no fucking license
Bookmark

LN Shibou Endo V1 Bab 3

Bab 3 - 'Buku Harian'



Di dekat jendela sebuah restoran keluarga, empat siswi SMA duduk di bangku untuk empat orang.

Di tengah keramaian, hanya meja mereka yang dipenuhi keheningan berat. Bahkan pelayan pun, merasakan suasana aneh itu, memilih untuk menjauh setelah mengantarkan makanan ringan.


“Haa… sudah saatnya kalian memberitahuku apa yang sebenarnya ingin dilakukan, bukan?”


Suara es yang beradu dalam gelas terdengar jelas.

Bosannya dengan diam, Kitagawa Reine akhirnya membuka mulut.


“Iya juga ya~ lagipula aku ada shift kerja nanti~”


Dengan senyum lembut khasnya, Nanjou Shuna menatap dengan wajah sedikit bingung.


“Cepatlah bicarakan. Aku hanya datang karena Saionji-san yang memaksa, tahu?”


Nada bicara Shinonome Shino terdengar tajam, seolah kesal membuang waktu sia-sia.


“Umm… iya… maaf, aku akan cerita.”


Aku—Saionji Satsuki—akhirnya memberanikan diri untuk berbicara.

Aku merogoh tas, lalu meletakkan sebuah buku catatan di meja.

Sampulnya sudah pudar, ujung-ujungnya terkelupas dan membulat lembut—seperti bukti perjalanan waktu yang panjang.


“Itu… apa?”


“Itu… ‘diary’-nya Iriya Satoshi.”


“Siapa itu?”


“Orang yang mengalami kecelakaan tepat di depan kita, pada hari upacara kelulusan.”


“Ohh… orang itu ya~. Kasihan sekali, ya~”


Mereka bertiga memberi reaksi masing-masing, tapi terlihat tidak terlalu peduli.

Sejujurnya, aku pun sama.

Sampai aku membaca isi catatan itu.


Hari ketika Iriya Satoshi mengalami kecelakaan, aku sempat didorong olehnya.

Dan ketika dia jatuh, dibawa ambulans, barang-barang dari tasnya berserakan.


Aku membantu membereskan barang-barang itu.

Saat itulah aku menemukan buku catatan ini.


Hanya buku catatan biasa… tapi entah kenapa, aku merasa sangat tertarik padanya.

Tanpa sadar, aku menyembunyikannya ke dalam tasku. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku melakukannya.


Sesampainya di rumah, sambil merasa bersalah dalam hati, aku membuka catatan itu.

Dan kemudian, aku tahu kebenarannya—


“Aku tidak peduli bagaimana kau mendapatkan ‘diary’ Iriya Satoshi, atau soal privasi dan semacamnya. Tapi dengan menunjukkan ini… apa yang sebenarnya kau inginkan?”


“Syukurlah kau cepat paham. Untuk sekarang… aku ingin kalian membaca isinya. Aku sudah tidak mengerti lagi. Tentang dunia ini… bahkan tentang diriku sendiri…”


Aku hanya bisa memeluk lenganku sendiri, menunduk menatap lantai.

Aku benar-benar tidak tahu apa yang benar. Aku tidak bisa lagi yakin dengan keputusanku.

Itulah sebabnya aku memanggil tiga orang yang juga ada dalam catatan itu—Kitagawa Reine, Nanjou Shuna, dan Shinonome Shino.


Untuk memastikan kebenarannya.


“Baiklah. Aku tidak tahu maksud apa yang kau harapkan dengan menunjukkan catatan ini… tapi kalau hanya membacanya, tidak masalah, kan?”


“Iya. Tolong bacalah. Kalau ternyata hanya kekhawatiranku saja, itu sudah cukup. Tapi kalau ini kenyataan…”


“Kalau kenyataan… lalu bagaimana?”


“Tidak, tidak ada apa-apa. Untuk sekarang, bacalah dulu.”


Setelah aku berkata begitu, ketiga orang itu mulai membaca dengan tatapan ragu.


8 April

Sekarang aku sudah jadi anak SMA, jadi kupikir aku akan mulai menulis diary.

Hari ini, sesuatu yang luar biasa terjadi.


Aku bertemu Saionji Satsuki.

Tidak mungkin… dunia ini, apa memang begini!?

Dia benar-benar imut! Serius, seperti boneka hidup.

Dan tunggu… ada juga Sano Yuuto!?

Aku tidak boleh diam saja!


Aku harus menemukan semua Empat Gadis Cantik!



9 April

Aku menemukan Kitagawa Reine!

Aku baru saja menemukan wanita tercantik di dunia ini…

Aku ingin dipeluk olehnya… bahkan kalau harus diinjak pun, tidak apa-apa…


Tapi, ya, dia sering dipukuli ibunya. Pantas saja seragamnya penuh bekas luka.

Hei, satu tahun lagi penyelamat akan muncul, kan? Jadi bertahanlah dulu, oke?



10 April

Aku menemukan Nanjou Shuna.

Wow, apa-apaan dengan ukuran dadanya itu! Dan rasa hangatnya…!

Kalau bisa dipeluk olehnya, aku pasti tenang rasanya.


Dia masih miskin, tapi seragamnya masih terlihat bersih…

Pasti ke depannya banyak kesulitan yang menunggunya, tapi jangan putus asa, ya?

Karena akan ada sang penyelamat.



11 April

Aku juga menemukan Shinonome Shino!

“Kesucian”—sepertinya kata itu memang diciptakan khusus untuk gadis secantik dia.


Di antara Empat Gadis Cantik, dia yang paling mudah dilanda kekacauan. Jadi aku tidak bisa membiarkannya begitu saja.

Tapi tetap saja… jangan sampai mata indah itu dipenuhi keputusasaan.


Tahun depan, pria yang kau tunggu-tunggu, Sano Yuuto, pasti akan datang menemuimu.



14 April

Pencarian teman untuk Shino sudah dimulai.

Dia berjalan di lorong dengan wibawa bak seorang raja, hanya dengan pandangan matanya saja sudah menguasai sekeliling.


Aku sempat bertemu tatapan dengannya, tapi langsung panik dan buru-buru menghindar.

Serius, aku gugup banget!

Soalnya dia terlalu cantik! Mana bisa aku tahan menatap mata secantik itu…

Seluruh tubuhku sampai menegang!


