Sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagiku bahwa rumah orang tuaku sangatlah luas.
Ruang tamu sebesar puluhan tatami dan banyak sekali ruangan lain. Sebagian besar memang berubah fungsi menjadi gudang, tapi setidaknya untuk ditinggali aku dan mereka, rumah ini terlalu luas sampai terasa berlebihan.
Ayahku bilang aku boleh memakainya sesuka hati, jadi aku tanpa ragu melakukan modifikasi ekstrem.
Pertama-tama, sebagian dari ruang tamu yang terlalu luas kuubah dan kupasang cermin, hingga terciptalah sebuah studio dansa sederhana. Memang sih, kalau untuk latihan, kami bisa menggunakan studio pribadi yang disediakan oleh agensi, tapi kadang-kadang, saat sudah pulang ke rumah, tiba-tiba saja aku ingin meninjau kembali koreografi atau sekadar menggerakkan tubuh, bukan?
Untuk saat-saat seperti itulah aku menyiapkan tempat di mana aku bisa menari kapan pun aku mau.
Sebagai orang yang menyediakan tempat ini, aku memiliki hak istimewa untuk menyaksikan penampilan Milky Way Stars dari jarak dekat.
Hari ini pun, aku sedang menikmati hak istimewa itu sepenuhnya.
“Tan-tan-tan, hai!”
Dengan aba-aba dari Kanon, ketiga gadis itu serentak melakukan putaran.
Gerakan mereka yang begitu selaras membuatku tanpa sadar memberikan tepuk tangan.
“Haa... akhirnya bisa selaras juga ya, bagian putaran terakhir itu.”
“Hmm. Kalau seperti ini sih aku puas.”
“Benar juga. Sekarang tinggal mengulangnya seribu kali lagi sampai gerakan itu benar-benar tertanam di tubuh.”
Wajah ketiganya tampak lebih serius dari biasanya.
Ya, tentu saja. Bulan ini, MilSta akan menggelar konser Natal mereka.
Tarian yang sedang mereka latih tadi adalah koreografi lagu baru yang akan dibawakan dalam konser itu.
Jadi, wajar saja mereka sangat bersemangat.
“Maaf ya, Rintarou-kun. Kami masih akan ribut begini untuk sementara, tidak apa-apa, kan?”
“Jangan khawatir soal aku. Kalian mau minum sesuatu?”
“Serius? Kalau begitu, aku mau kopi deh. Rasanya konsentrasiku mulai menurun.”
“Baik. Rei, Kanon, kalian mau apa?”
Saat aku bertanya, Rei dan Kanon yang tadi sedang ngobrol pun menoleh ke arahku.
“Aku juga mau kopi.”
“Aku juga! Susunya banyak ya, gulanya sedikit!”
“Baik, segera kuambilkan.”
Setelah mengatakan itu, aku pun pergi ke dapur.
Rei suka kopi dengan susu dan gula. Kanon lebih banyak susu, sedikit gula. Mia suka kopi hitam. Aku hafal semua kesukaan mereka.
Setelah membuat kopi sesuai takaran masing-masing, aku kembali ke ruang tamu.
“Ngomong-ngomong, tidak terasa ya, sebentar lagi tahun ini berakhir.”
Saat sedang menikmati kopi, Kanon mengucapkan hal itu.
Memang sih, akhir tahun sudah dekat.
“Cepat banget rasanya, tahun ini.”
“Oh ya? Padahal kamu juga bilang begitu tahun lalu, lho.”
“Eh… masa iya?”
Mia menatap langit-langit sambil memiringkan kepala.
Sejak mereka jadi idol, sepertinya tidak pernah ada tahun yang tidak sibuk. Wajar kalau mereka merasa waktu berlalu dengan cepat.
“Tahun ini, kami benar-benar tertolong karena kamu ada, Rintarou. Berkatmu juga, kami tidak sampai tumbang.”
“Senang mendengarnya. Tapi dari nada bicaramu, tahun lalu lumayan berat ya?”
“Berat banget. Aku sampai hampir tumbang beberapa kali.”
“Yah… masa sih…”
Awalnya aku ingin menertawakannya sebagai candaan, tapi begitu menyadari Kanon dan Mia tidak tertawa sama sekali, aku jadi ragu.
“Eh, kamu serius?”
“Serius. Anak ini, sebelum kenal kamu, latihan sampai nyaris jatuh pingsan.”
