ruri, inilah satu-satunya kesempatan.
Kalau kelasnya hanya ceramah biasa di dalam ruangan, besar kemungkinan Ruri akan dicegah hadir dengan dalih keterbatasan tempat.
Karena itu, mereka mengatur kelas praktik di arena terbuka tanpa batasan jumlah peserta. Semua informasi juga telah disebar lewat aplikasi khusus penyihir "WeSPER" oleh Hildegard, yang mereka minta bantuannya sejak kemarin.
Aplikasi ini digunakan oleh lebih dari sembilan puluh persen siswa penyihir. Di tempat yang minim hiburan seperti Bahtera, gosip semacam itu menyebar dalam sekejap.
Bahkan jika Ruri kehilangan akses ke perangkat komunikasinya, akan sulit untuk benar-benar menghalangi informasi ini jika semua siswa sudah mengetahuinya.
“Bagaimanapun, ini tetaplah kelas. Mohon hindari percakapan yang tidak perlu.”
Asagi berkata dengan nada masam. Mushiki mengangguk dramatis.
“Baik, aku mengerti. ──Kalau begitu, ayo kita mulai, Kuroe.”
“Ya.”
Mushiki melangkah keluar dari ruang tunggu, menapakkan kaki di pasir putih.
“──Ah! Lihat, itu dia!”
Salah satu siswa yang lebih dulu menyadari kehadiran Mushiki menunjuk dan berteriak.
Dengan itu, sekelompok gadis serempak menoleh ke arah Mushiki dan menyambutnya dengan sorakan besar.
“Itu si penyihir dari Taman Kekosongan, ya!?”
“Jauh lebih cantik dari yang kubayangkan!”
“Aaaah! Dia menoleh ke sini!”
Sorakan heboh pun menggema.
Mushiki nyaris terintimidasi oleh reaksi para gadis, tapi di sisi lain, ia juga merasa senang karena Saika begitu populer. Ia pun melambaikan tangan sambil tersenyum percaya diri.
Dan seketika—
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!”
Teriakan para gadis makin menggila, membuat Mushiki benar-benar merasa seperti seorang selebriti.
"──"
Saat itu juga, alis Mushiki sedikit bergerak.
Di belakang para gadis berbikini yang terlihat sangat mencolok, ia melihat sosok Ruri.
Mushiki dan Kuroe saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk kecil satu sama lain.
"──Sepertinya, tahap pertama telah berhasil."
"Ya. Tapi, sepertinya kita tidak bisa terlalu santai."
Kuroe menjawab dengan suara pelan.
Dan memang benar apa yang dia katakan. Jelas sekali, Ruri sedang tidak seperti biasanya.
"Benar juga. Kalau itu Ruri yang biasa, dia pasti akan berdiri di barisan depan dengan kamera di tangannya sambil berkata, 'Ahh, Sang Penyihir! Begitu cantik! Kehadirannya bagaikan bintang gemerlap yang bersinar terang! Seperti meteor yang membawa harapan, bersinar di langit malam! Demi cahaya itu, pasti ada malam-malam panjang yang tak bisa tidur...!' sambil terus menekan tombol shutter."
"Contohnya sangat spesifik."
"Tapi, sekarang dia hanya berdiri diam dengan wajah tenang seperti itu..."
"Apa ini hanya perasaanku? Tapi menurutku, justru sekarang dia terlihat lebih normal."
Sambil berbincang begitu, Mushiki dan Kuroe terus melangkah hingga akhirnya mereka tiba di hadapan para siswa.
Setelah keributan mulai mereda, Mushiki mulai berbicara dengan tenang.
"──Salam kenal semuanya. Aku Kuozaki Saika, kepala sekolah dari <Kuugeki no Teien>. Kebetulan, aku akan menjadi pengajar tamu di <Hakobune> untuk sementara waktu. Meski singkat, aku berharap kita bisa bekerja sama dengan baik."
Dengan suara tenang namun lantang yang mudah terdengar, Mushiki memperkenalkan dirinya secara singkat.
Para siswa <Hakobune> kembali bersorak kegirangan. Para gadis berbikini menyambut kehadiran Mushiki dengan semangat yang meledak, dalam dua arti—baik secara harfiah maupun emosional.
Pemandangan itu terlalu menggoda. Bila itu Mushiki yang biasanya, mungkin dia akan mencoba mengalihkan pandangan agar tidak terlalu banyak melepaskan energi sihir karena terlalu bersemangat.
Namun──
"...Fufu."
Mushiki tersenyum dengan percaya diri.
Alasannya sederhana. Karena baru beberapa saat lalu, dia sudah melihat "Saika berbikini" lewat cermin di ruang ganti—yang bisa dibilang sebagai senjata pemusnah massal—jadi kini dia sudah sedikit kebal terhadap gadis berbikini. (Fakta bahwa Kuroe sempat menciumnya dua kali di ruang ganti itu masih dirahasiakan).
Dengan ekspresi penuh percaya diri, Mushiki melanjutkan perkataannya.
"Baiklah, kita mulai dengan pemanasan. Silakan berpasangan berdua-dua."
"Siap!"
Begitu Mushiki memberikan instruksi, para siswa pun merespons dengan semangat dan segera mencari pasangan masing-masing.
Saat itu, suasana di sekitar Ruri menjadi gaduh.
"Ruri-sama, kalau boleh, maukah berpasangan denganku!?"
"Tidak, denganku saja!"
"Tidak tidak tidak! Denganku saja!!"
Tampaknya mereka sedang berebut untuk bisa berpasangan dengan Ruri. Namun, meski dikelilingi begitu banyak orang, Ruri tetap mempertahankan ekspresinya yang datar seperti boneka.
Namun, sejak melihat Ruri dikerubungi banyak pengikut kemarin, Mushiki sudah memperkirakan hal ini. Ia tersenyum kecil lalu berjalan menuju kerumunan itu.
"Wah, sepertinya kalian belum bisa menentukan pasangan, ya? Kalau begitu, tidak ada pilihan lain."
"──Ruri, maukah kamu berpasangan denganku?"
Ucapnya sambil menunjuk ke arah Ruri. Otot-otot wajah Ruri tampak sedikit bergerak, seolah kaget.
"──Kepala sekolah Kuozaki!"
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang. Itu adalah Asagi.
Namun, Mushiki sudah memprediksi reaksi itu. Ia dengan dramatis menoleh ke arah suara tersebut dan menjawab.
"Ada apa? Masa seorang ketua komite disiplin ingin mengganggu 'pelajaran' ini?"
"...Tch."
Saat Mushiki menekankan kata "pelajaran", Asagi hanya bisa menggertakkan gigi dengan kesal dan berdiri di tempatnya meski dengan wajah tidak senang.
Mushiki kembali menghadap Ruri, lalu mengulurkan tangannya sekali lagi.
"Bagaimana? Tidak suka?"
"...Tidak, sama sekali tidak. Saya merasa... terhormat."
Ruri menjawab dengan suara pelan, masih dengan ekspresi kosong dan sikap yang agak kaku.
Para siswa yang ada di sekitar mereka langsung bersorak.
"Ruri-sama dan Sang Penyihir menjadi pasangan...!?"
"B-boleh lihat ini secara gratis!?"
"Kayak makan uni dan wagyu bareng, pasti lebih enak bareng gitu!"
Sepertinya tidak ada yang keberatan. Mushiki tersenyum kecil, menggandeng tangan Ruri, lalu kembali ke tempat semula.
"Baiklah, mari kita mulai. Pemanasan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kurangnya persiapan bisa menyebabkan cedera."
"Baik, Penyihir-sama!"
Para siswa merespons dengan semangat. Bahkan, tampaknya lebih bersemangat dibandingkan para siswa <Teien>. Semua tampak begitu antusias karena ini adalah pertemuan pertama mereka dengan Saika. Mushiki sangat memahami perasaan itu—kalau bisa, dia sendiri juga ingin ikut pelajaran.
Namun, sekarang ada hal yang lebih penting.
Setelah melakukan peregangan ringan, Mushiki menyuruh Ruri duduk di atas pasir, lalu memposisikan diri di belakangnya dan mulai mendorong punggung Ruri ke depan agar membungkuk.
Di saat itulah, tanpa terlihat dari arah Asagi, Mushiki mendekatkan bibir ke telinga Ruri dan berbisik pelan.
"──Aku khawatir padamu, Ruri. Syukurlah kau selamat."
"────Hhnng!"
Ruri masih dengan wajah datar, tapi tubuhnya jelas bereaksi dengan kejang kecil.
Jelas ada sesuatu yang tidak beres. Namun, yang pasti, Ruri masih bisa merespons kata-kata Mushiki. Mushiki melanjutkan bisikannya, tetap hati-hati agar tidak terdeteksi oleh Asagi.
"Sekarang kamu sedang diawasi. Kalau iya, kedipkan mata sekali. Kalau tidak, dua kali."
"…………"
Setelah beberapa saat, dengan suara gigi bergemeretak, Ruri mengedipkan mata sekali.
"Apa kamu tinggal di <Hakobune> ini atas keinginan sendiri?"
"…………" Dua kali.
"Apa tempat tinggalmu sekarang dipasangi kamera pengintai atau semacamnya?"
"…………" Sekali.
"Apa kamu punya cara untuk menghubungi kami secara diam-diam?"
"…………" Dua kali.
Mushiki terus mengajukan beberapa pertanyaan lainnya.
Meski respons Ruri terasa aneh dan canggung, dia masih tetap bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Seolah-olah, tubuhnya tidak sepenuhnya bebas, dan dia mengandalkan kekuatan tekad semata untuk bisa bergerak.
「……Hmm」
Mungkinkah, meski berada di bawah pengaruh sugesti dari Ao, Ruri mulai mendapatkan kembali kesadarannya berkat interaksinya dengan Saika…?
Bukan hal yang mustahil. ──Dan jika memang begitu, mungkin dengan memberikan rangsangan yang lebih kuat, sugesti itu bisa sepenuhnya dipatahkan.
Hanya sekejap berpikir, Mushiki pun langsung bertindak.
"Ruri, coba condongkan tubuhmu lebih dalam."
Mushiki merapatkan tubuhnya ke punggung Ruri, dan dengan mantap menekan tubuhnya ke depan.
