no fucking license
Bookmark

Bab 7 Bokura no Haru

 "Haise-kun, sebentar boleh bicara?"


"Oh, Ketua Kelas."


Hari itu adalah keesokan harinya setelah kencan—eh, maksudnya jalan-jalan bersama.


Ketika jam pelajaran selesai dan aku hendak berdiri sambil membawa tas, aku dipanggil.


Ketua kelas—yang perempuan, alias kakak dari si kembar—mendekat dengan senyum lembut di wajahnya.


"Soal kegiatan klub. Ini permintaan dari guru. Di sekolah ini, ikut klub itu wajib."


"Ah... akhirnya juga sampai ke topik itu."


"Sepertinya kamu sudah tahu, ya. Ada klub yang kamu minati? Sebenarnya, peraturannya, kamu harus masuk klub dalam waktu satu bulan setelah pindah."


"Ngomong-ngomong, kamu ikut klub apa?"


"Aku di Klub Koran. Fokus utamanya membongkar sisi gelap sekolah, sih."


"...Jurnalisme ternyata masih hidup, ya."


Ketua kelas ini bukan cuma baik hati, tapi mungkin juga bukan orang biasa.


"Haise-kun mau coba gabung Klub Koran? Akan menarik juga kalau kamu membongkar sisi gelap sekolah bergengsi ini dari sudut pandang siswa pindahan."


"Kamu dendam sama sekolah ini, ya?"


Wajahnya terlihat ramah, tapi kata-katanya pedas sekali.


"Aku cuma kesal dengan dunia ini, yang penuh dengan berita bohong, laporan yang berat sebelah, dan dokumen yang disensor. Tapi tentu saja, aku tidak akan memaksa. Klub di sekolah kita cukup beragam, hmm…"


"Kamu barusan nyebut hal yang makin bikin khawatir, tahu."


Meskipun dia kelihatan baik, kalau aku bersikap sok atau semaunya, bisa-bisa aku dijadikan headline berikutnya.


"Ada klub olahraga yang serius, tapi juga ada yang cuma buat senang-senang. Klub budaya juga ada yang serius banget. Misalnya, klub musik dan upacara minum teh itu cukup otentik."


"Aku nggak bisa main alat musik, dan aku biasanya cuma minum teh botol."


"Kalau semuanya kamu gak bisa, gimana mau survive di dunia ini?"


"Tapi kan, aku masih anak SMP kelas dua?"


Boleh dong, berharap pada potensi masa depan.


"Kalau kamu gabung Klub Koran, aku akan mengajarimu bagaimana menikmati penderitaan orang lain seperti madu yang manis."


"Jangan-jangan, masa bulan madu siswa pindahan sudah berakhir, ya?"


Kata-kata Ketua Kelas dari tadi makin lama makin serem.


Kemana perginya Ketua Kelas yang manis dan penuh senyum itu?


"Haha, cuma bercanda, kok. Soalnya kakakku gampang besar kepala, jadi kadang aku harus agak galak. Jadi, maaf kalau mulutku suka tajam."


"Apa kakakmu nggak nangis denger itu?"


Kasihan juga, punya adik perempuan secantik ini tapi suka nyelekit.


"Dia nggak penting. Oh ya, koran sekolah kami isinya kebanyakan berita ceria dan menyenangkan, kok. Artikel tentang tur keliling toko kue, misalnya, cukup populer."


"Kedengarannya menyenangkan."


Mungkin si putri bangsawan itu juga suka baca artikel yang manis-manis begitu.


"Tapi sebenarnya, aku sudah punya gambaran soal klub yang ingin kuikuti."


"Oh ya? Klub apa?"


"Klub penyiaran."


"Eh!?"


Yang teriak kaget bukan Ketua Kelas—melainkan gadis yang duduk di sebelahku.


Sejak tadi dia diam-diam mencuri dengar sambil melirik-lirik ke arah kami.


