no fucking license
Bookmark

Bab 10 TS Vtuber

Aku ini bisa dibilang setengah hidup sendirian.

Orang tuaku pulang itu selalu cuma pas ulang tahunku, Obon, atau Tahun Baru.

Yah, aku tahu mereka sayang padaku dari energi super heboh mereka tiap kali ketemu, jadi soal itu nggak masalah. Tapi... masalahnya, dua orang itu ternyata nonton aktivitas VTuber-ku.

“Hebat. Udah lama nggak semarah ini.”

Yang mereka kirim adalah screenshot clip saat aku teriak, ‘Aku bakal menaklukkan semuanya!’, lalu cuma dibalas satu kata:

“(wkwk)”

Jelas-jelas mereka lagi ngejek aku.

Nggak bakal kumaafin.

“...Ngomong-ngomong soal orang tua, kalau soal Zenchi-san... nggak, aku nggak boleh terlalu ikut campur.”

Kalau lihat sikap Zenchi-san waktu stream masak kemarin, aku kurang lebih bisa menebaknya.

Justru karena itu, kalau aku menyelidiki lebih jauh, mungkin malah bakal melukainya.

Dia pasti haus kasih sayang.

Sifat aslinya yang tersembunyi di balik sisi cool itu adalah perasaan yang saling bertentangan: ingin sendirian, tapi juga ingin bicara dengan seseorang.

“Hohoho... kalau haus cinta, ya tinggal dicintai saja. Oleh aku, tentunya. Bukan sebagai pengganti siapa pun. Aku akan mencintai Zenchi-san sebagai diriku sendiri.”

Kalau sudah diputuskan, ya tinggal bergerak.

Sudah lebih dari seminggu sejak stream masak bareng itu.

Harusnya sekarang dia mulai kesepian.

Aku tahu kok.

Ini sudut pandang pacar rahasia banget sih.

Padahal ketemu langsung aja baru dua kali.

―――
Hanayori: Mau collab nggak?
Zenchi: Oke. Datang aja kapan pun kalau lagi senggang.
―――

“Cepat banget balesnya. Lagian, ‘kapan pun kalau senggang’ itu maksudnya gimana...”

Hmm, besok hari Sabtu sih. Apa sekalian datang ya?

Ah, iya.

―――
Hanayori: Kalau begitu, besok gimana?
Zenchi: Nggak masalah.
Hanayori: Nginep juga boleh?
Zenchi: !?!?!?
―――

“Oke, itu berarti setuju. Mungkin.”

Aku langsung mematikan layar ponsel.

Sampai emosinya kelihatan dari teks begini... Hanayori-san terharu banget, sumpah.

Dia makin lama makin imut kayak gadis biasa.

Buatku ini bagus banget.

Ini udah kayak game raising simulation, kan?

Cuma... rasanya aku juga lagi menanam fetish aneh ke dia.

Y-yah, nggak usah dipikirin dulu deh.

***

“Hanayori... bakal... nginep... di sini...??”

・Dia sampai bengong gitu, wkwk
・Peringatan suplai teetee berlebihan nih
・Lucu banget lihat dia dimainin di telapak tangan wkwk
・Udah jatuh total, masih mau dijatuhin berapa kali lagi sih wkwk

***

Baiklah.

Aku membawa tas Boston dan kantong plastik belanjaan yang super berat, lalu membuka pintu rumah Zenchi-san.

"Halooo—"

Sampahnya... sedikit. Bagus.

Zenchi-san duduk di tempat biasanya, tapi kelihatan agak gelisah.

Ahh... begitu ya.

Seringai muncul di wajahku, dan rasa ingin mengerjainya mulai tumbuh.

"Lho lho, Zenchi-san. Gelisah banget gitu, jangan-jangan terlalu senang karena aku datang buat nginep ya?"

"B-bukan... ya, nggak juga sih, tapi aku belum pernah ada yang nginep di sini..."

"Hah? Imut banget."

・Begitu Hanayori datang, kepribadiannya langsung berubah woy
・Isinya cuma imut doang ini mah
・Tee tee
・Hanayori malah kena serangan balik dikit juga wkwk
・Serangan Zenchi semuanya tanpa sadar sih

Pipinya memerah, tubuhnya gelisah malu-malu. Dari dirinya cuma terpancar aura berharga.

Reaksinya jauh di atas ekspektasiku.