Lalu, tepat di dekat telinga Ruri, ia berbisik dengan suara menggoda, nyaris menyentuh daun telinganya.
"Menahan diri itu tidak baik... Ayo, lepaskan dirimu... dan ikuti keinginanmu…"
"……Ko… KoHyuUuuuuu……"
Tiba-tiba, Ruri melipat tubuhnya dengan gerakan yang sangat lentur, mengeluarkan suara aneh dari entah bagian tubuh mana. Ia tampak seperti tak bertulang.
Lalu Mushiki menyadari wajah Ruri memerah hebat. Tanpa sadar, ia mungkin terlalu menekan dadanya ke punggung Ruri lebih dari yang diperlukan.
"Oops."
Begitu Mushiki mengurangi tekanan tubuhnya, Ruri mulai bangkit dengan gerakan kaku seperti mesin berkarat, lalu pssshhh — seakan-akan uap keluar dari telinganya. Atau mungkin hanya perasaannya saja.
"Maaf. Mungkin tadi sedikit terlalu kuat, ya?"
"T…Tida…"
Ruri menjawab dengan suara berkarat seperti robot tua. Ekspresinya masih kosong, tapi Mushiki bisa merasakan ada respons.
──Sekarang saatnya memberikan dorongan terakhir. Mushiki mengangkat wajahnya dan berbicara dengan lantang.
"Semua, apakah pemanasannya sudah cukup? ──Kuroe, lanjutkan ke bagian berikutnya."
"Baik."
Kuroe menjawab singkat, lalu mengambil sebuah keranjang yang sudah dipersiapkan sejak awal, dan mengeluarkan botol-botol kecil.
"Baik, semuanya. Silakan gunakan lotion Mermaid ini ke tubuh kalian. Ini adalah cairan pelindung yang sudah diproses secara magis. Jika terjadi kecelakaan di dalam air, lotion ini akan melindungi tubuh kalian dari tekanan air dan sebagainya. Karena sulit menjangkau bagian belakang sendiri, kalian tetap bekerja berpasangan, ya."
Setelah mengatakan itu, ia mulai membagikan botol-botol kecil ke para siswa.
Mushiki juga menerima satu botol dari Kuroe. Ia membuka tutupnya, menuangkan sedikit cairan kental itu ke telapak tangannya, lalu kembali ke arah Ruri.
"Yuk, Ruri. Biar aku bantu oleskan lotion-nya."
"……Kyu… Kyupiiiii……"
Saat Mushiki berkata dengan senyum menggoda, Ruri masih tanpa ekspresi, namun mengeluarkan suara aneh dari tenggorokannya.
Tanpa memedulikannya, Mushiki berputar ke belakang Ruri dan mulai mengoleskan lotion itu di kulitnya. Di bagian bahu, lengan, lalu ke punggung… dengan ujung jari yang mengusap lembut…
"Bagus sekali, Ruri. Di sini… seperti ini…"
"U…Ugo… Gufuuh……"
Ketika Mushiki membisikkan kata-kata itu di telinganya sambil mengusap punggungnya, tubuh Ruri bergetar hebat dan melengkung ke belakang. Seolah ada sesuatu yang hendak meledak dari dalam dirinya.
"Hmm… kurasa cukup sampai sini."
Setelah selesai mengoleskan lotion ke seluruh bagian punggungnya dengan seksama, Mushiki menarik napas lega.
Seburuk apapun situasinya, meski Ruri adalah adiknya, mengoleskan lotion sampai ke bagian depan rasanya akan jadi masalah. Lebih buruk lagi, dia bisa kehilangan kendali dan tubuhnya benar-benar kembali menjadi Mushiki laki-laki. Jadi, ini adalah batasnya.
"Sekarang giliranmu, Ruri. Boleh minta tolong oleskan lotion ke punggungku?"
"…………Ih!?"
Begitu Mushoku mengatakan itu, Ruri seperti tercekik, dan menoleh dengan sudut hampir seratus delapan puluh derajat.
Padahal ini adalah alur yang alami karena mereka berpasangan, tapi bagi Ruri ini tampaknya hal besar. ──Yah, tentu saja. Meskipun melalui lotion, bisa menyentuh langsung punggung Saika secara legal bukanlah hal sepele. Dampaknya pasti luar biasa.
Namun, itulah tujuan Mushiki.
Karena dia percaya, kalau itu adalah Fuyajou Ruri, Menteri Tidak Resmi Urusan Promosi Kuozaki Saika, maka dengan kejutan sebesar ini, ia pasti bisa memulihkan kesadarannya sepenuhnya.
"Yuk──tolong ya."
Mushiki menyerahkan botol lotionnya dan membalikkan badan, memperlihatkan punggungnya.
Lalu perlahan, ia mengangkat rambut sehalus sutra yang panjang itu, dan membiarkan kulit punggungnya terbuka.
"A…A……"
Ruri, yang kini bergerak seperti zombie, gemetar pelan saat menuangkan lotion ke tangannya dan mulai merentangkan jari-jari menuju punggung Mushiki.
Lalu saat ujung jarinya menyentuh kulit punggung itu──
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH──!?"
Seperti tersambar petir di kepala, Ruri mengerang dan langsung tumbang ke pasir.
"Kyaah!?"
"R-Ruri-sama!?"
"Apa yang terjadi!?"
Sontak para siswa di sekeliling mereka berseru kaget. Bahkan Asagi yang melihat dari belakang mulai berjongkok, hendak berlari menghampiri mereka.
Namun──
"Ha……!?"
Ruri mendadak membuka matanya lebar-lebar, lalu seperti mainan pegas, melompat bangkit ke atas.
"A-Aku… ini… ada di mana…?"
Ia berkedip-kedip, lalu menoleh ke sekeliling dengan bingung.
Nada bicaranya, ekspresinya, itu adalah Ruri yang dikenali Mushiki.
Sepertinya, dia benar-benar telah kembali. Mushiki merasa lega dan gembira ── tapi karena tidak sesuai citra Saika untuk bersorak kegirangan, dia hanya menunjukkan senyum elegan.
"Selamat pagi, Ruri. Bagaimana perasaanmu?"
"……! Penyihir-sama──"
Begitu mendengar suara Mushiki, Ruri langsung berbalik menghadap dan berlutut di tempat.
"──Maafkan saya. Saya telah absen berkali-kali tanpa izin."
"Tidak apa-apa. Tak perlu terlalu dipikirkan."
Mushiki menoleh sekilas ke arah Asagi, lalu melanjutkan.
"Tapi kita hentikan dulu obrolan santai ini, ya. Sekarang masih jam pelajaran, bukan?"
"──Siap!"
Seakan langsung menangkap maksud dari ucapan dan pandangan itu, Ruri menjawab singkat.
Mushiki mengangguk puas, lalu kembali membalikkan tubuh dan menunjukkan punggungnya.
"Kalau begitu, lanjutkan mengoleskan lotion ke punggungku, ya?"
"A… A……"
Dan saat itu juga, Ruri yang baru saja sadar kembali, mengeluarkan suara seperti zombie lagi.
"Mohon hentikan, agar tidak semakin kacau."
Tampaknya menyadari situasi yang tidak akan terkendali, Kuroe buru-buru datang dan langsung plak! menepuk punggung Mushiki dengan lotion secara cepat dan tegas.
"Baiklah──"
Setelah memastikan Ruri telah tenang, Mushiki kembali melanjutkan pelajaran.
Meskipun tujuannya hanyalah untuk menjalin kontak dengan Ruri, namun karena dia sudah menerima peran sebagai dosen tamu, tidak mungkin membiarkan Saika melakukan sesuatu yang setengah-setengah.
"Kalau begitu, mari kita mulai lagi pelajarannya. Hmm, kamu di sana."
"Y-ya!"
Saat Mushiki menunjuk ke arah salah satu siswa, siswa itu menjawab dengan suara tegang.
"Haha, tak perlu setegang itu. Nah, dalam pertempuran di laut atau bawah laut, biasanya apa yang digunakan oleh <Hakobune>?"
"U-um... mungkin, perangkat aerial?"
Sambil menjawab, siswa itu menyentuh benda seperti choker di leher baju renangnya.
Perangkat Aerial adalah salah satu alat sihir generasi keempat. Alat ini menciptakan selaput udara tipis di sekitar tubuh, memungkinkan pernapasan dan pergerakan di dalam laut maupun ruang hampa udara. ──Mushiki sendiri baru tahu tentang keberadaan alat ini kemarin, setelah diberi penjelasan oleh Kuroe.
"Benar. Itu adalah cara yang umum. Tapi, dalam pertempuran, tidak semuanya bisa berjalan sesuai rencana. Bisa saja terjadi kecelakaan yang tak terduga. Dan fakta bahwa kalian bisa mengoleskan cairan penahan tekanan air ke tubuh kalian saat ini, hanyalah karena ini sesi pelatihan."
"──Maka dari itu, kali ini, aku akan mengajarkan satu trik rahasia yang berguna saat dalam keadaan darurat, ketika alat-alat itu tidak bisa digunakan."
Sambil mengangkat telunjuknya, Mushiki berbicara dengan nada jelas dan percaya diri.
Walau ia bicara seolah penuh keyakinan untuk mempertahankan citra Saika, sebenarnya ia hanya menyampaikan apa yang diajarkan Kuroe semalam.
Menurut Kuroe, pelatihan teknik manifestasi biasa sudah dilakukan setiap hari. Jadi, jika mereka sudah mengundang pengajar dari luar untuk pelajaran khusus, lebih baik memberikan pengetahuan yang tak biasa mereka dapatkan.
Awalnya, alasan Mushiki menjadi dosen tamu hanyalah sebagai dalih untuk menyusup ke dalam <Hakobune>, tapi jika sudah menerima peran itu, dia tidak akan melakukannya setengah hati. Sikap itu memang khas dirinya. Keren.
"──Kuroe."
"Ya."
Saat Mushiki memanggil namanya, Kuroe menjawab singkat dan melangkah maju.
"Atas nama Saika-sama, saya akan melakukan demonstrasi."
Semua mata tertuju pada Kuroe.
Namun, tanpa menunjukkan tanda-tanda gugup, Kuroe hanya menyipitkan mata dengan tenang.
