Nama: Takahashi Ryouki
Karakter: 《Pemeran Pendukung》
Tipe: 《Belum Ditentukan》
Simbol: 《Tidak Ada》
Menatap kartu pelajar yang mencantumkan kelasku dan “karakter” yang diberikan padaku, entah kenapa suasana hatiku mendadak jadi muram.
Karakter yang diberikan padaku di akademi ini—adalah 《Pemeran Pendukung》.
“Hey, hey, Takahashi-kun! Kenapa malah melamun? Pertandingannya lagi seru banget, tahu! Kalau kamu nggak lihat, rugi banget! Rugi besar—rugi Goku, gitu loh!”
Suara riang itu datang dari Kurata-san, teman sekelasku yang berdiri di sampingku.
Tatapan matanya yang tajam di balik kacamata membuatnya tampak seperti seekor kucing nakal yang gemar menggoda.
Aku menyelipkan kartu pelajar itu kembali ke dompet, lalu memasukkannya ke saku jaket olahraga. Saat pandanganku kembali ke lapangan, pertandingan bisbol di pelajaran olahraga sudah mencapai puncaknya—aku hanya sempat mengalihkan pandangan sebentar, tapi momen klimaks sudah datang.
Inning terakhir, dua out, basis penuh.
Selisih skor: tiga poin.
Kalau sekarang terjadi home run, itu akan jadi kemenangan mutlak.
Ya… dari segi situasi, ini benar-benar panggung sempurna.
Semua syarat sudah lengkap, semua perhatian tertuju pada satu orang.
Dan seperti biasa, orang itu selalu mendapat giliran pada saat-saat menentukan seperti ini.
“Serahkan saja padaku! Aku tidak akan menyia-nyiakan harapan semua orang!”
Suara penuh semangat itu menggema dari Hina—gadis berponi kuda yang menempatkan helm dengan canggung di atas rambutnya sebelum melangkah menuju batter box.
Begitu Hina berdiri di posisi pukul, suasana lapangan langsung berubah.
Dari timnya sendiri terpancar harapan dan semangat.
Dari tim lawan—rasa gentar dan kewaspadaan.
Sakurakami Hina.
Nama “雛” dibaca “Hina”, bukan “Hiina.”
Hubunganku dengannya adalah—apa yang orang sebut sebagai teman masa kecil.
Kami sekelas di SD, di SMP, dan kini bahkan di SMA pun masih sama.
Dia punya paras cantik, prestasi akademik luar biasa, dan kemampuan fisik yang anehnya sempurna.
Di masa SMP, dia jadi “anggota bantuan” di berbagai klub—olahraga maupun budaya.
Semuanya ia jalani tanpa kesombongan sedikit pun.
Kepribadiannya lurus dan jujur, dengan rasa keadilan yang kuat—tidak tahan melihat ketidakadilan atau kebohongan.
Ah, tapi penjelasan panjang seperti itu tidak perlu.
Cukup satu kalimat saja:
Sakurakami Hina adalah—orang dengan aura tokoh utama sejati.
“Sekarang giliran Sakurakami-chan, ya~. Gimana ya bilangnya… dia tuh bener-bener ‘punya sesuatu’ gitu lho. Kamu juga setuju kan, Takahashi-kun?”
Aku hanya menjawab pendek, “Ya,” sambil mengangguk kecil.
Pelajaran olahraga di sekolah ini biasanya dilakukan dua kelas sekaligus.
Biasanya dipisah antara laki-laki dan perempuan, tapi hari ini guru olahraga perempuan sedang dinas luar, jadi kami bermain bisbol bersama.
Sebenarnya, ini hanya semacam kegiatan santai—seharusnya pertandingan berakhir dengan tawa dan kekacauan kecil saja.
Timku sendiri bermain seadanya dan menyudahi pertandingan lebih cepat, tapi tim Hina... entah kenapa justru berlangsung seru luar biasa.
“...Lumayan lama juga ya.”
“Ya, ini jam pelajaran keenam, jadi mereka main sampai inning terakhir! Tapi seru kan? Soalnya ada anak klub bisbol sama klub softball di sini, jadi levelnya tinggi banget.”
“Aku sih pengin cepat pulang.”
“Jangan gitu dong. Pemeran pendukung itu, kan, memang ditakdirkan untuk melihat sang tokoh utama bersinar dari jauh.”
“……”
Kalimatnya mengandung sedikit sindiran, membuatku hanya bisa terdiam.
Karakterku adalah 《Pemeran Pendukung》, dan karakter Hina adalah 《Tokoh Utama》.
Itu sudah jelas.
Di lapangan, pertandingan berlanjut.
Pitcher yang bertubuh tinggi melempar bola dengan ayunan besar.
Hina menyesuaikan timing dan memukul dengan penuh tenaga—namun, ayunannya meleset.
Bola itu masuk dengan mulus ke dalam sarung tangan catcher.
Hmm? Barusan... bola itu seperti menukik turun di detik terakhir.
“Jangan-jangan itu...!?”
Kurata-san berseru dengan ekspresi terkejut, lalu menatapku sekilas.
Aku baru mengenalnya seminggu sejak awal masuk, tapi sudah tahu apa yang harus kukatakan dalam situasi seperti ini.
“Jadi kau tahu, Kurata-san.”
Kalimat pamungkas itu—mantra untuk memancing peran penjelasannya.
Kurata-san tersenyum puas dan mulai menjelaskan dengan penuh semangat.
“Barusan itu Split-Finger Fastball. Sama kayak forkball, bola jatuh di akhir lintasannya. Bedanya, split lebih cepat tapi jatuhnya lebih halus. Biasanya disingkat SFF, atau orang cukup bilang ‘split’ aja.”
“Kau tahu banyak juga, padahal bukan anak klub bisbol.”
“Yah, ini pengetahuan dasar buat seorang 《Peran Penjelas》 kayak aku!”
Dia memperbaiki letak kacamatanya dan tersenyum bangga. Rupanya dia puas dengan peran yang diberikan padanya.
“Tapi serius, nama pitch-nya aja udah kayak jurus pamungkas. Si pitcher itu siapa sih?”
“Itu Hiyama-kun dari kelas satu. Katanya dia mantan pemain bisbol. Cuma karena cedera, dia nggak gabung klub di SMA. Tapi ya, parah juga sih—melempar pitch sehebat itu ke lawan perempuan.”
Oh begitu. Jadi dia pemain berpengalaman.
Mungkin karena situasi genting, dia mulai serius.
Agak kelewatan sih kalau melawan perempuan seperti itu... tapi kalau lawannya Hina, wajar.
Tak lama kemudian, terdengar suara protes keras dari tim Hina.
Tentu saja—siapa pun akan kesal kalau lawan pria melempar bola sehebat itu.
Namun—
“Bagus sekali, Hiyama-kun!”
Begitu Hina berseru dengan senyum penuh semangat, semua sorakan protes langsung berhenti.
Yang terlihat di matanya hanya rasa hormat pada lawan.
Dan semangat luar biasa untuk menang.
“Jangan nahan diri! Lakukan sekuat tenaga! Menang melawan orang yang setengah hati itu tidak menarik sama sekali!”
Hina… kenapa kau selalu seperti itu, sih.
Tidak ada yang memintamu untuk jadi sempurna, tapi kau selalu menaikkan standar sendiri.
“Ahaha, itulah Sakurakami-chan! Panas banget! Keren banget! Benar-benar aura tokoh utama! Nggak heran dia satu-satunya 《Tokoh Utama》 di angkatan ini!”
