no fucking license
Bookmark

Teman Cewek Gyaru

 Keesokan paginya, saat aku berangkat ke sekolah dan sedang mengganti sepatu di loker sepatu…


“Hei, pagi, Keiji!”


Entah sejak kapan, ada seorang siswi berdiri di sebelahku.


“Oh, ternyata Maihime.”


Sogano Maihime──


Seorang gyaru dengan rambut pendek pirang mencolok.


Padahal ini masih bulan April, tapi dia tidak memakai blazer, hanya mengenakan sweter sekolah berwarna pink.


Rok mininya juga sangat pendek, jelas-jelas melanggar peraturan sekolah.


Meskipun mayoritas siswa di sekolah ini berasal dari keluarga terpandang, tetap saja mereka adalah remaja masa kini.


Warna rambut cokelat terang masih bisa ditemukan, tapi rambut emas berkilauan seperti milik Maihime cukup langka.


Bahkan di antara siswa-siswi tampan dan cantik di Soushuukan, wajahnya tergolong sangat menawan, tapi justru karena warna rambut dan gayanya, dia malah tampak mencolok.


“‘Oh, ternyata’ itu kok dingin banget, sih. Kita kan udah akrab, Keiji~”


“Akrab dari mana, coba.”


Meski begitu, Maihime entah kenapa bersikap sangat akrab padaku. Seperti ini, dia sering banget nyamperin.


Bahkan dengan seenaknya memanggilku “Keiji”. Yah, bukan berarti aku terganggu sih…


“Ngomong-ngomong, Keiji, kamu akhirnya melakukannya juga, ya?”


“Melakukan apaan.”


“Nih, liat deh.”


Maihime menunjukkan layar ponselnya ke arahku.


Tampil di sana adalah… foto aku dan Sayaka sedang berjalan berdua di koridor sekolah.


“Kenapa kamu punya foto itu? Kamu kan nggak ada di tempat kejadian waktu itu.”


Maihime itu gadis yang mencolok, jadi kalau dia ada di lorong tempat hasil ujian ditempel, pasti aku bakal sadar.


“Yah, soalnya Maihime-chan ini kan informan sekolah.”


“………”


Ya, Sogano Maihime ini mengaku sebagai “informan sekolah”.


Dan nyatanya, dia benar-benar paham segala info yang terjadi di sekolah.


Siapa pacaran dengan siapa, siapa bikin masalah di luar sekolah, hubungan tak pantas antara guru dan murid, dan semacamnya — sepertinya dia tahu semuanya.


Di Soushuukan, latar belakang keluarga siswa juga jadi hal penting, dan kabarnya dia juga tahu banyak soal itu.


Kalau dia mau, rasanya bisa saja dia menghancurkan satu keluarga lewat manipulasi informasi… Serem.


“Jadi kamu nggak cuma jual info, tapi juga beli, ya. Harusnya aku juga ikut-ikutan nyari skandal buat dijual.”


“Eeeh, masa kamu, anak bangsawan keluarga Kiyomiya, ngomong kayak gitu sih~? Kita ‘kan temenan, kalau nemu skandal ya kasih gratisan dong ke aku!”


“Eh, kamu juga ngaku temen tapi maunya untung sendiri…”


Tentu saja aku cuma bercanda soal jual info.


“Ngomong-ngomong, aku denger-denger kamu lagi digangguin anaknya keluarga Fujikawa, terus diselametin sama Sayaka-san, ya?”


“Katanya sih, Kiyomiya itu keliatannya dingin, tapi sebenarnya baik hati.”


“Kiyomiya? Wah, kamu udah manggil nama depannya aja? Kalau gitu, aku boleh dong manggil dia Kiyocchi?”


“Jangan seenaknya bikin nama panggilan. Lagian Kiyomiya tipe yang bakal cuekin kamu mentah-mentah.”


“Justru cuek gitu malah bikin deg-degan, kan? Ya nggak, Keiji?”


“Gue nggak pernah dicuekin, sih.”


“Cih, belagu amat. Baru deket sama cewek langsung ngerasa keren.”


“Dia bukan pacarku!”


Tentu saja dia juga bukan pembantuku. Dia cuma tinggal bareng karena aku baik hati.


Karena area loker mulai padat, kami pun menjauh dari sana.


Di dekat situ ada lobby luas dengan langit-langit dua lantai. Biasanya murid-murid berkumpul di sana untuk ngobrol sebelum masuk kelas.


“Terus, abis itu kamu dan Sayaka-san pergi mojok di mana?”