"──Barikade tekanan udara, penyebaran area, seratus tujuh puluh・tujuh puluh・enam puluh──."
Ia mengucapkan kata-kata itu pelan, seperti sedang berbisik.
"Barusan itu...?"
"Itu 'mantra'. Ingat? Kontruksi sihir generasi kedua. Kita pernah bahas di pelajaran."
"Ah, iya ya..."
Bisik-bisik kecil mulai terdengar di antara para siswa <Hakobune>.
Sambil mendapat tatapan penasaran dari seluruh siswa, Kuroi berlari menuju tepian luar <Hakobune>──arah lautan.
Dan tanpa ragu, dia melompat ke tembok udara yang memisahkan <Hakobune> dari laut.
Tembok udara itu bergetar lembut seolah berkata “plop” sebelum melempar tubuh Kuroe ke luar, ke dalam laut.
Biasanya, selaput udara yang menyelimuti <Hakobune> tidak dapat ditembus oleh tubuh manusia, tapi di area latihan bawah laut, tampaknya ada perlakuan khusus di batasnya. Rupanya, bentuk arena latihan yang menyerupai pantai dan pakaian latihan seperti baju renang itu memang ada tujuannya.
"Eh……!?"
"Keluar ke laut tanpa alat!?"
"Tak ada udara, dan meskipun dia pakai lotion pelindung, tekanan airnya──"
Para siswa membuka mata lebar-lebar karena terkejut.
Namun Kuroe terlihat tetap tenang, mengambang santai di dalam laut.
Jika diperhatikan lebih dekat, terlihat ada selaput udara tipis menyelimuti tubuhnya. Saat masih di dalam <Hakobune>, itu tidak terlihat, tapi begitu ia berpindah ke air, batasnya menjadi jelas.
Kuroe sempat diam beberapa saat di dalam air, lalu berputar di sekeliling, dan akhirnya kembali ke tempat Mushiki dan para siswa.
Yang mengejutkan, rambut dan tubuhnya tidak basah sama sekali.
"──Bagaimana menurut kalian?"
Saat Kuroe berkata demikian, para siswa yang terdiam karena takjub langsung bertepuk tangan.
"Barusan itu..."
"Dia mengaktifkan sihir pakai mantra──benar, kan?"
Saat seorang siswa bertanya, Kuroe mengangguk dan menjawab, “Ya.”
"Saya membentuk penghalang sederhana di sekitar tubuh dengan konstruksi tiga-bait, dan menahan udara di dalamnya. Memang tidak seakurat dan sekuat Perangkat Aerial, tapi masih cukup untuk bertahan beberapa menit. Ada berbagai metode untuk bertahan di dalam laut, tapi dari segi kecepatan konstruksi dan durasi efek, saya rasa metode ini yang paling efisien. Kalau kalian punya kendali sihir dasar, bahkan menghafal mantra ini saja bisa berguna dalam keadaan darurat. Meskipun teknologi alat sihir generasi keempat dan teknik manifestasi generasi kelima kini lebih umum, metode ini masih punya keunggulan karena tidak bergantung pada alat atau bakat khusus. Kustomisasi struktur mantranya juga cukup mudah. Menyesuaikan kata-kata agar seminimal mungkin tanpa mengorbankan efisiensi kontrol—ada nuansa seperti membuat puisi di dalamnya──"
Kuroi yang biasanya tenang mulai berbicara dengan cepat saat menjelaskan, tapi kemudian menyadari ekspresi bingung para siswa, dan segera berdehem.
"──Seperti yang dikatakan oleh Saika-sama."
"Ah... ya."
Mushiki mengangguk kecil.
Meski tampak seperti melempar tanggung jawab, sebenarnya tidak ada yang salah dengan kalimat “Saika yang bilang begitu”.
Kuroe memang biasanya tampil sebagai pelayan yang tenang, tapi rupanya kalau membahas hal yang ia sukai, ia bisa jadi tidak terkendali. Melihat sisi baru Kuroe seperti ini, membuat Mushiki merinding oleh potensi besar yang dimiliki gadis itu.
"Baik, mumpung ada kesempatan. Ayo, semuanya coba juga. Pertama, kita mulai dari──"
──Namun.
Mushiki menghentikan ucapannya di tengah jalan.
Alasannya sederhana. Di dalam <Hakobune> yang berbentuk kubah dan tertutup oleh dinding udara, terdengar suara alarm yang nyaring.
"……!"
"Itu──"
Wajah para siswa mulai menunjukkan kewaspadaan.
Mereka mengenali suara itu. Bahkan di dalam <Teien>, suara itu sesekali terdengar.
Dengan kata lain──
"──Faktor Kehancuran."
"Sepertinya begitu."
Saat Mushiki berbicara, Kuroe mengangguk pelan.
Dan pada saat berikutnya, dari langit──tepatnya dari laut di atas mereka, muncul sesuatu yang menyerupai bunga raksasa. Kelopaknya mengembang, seolah mencengkeram dinding udara yang menyelimuti <Hakobune>.
Tekanan dari luar dan tekanan udara <Hakobune> saling bertabrakan, menghasilkan suara berdecit yang mengganggu telinga.
"Kyaa!?"
"A-apa ini──!?"
Para siswa panik dan menjerit karena kejadian yang tiba-tiba itu.
"……!"
Saat itulah, Mushiki akhirnya menyadarinya. ──Bahwa benda yang muncul di langit <Hakobune> adalah kumpulan tentakel dengan banyak alat pengisap yang menyebar secara radial.
"Itu──"
"──Faktor Kehancuran nomor tiga ratus dua: <Kraken>. Di antara Faktor Kehancuran yang muncul di laut, jenis ini termasuk yang paling sering terlihat. Namun──yang sebesar ini cukup langka. Jika tidak ditangani secepatnya, bisa sangat berbahaya," jelas Kuroe dengan tenang.
Padahal situasinya cukup genting, tapi tidak terlihat sedikit pun tanda kepanikan darinya.
Tiba-tiba, seorang gadis berlari ke arah Mushiki dan Kuroe. ──Ruri.
"──Nona Penyihir!"
"Ah, Ruri. Itu <Kraken> yang cukup besar, ya. Sebelum <Hakobune> terkena dampaknya, kita harus segera menanganinya," kata Mushiki, mengulang informasi yang baru saja ia dengar dari Kuroe.
Ruri mengangguk mantap.
"Baik. Tidak perlu merepotkan Nona Penyihir. Aku yang akan──"
"──Tidak, itu tidak perlu."
Suara yang memotong perkataan Ruri itu membuat Mushiki terkejut.
Ketika ia menoleh ke arah suara tersebut, dia melihat sosok Asagi berdiri di sana.
"Asagi──"
"Ya. Urusan pertempuran di laut adalah keahlian <Hakobune>. Serahkan ini pada kami."
Begitu berkata, Asagi mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi seolah memberi aba-aba.
"──Mulai."
Menanggapi perintah itu, dari sisi luar <Hakobune> ditembakkan banyak objek berbentuk seperti torpedo.
Tidak──bukan torpedo. Saat diperhatikan lebih seksama, terlihat bahwa masing-masing dari mereka adalah gadis-gadis yang mengenakan pakaian dan perlengkapan serupa dengan Asagi.
Jumlah mereka setidaknya tidak kurang dari tiga puluh orang.
Masing-masing dari mereka mengenakan pelindung udara dari Aerial Device, dan melesat seperti bintang jatuh di langit malam, menembus air laut dan meninggalkan jejak di dalamnya.
"──Bersiap."
Asagi bergumam pelan.
Kemudian para gadis—anggota Komite Disiplin—yang telah menyebar di laut, mengelilingi <Kraken> raksasa dalam formasi sempurna, lalu secara serentak mengangkat tangan kanan mereka.
Pada saat itu juga, dua simbol bercahaya muncul di dahi mereka—lambang manifestasi tahap kedua. Di tangan mereka, muncul senjata yang menyerupai tombak bercahaya yang dapat dilemparkan.
"──Lempar!"
Dengan perintah singkat, para gadis itu menurunkan tangan mereka serempak.
Dan tepat di saat yang sama, mereka semua melemparkan tombak manifestasi kedua ke arah <Kraken>.
Puluhan tombak cahaya menghujam dari segala arah dan menancap di tubuh makhluk raksasa itu.
Makhluk tersebut meronta-ronta dengan tentakel-tentakelnya dalam rasa sakit, namun tak lama kemudian gerakannya terhenti dan ia terseret oleh arus laut, menjauh dari <Hakobune>.
"Hoo…"
Mushiki tak bisa menahan keterkejutannya atas apa yang baru saja terjadi dalam hitungan detik.
"……Luar biasa. Aku belum pernah melihat kerja sama sebaik dan secepat ini sebelumnya."
"Terima kasih," ucap Kuroe.
Gadis bertopeng itu membungkuk dengan anggun, lalu menoleh ke arah Mushiki, meski ekspresi wajahnya tak bisa dilihat karena tertutup topeng.
"──Nona Ruri adalah sosok yang sangat penting, calon pengantin. Kami tidak akan membiarkan satu luka pun mengotori tubuhnya.
Sebagai Komite Disiplin, kami akan melindunginya dari ancaman apa pun."
"…………"
Mendengar pernyataan Asagi, alis Mushiki sedikit bergetar.
Dan itu wajar saja. Karena kata-kata Asagi terdengar seolah berkata, “apa pun yang kalian lakukan, kami tidak akan membiarkan Ruri melarikan diri dari <Hakobune>.”
Namun──
"…………!"
Tiba-tiba, suara seperti gemuruh menggema di seluruh penjuru, dan seluruh <Hakobune> pun terguncang hebat.
"Apa ini……!? Bukankah Faktor Kehancuran sudah dikalahkan──"
"──Ketua!"
Asagi terdiam sejenak, lalu seorang anggota Komite Disiplin berlari mendekat. Gadis itu mengenakan topeng dan jubah seperti anggota lainnya.
"Ada apa ini?"
"Di bawah! Di dasar laut, ada satu lagi <Kraken> yang muncul……!"
"Apa……!?"
Tepat ketika Asagi berseru kaget──
Suara gemuruh kembali terdengar, dan dari sisi luar <Hakobune>, muncul bayangan-bayangan raksasa yang bergoyang.
