Bab 2 - Mengapa Para Heroine Menjadi Yandere?
"Ya, Satoshi-kun. A~n."
Dengan senyum semekar bunga sakura, Satsuki mencoba menyuapkan apel yang dibawanya kepadaku. Aku refleks menggerakkan pipiku sedikit kaku.
"Atau jangan-jangan, sekarang kamu lagi nggak pengen apel ya? Kalau begitu, tidak apa-apa kok. Aku juga bawa yang lain, jadi bilang saja kalau ada yang kamu mau."
Salah satu pesona Saionji Satsuki adalah sifatnya yang natural dan langsung terjun ke depan tanpa ragu. Tapi kalau benar-benar mengalaminya, jujur saja, rasa malu jauh lebih besar daripada rasa senang.
"Eh, aku bisa makan sendiri kok…"
"Enggak boleh! Satoshi-kun masih pasien, kan. Dokter juga bilang kamu harus benar-benar istirahat, ingat?"
"Itu kan waktu baru sadar aja. Badanku juga sudah lumayan pulih. Lagipula, aku nggak enak kalau terus-terusan merepotkan Satsuki…"
Memang sih, kalau dipaksa bergerak masih sakit, tapi tubuhku sudah jauh lebih bisa digerakkan dibanding sebelumnya. Rasanya aku mulai bosan terus-terusan tiduran di ranjang.
Intinya, aku mau bilang: untuk makan, aku sudah bisa sendiri.
"Jadi… aku udah nggak dibutuhkan lagi, gitu…?"
"Eh!? Bukan maksudku begitu—"
"Jadi aku ini cuma orang yang sudah nggak ada gunanya… ya…"
Sepertinya maksudku nggak tersampaikan dengan benar. Aku cuma ingin bilang kalau kondisiku sudah lebih baik, jadi aku nggak perlu terus merepotkan Satsuki.
"Lihat nih, tubuhku juga udah bisa digerakkan kan? Jadi aku—"
Saat kugerakkan tubuh untuk menunjukkan kalau aku baik-baik saja, rasa sakit langsung menusuk.
"Tuh kan, kamu masih belum benar-benar pulih tapi maksa! Padahal aku malah jadi nggak dibutuhkan… Heh, kalau bahkan orang yang sudah kusebut penyelamat hidupku juga nggak butuh aku, buat apa aku hidup…?"
Satsuki menunduk, tangannya menggenggam erat rok seragamnya.
"Aku ini cuma beban… maaf… maaf… maaf…"
Ucapannya keluar seperti mesin yang rusak, seolah mengutuk dirinya sendiri.
—Berat banget!?
"Satsuki!"
"Ah, maaf. Kalau orang muram dan nggak berguna kayak aku ada di sini, suasana cuma jadi buruk, kan? Aku janji nggak akan datang lagi."
—Nggak! Sama sekali nggak baik-baik aja ini!?
Dengan mata kosong tanpa cahaya, Satsuki berdiri dari kursinya. Aku buru-buru meraih lengannya dengan tangan kiriku. Dia menoleh padaku perlahan dengan tatapan menusuk. Aku tahu, kalau salah bicara di sini, tamat sudah.
"T-tunggu! Bukan gitu maksudku! Aku selalu bersyukur sama Satsuki."
Dia bereaksi, untunglah. Sepertinya masih mau mendengar.
"Aku cuma ingin terlihat baik-baik saja supaya bisa bikin kamu lega."
"…Beneran?"
"Aku juga laki-laki. Di depan cewek manis, aku pengen terlihat kuat. Ya walaupun kenyataannya malah kelihatan nyedihin, hehe…"
Itu benar-benar perasaanku. Barusan aku pikir sudah bisa bergerak, tapi nyatanya masih mustahil.
"Makanya, aku masih butuh bantuan Satsuki… Maaf, ya."
"…Bukan salahmu. Maaf, aku yang salah paham. Iya, kamu kan laki-laki."
Syukurlah. Cahaya kembali ke matanya, dan seolah seluruh ruangan juga terasa lebih terang. Dia lalu menggenggam lembut tanganku dengan kedua tangannya.
"Aku senang kamu menganggapku orang penting. Tapi, buatku, Satoshi-kun itu bukan sekadar penyelamat. Kamu itu segalanya. Jadi, ‘seumur hidupku’, aku akan terus membalas budi. Sampai aku benar-benar nggak berguna lagi, biarkan aku selalu di sisimu, ya…?"
"Ah… iya. Tolong bantu aku, ya."
"Ya! Ehehe."
—BERAT BANGET!? Apa-apaan seumur hidup!?
Walaupun dia tersenyum manis, keringat dingin menetes di punggungku. Aku harus hati-hati agar perasaanku nggak ketahuan.
"Kalau begitu, ayo aku suapin apelnya, ya? Nih, a~n."
Dia mengarahkan potongan apel yang ditusuk tusuk gigi ke mulutku. Sudah jelas, aku tidak punya pilihan untuk menolak.
"A-a~n…"
—Malu banget!? Rasanya nggak bakal pernah terbiasa dengan ini.
"Gimana? Enak?"
Dia menatapku penuh harap. Tatapan mata itu sama persis dengan adegan game yang dulu berkali-kali kulihat. Jantungku seperti diremas.
"…Ya, enak."
"Syukurlah! Ehehe."
Astaga, dia terlalu manis. Rasanya apelnya jadi seratus kali lebih manis.
Setelah itu, kami mengobrol ringan. Yah, lebih tepatnya aku hanya mendengarkan cerita-ceritanya. Tentang sesi pemotretan, tentang rencana kuliah… dia terlihat bahagia bercerita hal-hal kecil sehari-hari.
—Ini dia. Inilah Satsuki yang kusukai waktu main 'LoD'. Bukan karena sisi gelapnya, tapi karena dia yang ceria dan polos begini.
"Protagonis itu bener-bener nyebelin…"
"──"
Aku jadi iri sama Sano, si protagonis. Bisa disukai gadis seimut ini. Dan bukan cuma dia, tapi empat heroine sekaligus. Serius, aku makin pengen dia mati.
"Hei…"
"Eh? Ah, maaf, tadi aku lagi mikir sesuatu."
"Enggak apa-apa. Cuma… Satoshi-kun, kamu pikir gimana tentang ‘Sano Yuuto’…?"
"Sano?"
Aku nggak ngerti maksud pertanyaannya. Settingnya aja sebenarnya aku nggak punya hubungan erat dengan Sano. Jadi aku jawab seaman mungkin.
"Aku nggak tahu banyak, soalnya hampir nggak pernah berinteraksi langsung. Tapi dia terkenal di sekolah. Katanya sih, dia berhasil bikin semua 'Empat Gadis' jatuh hati."
"…"
'Empat Gadis'—begitu orang-orang menyebut heroine di 'LoD', karena masing-masing punya kanji arah mata angin di nama keluarganya.
Tapi kenapa dia tiba-tiba tanya soal Sano… ah, mungkin ini "ngobrol soal cinta" yang sering disukai cewek.
Kalau begitu, biar sopan, aku coba bantu suasana.
"Yah, meski aku cuma lihat sekilas, kayaknya dia orang baik… ramah juga."
Jujur, memuji orang yang bikin hidupku sengsara itu sulit banget. Tapi demi alurnya, aku tahan.
Namun, Satsuki malah menatapku dengan ekspresi aneh.
"Benarkah… kamu benar-benar menganggap ‘Sano Yuuto’ seperti itu…?"
Tatapannya terasa seperti memohon agar aku jangan berbohong.
"Iya, aku pikir begitu."
Meski begitu, aku tetap berbohong. Walau refleks, aku sadar aku mengalihkan pandangan. Jadi aku buru-buru menambahkan kata-kata.
"Yah, aku cuma tahu dari gosip aja sih. Tapi katanya, Sano itu suka sama Satsuki—"
"Berhenti."
"…Eh?"
Suara penolakannya dingin, setajam pisau. Dia tersenyum… tapi wajahnya tanpa ekspresi.
"Aku sama sekali nggak suka Sano Yuuto."
"A… apa?"
Itu mustahil. Bukankah dia sendiri yang pernah mengaku?
Tiba-tiba, Satsuki bergeser ke sisi kananku. Dia menyentuh lengan kananku yang mati rasa. Gerakannya membuatku lebih bingung daripada gugup.
"Dulu memang aku suka. Kami kan teman masa kecil."
Dia mengaku pelan.
"Aku jadi gravure idol, belajar masak walaupun nggak bisa, bahkan masuk SMA yang sama… semua kulakukan demi dia."
Aku tahu itu. Saat main gamenya, aku lihat betapa kerasnya dia berusaha. Dia gadis yang benar-benar tulus.
"Tapi itu semua… bukan keinginanku."
"Eh?"
Apa aku salah dengar?
Saat aku mau bertanya, wajahnya berubah jadi jijik, penuh kebencian. Itu bukan lagi ekspresi yandere, tapi murni penghinaan.
Namun, seketika dia tersenyum lagi.
"Maaf, maksudku, itu dulu. Sekarang aku cuma menganggap dia sampah. Aku nggak mau bicara dengannya lagi. Cuma membayangkannya aja bikin aku muak."
