Hanya dengan berada di sana, ada orang yang bisa mengubah suasana sekitarnya.
Akademi Swasta Soushuukan──
Seorang siswa tahun pertama di jenjang SMA yang bersekolah di sana, Hizaka Sayaka, adalah salah satu dari orang seperti itu.
"Ada apa?"
"Ah, tidak… tidak ada."
Itu terjadi saat jam istirahat, suatu hari.
Di deretan kursi dekat jendela, tepatnya kursi paling depan—di sanalah aku duduk, dan di sebelahku adalah Hizaka.
Itu adalah posisi duduk yang ditentukan sejak kami naik ke jenjang SMA.
Biasanya, kursi diatur berdasarkan urutan abjad (gojuuon), tapi Soushuukan bukanlah sekolah biasa.
Soushuukan adalah sekolah tempat anak-anak dari keluarga terpandang bersekolah. Di masa lalu, keluarga-keluarga tersebut bahkan pernah berseteru, saling menjatuhkan, atau bahkan sampai pada titik saling membunuh, menyisakan banyak dendam di antara mereka.
Bahkan untuk urutan tempat duduk sekalipun, pihak sekolah sengaja menentukannya dengan maksud tertentu.
Aku sendiri tidak tahu kenapa aku ditempatkan di sebelah Hizaka, dan aku juga tidak bisa membayangkannya.
Hizaka Sayaka memiliki rambut semilong berwarna cokelat muda, dan wajah cantiknya sangat memesona.
Ia memakai kacamata berbingkai hitam, rambutnya diikat dua dengan gaya yang agak kuno, tapi semua itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.
Padahal dia hanya sedang membaca buku saku, tapi entah kenapa pandangan ini tertarik padanya, membuatku ingin terus memandanginya.
Kadang-kadang, seperti sekarang, aku malah terlalu lama menatapnya sampai membuatnya curiga.
“Ngomong-ngomong, Hizaka… lagi baca apa?”
“Misteri. Ada pembunuhan tiba-tiba, dan detektifnya sedang mencoba mengungkap pelakunya. Tapi kupikir, dari mana datangnya semangat luar biasa seorang detektif yang terus-menerus mengejar dan membongkar rahasia orang lain seperti ini?”
“Jangan tanya aku.”
Kenapa kamu malah mendalami aturan standar cerita misteri…
“Lagipula, Hizaka biasanya nggak beli buku misteri yang belum dikenal, kan?”
“Aku nemu buku ini di toko buku bekas, harganya cuma 30 yen.”
“Pantas aja kelihatan usang banget.”
Tak ada sampulnya, dan kertasnya sudah menguning karena usia—seluruh bukunya kelihatan tua dan rapuh.
Tapi saat Hizaka yang membacanya, buku lusuh itu justru terlihat seperti buku kuno langka dan berharga. Aneh sekali.
“Orang cantik memang selalu diuntungkan, ya…”
“Apa?”
“Eh, nggak. Bukan apa-apa, jangan dipikirin.”
“Begitu ya.”
Hizaka berbisik pelan lalu kembali fokus pada bukunya.
“Meskipun cantik, kalau tidak menjual wajahnya, bahkan untuk beli buku saku seharga 700 yen pun aku tidak sanggup.”
“Jadi kau memang mendengar, ya… Tapi, kamu benar-benar sedang kesulitan keuangan?”
“Aku ini siswa beasiswa, tahu? Kalau keluargaku punya uang, aku nggak akan bisa daftar beasiswa.”
“O-oh, begitu…”
Akademi Sōshūkan tempat kami bersekolah adalah sekolah elit yang biasa disebut “sekolah anak orang kaya.”
Setiap keluarga siswa di sini diharapkan punya kekuatan finansial yang memadai, karena biaya sekolahnya benar-benar tinggi.
Keluarga Kiyomiya—keluargaku—dulunya bangsawan Kyoto, dan sampai sekarang masih termasuk keluarga berada, jadi membayar biaya sekolah sebesar itu bukan masalah.