Kalau aku nggak punya resistensi, bisa-bisa justru aku yang jatuh duluan. Bahaya.

Aku berdeham sebentar untuk menata suasana.

"Ehem. Ngomong-ngomong... eh, hari ini rambutmu diikat ya?"

"Iya... yang waktu itu Kai ikatin, aku suka."

"Ohh, syukurlah kalau begitu."

Avatar Zenchi-san memang berambut panjang warna merah muda, tapi setelah siaran masak waktu itu, ilustratornya menggambar versi Zenchi-san dengan rambut terikat.

Jadi sekarang bisa diganti sesuka hati. Benar-benar sinkron sama dunia nyata.

Kerja bagus tuh.

"Hari ini benar-benar nginep?"

"Tentu saja. Soalnya konsep hari ini spesial."

"Mau ngapain? Semua ide Hanayori selalu bikin bahagia, jadi aku senang nungguin."

"B-begitu ya... baiklah."

Aku refleks ikut merah padam mendengar senyumnya yang lembut.

Entah kenapa interaksi ini terasa familiar, tapi sepertinya aku nggak akan pernah terbiasa dengan sifat manis Zenchi-san yang tanpa sadar itu.

Sial... rasanya aku kalah.

・Kena bikin malu lagi tanpa sadar wkwk
・Hana × Zen itu paling mantap, karena kita bisa lihat keduanya saling malu-malu.
・Tee tee kebangetan
・Ini surga ya?
・Aku nggak bakal nyelip, cukup lihat dari jarak 200 meter
・↑Mau bilang jijik tapi setuju sih
・Nggak usah ngomong. Nggak usah dikenali. Cukup lihat aja...
・Wkwk

"Oke, kita fokus lagi! Konsep hari ini adalah: memanjakan Zenchi-san sampai meleleh! Dari selamat malam sampai selamat pagi!"

"......!?"

"Apa pun bakal kulakuin. Semua kerjaan rumah beres. Semua permintaan Zenchi-san bakal kupenuhi dengan kualitas sempurna."

"A-apa pun...?"

"Iya. Apa pun."

Entah apa yang dia bayangkan, tapi aku jelas dengar suara telannya.

Kalau situasinya lawan jenis, pasti sudah masuk wilayah permintaan aneh-aneh.

Tapi kalau Zenchi-san sih... rasanya nggak mungkin.

・Apa pun...!?
・Eh, Hanayori ini bahaya nggak sih
・Kayaknya kamu belum dengar monolog Zenchi akhir-akhir ini ya...?
・Ya sudahlah, lebih baik diam wkwk
・Kayaknya bakal seru nih

Monolog akhir-akhir ini?

Ah sudahlah.

Pokoknya tahap pertama dari proyek "menyayangi Zenchi-san sepenuhnya" adalah membuatnya mau bergantung padaku dengan cara mengabulkan permintaannya.

Zenchi-san kembali memerah sambil memainkan rambut putih panjangnya.

Seperti biasa pakaiannya santai. Karena mulai dingin, dia memakai celana hitam longgar dan hoodie polos.

Dari sudut pandang atas...

sepertinya dia nggak pakai bra.

Bahaya.

Seksi.

Aku berusaha nggak melihat, tapi dia terlalu nggak waspada.

...Aduh, aku jadi kayak Tsuna-chan dong.

Jangan sampai aku berubah jadi monyet puber.

Eh, Tsuna-chan?

Monyet yang bukan puber?

Bercanda kok.

"Ah, karena sudah jam makan siang, aku masakin ya. Ada request? Aku juga bawa banyak bahan makanan, jadi aman kok."

Zenchi-san berpikir sebentar lalu menjawab.

"Aku mau makan omurice."

"Siap~ bakal kubuat cepat kok."

"Aku juga bantu."

Dia menggulung lengan baju sambil semangat.

Sejak siaran waktu itu, dia jadi sesekali masak dan mulai percaya diri.

Kadang aku juga ngajarin dari jauh, jadi kalau langkah sederhana sih aman diserahkan.

"Baiklah. Kalau begitu, tolong kocok telurnya ya?"

"Serahkan padaku."

"Hehe, kalau begitu mulai ya."

Melihat Zenchi-san yang penuh semangat ternyata lucu dan imut banget, sampai aku tertawa kecil.

・Apa ini wilayah suci?
・Nggak ada celah buat nyelip (komentar) sama sekali...!!
・Suami istri kah?? Ini suami istri kan????