Kurata-san tampak menikmati tontonan itu.
“Kayaknya aku pengin dukung dia, deh~. Ayo, Suzuki-kun, kita dukung bareng! Dia kan teman masa kecilmu!”
“Aku nggak perlu. Lagipula hasilnya sudah kelihatan, kan.”
“Eh~? Masa sih? Memang sulit memukul bola berubah arah kayak gitu kalau bukan pemain berpengalaman, tapi Hina-chan tuh—”
“Bukan begitu,” potongku pelan. “Kebalik.”
Baru saja aku selesai bicara, Hiyama melempar lagi.
Kemungkinan besar, itu bola split yang sama.
Pitch terbaik dari pemain berpengalaman? Bola berubah arah yang sulit dipukul?
Split-finger fastball?
Tidak ada yang penting.
Karena di depan Sakurakami Hina, semua itu tidak berarti apa-apa.
Satu pukulan—penentu kemenangan.
Dan ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan oleh rekan-rekannya.
Dalam situasi seperti ini, logika dan akal sehat tidak berlaku.
Karena—keajaiban itu selalu berpihak pada sang tokoh utama.
Kiiiin!
Suara logam nyaring menggema di langit biru.
Bola itu terbang tinggi, melewati pagar lapangan, dan menghilang dari pandangan.
Beberapa detik kemudian, sorak sorai membahana.
Hina berlari mengelilingi base, lalu disambut rekan-rekannya dengan tepuk tangan dan pelukan.
Bahkan lawan pun ikut mengelilinginya, memuji dengan tulus.
Bagi orang lain, mungkin itu pemandangan yang luar biasa.
Tapi bagiku—itu pemandangan yang sudah sangat biasa.
Karena dia... selalu begitu.
Tanpa sadar, Sakurakami Hina selalu jadi pusat dari segalanya.
“Untuk meraih kesuksesan dalam hidup, yang paling penting bukanlah kecerdasan, kemampuan fisik, ataupun penampilan—melainkan memiliki karakter yang menonjol.”
Itulah satu-satunya dan mutlak falsafah pendidikan dari sekolah ini.
Akademi Swasta Kurotakaragakuin (Kurohou Gakuen).
Sebuah sekolah besar dengan lahan yang luas dan fasilitas yang lengkap. Baru berdiri lima tahun, sekolah ini masih tergolong baru, tapi reputasinya sudah menyebar ke seluruh negeri.
Singkatnya—sekolah ini didirikan untuk mendidik orang-orang yang memiliki karakter kuat dan menonjol.
Untuk itu, sistem pendidikan unik yang belum pernah ada sebelumnya diterapkan di sini secara eksperimental.
Salah satunya adalah ujian masuk.
Para calon siswa yang ingin diterima di Kurohou Gakuen harus melalui serangkaian tes evaluasi kemampuan dan kepribadian dalam jumlah yang konyol banyaknya.
Hasil dari tes tersebut akan digunakan pihak sekolah untuk memilih siswa yang “layak”, dan kepada mereka akan diberikan peran khusus yang disebut 《Karakter》.
Dengan kata lain, pihak sekolah menganalisis kepribadian dan potensi tiap siswa, lalu mengkategorikannya seolah mereka adalah karakter dalam sebuah cerita.
“Jadi, maksudnya semacam sistem job class dalam game, gitu?”
“Ya, bisa dibilang begitu.”
Hina mengangguk setuju dengan perbandinganku.
“Apalagi ada versi upgrade-nya juga, kayak job change, cuma di sini disebut character change. Makanya menurutku, bersikap santai dan menikmati semua ini seperti main game itu pilihan yang bagus.”
“Menikmatinya seperti game, ya…”
“Walau begitu, ‘seberapa kuat karakter kita’ juga masuk ke penilaian akademik. Jadi, nggak bisa benar-benar dianggap main-main juga.”
Hina tersenyum kecut sambil berkata begitu.
Kami berjalan berdua menyusuri jalan yang dipenuhi pohon sakura, dalam perjalanan pulang menuju asrama.
Kurohou Gakuen memiliki asrama bagi siswa yang datang dari berbagai daerah.
Meskipun tidak wajib tinggal di sana, sekitar 80 persen siswa memilih tinggal di asrama.
Hina menatap langit senja dan bergumam pelan.
“Udah sore banget, ya.”
“Ya… itu karena kau bersikeras nyari bola home run yang kau pukul keluar lapangan.”
“Kan tidak bisa dibiarkan begitu aja. Itu bola milik sekolah, dan lagi, yang mukul kan aku.”
Seperti biasa, dia tetap punya rasa tanggung jawab yang tinggi.
“Meski begitu, ujung-ujungnya kau tetap bantuin aku, kan. Itu yang aku suka dari Ryouki.”
Dia menatap ke arahku dari bawah dengan senyum jahil.
“Bukan karena aku mau bantu, cuma karena aku bosan nunggu.”
…Tapi dipikir-pikir, kalau aku benar-benar bosan menunggu, kenapa aku masih di sini ya?
“Tidak, Hina…”
“Hmm? Apa, Ryouki?”
“Kita ini udah bukan tetangga lagi, dan sekarang sama-sama tinggal di asrama. Jadi, kayaknya nggak perlu lagi berangkat dan pulang sekolah bareng tiap hari, kan?”
Begitu aku bilang begitu, Hina langsung mengerutkan alis dan menatapku dengan ekspresi tidak senang.
“Maksudmu… kamu tidak mau sekolah bareng aku lagi?”
“B-bukan begitu maksudku…”
Dia tiba-tiba mendekatkan wajahnya—jaraknya terlalu dekat, sampai aku refleks mundur sedikit.
“Kalau begitu, tidak ada masalah kan? Toh kita juga nggak ikut klub apa pun.”
Sebenarnya aku cuma khawatir akan muncul gosip aneh. Tapi ya sudahlah…
“Baiklah, mulai besok kita tetap berangkat bareng.”
“Hmph… cara ngomongmu kayaknya tidak tulus banget. Kalau gitu, terserah deh. Aku bakal pergi bareng orang lain aja.”
Dia manyun dan memalingkan wajah.
“Ah—maaf, maaf. Maksudku, aku benar-benar pengin sekolah bareng kamu. Jadi, tolong temani aku terus ya?”
“Fufu~ gitu dong. Ya sudah, karena aku ini orangnya baik hati, aku kabulkan permintaanmu, Ryouki.”
Dia langsung tersenyum cerah, ekspresinya berubah total. Aku hanya bisa menghela napas panjang.
Kemudian aku menatap kembali gadis di sampingku—teman masa kecilku.
Dia mengenakan jaket olahraga berwarna putih biru di atas, dengan rok seragam di bawah, dan sepatu kets di kakinya.
Gaya berpakaian yang entah antara tomboy dan feminin itu… tapi entah kenapa tetap cocok dengannya.
“Jadi, kau tetap memilih gaya ‘jaket olahraga di atas, rok di bawah’, ya.”
“Yup. Soalnya blazer itu susah dipakai buat gerak. Lagipula aku gampang banget kotorin baju.”
“Kalau gitu, kenapa tidak sekalian pakai celana training aja di bawah?”
“Itu tidak bisa, dong. Ada hal yang tidak bisa dikompromikan sebagai cewek.”
Dia memegangi ujung roknya dan tersenyum bangga. Aku masih tidak paham logikanya.