“Gila…”
Kalau dipikir-pikir, bukankah aku dan Rei mulai dekat juga karena insiden jatuh pingsan?
“Yah, kami juga tidak bisa bicara banyak sih… Kami sendiri tahun lalu juga sampai tidak menyadari kondisi Rei seperti itu.”
“Memang terlalu sibuk waktu itu. Tahun ini jadwalnya juga padat sih, tapi karena Rintarou ada…”
Saat Kanon bilang begitu, semua mata langsung tertuju padaku.
Dibilang keberadaanku membantu tentu menyenangkan, tapi masa iya keberadaanku bisa mengubah keadaan sedrastis itu? Rasanya agak geli juga.
“Pulang ke rumah dan tahu Rintarou ada di sana, rasanya jadi bisa tenang. Saat tenang, aku jadi bisa sadar di mana batas kemampuanku. Sekarang aku tidak akan tumbang lagi.”
“Begitu ya… Baguslah kalau begitu.”
Melihat Rei memperlihatkan otot dengan semangat, aku hanya bisa menanggapi dengan tawa canggung.
Memang, orang biasanya berhenti berusaha sebelum mencapai batas. Kalau sudah pingsan, itu artinya dia sudah melewati batas. Sepertinya gadis-gadis ini, terutama Rei, tidak punya rem.
Menyebutnya “gigih” memang kedengaran bagus, tapi berusaha sampai jatuh sakit bukanlah hal yang patut dibanggakan. Jika kehadiranku bisa membuat mereka terhindar dari kebiasaan buruk itu, aku benar-benar bersyukur.
“Ngomong-ngomong, aku ada usulan sedikit, nih.”
Mia memanggil perhatian kami, lalu melanjutkan,
“Setelah konser Natal tanggal 24, kita kan libur sampai siaran akhir tahun, kan?”
“Benar…”
“Karena itu momen langka, bagaimana kalau kita adakan pesta Natal?”
“Wah, setuju! Aku suka ide itu!”
Kanon tampak bersemangat sekali dan maju ke depan.
Pesta Natal, ya. Tahun lalu, kami melewatinya di rumah Yuzuki-sensei yang malah berubah jadi medan perang. Ngomong-ngomong, tahun ini sensei jarang minta tolong, ya.
“Jadi begini, sebagai pendukung resmi MilSta, Rintarou-kun, bisakah kamu yang masak nanti?”
“Aku sudah tahu kalian bakal bilang begitu… ya sudah, tidak ada pilihan, deh.”
“Ahaha, makasih ya, seperti biasa.”
Karena ini momen Natal yang akan kami lewati berempat, aku akan memasak dengan kemampuan terbaikku. Pas banget sekarang lagi libur musim dingin, jadi waktu juga banyak.
“Ngomong-ngomong, kalian yakin nih nggak masalah sehari setelah live? Nggak harus pas tanggal 25 juga kan, bisa kita undur sehari?”
“Enggak mau, harus langsung hari itu juga.”
“Hey hey, kamu ini kayak anak kecil aja…”
Mendengar jawaban spontan dari Rei, aku tidak bisa menahan tawa.
“Rei ada benarnya juga. Kalau jaraknya terlalu jauh dari konser, bisa-bisa suasana Natalnya keburu hilang. Kalau mau merayakan, ya harus tanggal dua puluh lima!”
“Kalau soal kelelahan, tidak usah khawatir. Tidur sampai siang keesokan harinya bisa memulihkan semuanya.”
Kalau mereka semua sepakat, ya sudah, tidak ada masalah.
Lagipula aku juga punya keinginan yang sama: merayakan Natal tepat di hari H.
“Baiklah, jadi, kalian ingin makan apa? Boleh request apa saja.”
“Aku mau roast beef!”
“Roast beef, ya…”
Itu makanan yang jarang aku masak, tapi bisa jadi kesempatan bagus untuk latihan.
“Aku sih pengennya makan ayam. Soalnya kalau Natal pasti identiknya ayam, kan?”
“Aku juga mau ayam.”
“Terus… apa lagi, ya? Sup krim?”
“Mau sup! Mau nasi goreng dan ramen juga!”
“...Rei? Kamu sepertinya cuma nyebut makanan yang kebetulan kamu pengen sekarang, ya?”
Akhirnya aku cuma catat ayam dan sup sebagai menu Natal, karena memang paling cocok. Nasi goreng dan ramen? Nanti-nanti saja, aku bisa masakkan lain waktu.