Di tengah komentar penuh jeritan bahagia itu, kami berhasil menyelesaikan omurice meski sempat beberapa kali hampir kacau.

...Di awal tadi Zenchi-san gagal mecahin telur dan sempat down berat sih.

Butuh trik kecil buat mecahin telur dengan rapi.

Apalagi kalau panik, gampang gagal.

Kalau aku sih bisa pakai satu tangan!

"Jadi."

"Ohh, sekarang makin jago pakai frying pan ya."

"Iya, aku latihan."

"Pinter pinter."

Aku mengusap rambut halusnya.

Tubuhnya sedikit bergetar geli, lalu dia tersenyum malu-malu.

Bahkan dari sudut pandangku, aura bahagianya terasa jelas.

Sungguh berharga.

・Kahh...!
・Tee tee
・Kosakataku hancur berkeping-keping
・Tolongggg

Komentarnya juga bergelimpangan seperti korban perang.

Wajar sih.

Kalau nggak punya daya tahan tee tee sepertiku, bisa langsung tumbang.

Kalau soal daya serang, Zenchi-san nilainya 9999.

Pertahanan?

Kertas.

Tipis banget.

Kami pindah ke meja makan dan menaruh piring.

Nasi ayam dengan telur lembut mengembang di atasnya.

Telur berwarna keemasan itu berkilau cantik—bukti dari usahanya.

Saat aku sedikit terharu melihatnya, Zenchi-san menyerahkan saus tomat dengan ragu-ragu lalu berkata,

"Itu... tolong tulis ‘aku sayang kamu’ pakai saus tomat... k-kalau nggak mau juga nggak apa-apa—"

"—Tentu saja aku tulis!!"

Aku langsung merebut saus tomat itu dengan semangat, lalu menulis pesan di atas omurice sebaik mungkin.

Permintaan macam apa ini?

Manis banget.

Kalau bukan aku, pasti sudah mati barusan.

Gawat.

Serangan tee tee langsung menghunjam ke hati.

Aku ingin dia berbagi semua rasa sepinya, senangnya, bahagianya padaku.

Kalau ada hal menyedihkan, aku ingin mengisinya dan menghapus semuanya.

Benar—ini adalah naluri keibuan.

"Da-i-su-ki... begitu. Gimana?"

"Terima kasih."

"Ah—"

Aku tersucikan.

Bibir kecil Zenchi-san melengkung membentuk senyum. Ditambah kata-kata yang baru saja dia ucapkan, daya hancurnya luar biasa.

・Hah! Aku sadar lagi!
・Ngetik komentar aja rasanya sayang banget tadi...
・Tee tee!
・Dengan ini aku bisa semangat kerja setahun lagi

Bahaya, bahaya.

Barusan aku hampir berubah jadi otaku garis keras lagi. Aku harus selalu tenang dan santai, itulah diriku.

Daripada cuma gigit jari menikmati kebahagiaan, aku lebih suka memakai tanganku sendiri untuk meraihnya. Kalau ada hidangan terbaik di depan mata tapi nggak disantap, jelas rugi.

Oke. Setelah ngomong aneh-aneh, aku jadi lebih tenang.

"Kalau begitu, ayo makan."

Aku menatap Zenchi-san sambil tersenyum.

Lalu seperti tadi, dia kembali gelisah dan seperti ingin mengatakan sesuatu.

Ah, firasat buruk.

"Itu... aku mau disuapin."

"Ah—Oh—kuat... aku tahan."

"Kenapa?"

"...Aku sedang melawan diri sendiri. Silakan."

Bukan aku yang ngajak, tapi permintaan datang dari Zenchi-san sendiri. Itu tee tee banget, kan?

Dia nggak melawan keinginannya dan memilih bergantung padaku.

Itu membuatku senang dan merasa terhormat.

Aku duduk di samping Zenchi-san.

Sambil mengusap kepalanya yang terlihat tegang agar tenang, aku menyuapkan nasi ayam dengan sendok.

"Nih, aah."

"Mm... enak."

"Soalnya kita bikin berdua."

"Iya."

"Berikutnya, mau gantian nyuapin aku?"

"Eh... i-iya, baiklah."

Dengan senyum jahil, aku menghadap ke depannya lalu membuka mulut.

Poseku seperti sedang menunggu dicium.

Mungkin membayangkan hal itu, wajah Zenchi-san langsung merah.