“Lagian, rok itu lebih gampang buat gerakan bertarung. Misalnya, tendangan tinggi. Teyaaah!”
Tanpa aba-aba, dia langsung melayangkan tendangan berputar di tempat.
Udara sampai berdesing—suara “whoosh” yang tajam terdengar. Tendangannya benar-benar cepat.
“...Kau sebenarnya berencana melawan siapa, sih?”
“Ryouki, musuh bisa muncul kapan saja, tahu?”
“Kita ini tinggal di Jepang, negara yang taat hukum. Mana ada musuh yang tiba-tiba muncul begitu aja? Lagipula, kalau kau tendang pakai rok, orang bisa lihat dalamanmu, tahu.”
“Tenang aja. Kalau aku menendang secepat kecepatan suara, mata manusia tidak bakal sempat melihat.”
“Jadi kau bisa menendang secepat itu!?”
“Hahaha, bercanda kok. Aku pakai spats di dalam, tuh. Nih, lihat.”
Dia mengangkat sedikit roknya, memperlihatkan celana ketat hitam yang menempel pas di paha.
Kaki putihnya terlihat jelas, lentur dan panjang.
…Ya ampun, jangan ditunjukin juga.
Entah kenapa, Hina sepertinya yakin bahwa “selama bukan celana dalam, cowok tidak akan bereaksi.”
Padahal spats yang menempel ketat seperti itu tetap saja menggoda, tahu.
Bukan celana dalam pun tetap bikin malu, mestinya.
“B-bego, turunin roknya cepet! Orang bisa salah paham dan ngira aku yang nyuruh kau buka begitu!”
“Ah, iya! Maaf!”
Dia buru-buru menurunkan roknya lagi.
Hina pada dasarnya gadis yang baik dan sopan… hanya saja, dia benar-benar kurang sadar diri soal pesonanya sendiri.
“Serius deh, pikirin juga pandangan orang lain. Kau itu udah terkenal di sekolah sebagai ‘Tokoh Utama’, tahu. Padahal baru seminggu sejak masuk.”
“Hah? Aku terkenal? Wah, kalau begitu aku senang dong!”
Dia tertawa seolah itu bukan masalah besar.
Yah, sejak kecil memang begitulah Hina—tidak sadar kalau dirinya menonjol.
“Tapi ya, aku masih agak tidak nyangka aja disebut ‘Tokoh Utama’.”
“Kau masih tidak puas juga? Dasar berlebihan.”
“Bukan tidak puas sih, cuma… rasanya aneh aja. Dikasih peran Tokoh Utama sejak awal tuh kayak, gimana ya—tidak berasa dicapai dengan usaha sendiri. Aku pengin jadi seperti itu karena kerja kerasku, bukan karena ditetapkan dari awal.”
“Benar-benar seperti dirimu.”
Peran 《Tokoh Utama》 adalah status tertinggi yang bisa diberikan di Akademi Kurohou.
Dan saat ini, hanya tujuh orang di seluruh sekolah yang memegang gelar itu.
Dari ketujuh orang tersebut, hanya satu siswa tahun pertama yang memilikinya—
Sakurakami Hina.
Biasanya, status 《Tokoh Utama》 baru bisa diperoleh mulai tahun kedua.
Setelah menyelesaikan satu tahun penuh dan menunjukkan kemampuan luar biasa—terutama dalam hal kepribadian yang menonjol—barulah seseorang bisa “naik” menjadi tokoh utama.
Namun Hina berbeda.
Bahkan sebelum masuk sekolah pun, dia sudah langsung ditetapkan sebagai 《Tokoh Utama》.
Kalau diibaratkan dalam game, itu sama saja seperti memulai permainan dengan kelas tertinggi sejak awal.
Banyak orang yang pasti akan senang dengan keberuntungan semacam itu.
Tapi Hina malah berkata—dia ingin mendapatkan posisi itu dengan usahanya sendiri.
“Meski kau disebut ‘Tokoh Utama’, jenis peranmu sendiri belum ditentukan, kan?”
“Ya. Sama seperti kamu, status-ku masih ‘Belum Ditentukan’. Sepertinya hampir semua murid tahun pertama masih ‘Belum Ditentukan’ juga.”
“Berarti masih ada peluang untuk berkembang, dong.”
“Itu juga berlaku untukmu, Ryouki. Makanya, ayo semangat dan cepat jadi 《Tokoh Utama》 juga!”
“Aku tidak tertarik jadi tokoh utama. Aku tidak punya ambisi setinggi itu. Cukup jadi 《Pemeran Pendukung Hebat》 aja, versi upgrade dari pemeran pendukung.”
“Wah, tidak ada mimpinya banget sih kamu.”
“Bilang aja aku realistis.”
“...Membosankan.”
Hina tiba-tiba menunduk dengan wajah sendu.
“Padahal dulu kamu selalu bersaing sama aku.
Berapa kali pun aku ngalahin kamu, kamu tetap berdiri lagi dan menantangku terus…”
“Itu dulu. Sekarang aku udah lebih dewasa.”
Nada suaraku terdengar sedikit keras.
Entah kenapa, suaranya yang bernada nostalgia tadi membuatku merasa tertekan.
Setelah itu, Hina tidak melanjutkan pembicaraannya.
Keheningan yang canggung tercipta di antara kami.
Ah, sial. Aku terlalu dingin barusan.
Sebelum sempat mencari topik baru, Hina mengambil ponsel dari saku jaket olahraganya.
“Ah, maaf,” katanya, lalu menerima panggilan itu.
Ngomong-ngomong, di Akademi Kurohou penggunaan ponsel diperbolehkan di luar jam pelajaran.
Bahkan bisa dibilang peraturan sekolah ini longgar banget—
tato dan tindik pun tidak dilarang.
“Ryouki, maaf. Katanya anak-anak klub softball cewek lagi ngadain semacam pesta kecil, dan aku diminta mampir sebentar.”
“Klub softball?”
“Iya. Soalnya kemarin sempat ada sedikit keributan antara murid baru dan senior, jadi aku bantu jadi penengah.”
...Kenapa juga murid baru kayak kamu yang repot-repot jadi penengah, sih.
“Ya udah, sana. Pergi aja.”
“Eh, kamu tidak ikut?”
“Tidak. Aku tidak bakal tahan di tempat penuh cewek yang tidak kukenal.”
“Kalau dilihat dari sisi lain, itu kan mirip harem?”
“Dengan kemampuan sosial selevel aku, tempat kayak gitu lebih mirip tanah suci rasa canggung.”
“Haha, iya juga. Soalnya kamu memang jarang punya teman.”
“Sudahlah, jangan bandingkan aku sama kamu yang bisa dapat satu teman baru per hari.”
“Baik-baik~ Kalau gitu aku pergi dulu ya!”
Setelah berkata begitu, Hina langsung berlari ringan dengan kecepatan tinggi.
Bagi orang lain mungkin itu cuma lari kecil, tapi bagiku—itu udah setara dengan sprint penuh tenaga.
Aku menatap punggungnya yang perlahan menjauh, dengan kuncir kudanya yang bergoyang seperti ekor kuda sungguhan, sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandangan.
Baru setelah itu aku melangkah sendirian menuju asrama.
Tapi sungguh… dia baru seminggu masuk sekolah, dan sudah berapa masalah yang dia selesaikan?