Tapi mungkin, filter pertemanan tidak bisa menembus orang seperti dia, ya…

Kenyataannya memang keras.



15 April

Shuna membantu membereskan gudang olahraga.

Selain sifat hangatnya, aku juga suka hati nuraninya yang begitu baik.


Dia selalu cepat menolong orang yang sedang kesulitan, dan itu benar-benar membuatku kagum.

Kata “orang suci” sepertinya diciptakan hanya untuk menggambarkan Shuna.

Aku benar-benar ingin dia segera bisa melewati masa sulitnya.


Shuna… bisakah kau segera “lulus” dari hanya memakai jersey itu?



16 April

Saat Reine berjalan di lorong, suasana seketika berubah.

Seakan musim dingin baru saja datang.


Dia benar-benar tipe tsundere-dere yang murni.

Tapi justru karena itu, senyuman Reine menjadi sesuatu yang sangat berharga.



17 April

Berbanding terbalik dengan Reine, ketika Satsuki berjalan di lorong, suasana jadi cerah seketika.

Dia penuh semangat, keberadaannya seperti menyembuhkan orang-orang di sekitarnya.


Wajar saja kalau banyak cowok jatuh hati padanya.

Aku juga salah satu dari mereka.

Tidak… bahkan sampai sekarang pun, aku masih begitu.


"Ugh… ini benar-benar menjijikkan…"


"Yah, namanya juga anak laki-laki, sih~"


"Benar. Sepertinya ini hanya sebuah catatan harian rahasia biasa. Dan satu hal, aku bukan orang mesum seperti yang ditulis di sini."


Catatan harian itu ternyata ditulis sejak tahun pertama SMA. Pada bagian awal, isinya tentang kami yang disebut sebagai 'Empat Dewi Sekolah'. Jujur saja, aku hampir tidak punya niat melanjutkan membaca karena hanya berisi ocehan seperti itu. Tapi, ada sesuatu yang aneh…


"…Aku ingin tanya sesuatu. Kita mulai dipanggil 'Empat Dewi Sekolah' itu sejak kelas dua, kan?"


Ketiganya langsung menatapku dengan ekspresi kaget.


"…Benar juga. Lagipula, sebelum aku terlibat dengan dia, aku bahkan tidak tahu tentang kalian."


"Kalau dipikir-pikir lagi, memang begitu…"


"Jadi… bukankah seharusnya Iriya-kun sendiri yang pertama kali menyebut kita dengan sebutan 'Empat Dewi Sekolah' ?"


"Itu memang kemungkinan paling masuk akal."


Aku juga sempat berpikir demikian, bahkan menganggapnya wajar. Tapi justru karena itu, aku harus menanyakan satu hal.


"Kalau begitu… di antara kita, ada yang sudah mengenal Iriya Satoshi sebelumnya?"


── Tidak ada jawaban.


"Seperti yang kuduga… tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal dia, ya…"


Padahal, hanya dengan tahu namaku di hari masuk sekolah saja sudah terasa janggal. Aku baru menjadi gravure idol di musim panas tahun pertama SMA. Sebelum aku dikenal publik, hanya orang-orang dari sekolah dasar atau SMP yang mungkin tahu tentangku.


Melihat wajah ketiga orang lainnya, aku tahu mereka pun punya perasaan yang sama denganku. Lalu, kami semua serentak kembali menatap isi 'Buku Harian' itu.


"Kalau dipikir lebih jauh, memang ada banyak hal aneh… Bagaimana mungkin Iriya Satoshi, yang saat itu masih kelas satu, sudah tahu bahwa aku akan bertemu dengannya di kelas dua? Tidak, lebih aneh lagi… bagaimana bisa dia tahu bahwa aku adalah orang yang ditakdirkan untuknya?"


"Aku juga, lho~. Soal perusahaan ayahku yang uangnya digelapkan, tidak mungkin ada orang luar yang tahu…"


"Kalau begitu… bagaimana mungkin dia tahu bahwa aku sering dipukuli ibuku? Selain aku, tidak ada orang lain yang mengetahuinya…"


Es dalam gelas bergemerincing saat mencair. Keringat dingin mulai membasahi dahi kami. Mata kami dipenuhi kegelisahan dan rasa takut.


"…Ya, ini memang sangat menyeramkan."


Kitagawa-san merapatkan kedua tangannya di depan wajahnya, berbisik lirih. Pikiran kami semua sama:


"…Lanjutkan saja membacanya."


Atas ucapanku itu, semua mengangguk.

Rasanya seperti membuka Kotak Pandora. Rasa takut menyelimuti suasana. Namun, rasa ingin tahu yang begitu besar mendorong kami, membuat tangan kami tak bisa berhenti membuka halaman berikutnya.


1 Mei

Sudah kupikirkan, kalau dunia ini memang 'LoD', maka aku akan menikmatinya sebagai penonton dari balik layar.

Aku juga punya sedikit keinginan untuk akrab dengan para heroine.

Tapi, aku sudah memutuskan untuk tidak ikut campur dalam cerita ini.

Lebih baik aku duduk di kursi penonton terbaik dan menyaksikan kisah mereka.



21 Juli

Satsuki menjadi seorang gravure idol.

Sepertinya dia baik-baik saja……



3 Oktober

Shino menjadi peringkat pertama di angkatannya.

Dia sama sekali tidak terlihat senang.

Mungkin karena kemarin dia bertemu dengan tunangannya. Dia terlihat murung.



1 November

Di perusahaan orang tua Shuna, terjadi kasus penggelapan.

Kasihan sekali dia……



3 Desember

Reine menolak berhubungan dengan orang lain.

Dia benar-benar terisolasi.



1 Januari

Sano Yuuto benar-benar berkepribadian buruk……

Kalau begini, bahkan aku yang bukan tokoh utama jadi ikut merasa sedih……

Yah, bagaimanapun juga, kalau sudah naik ke kelas dua, cerita [LoD] akan dimulai dan mungkin sifatnya akan membaik.



8 April

Aku naik ke kelas dua. Akhirnya cerita akan dimulai.

Aku akan menjadi penonton, menyaksikan kisah cinta mereka dan menjaga agar tetap berlangsung.



15 Mei

Sialan, dasar brengsek itu. Eh, maaf… maksudku, Sano yang memilih pilihan terburuk, jadi aku menyebutnya bajingan.

Padahal Satsuki sudah bilang ingin diajak curhat, kenapa malah ditolak mentah-mentah?

