no fucking license
Bookmark

Prolog Mesugaki

 "Om, kenapa siang-siang di hari kerja malah keluyuran? Nggak kerja? Ah… maaf ya, pasti karena Om itu nggak berguna, ya? Soalnya Om itu nggak bisa bersosialisasi, nggak cekatan, terus jelek juga. Jadi nggak ada yang mau ngasih kerjaan, kan? Semoga Om bisa terus nebeng hidup sama orang tua ya♡ Om benalu♡"


"Senpai~? Jangan mandang aku dengan tatapan jijik kayak gitu dong. Aku tahu kok, Senpai suka telapak kakiku, kan? Nih, silakan dicium langsung. …Ih, kayak babi. Suara ngoroknya jijik banget♡ Nggak malu ya, berlutut di depan juniornya sendiri♡"


"Dasar guru payah, guru mesum! Lolicon! Kriminal! Makanya nggak punya pacar, soalnya nafsunya ke murid sendiri, ya kan? Kapan kencan buta berikutnya, Pak Guru? Jangan sedih~ Sebagai hiburan, aku tunjukin celana dalamku deh buat guru menyedihkan kayak kamu♡ Ahahaha, gugup banget sih~!"


Di dunia ini, ada gadis-gadis yang disebut "Mesugaki".


Mereka masih muda, tapi suka meremehkan pria dan menganggap pria itu lebih rendah dari mereka. Penampilan dan gaya bicara mereka genit dan vulgar. Mereka sengaja menggoda untuk membangkitkan hasrat pria-pria lemah. Singkatnya, mereka adalah gadis-gadis dengan kepribadian buruk.


Begitu mereka menemukan pria yang terlihat gampang diejek, mereka langsung mendekat tanpa ragu. Mereka bertingkah genit, bersikap sugestif, memakai pakaian yang menggoda, dan melempar hinaan untuk menjatuhkan harga diri lawannya. Mereka senang melihat pria yang menderita karena terjebak antara hasrat dan harga diri. Kadang mereka bahkan memeras—entah uang, barang, atau keduanya—dari pria yang sudah menyerah sepenuhnya.


Sekali kamu kalah, mereka nggak akan berhenti mengganggu.


Kalau kamu nggak bisa tahan sama provokasi mereka, berarti kamu "kalah".


Cara menghadapinya cuma tiga yaitu Menahan diri, Mengabaikan, atau menang.


Dua cara pertama biasanya bikin Mesugaki bosan dan pergi sendiri. Tapi cara ketiga… adalah dengan sengaja terpancing, lalu membuat mereka tunduk sepenuhnya. Entah dengan kekuatan, teknik, atau dominasi mental. Ini disebut "membuat mereka paham" di kalangan para gentleman yang melawan Mesugaki.


Ya—ini bukan interaksi biasa.

Ini pertarungan.


Para pria itu setiap hari mempertaruhkan harga diri dan status sosial mereka dalam duel melawan gadis-gadis Mesugaki.



Tatapan tajam…


Kalau ditatap seperti itu terus, ya pasti jadi malu juga.


Apalagi yang menatap adalah lawan jenis—dan bukan sembarang lawan jenis, tapi cewek paling imut di kelas.


"Yahiro, mukamu lucu banget."


"Muka bego."


Itu terjadi di dalam kelas. Seorang gadis sedang jongkok santai, menempel ke meja seperti hamster yang lagi minta makan, lalu menatapku dari bawah sambil berbisik pelan.


"Mukanya Yahiro, bego. Tapi begonya punya cita rasa."


"Nggak usah diulang sampai tiga kali juga. Seberapa pengin kamu tekankan sih?"


"Aku bakal umumkan ke seluruh dunia. Dalam promosi, jumlah itu penting."


Wajahnya, dengan rambut pirang keemasan yang dipotong medium bob, terlihat begitu kekanak-kanakan, sampai-sampai bisa dikira anak SD.


Mata bulatnya berwarna ungu seperti bunga violet, bersinar penuh rasa ingin tahu.


Ekspresinya? Datar banget.


Tubuhnya mungil, sangat mungil—beda tinggi kami hampir dua kepala, mengingat aku 170 cm. Katanya sih, baru-baru ini tingginya akhirnya nyentuh 140 cm. Dia nggak pakai blazer sekolah karena ukuran terkecil pun tetap kebesaran, jadi dia cuma pakai kardigan biru muda, yang kelihatan seperti dia "dipakaikan" daripada benar-benar "memakai".


Kemeja putihnya pun kebesaran sampai lengannya jadi "lengan moe", dan dasi merahnya terlihat lebih panjang dibanding murid lainnya.