"A-ah… begitu."
Ya, masuk akal. Lagipula, dia pernah diperlakukan seperti sampah oleh Sano.
"Maaf ya, bikin kamu dengar hal nggak enak."
"Nggak apa-apa. Kadang setelah ngomong, hati jadi lebih lega kan."
"Kamu baik sekali, Satoshi-kun…"
Dia menggenggam tangan kananku, menempelkan ke pipinya, lalu mengusapnya dengan ekspresi mabuk kepayang.
"…Aku sekarang cuma melihatmu. Jadi… kita akan selalu bersama, ya?"
"A-ah, iya."
Pipinya memerah, bibirnya melengkung ke senyum samar yang membuatku tak bisa berkata-kata.
◇
Rumah sakit tempat aku dirawat adalah salah satu yang terbesar di prefektur ini. Dari segi fasilitas, jumlah staf, maupun kualitas dokternya, semuanya kelas atas. Kenapa aku bisa tahu sedetail ini? Karena dalam cerita asli, ada episode di mana Sano terluka dan dibawa ke rumah sakit ini.
Halaman tengah rumah sakit ini cukup luas. Ada McD dan juga minimarket, jadi banyak pasien yang bosan menghabiskan waktu di sana.
Tapi aku tidak terlalu suka keramaian, jadi aku pergi ke taman belakang untuk melihat bedeng bunga. Bunga-bunga di sana mulai bermekaran, seolah menandakan datangnya musim semi. Setelah melewati dinginnya musim dingin, mereka akhirnya bisa menampakkan wajahnya dengan lega.
Sambil duduk di kursi roda yang didorong, aku melihat pemandangan luar. Akhirnya aku mendapat izin untuk keluar kamar, dan sudah lama aku tidak merasakan udara luar.
Dan yang mendorong kursi rodaku sekarang adalah Kitagawa Reine. Salah satu dari 'Empat Gadis', heroine dari 'LoD'.
“Pemandangannya indah… tanpa kusadari, musim semi sudah datang, ya.”
“Iya… soalnya sebelumnya aku sibuk dengan ujian masuk, sampai tidak ada waktu untuk menikmati pemandangan.”
“Benar juga.”
Soal ujian itu setengah bohong. Nyatanya, aku hanya belajar sekitar satu jam sehari. Tapi aku punya pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, jadi itu sudah cukup.
Tetap saja, waktu itu aku memang tidak punya banyak kelonggaran. Karena aku tahu tanggal kematianku, aku selalu gelisah dengan apa pun yang kulakukan.
Pemandangan sederhana seperti ini pun, bagiku terasa mengharukan. Mungkin karena pernah berada di ambang kematian, aku jadi bisa lebih menghargai arti hidup.
Aku melirik sekilas ke arah Reine di belakangku.
“Ada apa?”
“Ah, tidak, tidak ada…”
Seperti biasa, dia benar-benar cantik.
Dengan mata biru tua sedalam lautan beku, rambut peraknya yang panjang dan halus diikat gaya twin-tail samping, Reine memberi kesan dingin—seolah musim semi telah meninggalkannya sendiri.
Dan memang begitu. Semua tentangnya seperti es yang tajam. Dia jarang bergaul dengan orang lain, lebih suka sendirian, dan sering terlihat duduk di dekat jendela membaca buku. Karena itulah, para murid memanggilnya “Putri Es yang Sendiri”.
Lalu, orang yang berhasil mencairkan putri es itu adalah Sano Yuuto—si tokoh utama. Memang luar biasa, ya, protagonist itu…
Saat aku melamun, Reine tiba-tiba tersenyum penuh percaya diri.
“Ketahuan, kan? Kau sedang terpana melihatku, ya?”
“Eh!? B-bukan, kok.”
Aku tidak mau mengakuinya, jadi refleks menyangkal.
“Aku tadi cuma lihat bunga dogwood di belakangmu, terus kepikiran kalau bunganya indah.”
“Fufu, Satoshi, kamu payah sekali berbohong. Aku lebih suka pria yang jujur, tahu?”
“……Iya. Aku tadi benar-benar terpana melihatmu.”
Kata “suka” yang dia lontarkan membuatku langsung kalah. Begitulah lelaki. Gampang sekali dipancing.
“Ya, wajar saja. Aku memang cantik.”
Dia mulai memuji dirinya sendiri dengan bangga. Memang benar sih, jadi aku tidak bisa menyangkal.
Dan setelah itu, tibalah bagian khas Reine.
“Lelaki itu memang seperti binatang…”
Nah, ini dia! Mulai lagi Reine dengan kata-kata pedasnya.
Meski dijuluki “Putri Es”, sebenarnya Reine hanya canggung bersosialisasi. Karena sifatnya itu, dia tidak punya teman dekat. Terutama dengan laki-laki, dia membangun dinding yang tebal.
Saat pertama kali main gamenya, aku sempat berpikir “nih cewek nyebelin banget.” Tapi kalau tahu alasannya, sebenarnya bisa dimengerti.
Kata-kata kasarnya hanyalah bentuk perlindungan diri karena rasa takut pada orang lain. Seiring bertambahnya kedekatan dengan protagonist, dia perlahan menjadi lebih jujur. Dan proses itu, justru bagian terbaik dari dirinya.
Karena aku tahu sisi dalam dirinya, bagiku kata-kata pedas Reine sekarang terdengar seperti hadiah.
Aku sedikit terharu bisa mendengar kembali kalimat khasnya ini.
Tapi kali ini, setelah kata-kata awal itu, dia tiba-tiba terdiam.
“Reine?”
Saat aku menoleh, setetes air jatuh mengenai wajahku.
“Maaf…”
“Hah?”
Permintaan maaf darinya jarang sekali muncul, bahkan di 'LoD' itu adalah event langka yang hanya terjadi di jalur dengan tingkat kedekatan tinggi.
“Kenapa, ada apa?”
Dengan wajah datar, Reine membuka mulut.
“Aku perempuan yang kejam.”
Lalu ia mulai bicara dengan suara pelan.
“Kepada penyelamat hidupku, Satoshi… aku malah mengucapkan kata-kata seperti ‘binatang’. Itu hina sekali. Maaf.”
“Reine…?”
“Kepribadianku memang buruk. Sampai-sampai pada orang yang menyelamatkan nyawaku pun, aku masih berkata kasar. Aku benci diriku sendiri. Sampah seperti aku tidak pantas berada di sampingmu, orang yang paling baik di dunia ini.”
“Oi, jangan begitu—”
“Makanya, aku akan pergi dari hadapanmu. Sejujurnya aku ingin mati di tanganmu, tapi itu hanya akan merepotkanmu. Jadi aku akan mati diam-diam, di tempat yang tidak ada yang tahu. Seperti di hutan Aokigahara… Kematian menyedihkan lebih pantas untuk orang sekeji aku…”
Dia menutupi wajah dengan tangan, lalu menangis.
—Apa-apaan!? Bunuh diri!? Berat banget, jangan main-main!
Satsuki saja sudah cukup bikin pusing, dan sekarang Reine juga hampir jatuh ke jurang kegelapan. Kalau begini terus, dia bisa benar-benar melakukan sesuatu yang gila. Aku harus segera menghentikannya.
Aku memutar kursi rodaku dengan susah payah menggunakan tangan kiriku.
“Jangan dipikirkan. Aku tahu kalau sebenarnya kamu orang yang baik, Reine.”
“……Kata-kata sekejam itu keluar begitu saja dariku. Orang seperti itu tidak mungkin baik. Jadi jangan coba menghiburku.”
Ini parah. Kalau aku salah bicara, dia makin tersakiti. Tidak ada pilihan selain menggunakan “jalan pintas”.
“Itu bukan hiburan. Reine berkata kasar karena trauma hubungan dengan orang lain, khususnya laki-laki, kan?”
“Eh… i-itu…”
Dia jelas panik. Wajar saja, tidak ada yang pernah menyinggung hal ini sebelumnya.
Kenyataannya, Reine punya masa lalu kelam. Ibunya seorang single mother yang sering berganti-ganti pria, bahkan memperlakukan Reine dengan kasar. Karena kecantikannya, Reine juga pernah digoda oleh para pria itu. Semua itu membuatnya trauma pada laki-laki.
“Makanya kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Aku mengerti perasaanmu, Reine.”
“Ta-tapi… aku benar-benar punya sifat buruk. Jadi—”
“Reine.”
Aku potong ucapannya dengan tegas.
“Sudah kubilang, aku tahu perasaanmu.”
Sebenarnya, kata-kata pedasnya hanyalah bentuk pertahanan diri, atau kadang sekadar cara untuk menyembunyikan rasa malu. Itu yang kulihat saat main gamenya dulu.
Tiba-tiba, Reine berlutut, menggenggam tanganku, dan menatapku dengan mata berkaca-kaca, seperti anak kucing terlantar.
“Maaf… aku akan berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki sifatku. Jadi jangan tinggalkan aku. Jangan benci aku.”
“Aku tidak akan membencimu. Bahkan kata-kata keras dari Reine pun, menurutku adalah bagian dari pesonamu. Jadi tidak perlu memaksakan diri untuk berubah.”