"Nah loooh, Haise~. Ternyata kamu pengen masuk klub yang sama sama Hakua-chan dari awal ya. Kalau memang begitu, ngomong dong dari tadi. Tsundere banget sih!"


"Shi–Shirakawa-san, kamu kelihatan senang banget, ya."


"Yang senang tuh kamu, Haise! Karena bisa masuk klub yang sama denganku. Untung Klub Penyiaran itu klub santai, ya."


"Apa ada Klub Penyiaran yang serius?"


Apa mereka ada lomba nasional segala?


"Sebentar ya, aku cek dulu... Klub Penyiaran... Klub Penyiaran..."


Ketua Kelas mengeluarkan iPad mini-nya dan mulai mencari informasi.


"Klub Penyiaran... Anggota: satu orang. Catatan: karena sifat kegiatan klub ini, meski hanya satu anggota, klub tidak akan dibubarkan dan akan terus menerima anggota baru... begitu tulisannya."


"Satu orang...?"


"Eh-heh..."


Shirakawa berpaling dariku dengan cara yang mencurigakan.


Padahal sebelumnya dia ngomong seakan-akan ada anggota lain juga, bukan?


Jangan-jangan dia bohong supaya aku mau masuk?


Dia pikir aku nggak bakal mau kalau cuma berdua aja?


"Kalau gitu, sebagai rakyat jelata, aku akan gabung Klub Koran dan membongkar sisi gelap sekolah elit ini."


"Lho!? Kamu berubah pikiran secepat itu!? Nggak, nggak, Haise harus masuk Klub Penyiaran! Oke, sekarang juga kita ke ruang siaran!"


"Tunggu, tunggu, ini formulir pendaftarannya!"


Ketua Kelas menyodorkan formulir, tapi Shirakawa langsung menyambar dan menekankannya ke dadaku.


Dengan pasrah, aku menuliskan nama klub dan namaku di situ.


"Oke! Sekarang kamu gak bisa kabur, Haise!"


"Apa klub ini sebegitu menyeramkannya sampai mau kabur?"


"Oke, makasih ya, Ketua Kelas! Aku sayang kamu!"


"Eh… sa–sayang…"


Ketua Kelas langsung memerah karena pengakuan mendadak itu.


Sebagai catatan penting: Ketua Kelas ini cewek.


Meninggalkan Ketua Kelas yang masih gugup, aku dan Shirakawa pun keluar kelas.


Tujuan kami tentu saja: ruang siaran.


"Ayo, masuk! Masuk!"


"Gak usah maksa juga, aku nggak kabur kok."


Kami masuk ke ruang siaran dan duduk di sofa empuk yang biasa. Yah, karena aku bukan tipe yang doyan olahraga, klub yang bisa duduk santai begini sih cocok-cocok aja.


"Aku sempat mikir keras, gimana cara ngejebak kamu supaya mau gabung… Tapi ternyata gampang banget, ya?"


"Masih sempat nggak ya, minta Ketua Kelas batalin formulirnya sebelum diserahkan?"


"Eh!? Mau kabur!? Aku gak mau kehilangan anggota baru dalam lima menit! Aku gak mau kehilangan siapa pun lagi!"


"Emang sebelumnya kehilangan siapa? Eh… bukannya Kurenosaka dan Mashiro juga murid sini?"


"Tentu. Mashiro itu anggota OSIS. Di sekolah kita, anak kelas satu juga bisa jadi pengurus OSIS, lho."


"Oooh… Kalau Kurenosaka? Kamu gak ngajak dia masuk Klub Penyiaran?"


"Hina itu siswa beasiswa, jadi bebas dari kewajiban klub."


"Beasiswa? Maksudnya biaya sekolah gratis? Bukannya dia anak orang kaya?"


Katanya sih keluarganya punya restoran…


"Dia memang anak orang kaya banget. Keluarga Kurenosaka itu punya jaringan restoran keluarga dan kafe. Kamu tahu 'Benetia'?"