Tangannya yang memegang sendok gemetar hebat. Dari luar saja sudah kelihatan dia sangat gugup.

Bahkan sendoknya nggak bergerak sama sekali dari posisi awal.

Karena itu, aku sendiri yang maju menggigit sendoknya.

"Ham."

"...!"

"Makasih makanannya♪"

"Ahu..."

Saat aku menjilat bibirku, wajah Zenchi-san langsung merah padam.

Pipinya panas membara, merah hampir sama dengan warna matanya.

Dia gampang banget malu ya?

Entah karena sengaja atau nggak, rasanya apa pun yang kulakukan selalu bikin dia merah.

・Hati jahatku tersucikan
・Seluruh umat manusia wajib lihat ini
・Ternyata ‘mulia’ dibacanya tee tee ya wkwkwk selama ini aku...
・↑Awalnya bercanda, ujungnya jujur banget wkwk
・Belum pernah lihat suasana semanis ini
・Zenchi jatuh makin dalam dan makin dalam...
・Kayaknya bakal nurut semua kata Hanayori 
・Bener banget wkwk

Yah, sebenarnya aku nggak mengharapkan itu sih...

Selama Zenchi-san bahagia, aku sudah puas.

Lagipula dia memang sudah jatuh hati.

Setelah itu, kami lanjut saling menyuapi dalam diam cukup lama.

Zenchi-san tampaknya puas, baik perut maupun hatinya. Dia mengusap perut sambil menatapku dengan tatapan kosong penuh puas.

"Kenapa?"

"Nggak... cuma merasa senang."

"...Aku juga senang. Senang yang tercipta karena melakukannya bersama seseorang."

"Karena itu Hanayori. Karena Hanayori yang melihatku."

"Begitu ya... kalau gitu, sekarang kita lanjut ASMR bersihin telinga."

"Kenapa...!? Nggak nyambung sama sekali..."

"Nggak usah dipikir detail begitu."

"Ini jelas perlu dipikirin!"

・Wkwk
・Serius nggak ngerti kenapa mendadak gitu
・Tiba-tiba banget woy
・Humornya naik drastis ini
・ASMR bersihin telinga wkwk

Ah sudahlah, nggak apa-apa!

Aku nggak suka suasana serius terlalu lama. Jadi harus kuganti paksa. Inilah jurus andalanku!

"Nih dia!"

"Uwah!"

Zenchi-san yang masih bengong langsung kugendong ala putri ke sofa.

Lalu kepalanya kutaruh di pahaku.

Inilah jurus pamungkas: bantal paha empuk.

Setelah itu, aku mengeluarkan alat pembersih telinga khusus dengan lampu LED.

Harga 15 ribu yen!

"Aduh... malu."

"Nggak apa-apa. Kalau sudah biasa nanti santai kok.... Sampai terbiasa, biar aku nikmati dulu."

"Hm? Kamu ngomong apa?"

"Nggak kok, nggak ada."

・Oi woy wkwk
・Itu suaramu kedengeran jelas di mic loh
・Nikmati dulu katanya wkwk
・Ini pertanda tee tee datang lagi

Aku mulai membersihkan telinganya dengan hati-hati.

Zenchi-san ternyata telinganya sangat sensitif. Jadi aku harus ekstra hati-hati.

Untung pekerjaan detail begini memang keahlianku.

"Hng..."

"Oho, sensitif rupanya."

Begitu alat masuk sedikit, Zenchi-san langsung bereaksi.

Pipinya merah, telinganya juga merah. Mudah dibaca sekali.

"Oke, mulai ya~ gosok gosok... fuu~"

"Ah... nggak... ah... nnnn!"

"Tahan ya~ ayo ayo ayo."

"Uu... jahat..."

"Seksi banget."

Melihat Zenchi-san menatapku dengan mata berkaca-kaca sambil mengeluh lirih, aku tanpa sadar bicara jujur.

・Oi, isi hati bocor tuh wkwk
・Ini bahaya sih
・Tee tee kebangetan wkwk
・Apa ini... dewa kah???

Aku sadar kalau keterusan bisa berbahaya, jadi langsung serius menyelesaikan tugas membersihkan telinga.

Setelah kedua telinganya selesai, Zenchi-san lemas dan rebahan menikmati bantal pahaku.

"Aku diperlakukan buruk."

"Yang salah Zenchi-san terlalu imut."

"Nggak adil..."

"Dunia memang penuh ketidakadilan. Sama saja."