Mendengar itu, dia sempat terdiam, lalu menunduk dan menempelkan wajahnya ke pangkuanku.
“Kamu satu-satunya yang mau bilang begitu padaku, Satoshi… terima kasih.”
“Ya…”
Kakiku masih terasa sakit, tapi aku harus menahannya. Kalau aku menunjukkan rasa sakit, bisa-bisa dia jatuh lagi ke dalam kegelapan.
Tidak lama kemudian, beberapa orang mulai berkumpul di sekitar taman. Bunga-bunga yang mekar menjadi penghibur bagi pasien, memberi mereka semangat melawan penyakit dan perawatan keras.
Tapi masalahnya, sekarang semua orang menatap kami dengan pandangan hangat, seolah sedang menonton drama romantis.
Aku ingin segera pergi dari sini, tapi Reine masih menempel di pangkuanku.
“Hey… aku punya permintaan.”
“Apa?”
Dia masih bersandar padaku, suaranya terdengar pelan.
“Aku ingin… kamu mengelus kepalaku. Boleh?”
“Eh?”
Permintaan khas heroine, yang biasanya hanya protagonist yang bisa lakukan.
Saat aku ragu, Reine menatapku dengan wajah cemas. Wajahnya kecil sekali, benar-benar menggemaskan.
“Tidak boleh…?”
“Baiklah… hanya sebentar, ya.”
“Mm, tolong.”
…Astaga, imut banget.
Dengan malu, aku mengulurkan tangan dan mengusap rambut peraknya. Lembut sekali, seperti kain sutra mahal, licin dan terasa nyaman disentuh.
“Hh… agak geli rasanya.”
“Ah, maaf.”
Aku terlalu larut, sampai lupa keadaan sekitar. Begitu sadar, orang-orang di sekitar sudah menatap makin intens.
Aku tidak tahan lagi.
“Reine, ayo kita kembali ke kamar.”
“Ah… iya.”
Dia sadar dengan tatapan orang-orang, wajahnya memerah malu. Manis sekali.
Kami buru-buru pergi meninggalkan taman itu. Begitu masuk kembali ke dalam gedung, akhirnya kami bisa lepas dari pandangan orang lain.
Lebih baik aku langsung kembali ke kamar dan beristirahat.
“Hey…”
“Hm?”
Reine tiba-tiba bicara dari belakang.
“Satoshi… bagaimana kamu bisa tahu kalau keluargaku bermasalah?”
Dia masih mendorong kursi rodaku saat bertanya.
“Eh? Aku barusan bilang begitu, ya?”
“Iya. Dengan jelas sekali.”
Sial… aku keceplosan. Seharusnya Reon menyembunyikan masalah keluarganya rapat-rapat. Kalau aku bisa tahu, jelas ada yang mencurigakan.
“Ah, aku dengar dari Sano waktu dia ngobrol tentangmu.”
Alasan sempurna. Lagipula, aku tidak peduli kalau Sano yang kena imbas.
“Begitu, ya…”
Kami melanjutkan perjalanan di koridor. Lampu neon di langit-langit berkelap-kelip, kadang mati, kadang menyala, memberi suasana agak menyeramkan. Karena itu, aku jadi ingin segera memecah keheningan.
"Sano itu katanya ngotot mau menyelesaikan semuanya. Dia orang baik, ya. Aku sih nggak bisa melakukan sesuatu demi orang lain, jadi aku benar-benar kagum sama orang seperti dia."
"Begitu, ya."
Eh… maksudnya apa itu?
Kecuali Satsuki, para heroine lainnya seharusnya masih suka pada Sano. Tapi kenapa reaksinya malah datar begini?
Saat itu kursi roda berhenti. Rupanya Reine yang mendorongnya berhenti melangkah.
"Ada apa, Reine—guuh!?"
Begitu aku mendongak untuk melihatnya, kedua pipiku langsung dicengkeram. Reine dengan pupil matanya yang membesar menempelkan wajahnya dekat sekali denganku.
"Dengar, Satoshi-sama. Kau itu orang hebat, seseorang yang bisa bertindak demi orang lain lebih dari siapa pun karena kau telah menyelamatkan hidup kami. Jadi, jangan merendahkan dirimu sendiri."
Kepalaku dipaksa tetap lurus, jadi aku tidak bisa menghindari tatapan lurusnya yang begitu intens.
"Terima kasih. Aku senang mendengarnya…"
"Anak baik. Aku suka Satoshi-sama yang jujur begini."
Dia tersenyum tipis sambil menatapku dalam-dalam.
Tapi… wajahnya terlalu dekat!?
"Tapi, tahu tidak──"
Lampu neon di atas berkedip beberapa kali, lalu akhirnya padam. Sekeliling kami tiba-tiba gelap seperti malam.
Yang tampak hanyalah sorot biru tua di mata Reine yang berkilau.
"Nama si sampah itu, Sano Yuuto, jangan pernah kau sebut lagi. Terutama dari mulutmu, aku tidak ingin mendengarnya lagi selamanya."
"A… apa…?"
"Dia itu kanker dunia ini. Kehadirannya bahkan lebih menjijikkan daripada kotoran. Membandingkannya denganmu saja sudah keterlaluan."
"S-sebegitunya, ya. Tapi… bukankah kau dulu suka padanya… ah."
Sial. Mulutku keceplosan.
"Iya, aku memang pernah suka. Tidak──lebih tepatnya, aku dipaksa untuk suka."
…Dipaksa suka?
Apa maksudnya itu? Aku ingin bertanya, tapi Reine sudah melepasku. Saat aku menoleh ke depan, tiba-tiba dia memeluk leherku dari belakang.
"Tapi sekarang aku sudah sadar. Semua berkat sang Penyelamat. Mulai sekarang, aku yang akan mendukungmu, Satoshi-sama… tidak, Satoshi. 'Seumur hidup'."
"Ah, iya… kuharap begitu."
"Ya, serahkan saja padaku."
Berat banget, sumpah!?
Alih-alih bahagia karena dipeluk, yang kurasakan justru rasa takut dan cemas yang semakin menumpuk.
Aku benar-benar bersumpah, setelah keluar dari rumah sakit nanti, aku akan berusaha keras supaya tidak membebani para heroine lagi.
◇
"Bosannya…"
Hari ini Satsuki dan Reine tidak datang, katanya ada urusan. Karena tidak ada yang bisa dilakukan, aku hanya membaca buku referensi yang bahkan tidak ingin kubaca.
Aku pengin HP cepat-cepat…
Tapi untungnya, sebentar lagi aku boleh keluar rumah sakit. Walau masih belum bisa banyak bergerak, bahkan untuk berjalan pun masih susah, tapi bisa pulang saja sudah membuatku senang. Dokter sempat menyarankan aku dirawat lebih lama, tapi aku menolak. Selain biaya, tinggal di rumah lebih menenangkan daripada di rumah sakit. Suasana rumah sakit memang tidak pernah cocok untukku.
Meski begitu, yang kusebut rumah hanyalah apartemen tempat aku hidup sendiri. Karena aku dulu seenaknya memanfaatkan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya, hubunganku dengan orang tua jadi retak. Saat masuk SMA, aku memutuskan hubungan sepenuhnya. Sempat terpikir melapor ke polisi supaya mereka tidak mencariku, tapi ternyata tidak perlu—dari kontak HP pun tidak pernah ada kabar. Kurasa mereka juga merasa lebih baik kalau aku tidak ada. Aku sempat punya sedikit rasa tidak rela, tapi setelah sadar mereka memang tidak menyayangiku, aku benar-benar tidak peduli lagi.
Ya sudahlah, daripada memikirkan keluarga yang sudah kuputuskan, lebih baik kupikirkan apa yang kulakukan setelah pulang nanti.
"Untuk sementara sih, kayaknya harus andalkan Amazon dan Uber."
Tapi, sebelum itu aku harus beli HP dulu. Tanpa itu, layanan pengiriman pun tidak bisa kugunakan. Begitu keluar, tujuan pertamaku harus ke toko ponsel.
"Hm?"
Dari balik pintu, terdengar langkah kaki berhenti tepat di depan kamarku. Bayangan samar terlihat dari kaca buram, lalu terdengar ketukan tok tok.
"Silakan masuk."
"Permisi~"
Suara lemas nan santai terdengar dari balik pintu.
"Halo, Satoshi-kun. Apa kabar~?"
"Yah, lumayanlah. Nanjou juga kelihatannya masih sama ya."
"Ahaha~ jangan salah, lho. Aku ini sebenarnya setiap hari khawatir banget sama kamu. Oh ya, panggil aku dengan nama, jangan pakai marga. Aku sedih kalau kamu tetap begitu~"
"Ah, maaf. Shuna."
"Ehehe~ senangnya."
Lemah lembut sekali, sampai rasanya lukaku pun ikut sembuh.
Nanjou Shuna. Salah satu heroine 'LoD'.
Ia punya rambut cokelat bergelombang sebahu yang lembut. Kesan pertamanya selalu ramah, dan sikap santainya tidak pernah goyah siapapun lawan bicaranya.