Apa Sano suka sama Satsuki, ya?



11 Juni

Ketika Reine sedang dimarahi oleh seorang pria, dia (Sano) menghampirinya!

Akhirnya berperilaku seperti tokoh utama! Baru sadar sekarang… tapi apa yang sebenarnya dilakukan si brengsek itu!?

Terus malah gugup dan bilang, "Ah, ternyata bukan masalah besar kok"—jangan bercanda!!



5 Juli

Kancing kemeja Shuna mental gara-gara ukuran dadanya.

Kamu tahu apa artinya jadi seorang gentleman, kan?

Ya, ya, aku sudah tahu.

Tapi cuma melirik saja sudah jadi bajingan, apalagi sampai kancing copot begitu!?

Shuna pun ketakutan dan langsung kabur. Wajar saja.

Hei, tunjukkan sikap ksatria dengan meminjamkan kemejamu sendiri!



4 September

Sano menemukan tulisan Shino yang bilang, "Aku ingin punya teman yang setara."

Lalu dia malah menantang taruhan.

"Kalau aku menang, ayo kita berteman!"

Katanya dengan sombong penuh percaya diri.

Akhirnya, apa dia sudah jadi tokoh utama yang baik?



8 September

…Jadi, apa alasanmu?

Hei, kamu harus belajar lebih giat, tahu!?

Dasar brengsek pemalas!

Kenapa malah main ke pusat game!?

Aku? Aku sudah selesai belajar semua materi ujian.



1 Oktober

Aku tidak bisa berharap apa-apa dari Sano.

Kalau begitu, aku juga ingin berteman dengan para heroine.

Awalnya aku berpikir tidak boleh mengganggu jalan cerita, tapi aku sudah tidak tahan lagi!

Aku juga ingin dekat dengan para heroine!

Belakangan ini, makin banyak cerita tentang tokoh utama mob yang mengacau. Kalau begitu, biar aku saja yang melakukannya.



7 Oktober

Akhirnya aku bisa mengobrol dengan para heroine!

Ternyata lumayan nyambung juga!

Wajar saja, aku tahu hobi dan kesukaan mereka.

Di kehidupan sebelumnya, aku hampir tidak pernah bicara dengan anak perempuan, tapi kali ini aku berusaha keras.

Untuk sekarang, yang penting adalah berteman dulu.



8 Oktober

Saat aku menyapa Satsuki,

"Siapa kamu?"

katanya begitu.

Sakit banget rasanya…

Apa sebenarnya dia tidak ingin ada hubungannya denganku…?

Rasanya menyesakkan…



9 Oktober

Tiga orang heroine lainnya bahkan tidak mengingat aku ada…

Terlalu menyedihkan…

Padahal aku sudah ngobrol dengan senang hati, tapi ternyata semua itu hanya kebohongan belaka…



12 Oktober

Nilai tesku sangat buruk… ada yang aneh.

Padahal aku yakin bisa dapat nilai sempurna…

Tapi selalu saja begini setiap kali ujian…



18 Oktober

Jadi begitu…!

Akhirnya aku mengerti alasan kenapa nilai-nilaiku tidak pernah naik.

Aku sempat melihat lembar jawaban ujian milik gadis di sebelahku.

Padahal jawabanku sama persis, tapi milikku dianggap salah sementara jawabannya dianggap benar.

Dunia ini memang dunia LoD.

Kalau menurut skenario aku yang jadi nomor satu, maka ceritanya tidak akan menarik.

Sama seperti bagaimana Oota tidak akan pernah bisa mendapat nilai selain 0.

Aku juga sempat lihat di SNS, bahkan kalau jawabannya benar pun tetap bisa diberi tanda salah.

Semakin kupikirkan, semakin janggal rasanya.

Seharusnya aku tidak akan kalah dalam belajar maupun olahraga, tapi hasilku selalu berhenti di tengah-tengah.

Aku memutuskan untuk menyebut ini sebagai 'Paksaan Dunia'.



25 Oktober

Alasan kenapa para heroine melupakanku juga pasti karena 'Paksaan Dunia'. Benar begitu.

Tidak salah lagi.

Tapi… rasanya aku juga melupakan sesuatu yang sangat penting…



28 Oktober

Aaaaah! Jangan-jangan!?

Aku mulai mengingat banyak hal…!?

Kalau dunia ini benar-benar dunia LoD, maka kalau terus begini semua heroine akan musnah.

Karena tidak ada satupun yang menaikkan tingkat kedekatan, maka ceritanya akan berakhir dengan bad end—pemusnahan total.

Jadi, para heroine akan mati…!?

Tapi, sepertinya ada sesuatu yang jauh lebih penting yang sedang kuabaikan…



31 Oktober

Hari ini pun, bayangan yang kulihat di cermin adalah diriku sendiri.

Aku sempat berharap kalau mungkin aku bukanlah Sano Yuuto yang bereinkarnasi, tapi ternyata tetap saja aku adalah 'Karakter Background yang Masuk Pemandian'.

Ya, aku adalah mob yang pada bad end pasti ikut terseret dan mati dalam insiden 'Mr. Kecelakaan Lalu Lintas'.



1 November

Kenapa aku bisa lupa ya…

Kalau aku ingin bertahan hidup, tidak ada gunanya kalau cuma menempuh route individual.

Agar semua bisa selamat, satu-satunya jalan adalah harem end. Tapi kalau terus begini, Sano tidak akan bisa meningkatkan tingkat kedekatan para heroine.



6 November

Serius…?

Ternyata ini bukan karena 'Paksaan Dunia'…

Ya, masuk akal sih.

Yang seharusnya menyelesaikan masalah para heroine adalah 'Sano Yuuto', bukan 'Aku si Karakter Background'.

Dengan kata lain, bukan aku yang harus bertindak, melainkan Sano.



10 November

Satsuki datang meminta saran pada Sano.

Kelihatannya pekerjaan gravure dia tidak berjalan dengan baik. Aku tahu itu.

Kalau dia tidak bisa mendapat peringkat tinggi dalam voting popularitas berikutnya, maka dia akan dipaksa masuk ke route pekerjaan gelap sebagai “pillow business” (melayani laki-laki).

Dipaksa oleh banyak pria, sampai akhirnya jiwanya hancur dan memilih bunuh diri.



15 November

Kalau si brengsek Sano tidak bergerak, maka aku yang akan bergerak.