Sesuatu yang begitu besar, sebanding dengan gedung pencakar langit, mulai muncul dari dasar laut, menyelimuti <Hakobune>.
Semua orang baru menyadari bahwa itu adalah tentakel raksasa ketika <Hakobune> benar-benar dikelilingi oleh makhluk tersebut.
"Tak mungkin… ukurannya gila ini……!"
Asagi berseru, jelas panik.
Dan wajar saja. Ukuran Faktor Kehancuran kali ini jauh melampaui yang sebelumnya.
Sepuluh tentakelnya kini menggenggam <Hakobune> seolah-olah menggenggam bola kecil. Jika terus seperti ini, seluruh <Hakobune> bisa diremukkan dalam sekejap.
"Kirim perintah ke seluruh anggota Komite Disiplin! Hubungi Kepala Sekolah juga──"
"──Tidak perlu."
Namun,
Mushiki menyela dengan suara yang sangat tenang, sambil menepuk bahu Asagi yang tampak panik.
"……! Kepala Sekolah Kuozaki──"
Faktor Kehancuran itu memang sangat berbahaya. Jika dibiarkan, <Hakobune> bisa hancur. Puluhan siswa yang tinggal di dalamnya bisa terlempar ke laut.
Namun wajah Mushiki tetap tenang, tanpa sedikit pun rasa panik atau gentar.
Karena──
Di tempat ini sekarang──
Ada penyihir terkuat di dunia.
"Ini kesempatan terbaik untuk pelajaran hari ini. Semuanya, lihatlah baik-baik.
──Pertempuran milik Kuozaki Saika."
Dengan senyum percaya diri, Mushiki menjejakkan kakinya di pasir dan melompat tinggi ke udara.
Mushiki sendiri masihlah seorang penyihir pemula, belum ahli.
Tapi tubuh yang ia pinjami saat ini──adalah tubuh penyihir terkuat di dunia.
"────"
Tanpa ragu, Mushiki menembus dinding udara pelindung <Hakobune> dan melesat ke laut.
Lalu, di atas kepalanya, ia membentuk empat simbol manifestasi.
"──Awal dari Segala Sesuatu. Maka, langit dan bumi pun berada dalam genggamanku."
Simbol-simbol yang bersinar dalam warna-warna mencolok itu terlihat seperti topi penyihir yang megah.
Mushiki memandangi pemandangan di bawah──tentakel <Kraken> raksasa yang hendak menghancurkan <Hakobune>, lalu mengangkat tangannya perlahan dan melafalkan mantra.
"Tunduklah padaku.
Kau──akan kujadikan pengantinku."
Sesaat kemudian—
Dunia berubah secara drastis.
Bukan kiasan, bukan pula candaan. Pemandangan dasar laut yang terbentang di sekitar Mushiki tampak melengkung secara aneh, lalu seketika berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.
──Ini adalah Manifestasi Keempat. Titik tertinggi yang bisa dicapai oleh penyihir modern, sekaligus bentuk paling sempurna dari sihir manifestasi.
Sebuah sihir terkuat dan terbesar, yang mampu mengubah seluruh dunia dengan dirinya sebagai pusatnya.
Yang kini menyebar di sekitarnya adalah sebuah gua merah membara yang dipenuhi lava mendidih. Hanya dengan satu tarikan napas saja, paru-paru bisa langsung terbakar—bagaikan dasar neraka itu sendiri. Sebuah lingkungan ekstrem yang seakan menolak segala bentuk kehidupan.
Di dunia sekejam itu—faktor kehancuran dilemparkan masuk. Pemilik tentakel panjang yang berlebihan itu adalah wujud mutan dari makhluk lunak raksasa, begitu besar hingga tampak mampu menelan seekor paus bulat-bulat.
Mushiki perlahan membalikkan telapak tangannya, lalu mengepalkannya dengan erat.
Seiring dengan gerakannya itu, pemandangan di sekitarnya mulai memadat membentuk spiral—
Dan dengan massa yang begitu luar biasa, Faktor Kehancuran〈Kraken〉 dihancurkan secara brutal.
“Fuh—”
Ia membuka kepalan tangannya, lalu mengembuskan napas kecil, seolah meniup sisa asap senjata yang telah digunakan.
Di saat yang sama, pemandangan di sekelilingnya perlahan kembali seperti semula.
Mushiki mendarat di atas 〈Hakobune〉, dan menghadap ke arah semua orang dengan senyum ramah.
『…………!』
Para siswa yang sebelumnya hanya bisa menatap kosong pada adegan itu kini akhirnya mulai memahami situasi. Mata mereka membelalak, lalu mereka bersorak sambil memperlihatkan ekspresi penuh rasa kagum dan takjub.
Mushiki mengangguk dramatis dan melambaikan tangan ke arah mereka.
“──Sungguh luar biasa, Saika-sama.”
“Ya.”
Menanggapi ucapan Kuroe yang singkat itu, Mushiki melangkah menuju Asagi yang masih berdiri terpaku di tempat, lalu tersenyum lembut padanya.
“Meski kita berasal dari institusi yang berbeda, tapi kita tetaplah rekan seperjuangan. Jadi, jangan memaksakan diri. Kau bisa mengandalkan kami.
──Karena aku pun punya keinginan yang sama untuk melindungi Ruri.”
Ia menyampaikan kata-kata itu sebagai bentuk balasan dari sindiran Asagi sebelumnya.
Asagi menatap balik wajah Mushiki, seolah menggenggam erat tekadnya dalam kepalan tangannya.
“...Ya, benar juga. Mari kita berikan segalanya.──Demi melindungi Ruri-sama.”
“Benar, seperti itulah.”
Kata-kata mereka terdengar tenang. Nada bicara pun lembut. Namun suasana di antara keduanya sangatlah tegang, seperti seutas benang tipis yang bisa putus kapan saja.
Mushiki dan Asagi saling bertatapan dari balik topeng masing-masing—dan entah siapa yang lebih dulu, keduanya memperlihatkan senyum penuh tantangan.
◇
Malam itu.
Setelah makan malam, Mushiki dan Kuroe berada di kamar Saika yang telah disiapkan di lantai paling atas penginapan tamu.
Karena mereka dianggap tamu kehormatan, hidangan yang disajikan pun kelas atas, dan kemewahan kamar itu pun tampak jelas. Selain itu, jika mereka membutuhkan sesuatu, anggota komite disiplin akan segera datang membantu. Bila ini hanyalah kunjungan wisata biasa, kenyamanan ini benar-benar sempurna tanpa cela.
“...Sekarang tinggal menunggu hasilnya.”
“Benar.”
Namun, Mushiki dan Kuroe tidak menunjukkan ekspresi yang bisa disebut santai atau damai saat berbicara.
──Akhirnya, setelah insiden tadi, kegiatan belajar dihentikan dengan dalih pemeriksaan kerusakan fasilitas 〈Hakobune〉, dan Mushiki kembali dipisahkan dari Ruri.
Meski pertemuan tadi berhasil dilakukan dengan cara yang setengah-tipu dan setengah-sergap, namun mulai saat ini Asagi dan yang lain pasti akan semakin waspada. Belum tentu taktik yang sama akan berhasil untuk kedua kalinya.
Maka, yang bisa mereka lakukan hanyalah berharap agar rencana cadangan berjalan lancar. Mushiki menyesap teh yang diseduh Kuroe, lalu menghembuskan napas hangat.
Saat itu—
“…………!”
Terdengar suara ketukan pelan di pintu. Mushiki segera menunjukkan perubahan ekspresi.
“──Pintunya tidak dikunci. Silakan masuk.”
Begitu Mushiki berkata demikian, pintu perlahan terbuka, dan seorang gadis masuk ke dalam kamar.
Melihat sosok itu, Mushiki langsung berdiri dari kursinya.
“Ruri──”
Ya. Yang datang adalah Ruri, mengenakan pakaian santai dan sandal yang hanya diselipkan seadanya.
Mushiki menghela napas, terlihat begitu terharu.
“──Syukurlah. Aku senang kamu bisa menangkap maksud dari pesanku.”
“Y-ya…! Tentu saja! Tidak mungkin aku tidak memahami maksud dari Nona Penyihir!”
Ruri menjawab sambil mengepalkan tangan dengan semangat.
Sebenarnya, selama pelajaran siang tadi, Mushiki menyampaikan informasi tertentu dengan cara menggoreskan jari di punggung Ruri.
Bahwa dia menginap di kamar ini. Jalur yang bisa digunakan untuk menuju ke kamar ini. Dan bahwa kamera pengawas di sepanjang jalur itu telah dinonaktifkan oleh bantuan Hildegard.
Sebuah rencana yang sangat berisiko, namun tampaknya Ruri berhasil melewatinya dengan sempurna.
Melihat keadaan Ruri, Kuroe menghela napas lega.
“Sepertinya, pengaruh sugestinya telah benar-benar hilang.”
“Sugesti? Maksudmu apa?”
Namun Ruri tampak bingung dan memiringkan kepalanya, tidak paham apa maksud Kuroe.
“...Apakah kamu tidak sedang berada di bawah sugesti dari Ao-san? Saat kami melihatmu kemarin, wajahmu begitu kosong sampai-sampai kami sempat mengira kamu orang lain.”
Mendengar itu, Ruri menghela napas panjang dan tampak kesal.
“Ahh… itu sih… ya wajar saja. Soalnya sejak aku meninggalkan 〈Teien〉, aku belum bisa bertemu Nona Penyihir sama sekali! Smartphone-ku juga disita, jadi aku nggak bisa lihat foto, video, atau dengar suaranya… itu seperti dipaksa puasa seminggu! Ya jelas saja aku kelihatan lesu!”
“Jadi… kamu menganggap itu sebagai makanan?”
“Lebih tepatnya… mungkin seperti bernapas, ya.”
“Itu berarti kamu sudah mati.”
Kuroe menanggapi dengan nada datar sambil kembali memiringkan kepala.
“Kalau begitu, kenapa kamu terlihat aneh saat pelajaran tadi siang?”