Dia adalah ketua OSIS di angkatanku, dijuluki 'Santo Wanita' karena selalu membantu siapa saja yang kesusahan.
Dan yang paling menonjol adalah… yah, ukurannya. Di antara para heroine dengan tubuh menawan, dia termasuk yang paling besar. Banyak cowok mungkin sudah pernah "terbantu" olehnya.
"Terima kasih sudah menjenguk. Aku benar-benar terbantu."
"Tidak apa-apa~ jangan pikirkan. Aku melakukan ini karena 'suka' kok~"
Dia duduk di kursi di sampingku sambil tersenyum lembut.
"Tiba-tiba saja, Satoshi-kun. Kamu pasti bosan terus-terusan tiduran, kan~?"
"Eh, ya… lumayan sih."
Kenapa gaya bicaranya kayak kuis yang melambat begini…? Intonasinya datar banget sampai bikin aku pengin jatuh tersungkur.
"Untuk itu, aku bawain hadiah~ Taraaa! Aku beliin game!"
Yang dia sodorkan adalah sebuah Game Bo〇. Dan kasetnya Pokémon jadul. Itu game yang dirilis lebih dari dua puluh tahun lalu.
Hah? Kuno banget!?
Aku sampai bengong, sementara Akina tersenyum kikuk.
"Soalnya aku nggak punya uang buat beli game terbaru~ Jadi, maaf ya, ini cuma barang bekas."
"Ah, begitu ya."
Malah aku salut, dia bisa nemu barang kayak gini.
"Sebenarnya aku pengin beliin yang baru, tapi gimana pun caranya, uangku selalu kurang. Aku bener-bener payah, ya. Bahkan ke penyelamat hidupku aja, aku cuma bisa kasih beginian… hiks."
Eh!?
Tiba-tiba Shuna menitikkan air mata dan meminta maaf dengan suara tersendat. Aku jadi panik dan kalang kabut.
"Maaf ya. Maaf banget. Aku nggak bisa memaafkan diriku sendiri yang cuma bisa kasih hadiah bekas ke orang yang udah nyelamatin nyawaku…"
Ya ampun…
Keluarga Shuna memang super miskin. Padahal dulunya, orang tuanya adalah pengusaha sukses yang membangun perusahaan dari nol. Akina sendiri awalnya adalah putri direktur.
Tapi kemudian, pegawai yang mereka percayai menggelapkan dana perusahaan. Lebih parahnya lagi, uang itu habis dipakai buat judi dan pacuan kuda. Ketika ketahuan, uang sepeser pun tidak tersisa.
Karena tidak ada yang bisa disita dari orang itu, perusahaan keluarganya pun langsung terjun bebas. Sekarang, mereka harus bertahan dengan utang demi menjaga perusahaan tetap berdiri.
Akina mulai kerja sambilan sejak masuk SMA untuk membantu keuangan rumah. Katanya, keluarga mereka punya moto 'meski miskin, hati jangan sampai miskin'. Mungkin itulah yang mendasarinya jadi ketua OSIS dan suka menolong orang lain. Benar-benar gadis yang patut dikasihani sekaligus dihormati.
Di 'LoD', memang ada rute di mana sang protagonis membantu perusahaan Shuna. Tapi, yah… dari awal ini sudah jadi bad end, jadi anggap saja sudah paham, lah.
"Shuna, tolong angkat kepalamu. Terima kasih untuk hadiahnya, ya?"
"…Tidak. Rasanya aku malah ngasih sampah ke kamu. Maaf ya."
"Tidak begitu. Kamu sengaja membawakan game ini karena tahu aku bosan di rumah sakit, kan? Itu saja sudah membuatku senang."
"Tapi…"
"Tidak ada 'tapi'. Justru aku excited bisa main game jadul kayak gini. Memang game modern itu bagus, tapi yang retro juga punya daya tarik sendiri."
"…Beneran~?"
Cahaya kembali ke matanya. Sepertinya dia percaya dengan kata-kataku. Tinggal sedikit lagi.
"Aku nggak bohong. Ayo, Shuna, duduk di sini. Kita main bareng."
"U-un… makasih ya~"
"Aku yang seharusnya berterima kasih…"
Di dunia ini, berapa banyak orang miskin yang masih mau mengeluarkan uang demi orang lain? Aku benar-benar berharap orang-orang yang membuatnya menderita—termasuk protagonis asli—cepat-cepat mampus.
Meski begitu… ternyata game jadul susah sekali dinyalain. Wajar sih, ini dirilis saat aku di kehidupan sebelumnya bahkan belum lahir. Mungkin memang beginilah cara menikmati game retro.
"Wow~ parah banget patah-patahnya, ya~"
Akina menatap layar dengan mata berbinar. Ya wajar sih, dia bahkan nggak punya HP.
Tapi, jaraknya terlalu dekat!
Ada aroma lembut seperti bunga bercampur hangatnya tubuh. Dia tampak asyik bermain game di sampingku, tidak sadar kalau jarak tubuh kami benar-benar nol.
Buat remaja lelaki normal, ini terlalu memicu. Aku buru-buru menarik napas dalam-dalam dan fokus ke layar.
Tapi ternyata lebih susah dari perkiraan. D-pad di kiri masih mudah dipencet, tapi tangan kananku yang lumpuh bikin sulit menekan tombol A-B di kanan. Main dengan satu tangan itu benar-benar berat.
"Ada apa, Satoshi-kun~?"
"Ah? Oh, aku cuma kesulitan menekan tombol kanan karena tanganku yang ini nggak bisa dipakai."
"Ah iya, aku lupa. Maaf ya, aku nggak peka~"
Dia berkata begitu, lalu beban di sisi kiriku hilang. Anehnya, aku malah merasa kehilangan.
Memang benar, kita baru sadar berharganya sesuatu saat sudah hilang…
Saat aku termenung, Shuna berpindah ke sisi kananku, lalu menyender pelan. Dari arah kanan, dia menempel ke tubuhku, lalu meletakkan tangannya di game console.
"Aku yang tekan tombol kanan, ya~ Dengan begini, kita bisa main bareng."
Dorongan hangat dari sisi kanan seharusnya membuatku merasa bahagia… tapi tidak. Karena tangan kananku mati rasa, kebahagiaan itu terasa setengah saja.
Sial!
"Fufu, jadi ini yang disebut kerja sama dalam permainan ya~"
"Kurasa bukan begitu maksudnya"
Kalau memang ada kerja sama seperti ini dalam game-game untuk para pasangan, pasti penjualannya akan jauh lebih tinggi.
Tapi kenyataannya, aku memang kesulitan karena tangan kananku tidak bisa dipakai, dan sekarang Akina membantu menekannya dari sisi kanan. Jujur saja, ini sungguh sangat membantu. Dalam hati aku sampai menunduk memberi hormat pada Shuna.
"Hmm~ ada apa~?"
"Ah, tidak ada. Untuk sisi kanan, kupercayakan padamu"
"Un! Ini 'kerja sama pertama' kita ya~"
"Iya, benar"
Secara teknis memang begitu, tapi Shuna terlalu menekankan kata "pertama" barusan. Yah, sebaiknya tidak kupikirkan terlalu jauh.
Setelah itu, waktu bermain kami dipenuhi dengan detak jantung yang kencang karena berbagai alasan. Namun, seperti biasa, waktu yang menyenangkan selalu cepat berlalu. Aku memang sedang kelaparan hiburan di rumah sakit ini, jadi mungkin terasa makin singkat. Dan akhirnya, jam besuk pun berakhir.
"Ah~, jadi waktunya sudah habis ya~"
"Sayang sekali. Yah, lain kali kita main lagi"
Aku mematikan konsolnya. Dan aku baru sadar nanti kalau tindakanku itu sangat ceroboh. Hint: "report."
"Shuna, habis ini kamu ada kerja sambilan ya?"
"Iya~. Soalnya di tempatku ada jatah makan juga~. Jadi aku bakal bertahan sampai toko tutup~"
"Hebat juga kamu"
Shuna mengepalkan tangan sambil menaruh semangat. Tapi entah kenapa, gerakannya terlihat lebih seperti orang kehilangan tenaga daripada yang benar-benar bersemangat.
Ia mengenakan mantel yang kusam dan penuh lubang di beberapa tempat. Anehnya, itu tidak membuatnya terlihat menyedihkan, malah justru makin menonjolkan pesonanya.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau sampai pingsan, semua usahamu jadi sia-sia"
"Terima kasih~, tapi aku baik-baik saja kok~. Soalnya satu-satunya kelebihanku itu 'selalu sehat'~"
Shuna tersenyum ceria sambil membuat tanda peace di samping wajahnya. Itu sepertinya tanda khasnya untuk mengatakan "aku baik-baik saja."
"Kalau begitu ya sudah. Tapi kalau ada masalah, bilang saja padaku. Apa pun yang terjadi, aku pasti akan membantumu"
"──Eh?"
Eh? Kenapa ekspresinya begitu?
Shuna hanya menatapku dengan kosong. Dari wajahnya saja aku tidak bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan, tapi ia terus memandangku tanpa berpaling.
"Shuna?"