Dua hari lalu saja dia sempat “berdebat” dengan klub judo, dan sebelum itu juga entah apa lagi yang dia tangani…
Jujur, aku agak khawatir. Tapi aku tahu, seberapapun aku khawatir, Hina selalu bisa menyelesaikan semuanya sendirian.
Seolah dia benar-benar tokoh utama dalam sebuah cerita, yang mampu mengurai semua masalah dengan satu langkah tegas.
“Ryouki dulu selalu bersaing denganku…”
Ya, aku ingat masa itu.
Aku pernah berusaha mati-matian menandingi cahaya Hina yang begitu terang.
Aku iri—dan karena iri itulah, aku ingin melampauinya.
Tapi sekarang… perasaan itu sudah tidak ada.
Mungkin karena terlalu lama menatap cahaya itu secara langsung—
mataku akhirnya terbiasa pada silau itu, dan aku tak bisa melihatnya lagi.
“Apakah kau tidak ingin mengalahkan Sakurakami Hina?”
Suara itu membuat bulu kudukku berdiri.
Sebuah suara lembut namun penuh pesona, datang entah dari mana.
Aku menoleh—dan melihat sosok gadis kecil berjalan ke arahku.
Dia mengenakan hoodie dengan tudung yang ditarik rendah hingga menutupi matanya.
Dua telinga panjang seperti telinga kelinci terjulur dari tudungnya, menggantung ke belakang.
Langkahnya santai, tanpa sedikit pun terburu-buru, tapi terasa… mengancam.
“Takahashi Ryouki—teman masa kecil dari satu-satunya 《Tokoh Utama》 tahun pertama, Sakurakami Hina.”
Aku tahu siapa gadis itu.
Teman sekelasku, dan kebetulan juga duduk di bangku sebelahku.
“Kau… Togasaki, kan?”
Togasaki Yako.
Aku tahu namanya, tapi tidak pernah benar-benar melihat wajahnya.
Dia selalu memakai hoodie di bawah blazer, dan menutupi wajahnya sampai hidung.
Hanya bagian mulutnya yang kadang terlihat.
Gadis pendiam yang tidak pernah kulihat berbicara dengan siapa pun.
Jadi, ini kali pertama aku mendengar suaranya secara langsung.
“Sepertinya kamu punya potensi yang menarik,” katanya pelan tapi tegas.
“Tidak buruk sama sekali… tapi, sepertinya kamu sendiri belum menyadari nilai dirimu yang sebenarnya.”
—Jadi, dia bicara seperti ini, ya.
Dengan nada angkuh, seolah-olah sedang memandang rendah seluruh dunia selain dirinya sendiri.
“Hei, Takahashi-kun.”
Dari balik bayangan tudung yang menutupi matanya, bibir merah mungilnya bergerak dengan pesona yang menggoda.
“Mau jadi sekutuku?”
“...Hah?”
“Ufufu.”
Togasaki terkekeh pelan dengan senyum misterius. Karena matanya tak terlihat, ekspresinya tampak semakin aneh—dan entah kenapa, membuat bulu kudukku berdiri.
Apa-apaan sih gadis ini...?
“Di sekolah ini ada tujuh orang 《Tokoh Utama》. Dan aku berencana menjatuhkan mereka semua.”
“Menjatuhkan... para tokoh utama?”
“Sakurakami Hina akan jadi target pertamaku. Aku ingin kau membantuku—sebagai sekutuku.”
“...Aku tidak ngerti maksudmu sama sekali.”
Aku memaksa diriku untuk tetap tenang dan menanyakannya, lalu dia tersenyum kecil.
“Begini saja. Bagaimana kalau penjelasannya nanti saja—setelah kamu jadi sekutuku?”
“Setelah jadi... sekutu?”
“Besok pagi, jam tujuh. Temui aku di tempat ini lagi. Jawabanmu, katakan saat itu.”
Setelah mengatakan hal itu, Togasaki berbalik dengan gerakan anggun dan berjalan pergi.
“H-Hei, tunggu dulu!”
Begitu aku berseru, dia berhenti sejenak dan menoleh pelan.
“Sebagai bonus, biar aku kasih tahu sedikit tentang tujuanku.”
Dengan senyum samar, gadis yang matanya tersembunyi di balik tudung itu berkata,
“Tujuanku adalah—menyucikan dunia ini.”
Kata-kata itu meninggalkan kesan yang berat dan penuh makna, sebelum akhirnya Togasaki Yako menghilang dari pandangan.
“……”
Apa sebenarnya dia itu...?
Menjatuhkan Hina? Mengalahkan para 《Tokoh Utama》? Dan menyucikan dunia...?
Kepalaku dipenuhi tanda tanya.
Masih diliputi kebingungan, aku melanjutkan langkah menuju asrama—sampai mataku menangkap sesuatu di jalan.
Sebuah kartu pelajar tergeletak di tanah.
Aku memungutnya dan membaca tulisan di permukaannya—
“—Hah!?”
Tubuhku gemetar untuk kedua kalinya hari itu.
Penyebabnya ada dua.
Pertama, informasi yang tertulis di kartu itu:
Tahun Ajaran: Kelas 1-2
Nama: Togasaki Yako
Karakter:
Peran 《Bos Terakhir》
Jenis 《Belum Ditentukan》
Simbol 《Tidak Ada》
《Bos Terakhir》。
Kata itu sendiri sudah cukup untuk membuat jantungku berdebar tak nyaman.
Dan penyebab kedua—foto yang terpampang di kartu itu.
Potret setengah badan Togasaki Yako dengan tudung yang dilepas, memperlihatkan sebagian wajahnya.
Namun... matanya tetap ditutupi oleh satu tangannya.
Sepertinya dia benar-benar tidak mau memperlihatkan matanya, dalam situasi apa pun.
Bukannya terlihat seperti foto kartu pelajar... tapi lebih mirip—
“...Kayak foto panggilan gadis malam aja, ini.”
Ya meskipun, aku belum pernah ke tempat semacam itu, sih.
Keesokan paginya.
Aku duduk di kantin asrama yang bersih dan nyaman, sarapan bersama Hina.
Meski asrama putra dan putri terpisah, kantinnya memang digunakan bersama.
“Yahuuu~ milikku~!”
Sebelum aku sempat bereaksi, potongan terakhir bakso teriyaki di piringku sudah diciduk oleh sumpit dari seberang meja.
“Hmmm~ enak banget!”
Hina mengunyahnya dengan wajah bahagia.
“Jangan makan makanan orang lain, woi…”
“Eh, tapi kamu kan taruh di pinggir piring, jadi kukira tidak mau dimakan.”
“Bukan nggak mau! Itu sengaja kutinggal buat terakhir!”
Aku mendengus dan melirik nampannya.
Menu B miliknya, omurice porsi besar, sudah tandas tanpa sisa.
Dengan nafsu makan sebesar itu, pantas saja energinya selalu berlebih.
“Udahlah, jangan marah gitu. Nih, tak kasih peterseli punyaku, biar impas.”
“Mana bisa barter kayak gitu disamain, woy!”
“Jangan remehin peterseli, tahu! Di Jepang orang mikirnya cuma hiasan, tapi sebenernya penuh vitamin dan mineral. Super sehat, lho!”
“Kalau gitu, kamu aja yang makan.”
“Eh?”
“Makan, tuh. Katanya sehat, kan?”
Aku sengaja memancingnya.
Hina ragu sebentar, lalu menelan peterselinya bulat-bulat.
Detik berikutnya, matanya berair dan wajahnya meringis.
