no fucking license
Bookmark

Penyambutan Tanpa Seorang Maid

 Minggu pagi—


"Datang nih, Kei~ji ♡"


"...Ah, selamat datang, Maihime."


Sejujurnya, kalau bisa, aku lebih memilih dia tidak datang.


Tapi aku tidak cukup kejam untuk mengusir teman yang sudah jauh-jauh datang main ke rumah. Aku lemah dalam hal itu.


Maihime yang menungguku di depan pintu tentunya mengenakan pakaian kasual.


Sweater putih model off-shoulder dan rok mini dari denim. Dengan bahu dan kaki terbuka seperti itu, pakaiannya terasa cukup dingin untuk bulan April.


"Bagaimana? Imut, kan? Soalnya dada Maihime-chan ini lumayan besar, jadi kupakai sweater yang agak ketat."


"Terima kasih atas pelayananmu untuk cowok jomblo."


"Eh~ kalau dibilang begitu malah jadi aneh rasanya... Reaksinya tuh harusnya lebih grogi gitu lho."


Justru aku sengaja menghindari reaksi yang dia harapkan.


"Yah, sudahlah. Boleh aku foto rumahmu?"


"Boleh saja, tapi jangan diunggah ke media sosial, ya?"


"Foto rumah ini udah banyak kok di internet. Soalnya bangunannya model barat yang tua, ada situs yang bahkan menyebutnya rumah berhantu."


"Apa situs itu bisa dituntut, ya?"


‘Rumah berhantu’—rupanya maksudnya adalah spot angker.


Menjulukinya rumah hantu padahal ini rumah orang sungguhan, benar-benar keterlaluan.


"Yosh, foto bagian luar segini cukup deh. Nah, permisi ya~!"


"Dasar, kelakuanmu kayak rumah ini punya sendiri aja, Maihime."


Aku menghela napas panjang dan mempersilakan Maihime masuk.


Tak pernah terpikirkan bahwa aku akan mengajak cewek dari kelas masuk ke rumah... dan Maihime jadi orang kedua.


"Eh, Keiji. Jangan bilang kamu mau nyuruh aku duduk di ruang tamu, ya?"


"Hah? Biasanya tamu ya memang disambut di ruang tamu, kan?"


"Tapi aku mau lihat kehidupan nyata Keiji~! Ruang tamu tuh nggak menarik."


"Langsung aja bilang apa maumu, ya. Kalau begitu ke kamarku—"


"Ruang keluarga aja deh!"


"..."


Padahal aku berniat mengajaknya ke kamarku yang kosong karena baru pindahan.


Maihime dengan mudah membongkar niatku.


Tak ada pilihan lain. Aku mengantarnya ke ruang keluarga.


"Wah, ini ruang keluarganya rumah lama keluarga Kiyomiya, ya. Luas juga. Tapi, gimana ya..."


Maihime langsung menatap sekeliling tanpa ragu.


"Berantakan, ya. Tas sekolahmu juga dilempar sembarangan di lantai tuh."


"Biarin aja."


Yup, ruang keluarga rumahku memang berantakan.


Seorang siswa SMA tinggal sendirian, jadi kalau rapi justru aneh.


"Naik ke lantai dua itu ribet, jadi setiap pulang aku pasti langsung ke ruang keluarga dulu buat istirahat."


"Aduh, dasar pemalas."


Maihime menatapku dengan ekspresi heran.


Selain tas sekolahku, ada juga konsol game, majalah, dan pakaian kasual yang asal taruh di kursi.


"Keiji, jangan-jangan kamu sebenarnya tinggal di ruang keluarga, ya?"


"Bukan gitu. Aku cuma nggak nyangka bakal ada tamu, apalagi yang seenaknya masuk ke ruang keluarga."


"Itu namanya ceroboh, Keiji."


Maihime tertawa kecil.


Sepertinya dia sudah memperkirakan atau mengharapkan kondisi seperti ini. Ruang keluarga ini pas banget dengan ekspektasinya.


"Yah, akhirnya aku bisa datang juga ke rumah Keiji~! Agak terharu juga sih."


"Terharu segala... lagipula, kamu dulu nggak pernah bilang mau main ke rumahku."


"Eh, kan rumah utama keluarga Kiyomiya itu menakutkan. Tapi kalau kamu sih beda. Kamu itu santai dan ramah."


"...Yah, setengah darahku orang biasa, sih."


"Aku nggak peduli soal itu."


Maihime kembali tertawa riang. Sepertinya dia memang tidak peduli soal latar belakangku.


"Ngomong-ngomong, Keiji. Kok nggak ada tanda-tanda teh atau minuman keluar, ya?"


"Maaf ya, aku nggak menyuguhkan apa-apa."


"Itu sih biasanya dikatakan saat tamunya udah pulang. Nih, ini oleh-oleh. Soalnya cowok yang hidup sendiri kayak kamu pasti nggak punya cemilan buat tamu, kan?"


Aku baru sadar dari tadi Maihime memang membawa kotak kecil.


Aku menerimanya, lalu berjalan ke dapur.


"Fuhh..."


"Bagaimana tadi?"


"Uwah! Kamu di sini?"


Di dapur, berdiri seorang gadis bermaid outfit—Kiyomiya Sayaka.