Aku tidak terbiasa dipandangi terus-menerus begini, jadi aku mencoba bertanya hati-hati agar tidak salah bicara.
"Hm? Ah~, tidak ada apa-apa kok~"
Shuna mengibaskan tangan sambil tersenyum lemah. Senyumnya memang ada makna terselubung, tapi jelas dia tidak ingin aku menanyakan lebih jauh. Kalau begitu, aku pun tidak akan mendesak.
Namun, ia membuka mulut lagi.
"……Belakangan ini~, perusahaan ayahku lumayan membaik, lho~. Berkat itu, aku bisa melanjutkan kuliah~"
"Wah! Itu kabar bagus"
"Iya~. Katanya ada seseorang yang bikin pesanan besar, jadi dari situ bisa diputar buat bayar uang kuliahku~. Benar-benar rezeki dari langit~"
Itu memang kabar baik. Dan aku tahu siapa "penyelamat" itu. Sama seperti biasanya… ya, sebut saja namanya.
"Bukannya itu karena Sano ya? Aku dengar dia semangat bilang, 'Aku akan kuliah bareng Akina!'"
Memang benar, perusahaan keluarganya Shuna sempat terancam bangkrut tahun ini. Tapi tiba-tiba ada pesanan besar yang masuk, dan itu semua ulah Sano. Katanya ia pakai semua tabungannya, bahkan kerja ekstra untuk menutup kekurangannya.
"Nee, Satoshi-sama~"
"Hm?"
Shuna tersenyum, tapi anehnya senyumnya terasa dingin. Dia berjalan mendekat ke arahku, lalu berbisik,
"Boleh pinjam telingamu sebentar~?"
"? Yah, oke"
Tidak ada orang lain di ruangan ini, jadi aku tidak mengerti maksudnya. Tapi aku tetap mendekatkan telinga.
"──Pembohong"
"Eh?"
Suara bisikan lembutnya membuat telingaku geli. Tapi waktu kutanya maksudnya, ia hanya tersenyum seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
"Oh iya, Satoshi-kun. Aku sudah tidak tertarik sama orang itu lagi kok. Jadi jangan repot-repot mikirin hal yang tidak penting~"
"Eh? A-ah… iya"
Sama seperti Satsuki dan Reine, sepertinya Shuna juga sudah tidak peduli dengan Sano.
Ya sudahlah. Tapi… serius, apa dia sadar kalau setiap kali aku menyebut nama Sano, satu per satu cewek yang dulu menyukainya langsung menjauh? Aku sih senang-senang saja, tapi tetap saja aneh.
"Orang yang akan kuserahkan segalanya hanyalah Satoshi-kun──sampai mati"
"A-ah… iya"
Itu terlalu berat, tahu!?
Shuna biasanya bicara dengan nada lembut dan panjang, tapi kalimat terakhir itu dia ucapkan dengan tegas. Justru karena itu, aku bisa merasakan kesungguhan hatinya, dan itu malah membuatku ngeri.
"Kalau begitu aku pergi dulu~. Lain kali main bareng lagi ya~"
"Iya, sampai jumpa"
Dengan lambaian tangan riang, Shuna keluar dari kamar.
Aku sungguh ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit ini…
◇
Setelah Shuna pulang, aku berniat melanjutkan game tadi. Tapi semua datanya sudah kembali ke awal. Rupanya game lama ini tidak punya fitur auto-save. Semua usaha kami tadi jadi sia-sia.
…Yah, mungkin ini juga bagian dari "pesona" game retro. Dengan berpikir begitu, aku mencoba menghibur diri.
Lagipula, aku masih dirawat di rumah sakit. Hal remeh begini tidak perlu dibesar-besarkan. Malah bisa dibilang, aku mendapat hiburan tambahan untuk membunuh waktu.
Berpikir positif memang penting. Tinggal sedikit lagi, dan aku bisa keluar dari sini.
"Tapi ya… si Sano benar-benar sudah dibenci semua orang ya"
Dia pantas mendapatkannya, jadi aku tidak akan kasihan. Rasakan itu.
Aku sudah berjuang mati-matian supaya dia bisa dapat akhir yang bahagia bersama para heroine. Kalau cukup dengan uang saja, seharusnya mudah. Tapi aku harus berpura-pura jadi Sano, harus membantu heroine secara diam-diam dan memberikannya pada Sano seolah itu jasanya. Itu benar-benar menyiksa. Karena apa pun yang kulakukan, hasilnya akan dikreditkan pada dia, sementara imbalanku hanyalah kesempatan tipis untuk tetap hidup.
Entah berapa kali aku hampir tenggelam dalam rasa hampa…
Aku hanya bisa menganggap senyuman heroine sebagai hadiah. Tapi karena semua ini berakhir dengan bad end, aku akan membencinya seumur hidupku.
Memang sulit. Yang paling parah adalah "kekuatan paksa dunia." Kalau aku terlalu menyimpang dari skenario 'LoD', aku akan langsung dihalangi. Itu membuat semuanya jadi serba terbatas.
"Andai saja tidak ada itu, hidupku akan jauh lebih mudah……"
"'Itu' yang kamu maksud apa?"
"Ah, itu maksudnya… dunia ini punya──wah!? Sejak kapan kamu ada di sini!?"
Aku hampir terjungkal karena tiba-tiba wajah cantik bak patung dewi muncul tepat di sampingku.
"Fufu, baru saja kok. Aku melihatmu sedang tenggelam dalam pikiran, jadi aku masuk tanpa suara agar tidak mengganggu"
"Tolong jangan begitu lagi… hampir jantungan aku. Lebih baik panggil aku biasa saja"
"Baiklah. Satoshi-sama"
"……Tolong, jangan pakai '-sama'. Kalau putri keluarga Shinonome memanggilku seperti itu, situasinya bisa runyam"
"Fufu, baiklah kalau begitu. Aku akan memanggilmu Satoshi-san"
Ia menutup mulutnya sambil tersenyum lembut. Sama seperti Satsuki, Reine, dan Shuna, entah kenapa mereka semua memanggilku dengan embel-embel "Sama." Memang benar aku pernah menyelamatkan mereka, tapi tetap saja, sebutan itu terlalu berlebihan.
Apalagi, kalau dipikir-pikir, justru aku yang seharusnya memanggil gadis di depanku ini dengan penuh hormat.
"Dan, tolong panggil aku Shino saja. Jangan terlalu kaku. Kita ini sudah cukup dekat kan?"
"Baiklah… Shino"
Aku sudah belajar dari tiga gadis sebelumnya. Kalau mereka meminta dipanggil dengan nama depan, maka aku harus menuruti. Begitulah cara memperlakukan perempuan, setidaknya dari pengalamanku.
Shinonome Shino. Heroine terakhir dari 'LoD'.
Ia adalah gadis cantik nan anggun dengan rambut hitam pekat seperti langit malam, berkilau mempesona. Bukan hanya menempati peringkat teratas di sekolah, tapi juga termasuk salah satu yang terbaik di seluruh negeri. Cantik, pintar, pandai dalam olahraga, benar-benar sosok yamato nadeshiko sejati.
Sebagai putri keluarga Shinonome yang kaya raya, ia menjadi kontras dengan Shuna si gadis miskin. Mereka sering dibanding-bandingkan, meski bagiku keduanya sama-sama berharga dan tidak bisa dibandingkan.
"Jadi, apa yang tadi sedang kamu pikirkan?"
"Ah, itu……"
Tentu saja aku tidak bisa bilang soal kekuatan paksa dunia.
"Soal uang. Aku sedang berpikir untuk mengalihkan investasiku ke perusahaan lain. Kayaknya perusahaan yang sekarang sudah mentok"
Sial, alasanku terdengar begitu murahan. Ini topik yang tidak cocok sama sekali untuk dibicarakan dengan gadis SMA normal.
Kalau gadis biasa, pasti jawabannya hanya "oh begitu ya" dan selesai.
Tapi Shino bukan gadis biasa.
"Begitu ya. Kalau begitu, bagaimana dengan perusahaan Hoshi Net? Mereka adalah perusahaan baru yang bergerak di bidang jasa penyedia tenaga kerja. Model bisnisnya unik, dan menurut para analis, dalam setahun pendapatannya bisa naik dua kali, bahkan tiga kali lipat"
Tentu, dia akan membalas dengan jawaban serius begini.
"Tidak, Hoshi Net tidak bagus. Aku tidak yakin mereka bisa terus berkembang"
"Mengapa begitu? Bukankah model bisnis penyedia tenaga kerja itu unik dan menarik bagi investor?"
"Alasannya sederhana. Bisnis seperti itu gampang ditiru. Kalau perusahaan besar─misalnya saja Shinonome Group─menyalin model bisnis itu bulat-bulat, keuntungan Hoshi Net akan langsung hilang"
“Fufu, memang luar biasa tajam pengamatanmu. Sungguh mengagumkan.”
Begitu ucapnya sambil bertepuk tangan dengan ekspresi senang.
Ya ampun, padahal jelas-jelas tadi dia cuma menguji aku.