"Benetia itu punya keluarga Kurenosaka!? Gila, keren banget."


Itu restoran waralaba yang ada di mana-mana.


"Tapi orangtuanya punya prinsip: biaya sekolah harus ditanggung sendiri. Makanya dia kerja keras banget biar bisa masuk lewat jalur beasiswa. Dan katanya beasiswa di sekolah ini itu sulit banget, sengaja dibuat susah biar gak semua orang bisa dapet."


"Penjelasanmu serem, tapi masuk akal."


Pantas aja Kurenosaka selalu kelihatan tegang… Pasti hidupnya nggak santai. Dan OSIS pun mirip kayak kegiatan klub juga, kan.


"Jadi intinya, klub ini isinya cuma kita berdua... Tapi, nggak ada kegiatan tetap, kan?"


"Itu dulu. Sekarang kita dapat anggota baru! Waktunya bangkit kembali! Dulu, aku cuma bisa ngemil, minum teh, rebahan sambil scroll HP. Tapi sekarang beda!"


"Sebenernya kamu masih bisa melakukan hal lain juga sih, kayak muter musik atau bikin konten."


"Apapun itu, kita harus mulai dari siaran! Tapi monolog itu susah, tahu!"


"Kamu kan cerewet. Ngomong sendiri pasti gampang lah buat kamu."


"Kalau ngomong sendiri mulu, nanti dikira orang stres dong."


Menurutku, Shirakawa memang agak stres dikit, sih.


Gayanya yang penuh misteri itu, aura ‘cewek berbahaya’-nya cukup kuat.


"Aku tahu kamu mikir yang nggak-nggak, tapi aku mau bikin siaran yang menyenangkan!"


"Aku gak yakin kamu bisa bikin siaran seru kalau partner-nya aku, sih..."


"Benar juga. Meskipun suara Haise bagus, kalau topiknya kosong dan gelap, nggak ada gunanya."


"Aku gak ngomong sampe segitunya…"


"Makanya, kita harus pakai kekuatan ide buat bikin siaran seru!"


"Hah? Maksudmu gimana?"


"Buang buku, ayo turun ke jalan!"


"Itu judul buku, tapi di bab 2-nya ada 'Kamu Juga Bisa Jadi Yakuza', tahu?"


"Kalau cuma nongkrong di studio, gak bakal ada ide keren. Kunci siaran yang oke itu… syuting di luar!"


"Syuting di luar, ya… Tapi aku sama sekali nggak ngerti cara kerja klub ini."


Sebelum ke luar, harusnya kita belajar dasar-dasarnya dulu, kan?


"Oke, kita tes dulu yuk!"


"Eh? Eh!? Tunggu dulu!"


Shirakawa duduk di depan meja dengan mikrofon, mulai mengutak-atik panel konsol.


『Ping pong pang~! Ini Klub Penyiaran! Seperti biasa, bersama aku, Shirakawa Hakua dari kelas dua!』


"Aku belum pernah dengar siaran kalian selain pas insiden kue kemarin..."


Yang katanya ‘seperti biasa’ itu dari mana, coba?


『Ah, kalian pasti dengar barusan, ya. Tunanganku tercinta, Haise Yuzuru-kun, telah resmi bergabung sebagai partner pengisi suara! Kalian bisa panggil dia YuzuYuzu sesuka hati!』


"Jangan sembarangan bikin nama panggilan orang—!"