“Uuh... pahit... banget…”
Reaksinya terlalu lucu sampai aku tertawa lepas.
Hina langsung memerah dan menatapku kesal.
“Jangan ketawa gituuu!”
“Haha, maaf, maaf.”
Kami terus mengobrol sambil makan, sampai akhirnya—
“Wah, mesra banget pagi-pagi gini ya, kalian berdua~”
Suara ceria itu datang dari Kite-san, yang datang sambil membawa nampannya.
“Boleh duduk sini nggak?” tanyanya singkat, lalu duduk di samping Hina tanpa menunggu jawaban.
“Jadi, langsung aja deh—kalian berdua pacaran, ya?”
“Bff—!?”
Hina langsung menyemburkan air dan melambaikan tangan panik.
“T-tidak! Kami tidak pacaran! Kenapa tiba-tiba…!?”
“Lah, soalnya kalian selalu bareng, sih.”
Ah, ini pasti cuma candaan khas Kite-san.
Tapi karena Hina lemah banget soal pembicaraan macam itu, wajahnya malah jadi makin panik.
“Itu cuma… karena kami udah kenal lama aja!”
Aku akhirnya membantu menjawab.
“Lagian baru seminggu masuk sekolah. Masih wajar bareng sama teman SMP.”
“Ohh~ gitu, ya.”
Kite-san mengangguk, tapi senyum nakalnya tetap muncul.
“Lagipula,” lanjutku, “mana ada cowok yang bisa ngeliat cewek sebagai wanita kalau dia sanggup habisin omurice porsi jumbo pagi-pagi gitu—ouch!”
Sepatuku mendadak kena tendang dari bawah meja.
Aku menoleh—Hina sedang memelototiku dengan pipi mengembung.
“Dasar Ryouki bodoh…”
Dia berdiri, membawa nampannya, dan pergi dari meja dengan langkah cepat.
“Hahaha, kena marah deh. Nih cowok, emang nol besar dalam hal peka.”
Kite-san tertawa ngakak, lalu bersandar sambil berkata santai,
“Tapi ya, Sakurakami-chan ternyata imut juga, ya.”
“‘Ternyata’? Emang kau pikir dia kayak apa?”
“Yah, kan banyak rumor aneh. Katanya dia super jenius, IQ 200, pernah ngalahin beruang pakai tangan kosong, semacam itu. Kukira dia tipe cewek sombong elit banget gitu, tapi ternyata dia justru hangat dan berperasaan.”
Aku mengangguk kecil.
Deskripsi itu memang tepat—Hina itu jenius, tapi tetap rendah hati dan peduli pada orang lain.
Makanya di kampung pun dia disukai semua orang.
“Hmm, manusiawi banget, ya…”
“‘Manusiawi’ itu maksudnya apa, sih? Kalau nangis dan tertawa dibilang manusiawi, bukankah perang dan pembunuhan juga bagian dari sisi manusia?”
Kite-san menatapku datar.
“Takahashi-kun, kalau kamu pikir ngomong sinis kayak gitu bikin kamu kelihatan keren, mending jangan. Itu cuma bikin kamu nyebelin.”
“...”
Tidak ada yang bisa kubalas.
Aku menghela napas pelan. “Hei, Kite-san, aku mau nanya sesuatu.”
“Oh? Tentang apa tuh?”
“‘Karakter’ di sekolah ini—ditentukan dari peran dan jenis, kan?”
“Yap. Ada juga kategori simbol, tapi itu cuma buat siswa tahun dua ke atas, yang karakternya sudah stabil.”
“Jadi, ‘peran’ itu seperti fungsi karakter dalam cerita—kayak 《Tokoh Utama》, 《Wakil Utama》, 《Pemeran Pendukung》, 《Penjelas》, atau 《Bos》?”
“Benar banget! Dan kalau misalnya ada yang super mirip ‘pahlawan’, berarti datanya bakal kayak gini—
Peran: 《Tokoh Utama》
Jenis: 《Fantasi》
Simbol: 《Pahlawan》
—dan ya, siswa tahun dua emang ada yang punya simbol ‘Pahlawan’ beneran.”
“Begitu, ya…”
“Kenapa tiba-tiba nanya begitu?”
“Cuma penasaran aja... Kalau ada ‘Tokoh Utama’, berarti mungkin aja ada juga yang disebut ‘Bos Terakhir’, kan?”
Aku mencoba mengatakannya santai—tapi reaksi Kite-san di luar dugaan.
Sumpitnya jatuh ke meja dengan bunyi nyaring.
“...B-bos... terakhir...?”
Matanya melebar, dan ia menatapku seolah mendengar hal terlarang.
“Ka-kau tahu soal itu... Takahashi-kun...?”
“Eh, tidak. Cuma kepikiran aja.”
“Wah, bikin kaget aja. Aku kira kamu dapet info penting!”
“Kalau gitu kenapa panik begitu?”
“Hahaha, ya gimana. Bahkan 《Peran Penjelas》 sepertiku pun masih ada yang nggak tahu, tahu!”
Dia kemudian merapikan kacamatanya, ekspresinya berubah antusias.
“Tapi kalau benar-benar ada ‘Bos Terakhir’, itu pasti peran langka banget! Alias peran spesial!”
“Peran spesial?”
“Yep! Singkatnya, peran langka yang cuma ada satu orang di seluruh sekolah! Kayak legenda, gitu. Beda sama aku yang cuma ‘Penjelas’ atau kamu yang ‘Pendukung’. Tapi, langka belum tentu kuat, ya! Sama aja kayak Pokémon—tidak semua yang legendaris itu hebat.”
“Penjelasanmu aneh, tapi... ya, agak masuk akal sih.”
“Jadi kalau emang ada ‘Bos Terakhir’, berarti dia tipe karakter spesial banget! Eh tapi, tunggu—emangnya kamu tahu orangnya?”
Matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.
“...Tidak. Cuma kepikiran aja.”
Aku berdiri dari kursi.
“Yah, dasar bikin penasaran doang. Eh? Mau pergi sekarang?”
“Ada sedikit urusan.”
Setelah mengirim pesan singkat kepada Hina untuk meminta izin dan maaf, aku berangkat dari asrama sedikit lebih awal daripada siswa lain.
Waktu menunjukkan pukul 06:55. Jika aku bergerak cepat, sepertinya masih sempat tiba di lokasi pertemuan dengan Togasaki—meski sebenarnya itu lebih ke pertemuan sepihak.
Tanganku masuk ke saku blazer, mengeluarkan kartu pelajar milik Togasaki.
Di bagian “Karakter”, tertulis jelas: Peran《Bos Terakhir》.
Kalau bahkan si Kite-san yang terkenal sebagai sumber informasi tidak tahu soal ini, berarti peran seperti itu memang sangat langka.
Kemungkinan besar, Togasaki sengaja menyembunyikan 《karakternya》 sendiri.
Biasanya, kebanyakan siswa di akademi ini bersikap terbuka soal peran mereka—bahkan ada yang langsung mengumumkannya saat perkenalan di kelas.
Tapi ada juga sebagian kecil yang bersikeras merahasiakan 《karakter》 mereka, dan Togasaki termasuk di antaranya.
Yah, kalau perannya adalah 《Bos Terakhir》, aku bisa paham kenapa dia ingin merahasiakannya.
Atau mungkin... ada alasan lain di balik itu semua?
Aku teringat kembali perasaan sesak dan tekanan aneh yang kurasakan saat menatapnya kemarin—auranya benar-benar seperti “bos terakhir” yang sebenarnya.
