Maihime menikmati teh dan kue, lalu berjalan-jalan keliling rumah sambil memotret sana-sini.
Kelihatannya dia cukup puas, karena akhirnya pulang dengan senyuman cerah.
"Dia pulang lebih cepat dari yang kuduga..."
Karena ini Maihime, kupikir dia pasti menyusun rencana aneh atau semacamnya.
"Ya, dia juga tidak terlihat seperti sedang menyelidiki rumah."
Sayaka mengangguk-angguk setuju.
Sekarang kami sedang duduk santai di ruang keluarga setelah makan malam.
Ruang keluarga yang sebelumnya dibuat seolah-olah ‘terlihat hidup’ demi menyambut Maihime itu, kini sudah kembali rapi—pakaian dan tas yang berserakan sudah dibereskan.
"Mungkin sebaiknya kita cek media sosial untuk sementara waktu?"
"Nggak bakal ada masalah, kok."
Hanya dengan memotret rumah kami, dia tidak akan mendapatkan apa-apa yang bisa dijadikan bahan gosip.
Maihime juga bukan tipe orang yang melakukan hal tidak berguna hanya karena iseng.
"Dan yang paling penting, kamu juga berhasil sembunyi, Sayaka."
"Aku agak tidak terima diperlakukan seperti perempuan selingkuhan yang harus sembunyi."
"...Tolong dimaklumi saja."
Aku juga merasa begitu, sih.
Maihime bukan pacarku, dan aku juga tidak dalam hubungan spesial dengan Sayaka. Tapi...
"Kalau kamu mau, aku bisa memeriksa rumah ini dari penyadap."
"Curigaanmu tinggi banget, ya!"
"Aku kan tidak begitu mengenal Maihime-san. Wajar saja jika hati-hati dengan orang yang tidak dikenal, bukan?"
"Yah, aku juga belum sepenuhnya kenal kamu, Sayaka."
"Padahal rumah ini kelihatannya klasik, tapi sistem keamanannya cukup canggih. Kurasa ada alat pendeteksi gelombang penyadap juga."
Komenku barusan diabaikan begitu saja.
Tapi ya memang wajar kalau rumah peninggalan keluarga Kiyomiya punya sistem keamanan tingkat tinggi.
"Kalau kamu benar-benar ingin memeriksanya, aku akan lakukan dengan sungguh-sungguh. Aku orang yang tekun kalau menyangkut pekerjaan."
"Itu aku akui."
Walaupun sudah dibilang tidak perlu ada maid, dia tetap ngotot untuk tinggal dan melayani.
"Tapi nggak usah, serius. Maihime bukan tipe yang sampai sejauh itu, dan lagipula, mencari alat penyadap di rumah seluas ini pasti bakal super melelahkan."
"Begitu ya..."
Kenapa dia malah kelihatan kecewa?
Membersihkan rumah ini saja sudah melelahkan, apalagi mencari benda sekecil penyadap.
"Tapi Maihime-san tadi cukup teliti saat melihat-lihat rumah, kan? Mungkin dia sedang mencari tahu tentang siapa yang tinggal di sini."
"Jangan bilang..."
Rumah tua keluarga Kiyomiya memang bangunan klasik khas bangsawan yang sudah jarang ditemui, jadi wajar kalau ada yang tertarik menjelajahinya.
"Aku sudah menyamar kamarku jadi seperti kamar kosong. Aku juga sudah semprotkan pengharum di beberapa tempat, jadi seharusnya tidak ada jejak."
"Kamu segitunya... agak menakutkan juga."
"Aku tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja. Maihime-san tampak cukup tajam, jadi aku harus benar-benar hati-hati."
"Ya, terima kasih atas kerja kerasnya... Tapi, kalau pun ketahuan Maihime, aku rasa itu tidak masalah."
"Kan dia temanmu. Kamu percaya diri dalam menilai orang ya?"
"Aku lahir di keluarga yang agak rumit, jadi sejak kecil aku harus bisa membedakan siapa musuh dan siapa teman... Eh, pokoknya kamu boleh istirahat malam ini."
Sayaka selama ini mengenakan maid outfit sepanjang hari demi membuktikan kalau dia bisa melayaniku 24 jam.
Hari ini cukup kacau, jadi sebaiknya dia ambil cuti sejenak.
"Lagian, toh kita juga udah selesai makan malam. Nggak ada yang perlu dikerjakan lagi."
"Tapi bisa istirahat dari sekarang saja sudah sangat membantu. Fuu..."
"A-Aah."
Sayaka melonggarkan pita di lehernya dan melepas bando maid-nya sebelum keluar dari ruang keluarga.
Aku sempat panik karena kupikir dia bakal mulai buka baju di situ juga...