Untuk meningkatkan ranking Satsuki Saionji, aku hanya perlu membeli photobook yang berisi kartu voting popularitas & tiket handshake.

Memang sih, kalau mengikuti cerita asli, harusnya Sano yang kerja keras mengumpulkan uang di luar cerita, lalu mendorong Satsuki masuk ranking.

Tapi dasar si Sano brengsek, cuma sibuk dengan fantasi cabul di ecchi CG saja.

Ya sudahlah, tidak ada pilihan lain selain aku yang melakukannya.

Aku pun meraih tombol “Pesan Sekarang”.


Astaga… demi photobook, aku sampai keluar puluhan ribu yen…

Tapi hei, aku ini si Karakter Background, kan!?

Untungnya aku sudah menabung sejak lama untuk saat-saat penting seperti ini…!

Amazon, tolong kirim cepat!



20 November

Photobook Satsuki akhirnya tiba di rumahku. Jumlahnya seratus eksemplar…

Untuk sementara, aku gunakan semua untuk mendaftar dengan nama Sano Yuuto, lalu kuisikan alamat rumahnya untuk pengiriman tiket handshake.



24 Desember

Satsuki berhasil masuk peringkat!

Sano pun akhirnya datang ke acara handshake.

Padahal dia tidak tahu apa-apa, tapi tetap saja dengan santainya pergi… dasar orang itu…



25 Desember

Memang dari awal, Satsuki itu punya bakat kelas satu. Begitu dia berhasil masuk ranking, otomatis tingkat popularitasnya naik, dan jalannya sebagai gravure idol pun semakin terbuka.

Selain itu, Satsuki juga berterima kasih pada Sano atas “perhatian” dan “kepeduliannya”.

Yah, sudah pasti perasaan cintanya pada Sano tidak akan hilang.

Tapi, masalahnya… bad end Satsuki tetap tidak bisa dihindari.

Bagaimana pun aku harus mencari cara mengatasinya…



10 Januari

Dari kasus Satsuki, aku sadar kalau follow-up sesuai skenario masih mungkin dilakukan.

Kali ini, aku harus menolong Reine.


Skenarionya begini: Sano melihat bekas tamparan di wajah Reine, jadi dia penasaran dan mengunjungi rumah Reine.

Dalam perjalanan, dia menemukan sebuah dompet, ternyata itu milik ibu Reine.

Ibu Reine adalah seorang pecandu.

Kalau dia kehilangan dompetnya, suasana hatinya jadi kacau dan dia melampiaskannya dengan memukuli Reine.

Kalau Sano tidak ikut campur, Reine akhirnya dipukuli sampai mati…


Tapi seperti biasa, Sano tidak akan bergerak.


Padahal aku cuma ingin main game di rumah.

Sialan!



14 Januari

Hari itu akhirnya tiba, tapi dompetnya tidak ketemu…

Kalau dipikir-pikir, di karya aslinya juga tidak pernah ditulis di mana dompet itu berada…

Awalnya aku berencana menyerahkan dompet ibu Reine kepada Sano, lalu biar dia yang mengembalikannya. Tapi dengan cara itu tetap tidak berhasil…

Jadi, aku memutuskan untuk menjalankan Plan B yang sudah kusiapkan agar Reine tidak mati.

Apakah ‘Kekuatan Paksaan Dunia’ akan bekerja atau tidak, sekarang tergantung pada keberuntungan.



15 Januari

Syukurlah, berhasil.

Aku masih ingat kira-kira seperti apa dompet ibu Reine.

Karena itu, aku membeli dompet baru yang mirip dengan harga cukup mahal, lalu mengisinya dengan uang seadanya.


Ibu Reine tampak masih muda untuk usianya. Tapi isinya… ya tetap bajingan.

Aku berpura-pura seolah menemukan dompet itu, lalu menyerahkannya dengan senyum ramah.

Tentu saja, aku menggunakan nama Sano Yuuto.


Keesokan harinya, aku meninggalkan apartemen Reine dengan alasan ingin bertemu dengannya.



20 Januari

Syukurlah… rencanaku sukses besar.

Reine mulai akrab dengan Sano.


Sano sendiri tidak tahu apa yang terjadi, tapi bagi Reine yang jarang punya teman apalagi laki-laki, dia pasti senang ada yang mengajaknya bicara dengan tulus.

Memang bikin jengkel, tapi demi aku bisa bertahan hidup, ya sudah lah… aku titipkan pada Sano.



21 Januari

Akhirnya aku juga menemukan dompet yang mirip dengan aslinya.

Jangan-jangan itu barang palsu dari pachinko ya…?



22 Januari

Menyelamatkan Shino.

Sebenarnya, ini yang paling sulit.

Karena Shino mencari seseorang yang bisa berdiri sejajar dengannya.

Kalau begini terus, dia bisa saja menikah dengan orang yang tidak dia sukai.

Apalagi, Kayanogi—si brengsek mesum itu—tiba-tiba ikut campur.

Contohnya, Sano pernah menantang pertandingan, tapi keesokan harinya, dia sudah membaca novel cabul di toko buku.

Hei, bukankah kamu bilang akan menang di ujian coba?



1 Februari

Hari ujian.

Aku memikirkan cara untuk menang di ujian ini.

Untuk itu, aku memutuskan menggunakan "Kekuatan Pemaksaan Dunia".



28 Februari

Sepertinya berjalan lancar.

Seperti yang kuduga, Sano berhasil melampaui Shino di ujian coba.

Tentu saja bukan dengan cara biasa, melainkan lewat ujian pengganti.

Kebetulan aku dan Sano mengikuti ujian di hari yang sama.

Di ujian pengganti itu, aku tidak boleh sampai kalah.


Namun, dunia ini mengikuti skenario yang ditulis Kayanogi si brengsek itu.

Aku menuliskan nama "Sano Yuuto" di lembar jawabanku lalu mengumpulkannya.

Biasanya itu akan dicurigai sebagai kecurangan, tapi aku mempercayakan semuanya pada "Kekuatan Pemaksaan Dunia".


Hasilnya, lembar jawabanku dikembalikan kepada Sano.

Dengan skor hampir sempurna, dia menipu seluruh sekolah.

Dengan begini, Shino pasti mengakui Sano.


Namun, kemampuan asliku jauh lebih tinggi dari Shino.

Karena itu, mengalahkan Shino lewat ujian pengganti sebenarnya tidak terlalu sulit.