“...Kalau dipikir-pikir, gaya dia yang selalu nutupin mata itu juga kayak ‘bos terakhir’, ya?”
Aku bergumam pelan sambil menyelipkan kembali kartu pelajar itu ke dalam saku.
Sepertinya Togasaki sengaja menjatuhkannya. Dengan begitu, aku akan menemukannya, mengetahui perannya, lalu punya alasan untuk menemuinya.
Sungguh trik yang cerdik.
Dia pasti tahu kalau orang seperti aku—yang terlalu baik untuk tidak peduli—akan datang mengembalikannya.
Benar-benar gadis yang perhitungannya tajam.
Meskipun begitu, bahkan tanpa “umpan” seperti itu pun, aku tetap akan datang.
Karena perempuan itu—yang terang-terangan menyatakan ingin menjatuhkan tokoh utama, yaitu Sakurakami Hina—telah membuatku sedikit... tertarik.
“...Oke, sampai juga. Hah? Dia belum datang?”
Tepat pukul tujuh, aku tiba di tempat pertemuan. Tapi sosok Togasaki belum terlihat.
Aku mengedarkan pandangan—dan kemudian mataku membelalak.
Di sisi jalan yang dipenuhi pepohonan, di balik semak rendah, aku melihat sesuatu yang... mencolok.
Sebuah pantat.
Ya, pantat.
Sepertinya pantat perempuan.
Kemungkinan kecil memang bisa saja itu milik laki-laki yang memakai rok, tapi aku tidak ingin memikirkan skenario aneh itu.
Bagian atas tubuhnya tenggelam di dalam semak, sementara bagian bawah—terutama pantatnya—terpajang jelas ke arahku.
“Tidak ada... tidak ada... mana sih, tidak ketemu juga...”
Suara pelan yang nyaris menangis keluar dari arah pantat itu.
Aku memang bukan penggemar atau ahli pantat perempuan, tapi dari suara dan nada bicaranya, aku langsung tahu—itu adalah Togasaki Yako.
“...Gimana ini... Aku harus nemuin itu sebelum Takahashi-kun datang...”
Perasaan hampa langsung menyerangku.
...Serius? Jadi dia benar-benar menjatuhkan kartu pelajarnya secara tidak sengaja?
Selama ini aku mengira dia sengaja melakukannya untuk memancingku—padahal cuma ceroboh?
Rasanya malu banget udah mengira dia gadis cerdas dan penuh perhitungan.
“...Hei.”
“Hiyaaa!?!”
Begitu aku memanggilnya, pantat itu melonjak kaget.
“S-siapa!?”
“Teman sekelasmu, Takahashi Ryouki. Aku datang tepat waktu, lho.”
“Tidak mungkin... udah jam segitu!? A-aduuuh, sakit!”
Dia buru-buru menarik kepalanya keluar dari semak dan malah nyangkut. Setelah sedikit berguling, akhirnya Togasaki keluar sambil menepuk-nepuk daun dan ranting yang menempel di pakaiannya.
Dia menarik kembali tudungnya, berdeham beberapa kali, lalu dengan nada tinggi berkata:
“Aku sudah menunggumu.”
...Iya, jelas-jelas tidak.
“Kalau kau sudah datang, berarti kau menerima ajakanku untuk bergabung, bukan?”
Nada bicaranya kembali tenang dan berwibawa, seperti tak terjadi apa-apa beberapa detik lalu.
Dari segi gaya bicara, memang cocok disebut 《Bos Terakhir》—sayangnya, setelah adegan pantat barusan, auranya benar-benar turun level.
“...Aku ke sini bukan karena mau gabung, tapi cuma buat ngembaliin ini.”
Aku menunjukkan kartu pelajar itu.
“Itu... kartu pelajarku!?”
Suara Togasaki meninggi karena kaget.
“Pantes aja tidak ketemu-ketemu... ternyata kamu yang nyuri, ya?”
“Jangan ngomong kayak gitu. Aku cuma nemuin dan mau balikin.”
“Ya, terserah. Jadi... berapa kau mau dibayar?”
Masih dengan nada tinggi, seolah aku ini anak buahnya.
“Tidak usah bayar-bayar.”
“Apa... jadi maksudmu aku harus bayar dengan... tubuhku!?”
“BUKAN ITU MAKSUDNYA!!”
Aku langsung berteriak, kesal setengah mati, lalu menyerahkan kartu pelajar itu dengan paksa.
Togasaki mengambilnya, menatapnya sejenak, lalu memasukkannya ke saku blazer sambil mendengus, “Hmph.”
“Tidak meminta imbalan untuk jasamu... sepertinya kau punya bakat sebagai pelayan.”
“Barusan aku jadi ‘sekutu’, sekarang malah ‘bawahan’? Turun jabatan dong.”
“Jadi—apa kau sudah siap jadi sekutuku?”
Dia bertanya lagi dengan nada congkak.
Aku cuma bisa menghela napas.
“Jujur aja, aku bahkan belum tahu siapa kamu sebenarnya dan apa tujuanmu.”
“Sudah kubilang kemarin, kan? Dan kamu juga sudah lihat kartuku, bukan?”
“...Iya, tanpa sengaja.”
“Tidak perlu menyangkal begitu. Lagipula, aku memang berencana menunjukkannya padamu.”
Senyum kecil terlukis di bibirnya.
“Karena siapa pun pasti sulit percaya kalau ada orang yang benar-benar punya peran 《Bos Terakhir》.”
“Jadi itu bukan salah cetak atau kesalahan data?”
“Tidak. Entah kenapa, itulah peran yang diberikan padaku. Aku sendiri belum tahu harus merasa terhormat atau terhina. Tapi jujur saja, aku tidak terlalu senang.”
Dia menghela napas pelan, lalu aku menatapnya dan bertanya:
“Jadi... karena kau ‘Bos Terakhir’, makanya mau menjatuhkan para 《Tokoh Utama》?”
Biasanya, tokoh utama dan bos terakhir memang berada di dua sisi yang berlawanan.
Yang satu ditakdirkan untuk menang, yang lain untuk dikalahkan.
Mungkin itu sebabnya aku mengira, Togasaki memang “harus” melawan Hina.
Tapi—
“Eh? Tidak juga.”
Jawabannya membuatku bengong.
“Alasannya cuma karena... mereka nyebelin aja.”
“...Hah?”
“Lihat aja, ‘Tokoh Utama’ itu kan selalu dapat perlakuan spesial. Semua orang muji-muji mereka, mereka kelihatan keren, punya segalanya. Apalagi Hina—pintar, cantik, jago olahraga, dan disukai banyak orang. Coba pikir, apa itu tidak ngeselin?”
Nada suaranya penuh kebencian.
“Makanya aku sumpah—karena mereka nyebelin, aku bakal menjatuhkan mereka.”
“...”
Sumpah demi Tuhan, alasan paling dangkal yang pernah kudengar.
Bahkan Gian pun masih punya alasan lebih bagus buat mukulin Nobita.
“Pokoknya aku ingin memberi pelajaran pada semua ‘tokoh utama’ sok hebat di sekolah ini. Itu juga bentuk kebaikan, tahu? Sebelum mereka ditampar keras oleh kenyataan, aku yang akan ‘menyadarkan’ mereka duluan. Harusnya mereka berterima kasih.”
Luar biasa. Tingkat self-justification yang layak diacungi jempol.