『Cepet banget nyelanya. Tapi kan, lumayan juga, kan? Untuk pemula, dia cukup oke, suaranya juga enak didengar. Mulai sekarang, dia akan jadi partner tetapku ya~』


Dia benar-benar seenaknya memutuskan semuanya…


『Oh iya, YuzuYuzu ini anak pindahan, lho. Jadi gimana, menurutmu, kesan pertama tentang SMP Shindou?』


『Aku baru masuk klub, tapi ketuanya suka semena-mena. Jujur, agak repot.』


『Yaa, wajar sih. Lingkungan sekolah itu kan biasanya tertutup, dan kalau soal klub, biasanya lebih tertutup lagi. Makanya, kalau ada masalah, seringnya ketahuan telat. Ini masalah serius, lho.』


『Jangan dijadikan pembahasan umum dong…』


Aku lagi ngomongin masalahku sendiri, bukan curhat masyarakat luas!


『Oh iya, sekalian deh kita pakai video juga. Tunggu sebentar, ya. Ehm, kabelnya di mana ya... kamera ini... hmm...』


Ini siaran macam apa, sih?


Lagi siaran audio, tiba-tiba mau ganti ke siaran video segala.


Shirakawa menyambungkan kamera mirrorless yang entah dia dapat dari mana ke PC pakai kabel, lalu dipasang di tripod, dan kembali sibuk mengoperasikan konsol.


『Oke, berhasil~. Masih ingat ternyata. Halo semuanya, perkenalkan lagi, aku Shirakawa Shiroa. Dan yang duduk di sini, si cowok bermata sinis ini, Haise Yuzuru. Tingginya 159 cm, 15 cm lebih pendek dariku. Nilai ujian masuknya? Cuma salah tiga! Nggak ada lucu-lucunya, kan?』


『Jangan sebar info nggak penting gitu dong! Lagian, kenapa kamu tahu hasil ujianku!? Aku sendiri aja nggak tahu!』


Dia tahu terlalu banyak soal dataku!


『Karena aku ini gadis romantis. Tentu saja aku pengen tahu rahasia orang yang aku suka, dong?』


『Pernah ada gadis romantis yang nggak punya rasa malu begini!?』


『Dan, by the way, Haise masuk Klub Penyiaran karena pengen berduaan sama aku sepulang sekolah. Gimana tuh, semuaaa? Nggak malu tuh? Mesum banget, yaaa?』


『Jangan ngajak semua orang ikutan—!!』


Dalam beberapa menit singkat ini saja, aku sudah berhasil jadi pusat perhatian… dalam cara yang sangat buruk.


Berapa banyak siswa yang nonton siaran ini, sih!?


『Oh iya, Haise, maju dikit. Kalau terlalu jauh dari mikrofon, suaramu nggak kedengeran.』


『Huh? E–ehh…』


Shirakawa menarik bahuku mendekat, cukup dekat sampai kami nyaris berdempetan di depan mikrofon.


Napasnya pun nyaris terasa. Kalau ini tertangkap kamera, teman sekelasku bakal langsung nyari golok!


Aku mungkin nggak bakal beneran dibunuh, tapi… daripada digosipin setengah mati—


『Seperti yang semua orang sudah tahu, Shirakawa Shiroa ini adalah tunanganku.』


Aku pun mengambil inisiatif, menggenggam bahunya dan menariknya lebih dekat lagi.


Bahu ramping dan lekuk tubuhnya yang lembut bersentuhan langsung denganku.


『Seperti yang kalian lihat, hubungan kami memang seperti ini. Jadi kalau sepulang sekolah kami berduaan, ya wajar dong.』


『H–Haise!?』


『Selama Shirakawa jadi tunanganku, semua cowok lain tolong jangan mendekat. Kami akan mengurus kegiatan Klub Penyiaran ini berdua saja. Jadi mohon jangan ganggu. Oke, terima kasih.』


Dan dengan tenang, aku menekan tombol "END" yang sudah kutargetkan sejak tadi.


Oke, siaran benar-benar sudah berhenti. Layarnya juga sudah mati.


"Aku cuma nggak mau bikin situasinya makin rumit. Kalau kita siaran berdua, orang nggak akan curiga lagi."


"…Kamu ngomong gitu hanya demi bilang 'Shiroa itu milikku'!?"


"Jangan dilebih-lebihkan, dong."