“Roast beef, ayam, sup krim… Kalau begitu, roti juga perlu ya. Terus apalagi, ya? Kue mungkin?”
“KUE!!”
“Uwoah!?”
Tiba-tiba tiga gadis itu serempak mendekat sambil berseru, membuatku refleks mundur. Aku tidak menyangka kata “kue” bakal mengundang reaksi seheboh itu.
“Mau kue apa ya? Shortcake?”
“Hmm, tapi kue cokelat juga menggoda, lho.”
“Tart juga enak sih…”
Mereka mulai berdebat satu sama lain. Kalau bisa sih, ingin aku buat semuanya… tapi pasti tidak akan habis.
Akhirnya mereka sepakat untuk adu janken (suit), dan yang menang—Mia—memilih kue cokelat sebagai menu utama.
“Kalau masak diserahkan ke Rintarou-kun… minuman seperti biasa kita yang urus, gimana?”
“Kemarin aku lihat di TV ada jus yang enak banget. Kalau sekarang dipesan, kayaknya masih sempat dikirim.”
“Kalau gitu, soal itu aku serahkan ke kamu ya, Rei. Hmm… kita ngapain, ya?”
Mia menoleh ke arah Kanon.
“Hmm… gimana kalau nyiapin camilan kecil gitu?”
“Eh… kamu ngomongnya bikin salah paham deh.”
“Eh!? Maksudku camilan-camilan kecil gitu! Bukan yang aneh-aneh!”
Hampir saja aku mengira mereka bakal minum alkohol. Untuk memastikan, aku harus bilang: meminum alkohol di bawah umur itu melanggar hukum.
“Kanon itu kayak cocok banget jadi pegawai kantoran yang kelelahan…”
Di kepalaku, langsung terbayang Kanon pakai jas kerja, menenggak bir di malam hari. Saking cocoknya, aku bahkan sempat mengira iklan kayak gitu benar-benar ada.
“Rintarou!? Maksudmu apa!? Aku masih remaja segar nan muda, tahu!!”
“Dan itu justru jadi bukti sebaliknya…”
Gadis SMA biasanya tidak menyebut dirinya sendiri dengan kata “remaja segar”, tahu.
“Camilan kecil memang ide bagus. Aku cari yang bisa dipesan secara online, deh.”
“...Ya udah, setuju.”
Akhirnya, tugas dan tanggung jawab dibagi.
Roast beef, ayam, sup krim… lalu kue cokelat. Sup krim sudah sering aku masak, tapi karena ini Natal, ingin rasanya kucoba sesuatu yang beda.
Untuk kue, sebaiknya aku latihan dulu. Tapi aku butuh orang yang bisa kucoba berikan untuk dicicipi. Bisa sih aku berikan ke mereka, tapi kalau bisa, aku ingin mereka baru mencicipinya langsung saat hari H.
Berarti, pilihan terbaik adalah memberikannya ke Yuzuki-sensei sebagai bingkisan. Orang-orang di sana selalu butuh asupan gula, jadi sepertinya akan diterima dengan senang hati.
“――Ah.”
Entah karena terlalu banyak membicarakan makanan, tiba-tiba perut Rei berbunyi nyaring.
Sepertinya kalori yang didapat dari makan malam tadi sudah ludes karena latihan tari.
“Lapar…”
“Mau makan sesuatu?”
“Mau yang manis.”
“Yang manis, ya… pancake gimana?”
“Mau pancake.”
Kalau mereka masih mau latihan, lebih baik isi tenaga dulu.
“Kalian juga mau? Aku sekalian buat banyak.”
“...Agak larut sih, tapi ya sudahlah. Mumpung ada kesempatan.”
“Benar juga… toh nanti kita bisa olahraga habis-habisan setelah ini.”
“Oke, berarti buat tiga orang, ya.”
Aku pun kembali ke dapur.
Tapi di sanalah aku menyadari satu masalah besar.
“Ah—benar juga, susu di kulkas udah hampir habis.”
Untuk pancake, susu adalah bahan wajib. Dan permintaan mereka, pancake harus pakai susu dan protein.
Memang sih, bisa saja pakai air sebagai gantinya. Tapi kalau tidak sesuai takaran biasa, rasanya ada yang kurang.
“Maaf, aku keluar sebentar beli susu.”
Setelah bilang begitu, aku keluar dari ruang tamu.
