no fucking license
Bookmark

Masakan Buatan Tangan Sang Maid

 Makan malam dengan roast pork sebagai hidangan utama benar-benar lezat.


“Terima kasih atas makanannya. Sayaka, kamu jago masak juga, ya.”


“Jadi kamu masih meragukan kemampuanku.”


“T-tidak, cuma… sarapan tadi itu masih sederhana… eh, maksudku masakan simpel sih.”


“Aku tidak pakai baju maid cuma buat gaya-gayaan atau karena mabuk sesaat. Tentu saja, bukan juga untuk menyenangkan cowok SMA yang suka cosplay maid.”


“Itu… kamu nggak ngomongin aku, kan?”


Aku bukan tipe yang tergila-gila dengan maid.

Bukan berarti aku benci juga, cuma… mungkin itu efek dari cuci otak internet yang bilang 'maid itu kawaii'.


“Ngomong-ngomong, Sayaka.”


“Apa?”


“Makanannya enak sih… tapi apa tujuanmu beneran buat meledakkan perutku dari dalam?”


“Kamu ini kan cowok SMA yang lagi dalam masa pertumbuhan.”


“…………”


Di meja makan besar di rumah tua keluarga Kiyomiya, piring-piring kosong berderet memenuhi permukaan.


Bukan cuma roast pork, ada juga daging sapi, ayam, nasi, roti, sup, salad, dan bahkan hidangan penutup—semuanya terus berdatangan seolah sedang main all-you-can-eat.


“Mana bisa ngabisin semua ini!?”


“Tapi kamu makan semuanya.”


“Y-ya… aku nggak tega ninggalin makanan yang orang lain udah susah payah masak…”


“Padahal di sekolah kamu sering dibilang ‘sampah’, tapi ternyata kamu orang baik juga ya.”


“…………”


Apa aku tadi terlalu polos dan semestinya nggak perlu ngabisin semuanya…?


“Sehabis makan kamu mau kopi, teh, atau teh Jepang? Aku bisa siapkan semua.”


“Perutku udah nggak muat buat minum juga. Maaf, aku skip aja. Tapi… kamu sendiri tadi nggak makan sama sekali ya.”


“Aku udah kenyang gara-gara ‘nyicipin’ masakan tadi.”


“Ngecek rasa itu biasanya cuma satu-dua suap aja, kan?”


Yah, kalau Sayaka memang nggak lapar, nggak masalah sih…


“Tapi kamu ngajak aku belanja bareng, kenapa makan malah sendiri-sendiri?”


“‘Suapan mesra’ baru bisa kamu dapat kalau kamu secara resmi mempekerjakanku sebagai maid.”


“Aku juga nggak minta disuapin, tahu!”


“Tidak apa-apa kok.”


“Apanya yang tidak apa-apa!?”


“Melihat Kiyomiya-kun makan dengan lahap saja sudah bikin aku kenyang.”


“…………”


Sekilas, senyum muncul di sudut bibir Sayaka.


Si cewek dingin ini… ternyata bisa juga tersenyum.


“Ini yang namanya... menjinakkan target lewat makanan…”


“Hei, barusan kamu ngomong apa!?”


“Bukan apa-apa. Aku cuma merasa makin yakin kalau aku bisa menjalani hidup sebagai seorang maid.”


“Oh ya?”


Dengan kemampuan memasak seperti ini, memang tidak heran kalau dia pantas dipekerjakan.


“Di rumah utama Keluarga Kiyomiya juga ada pelayan, kan? Kalau dibandingkan, siapa yang lebih jago?”


“Ya jelas, yang di rumah utama lebih hebat.”


“Jangan langsung jawab gitu dong.”


Sayaka menatapku tajam.


“Chef di rumah utama itu beneran profesional. Levelnya setara koki hotel bintang lima.”


Kalau nggak salah, dia memang pernah kerja di restoran hotel mewah.


“Bagus, itu tantangan menarik. Aku akan melampaui koki rumah utama.”


“T-tunggu, kamu nggak perlu sampai segitunya juga!”


Dari jumlah makanan hari ini aja kelihatan Sayaka tipe yang suka kelewatan dalam segala hal.