Dia benar-benar mengubah iri hati jadi semacam “misi suci.”
Dan jujur, gaya “aku yang paling benar” ini... memang terasa seperti bos terakhir sejati.
Menurutku pribadi—
Seorang bos berpikir: “Aku tahu ini salah, tapi aku suka, jadi biarin.”
Sementara bos terakhir berpikir: “Aku benar. Dunia ini yang salah.”
“Makanya, aku butuh bantuanmu, Takahashi. Aku memerlukan kekuatanmu.”
Dia sedikit menengadah, meski wajahnya masih tersembunyi oleh tudung.
Kekuatan, katanya.
Padahal jelas-jelas dia hanya ingin memanfaatkan aku—sebagai orang yang paling dekat dengan Hina, target pertamanya.
Jadi, tanpa ragu aku menjawab,
“Tidak.”
Tegas.
“Hmm... Baiklah. Tapi pada akhirnya, kamu sendiri yang akan datang padaku—memohon agar dijadikan sekutuku.”
“Apa maksudmu?”
Tiba-tiba bibirnya melengkung ke arah senyum jahat.
“Adikmu... masih SD, kan?”
“...Aku tidak punya adik.”
“...”
Dia langsung menoleh ke samping, kaku.
“Kalau mau memancing orang, setidaknya cari bahan yang benar dulu, deh.”
“Kenapa sih kamu tidak punya adik? Minimal satu, kek!”
“Komplain aja ke orang tuaku.”
“Jadi kamu nyuruh aku ngomong ke mereka, ‘tolong lebih aktif bikin anak’? Gila, kamu ini penyimpang banget.”
“Aku tidak ngomong sejauh itu, woi!”
Togasaki manyun, lalu menarik napas panjang sebelum bicara lagi.
“Jadi, kenapa kamu nolak?”
“Karena... aku tidak lihat keuntungan apa pun buat ikut kamu.”
“Kalau aku janji akan memberikan setengah dunia padamu?”
“Kalimatmu keren sih, tapi kamu pikir kamu siapa, bisa bagi dunia segala?”
“Tenang saja. Nanti dunia ini memang akan jadi milikku. Aku berdoa tiap hari pada arwah nenekku, kok.”
“APA!? Kau malah minta ke nenekmu yang sudah meninggal!?!”
Berdoa untuk kedamaian arwahnya aja udah cukup, jangan malah nitip rencana dominasi dunia, woi!
"Apa maksudmu? Kau... menghina nenekku, ya?"
"Bukan. Aku menghina kamu."
"Hmph. Kalau kau terus menghina aku, nenekku tidak akan tinggal diam, tahu?"
"Bukannya dia sudah meninggal?"
"Akhir-akhir ini dia bangkit lagi dengan memakai topeng putih."
"Itu mah jadi arwah gentayangan!"
"Tapi topengnya sudah setengah retak, sih."
"Jangan bilang-bilang kalau dia Arrancar juga!?"
"Itu bohong. Nenekku masih hidup kok. Jadi tolong jangan bunuh nenek orang seenaknya."
Togasaki menggeleng pelan, tampak jengkel. Tapi, hei, bukannya tadi dia sendiri yang bilang neneknya sudah meninggal!?
"Ya sudahlah. Nanti kalau aku sudah ‘menyucikan’ dunia ini, kau pasti akan berlutut di hadapanku juga."
"Menyucikan dunia, ya... Kau juga ngomong begitu kemarin. Tapi maksudnya ‘menyucikan’ itu gimana, sih?"
Saat aku bertanya, Togasaki tersenyum kecil—senyum yang terlihat agak menyeramkan.
"Aku sering berpikir begini..."
"Memikirkan apa?"
"Kalau dipikir-pikir... manusia itu racun bagi planet ini, kan?"
"..."
"Karena manusia terus menebang hutan, bumi makin kehilangan hijaunya, dan hewan-hewan pun kehilangan tempat tinggal. Bukan cuma itu, pemanasan global, polusi udara, dan kerusakan lingkungan lainnya juga makin parah. Keserakahan manusia sedang mengotori planet yang seindah ini."
"..."
"Manusia itu makhluk yang menjijikkan. Mereka bisa saling membantai atas nama perang. Hewan-hewan lain tak pernah melakukan hal seperti itu. Hanya manusia yang membunuh sesama tanpa alasan untuk bertahan hidup."
"..."
"Kalau menganggap planet ini seperti makhluk hidup, manusia itu seperti sel kanker—terus bertambah tanpa kendali, merusak tubuh induknya dari dalam. Tidak bisa dimaafkan. Karena itu, aku ingin memusnahkan manusia dan menyucikan dunia ini. Menghapus semuanya, dan memulai kembali dari nol."
Nada suaranya terdengar sendu... tapi entah kenapa, ada kesan kalau dia sendiri sedang menikmati kata-katanya.
Aku mendengarkan sambil menahan napas—bukan karena kagum, tapi karena kelelahan mendengar omong kosongnya.
Kalimat barusan memang terdengar seperti ucapan khas bos terakhir, tapi...
gaya bicaranya itu... benar-benar penuh aroma chuunibyou.
"Baiklah, Togasaki. Aku ngerti maksudmu. Tapi aku mau nanya beberapa hal."
"Apa?"
"Pertama, kau bilang manusia itu makhluk menjijikkan. Tapi bukankah kau juga manusia?"
"Eh... i-itu... aku beda. Aku nggak seburuk mereka, dan lagian tubuhku kecil, jadi aku nggak banyak menghasilkan karbon dioksida."
"Pertanyaan kedua: kalau kau mau ‘menyucikan dunia’, caranya gimana?"
"Uh, e-itu..."
"Ah sudahlah. Lupakan. Salahku nanya hal aneh."
"Ya, bagus kalau kau sadar."
...Oke. Sekarang aku benar-benar mengerti.
Dia termasuk tipe orang yang merasa keren dengan ide-ide seperti “manusia itu kotor, dunia harus direset”.
Akhirnya, aku mulai paham karakter Togasaki Yako.
Cara bicara dan gayanya memang seperti orang besar... tapi isinya? Kosong.
Dia hanya gadis yang terlalu berusaha terlihat “dalam” padahal masih kekanak-kanakan.
"Jadi, sudah siap untuk jadi sekutuku?"
"Belum, dan tidak akan. Gimana caranya aku jadi sekutu setelah percakapan barusan?"
"Sudah kubujuk sebaik mungkin, tapi tetap menolak? Dasar laki-laki sombong."
"Kau belum sekalipun menundukkan kepala, tahu. Yang sombong itu justru kau, dasar—"
Rasa kesal akhirnya menguasai diriku. Tanpa sadar, aku meraih tudung jaketnya—yang punya aksen telinga kelinci itu—dan menariknya ke belakang.
"Kalau mau bicara dengan orang, lihat matanya!"
Aku mengibaskan tudung itu dengan satu gerakan.
Rambut hitamnya yang berkilau langsung terurai, memantulkan cahaya pagi.
Sebenarnya aku sudah mengira rambutnya indah sejak melihat foto di kartu pelajar kemarin, jadi bagian itu tidak terlalu mengejutkan.
Tapi—
melihat kedua matanya secara langsung untuk pertama kali... membuatku terdiam.
Di depanku berdiri seorang gadis dengan wajah luar biasa cantik.
Tatapannya besar dan jernih, seolah menarikku ke dalam.