Pokoknya dia kecil, imut, dan tampak pendiam. Tapi itu cuma di permukaan.


"Aku mau bikin polling di internet. Temanya: tentang tampang Kii Yahiro."


Cewek paling imut di kelas—Ibaraki Kohane—mendengus pelan.


"Pilihannya: muka bloon atau muka tolol."


"Kenapa pilihannya semuanya penghinaan!?"


"Sebagai bonus buat yang ikut voting, bakal aku kasih gambar wajah Yahiro hasil tanganku."


"Hah!? Siapa juga yang mau!? Eh, maksudmu itu dipaksa? Dikasih secara paksa!?"


"Pokoknya kamu siapin dulu gambarnya."


"AKU yang gambar!? Buat voting iseng penuh niat jahat itu!?"


"...Cuma bercanda, kok. Tapi jujur aja, mukamu tuh nggak bikin bosen dilihat."


Kohane berdiri perlahan, lalu mencondongkan tubuh ke arah meja.


Wajah imutnya semakin dekat... sampai jarak napas kami nyaris bersentuhan. Dia menatapku lagi dengan intens.


Pandangan mataku dipenuhi olehnya. Mata bulat, hidung mungil, bibir tipis berwarna pink muda—semua bagian wajah cantiknya sedang mengamatiku dari jarak yang sangat dekat.


Kalau cowok biasa yang ngalamin ini, pasti udah tumbang di tempat.


Kalau aku?


Heh… jangan anggap remeh aku dong.


"Mukamu makin merah. Lucu banget. Kamu lagi... terangsang, ya?"


...Ya, aku juga cowok biasa.


Nggak bisa disalahin, kan!? Siapa juga yang bisa tetap tenang digoda satu lawan satu gini!?


Apalagi dia dengan santainya membuka kancing teratas kemejanya.


Karena posisinya yang condong ke depan, celah kecil di antara pakaian seragamnya yang longgar jadi terbuka sedikit. Dari celah itu, terlihat sekilas dalaman putih polos yang dipakainya di balik kemeja.




"Ugh!"


Kalau celah yang menggoda itu benar-benar menggoda, ya wajar saja kalau muka jadi merah.


Pakaian itu melekat cukup ketat di tubuhnya, jadi bentuk tubuh ramping Kohane terlihat jelas.


Tubuhnya memang langsing, tapi tetap punya lekuk tubuh wanita. Itu yang bikin gawat.


"Suaramu aneh. Kenapa?"


"T-tidak ada apa-apa!"


Lengkungan tubuhnya yang lembut menunjukkan bahwa tubuh kurus pun bisa memiliki daya tarik mematikan yang benar-benar menghantam titik lemahnya pria. Bahan bajunya yang licin itu tidak membantu, dan kulitnya yang sedikit terlihat transparan justru membuatnya makin menggoda. Aku nggak mau menyebutkan bagian mana, tapi... "ada" di sana, dan itu benar-benar menggoda iman. Kibaki punya cukup lemak di tempat yang tepat untuk membangkitkan hasrat seorang pria.


Untung aku ini pria terhormat! Kalau aku ini mesum, pasti udah aku terkam dari tadi!


"Karena tubuhku terlalu seksi, kamu sampai kaget... gitu ya?"


Sayangnya, kenyataan malah sebaliknya—dia yang justru jadi si mesum dan mulai menyerangku.


Kohane menjepit kerah bajunya dan menariknya terbuka.


Sampai area di antara ulu hati dan pusarnya pun terlihat. Untungnya cukup gelap, tapi naluri tetap membuat mataku tertarik ke sana.


"Matamu nggak menatapku. Terus-terusan lihat ke bawah. Lihat ke dalam bajuku, kan? Pandanganmu gampang ditebak. Kamu penasaran sama dadaku, sama perutku. Matamu jelalatan… jelalatan terus…♡"


Kohane tidak melewatkan kegugupanku.


Dengan bulu mata panjang dan mata violet yang jernih dan menusuk, dia menggoyahkan mentalku.


"Hah, jangan asal nuduh! Mana mungkin aku tertarik ngintip pakaian dalam temanku sendiri!"


"Pembohong. Ketahuan. Kamu polos, jadi gampang dibaca. Nggak bisa nutupin."


Dia sengaja menarik kemejanya supaya angin masuk. Bahkan gerakan jari mungilnya itu pun terasa sensual.


"Aku bakal ngomong jujur aja. Yahiro itu sebenarnya pengin masukin tangan ke sini. Pengen meraba bagian yang lemah dan lembut dari tubuhku. Bagian yang hangat, halus, dan... memalukan milikku…♡"


Nada suaranya yang polos itu langsung menyusup lewat telingaku ke otak, mengaduk pikiranku, dan membakar pusat hasratku.