Kalau dipikir-pikir, mungkin aku tadi agak nekat.


Tapi kalau terus-terusan dipermainkan oleh Shirakawa, aku nggak akan bisa ngapa-ngapain.


Daripada terus dikuasai, mending sekalian aja nyemplung ke dalam dunianya.


"Aku balik ke topik, ya. Soal syuting di luar sekolah… Emang realistis berharap ada kejadian seru secara kebetulan? Bukannya itu susah?"


Youtuber aja harus siapin skenario, rekaman berkali-kali, bahkan kadang bikin adegan settingan biar seru.


"Aku cuma pengen ngelakuin apa yang bisa aku lakuin sekarang!"


"Haaah…"


Mungkin ini bukan hal yang harus dikejar mati-matian, sih…


Tapi ya udah, sekarang aku udah masuk klub, masa iya mau lepas tangan.


"Baiklah, Shirakawa. Kalau kita mau syuting di luar, apa dulu yang harus kita lakukan?"


"Rekam aku."


"Eh? Ya, kalau cuma itu sih gampang. Aku tinggal rekam aja kamu?"


Jujur aja, siswa lain juga pasti lebih suka lihat Shirakawa yang imut di video ketimbang aku yang pas-pasan ini.


"Tapi tetap aja, kita butuh konsep, ide acara, atau semacamnya, kan?"


"Haise, kamu masuk Klub Penyiaran karena pengen tahu lebih banyak soal aku, kan?"


"……"


Gila, tajam banget instingnya.


"Kamu mendekatiku karena penasaran. Kamu pengen tahu semua tentang aku, kan? Ya udah, ikutin aja kata hatimu dan rekamlah aku sebebasnya."


"…Syukurlah, nggak perlu mikir ribet. Aku juga masih amatir soal rekaman."


"Ya, ya. Dan kamu yang kayak gitu itu yang aku suka."


"…………"


Kayaknya dia tadi juga bilang dia suka banget sama Ketua Kelas, jadi aku ini ‘suka versi cadangan’ ya…


"Tunggu sebentar, kalian berdua!"


Tiba-tiba pintu ruang siaran terbuka dan suara teriakan nyaring terdengar.


Yang masuk adalah gadis cantik berambut hitam panjang dengan gaya twin-tail—Kurenosaka Hina.


"Kalian ini, setiap siaran pasti bikin heboh satu sekolah, ya!?"


"Ah, Hina. Ya, bikin heboh itu bagian dari acara."


"Yah, Kurenosaka. Kamu juga nggak kalah rame sih, sebenarnya."


"…Kenapa kalian berdua santai banget!? Ini aku lagi marah, tahu!"


Kurenosaka menatapku dan Shirakawa tajam-tajam.


"Seluruh sekolah heboh gara-gara kalian. Pada penasaran: 'Shirakawa Hakua dan tunangannya lagi bikin drama apa lagi sih?' gitu."


"Apa anak-anak elit sekolah ini sebegitu bosannya, ya?"


Ini klub penyiaran lho… bahkan bukan klub yang aktif juga.


"Standar kalian udah kelewat tinggi. Hakua, Haise… Kalian bakal gimana ngadepinnya?"


"Hina, jangan remehkan Haise!"


"Eh!? Kamu lempar semua tanggung jawab ke aku!?"


"Tenang, tenang, aku cuma bercanda kok. Aku ini serius di klub ini, tahu. Aku akan buat rencana yang matang."


"………"


Aku dan Kurenosaka saling pandang tanpa sadar.


Wajahnya jelas-jelas penuh firasat buruk.


Dan mungkin wajahku juga kelihatan sama tegangnya.


Jujur aja, lebih baik tadi beneran semua dibebanin ke aku.


Shirakawa tersenyum penuh kemenangan—jelas itu bukan rencana biasa, tapi… jebakan yang menyamar jadi ide acara.

Posting Komentar

Posting Komentar