Kedua mata itu membuat semua bagian wajahnya—garis dagu, bibir, dan kulitnya yang pucat—tampak sempurna.
Aku sudah tahu dia pasti manis, tapi ternyata... dia jauh lebih cantik daripada yang kubayangkan.
Hina memang gadis cantik yang cerah dan bersemangat, tapi Togasaki... berbeda.
Kalau Hina adalah keindahan yang “hidup dan bergerak”,
maka Togasaki adalah keindahan yang “tenang dan misterius.”
"W-w-w..."
Saat mata kami bertemu, Togasaki menegang dan terbata-bata.
Dalam sekejap, pipinya memerah, lalu—
"Uwaaaaaaahhhhhh!!"
Togasaki berteriak histeris.
“Y-yaaah! B-berhenti! Jangan... jangan lihat aku, tolong!”
Suara tingginya terdengar panik, tubuhnya gemetar hebat, dan pandangannya berlarian ke segala arah.
Tangannya naik-turun tak tentu arah, hingga akhirnya dia berusaha meraih tudung yang terlepas di belakang kepalanya.
Beberapa kali tangannya meleset, tapi setelah berjuang keras, dia berhasil menarik tudung itu kembali dan menutup kepalanya rapat-rapat.
“N-nya... ngapain sih kamu!?”
“A-aku... maaf...”
Aku buru-buru menunduk dan meminta maaf.
Sebenarnya aku tak merasa melakukan hal yang begitu buruk, tapi melihat perubahan drastis pada sikap Togasaki barusan, aku tak bisa tidak merasa bersalah.
“Menatap wajah asli seorang perempuan tanpa izin... dasar mesum.”
“Eh, tunggu dulu. Masa cuma karena lihat wajahmu aku langsung disebut mesum? Ini bukan zaman Heian, tahu.”
“Uuh...”
Togasaki mendesah kesal sambil menarik tudungnya lebih dalam sampai menutupi hampir seluruh wajahnya. Nada suaranya kemudian menurun, terdengar pelan dan agak murung.
“...Aku tidak bisa, tahu. Kalau sampai bertatapan mata sama orang, aku jadi gugup dan nggak bisa ngomong dengan baik.”
“Itu... kayak fobia tatapan mata gitu?”
“Aku juga pikir begitu, makanya dulu sempat ke psikiater. Tapi hasil diagnosisnya cuma satu: ‘terlalu pemalu’. Itu saja.”
“Diagnosis yang... agak tanggung, ya.”
‘Terlalu pemalu’? Jadi bukan penyakit, cuma sifat?
“Kalau cuma dilihat aja, aku masih bisa tahan... Tapi kalau mata kami sampai bertemu, semuanya langsung kacau. Aku tidak tahu harus ngapain.”
Setelah mengatakan itu, Togasaki menegakkan tubuhnya lalu menarik napas dalam beberapa kali.
Kemudian, seperti biasa, dia tersenyum miring sambil berkata, “Ufufu,” seolah sudah kembali ke mode percaya dirinya.
“Waktu SMP, aku dipanggil dengan rasa hormat dan jijik sekaligus. Julukanku... ‘komyushou’.”
“Itu mah cuma jijik doang, tidak ada hormat-hormatnya!”
“Cuma bercanda.”
“Syukurlah. Soalnya itu tidak lucu sama sekali, tahu.”
“Lagipula, aku aja jarang banget dipanggil nama waktu itu. Dikasih julukan aja udah mustahil.”
“Itu malah makin sedih, tahu!?”
“Kalau masih sempat dicap ‘komyushou’, berarti kau masih amatir. Komyushou sejati itu bahkan tidak punya orang yang cukup peduli untuk memanggilnya ‘komyushou’.”
“Kenapa kau ngomongnya kayak bangga gitu, sih!?”
“Hmph. Kalau tidak kupikir begitu, aku tidak akan sanggup terus hidup.”
Nada suaranya terdengar sedikit pasrah. Namun setelah itu, dia malah menampilkan senyum licik yang terlihat sangat puas.
“Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka bisa diperlakukan kasar begini oleh cowok yang baru kukenal.”
“Jangan bilang ‘kasar’. Aku cuma lihat wajahmu doang.”
“Kau sudah membuka satu-satunya kelemahanku. Itu dosa besar, tahu.”
...Yah, menurutku kelemahannya jauh lebih banyak daripada itu—misalnya logikanya, atau cara berpikirnya.
“Yah... maaf deh.”
Aku menundukkan kepala. Aku tahu, kali ini memang aku yang salah.
“Maaf, aku tidak tahu kalau itu hal yang sangat kau benci. Kupikir kau cuma nutupin wajah buat cocok sama karakter ‘Bos Terakhir’-mu.”
“Tidak perlu minta maaf. Tunjukkan ketulusanmu.”
Tentu saja, di saat seperti ini, dia langsung memasang ekspresi sombong lagi.
“Ketulusan... maksudmu?”
“Tepat sekali. Jadilah sekutuku. Bersama-sama kita kalahkan para 《Tokoh Utama》.”
Tentu saja ujungnya ke situ lagi.
Aku sudah terlalu lelah untuk menolak, dan entah kenapa rasa bersalah karena sudah melihat wajahnya membuatku tak bisa terus membantah.
“...Baiklah, aku ikut.”
Kataku akhirnya, sambil menghela napas panjang.
“Bagus. Aku senang.”
Togasaki mengangguk puas, terlihat benar-benar senang dengan jawabanku.
Yah, sudahlah. Sepertinya tidak akan terjadi hal berbahaya juga. Lagipula, dia tampak lebih konyol daripada yang kukira.
Dan bukan berarti aku punya rencana tersembunyi seperti: ‘kalau Togasaki jadi musuh Hina, aku akan pura-pura jadi sekutunya untuk melindungi Hina dari dalam’.
Tidak, aku tidak sejauh itu. Lagipula, si tokoh utama macam Hina jelas tidak butuh bantuanku.
“Kalau begitu, untuk hari ini, kita cukupkan sampai di sini.”
Kata Togasaki sambil melirik ke samping. Di sepanjang jalan menuju sekolah, sudah mulai banyak siswa lain yang lewat.
“Kalau tidak salah, hari ini ada pertemuan pagi setelah masuk, kan?”
“Iya. Katanya ketua yayasan, Momijikouri, baru balik dari luar negeri.”
“Setelah itu pelajaran seperti biasa, ya. Oke, nanti sepulang sekolah kita adakan rapat strategi.”
“Rapat strategi?”
“Untuk mengalahkan Sakurakami Hina, tentu saja. Dia akan jadi target pertama. Soalnya... dia yang paling dekat dan paling menyebalkan.”
Setelah mengatakan itu dengan penuh percaya diri, Togasaki membalikkan badan dan berjalan pergi.
Aku memperhatikan punggungnya yang kecil dan tampak rapuh sambil menghela napas pelan—lalu mataku menangkap sesuatu di tanah.
Kartu pelajar.
Dan tentu saja, itu kartu pelajar milik Togasaki Yako.
“Jangan-jangan, saku blazer-mu bolong, ya!?”
Aku buru-buru berteriak. Togasaki menghentikan langkahnya dengan tenang, lalu memasukkan tangannya ke dalam saku.
Dan benar saja—tangannya menembus ke luar dari bagian bawah saku.
...Jadi memang bolong beneran.
Dari awal sampai akhir, gadis ini benar-benar tidak bisa menutup sesuatu dengan rapi, ya.





Posting Komentar