Aku tersadar, dan tiba-tiba sudah berdiri di sebuah ruang putih bersih tanpa batas. Di hadapanku, berdiri seorang wanita cantik yang terlihat seperti dewi.
“Salam kenal, aku adalah dewi.”
Dia sampai memperkenalkan diri—dewa yang sopan sekali.
“Mohon dengarkan tanpa terkejut. Kamu telah meninggal karena kecelakaan lalu lintas.”
Ah… jadi kejadian saat aku sedang menunggu lampu merah lalu ditabrak truk itu… memang bukan mimpi, ya.
“Dan seperti yang mungkin sudah kamu duga, aku akan mereinkarnasimu ke dunia lain.”
“Aku tidak menduganya.”
Aku refleks menyela dengan suara keras, dan dewi itu langsung mengernyitkan wajah dengan ekspresi sangat tidak senang.
“Haaah? Konsep reinkarnasi oleh dewa seperti ini sudah terlalu sering dipakai, semua orang juga sudah tahu. Jadi, mari kita lewati saja penjelasan yang merepotkan, ya.”
“Jangan abaikan penjelasan untuk pihak yang bersangkutan hanya demi ‘semua orang’ yang bahkan aku tidak kenal.”
Memang sih, aku juga suka manga dan anime dengan tema seperti itu, jadi garis besarnya sudah bisa kutebak.
Tetap saja, saat aku meminta penjelasan, dewi itu menghela napas seolah lelah, lalu mulai bicara.
“Pertama, kamu mati bukan karena kesalahanku atau semacamnya.”
“Jadi memang tidak ada hubungannya, ya.”
“Karena itu, aku yang berhati baik ini memutuskan untuk mereinkarnasimu ke dunia lain.”
“Kalau begitu, bukankah seharusnya kamu membantu anak-anak malang yang lebih tidak beruntung dariku—”
“Sekarang, pilihlah dunia tempat kamu ingin bereinkarnasi dari sini.”
“Dia ini benar-benar tidak mendengarkan, ya.”
Sikapnya yang angkuh bahkan membuatku malas memakai bahasa sopan. Dalam arti tertentu, memang terasa seperti dewa.
Saat aku memikirkan itu, tiba-tiba muncul lima amplop kecil di hadapanku.
“Di dalamnya tertulis judul game yang kamu kenal. Aku akan mengirimmu ke dunia yang mirip dengan itu.”
“Kenapa harus pakai amplop begitu?”
“Tenang saja. Apa pun pilihanmu, kamu pasti akan bahagia.”
“Kenapa harus pakai amplop begitu?”
“…………”
Jawab, dong.
Meski aku menatapnya penuh protes, dewi itu hanya tersenyum penuh kasih.
Aku sudah mulai lelah, jadi aku asal menunjuk amplop yang di tengah.
Dewi itu membukanya sendiri, melihat kertas di dalamnya, lalu tersenyum lebar.
“Fufu, kamu memilih dunia yang menarik. Sesuai dugaan, memang manusia yang kupilih—”
“Oi, tadi kamu mau bilang ‘korban persembahan’, kan?”
“Sekarang, nikmatilah kehidupan barumu di dunia baru… dan hiburlah aku.”
“Kau ini bukan dewi, tapi dewa jahat, kan!?”
Saat aku mencoba meraih dan mencengkeramnya, tiba-tiba kakiku terseret oleh pusaran hitam yang muncul di bawahku, dan kesadaranku pun lenyap.
Dan kemudian, aku terbangun di atas tempat tidur di sebuah ruangan yang tidak kukenal.
“Andai ini cuma mimpi…”
Aku menghela napas panjang, lalu menoleh ke cermin berdiri di sudut ruangan.
Yang terpantul di sana bukanlah diriku yang biasa—seorang pria biasa berusia tiga puluhan dengan tubuh rata-rata.
Melainkan seorang pemuda di akhir belasan tahun, bertubuh tinggi, ramping namun berotot, dengan rambut pirang pendek yang ditata rapi model two-block.
Jelas ini orang lain. Tidak, memang orang lain.
Seolah-olah dewi jahat itu memasukkan pengetahuan ke dalam kepalaku, aku langsung tahu ini dunia dari game apa, tubuh siapa ini, tanpa perlu dijelaskan siapa pun.
“Ini bukan reinkarnasi… ini lebih kayak kerasukan, kan.”
Beda genre banget. Ya, meskipun secara arti aku memang “terlahir kembali” di dunia lain.
Yang lebih jadi masalah… aku tidak merasakan keberadaan kepribadian asli tubuh ini. Jangan-jangan, saat aku masuk, dia justru terdorong keluar dan lenyap?
Kalau begitu, ini sama saja seperti membunuh seseorang. Sialan, dewi jahat itu…
Aku memegangi kepala karena rasa bersalah. Tapi, aku juga tidak sampai berpikir untuk bunuh diri demi menebusnya.
Soalnya, pemilik tubuh ini adalah bajingan kelas kakap.
Nama pria ini adalah Hazama Makoto. Dia adalah tipe karakter yang memaksakan diri masuk di antara protagonis dan para heroine dalam game romance, lalu mencoba merebut mereka dengan berbagai cara.
Singkatnya—
“Ini bajingan tukang NTR, anjiiirrr—!!!”
Padahal aku tipe yang suka cinta murni! Kenapa malah bereinkarnasi jadi karakter yang paling kubenci!? Ini keterlaluan!
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu, dewi sialan—!!!”
Aku berteriak sekuat tenaga ke langit, meluapkan semua kebencian.
Meski aku tahu, dewi itu pasti sedang tersenyum penuh kenikmatan sambil berkata,
“Memang itu yang ingin kulihat.”


Posting Komentar