no fucking license
Bookmark

Bab 3 Anata ni dake

 Keesokan harinya setelah Konomi menunjukkan sisi yanderenya.


Sejak kejadian itu, Konomi kembali bersikap normal tanpa menunjukkan tanda-tanda aneh. Hari-harinya kembali berjalan seperti biasa.


"Kak! Dengar deh! Hari ini di sekolah ada pelajaran olahraga, lho!"


"Kalau begitu pasti bakal capek, ya. Kalau kamu pulang nanti, mau aku pijitin nggak?"


"Uuh, mesum banget... Tapi ya sudahlah, onii-chan memang mesum dari sananya."


Sekarang bulan Juni. Musim hujan sebentar lagi tiba, tapi hari ini cuacanya cerah dan hangat—cukup nyaman untuk beraktivitas.


Sambil berjalan ke sekolah, Konomi terus bicara padaku dengan semangat. Tangannya juga menggenggam tanganku erat.


Jarak antara kami hari ini terasa lebih dekat daripada kemarin. Mungkinkah karena semalam aku sempat… meremas payudaranya?


"Hubungan kalian akrab banget, ya. Aku anak tunggal, jadi iri… aku pengin punya adik kayak Konomi-chan."


"Bagus, kan? Tapi Konomi nggak akan aku kasih ke siapa pun."


"Satu-satunya kelebihan kamu, Kouki, cuma karena Konomi-chan itu adikmu, lho."


"Itu kejam banget, nggak ada yang lain gitu!? Ya, misalnya… aku kuat!"


Gawat. Aku sendiri sampai kaget karena tidak bisa menyebut banyak kelebihan tentang diriku.


"Kak Ruri itu juga kakaknya Konomi, tahu? Jadi kita ini kakak adik juga!"


"Oh ya? Wah, aku senang dengarnya. Berarti aku dan Konomi-chan itu saudara ya."


Hubungan antara Ruri dan Konomi juga tampak sangat baik. Sepertinya Konomi bukan tipe yang gampang cemburu. Walaupun sempat yandere, dia tidak pernah menunjukkan sikap agresif terhadap perempuan lain. Mungkin karena memang pada dasarnya dia anak yang lembut.


(Untuk sementara ini, sepertinya aku bisa tenang soal Konomi.)


Aku sempat khawatir apakah sisi yanderenya akan muncul lagi, tapi tampaknya tak perlu dikhawatirkan.


"Kak, Kak Ruri, dadah~"


Kami berpisah dengan Konomi di tengah jalan, lalu aku dan Ruri melanjutkan langkah ke gedung sekolah bagian SMA. Saat hendak masuk ke kelas, kami melihat kerumunan orang di dekat pintu masuk.


"Eh? Ada apa, ya?"


Ruri berusaha mengintip ke tengah kerumunan. Aku juga penasaran dan ikut melihat ke arah pusat keramaian.


"Eh? Shizuku? Ayaka?"


Di tengah kerumunan itu, kulihat adik kelas yang imut, Shizuku, dan teman sekelasku yang berdada besar, Ayaka. Tapi, sepertinya ada yang tidak beres.


Shizuku tampak panik, dan Ayaka terlihat lemah bersandar padanya, seperti sedang kesakitan.


"Saionji-san sakit, ya?"


"Sepertinya begitu... Maaf ya, Ruri. Tolong bawakan tasku ke kelas dulu."


Aku setuju dengan dugaan Ruri. Setelah melihatnya sendiri, aku tidak bisa tinggal diam. Aku langsung melangkah mendekati mereka.


"Eh? Ah, iya. Aku ngerti. Tolong jaga Saionji-san, ya."


Karena kami teman masa kecil, Ruri tampaknya paham maksudku tanpa perlu penjelasan panjang. Aku sangat terbantu.


"Shizuku, Ayaka kenapa?"


Setelah menyibak kerumunan dan menyapa Shizuku, dia menoleh ke arahku dengan wajah yang hampir menangis.


"Uu... Ko-Kouki-senpai! Ayaka-senpai... sepertinya merasa tidak enak badan. Aku mau membawanya ke UKS, tapi... Ayaka-senpai nggak bisa jalan..."


Jadi begitu ceritanya. Shizuku berusaha membawa Ayaka ke ruang kesehatan, tapi Ayaka tak bisa berdiri. Menopang pun percuma kalau dia tak bisa bergerak. Dan Shizuku sendirian pasti tak sanggup mengangkat Ayaka.


"Tenang, tenang. Sekarang serahkan padaku."