"Kayaknya jelas beda."

"Kalau terlalu dipikirin, kamu kalah loh!"

"Kalau Hanayori ngomong begitu, biasanya justru bukan hal kecil."

・Dia paham banget wkwk
・Lucu juga Zenchi jadi tukang komentar
・Ini juga tee tee
・Bagus banget
・Wkwk

Grr... dia benar-benar paham caraku...!

Tapi tenang, aku masih punya banyak alasan ngawur untuk kabur dari topik begini.

Mengalihkan pembicaraan juga keahlianku.

Eh... keahlianku kok licik semua ya?

Begitulah, sambil ngobrol selama beberapa jam—dan selama itu juga kepalanya tetap di pahaku—akhirnya malam tiba.

"Baiklah, gimana kalau bikin makan malam?"

"Aku mau kari."

"Oke, serahkan padaku."

"Aku juga—"

"Zenchi-san, mau bantu aku?"

"Iya...!"

***

Setelah makan kari sampai kenyang, ditambah malam juga sudah larut, rasa ngantuk pun mulai datang.

"Masuk kamar mandi bareng?"

"A-ah, kalau itu sih nggak bisa. Malu soalnya."

"Aku juga kayaknya nggak bakal bisa nahan diri, jadi hari ini aku maafin dulu."

"Hari ini...?"

・Hanayori mau ngapain dah wkwk
・Kalau di kamar mandi sih nggak kedengeran apa-apa, privasi aman
・Justru karena nggak kelihatan jadi bisa ngebayangin macem-macem
・↑ Sepemikiran banget wkwk

"Ya ampun... para listener ini isinya imajinasi aneh semua ya... padahal aku cuma kepikiran dikit doang."

"Imajinasi aneh?"

"Kalau Zenchi-san yang polos sih nggak perlu tahu, jadi tenang aja."

・Yang ngajarin Zenchi macam-macam itu siapa coba, ngomong!
・Lah, berarti kepikiran juga dong wkwk
・Lari Zenchi!
・Lanjut terus Hanayori!
・↑ Bertolak belakang banget kalian wkwk

"Kalau gitu, aku mandi duluan ya."

"Oke."

***

"Sisa air mandinya Hanayori..."

・Bahaya, ini mulai kena pengaruh Hanayori!
・Cara mikir begitu bahaya nggak sih wkwk
・Jangan-jangan lebih mesum dari Hanayori lagi

***

Kami berdua selesai mandi.

Kamar mandi di rumah Zenchi-san lebih mirip pemandian umum daripada kamar mandi biasa. Bahkan buatku yang suka onsen, tingkat kepuasannya sangat tinggi. Jujur saja, bikin iri.

Tubuh kami sama-sama masih hangat.

Aku memakai piyama warna pink yang sangat biasa. Selain menonjolkan sisi feminin, aku juga membuka kancing paling atas agar terlihat sedikit dewasa.

Dan memang, aku bisa merasakan tatapan kecil ke arahku.

"Zenchi-san, jangan ngelihatin terus."

"Eh... a-aku nggak lihat. Cuma perasaanmu."

"Hehe."

"Uu..."

Saat aku tersenyum seolah berkata aku tahu kok, Zenchi-san langsung menunduk malu.

...Padahal aku sendiri juga hampir terus-terusan melihat dirinya.

Zenchi-san hanya memakai satu lembar negligee putih. Meski tubuhnya mungil, kulit putihnya, rambut indah yang terurai, dan auranya justru memancarkan pesona yang lebih besar dariku.

Ada sisi imut, tapi juga pesona dewasa yang terbentuk seiring umur.

Nuansa dewasa di dalam kesan muda.

Dan pesona Zenchi-san tentu bukan cuma itu.

Aku baru tahu beberapa waktu lalu kalau ternyata Zenchi-san berusia 20 tahun.

Saking imutnya, rasanya aku sampai kewalahan.

Dia polos, manis, dan terlihat rapuh.

Tapi di sisi lain, kemauannya jelas, dan dia bukan orang bodoh. Dia juga peka terhadap perasaan buruk orang lain.

Ingin rasanya melindungi senyum itu.

Ups, aku hampir jadi fangirl berlebihan lagi.

"Kalau begitu... kita tidur sekarang?"

"J-jadi benar-benar tidur bareng?"

"Tentu saja. Nggak suka?"

"Nggak, bukan nggak suka. Tapi kalau tidur bareng... aku mau kamu jadi guling peluk."