"Yah, tentu saja nggak sampai segitunya..."
Tapi aku agak terkejut, ternyata dia menerima waktu istirahatnya dengan mudah.
Apa dia sebenarnya capek karena harus sembunyi dari Maihime terus?
Aku jadi merasa bersalah juga...
"Maaf sudah lama."
"Eh!? Kamu sudah balik!?"
"Ini bukan Sayaka si maid percobaan. Aku cuma numpang tinggal di sini."
"...Kamu nggak perlu balik, bisa istirahat di kamarmu, tahu."
Tanpa sadar, aku memalingkan pandangan dari Sayaka.
Yang kembali ini adalah Sayaka dengan rambut diikat seadanya, kacamata hitam tebal, mengenakan hoodie biru tua dan celana pendek putih.
"Jadi, ini pakaian santaimu, ya..."
Kalau dipikir-pikir, aku cuma pernah melihat dia dengan seragam sekolah dan baju maid.
"Totalnya cuma dua ribu yen. Ini lebih ke baju sehari-hari sih daripada baju tidur. Kalau keluar rumah juga biasanya pakai ini."
"Nggak ada niatan dandan sedikit, gitu?"
Padahal Sayaka yang terkenal di sekolah, dikagumi banyak cewek, sekarang berkeliaran dengan outfit sesantai itu...
Tapi meskipun begitu, tetap kelihatan keren karena tubuhnya yang proporsional.
Dadanya besar, kakinya jenjang dan ramping.
Meski pakai kacamata, wajahnya masih sangat manis.
Situasi di mana gadis seperti ini ada di rumahku... rasanya benar-benar tidak realistis.
"Hey, ini baju santai. Jadi jangan melototin aku begitu."
"Kamu malu juga rupanya."
Sayaka menatapku tajam dengan pipi sedikit memerah.
Aku nggak bisa menebak standar rasa malunya... Soalnya, berkeliaran dengan kostum maid malah dia biasa saja.
"Kalau mau lihat, harus bayar."
"Dasar, nggak imut banget jawabannya."
Padahal aku tahu itu cuma bentuk cara dia menutupi rasa malunya, dan itu justru bikin dia makin imut.
"Eh, kenapa balik ke sini? Kamu bisa santai di kamar, lho."
"Aku cuma ingin coba bersantai di ruang keluarga ini sekali saja."
"—!"
Sayaka duduk di sampingku dengan gerakan cepat.
Sofa empuk itu sedikit tenggelam, dan bahunya sempat bersentuhan denganku.
Hei, kamu cewek, tahu? Nggak terlalu waspada, ya?
Bahkan bahunya pun terasa lembut dan dia punya wangi yang enak banget...
"Huwaa~ Sofa ini memang paling nyaman, ya."
"Padahal kamu udah beberapa kali duduk di sini, kan?"
"Aku belum pernah benar-benar santai di sini. Oh, tolong ambil bantal itu."
"Ah, ini ya."
Aku mengambil bantal di sudut sofa dan menyerahkannya pada Sayaka.
"Bantalnya juga empuk, ya. Haa..."
Sayaka memeluk bantal itu erat-erat, bukan menaruhnya di punggung atau pinggang.
Dengan posisi begitu, dadanya yang tertutup hoodie jadi menempel ke bantal.
"...Kalau mau santai, silakan kapan pun."
"Kalau benar-benar ada tamu beneran, aku harus bekerja lebih keras. Ternyata aku masih perlu latihan, ya."
"Nggak usah segitunya. Maihime itu pengecualian. Kalau tamu normal, cukup disambut di ruang tamu dan disuguhi teh saja."
Dengan tamu biasa, aku tak perlu repot-repot sembunyiin jejak maid dan lari-lari kayak tadi.
"Kamu sendiri nggak apa-apa, Kiyomiya-kun?"
“Eh? Maksudmu gimana?”
“Kamu kan sudah berusaha keras supaya aku nggak ketahuan sama Maihime-san, kan? Capek nggak?”
“Ahh, kalau soal itu sih nggak masalah. Toh, kalaupun sampai ketahuan sama Maihime, aku nggak terlalu ambil pusing.”
“Hmm, kalian akrab sekali, ya…”
Tatapan dingin menohokku.
Apa aku barusan bilang sesuatu yang bikin dia marah?
“Yah, dia satu-satunya teman yang aku punya. Kalau nanti aku beneran jadi majikanmu, ya aku bakal menyambut teman-temanku dengan ramah.”
“Itu sih cuma kasih Maihime bahan buat ngeledek. Bukan cuma 'satu dari sedikit teman'—dia itu satu-satunya temanku, lho.”
“Satu-satunya? Padahal aku udah sempat menyelidikimu, tahu? Aku nggak datang ke rumah tua ini tanpa tahu apa-apa.”