Saat seperti ini, sudah saatnya lelaki kuat seperti aku turun tangan.


Untuk menenangkan adik kelasku yang panik, aku mengusap kepalanya dengan lembut, lalu langsung mengangkat Ayaka dalam gendongan.


"Ayaka, kamu nggak apa-apa?"


"Ini... gendongan ala putri, ya..."


"Ini bukan waktunya malu-malu, santai saja. Aku segera bawa kamu ke UKS."


Ayaka bahkan kesulitan untuk menjawab. Aku harus cepat membawanya ke tempat istirahat.


"Shizuku, sampai nanti ya. Soal Ayaka, biar aku yang urus. Kamu nggak perlu khawatir."


"Y-ya! Terima kasih banyak, Senpai!"


Wajah Shizuku yang sebelumnya panik kini terlihat lega dan tersenyum. Kalau aku bisa diandalkan seperti ini, jadi kakak kelas benar-benar terasa menyenangkan.


"Kouki-san, maaf ya..."


"Tidak apa-apa. Malah aku senang bisa menyentuh tubuhmu—eh, maksudku... senang bisa membantu."


"Dasar mesum... Tapi, makasih. Dan... tetap saja, maaf, ya."


Melihat Ayaka yang tampak menyesal, aku hanya membalasnya dengan senyum. Lalu dengan langkah cepat, aku menuju ruang kesehatan sambil menggendongnya.


Setelah aku menjelaskan situasinya pada guru di UKS, gejala Ayaka dinyatakan sebagai "sedikit anemia ringan."

Kalau istirahat sebentar, katanya akan baik-baik saja, tapi untuk jaga-jaga, dia disarankan pulang hari ini juga.

Pihak sekolah juga akan menghubungi orang tuanya agar dijemput.


"Kouki-san, aku sudah merasa jauh lebih baik. Bagaimana kalau kamu kembali ke kelas?"


"Masih ada waktu sebelum homeroom. Dan aku khawatir padamu, jadi aku akan tetap di sini. Kamu lagi sakit, jadi jangan sok kuat, ya."


"Ufufu… Kalau begitu, tidak ada pilihan lain. Aku senang."


Ayaka tersenyum kecil dari atas ranjang. Wajahnya sudah jauh lebih segar dibanding sebelumnya.

Setelah berbaring, sepertinya tubuhnya jadi lebih nyaman dan bisa mengobrol tanpa masalah.


"Aku memang punya tekanan darah rendah di pagi hari... Kalau kondisiku sedang tidak fit, biasanya jadi anemia ringan. Jadi ini bukan hal serius."


"Kalau begitu, syukurlah. Tapi jangan terlalu menganggap enteng juga. Kamu harus hati-hati."


"Ya ampun. Sampai-sampai aku dinasehati oleh Kouki-san... tapi aku malah senang, lho."


Melihat Ayaka tersenyum nakal seperti itu, aku hanya bisa membalas dengan senyum masam.


"Jangan bikin orang khawatir terus, dong. Soalnya ya… cewek cantik kayak kamu, dengan dada besar dan menggoda gini, kalau lagi lemah gitu bisa saja diserang cowok nakal, tahu? Kamu itu harus lebih sadar diri soal aura mesummu."


Sambil berkata begitu, aku mencolek pipinya. Tapi Ayaka malah menggenggam jariku erat.


"Kalau sampai terjadi, apa Kouki-san akan melindungiku?"


"Bego. Kalau aku malah jadi cowok nakalnya gimana? Jadi serigala yang siap menerkammu, tahu!"


"Kalau itu Kouki-san... aku tidak keberatan dimakan kok."


"...Kamu tetap mesum, ya. Nah, itu yang aku maksud!"


"Eh? Oh, iya ya? Haha... ternyata begitu, ya."


Ucapan menggoda seperti itu—benar-benar berbahaya. Kalau aku tipe cowok brengsek, sudah dari tadi dia ku-apa-apain.

Untungnya, aku ini cowok polos dan pengecut yang belum pernah pacaran, jadi tidak bakal berani!


"...Eh, kenapa masih megang tanganku?"


Tanpa sadar, Ayaka masih menggenggam tanganku dan memainkannya dengan gemas.


"Kalau sampai ada yang lihat, kan memalukan..."


"Ara? Baru begini aja kamu sudah malu? Ufufu, imut juga ya."


Sepertinya Ayaka menikmati reaksiku. Dia tersenyum kalem sambil meremas tanganku dengan kedua tangannya.