"Aku bukan tipe yang sembunyi-sembunyi. Ini saja sudah cukup kompromi."


"Lebih baik makin sedikit orang yang tahu tentangmu, kan?"


"Kalau itu temanmu, aku rasa bisa dipercaya."


"Hmm... Tapi dia itu nyebut dirinya ‘informan’. Aku nggak yakin dia bisa jaga rahasia. Walau dia bukan orang jahat sih..."


"Kalau begitu, kalian sama aja dong."


"..."


Sama? Siapa yang dimaksud?


"Oh iya, kalau aku lama-lama ngobrol, nanti dia bisa nyusul ke sini. Aku sih nggak masalah, tapi kamu kan pengin menghindarinya. Aku akan patuhi keinginan tuan rumah."


"Berhenti manggil 'Tuan Rumah'. Ini... mungkin kue. Kayaknya opera dan rare cheesecake."


Aku meletakkan kotak dari Maihime ke atas meja dapur.


"Kenapa kamu bisa tahu?"


"Aku tahu selera Maihime, dan dia juga tahu seleraku."


Opera itu jenis kue coklat agak pahit—Maihime lebih suka rasa seperti itu daripada kue manis biasa.


Sayaka membuka kotaknya dengan tangan yang hati-hati.


"Benar, isinya opera dan rare cheesecake. Dan satu lagi, strawberry shortcake."


"Hah?"


Aku mengintip isi kotaknya.


Benar juga, ada kue opera warna gelap, rare cheesecake coklat muda, dan shortcake dengan stroberi besar di atasnya.


"Kenapa ada tiga?"


"Entahlah, mungkin satunya untuk kamu makan nanti?"


Maihime memang terlihat mencolok, tapi dia sebenarnya pintar. Itulah kenapa, meskipun dia terlihat nyentrik di sekolah yang penuh siswa teladan, dia bisa menjalankan peran sebagai ‘informan’ dengan baik.


"Hee Aku mau ke toilet. Di mana?"


"—!!"


Aku langsung menoleh kaget.


Ternyata Maihime masuk ke dapur.


"Ah, kamu di sini. Gile, rumahnya luas banget."


"Jangan sembarangan keliling rumah orang, dong..."


Dalam sekejap, Sayaka langsung menghilang dari dapur. Kemungkinan dia masuk ke pantry yang berada tepat di sebelah dapur.


"Maihime, kenapa bawa tiga kue?"


"Kan aku bilang, aku lihat rumah Seimiya di internet. Rumah segede ini nggak mungkin cuma ditinggalin sendirian. Pasti ada pelayan, kan? Tapi karena kuenya mahal, aku cuma bisa beli tiga."


"Anak orang kaya yang hemat, ya..."


Atau bisa dibilang pelit.


Sempat kupikir Maihime tahu tentang Sayaka, tapi mungkin aku terlalu paranoid.


"Oh iya, toiletnya di sana."


Setelah aku menjelaskan lokasinya, Maihime keluar dapur.


Fuhh, nyaris saja.


Kalau ketahuan ada maid, bisa-bisa jadi bahan omongan di sekolah—dan kalau pun tidak, Maihime pasti akan terus mengejekku dengan senang hati.


"Udah aman. Tempatnya sempit, kan. Aku buat teh sendiri aja. Kamu balik ke kamarmu, ya—"


Saat aku membuka pintu pantry...


"—!!"


Tiba-tiba tanganku ditarik dan aku diseret masuk ke pantry.


BAN! Pintu geser pantry langsung ditutup.


"Sayaka!?"


"Aku tadinya nggak tahu soal Sogano—si Maihime itu. Yang aku tahu cuma dia cewek aneh dengan rambut pirang mencolok."


"Yah... penilaianmu nggak salah sih..."


Pantry-nya sempit. Saking sempitnya, dua siswa SMA saja sudah bikin sesak.


Dada Sayaka yang lembut menempel ke dadaku.


Dan karena aku terseret tadi, kakiku tanpa sengaja mengangkat roknya, memperlihatkan paha putihnya...


"Kamu lihat ke mana?"


"Aku nggak salah! Bukan pelecehan!"


"Aku nggak bilang kamu pelecehan, kan? Kamu mikirin yang aneh-aneh, ya?"


"Tidak, Bu!"


Karena posisinya mirip kereta penuh sesak, aku jadi mengeluarkan alasan aneh.


"Kalau gitu bagus. Tapi ya, Maihime barusan ngomong hal bagus juga, lho."


"Apa, ada quote bagus ya?"


"Katanya, rumah sebesar ini pasti perlu pelayan. Aku sih pengin dia ngomong kayak gitu terus."


"Aku nggak bakal terpengaruh walau dia bilang gitu."


Meskipun sekarang aku sedang dalam posisi sangat... sulit berpikir.


"Sayang sekali. Ah, teh biar aku yang siapkan. Jangan khawatir, aku pastikan tidak akan ketahuan. Kalau aku serius, menyelinap dari mata si informan itu mah gampang."


"...Tolong lakukan itu."


Sayaka bukan cuma pintar, tapi juga gesit dan licik kalau perlu.


Sampai-sampai aku merasa... dia bisa mengalahkan Maihime sekalipun.

Posting Komentar

Posting Komentar