no fucking license
Bookmark

Afterword Classmate Bishoujo

 Kepada para pembaca Fantasia Bunko, salam kenal.

Dan kepada kalian yang telah mengikuti karya-karya Aya Hazuki, sudah lama tidak bertemu.


Saya sedang menulis afterword ini sambil melakukan pengecekan akhir naskah, dan sekarang adalah awal bulan Juni. Jadwal rilis buku ini diperkirakan sekitar akhir Juli, saat para pelajar mulai memasuki liburan musim panas.


Artinya, waktu rilis ini bertepatan dengan enam minggu (lebih beberapa hari) yang dilalui oleh Tomoya dan Yume dalam cerita ini.


Saya mendapat persetujuan bahwa naskah ini “OK” untuk terbit tepat satu tahun yang lalu. Namun, karena berbagai hal, akhirnya baru diterbitkan sekarang. Saya tak bisa menahan senyum saat menyadari bahwa ini mungkin sebuah “keisengan” dari Tuhan.


Jadi, bagaimana kesan kalian setelah membacanya?


Proyek ini sebenarnya bermula dari tawaran editor saya, yang pernah membaca karya-karya saya sebelumnya, yang berkata, “Hazuki-san, saya rasa kamu juga bisa menulis romcom. Mau coba?”


Sebelumnya, cerita-cerita saya cenderung bertema menyentuh dan penuh nuansa masa remaja. Saya belum pernah benar-benar menulis romcom murni dengan adegan manis bareng sang heroine sebagai poros utamanya. Jadi, ini adalah tantangan tersendiri bagi saya—tentunya dengan banyak masukan dari editor juga.


Dan inilah hasilnya.


Seperti yang saya sebutkan tadi, naskah ini sudah ‘tidur’ selama setahun, jadi bahkan saya sendiri lupa banyak detailnya. Saat membacanya kembali selama pengecekan akhir, saya merasa seperti membaca cerita yang benar-benar segar.


Saya sempat berpikir, “Wah, ternyata saya bisa juga menulis adegan fanservice meskipun saya kurang nyaman,” atau, “Yah, tetap saja bagian akhirnya jadi khas Hazuki, ya.” Tapi secara keseluruhan, saya menyukai cerita ini sama seperti karya-karya saya sebelumnya.


Yang paling penting, saya sangat menikmati proses menulisnya.


Tema utama cerita ini adalah “persahabatan.”


Saya bersyukur dikelilingi oleh banyak teman baik dalam hidup. Bahkan sekarang, saat saya sudah memasuki usia tiga puluhan, saya masih rutin bertemu teman-teman dari masa SD, SMP, SMA, hingga kuliah, setidaknya setahun sekali.


Kami pergi makan bersama, ke sauna, minum bareng, main Donjara, atau bahkan jalan-jalan ke taman hiburan bersama keluarga teman. Dengan teman-teman dari lab di kampus, kami saling bertukar kado ulang tahun dan merencanakan liburan bersama.


Saya tidak akan memaksakan pendapat saya bahwa “semua orang harus punya teman,” tapi setidaknya bagi saya pribadi, hidup saya jauh lebih kaya karena kehadiran mereka.


Jika bukan karena para sesama penulis yang saya kenal setelah debut, mungkin saya sudah menyerah dan berhenti menulis sejak dulu.


Karena mereka, saya bisa melewati malam-malam yang sunyi.

Karena mereka, saya bisa menyambut pagi yang penuh warna.


Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tulus.


Saya berharap, hubungan kami akan terus terjaga selamanya.


Ada yang bilang, “persahabatan antara laki-laki dan perempuan itu tidak mungkin ada.”

Dan memang, di akhir cerita, tampaknya Yume mulai memiliki perasaan lebih dari sekadar teman terhadap Tomoya. Tapi tetap, saya percaya hal yang mereka dapatkan dalam cerita ini adalah sesuatu yang sangat berharga—tak kalah penting dibandingkan harta karun dalam hidup saya sendiri.


Bagaimana hubungan mereka akan berkembang ke depannya?


Itu masih misteri. Baik saya maupun mereka berdua belum tahu jawabannya.


Sebagai cerita, saya rasa kisah ini sudah tertutup dengan rapi dalam satu volume. Tapi jika ada sambutan yang baik, saya mungkin diberi kesempatan untuk menulis lanjutannya. Jadi, saya akan sangat berterima kasih jika kalian mau mendukungnya.


Sekarang, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih.


Pertama, kepada editor saya yang telah banyak membantu.

Terima kasih banyak atas segala kesabaran dan perhatian Anda.

Meski saya mungkin penulis yang rewel dan penuh permintaan, Anda selalu menanggapi dengan tulus dan profesional. Saya sangat menikmati bekerja bersama Anda karena kita juga punya banyak kesamaan hobi dan topik pembicaraan. Mari terus bekerja sama ke depannya.


Oh ya, judul dari karya ini adalah satu-satunya yang saya ambil dari usulan editor. Biasanya saya bersikeras menentukan sendiri, tapi ternyata membuat judul romcom itu sulit ya. Saya benar-benar kesulitan menemukan ide sendiri. Saya harus lebih banyak belajar, rupanya.


Selanjutnya, untuk ilustrator kami, Komori-sensei.

Terima kasih banyak telah memberikan sentuhan visual yang sangat indah pada cerita ini. Ilustrasi Anda sangat imut dan menyenangkan, saya merasa sangat senang dan bersyukur.


Lalu, kabarnya karya ini juga akan berkolaborasi dengan kanal YouTube “Kanon no Renai Manga,” dan akan diadaptasi menjadi video manga di sana. Terima kasih banyak kepada tim Kanon!

Saya pribadi juga telah beberapa kali menulis skenario untuk mereka, jadi saya harap kesempatan ini bisa memperkuat hubungan kerja sama kami.


Semoga kalian juga bisa menikmati video tersebut bersama dengan novel ini.


Selain itu, kepada para desainer, editor, staf penerbitan, dan para pegawai toko buku—serta semua pihak yang membantu agar karya ini bisa sampai ke tangan pembaca—terima kasih banyak atas bantuan dan dukungan kalian.


Dan terakhir, untuk para pembaca yang terkasih.


Kita belum pernah bertemu. Belum pernah berbicara. Saya bahkan tak tahu wajah dan nama kalian. Tapi tetap, saya menganggap kalian semua sebagai teman berharga.


Dalam cerita, Yume pernah mengatakan bahwa “teman” adalah...


 ‘Orang yang seperti bulan yang kau lihat di malam-malam kesepian.’


Menjadi penulis adalah pekerjaan yang sangat sepi.

Seperti bertarung sendirian melawan pertanyaan tanpa jawaban.

Saya pribadi bukan orang yang kuat mentalnya, jadi sering kali hampir menyerah saat menulis satu buku.


Dan di saat seperti itu, keberadaan kalian, para pembaca, sungguh menyelamatkan saya.


Terima kasih.


Karena kalian ada, saya bisa melewati malam-malam panjang dan menyambut pagi sebagai seorang penulis.


Jika tulisan saya ini bisa menemani malam sunyi kalian, walau hanya sedikit, maka saya tidak akan meminta lebih.


Baiklah, rasanya afterword ini sudah cukup panjang.

Terima kasih telah menemani hingga akhir.


Semoga suatu hari nanti, di masa depan, saya bisa kembali bertemu kalian—teman-teman saya.


── Sampai jumpa.


Dengan doa dan harapan, saya akhiri kata-kata ini.


Menyambut pagi yang tak lagi sepi,

Aya Hazuki

Posting Komentar

Posting Komentar