“Menurutmu, di dunia ini... kamu adalah tokoh utama, atau hanya pemeran pendukung?”
Di tengah pemandangan bunga sakura yang berguguran, gadis itu mengucapkan pertanyaan itu padaku.
Kami sedang berjalan berdua di jalan sekolah yang dipenuhi pohon sakura.
Kulitnya seputih porselen, bibirnya berwarna merah muda lembut. Tubuhnya ramping dan mungil, dengan sosok yang tampak rapuh. Ia mengenakan hoodie dengan tudung bergambar telinga kelinci, menutupi matanya sehingga sulit mengetahui ekspresinya.
Gadis itu memancarkan aura yang misterius—keanggunan sekaligus ketidaknormalan yang membuat orang ingin menjauh dan mendekat sekaligus.
Namanya Tougazaki Yako.
Seorang gadis yang, lebih dari siapa pun, berada paling jauh dari posisi “tokoh utama”.
“Pemeran pendukung.”
Aku menjawab singkat.
Yako tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun—ia hanya mengangguk pelan.
“Seperti biasa, penilaian dirimu rendah sekali.”
“Aku cuma melihat diri sendiri secara objektif.”
“Aku sebenarnya mengakui dirimu, tahu? Atau mungkin lebih tepat kalau dibilang... aku takut padamu. Pada dirimu yang sebenarnya—pada ‘esensimu’, aku merasa takut.”
“Kau jauh lebih menakutkan dariku. Sifatmu yang ‘tak kenal takut’ itu... justru itulah yang membuatku takut.”
Sambil berkata begitu, aku menatap ke arah pohon-pohon sakura yang sedang mekar sempurna.
“Lagipula, orang yang bisa dengan percaya diri bilang ‘akulah tokoh utama’ itu pasti jumlahnya sedikit, kan?”
Wajar saja kalau jumlah pemeran pendukung lebih banyak daripada pemeran utama.
Kalau semua orang adalah sosok yang “tak tergantikan”, dunia ini akan terasa sesak dan menyesakkan.
Ada kenyamanan tersendiri dalam menjadi orang biasa.
Dan itu... bukan hal yang buruk.
“Mungkin kau benar. Tapi—”
Angin berhembus kencang.
Pohon-pohon sakura bergoyang, dan ribuan kelopak menari di udara seperti badai merah muda.
Di antara pusaran bunga itu, sosok gadis itu hampir menghilang dari pandangan—seolah ia bisa hanyut terbawa arus kelopak kapan saja.
“Aku... menganggap diriku tokoh utama.”
Dari balik tabir bunga sakura, suaranya terdengar lembut namun jelas menusuk hati—halus, tapi entah mengapa terasa berat di dada.
“Aku percaya kalau aku ini istimewa, dan aku ingin terus menjadi orang yang istimewa. Hidup sebagai orang biasa? Tidak, terima kasih. Kalau hidup ini cuma dipenuhi kompromi... lebih baik aku mati.”
“Kalau punya harga diri setinggi itu, hidup di dunia ini bakal berat. Hidup itu sendiri isinya cuma kompromi.”
Aku menjawab sambil tersenyum miris.
Entah sejak kapan aku mulai menyadari bahwa aku hanyalah orang biasa.
Entah sejak kapan aku mulai berpikir bahwa menjadi pemeran pendukung pun tak apa.
Aku tak ingat tepatnya kapan, tapi aku tahu alasan pastinya.
Sederhana saja—karena aku sudah menyaksikan langsung orang-orang yang ‘asli’.
Ada orang-orang yang benar-benar “memiliki sesuatu” tanpa bisa dijelaskan dengan logika.
Mereka yang membuat konsep “semua orang setara” terasa seperti lelucon.
Mereka yang jelas-jelas dipilih oleh dunia—orang-orang yang hanya bisa disebut sebagai tokoh utama sejati.
Salah satunya adalah... teman masa kecilku.
Melihat orang-orang seperti itu, aku sadar: aku tak cukup bodoh untuk tetap menganggap diriku “pemeran utama”.
Namun gadis di sampingku berbeda.
Tougazaki Yako—dia memilih untuk tetap menjadi “bodoh”.
“Aku tidak akan pernah mengakui adanya ‘tokoh utama’ selain diriku sendiri. Aku tidak mau berpikir bahwa dunia ini bukan milikku. Karena... dunia ini adalah milikku.”
Dengan senyum misterius yang menggoda, ia berkata begitu.
Itulah perkataan gadis yang, di sekolah ini, dikenal sebagai ‘karakter terakhir’—sang Bos Terakhir.


Posting Komentar