“Yah… soalnya tiba-tiba Nona Penyihir muncul dalam balutan pakaian renang, kan? Memang itu momen paling menyejukkan mata, tapi… bayangin aja, kamu dipaksa puasa seminggu, lalu langsung disuguhi steak wagyu bagian tenderloin paling mahal—mana bisa langsung dimakan? Harus mulai dari bubur encer dulu…”
“Bubur encer…”
“Benar. Misalnya mulai dari menatap pixel art bertema Nona Penyihir, atau menghirup aroma saputangan yang aku beli dari toko suvenir di 〈Teien〉, dan pelan-pelan membiasakan diri…”
“Kalau begitu, bagaimana dengan foto atau saputangan asli milik Saika-sama?”
“Itu… itu sudah bukan bubur lagi, itu nasi putih! Terlalu keras untuk perut kosong!”
Ruri menjerit sambil memerah wajahnya.
“...Kalau begitu, saat kamu menyentuh punggung Saika-sama dan seakan kembali sadar…”
“Itu semacam kelebihan muatan yang bikin sistemku reboot paksa, mungkin? Tapi ya, setelah itu, kepalaku terasa lebih jernih.”
“Aku mengerti.”
Mushiki mengangguk memahami.
“…………”
Kuroe tampak mencoba memproses semua informasi itu, namun pada akhirnya menyerah dan hanya berkata:
“Begitu, ya.”
“Kalo begitu… orang yang ada di video ini bukan aku, kan?”
Kuroe mengeluarkan smartphone dari sakunya, lalu memutar sebuah video—rekaman yang dikirim ke 〈Teien〉, memperlihatkan Ruri.
“Eh──”
Ruri menatap video itu dengan ekspresi kosong, lalu tiba-tiba matanya membelalak.
“Video apa ini!? Aku nggak ingat pernah bilang kayak gitu! Bahkan direkam pun nggak sadar!”
Ia berteriak marah dengan nada kesal.
Melihat reaksi itu, Mushiki menghela napas pelan.
“Seperti yang kuduga, palsu.”
“Sepertinya begitu. Jika bahkan Ksatria Hildegard tidak menyadarinya, kemungkinan besar mereka menggunakan teknik lain selain editing video biasa.”
Ketika Mushiki dan Kuroe tengah berbicara, Ruri tampak tersentak seolah menyadari sesuatu.
“Video seperti itu dikirim ke 〈Teien〉…? J-jangan-jangan Nona Penyihir ke tempat ini karena──”
“Benar. Aku juga tidak percaya video itu asli. Karena itu, aku datang untuk memastikan isi hati murid kesayanganku. Kalau kamu sedang mengalami sesuatu yang tidak adil, tentu saja aku tidak bisa tinggal diam, bukan?”
Mushiki mengedipkan sebelah mata sambil berbicara. Ruri langsung menutup mulutnya dengan tangan, lalu mulai menangis karena terharu.
“S-sampai sejauh ini… hanya demi aku…! Huh… uuh… ini benar-benar kehormatan yang terlalu besar…!”
Sambil terisak, dia hampir bersujud ke tanah dalam posisi lima titik menyentuh lantai.
Melihat itu, Kuroe sepertinya merasa pembicaraan tidak akan berlanjut jika dibiarkan, dan ia berdeham kecil.
“Yang penting, kita sudah memastikan kondisi dan niat Ruri-san. Sekarang saatnya menyusun strategi.──Untuk membatalkan perjodohan ini, dan membawa Ruri-san kembali ke 〈Teien〉.”
“Ya, tentu. Tapi bagian ini yang paling sulit. Bagaimana kita akan melakukannya?”
Tanya Mushiki, dan Kuroe menyentuh dagunya, tampak berpikir.
“Ada satu rencana. Namun… ada satu kendala yang harus diatasi agar itu bisa dilaksanakan.”
“Boleh aku dengar dulu rencananya?”
“Tentu. Pertama──”
Kuroe mulai menjelaskan rencana secara singkat.
Mushiki mengangguk sambil bergumam "menarik juga", dan bahkan Ruri ikut mengangguk dengan wajah sedikit memerah, tampaknya menyetujui ide itu.
“Menarik. Memang patut dicoba.”
“T-tapi Nona Penyihir… siapa yang bisa melakukannya? Di dalam 〈Hakobune〉 ini… tidak ada orang yang…”
Ruri melirik Mushiki dengan ragu.──Namun,
“──Ada satu orang yang terpikir olehku. Serahkan saja padaku, ya?”
Mushiki menjawab dengan penuh percaya diri.
◇
Keesokan harinya. Di ruang kepala sekolah, gedung pusat Akademi 〈Kyou no Hakobune〉.
"……………………Hmmm?"
Kepala sekolah, Fuyajou Ao, memiringkan kepala secara dramatis setelah membiarkan keheningan panjang.
"Bisakah kau ulangi sekali lagi, Ruri?"
Suara itu terdengar tenang dan datar dari balik tirai tipis.
Nada bicaranya sangat tenang, stabil, dan tidak menunjukkan sedikit pun rasa marah atau gangguan. Memang, tampaknya dia tidak bermaksud menakut-nakuti lawan bicaranya.
Namun, bagi Ruri yang kini duduk berhadapan dengannya, setiap kata yang diucapkan Ao terasa seperti tekanan luar biasa yang tak bisa diabaikan.
Itu wajar saja. Yang ada di hadapannya sekarang adalah penguasa absolut keluarga Fuyajou, sekaligus salah satu penyihir terkuat di dunia—kemungkinan besar termasuk dalam lima besar.
"……"
Namun, meski begitu, Ruri tidak bisa mundur sekarang. Ia mengepalkan tangannya, seolah menepis tekanan berat yang menghimpit kepalanya, dan melanjutkan.
"Ya. Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, saya tidak bisa menerima pertunangan ini."
Begitu Ruri menyatakan itu, Aoo menghela napas panjang.
"──Begitu ya?"
Ia mengangkat bahu dengan nada jenuh, seolah berkata “Yah, beginilah jadinya.”
"Jadi kau menyita waktuku hanya untuk mengulangi itu? Bukankah kita sudah menyelesaikan percakapan itu waktu kau pertama kali datang ke 〈Hakobune〉?"
"Itu karena──"
Ruri mengernyit dan menggumam lirih.
Memang benar, sesaat setelah tiba di 〈Hakobune〉, Ruri sudah menyampaikan penolakannya kepada Ao.──Tentu saja, saat itu juga ditolak mentah-mentah tanpa didengar. Jika itu sudah dianggap sebagai “percakapan selesai”, tentu saja Ruri tidak bisa menerima.
Tapi, Ao tampaknya benar-benar menganggapnya seperti itu. Dengan nada seperti orang tua menasihati anak kecil yang keras kepala, ia melanjutkan:
"Jangan terlalu manja, Ruri. Sebagai penyihir, kau pasti paham pentingnya menjaga garis keturunan yang kuat, bukan?"
"Itu... saya paham. Saya juga tidak pernah mengatakan bahwa saya tidak akan menikah selamanya atau tidak akan memiliki anak! Tapi saya masih muda, dan terlebih lagi, saya bahkan belum pernah melihat wajah calon pasangan itu──"
"Kau adalah salah satu penyihir paling berbakat di generasi keluarga Fuyajou saat ini. Mungkin terdengar keras, tapi tubuhmu bukanlah milikmu seorang. Sebagai wanita keluarga Fuyajou, seharusnya kau bisa lebih bijak.
Lagipula, pasanganmu itu adalah penyihir terbaik yang telah saya pilih sendiri. Aku yakin kau akan menyukainya juga.
Atau──mungkinkah ada alasan lain mengapa kau menolak pernikahan ini?"
"…………!"
Alis Ruri sedikit bergerak mendengar ucapan Ao.
──Saatnya menyerang. Tidak ada waktu lain yang lebih tepat dari ini.
Ruri menundukkan kepala dengan mantap, mencoba mengontrol detak jantungnya yang berdetak keras.
Lalu ia mengucapkan kata-kata yang telah dipersiapkannya dengan matang.
"──Ya. Sebenarnya, saya... sudah memiliki seseorang di hati."
"Hmmm?"
Nada suara Ao terdengar penuh rasa curiga.
"Kau bilang sudah punya kekasih yang telah kau janjikan masa depan bersama?"
"Be... benar!"
Meski malu dengan kata “kekasih”, Ruri menjawab dengan suara penuh tekad.
Ao lalu memiringkan kepala, seperti sedang menilai harga barang.
"……Boleh kutanya, siapa orangnya?"
Pertanyaan yang sudah diperkirakan. Ruri menelan ludah, lalu menjawab:
"Sebenarnya──dia sekarang ada di sini."
"Eh?"
Ao tak bisa menyembunyikan keterkejutannya kali ini. Ia mengeluarkan suara terkejut, seolah benar-benar tidak menyangka.
──Sebelum Ao bisa mendapatkan kembali ketenangannya, Ruri harus melanjutkan. Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, ia menoleh ke arah pintu di belakang.
"──Masuklah!"
Menanggapi perintah itu, pintu ruang kepala sekolah perlahan terbuka—dan seorang pemuda melangkah masuk.
Rambut berwarna pucat. Mata yang lembut. Wajah yang hampir androgini.
Dengan ekspresi gugup, pemuda itu berjalan mendekat ke sisi Ruri, lalu membungkuk sopan ke arah Ao.
"Senang bertemu dengan Anda, Kepala Sekolah Fuyajou.──Saya adalah kekasih Ruri, Kuga Mushiki."
Dan pada ucapan sang pemuda—Mushiki—
"…………Guh!?"
Ruri yang seharusnya sudah bersiap diri, justru tersedak dan batuk seperti hendak muntah darah, sambil wajahnya memerah sampai ke telinga.
◇
Waktu kembali ke malam sebelumnya.
"──Na-na-na-na-na-na-na-na-na-na-na-na-na-na-na-na-na────"
Di dalam kamar milik Saika, Ruri bersuara gemetar sambil kedua tangannya bergetar hebat.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?!"
Ia menuding tajam ke arah satu orang dan berteriak penuh emosi.
Namun, reaksi seperti itu memang wajar.
──Karena orang yang berdiri di sana adalah Mushiki, yang telah kembali ke wujud aslinya.