Itu trik yang sering dipakai perusahaan besar. Kalau ada model bisnis atau produk yang bagus muncul, mereka tinggal menggelontorkan modal besar untuk membuat produk tiruan. Aku sendiri tidak menganggap itu cara licik, tapi bagi perusahaan kecil, itu jelas pukulan telak.
“Seperti yang kamu tebak, konglomerat Shinonome berencana mendirikan perusahaan dengan bidang yang sama seperti Hoshi Net. Modal dan SDM yang kami siapkan jumlahnya berkali lipat dari mereka.”
“Gila banget… ya, meski begitu, bisa dibilang salah sendiri kalau idenya diplagiat.”
“Betul. Dunia ini adalah tempat di mana yang kuat memangsa yang lemah. Menunjukkan kelemahan dan celah menguntungkan adalah kesalahan mereka sendiri.”
Cara dia mengatakan hal itu benar-benar menunjukkan kalau logikanya sudah jauh berbeda dari orang biasa. Padahal dia tahu betul, kalau Hoshi Net hancur, akan ada banyak orang kehilangan pekerjaan dan jatuh ke jalanan.
“Yang jelas, aku sungguh kagum dengan kecerdasanmu, Satoshi-san. Tidak pernah terbayang ada orang yang otaknya bisa menyaingi diriku di kelas yang sama.”
“Kamu terlalu melebih-lebihkan. Lagipula, aku tidak pernah menang dari Shino dalam ujian. Dalam hal itu, Sano justru luar biasa.”
“Fufu, jangan sebut nama itu. Nanti aku jadi timbul niat membunuh.”
“Ah, baik…”
Kelihatannya Sano sudah benar-benar dibenci semua heroine. Benar-benar contoh nyata pepatah ‘mengejar dua kelinci tidak dapat satu pun’—hanya saja dia mengejar empat, dan hasilnya nihil.
Alasan Shino masuk ke SMA biasa seperti kami sebenarnya hanya untuk mencari teman. Di kalangan bangsawan atas, tidak ada orang yang sepadan dengannya. Di ujian simulasi nasional, dia bahkan sering dapat peringkat atas tanpa belajar.
Itulah kenapa dia sengaja masuk ke sekolah biasa. Dia berharap, dengan mengubah lingkungan, bisa bertemu orang-orang menarik. Dan saat itu, yang dia temukan adalah Sano. Bagus, ya?
Shino memang punya kebiasaan menguji orang. Sama seperti tadi waktu bicara soal perusahaan. Itu semacam hobinya, untuk melihat apakah lawan bicara pantas dianggap setara dengannya atau tidak.
Untungnya, aku ternyata berhasil lolos dari ‘saringan’ Shino. Berkat itu, aku bisa menikmati percakapan dengannya.
“Aku tidak tahu apa motifnya, tapi sepertinya Satoshi-san sengaja menahan diri di ujian. Ada pepatah ‘elang sejati menyembunyikan cakarnya’, kan? Menurutku, demi bisa hidup panjang dengan aman, tidak menonjol adalah pilihan paling bijak.”
Dia tersenyum penuh makna, seakan berkata: “Aku tahu kok.”
…Padahal aku benar-benar serius ingin meraih peringkat satu.
Tapi karena adanya ‘kekuatan paksa dunia’, nilainya dipaksa rata-rata.
Baiklah, sampai di sini aku jelaskan dulu soal ‘kekuatan paksa dunia’.
Dunia ini adalah dunia galge bernama Love or Dead (LoD). Artinya, dunia ini berjalan dengan skenario. Kalau ada yang berusaha melenceng, dunia akan melakukan penyesuaian paksa agar semuanya kembali sesuai naskah.
Contohnya, aku tahu Shino mencari seseorang dengan kecerdasan setara dirinya. Karena itu, meski aku hanya karakter mob, aku mencoba mendekatinya dengan cara mendapat nilai sempurna di semua mata pelajaran.
Seharusnya hasilnya penuh, tapi nilai yang keluar justru hancur. Bahkan ada jawaban benar yang sengaja diberi tanda salah, membuat nilainya turun drastis. Aku sudah berkali-kali protes, tapi selalu ditolak mentah-mentah. Anehnya, jawaban yang sama milik orang lain dianggap benar.
Awalnya aku tidak paham, tapi akhirnya sadar: ini adalah koreksi dari LoD. Dalam naskah aslinya, Shino memang ditulis sebagai gadis jenius peringkat satu sampai dia jatuh cinta pada Sano. Karena aku berusaha mengubah itu, dunia memperbaiki jalannya dengan memanipulasi nilainya.
Rasanya seperti jawaban benar milik Nobita yang tetap diberi nilai nol.
Jujur saja, itu sangat menyebalkan. Aku juga pernah mencoba mengubah alur lewat olahraga atau tes simulasi, tapi hasilnya tetap digagalkan. Misalnya, saat lari 50 meter, aku jatuh tersungkur; saat ujian, nilainya nol hanya karena ‘lupa menulis nama’.
Dari situlah aku sadar diri. Tidak peduli sekeras apa pun aku berusaha, mob tetaplah mob. Skenario adalah hukum mutlak, dan aku tidak bisa menentangnya.
Lagipula, kalau skenario bisa diubah semauku, aku jelas tidak akan sampai mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan heroine.
“Satoshi-san, kalau bisa, aku ingin kecerdasanmu digunakan untuk mendukung konglomerat Shinonome.”
“Ah, tolong jangan bercanda…”
Padahal soal Hoshi Net tadi, aku hanya memanfaatkan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya. Dunia ini sangat mirip dengan duniaku dulu, hanya saja waktunya sedikit mundur. Tidak semuanya sama persis, tapi cukup banyak yang cocok.
Aku tahu akhir dari Hoshi Net di dunia sebelumnya. Jadi aku hanya menggabungkan informasi itu dengan logika sederhana lalu menyebutnya sebagai analisis.
Ngomong-ngomong, alasanku paham soal saham dan forex juga karena masa lalu. Aku pernah jadi NEET yang menyusahkan keluarga, jadi ingin mencari jalan pintas. Karena itu, aku belajar sungguh-sungguh demi bisa menang besar lewat saham dan forex.
Hasilnya? Semua modal ludes, yang tersisa hanya rasa bersalah.
Karena itu, aku sempat berpikir untuk mengumpulkan uang sebelum melewati usia yang pernah kualami di kehidupan sebelumnya. Tapi karena insiden brengsek kemarin, uangku hampir habis… Sekarang kondisiku benar-benar gawat.
“Itulah sebabnya… aku sangat bersyukur Satoshi-san tidak meninggal…!”
“Eh?”
Saat aku sedang resah memikirkan masa depan, Shino tiba-tiba memelukku erat. Suaranya bergetar disertai isakan.
“Kalau saat itu Satoshi-sama benar-benar mati demi aku, rasanya mengerikan sekali… Saat hari-hari berlalu tanpa kau terbangun, aku bahkan tidak bisa tidur. Kalau sampai terjadi yang terburuk… aku sudah siap menyusulmu.”
Eh!? Berat banget!?
Untung saja aku masih hidup, kalau tidak aku pasti bertemu dia lagi di neraka.
“Shino, aku masih hidup kok. Jadi tidak perlu berpikir sejauh itu.”
“Tapi… semua ini salahku…”
Dia melepaskan pelukannya, lalu menatap ke arah lengan kananku.
“Luka di tangan ini adalah medali kehormatan. Aku yang tadinya bukan siapa-siapa, bisa jadi pahlawan yang menyelamatkan gadis secantik kamu. Itu cukup untuk jadi kebanggaan seumur hidup. Jadi, jangan merendahkan dirimu lagi.”
Dalam hidupku—baik dulu maupun sekarang—aku tidak pernah bisa berguna untuk orang lain. Tapi kali ini, aku rela mengorbankan diriku dan berhasil menyelamatkan seseorang. Dan bukan sembarang orang, tapi heroine dari LoD.
“…Kata-kata itu curang sekali, tahu?”
Dia kembali menyembunyikan wajah di pangkuanku, suaranya terdengar sedikit merajuk.
Seperti yang kuduga, Shino memang pintar. Kalau dia terus menyalahkan diri sendiri, itu sama saja melecehkan pengorbananku. Sebagai orang yang menjunjung kehormatan, Shino pasti tidak bisa melakukan itu. Dia benar-benar gadis yang luar biasa.
…Tapi, kok lama sekali ya?
“Shino?”
“Maaf… biarkan aku seperti ini sepuluh menit lagi, hff hff.”
“Ah, baiklah.”
“Maaf, air mataku belum berhenti, hff hff.”
Bohong banget!?
Aku tidak mendengar suara tangisan sama sekali, malah terdengar seperti napas bersemangat.
Meski begitu, aku tidak bisa menyangkal: di antara Shihō Bijin (Empat Gadis Tercantik), Shino adalah yang paling… sensual. Ada pepatah ‘wanita penuh rasa ingin tahu biasanya lebih sensual’, dan Shino benar-benar contoh nyatanya.
Terus terang aku sempat kaget. Kukira dia hanya bersikap begitu pada pria yang benar-benar dia sukai, tapi ternyata pada orang sepertiku pun dia bisa bergairah. Nanti saat kuliah, jangan-jangan dia malah masuk klub liar?