Tenang! Aku ini pria terhormat, aku nggak boleh kalah sama godaan kayak gini!


"Jangan nuduh! Badanmu yang kurus itu tuh…"


Aku mau bilang aku nggak tertarik, tapi saat itu juga, Kibaki meniupkan napas hangat ke hidungku.


Hembusan hangat itu langsung membuat emosiku buyar.


"Wajahmu makin merah. Nafasmu memburu. Terlalu bersemangat, ya?"


"B-badanmu itu… sialan…!"


Sial! Badanmu itu gila banget!


Tentu saja aku pengin nyentuh. Pengin ngeraba!


Kata “meraba” tuh nggak pernah dipakai kecuali dalam konteks cabul, kan!?


Kita ngomongin bagian dalam seragam cewek. Cewek sekelas. Cewek paling imut di kelas! Udah pasti lembut banget! Dan bahkan kalau ternyata nggak terlalu lembut pun, itu tetap aja... bikin deg-degan.


"Ngaku aja. Yahiro itu mesum yang naksir sama temannya sendiri."


"T-tidak! Itu gara-gara kamu yang godain aneh-aneh!"


"Bantahanmu lemah. Kalau gitu, ayo kita bertaruh. Kalau kamu naruh tangan ke sini, dan kamu kelihatan terangsang, berarti aku menang."


Matanya yang bulat menantang.


Pandangan penuh ejekan—'Kamu pasti nggak bisa'—itu terlihat jelas di sana. Nggak ada cara lain buat membungkam dia selain menerima tantangannya.


Artinya, aku harus menyelipkan tanganku ke dalam kemejanya, lalu menyentuh tubuhnya dari balik dalaman.


Bayanginnya aja udah cukup bikin seluruh darah di badanku ngumpul ke satu titik di bawah sana.


"...Kok diam? Nggak bisa? Lemah."


Kohane makin mendekat.


"Lemah~ Lemah~ Lemah♡ Pengecut. Nggak punya kendali diri. Naksir sama temen sendiri, dasar pecundang♡ Nggak bisa ngaku mesum, penakut♡ Bilang nggak tertarik, tapi masih ngelirik♡ Lemahhh...♡"


Hinaannya, dibarengi napas hangat, terdengar di telingaku.


Awalnya nadanya datar, tapi lama-lama makin lembap, makin tinggi, makin lengket... dan menghantam langsung ke bawah perut.


Bisikan lembut yang diberi sentuhan cabul—itu kombinasi yang sangat mematikan.


"Minta maaf. Bilang, 'maaf karena aku pecundang'. Bilang, 'aku terlalu suka kamu, sampai nggak bisa nahan diri'. Kalau kamu bisa ngaku kalah, aku bakal kasih kamu sentuhan yang lebih lagi... Tapi, bisa nggak? Kamu terlalu sombong buat minta kayak gitu… Pecundang yang setengah-setengah♡"


Aku tahu aku nggak boleh bereaksi.


Tapi aku ini tipe cowok yang nggak bisa tinggal diam kalau ditantang mentah-mentah.


"Berisik banget, dasar mesugaki sialan! Kalau kamu emang pengin aku nyentuh, ya udah siapin diri! Aku bakal nunjukin ke kamu apa yang terjadi kalau sampai bikin aku marah!!"


Aku berusaha menangkap bahunya yang kecil.


"Udah bosen."


Tapi tepat sebelum aku bisa menyentuhnya, Kohane turun dari mejanya. Aku kehilangan tumpuan dan langsung terjatuh menubruk meja.


"Sialaaaaaaaaaan!!"


Kalau aku harus mendeskripsikan Ibaraki Kohane dalam satu kata, itu pasti: mesugaki.


Secara teknis, mesugaki itu biasanya lebih muda dan menggoda orang dewasa, jadi definisinya agak berbeda, tapi—dia tetap cewek kecil yang hobi menantang pria.


Dia seimut boneka, wajahnya kalem, tapi kelakuannya... ya kayak tadi.


Aku ini temannya, dan tiap hari aku dijadikan mainan oleh gadis menyebalkan nan cantik ini.


Dan sekarang, si mesugaki itu menatapku tajam, lalu berkata pelan:


"...Kalau dipikir-pikir, mungkin kamu lebih cocok disebut muka tolol."


"JANGAN LANJUTIN VOTING-NYA! Nanti tak paksa kamu gambar sendiri tuh wajahku!!"

Posting Komentar

Posting Komentar