Ya, Mushiki yang sebelumnya keluar bersama Kuroe, telah melakukan proses transformasi eksistensi di ruang kosong, dan kini kembali lagi ke kamar Ruri.
"Umm... yah, begitulah, maksudku..."
"──Tentu saja, dia datang bersama kami dari <Teien>,"
Kuroe segera menyambung, membantu Mushiki yang terlihat bingung menjawab.
Sebenarnya, itu tidak sepenuhnya bohong. Mushiki pun mengangguk kecil menandakan setuju.
"Iya, aku khawatir tentang kamu, Ruri. Tapi syukurlah kamu selamat."
"A-a-apa yang kamu bilang itu, memalukan banget!"
Ruri langsung memerah, membuang muka dengan cepat.
Beberapa detik kemudian, ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, dan meski masih membuang muka, ia mulai bicara.
"…Maaf, sudah bikin kalian khawatir. Aku juga kira bakal bisa pulang lebih cepat, tapi…"
"Itu bukan salahmu, Ruri."
"…Yah, memang sih. Aku juga tahu kalau semuanya ini salah rumah utama yang masih kolot. Tapi bahkan sampai buat Sang Penyihir ikut repot-repot datang ke sini──"
Tiba-tiba, Ruri tampak teringat sesuatu. Alisnya bergerak gelisah.
"Eh? Ngomong-ngomong, di mana Sang Penyihir? Tadi dia keluar bareng Kuroe, kan?"
"…………"
"…………"
Pertanyaan Ruri langsung membuat Mushiki dan Kuroe terdiam.
Diam yang mencurigakan itu membuat Ruri mulai menggigil.
"K-kalian berdua… Dengar sesuatu yang aneh, ya…?"
"──Tidak. Saika-sama hanya mengatakan ada urusan lain, jadi beliau pergi sebentar."
"Gitu, ya...? ...Eh, kalau begitu, bukannya kita yang harus keluar dari kamar ini?"
Ruri panik dan hendak meninggalkan ruangan, namun Mushiki dan Kuroe segera berdiri di hadapannya untuk menghentikannya.
"Tidak apa-apa. Kami sudah mendapat izin dari Saika-san."
"Benar. Beliau bilang, kami bisa mulai rapat strategi terlebih dahulu."
"Be-begitu...?"
Ruri tampak ragu, tapi ia menghentikan langkahnya. Namun, tak lama kemudian, ia menoleh ke arah Kuroe dengan wajah tegang.
"Tunggu deh. Rapat strategi… Maksudnya soal rencana yang kalian sebut tadi, kan? Jangan-jangan, orang yang dimaksud Sang Penyihir itu... Mushiki?!"
Ia berteriak dengan wajah yang memerah.
Memang tidak mengherankan kalau ia begitu kaget. Karena rencana yang dimaksud adalah──
"Benar. Seperti yang saya katakan sebelumnya, meski seorang penyihir, pada dasarnya tidak diperbolehkan melakukan poligami.
Kalau Ruri-san sudah memiliki pasangan yang telah berjanji untuk menikah, maka pihak lawan mungkin akan mundur."
Kuroe menjelaskan dengan tenang, membuat wajah Ruri semakin merah padam.
"K-k-k-k-kenapa dari semua orang, harus Mushiki sih?!"
"Kalau boleh saya balik bertanya, apakah ada orang lain yang lebih cocok daripada Mushiki-san? Tempat ini adalah <Kyou no Hakobune>—sebuah taman wanita yang sepenuhnya dikuasai oleh Kepala Sekolah Fuyajou Ao. Laki-laki saja hampir tak ada, apalagi seseorang yang berani melawan Ao-san?"
"Tapi… Tapi aku dan Mushiki itu kakak-adik, tahu!"
"Hmm. Jadi karena itu, kalian tidak bisa menikah?"
"Bukan begitu maksudkuuuu!!"
Ruri langsung membantah dengan semangat yang tidak biasa.
"Memang kasusnya jarang, tapi dalam keluarga penyihir, pernikahan antar kerabat dekat dilakukan demi menjaga garis keturunan! Masalah genetik pun bisa diatasi dengan sihir kalau hanya satu generasi!"
"Eh, begitu ya. Keren juga."
Mushiki menyampaikan pendapatnya dengan tulus, tapi reaksi Ruri justru semakin merah merona.
"Jangan salah paham, ya! Aku cuma ngomong fakta objektif, bukan berarti aku setuju atau semacamnya!"
"Oh, ya, oke…"
Mushiki mengangguk pelan, sementara Kuroe berdeham dan kembali ke pembicaraan.
"Jadi, kesimpulannya: tidak ada masalah, kan?"
"Uugh…!"
Ruri hanya bisa menggigit bibir. Lagi pula, yang menyebutkan dalil itu tadi adalah dirinya sendiri—tak ada celah untuk membantah.
"T-tapi… Bagaimana dengan Mushiki sendiri?! A-apa kamu nggak keberatan?!"
Ruri menatap Mushiki penuh keraguan. Nada suaranya tak sekeras sebelumnya—kini terdengar seperti ingin tahu reaksinya, dengan gugup.
"Aku──"
Mushiki menunduk, berpikir sejenak.
──Mushiki sendiri sudah memiliki seseorang yang ia sukai. Entah akan dibalas atau tidak, ia belum tahu. Tapi tetap saja, berpura-pura menjadi kekasih orang lain di hadapan orang yang disukainya… tentu tidak bisa dibilang mudah.
Namun──kalau itu demi menyelamatkan Ruri, maka itu cerita yang berbeda.
"Tentu saja, aku tidak keberatan."
Dengan suara tegas, Mushiki menatap Ruri dan menggenggam tangannya.
"──Izinkan aku memerankan kekasihmu."
"Feh…!?"
Mendengar itu,
"Hy-hyai..."
Ruri mengangguk kecil dengan wajah panik, matanya berputar-putar kebingungan.
◇
──Begitulah latar belakangnya, dan kini mereka berada di masa sekarang.
Dengan sedikit ketegangan, Mushiki berdiri di samping Ruri, berhadapan langsung dengan penguasa kastil laut ini.
Kepala sekolah Fuyajou Ao telah menatap Mushiki dalam diam sejak tadi.
Karena wajahnya tersembunyi di balik tirai, ekspresinya tidak terlihat, namun entah kenapa terasa jelas bahwa dia sedang terdiam karena terkejut.
Wajar saja.
Karena Ruri tiba-tiba datang membawa serta seorang kekasih yang katanya sudah bersumpah untuk masa depan bersamanya.
"…………"
Ao terdiam sejenak, lalu mulai menggerakkan tangannya, seolah sedang mencari sesuatu.
Detik berikutnya, alarm keras menggema di ruang kepala sekolah.
"Eh?"
Saat Mushiki terkejut, pintu ruangan terbuka dengan keras, dan beberapa anggota komite disiplin masuk.
"Anda memanggil kami, Kepala Sekolah?"
"Ya. Ada penyusup ilegal."
Dengan nada dingin, Ao menyampaikan hal itu. Mushiki dan Ruri pun membuka mata mereka lebar-lebar.
"Eh... Eehhh!?"
"Tunggu dulu! Setidaknya dengarkan penjelasannya──"
Ruri hendak berbicara, namun dari balik tirai, Ao menunjuk ke arah Mushiki dengan kipasnya.
"Aku punya banyak pertanyaan, tapi kenapa ada laki-laki di dalam 'Hakobune'? Aku tidak pernah memberikan izin masuk."
"……Ah."
Mendengar itu, Mushiki mulai berkeringat.
Benar juga. Karena terlalu fokus pada rencana, mereka melupakan hal paling dasar dari semuanya.
Di sampingnya, Ruri memasang wajah panik.
"...Tunggu, bukannya kamu datang bersama para penyihir? ...Kamu menyelinap masuk!?"
"Y-ya, maksudku... aku terlalu khawatir padamu..."
"Ughh…"
Saat Mushiki dan Ruri saling berbisik, Ao menghela napas.
"Bagaimanapun, ini bukan sekadar soal pacaran.──Silakan angkat kaki dari sini."
"Baik!"
Mengikuti perintah Ao, para anggota komite disiplin mulai mendekat perlahan.
Ruri membuka tangan lebarnya untuk melindungi Mushiki.
"Tunggu dulu, Tuan Kepala Keluarga! Mushiki hanya ingin membantuku──!"
"Itu bukan urusanku. Aku tak tahu bagaimana dia bisa menyelinap masuk, tapi──"
Ao tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
"Mushiki… Kau bilang namamu Mushiki…?"
Ia kemudian memanggil nama Mushiki dengan nada curiga. Mushiki terkejut dan membelalakkan mata.
"...Jangan-jangan, kau… anaknya Ai?"
Ai—itu memang nama ibu Mushiki.
"Y-ya… Apakah Anda mengenal ibu saya?"
"…………"
Setelah Mushiki menjawab, Ao terdiam selama beberapa detik, seakan berpikir, lalu membuka mulut kembali.
"...Begitu ya. Dalam garis keturunan Fuyajou, khususnya dari keluarga utama, kelahiran anak laki-laki dalam satu generasi sangatlah langka."
"Begitu, ya."
Saat Mushiki menanggapi dengan polos, Ao mengelus dagunya dengan makna tersirat.
"Hmph… Jadi anak itu…"
"…………?"
Mushiki memiringkan kepalanya mendengar reaksi Ao.
Namun sebelum ia sempat bertanya, Ao mengibaskan tangannya dengan berlebihan.
"──Baiklah. Mundur saja untuk sekarang."
"Apa tidak apa-apa?"
"Ya. Meskipun dia laki-laki, dia masih ada hubungan darah dengan keluarga Fuyajou. Sebagai pengecualian, kali ini tidak akan kuusir."
"...Dipahami."
Para komite disiplin memberi hormat, lalu meninggalkan ruangan.
Seperti sebelumnya, kini hanya mereka bertiga yang tersisa di ruang kepala sekolah.
"──Lalu"
Setelah keheningan sejenak, Ao kembali berbicara dari balik tirai.
"Kalau kau anak dari Ai, berarti kau adalah kakaknya Ruri, bukan? …Jadi maksudmu kalian kakak-adik yang saling mencintai?"
"Ya."