Yang penting, sekarang aku bisa sedikit tenang…

Mulai sekarang, Shino akan memperhatikan Sano.



1 Maret

Shino dan Sano jadi makin akrab. Menyebalkan… benar-benar menyebalkan… tch.

Ya, terserah saja sebenarnya, tapi nilai ujian aslinya Sano yang dikembalikan ke mejaku cuma dapat sekitar 50%.

Bagaimana mungkin dia berani menantang Shino dengan nilai segitu…

Karena aku orang yang baik, aku masukkan lembar ulangan ke dalam tas Sano.



3 Maret

Gimana caranya menyelamatkan heroine terakhir, Shuna…

Perusahaan keluarga Shuna sekarang sedang di ambang kebangkrutan. Dan mereka bahkan berhutang pada lintah darat.

Kurasa sebentar lagi para rentenir itu akan menargetkan tubuh Shuna.

Kalau aku yang meminjamkan uang untuk menyelesaikan masalah ini, berarti aku hanya mengandalkan "Kekuatan Pemaksaan Dunia".


Skenario seharusnya adalah: Sano mengirimkan produknya ke perusahaan Shuna lalu menyelamatkannya.

Tapi, mana bisa aku berharap pada hal konyol seperti itu.

Ngomong-ngomong, perusahaannya bergerak di bidang apa ya?



4 Maret

Setelah aku selidiki, ternyata perusahaan orang tua Shuna adalah percetakan.

Dalam cerita asli, untuk menyelamatkan Shuna, Sano menulis light novel dengan sistem cetak mandiri, lalu meminta percetakan keluarga Shuna untuk mencetaknya.

Entah kenapa biaya cetaknya jadi murah, lalu bukunya malah laku keras.

Aku sempat penasaran dengan isi novelnya, tapi sekarang hal itu tidak begitu penting.

Memang, setting ceritanya agak longgar.


Aku sendiri tidak ingin repot melakukan aksi aneh demi menyelamatkan Shuna seperti yang dilakukan Sano dalam cerita ini.

Jadi, aku tidak punya pilihan selain menulis novel dengan nama "Sano Yuuto".


Berkat adanya "Kekuatan Pemaksaan Dunia", judul yang kutulis di sana otomatis berubah sama persis dengan apa yang seharusnya Sano tulis.

Kalau tidak salah, judulnya ada hubungannya dengan "Lingkaran" atau semacam itu.


Mau bagaimana lagi. Kalau aku tidak menulis ini, hidup Shuna akan dalam bahaya.

Seratus ribu karakter dalam seminggu… harus semangat…



11 Maret

Akhirnya aku berhasil tepat waktu…

Aku mengajukan permintaan ke perusahaan Shuna atas nama "Sano Yuuto".

Dengan ini, Shuna tidak perlu lagi menjual tubuhnya.



15 Maret

Entah kenapa, ratusan halaman tulisan sia-sia itu malah laku keras…

Pasti ini berkat "Kekuatan Pemaksaan Dunia".

Soalnya aku sama sekali tidak punya bakat menulis.



22 Maret

Buku itu dicetak ulang, dan aku kembali memesan percetakannya di perusahaan keluarga Shuna.

Syukurlah, benar-benar lega.

Sekarang Shuna bahkan bisa membiayai kuliahnya sendiri.



30 Maret

Meski begitu… apa kamu benar-benar bajingan, Sano?

Kenapa kamu bisa dengan bangga menyombongkan sesuatu yang sama sekali bukan hasil usahamu sendiri…

Yah, berkat kebodohanmu juga peluangku untuk tetap hidup jadi lebih besar, jadi tidak masalah sih.

Tapi tetap saja, rasanya aneh sekali…



8 April

Aku sudah naik ke kelas 3.

Para heroine dan juga Sano ternyata masuk ke kelas yang sama.

Skenario [LoD] berjalan dengan lancar.

Tingkat kedekatan heroine dengan Sano juga terus meningkat.

Kurasa dia tidak melakukan aksi bodoh lagi. Atau mungkin, sifat lemah yang aneh itu justru dianggap sebagai pesona?

Aneh memang, bukannya turun, malah tingkat kesukaan mereka justru naik.



15 Mei

Sano terlihat bersenang-senang bersama para heroine…

Untuk bisa bertahan hidup… ya, semua ini demi itu…



18 Juni

Aku tidak ingin lagi melihat para heroine LoD yang dulu sangat kusukai.

Melihat mereka tersenyum begitu menyakitkan…

Apalagi senyum itu ditujukan pada Sano, rasanya dadaku semakin sesak…



21 Juli

Dengan ini, sepertinya tidak akan ada lagi pilihan aneh yang harus dipilih.

Untuk sementara, kerja bagus, aku.

Sekarang aku akan fokus pada diriku sendiri.

Kalau dengan kemampuanku sekarang, aku yakin bisa masuk universitas yang dulu gagal dengan mudah.

Tapi… jangan lengah.

Trauma ujian hanya bisa diatasi dengan melewati ujian itu sendiri.



15 Agustus

Lebih baik sekarang aku mulai mengumpulkan uang.

Setelah lulus kuliah, aku ingin hidup tenang di pedesaan dengan kehidupan slow life!



17 September

Selama ini aku hanya mengamati para heroine dan Sano dari jauh, tapi melihat perkembangan sejauh ini, kurasa mereka akan baik-baik saja.

Bahkan kalau bayi baru lahir sekalipun yang memainkan galge ini, dia pasti tetap akan dapat ending harem.



31 Oktober

Akhirnya, pengakuan cinta.

Untuk sementara, aku hanya bisa menonton dari jauh.



1 November

Jangan bilang… ini bohong, kan!?

Itu bajingan, ternyata tinggal kelas!

Kalau begini… semua ending bakal hancur…



2 November

Kenapa? Kenapa malah menuju bad end dari titik ini!?

Padahal seharusnya pilihannya mudah sekali…



10 November 

Meskipun ini hanya dugaan situasi, sepertinya Sano terus memilih pilihan terburuk dari kondisi itu.

Tingkat kesukaan heroine naik di pertengahan jalan, lalu berhenti begitu saja…



11 November 

Para heroine menyesali karena tidak terpilih oleh Sano.

Mengingat kembali bagaimana Sano dulu pernah bertindak demi dirinya, membuat mereka merasa sakit…



20 November 

Aku tidak boleh menyerah.