Ketika aku memikirkan hal itu, Shino mendongak lagi dengan wajah datar.
“Maaf, aku agak terbawa suasana tadi.”
“Kalau sudah lega, tidak apa-apa.”
Shino merapikan rambut hitamnya yang berkilau, lalu menutupi perasaan dengan anggun. Aku pura-pura tidak peka, tapi bisa kulihat wajahnya sudah jauh lebih segar daripada saat baru datang tadi. Meski begitu, aku masih khawatir.
“Fuu… sepertinya waktu menyenangkan kita sudah habis. Aku harus menghadiri jamuan makan setelah ini.”
“Pantas saja, namanya juga putri konglomerat. Sibuk sekali.”
“Ya… memang merepotkan, tapi demi keluarga tidak ada pilihan lain. Aku akan datang lagi nanti.”
“Oke, hati-hati di jalan.”
Dia berdiri dari kursi dan hendak membuka pintu, tapi tangannya terhenti.
“Satoshi-san…”
Dia bertanya tanpa menoleh ke arahku.
“Ada yang tertinggal?”
“Tidak. Hanya ada satu hal yang ingin kutanyakan.”
“Hmm? Apa itu?”
“Apakah Satoshi-sama benar-benar tidak punya orang yang kau benci sampai ke akar hati?”
“Eh?”
Dia melepaskan tangannya dari pintu, lalu menoleh, menatapku lurus dengan sorot mata yang tajam.
“Contohnya, bagaimana perasaanmu pada orang yang menabrakmu dengan mobil waktu itu?”
Ah, jadi maksudnya itu. Dari sudut pandang Shino, pengemudi truk yang menabrakku memang terlihat seperti pelaku.
“Tidak, sama sekali tidak. Aku tidak pernah membencinya. Malah aku merasa kasihan padanya.”
“Eh…?”
Faktanya, setelah aku bicara dengan orang itu, aku merasa ada yang janggal. Logikanya tidak nyambung, persis dengan orang-orang yang sudah terpengaruh oleh ‘kekuatan paksa dunia’. Karena itu, aku tidak bisa membencinya. Aku bahkan tidak menuntut biaya pengobatan.
“Satoshi-san itu terlalu baik…”
Dia tersenyum tipis dengan ekspresi prihatin.
“Tidak kok. Aku juga punya orang yang benar-benar kubenci. Misalnya… dewa yang berusaha membunuh kalian para heroine.”
“…Eh?”
Ruangan seketika terdiam.
Sial… aku terlalu terbawa suasana, sampai keluar ucapan aneh. Tapi ya memang benar, aku benci sekali pada para ‘pencipta’ cerita ini. Dan juga pada Sano. Semoga mereka semua menderita di neraka.
“…Satoshi-sama, tidak, lupakan saja. Lebih penting, bisakah kau mengulurkan tangan kananmu?”
“Kalau bisa sih iya, tapi maaf, aku masih belum bisa menggerakkannya.”
Yang bisa kulakukan hanya sedikit menggoyangkan jari.
“Begitu ya… kalau begitu.”
Dia mendekat ke sisi kananku, lalu dengan lembut mengangkat tanganku. Setelah itu, dia mengecup punggung tanganku layaknya seorang ksatria.
“A-apaan itu!?”
Aku panik bukan main, sementara wajah Shino memerah dan menatapku.
“Satoshi-sama… aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu yang telah menyelamatkanku.”
“Ah… iya, sama-sama…”
"Apa pun percikan api yang mengancammu, akan aku singkirkan semuanya──seperti yang pernah kau lakukan untukku."
"Hah?"
Aku ingin menanyakan maksud sebenarnya dari kata-kata Shino, tapi dia sudah berdiri dan berjalan cepat menuju pintu keluar ruang perawatan.
"……Kalau begitu, sampai jumpa. Dari hati, aku berdoa semoga kau cepat sembuh."
"Ah, iya."
Pintu ditutup dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara. Tadi waktu masuk juga tanpa suara, rupanya memang begitu cara dia bergerak. Bahkan membuka dan menutup pintu pun ada tekniknya.
Tapi yang lebih mengganggu pikiranku adalah rasa tidak enak di hati. Bukan hanya dari Shino saja, tapi juga dari ketiga orang lainnya. Hanya saja, aku belum bisa merangkainya dalam kata-kata.
"Ya sudahlah…… mungkin cuma perasaanku saja."
Tak lama lagi aku akan keluar dari rumah sakit. Kalau sudah begitu, aku mungkin tidak akan pernah berhubungan lagi dengan para heroine 'LoD'.
Kalau dipikir-pikir, rasanya agak sayang juga.
Tapi, bulan April nanti, aku akan menjalani kehidupan kampus pertamaku──bahkan termasuk kehidupanku sebelumnya. Membayangkannya membuat masa depan terasa begitu cerah.
Memang ya, berpikir positif itu penting. Iya.
◇
Hari kepulangan pun tiba. Meski harus dirawat selama tiga minggu, untung saja aku tetap bisa menghadiri upacara masuk kuliah.
Bawaan hanya tas yang kupakai saat kecelakaan, dan seragam sekolah. Agak aneh memang memakai seragam padahal sudah lulus, tapi aku tidak punya pakaian lain untuk keluar, jadi mau bagaimana lagi.
Darah yang menodai seragamku waktu itu sudah dibersihkan dengan rapi, tidak ada bau amis sama sekali. Aku benar-benar berterima kasih pada staf rumah sakit.
"Terima kasih banyak."
Setelah mengucapkan salam pada bagian resepsionis, aku keluar rumah sakit dengan perasaan penuh haru. Begitu melangkah keluar, rasa bebas yang luar biasa menyelimuti hati. Sinar matahari yang hangat dan tunas-tunas sakura yang mulai muncul terlihat di depan mata. Belakangan ini, bunga sakura sering sudah gugur sebelum upacara masuk, tapi melihat ini, sepertinya nanti saat upacara sakura akan mekar penuh.
"Baiklah, uh……"
Luka-luka ini masih belum sembuh total, jadi rasa sakitnya masih ada. Dari luar, mungkin hanya terlihat jelas di lengan kananku, tapi sebenarnya di balik baju tubuhku masih dibalut perban tebal. Berjalan saja terasa melelahkan.
"Haa…… tidak kusangka hanya beberapa langkah terasa seberat ini……"
Aku sempat menyesal, mungkin lebih baik kalau aku tinggal sedikit lebih lama di rumah sakit.
"Satoshi-kun~! Tunggu aku!"
"Hm?"
Aku menoleh, terlihat Satsuki berlari kecil sambil mendorong kursi roda mengejarku.
"Kan lukamu belum sembuh total, jadi jangan jalan sendirian dong? Ayo-ayo duduk sini."
"Ah, uh… terima kasih."
Aku menurut dan duduk di kursi roda, lalu Satsuki sedikit mengembungkan pipinya sambil bertolak pinggang.
"Kamu ini dingin banget sih, Satoshi-kun. Mau pulang di hari keluar rumah sakit kok sendirian."
"Yah, aku tidak menyangka kamu akan datang……"
"Tentu saja aku datang dong. Aku tidak mungkin membiarkan Satoshi-kun yang belum sembuh jalan sendirian!"
"Satsuki……"
Anak baik sekali……
Aksi heroine Satsuki benar-benar bersinar. Aku tidak menyangka dia akan menemaniku bahkan setelah keluar rumah sakit, rasanya bikin bahagia.
"Kalau begitu, sebelum ada pengganggu datang—"
"Apa yang kau lakukan!?"
"Chh."
Eh? Tadi dia mendecakkan lidah?
Karena aku duduk di kursi roda, suara Satsuki yang berada di belakangku terdengar jelas. Mungkin aku salah dengar. Lebih dari itu, suara barusan terasa familiar.
Dari belakang terdengar langkah kaki yang keras mendekat. Saat aku menoleh, aku melihat rambut peraknya berkilau ditiup angin—Reine berlari dengan wajah penuh amarah. Dia berhenti tepat di depan Satsuki, lalu menatapnya tajam.
"Kita sudah janji tidak boleh curang kalau menjemput Satoshi-sama, bukan!?"
"Itu salah paham, Reine. Satoshi-kun kebetulan keluar lebih cepat, jadi kupikir lebih baik aku menjemputnya dulu."
"……Dasar alasan murahan."
"Apa maksudmu, ya~?"
Satsuki menanggapi amarah Reine dengan santai, seakan tiupan angin lewat.
"Reine juga datang ya."
"Eh, i-iya. Walaupun kau sudah keluar rumah sakit, pasti masih susah bergerak. Apa aku merepotkan……?"
Dia menatapku dengan wajah cemas.
"Ah, tidak-tidak. Aku justru senang kalian berdua datang. Terima kasih ya."
"B-bukan apa-apa."
"Ehehe, sama-sama ya~"
Reine pura-pura cuek sambil memutar-mutarkan rambutnya, tapi pipinya merah. Sedangkan Satsuki tersenyum cerah menerima ucapanku dengan senang hati.
"……Apa yang kalian lakukan di sini~?"