“Eh? Yah, masuk akal sih…”
Aku nggak terlalu mikirin soal itu, tapi sekarang kupikir-pikir, ya wajar kalau Sayaka cari info soal aku dulu.
“Kamu itu kan punya satu teman lagi, kan? Dan dia cukup terkenal.”
“Teman yang terkenal…?”
Tanpa sadar aku diam dan berpikir selama tiga puluh detik.
“Ah! Maksudmu gadis itu!? Yang disebut Maihime sebagai ‘Yamato Nadeshiko’ dan jadi salah satu dari dua gadis tercantik di sekolah kita?”
“Eh, tapi… dia itu bukan temanku atau semacamnya—”
Aku melirik ke samping, lalu terdiam.
“Zzz… Zzz…”
Dalam waktu tiga puluh detik saat aku termenung tadi, Sayaka sudah memejamkan mata dan tertidur sambil memeluk bantal.
Cepat banget tidurnya. Dan lagi, dia tidur dengan pose yang super lengah, padahal aku masih ada di sini…
“Nnngh…”
Dia berguling sedikit di sofa dan membalikkan tubuhnya.
“Wah, bahaya.”
Aku buru-buru mengulurkan tangan dan melepaskan kacamata yang masih dipakainya.
Jangan tidur pakai kacamata, nanti rusak.
“…………”
Wajah Sayaka setelah kacamatanya dilepas terlihat berbeda dari sosok 'siswi teladan penyendiri' yang biasa kulihat—bahkan terkesan agak polos.
Ah…
Aku jadi teringat pada musim semi—tepatnya musim semi setahun yang lalu.
Jalan menuju gedung sekolah dari gerbang Soushuukan ditanami pohon sakura. Saat musim semi tiba, bunga-bunga itu akan bermekaran dengan indah.
Waktu itu, aku melihat sosok seorang gadis berdiri di bawah deretan sakura.
Dia mengenakan seragam sekolah lain, jadi mungkin saat itu dia datang untuk proses pindahan sekolah.
Di bawah kelopak-kelopak sakura, dia berdiri terpaku, lalu perlahan melepaskan kacamata hitam tebal yang dipakainya.
Di lensa kacamatanya, menempel satu kelopak sakura.
Gadis itu membawa kacamatanya mendekat ke bibir—dan meniup kelopak sakura itu hingga terbang.
Saat itu juga, aku jatuh cinta padanya.
Betapa bodohnya diriku.
Jatuh cinta pada gadis yang berdiri di bawah pohon sakura? Klise banget kayak di manga shoujo.
Padahal aku sudah terbiasa melihat gadis cantik di sekolah elit seperti Soushuukan, tapi entah kenapa—dia terlihat sangat berbeda.
Aku nggak bisa melepaskan pandangan darinya.
Rasanya seperti pernah bertemu, seperti sudah lama merindukannya. Entah kenapa muncul perasaan seperti itu.
Satu tahun pun berlalu tanpa aku bisa memahami perasaan itu.
Dan sekarang, gadis itu sedang tertidur di sampingku, tanpa waspada sedikit pun.
Situasi ini makin nggak masuk akal.
“…Angkat aku.”
“Eh?”
“Antarkan aku ke kamar tidur.”
Gadis cantik di bawah pohon sakura itu, kini memejamkan mata di atas sofa, dan memberi perintah seenaknya.
Sepertinya dia terbangun saat aku lagi tenggelam dalam kenangan masa lalu.
“Nyuruh-nyuruh banget. Siapa sebenarnya yang jadi pelayan, sih?”
Meski mengomel, aku tetap menyelipkan lenganku di bawah punggung dan kakinya.
“Ugh, berat juga ya!”
“Kurang ajar.”
“Maaf banget, deh.”
Padahal aku udah siap mental buat ngangkat dia, tapi tetap aja badanku oleng.
Meskipun kelihatan langsing, tetap aja gadis SMA itu nggak bisa diangkat semudah itu.
“Serius, kayaknya sekarang malah kamu yang lebih cocok jadi putri bangsawan, Sayaka.”
“…Sekali-sekali boleh lah.”
“Hari ini aku yang jadi butler, ya.”
“Biasanya, orang-orang di sekitarku semua anak keluarga terpandang. Sekali-sekali, aku juga mau dimanja sebagai seorang 'Putri'.”
Tadi aku sempat bicara soal seorang gadis bangsawan sejati, tapi sekarang malah memperlakukan Sayaka seperti seorang putri.
“Kalau begitu, aku akan berusaha semampuku, jadi tolong jangan banyak gerak.”
“Lakukan yang terbaik.”
“Ya ya, hari ini aku yang melayanimu, Tuan Putri.”



Posting Komentar