“Kamu ini anak keluarga terpandang kan? Kok omongannya nggak ada sopan-sopannya.”


“Jaman sekarang, ngarepin putri bangsawan punya sopan santun itu udah ketinggalan zaman. Lagian, keluarga Sogano juga bukan keluarga terkenal.”


Aku juga jarang dengar nama keluarga Sogano, tapi untuk bisa masuk Soushuukan, status keluarga ikut jadi bahan pertimbangan.


Berarti keluarga Sogano tetap punya silsilah yang layak.


“Tapi tetap aja aneh, deh. Sayaka-san itu biasanya nggak deket sama siapa-siapa, tapi kok ke kamu malah keliatan agresif gitu, Keiji?”


“Kamu juga sekelas sama dia, kan? Tahu dong, bangku kita sebelahan.”


“Tapi dia bukan tipe cewek yang bakal jadi baik ke cowok cuma karena duduk sebelahan.”


“Berarti dia orangnya penuh rasa keadilan, lah. Liat aku diganggu Fujikawa, terus nggak tega.”


“Kamu sendiri yang bilang, ya. Jangan-jangan dia nyegah kamu sebelum kamu ngelakuin yang aneh-aneh?”


“Lakuin yang aneh? Maksud kamu apa, sih?”


“Bukan apa-apa, kok.”


Maihime cengengesan sambil geleng-geleng kepala.


“Tapi ya, tahu nggak…”


Tiba-tiba Maihime mulai melambaikan tangan dan mengangkat kakinya, menari di tempat.


Gerakannya jelas profesional. Memang dulu waktu SMP dia anggota klub dansa.


Katanya, timnya bahkan pernah lolos ke tingkat nasional.


Tapi anehnya, dia mundur sebelum kompetisi final. Katanya sih bukan karena cedera. Mungkin cuma karena dia memang suka-suka sendiri.


“Hei, jangan asal nari di tempat umum dong.”


“Udah biasa kan. Lagian kamu senang ‘kan bisa lihat tarian indahku?”


“Udah bosen, tahu. Kamu itu setiap saat selalu nari, sih.”


Para cowok yang nongkrong atau lewat di lobi mulai melirik-lirik ke arah Maihime.


Roknya super pendek… Cowok SMA mana sih yang bisa cuek ngeliat itu?


“Yah, soalnya Keiji nggak pernah liatin aku dengan pandangan mesum sih. Nggak suka cewek, ya?”


“Siapa bilang? Aku cuma lebih fokus ke gerakan energik kamu daripada elemen erotisnya.”


“Ugh… Sial, dia muji secara natural…!”


“Dipuji malah sebal kenapa, sih.”


Reaksi Maihime memang sulit dimengerti.


Meskipun ekspresif, dia tetap sama membingungkannya dengan Kiyomiya yang dingin dan tanpa ekspresi.


“Pokoknya nih ya, sekarang isu paling panas di sekolah itu soal Sayaka-san! Keiji, tolong dong jembatani aku buat wawancara.”


“Minta langsung aja. Kalian sekelas juga, kan?”


“Orangnya itu cuek banget, tahu! Aku udah seratus kali lebih minta wawancara, udah ditolak dua ratus kali!”


“Itu hitungannya ngaco banget…”


Maksudnya sih udah sering banget ditolak.


“Dia pindahan waktu kelas tiga SMP, langsung salip Fujikawa dan jadi peringkat satu terus! Cantik, oppai-nya besar! Info tentang Sayaka-san bisa dijual mahal!”


“Jangan-jangan kamu motret diam-diam juga?”


“Kalau kamu yang minta, aku siap motret sesuai permintaan loh? Lensa zoom-ku siap beraksi!”


“Aku sih lebih suka foto momen-momen kasual kayak ketiak atau paha yang ngintip dikit…”


“Uwaah, Keiji bikin Maihime-chan ilfil~”


“…………”


Sial… Kayaknya tadi keterlaluan buat ukuran bercanda.


“Yah, kalau cewek cantik sih, bagian ketiak atau paha pun udah cukup kok. Sayaka Kiyomiya-san itu salah satu dari dua besar cewek tercantik di angkatan kita.”


“Dua besar cewek tercantik ya… Kesannya kayak ranking buatan otaku.”


Memang sih Sayaka salah satu dari dua yang tercantik, tapi aku nggak terlalu tahu yang satunya, jadi dibilang ‘top 2’ pun aku nggak merasa nyambung.