"Guhak"
Saat Mushiki menjawab, di sebelahnya Ruri langsung menahan dadanya dan menggeliat.
"Ruri adalah tanggung jawabku. Aku akan membahagiakannya."
"Pugyahh!"
"Aku mencintai Ruri dari lubuk hatiku."
"Obyokyobek!!"
"Jadi, tolong izinkan aku menikahi Ruri!"
"Kya wsedrftgyhujikolp"
Setiap kali Mushiki berbicara dengan tekad, Ruri di sebelahnya mengeluarkan suara-suara aneh sambil wajahnya merah padam. Ao menatapnya dengan bingung.
"Entah kenapa Ruri terlihat seperti sedang kena serangan di sebelah sana."
"Ruri memang biasanya seperti ini."
"Be-begitu, ya…"
Saat Mushiki menjawab dengan mantap, Ao berdeham kecil.
Lalu ia bertanya dengan nada curiga pada Ruri.
"Ruri, ini benar? Bukan hanya alasan palsu untuk menghindari pernikahan, kan?"
"I-itu…"
Ruri menjadi ragu-ragu.
Ya, bisa dimengerti. Meskipun terpaksa, pasti sulit mengatakannya secara langsung.
"──Ruri"
Namun ini adalah ujian yang harus dilalui. Mushiki menatap mata Ruri dengan tatapan jernih.
"…………!"
Ruri menggigil kecil, wajahnya memerah seperti tomat, dan dengan suara bergetar, ia berbicara pelan.
"F-faai… Ruri mencintai… kakak…"
"Hmmm… Begitu ya."
Mendengar itu, Ao menghela napas panjang, lalu mengarahkan kipasnya.
"Kalau begitu, bisakah kalian tunjukkan buktinya?"
"Bukti…?"
"Ya. Hmm──Coba kalian berciuman di sini sekarang juga."
"…………"
"Na──"
Mendengar itu, Mushiki dan Ruri langsung menahan napas.
──Sekarang Mushiki tidak berada di bawah pengaruh sihir yang diberikan Kuroe, jadi ciuman tidak akan menyebabkan pengisian sihir. Ia tidak akan berubah menjadi Saika.
Namun, Mushiki telah menjaga kesetiaannya untuk Saika. Walaupun Ruri adalah adiknya, tentu saja melakukan ciuman tidaklah mudah.
"…………"
Namun, Mushiki segera mengubah pikirannya.
Dalam hatinya, sosok imajiner Saika muncul.
『──Kenapa ragu? Dengan satu ciuman saja, pernikahan yang telah diputuskan oleh Fuyajou Ao bisa dibatalkan. Atau jangan-jangan, tekadmu hanya sebatas itu?』
Begitu berkata, Saika yang setengah transparan menepuk ringan bahu Mushiki.
Hanya dengan getaran samar (yang hanya dibayangkan) itu, tekad Mushiki pun bulat.
Ia dengan lembut menggenggam bahu Ruri, lalu menariknya mendekat ke arahnya.
"…! M-Mushiki...?"
"Tidak apa-apa, Ruri. Serahkan padaku."
"............!"
Tubuh Ruri bergetar kaget, lalu perlahan ia menutup matanya. — Sepertinya, Ruri juga sudah siap.
Mushiki perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Ruri.
Jarak di antara bibir mereka tinggal sejauh hembusan napas saja.
──Dan di detik berikutnya.
"...Mana mungkin aku bisa melakukannyaaaaaaaaaa!!"
Sebuah uppercut dari Ruri yang wajahnya memerah menghantam dagu Mushiki, membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
◇
"...Gagal, ya."
"...Gagal, deh."
Ruri dan Mushiki yang kembali ke kamar Saika, menghela napas sambil menjatuhkan bahu mereka dengan lesu.
"Jadi gagal, ya."
Mendengar laporan dari keduanya, Kuroe yang menunggu di kamar menjawab dengan nada datar seperti biasanya.
"Iya... Padahal kupikir sudah berjalan cukup baik. Ruri juga sudah berusaha keras."
"...Y-Ya, begitulah..."
Saat Mushiki mengatakan itu, Ruri memalingkan pandangannya sambil pipinya memerah, seolah teringat kejadian barusan.
"Akan lebih baik kalau kita bisa menyusun strategi. Bisa ceritakan secara rinci apa yang terjadi?"
"Baik. Saat aku berkata, ‘Aku benar-benar mencintaimu dari lubuk hatiku’ pada Ruri—"
"Jangan digambarkan ulang secara detail, aaaaaaaaah!!"
Saat Mushiki menjawab sesuai permintaan Kuroe, Ruri langsung menjerit seperti mau menangis sambil melempar bantal terdekat ke arahnya.
Setelah meletakkan kembali bantal yang mengenai wajahnya ke sofa, Mushiki mulai menjelaskan kejadian di ruang kepala sekolah kepada Kuroe.
"...Begitu, ya."
Mendengar penjelasan Mushiki, Kuroe menyentuh dagunya dan bergumam seolah sedang memikirkan sesuatu.
Lalu Ruri, yang masih memerah, membuka mulut sambil memasang wajah masam.
"...Maaf. Ini semua salahku."
"Yah, memang tindakan Ruri-san sangat pengecut, sih."
"M-Mgh..."
Namun, Kuroe melanjutkan dengan nada tenang.
"Kalaupun ciumannya berhasil, kemungkinan besar mereka tetap akan memberi syarat yang lebih sulit. Jadi jangan terlalu dipikirkan. —Kali ini, masalahnya adalah karena sudah ada perjodohan dengan orang lain. Dari sudut pandang Ao-san, tidak ada alasan untuk membatalkan perjodohan itu demi menikahi kerabat dekatnya."
"Keluarga Fuyajou adalah keluarga bangsawan ternama. Bisa dipastikan pasangan perjodohan itu juga berasal dari keluarga terpandang. Tentu saja, kemampuan sebagai penyihir juga menjadi faktor penting."
"Begitu, ya..."
Mendengar penjelasan Kuroe, Mushiki mengerutkan alisnya.
"Jadi, kalau kita ingin memainkan peran sebagai pacar, kita butuh seseorang yang bisa membatalkan pertunangan itu. Artinya, harus punya latar belakang keluarga yang kuat dan kekuatan sihir yang luar biasa, kan?"
"Meski ada beberapa syarat lainnya, tapi secara garis besar, ya, seperti itu. —Masalahnya, orang seperti itu sangat langka."
"Eh? Tapi bukankah kita sudah punya orangnya? Seseorang yang sempurna dalam segala hal."
『...Eh?』
Begitu Mushiki berkata demikian, Kuroe dan Ruri saling berpandangan dengan ekspresi terkejut.
◇
"……………………………………Umm, bisakah kau ulang sekali lagi?"
Sekitar tiga puluh menit setelah kejadian sebelumnya.
Di ruang kepala sekolah Akademi Sentral <Hakobune>, Fuyajou Ao duduk sambil memegangi kepalanya seolah sedang pusing.
Meskipun begitu, perasaan Ao sebenarnya bisa dimaklumi.
Karena, orang yang sedang berkunjung ke ruang kepala sekolah sekarang adalah—
"Ya. Aku akan mengulanginya sebanyak yang kau mau.
—Aku, Kuozaki Saika, mencintai Fuyajou Ruri dari lubuk hatiku.
Izinkan aku menikah dengannya."
Orang itu adalah penyihir yang dijuluki "Penyihir Pelangi", Kuozaki Saika sendiri.
—Tentu saja, di dalamnya masih diisi oleh Mushiki seperti sebelumnya, tapi tidak mungkin Ao bisa mengetahuinya.
Benar. Kalau Saika yang melamar, baik dari segi status keluarga maupun kekuatan, tak akan ada celah untuk menolaknya. Dia adalah kepala sekolah <Kuugeki no Teien> dan dikenal sebagai penyihir terkuat di dunia. Jika hanya berdasarkan kriteria di atas kertas, bisa dibilang tidak ada manusia di Bumi ini yang lebih cocok darinya.
Sementara itu, Ruri yang berada di samping Mushiki tampak begitu malu dan menyempitkan bahunya.
Walau dia tak mengeluarkan suara, aura tubuhnya sangat jelas menggambarkan: "U-u-untuk orang sepertiku, sampai-sampai Sang Penyihir... maaf... maaf... aku terlalu terhormat sampai rasanya ingin terbakar mati..."
"…Kau serius mengatakan ini, Saika-san?"
Ao bertanya dengan suara berat sambil menghela napas panjang. Mushiki mengangguk besar dengan ekspresi serius.
"Tentu saja. Aku dan Ruri saling mencintai. —Benar begitu, Ruri?"
"Hya... hyai!"
Saat Mushiki memeluk bahu Ruri dengan lembut, Ruri membelalakkan mata dan menjawab dengan suara tinggi seperti orang linglung.
"...A-apa... apa ini nyata...? Astaga... ini kenyataan? Atau cuma mimpi? Langit Ruri penuh bintang jatuh..."
Dia mulai bergumam dengan kata-kata yang terdengar seperti lirik lagu murahan.
Ya, perasaan itu juga bisa dimengerti. Bahkan Mushiki pun mungkin akan bereaksi serupa jika Saika benar-benar melakukannya padanya.
Kemudian, Ao berkata seolah baru mengingat sesuatu.
"...Tapi, Ruri. Bukankah baru saja kau bilang kalau kau saling mencintai dengan kakakmu?"
"…! I-i-it-t-tu…"
Ruri memerah sambil berbisik ragu.
Namun Mushiki memotong pembicaraannya dengan cepat.
"—Sudahlah, jangan bicarakan masa lalu. Cinta datang tanpa diduga."
"...Ngomong-ngomong, anak itu... ke mana dia pergi? Walau sudah diberi izin khusus, tetap saja tak nyaman kalau ada laki-laki berkeliaran di lingkungan sekolah."
"Aku tak tahu siapa yang kau maksud."
"…………"
Mendengar itu, Ao terdiam. Posisi tubuhnya seakan menahan sakit kepala, tapi mungkin itu hanya perasaan.
"...Banyak sekali yang ingin aku tanyakan, tapi..."
Setelah hening beberapa detik, Ao kembali membuka mulut.
"Apa itu?"