"Eh... t-tentu saja boleh."

Guling peluk?

Apa badan dan mentalku kuat ya?

"Soalnya kalau nyentuh Hanayori, aku merasa tenang. Kayaknya bisa tidur nyenyak."

"Hahaha, jadi aku mau dijadikan alat bantu tidur?"

"Mungkin."

"Wah, itu nggak bisa dibiarkan. Daripada guling peluk, gimana kalau Zenchi-san yang kupeluk saja?"

"Eh... ah."

Sekali lagi aku menggendongnya ala putri dan membawa kami ke kamar tidur.

Sepertinya kamar itu jarang dipakai, tapi di sana berdiri megah sebuah ranjang bertiang dengan tirai.

Aku membuka tirai putih renda di pintu masuk ranjang, lalu berbaring sambil memeluk Zenchi-san dengan lembut.

Jarak kami sangat dekat.

Kulit menempel pada kulit, saling berhadapan, membuat kehangatan tubuh kecilnya terasa jelas.

Hm, sayang sekali ya para penonton. Mikrofon sudah kulepas. Saat tidur orang jadi terlalu terbuka, jadi itu tak bisa dibiarkan.

Untuk sementara, biar aku saja yang menikmati kebersamaan dengan Zenchi-san.

"H-Hanayori... dekat banget."

"Ya jelas dong, kan lagi meluk."

"Begini terus... sampai tidur?"

"Iya, tentu saja."

"...Aku kayaknya bisa sesak gara-gara dada besar."

"Cara ngomongmu itu loh...!"

"Tapi empuk dan nyaman."

"Kalau banyak gerak, nanti aku cubit pinggangmu."

"Kalau cuma segitu sih..."

"Kayaknya lebih baik jangan ngomong begitu yaa~?"


"Hii... kamu beneran mau nyentuh...?"

・Kayaknya dia nggak sadar mic di sisi Zenchi masih nyala deh...
・Udah berapa kali mau ngulang kesalahan beginian sih
・Ini udah bukan tee tee lagi, udah lewat dari level itu
・Lucunya semua listener jadi bijak mendadak wkwk

"—Oh..."

Keesokan paginya, aku sadar mic Zenchi-san ternyata belum dimatikan, dan aku pun sukses memutihkan mata.

Entah kenapa aku mulai terbiasa dengan kejadian begini...

...nggak, nggak boleh terbiasa!

***

Sudah dua hari berlalu sejak insiden lupa mematikan mic Zenchi-san.

Entah kenapa jumlah subscriber-ku melonjak drastis, tapi aku berusaha nggak peduli.

...Nggak, bohong. Jelas aku peduli.

Sekarang jumlah subscriber channel-ku sudah 360 ribu.

Aku sendiri nggak ngerti kenapa bisa jadi begini, tapi mungkin berkat kolaborasi.

Tsuna-chan sekarang jadi 180 ribu, dan Classy-chan jadi 110 ribu. Angka mereka naik banyak, dan itu bikin aku senang.

Walaupun era awal VTuber sudah lewat, dunia VTuber masih terus berkembang. Naik sejauh ini bukan hal gampang.

Kalau dipikir-pikir, Zenchi-san memang monster.

"Nyampe 2 juta subscriber rasanya mustahil deh. Itu mah nggak masuk akal. Frekuensi streaming-nya juga nggak terlalu sering."

Kalau kehidupan pribadinya sudah lebih tenang, mungkin bisa lebih sering siaran sih.

Soalnya waktu banyak habis buat belajar dan main sama teman.

Walau sebenarnya pelajaran sampai tingkat universitas pun sudah kupelajari, jadi tinggal review saja.

"Kalau rayain tembus 300 ribu lewat solo stream... sekarang superchat juga udah dibuka, jadi harus semangat."

Saat ini aku sedang melakukan ego-search di internet.

Yah, gimana pun juga aku penasaran sama pendapat orang tentang diriku.

Di forum tertentu, kebanyakan komentar isinya memuji atau menikmati tingkahku.

『Cepetan jatuhin semuanya wkwk』
『Aduh, lama banget sih (ry』
『Padahal dua hari lalu auranya udah romantis banget wkwk』
『Itu sih terbaik banget wkwk』

Dan semacamnya.

Kelihatannya kebutuhan penonton dan yang kuberikan cocok, jadi aku lega.