Kalau dia sampai ninggalin pelajaran demi belajar masak…


“Oh iya, kamu kan siswa beasiswa. Nggak bisa pakai waktumu buat masak melulu.”


“Aku bisa seimbangkan antara tugas rumah dan belajar. Aku cukup percaya diri.”


Sayaka menepuk dadanya yang… cukup berisi.

Ya, percaya dirinya memang boleh, tapi bukan maksudku bagian itu.


“Masakanmu udah cukup enak kok. Tapi, ayo bahas hal yang lebih penting.”


“Apa?”


“Kita makan bareng, yuk. Bahkan kalau nanti kamu resmi jadi maid-ku pun, tetap makan bareng, ya.”


“…………”


Mata Sayaka melebar.


“Kamu ini anak orang kaya, kan? Kamu nggak sadar kalau statusmu lebih tinggi dari pembantu?”


“Status itu nggak penting. Kita cuma bayar untuk jasa mereka. Sebagai gantinya, mereka bantu urusan rumah.”


Sayaka makin bengong dan menatapku dalam-dalam.


“Lagipula…”


“Apa?”


“Aku juga ingin melihat Sayaka makan dengan lahap.”


“…Kamu mesum, ya?”


“Cuma karena itu!?”


Ya, sih… tatap-tatapan pas orang lagi makan itu aneh juga.

Padahal aku cuma bercanda buat mencairkan suasana.


“Tapi, baiklah. Mulai sekarang aku juga akan makan bareng kamu.”


“Oh, terima kasih.”


Dia surprisingly pengertian juga ya.

Setelah itu, Sayaka bolak-balik ke dapur membawa banyak piring, dan mulai mencuci piring.


“...Hmmm, mungkin tadi aku harusnya minta teh juga, ya.”


Saat aku sudah duduk di ruang tamu sambil cek ponsel, tenggorokanku mulai terasa haus.

Perut juga udah agak reda. Ya sudah, aku ke dapur saja.


“Haaah… masak sebanyak itu benar-benar bikin capek juga. Aku kebablasan…”


“…………”


Pas aku mau masuk dapur, terdengar suara Sayaka.

Pemandangan yang terlihat juga… cukup mengejutkan.


Dapur rumah ini sudah direnovasi jadi tipe island kitchen, dengan kursi bar di pinggirnya.


Sayaka duduk di situ, melepas apron putih, kancing atas bajunya terbuka, dan terlihat sangat santai.


Sedikit celah terlihat di belahan dadanya, dan roknya yang agak terangkat memperlihatkan paha putih mulusnya.


“Sayaka.”


“Hiyaa!?”


Sayaka langsung berdiri kaget.

Walaupun kaget, postur berdirinya tetap elegan.


“Katanya kamu orang biasa, tapi kamu tetap punya tata krama yang bagus.”


“Itu sindiran? D-dilihat saat lagi dalam keadaan seperti ini…”


“Nggak juga. Justru sikap spontan itu menunjukkan kelas seseorang.”


“Bukan soal itu… m-maaf, aku bukan lagi malas kok. Jangan potong nilainya…”


“Nilai apaan coba. Aku nggak pernah ngasih penilaian!”


Masa iya cewek sekelas dimasakin, terus aku sok-sokan nilai performanya?


“Kalau gitu… masih aman, ya.”


Dia bener-bener khawatir akan dikurangi nilai. Lumayan nyesek sih.


“A-aku mohon… jangan lihat terus, ya.”


“Ah, maaf.”


Sambil mengancingkan bajunya kembali, Sayaka menatapku serius.


Aku sih nggak sengaja menatap dada… tapi ya… refleks sih…


“Kiyomiya-kun.”


“Hm?”


“Aku nggak main-main jadi maid. Aku janji, setelah ini kamu nggak akan melihatku dalam keadaan lengah seperti barusan.”


“…………”


Ya sih, aku nggak keberatan juga kalau kadang-kadang Sayaka bersikap santai.

Soalnya dia itu… imut banget kalau lagi begitu.

Posting Komentar

Posting Komentar