Meskipun sudah masuk ke rute kehancuran total, pasti masih ada sesuatu yang bisa dilakukan.



29 November 

Tidak bisa dihentikan…

Apa pun yang dicoba, selalu dihalangi oleh “Kekuatan Pemaksaan Dunia.”



2 Desember 

Tidak ditemukan celah dari “Kekuatan Pemaksaan Dunia.”



13 Desember 

Tidak mungkin.

Seberapa pun berusaha, arus ini tidak bisa dihentikan.

Pada hari kelulusan, kami semua pasti akan mati tertabrak truk…

Aku benci ini… aku tidak mau mati…



15 Desember 

Takut… takut… takut… takut… takut… takut…



16 Desember

Aku tidak mau mati, tidak mau mati, tidak mau mati, tidak mau mati, tidak mau mati…

Seseorang… siapa pun… tolong aku…



20 Desember 

Kenapa aku yang harus mati……?

Padahal aku sudah berusaha, kan……?



24 Desember 

Saat aku sedang resah di halaman sekolah, Reine duduk di bangku seberang.

Lalu, dia pergi bersama Sano sambil terlihat bahagia.



25 Desember 

Hari ini juga sama, Reine duduk di sana.

Tanpa berkata apa-apa, dia memberiku kopi kaleng.


“……Kenapa?”

tanyaku, dan Reine menjawab:


“Sekarang aku bisa jadi seperti ini karena dulu dia pernah bersikap baik padaku…….”

“Jadi, aku hanya membagikan sedikit kebaikan musim dingin itu kepadamu.”


Dia tersenyum lembut lalu berkata:

“Pasti akan ada seseorang yang menolongmu juga. Jadi bangkitlah.”



26 Desember 

Terima kasih atas kopi kalengnya.

“……Siapa?”



9 Januari 

Aku kehilangan kartu pelajar……

Sungguh menyedihkan.


“Tidak apa-apa? Nanti repot, lho~”

Shuna berkata sambil tersenyum.



10 Januari 

Aku sudah mencarinya semalaman, tapi tetap tidak ketemu.

Pagi harinya, saat masuk sekolah, kartu pelajarku ada di loker.

Di dalamnya juga ada secarik kertas.


“Lain kali hati-hati, ya~?”



11 Januari 

Aku pergi untuk mengucapkan terima kasih.

“Eh? Aku? Aku kan nggak pernah menemukan kartu pelajarmu, lho~?”



24 Januari 

Melawan cerita hanya bisa dengan cerita.

Aku pergi ke perpustakaan untuk mencari ide.



28 Januari 

Aku sudah membaca semua cerita.

“Kenapa kamu begitu berusaha keras, sampai setiap hari mencari sesuatu……?”

Tanpa suara, Shino menyapaku.


Aku ragu sejenak, tapi dengan setengah hati aku menyampaikan bahwa aku sedang mencari cara untuk keluar dari situasi ini, tanpa menyebut kata “Load.”


“Menarik sekali…….”

Dia menatapku penuh minat tanpa sedikit pun mencibir.


Lalu kami bertukar ide, tapi tidak menemukan kesimpulan.


“……Maaf, aku harus pergi. Aku ada janji dengan temanku.”

Bukan berarti dia mempercayai ucapanku sepenuhnya.


Aku mungkin terlihat seperti orang yang sedang sakit parah.

Namun entah kenapa, Shino tetap menemaniku sampai sejauh ini.


“Mungkin karena kamu terlihat seperti ingin tidur dengan wajah kesepian, atau mungkin seperti akan menghilang kapan saja…… begitu, ya?”


Dan saat berpisah, dia berkata:

“Hari ini menyenangkan. Kalau ada apa-apa lagi, percayakan saja pada Shinonome Shino.”



29 Januari 

Karena hatiku terasa sedikit lebih ringan, aku pergi untuk mengucapkan terima kasih.

“Maaf, tapi… siapa kamu sebenarnya……?”



2 Februari

Ini sudah batasnya.

Bahkan untuk bernapas saja terasa menyakitkan.

Hati dan tubuhku seperti akan runtuh.


Dalam perjalanan pulang setelah ujian masuk.

Saat aku hendak melangkahkan kaki ke rel kereta.


“Jangan!”


Satsuki menghentikanku.

Padahal dia seharusnya tidak tahu apa-apa tentang diriku, tapi dia menangis dan marah padaku.


“Kalau kamu merasa kesulitan, bicaralah padaku! Aku pasti akan membantumu!!”


Kenapa aku?


“Karena aku yang sekarang ini… bisa ada berkat pernah diselamatkan oleh orang yang sangat aku cintai di masa sulitku.”



6 Februari

Dalam perjalanan ke ujian masuk, aku bertemu Satsuki di kereta.

“Eh, ada perlu apa denganku?”



17 Februari

Ternyata, bahkan di dunia ini pun, ada orang yang bisa menyelamatkan hatiku……

Terima kasih.

Berkat itu, aku mendapatkan tekadku.



18 Februari

Bahkan “Kekuatan Pemaksaan Dunia” bukanlah sesuatu yang benar-benar tak terkalahkan.

Pasti ada cara untuk bisa menyelamatkan semuanya.

Kalau aku menjadikan hidupku sebagai pengorbanan... ...



19 Februari

Aku pasti akan menyelamatkan mereka.



20 Februari

Pasti ada caranya.



21 Februari

Ada… pasti ada…



22 Februari

Tidak ada……

Tidak ada sama sekali……

Kenapa bisa begini……



23 Februari

Kalian sebegitu inginnya membunuhku dan anak-anak itu!?

Jawab, dasar bajingan!!



28 Februari

Kumohon……!

Nyawaku tidak masalah……

Baik di kehidupan lalu maupun sekarang, aku tidak pernah hidup dengan benar, jadi lakukan apa saja pada hidupku……

Tapi kumohon, setidaknya anak-anak itu……

Tolong selamatkan mereka……



1 Maret

Sano.

Ini semua karena pilihanmu.

Kenapa kami harus mati hanya demi dirimu?



2 Maret

Aku pasti akan membalaskan dendam kepada kalian……!



3 Maret

Bahkan nama maupun wajahmu, juga tempatmu berada, aku tidak tahu……



7 Maret

Tidak bisa mengapung, tidak bisa mengapung, tidak bisa mengapung……

Krun, krun, krun, krun!