◇◆◇
Setelah Rintarou pergi, tiga anggota Milky Way Stars yang tertinggal di ruang tamu saling bertukar pandang.
“Oke… setidaknya kita sudah berhasil bikin dia setuju untuk pesta.”
“Untung Rintarou-kun nggak punya acara lain.”
Sebenarnya, pesta Natal ini sudah mereka rencanakan jauh-jauh hari bertiga.
Tentu saja, ada maksud tersembunyi di balik pesta itu.
“Ngomong-ngomong, soal hadiah buat Rintarou… gimana?”
Rei menatap kedua temannya.
Ya—mereka ingin memberikan hadiah Natal untuk Rintarou. Untuk menunjukkan rasa terima kasih… dan juga untuk menghindari salah satu dari mereka yang mencuri start. Jadi, mereka sepakat memberikan hadiah sebagai satu grup: Milky Way Stars.
“Hmm… sebaiknya kasih sesuatu yang memang dia inginkan.”
“Fufufu, sesuatu yang diinginkan Rintarou? Serahkan pada aku!”
Dengan wajah penuh percaya diri, Kanon mengangkat dagunya. Tapi pandangan dua temannya terasa dingin.
“Apa maksud pandangan itu?”
“Kenapa kamu yang tahu apa yang diinginkan Rintarou?”
“Ka-kemarin waktu kita ngedate, aku tahu dari situ!”
“...Ngedate.”
Dari punggung Rei, aura kecemburuan mulai membara.
Rei sebenarnya tahu bahwa Kanon pernah menggunakan tiket ‘kencan seharian dengan Rintarou’. Dia menerimanya sebagai hasil taruhan yang sah. Tapi mendengar kata "ngedate" langsung dari mulutnya membuat rasa tidak enak itu muncul lagi.
“Ka-kamu seharusnya bersyukur aku mau berbagi informasi ini, tahu!”
“Terus, apa dong yang dia pengen?”
“Kalian ini… kalau soal Rintarou, langsung dingin banget, ya…”
Merasa terintimidasi, Kanon akhirnya menjawab.
“Yang dia pengen itu… ‘gyuutou’? Semacam pisau dapur.”
“Pisau gyuutou? Oh, itu pisau dapur serbaguna, ya.”
“Iya. Dia sendiri yang bilang. Kami sempat mampir ke toko pisau, dan dia ngelihatin barangnya dengan tatapan penuh keinginan.”
“Pisau, ya… sepertinya ide bagus. Kalau memang dia pengen.”
Mia setuju, dan Rei juga mengangguk.
Memang tidak begitu romantis untuk hadiah Natal. Tapi mereka tahu betul bahwa Rintarou lebih suka hadiah yang berguna daripada sekadar simbolis.
“Tapi… kalau cuma pisau, kayaknya kurang spesial.”
“Benar juga… gimana kalau kita tambahin celemek? Bukankah dia sempat bilang celemeknya mulai rusak?”
“Dia memang bilang begitu, tapi… dia perbaiki sendiri.”
“Dia bisa jahit juga…?”
Dengan nada tercengang, Mia berkomentar.
Rintarou memang ingin menjadi suami rumah tangga yang ideal. Maka dari itu, dia mempelajari semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah, termasuk menjahit.
Menjahit sobekan, memasang kancing lepas, semua itu sudah jadi makanan sehari-hari bagi Rintarou.
“Tapi, kalau celemeknya sampai sobek, berarti sudah cukup lama dipakai, kan? Kalau begitu, celemek baru bisa jadi hadiah yang bagus juga.”
“Benar juga…”
“Pisau dan celemek. Aku yakin dia bakal senang banget.”
Mereka bertiga saling memandang, lalu mengangguk bersama.
Tak bisa dipungkiri—ini adalah pertama kalinya mereka akan memberikan hadiah kepada laki-laki selain ayah mereka. Meskipun masih lama sebelum hari H, hati mereka sudah berdebar kencang.
Ada sedikit rasa khawatir, tapi yang paling dominan adalah harapan bahwa Rintarou akan menyukainya.
“Demi bisa menikmati Natal bersama dengan bahagia, konser Natal harus berhasil.”
“Pasti.”
“Ya… seperti biasa, kita keluarkan seluruh kemampuan.”
Mereka saling berpandangan dan mengangguk dengan tekad bulat.



Posting Komentar