"...Saika-san. Kau itu... perempuan, kan?"
Kalimat Ao itu seperti serangan mematikan yang tepat sasaran.
Benar. Meski Saika sempurna dalam status dan kekuatan, ada satu titik lemah besar—jenis kelamin.
Namun tentu saja, Mushiki sudah memperhitungkan hal ini sebelumnya. Ia tersenyum penuh percaya diri.
"Tidak mengakui pasangan sesama jenis? Aku tak menyangka akan mendengar pemikiran kuno seperti itu darimu."
"...Aku tak bermaksud menolak pasangan seperti itu. Tapi dengan begitu, tak akan ada anak yang bisa mewarisi darah Ruri, kan? Itu masalah besar bagi keluarga Fuyajou."
"Hmm—"
Mushiki mengelus dagunya dan melanjutkan,
"Ngomong-ngomong, Ao..."
"Ada apa?"
"Kau pernah dengar istilah 'sel punca iPS'?"
"Saika-san?"
Ao menatap tajam seolah menginterogasi. Mushiki hanya mengangkat bahu kecil.
"—Yah, soal itu bisa kita pikirkan nanti. Mungkin, di masa depan, Ruri bisa berubah pikiran. Bisa saja dia putus denganku dan menikah dengan orang lain. Hati manusia selalu berubah-ubah, bukan?"
Mushoku sadar betul bahwa ucapannya itu hanyalah akal-akalan.
Secara tidak langsung, ia menyiratkan bahwa jika Ruri sudah cukup dewasa dan bisa memilih sendiri pasangannya, maka Saika akan mundur dengan sendirinya. Bisa dibilang ini hanya alasan untuk menggagalkan perjodohan yang sudah disiapkan Ao.
Namun, saat yang mengucapkannya adalah Kuozaki Saika, bahkan akal-akalan seperti itu bisa terdengar meyakinkan.
Mushiki mengulas senyum tipis, lalu menatap Ao dengan tajam.
"Itu intinya. —Jika ada orang yang berani mencoba memisahkan kami, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."
"…………"
Ao kembali terdiam mendengar pernyataan Mushiki.
Namun, setelah menarik napas panjang, dia mengalihkan pandangannya pada Ruri.
"Apa yang dikatakan Saika-san itu benar, Ruri?"
"Y-ya! Milky Way, fly away!"
Ruri menjawab sambil memberikan hormat tegap. Walau arti kata-katanya tak jelas, tapi maksudnya sangat terasa sebagai bentuk persetujuan.
Melihat itu, Ao menghela napas sekali lagi, lalu mengarahkan ujung kipasnya ke mereka.
"—Kalau begitu, buktikan cinta kalian dengan berciuman di sini dan sekarang."
Ia kembali mengajukan tantangan sulit yang sama seperti sebelumnya.
"..."
"Hmm."
Mendengar permintaan itu, Ruri menahan napas, dan Mushiki menyipitkan mata sedikit.
Itu adalah permintaan yang telah diperkirakan sebelumnya. Mushiki dan Ruri sudah siap, bahkan Kuroe pun sudah memberi lampu hijau dengan berkata, "Ini situasi darurat. Tak perlu ragu. Lakukan saja."
Ya. Artinya, seharusnya tak ada masalah.
"—Ruri. Ke sini."
Mushiki berbisik lembut sambil merangkul bahu Ruri.
"Fyaa!?"
Ruri berseru dengan suara tinggi, pipinya memerah cerah.
Namun Mushiki tak memedulikannya, dan mengangkat dagu Ruri dengan lembut.
"M-m-m-m-m-Ma-ma-ma-Ma-m-Ma-Ma-m-Ma-Ma-ma-Ma-m-Ma... Penyihir-sama...!"
"—Kau tidak suka?"
"T-t-t-tentu saja b-b-b-bukan...!"
"Kalau begitu, percayakan padaku. Tak apa. Jangan khawatir—"
Mushiki berkata lembut sambil perlahan mendekatkan bibirnya ke Ruri.
—Namun, tepat sebelum bibir mereka menyentuh,
"Ah────"
Karena perkembangan yang terlalu di luar dugaan, otak Ruri pun mencapai batasnya.
Kesadarannya pun… melayang ke Milky Way dan fly away.
◇
"Tidak berhasil."
"A-aku mohon maaaaaaaaaf!"
Begitu kembali ke kamar, Ruri langsung melakukan "jumping dogeza" dengan penuh semangat. Tinggi lompatan, jarak terbang, dan bentuk dogeza-nya—semuanya merupakan penampilan dengan nilai seni yang tinggi.
Melihat interaksi keduanya, Kuroe sepertinya langsung menyadari apa yang terjadi dan menghela napas pelan.
"Jadi gagal, ya."
"Iya. Padahal sampai pertengahan jalan, semuanya masih berjalan cukup baik…"
Ketika Mushiki menjelaskan secara singkat, Kuroe mengangguk dan berkata, "Begitu, ya." Sementara itu, Ruri sama sekali tidak mengubah posisi dogeza-nya.
"Kalau bahkan Saika-sama tidak berhasil, berarti siapa pun yang dibawa pun tidak akan bisa membuat Ao-san mengubah keputusannya. —Ruri-san, tolong angkat wajahmu. Bahkan jika kamu berhasil tadi, kemungkinan besar kamu hanya akan diberi tantangan mustahil lainnya."
"Be-benarkah…?"
Ruri mengangkat wajahnya perlahan, seolah-olah masih takut-takut.
"Ya, benar."
"Lalu…" lanjut Kuroe.
"Kalau dibilang Ruri-san tidak berguna… ya, itu juga benar sih."
"Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang!"
Mendengar ucapan Kuroe, Ruri pun langsung menangis sejadi-jadinya.
Mushiki menegurnya lembut.
"Kuroe."
"Maaf. Soalnya reaksinya terlalu lucu."
Kuroe lalu berlutut di tempat dan mulai menenangkan Ruri.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Ruri bisa sedikit tenang. Setelah menunggu itu, Kuroe pun kembali berdiri.
"—Namun, ada satu hal yang membuatku penasaran."
"Apa itu?"
"Ao-san. Kalau berdasarkan ingatanku, dia itu orang yang lebih bisa diajak bicara, lho."
"Hmm…?"
Mendengar ucapan Kuroe, Mushiki hanya bisa memiringkan kepala. Berdasarkan ceritanya, dia memang tidak merasakan hal seperti itu, tapi… mengingat seberapa lama Kuroe mengenalnya, mungkin memang ada sesuatu yang terjadi.
“Sebegitu beratnya... ya, mungkin begitulah arti dari pernikahan.”
“...Mungkin memang begitu.”
Kuroe menyipitkan mata, tampak masih belum sepenuhnya bisa menerima kenyataan itu.
“...Bagaimanapun juga, kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja. Kalau terlalu mendesak, bisa-bisa malah membuat sikap Ao-san semakin keras. Masih ada waktu sebelum upacara pernikahan dilangsungkan. Mari kita atur strateginya dengan perlahan.”
“Ya... benar juga. Kalau terlalu sering berkeliaran, bisa-bisa malah membuat mereka curiga. Untuk hari ini, aku akan kembali ke kamarku. Lagipula, sejak muncul berdua dengan sang penyihir di hadapan kepala keluarga, rencana kita mungkin sudah ketahuan. Tidak perlu juga memberikan alasan bagi para anggota komite disiplin untuk menindak kita.”
Setelah berkata demikian, Ruri berbalik menghadap Mushiki dan membungkuk dengan hormat.
“Kalau begitu, Penyihir-sama, saya permisi dulu. Besok saya akan datang kembali.”
“Ya. Perjalanannya masih panjang. Istirahatlah dengan baik.”
“Baik!” jawab Ruri dengan semangat, lalu keluar dari ruangan.
◇
"………Haa."
Di ruang kepala sekolah <Hakobune>, Ao menghembuskan napas pelan seolah melepaskan perasaan muram yang menggelayuti hatinya.
—Aku benar-benar telah terseret dalam masalah besar.
Kebangkitan <Uroboros>, pelemahan besar-besaran <Menara>...
Selain itu, munculnya dua <Kraken> berukuran luar biasa secara bersamaan juga mengganggu pikirannya. Meski tampaknya situasi berhasil dikendalikan berkat para anggota komite ketertiban dan Saika, sebagai penjaga lautan dunia ini selama bertahun-tahun, Ao tetap tidak bisa menghilangkan firasat buruknya.
Namun—masalah terbesar sebenarnya bukan itu.
"...Tak kusangka Saika-san akan turun tangan sendiri."
—Kuozaki Saika. Penyihir terkuat di dunia, yang kekuatannya sudah tak perlu diragukan lagi. Tak disangka, dia akan begitu terang-terangan mencoba menggagalkan pernikahan Ruri.
Bahkan Ao, yang memiliki kekuasaan mutlak di <Hakobune>, tetap tidak berada di atas angin jika harus berhadapan dengan Saika. Ia kini menyesali keputusannya mengabulkan permintaan egois Ruri untuk masuk ke <Teien>. Tapi, di sisi lain, Ruri yang sekarang pun tidak akan ada jika bukan karena pelatihan di <Teien>. Karena itu, Ao tak bisa sepenuhnya menyalahkan keputusan itu, dan hal itulah yang membuatnya semakin pusing.
"...Dan sekarang muncul pula si Mushiki? Kenapa anak itu tiba-tiba muncul sekarang?"
Ao bergumam kesal sambil memegang dahinya.
"Benar-benar… semuanya tidak berjalan sesuai harapan."
Namun—
Saat itu juga, Ao menghentikan ucapannya.
Tepatnya—dia dipaksa berhenti bicara karena batuk yang tiba-tiba menyerang.
"…Kehok, kehok—!"
Ia menutup mulutnya dengan tangan, batuk keras.
Beberapa saat kemudian, dia menarik napas berat sambil menjauhkan tangannya dari mulutnya.
—Dan di sana, tangan itu kini dipenuhi noda darah berwarna merah kehitaman.
"...Sepertinya, aku tak punya banyak waktu untuk bersantai."
Dengan suara sedingin es, Ao berbisik pelan sambil menggenggam erat telapak tangannya yang berlumuran darah.




Posting Komentar