8 Maret

Hampir saja aku tertabrak mobil. Tapi kemudian aku berpikir.

Kalau pada akhirnya aku akan tertabrak juga…… itu?



9 Maret

Aku terpikir satu hal……

Cara untuk membalas dendam pada kalian……

Cara untuk menghancurkan skenario ini……



10 Maret

Sebuah kalimat yang muncul saat Bad End:

“Seorang siswa SMA yang menyeberang tanpa memperhatikan lampu lalu lintas ditabrak oleh truk. BAD END.”

Lalu muncul ilustrasi diriku, Hitoya Sano, tergeletak bersimbah darah.

Itu semua ulah kalian yang keterlaluan.


Kalian puas hanya dengan menyesatkan orang agar mengira semua heroine mati, kan?

Tapi di situ tidak tertulis “semua heroine mati.”

Kalau begitu, bukankah aneh bila setelah skenario berakhir, para heroine masih hidup?



12 Maret

Kematian diriku sudah ditentukan.

Aku tidak bisa lari darinya.

Tapi, aku bisa menyelamatkan Satsuki dan yang lainnya.

—Bagi kalian, bukankah itu akan menjadi akhir yang tidak kalian inginkan?



13 Maret

Besok adalah hari kelulusan.

Dan juga—hari kematianku.

Aneh, tapi hatiku terasa tenang.



14 Maret

Tekad untuk tidak takut kehilangan nyawa—itulah yang akan membawa kemenangan.


Selamat tinggal.


Sore hari ketika matahari mulai condong, langit dipenuhi awan kelabu, gelas-gelas kosong dan es yang mencair bertebaran di atas meja.

Kami semua menatap sebuah buku harian yang memancarkan aura aneh.


“Ha, haha… ini pasti bohong… palingan ada stalker yang mengikuti kita kan?”


Orang pertama yang bicara adalah Kitagawa-san.


“Kitagawa-san…?”


Dengan satu tangan menopang siku, ia menutupi wajahnya dan tertawa dengan cara yang menyeramkan.


“Kalau aku bangun, aku harus menginterogasi Iriya Satoshi. Ya, benar kan, Kitagawa-san? …Apa? Ada yang mau kau katakan, Saionji-san?”


Kitagawa menatapku dengan sorot mata tajam dan keruh.


“Sebetulnya… kau juga sudah menyadarinya, bukan?”


“!! Kalian bagaimana!? Mana mungkin hal seperti ini… boleh terjadi!?”


Suara teriakannya yang tajam menggema di dalam kafe.


“Tenanglah dulu…”


“Bagaimana aku bisa tenang!? Tiga tahun kita, semua perasaan kita, ternyata hanya sesuatu yang diciptakan orang lain… itu… ugh…”


Kitagawa-san berlari ke toilet sambil muntah. Aku pun sama sekali tidak bisa mempercayainya.

Kebenaran yang tertulis di dalam buku harian itu—membalikkan semua yang selama tiga tahun SMA ini kami percayai.


Di buku harian milik Iriya Satoshi, ada catatan detail tentang kami. Tidak, bahkan terlalu detail.

Kalau hanya satu-dua kejadian mungkin bisa dibilang kebetulan, tapi ini… seolah-olah kami diawasi terus-menerus.


Kami hanyalah karakter dalam dunia bernama LoD, boneka yang diprogram untuk jatuh cinta pada Sano Yuuto. Begitu terpikir, dunia ini tiba-tiba terasa menakutkan.


“Ta-tapi… kalau begitu… siapa sebenarnya Iriya Satoshi?”


Biasanya Nanjou-san dikenal sebagai Sang Santa, selalu anggun dan tenang seperti wanita dewasa. Namun kini suaranya bergetar.


“Aku tidak tahu… mungkin dia berasal dari dimensi lain, bukan dari dunia kita… kemungkinan besar dia itu makhluk tingkat lebih tinggi…”


Di antara kami, Shinonome-san yang paling tenang. Di balik ketakutannya, terlihat rasa ingin tahu.


“Ya… aku juga setuju dengan Shinonome-san. Aku tidak tahu kenapa dia datang ke dunia ini. Tapi, dari tulisannya…”


“Dia bertentangan dengan pencipta dunia ini, begitu kan?”


Aku mengangguk kecil.


“Ini hanya hipotesis, tapi mungkin Iriya Satoshi dihukum di dunia atas. Lalu dijatuhkan ke dunia bawah ini—dunia LoD tempat kita berada.”


“Be-benarkah… soalnya di bagian akhir buku harian itu penuh dengan makian ya…”


“Seperti biasa, Shinonome-san memang pintar.”


“Tidak, sama sekali tidak ada bukti. Ini cuma khayalan. Kalau orang lain dengar, pasti aku langsung dibawa ke rumah sakit jiwa.”


Ucapan itu bernada menyindir dirinya sendiri, tapi benar adanya.


“Hanya satu hal yang pasti… Iriya Satoshi lah yang mengendalikan ‘protagonis’ Sano Yuuto—yang seharusnya menuntun kita ke Bad End—agar menjauhkan kita dari takdir kematian.”


“!!”


Di dalam buku itu tertulis tentang Bad End. Jika itu terjadi, salah satu dari kami akan mati. Dan kunci penentuannya ada pada Yuuto-kun. Semua tergantung tindakannya.

Tapi…


“Tidak! Aku tetap tidak bisa percaya! Yuuto-kun selalu melindungi kita kan!?”


“Benar! Yuuto-kun adalah penyelamat kita!”


“A-aku tahu… kita semua jatuh cinta pada orang yang sama. Perasaan percaya itu sama. Tapi…”


Kami tanpa sadar mengeluarkan harapan kami—bahwa isi buku harian ini hanyalah fiksi atau lelucon yang kelewatan. Akhirnya aku malah menyudutkan Shinonome-san. Tapi aku tahu, dia pun merasakan hal yang sama.


“…Kalau begitu, ayo kita buktikan.”


“Kitagawa-san…?”


Dengan wajah pucat seperti hantu, Kitagawa kembali ke kursinya.


“Sekarang juga, mari kita telepon Yuuto. Lalu kita tanyakan langsung soal buku harian ini.”


“Ya, benar juga! Itu yang terbaik!”


“Aku setuju juga!”


Nanjou-san dan Shinonome-san mengangkat tangan setuju.

Lalu pandangan mereka beralih padaku—Saionji Satsuki, orang terakhir di antara kami.