"Jadi begitu, kalian memilih cara itu rupanya."
Suara lembut yang hangat dan suara tenang penuh wibawa terdengar. Aku segera menoleh ke depan, terlihat Shuna dengan senyum keibuan dan Shino dengan ekspresi datar tersenyum samar. Keduanya tidak menatapku, melainkan menatap Satsuki dan Reine dengan pandangan menyalahkan.
"Eh, bukankah ini Shuna dan Shino. Ada apa?"
"Fufu, pura-pura tidak tahu begitu ya, Reine-san."
"Entah apa maksudmu."
Tatapan Reine dan Shino bertemu. Keduanya tersenyum, tapi suasana jadi dingin seperti musim dingin kembali.
"Kalian berdua, jangan bertengkar. Sudah lupa dengan 'Perjanjian Empat Penjuru' ya?"
Reine dan Shino yang tadinya saling menatap tajam, sekarang menoleh dengan wajah datar ke arah Satsuki.
"Kau yang bilang begitu, Satsuki……?"
"Yang pertama kali melanggar itu Satsuki-san sendiri, kan? Aku melihatnya dengan mata kepalaku."
"……Entah apa maksudmu."
"Mengapa kau mengalihkan pandangan saat menjawab?"
Sepertinya Reine dan Shino menganggap alasan Satsuki terlalu dipaksakan. Perlahan, mereka berdua mulai mendesaknya ke dinding.
Tiba-tiba kursi rodaku bergerak. Sepertinya Shuna yang mendorong dari belakang.
"Shuna?"
"Shhh~"
Shuna meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
"Biarkan saja tiga orang yang sedang bertengkar itu. Ayo kita pergi~"
"Eh? Ah, tapi…"
"Tidak apa-apa, ayo~"
Atas ajakannya, aku perlahan menjauh dari "sidang" yang sedang dilakukan Reine dan Shino terhadap Satsuki.
"Hei, Satoshi-kun. Aku ada permintaan, mau dengar tidak~?"
"Permintaan? Boleh saja."
"Makasih~. Sebenarnya, aku berencana membeli smartphone baru saat masuk kuliah nanti. Tapi aku tidak tahu apa-apa, jadi aku ingin kau menemaniku~"
"Oh, cuma itu? Kebetulan juga, smartphonku rusak saat kecelakaan, jadi aku memang mau beli yang baru. Bagaimana kalau kita pergi bareng?"
"Ya! Makasih banyak—"
"Tunggu dulu……"
"Chh."
Hah? Apa aku baru saja mendengar Akina mendecakkan lidahnya? Padahal dia biasanya lembut begitu……
"Benar-benar, kau selalu saja tidak bisa dibiarkan sendirian."
"Apa maksudmu, ya~?"
Reine mulai menekan Shuna, tapi dia tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Sepertinya poker face-nya paling kuat di antara mereka.
"Satoshi-san."
"Shino? Ada apa?"
Dia berlutut di depanku, lalu menggenggam tanganku.
"Tidak ada, hanya saja aku ingin mengucapkan selamat atas kepulanganmu. Aku benar-benar senang."
"Ah, iya. Terima kasih."
Senyuman Shino yang biasanya datar terasa begitu dahsyat! Aku jadi malu dan buru-buru memalingkan wajah. Tapi di arah pandangku, ada Satsuki dengan wajah pucat dan sorot mata kosong.
"Curang……"
"Hm? Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak tahu……"
Satsuki dan Shino, lalu Shuna dan Reine, semuanya saling menatap tajam. Aku tidak bisa menghentikan mereka, apalagi sedang duduk di kursi roda. Akhirnya, aku memilih melarikan diri ke dalam pikiranku.
Ngomong-ngomong, nama "Perjanjian Empat Penjuru" itu membuatku bernostalgia……
Itu adalah kesepakatan setelah mencapai ending harem dengan Sano, agar para heroine tidak bertengkar memperebutkannya. Kata itu sama sekali tidak muncul di rute individu atau bad end.
Yah, pada akhirnya mereka tetap melanggarnya dan terus rebutan sih……
Tapi ada hal yang mengganggu pikiranku. Syarat agar bisa masuk ending harem adalah hubungan baik antar-heroine. Untuk itu, masalah pribadi masing-masing heroine harus diselesaikan. Tapi, Sano tidak mampu melakukannya.
Artinya, karena hubungan mereka tetap buruk dan saling bertentangan, pengakuan cinta konyol itu akhirnya tidak diterima.
Kalau sekarang bagaimana ya……?
Mungkin hanya hal sepele.
"Satoshi-kun, kenapa bengong?"
Satsuki menyapaku, membuatku sadar kalau aku melamun. Rupanya pertengkaran mereka sudah berhenti, dan sekarang semua menatapku.
"Kalian semua… bisa hidup, itu sudah cukup membuatku bahagia……"
"──"
Aneh, padahal langit cerah, tapi pandanganku mulai kabur.
Yang ingin kulindungi sejak awal adalah masa depan mereka yang hancur karena kehendak para pembuat cerita. Untuk itulah aku rela mengorbankan nyawaku.
Dan sekarang, mereka berhasil melewati ending kematian itu, dan benar-benar hidup di masa kini. Hanya itu saja sudah membuat hidupku terasa punya arti.
Mulai dari sini, tidak ada lagi skenario yang tertulis. Para heroine akhirnya bebas.
Saat aku berpikir begitu, tatapanku bertemu dengan mata mereka yang sedang menatapku penuh perhatian. Pipiku terasa panas.
"Maaf, aku jadi memperlihatkan sisi memalukan. Beri aku sebentar, ya."
Rasa malu yang menyerang membuatku cepat-cepat mengusap air mata. Tapi semakin aku berusaha terlihat biasa, semakin kelihatan konyol.
"Itu tidak memalukan kok. Kau selalu menolong kami, kan."
"……Eh?"
Tiba-tiba, dari bahu, punggung, sampai lenganku, terasa banyak tangan yang menyentuhku. Butuh waktu sebentar untuk sadar kalau itu tangan keempat heroine.
"Apa…… maksudnya?"
"Buat kami, kau adalah penyelamat. Tidak mungkin kami menganggapmu memalukan."
"Kalau bukan karena kau, aku pasti sudah mati."
"Jangan bilang dirimu jelek. Satoshi-san itu lebih keren dari siapa pun."
Ucapan mereka yang hangat masuk ke telingaku, dan entah kenapa menancap kuat di dalam dada.
Ahh…… akhirnya semua terbayar……
Saat aku larut dalam perasaan itu, mereka melepaskan pelukan, lalu menatapku dengan mata lembut.
"Ayo, kita rayakan kepulanganmu! Kami sudah pesan tempat yakiniku spesial buatmu!"
"Eh!? Serius?"
Aku refleks menanggapi kata-kata Satsuki. Setelah makan makanan rumah sakit terus, aku benar-benar mendambakan daging. Perutku bahkan ikut berbunyi.
"Haa… jangan bilang seolah-olah itu jasamu, Satsuki. Tempatnya adalah restoran yakiniku mewah milik keluarga Shinonome."
"Eh, jangan-jangan harganya selangit……"
Aku langsung pucat. Karena ulah Sano, uangku hampir habis.
"Tenang saja. Ini perayaan, jadi kami tidak akan membiarkanmu mengeluarkan sepeser pun. Malam ini gratis untukmu."
"Oooh…… terima kasih banyak……"
Astaga, Shino benar-benar terlihat seperti dewi sekarang.
"Sudah lama sekali aku tidak makan yakiniku~"
"Aku malah pertama kali. Aku tidak pernah makan di luar bersama keluarga… bahkan tidak punya teman…"
"Kalian berdua makanlah yang banyak."
Aku ingin memperlakukan Shuna dan Reine dengan baik. Mereka sudah terlalu banyak menderita, setidaknya biarkan mereka merasakan bahagia.
"Baiklah, kalau begitu, let's go!"
Suara penuh semangat Satsuki bergema.
Satoshi-kun, kau benar-benar baik hati.
Aku sangat menyukaimu.
Tiba-tiba saja, maaf ya?
Sebenarnya, kami menyimpan dua rahasia darimu.
Yang pertama, kami tahu kalau hari itu kami seharusnya mati.
Kau mengorbankan dirimu untuk menolong kami, membuat kami berhutang budi yang takkan terbalaskan. Terima kasih.
Tidak, bukan hanya itu.
Sebenarnya, selama ini kau sudah selalu melindungi kami, kan?
Kau menyebutnya ‘kekuatan paksa dunia’, ya?
Memang karena itu kami tidak mengingatnya, tapi sekarang kami sudah tahu.
Makanya, kami bertekad akan mendukungmu seumur hidup.
Karena kau yang selalu melindungi kami dari balik bayangan, kami punya hutang sebesar itu padamu. Aku yakin, ketiga orang lainnya pun merasakan hal yang sama.
Dan rahasia kedua.
Itu adalah tekad kami untuk membunuh sumber segala keburukan yang telah mempermainkan hati dan nyawa kami, serta melukai Satoshi-kun──Sano Yuuto, si kehendak jahat dari ‘kekuatan paksa dunia’.



Posting Komentar