“Kalau aku sih lebih nge-fans Sayaka-san daripada si ‘Yamato Nadeshiko’ satu lagi. Aku pengen tahu info pribadi dia. Mulai dari ukuran tiga lingkar sampai warna pakaian dalam favorit!”


“Kamu tuh informan atau orang yang haus nafsu pribadi sih?”


Sejujurnya, Maihime itu memang kayaknya suka cewek cantik.


Padahal dia sendiri juga cantik──tapi tentu saja, hal itu pantang banget buat kuucapkan langsung.


“Kalau gitu, aku puas deh kalau bisa main ke rumahnya Sayaka-san.”


“Itu malah tantangan paling tinggi!”


“Soalnya banyak loh yang penasaran sama rumah Sayaka-san.”


“Itu namanya udah mirip voyeurisme. Aku sih nggak pengen ngomong begini, tapi dia itu murid khusus dengan beasiswa penuh, loh. Syaratnya itu harus ada masalah keuangan di keluarga, kan?”


Seingatku, Kiyomiya tinggal di apartemen sederhana tapi nyaman.


Rasanya hidupnya tidak dalam kondisi berlebih.


Di sekolah ini, di mana mayoritas siswa berasal dari keluarga kaya, terlalu peduli pada kondisi rumah murid beasiswa terdengar sangat tidak sopan.


“Aku rasa sih, mereka nggak bermaksud jahat. Anak-anak di sekolah ini kebanyakan terlalu terlindungi. Mereka justru penasaran sama kehidupan ‘warga biasa’.”


“Meskipun nggak jahat, tetap aja itu nggak etis.”


Aku menyilangkan tangan dan menatap Maihime tajam.


“Cih, padahal kupikir kalau kamu udah akrab sama Sayaka-san, aku bisa dapet kesempatan juga.”


“Lupakan aja. Biarkan Sayaka Kiyomiya tetap jadi gadis misterius.”


Yah, kurasa Maihime nggak akan nekat membongkar rahasia Kiyomiya.


Dia cuma nyebar info-info ringan yang bisa dinikmati orang.


“Kalau gitu, Keiji aja deh.”


“Ha?”


“Kamu kan pindah ke rumah tua keluarga Seimiya, kan?”


“Eh, k-kok kamu tahu?”


“Hah? Hari kamu pindahan kamu sendiri yang kirim foto ke LINE-ku, inget nggak? Yang bilang kamu pindah ke rumah ala film horor gitu.”


“Eh… ya juga, ya…”


Saking kagetnya liat rumah tua itu, kayaknya aku sempat iseng kirim fotonya ke Maihime…


“Rumah lama keluarga Kiyomiya itu terkenal, loh. Nggak banyak siswa Soushuukan yang tinggal di rumah bergaya barat seperti itu. Boleh dong aku liputan ke sana? Kamu juga tinggal sendirian, kan?”


“W-wait, Maihime…”


“Boleeeh ya?”


Maihime menaruh kedua tangannya di pundakku dan mendekat.


“Nggak ada alasan buat nolak, kan? Teman cewek yang imut mau main ke rumah kamu yang sepi sendirian, loh♡”


“…………”


Aku tidak bisa berkata apa-apa.


Soalnya, selain karena aku tahu Maihime pasti nggak akan mundur…


…tepat saat itu, seorang gadis cantik berambut cokelat dan berkacamata hitam melintas di sebelahku.


Maihime masih menatapku, jadi dia tidak menyadari siapa yang baru saja lewat.


Tapi… mungkinkah dia… mendengar semua percakapan barusan──?


Sesampainya di ruang kelas.


Tetanggaku di sebelah—alias Kiyomiya—sudah duduk di tempatnya, membuka sebuah buku bunko baru (yang tampaknya buku bekas).


Saat aku duduk di sebelahnya──


"Sepertinya akan ada teman cewek imut yang datang berkunjung, ya."


…Ternyata memang, dia mendengar percakapan tadi, ya.


"Serahkan saja padaku. Selain urusan rumah, melayani tamu juga termasuk tugas seorang maid, bukan? Ini kesempatan bagus untuk menunjukkan kemampuanku."


"…………"


Kiyomiya berbisik pelan.


Suaranya terdengar seperti gumaman, nyaris seperti bicara sendiri—tapi tetap saja terdengar jelas di telingaku.


Jadi… tanpa perlu ditebak pun, sepertinya Kiyomiya memang berniat menjamu Maihime, ya?

Posting Komentar

Posting Komentar