Sekolah ini punya sistem pendidikan dari SD sampai universitas yang saling terhubung (escalator system), dan aku sendiri sudah bersekolah di sini lebih dari sembilan tahun. Tapi aku baru tahu kalau ternyata ada program beasiswa.
“Yah, tapi Hizaka kan pindahan tahun lalu dan langsung jadi peringkat satu di angkatan. Dengan otak seperti itu, masa depanmu pasti cerah, kan?”
“Membicarakan uang setiap saat itu tidak elegan.”
“Bukannya kamu tadi yang pertama kali bawa-bawa soal uang?”
Kalau kamu lempar batu sembunyi tangan lalu malah nyalahin aku kayak gini, aku juga bingung harus gimana.
“Ah.”
“Kenapa? Ada apa?”
“Eh… kamu ada niat baca novel misteri ini nanti?”
“Nggak sama sekali. Kayaknya bukan seleraku.”
Saat aku menjawab, Hizaka langsung menyodorkan buku yang ia pegang.
“Ah.”
Aku tak sadar mengeluarkan suara yang mirip dengannya.
Di halaman yang sedang ia buka, nama “Mano” tercetak besar, dilingkari dengan stabilo pink.
Di sampingnya ada tanda panah dengan pulpen merah… dan bahkan tulisan “Pelaku!” terpampang jelas.
“Ini sih parah banget. Padahal ini masih bab awal…”
“Benar-benar nggak sepadan dengan harga 30 yen… Aku bakal balikin dan minta uangku kembali.”
Hizaka berdiri dan meraih tas sekolah yang tergantung di sisi mejanya.
“Eh, tunggu! Aku paham perasaanmu, tapi masa segitunya sih cuma gara-gara 30 yen!”
“Ini bukan soal uang, ini soal harga diri. Mereka berani menipuku dengan buku semacam ini… mereka harus bertanggung jawab.”
Dengan tegas, Hizaka mengangkat tasnya dan berdiri.
“Eh, tunggu dulu, Hizaka!”
“Kyah!”
“Wah!”
…Sial.
Aku melihat wajah Hizaka yang biasanya tenang tiba-tiba menegang sejenak.
Ketika aku refleks mengulurkan tangan untuk menahannya, tanganku malah melingkari pinggangnya.
Dengan blazer biru tua menutupi tubuhnya, aku baru menyadari saat menyentuh langsung—pinggang Hizaka luar biasa ramping.
Hanya dengan satu tangan, aku bisa merasakannya dengan jelas… Apa benar dia punya organ dalam? Serius?
“Eh, Kiyomiya nyentuh-nyentuh Hizaka-san…?”
“Wah, itu pelecehan kan? Kita laporin ke guru aja, yuk?”
“Busuk banget kelakuannya…”
Suara para gadis dari sekeliling membuatku sadar. Aku pun buru-buru melepaskan tangan dari pinggang Hizaka.
Meskipun niatnya untuk menghentikannya, tetap saja tindakanku itu bisa dibilang pelecehan.
“…Ya sudah, aku maafkan.”
“Eh?”
Kok mudah banget maafnya…?
Kupikir begitu, sampai akhirnya—
“Kalau memang ingin menyentuh… tunggu sampai kita pulang ke rumah.”
“…………!”
Seketika, aku nyaris jatuh dari kursiku.
Tanpa peringatan, Hizaka mencondongkan tubuhnya dan berbisik tepat di telingaku.
Jaraknya benar-benar dekat—sampai napasnya terasa, bahkan bibirnya nyaris menyentuhku.
“Bel sudah mau berbunyi.”
“Y-ya…”
Dengan tenang, Hizaka duduk kembali dan mengeluarkan buku pelajaran serta catatannya dari meja.
Tetap saja, dia adalah siswa beasiswa sekaligus murid teladan.
Kalau dipikir-pikir, tidak mungkin dia benar-benar akan bolos kelas hanya demi mengembalikan buku bekas.
Aku… benar-benar sedang dipermainkan di telapak tangan Hizaka Sayaka.
Baik itu di kelas—maupun… di rumah.



Posting Komentar