“Ya… aku juga setuju.”


Memang, itu cara paling tepat untuk mengetahui kebenaran. Kalau Yuuto-kun benar seperti yang ditulis Satoshi, maka semuanya akan jelas. Kami sudah tidak punya pilihan lain selain menggantungkan harapan pada hal ini.


‘Halo? Ada apa, Reine?’


Begitu Kitagawa menelpon, Yuuto-kun langsung menjawab. Ponsel disetel ke speaker agar kami semua bisa mendengar.


‘Hei, ada apa, Reine?’


“Maaf, Yuuto. Saat ini kami sedang berkumpul di Shihou-bijo.”


‘Eh!? Serius!? Apa kalian sudah mempertimbangkan ulang soal itu?’


“Tidak, ini soal lain.”


‘Tch. Aku sibuk, jadi cepat katakan urusanmu.’


Yang dimaksud “soal itu” mungkin rencana gilanya menjadikan kami semua teman tidur. Begitu Kitagawa menepis, Yuuto malah mengklik lidahnya dengan kesal.


── Yuuto-kun yang kami cintai… benar-benar pria yang lembut kan?

Hatiku terasa sakit.


“Ba-baiklah, aku punya satu pertanyaan. Tolong jawab jujur.”


‘Ya ya.’


Kitagawa menarik napas dalam-dalam, lalu dengan wajah tegasnya, ia bertanya:

“Yuuto… kau pernah datang ke rumahku kan?”


‘Tidak pernah.’


Jawaban tegas. Padahal dalam buku harian tertulis jelas: Yuuto pernah mengaku sebagai teman sekelas bernama Sano Yuuto, lalu mengembalikan dompet ibunya Kitagawa. Karena itu, Kitagawa selamat dari kematian di tangan ibunya.


“Kau… kau pernah bertemu ibuku kan!? Kau mengaku sebagai Sano Yuuto, bukan!?”


‘Aku tidak pernah melakukan itu.’


“Itu bohong… kan?”


‘Tidak mungkin aku berbohong soal sepele begitu. Oke, selanjutnya.’


Kitagawa pucat pasi, duduk terpuruk, menatap kosong.


“Ka-kalau begitu… biar aku yang tanya.”


‘Ah, Shuna ya? Silakan.’


“Perusahaan orang tuaku dulu banyak melakukan transaksi denganmu kan? Terima kasih ya.”


‘Ha? Apa-apaan itu?’


“Eh?”


‘Aku bahkan tidak tahu perusahaan orang tuamu, Shuna.’


“Ka-kamu bercanda kan? Katanya kau sering pesan cetakan besar-besaran, dan pakai nama Sano Yuuto untuk kwitansinya! Itu ibuku yang bilang!”


‘Aku tidak bohong. Kalian ini aneh, Reine dan kalian semua.’


“Ta…n da yo…”


Junna tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, lalu jatuh terduduk di sofa.


“G-giliran aku. Aku Shinonome.”


‘Shino ya. Ada apa?’


“Waktu kau mengalahkanku di ujian simulasi, kau ingat?”


‘Ah, itu aku ingat. Akhirnya ada pertanyaan yang masuk akal.’


“Syukurlah…”


Shinonome menghela napas lega. Namun kalimat berikutnya membuatnya membeku.


‘Tapi… waktu itu ada dua lembar jawaban dengan namaku, kan?’


“Eh…?”


‘Yah, terserahlah. Aku yakin dengan nilailah. Lembar yang nilainya setengah itu pasti ulah orang iseng.’


“B-ben… benar juga… terima kasih…”


Yuuto tertawa santai, sementara kami semua membeku.

Di buku harian jelas tertulis: ada dua lembar jawaban bernama Sano Yuuto. Satu hampir sempurna, satu lagi hanya separuh. Kata-kata Yuuto kini terdengar kosong.


Bukti demi bukti menumpuk. Shinonome pun duduk lesu, menutup wajahnya dengan tangan.


‘Terakhir, giliran Satsuki ya? Singkat saja, aku sibuk.’


Akhirnya giliranku. Aku takut. Kalau pun yang lain palsu, aku berharap aku sendiri berbeda. Aku percaya padamu, Yuuto-kun!


“Kau pernah datang ke acara jabat tangan di peluncuran foto buku pertamaku, kan?”


‘Ah, iya.’


“Terima kasih ya? Itu mahal pasti…”


‘Ha? Apa maksudmu?’


“Setiap buku ada kupon undian untuk bisa bertemu langsung. Dan… Yuuto-kun, demi aku, kau beli seratus buku, kan…?”


‘Aku nggak paham. Aku tinggal dekat, bisa langsung ketemu Satsuki asli. Ngapain repot beli begituan? Lagipula, bukannya itu kamu sendiri yang kirim ke aku? Oh ya, kamu cocok banget pakai bikini itu.’


“…Terima kasih.”


‘Sudah selesai? Aku sibuk. Sampai ketemu lain kali. Bye.’


Telepon langsung diputus. Hanya suara tuut tuut yang tersisa. Kami semua diam.


“Fufufu…”


Seseorang mulai tertawa.

“Hahaha…”


“Fufufu…”


“Ahaha…”


Tawa menyebar di meja. Satu per satu, hingga seperti lingkaran ritual penyihir.

Apa yang dulu kami percayai tentang Yuuto-kun… bohong belaka. Semua yang kami anggap berharga hancur berantakan. Yang tersisa hanya kehampaan.


“Lucu ya… siapa sebenarnya Sano Yuuto yang kita percayai selama ini?”


“Benar~. Dia tak pernah menolong kita sekalipun, tapi kita jatuh cinta padanya. Betapa bodohnya kita~.”


“Bodoh tingkat tertinggi. Terlalu bodoh sampai aku tidak bisa berhenti tertawa.”


“Iya! Sekarang semuanya terasa tidak penting lagi!”


Perasaan cintaku pada Yuuto lenyap.

Tidak, mungkin sejak awal aku tidak pernah mencintai dia.


Karena dia teman masa kecil?

Apakah hanya alasan dangkal itu yang membuatku jatuh cinta?

Apa sebenarnya yang kusukai dari dia?


Terjemahan:

"Hei, tolong beri aku jawabannya. Iriya Satoshi-kun.

Aku… kita ini sebenarnya apa, ya?"

Posting Komentar

Posting Komentar