Bukan berarti aku sengaja jual momen manis demi viewer, tapi mimpiku ternyata sejalan dengan apa yang mereka suka.

Itulah mungkin alasan subscriber naik cepat belakangan ini.

"Hohoho~ nggak usah disuruh juga bakal kujatuhin kok. Sampai tak tersisa."

Sekarang mari kuingat lagi arti "menjatuhkan" versiku.

"Menjatuhkan" bukan sekadar bikin orang terpikat.

Tapi membuat mereka percaya padaku, puas secara hati dan raga, lalu mewarnai seluruh dunia mereka.

Membuat mereka merasakan bahagia dan senang dengan diriku sebagai pusatnya.

Itulah arti sesungguhnya.

Dan tentu saja... tee tee.

Yang pertama dua puluh persen.

Yang kedua delapan puluh persen.

"...Hmm, collab-nya puas sih, tapi solo stream agak kurang greget. Mungkin perlu lebih banyak konsep konten."

Setelah selesai mengumpulkan pendapat, aku menulis rencana ke depan di memo.

Aku memang ingin melakukan apa yang kusuka sepenuh hati.

Tapi bukan berarti penonton boleh diabaikan.

Keberadaanku sebagai diriku sekarang ada karena ada listener yang menonton.

Kadang aku bergerak berdasarkan semangat sesaat, tapi dasarnya aku tipe yang suka menghitung.

Membuat rencana lalu menjalankannya adalah keahlianku.

Menjalankan sesuai naskah juga bisa.

Tentu sambil kutambah improvisasi agar hasilnya lebih bagus dari rencana.

"Nah nah... hm? Hm? Hah?"

Suara rendah keluar begitu saja dari mulutku.

『Si Classy itu cuma numpang tenar dari orang populer doang wkwk』
『Nggak lucu tapi subscriber naik gara-gara collab wkwk』
『Cuma mainin lagu klasik doang kan wkwk』
『Jangan-jangan itu juga cuma muter rekaman pro wkwkwk』
『Bisa jadi wkwk』

Di thread dukungan, bukan thread anti, malah masuk komentar kayak beginian.

Benar-benar nggak pantas disebut fans.

Aku tahu betapa keras usaha yang sudah dilakukan Classy, VTuber hebat itu.

Sebagai VTuber atau streamer, kalau makin terkenal pasti datang kritik.

Aku paham itu dan mengerti itu hal yang nggak bisa dihindari.

Kalau cuma hinaan sih ya sudahlah.

Kalau opini juga tiap orang beda-beda.

Tapi komentar yang bilang dia cuma memutar rekaman pemain profesional...

Itu nggak bisa kudiamkan.

Aku menggertakkan gigi karena marah.

Grrt...

"...Nggak. Percuma aku marah. Orang terkenal memang selalu diikuti komentar buruk. Toh ada banyak yang dukung juga."

...Tapi arah anginnya buruk.

Percikan kecil baru saja ditebar.

Kalau dibiarkan, bisa menyebar dan meledak.

Itulah yang disebut kontroversi.

Rumor yang dimulai dari kecurigaan akan tumbuh macam-macam cerita tambahan.

—VTuber musik, Classy.

Avatar-nya berambut pirang panjang dengan mata biru muda.

Memakai gaun berhias motif es.

Bukan tipe "imut", tapi lebih cocok disebut cantik dan anggun, dengan tubuh proporsional.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah VTuber super populer dengan lebih dari 3,47 juta subscriber.

Itu sih cerita sepuluh tahun setelah debut.

Di masa depan, Classy-chan pasti akan menjadi lebih populer bahkan melampaui Zenchi-san.

Tapi...!

"Nyebelin... bukan, aku kesal. Ini bukan soal masa lalu. Classy-chan sekarang juga punya banyak kelebihan. Aku bisa bilang itu dengan yakin."

Tapi...

Kenapa Classy-chan menyembunyikan kemampuan aslinya?

Seorang diva langka.

Hanya dalam setahun dia menembus 1 juta subscriber.

Kalau lihat angka saja, kemampuan aslinya sudah jelas.

Karena aku nggak melihat sejak awal, aku juga nggak tahu kapan tepatnya dia mulai bernyanyi.

Sebelum percikan kecil itu tumbuh jadi api...

Aku pun memutuskan.

"Iya... aku akan menjatuhkannya. Demi alasan dua puluh persen yang tadi."

Posting Komentar

Posting Komentar