Dua lawan jenis berpegangan tangan sambil bertatapan di atas ranjang... Ini sudah seperti lima detik sebelum adegan mesum dimulai.


A-apa yang harus aku lakukan!? Haruskah aku rebahkan dia!? Aku nggak tahu! Aku ‘kan masih perjaka!!


Saat aku panik seperti itu…


"Heii~. Ini ruang UKS, lho. Jangan ribut—eh?"


Tiba-tiba, tirai tempat tidur disibak.


Yang muncul adalah seorang gadis dengan rambut dan kulit putih pucat.

Dan aku mengenalnya.


"Eh... Kouki-kun?"


Namanya adalah Shiramizu Yukihime. Karena kami bersekolah di SMP yang sama, kami sudah saling kenal.

Dia adalah teman sekelas, tapi karena tubuhnya lemah, dia biasa datang ke sekolah hanya untuk singgah di UKS.


"Eh!? Apa aku... mengganggu, ya?"


Yukihime memalingkan pandangannya sambil terlihat sangat canggung.


"Ti-tidak! Kami nggak lagi ngapa-ngapain! Aku juga nggak niat ngelakuin hal mesum! Ah, ya sih, sempat sedikit pengin, tapi aku perjaka jadi nggak bisa ngapa-ngapain juga!"


Aku buru-buru menarik tanganku, tapi Ayaka masih menggenggamnya erat, jadi tak bisa kabur… Sudah terlambat.


"Ma-maaf ya? Aku nggak lihat apa-apa kok! Ahaha… tapi setelah lihat yang begituan, tubuhku jadi panas. Mungkin aku demam. Aku pulang aja, ya~"


Tanpa menunggu balasan, Yukihime menutup tirai dan pergi meninggalkan UKS.


Dia pasti salah paham total.


"Ya ampun. Yukihime-san... Sepertinya dia sedang merasa cukup sehat hari ini. Jarang-jarang datang pagi-pagi begini."


Ayaka terlihat tenang. Dia tersenyum anggun sambil berkata demikian.


Benar juga, biasanya Yukihime datang lebih siang karena kondisi tubuhnya. Tapi, tunggu dulu...

Kok Ayaka bisa tahu soal itu?


Yukihime itu siswa yang datang ke sekolah cuma untuk UKS, dan hampir tidak dikenal oleh murid lain.

Harusnya Ayaka juga tidak tahu keberadaannya…


"Kamu kenal Yukihime?"


Aku penasaran dan bertanya, tapi Ayaka menggeleng pelan.


"Aku tidak kenal secara langsung. Hanya tahu dari informasi saja."


Jadi bukan teman, ya…

Hmm… Tapi apakah Yukihime cukup terkenal sampai jadi bahan obrolan?

Setahuku dia anak yang pendiam dan tertutup, jarang terlihat di keramaian...


Tapi ya sudahlah. Intinya, Ayaka ternyata tahu tentang Yukihime.


"Ya udah, terserah deh. Tapi, jujur aja, dipeluk tanganmu lama-lama begini bikin deg-degan juga. Bisa kita lepasin aja, nggak?"


Aku jadi malu karena terus-terusan digenggam.


Namun Ayaka malah tidak melepasnya. Bahkan dia menggenggamnya makin erat.


Lalu, entah kenapa, dia mengerutkan kening seolah heran.


"Ada apa?"


"Tidak… sejak kamu menggendongku tadi, aku sudah merasa. Dan sekarang makin kuat baunya.

Aroma ini, sepertinya... perempuan?"


Ayaka mencium telapak tanganku, lalu menggumam tak jelas dengan suara pelan.

Karena aku tidak bisa menangkap jelas ucapannya, aku hendak bertanya ulang…


Namun aku sadar waktu sudah mepet.


"Maaf ya, Ayaka. Homeroom sebentar lagi mulai. Aku harus balik ke kelas dulu. Istirahat yang cukup di rumah, ya."


"Eh? Ah, iya. Tentu, aku akan beristirahat..."


Meski Ayaka masih terlihat bingung, aku tidak bisa berlama-lama.


Aku melambaikan tangan dan keluar dari UKS.


Tapi Ayaka seperti masih ingin mengatakan sesuatu.

Mungkin aroma itu benar-benar mengganggunya...

Besok, sebaiknya aku lebih hati-hati.


Begitu aku keluar dari UKS, seorang adik kelas yang imut langsung berdiri menungguku di sana.


"Ah, Senpai! Aku sudah menunggu!"


"Shizuku? Kenapa kamu di sini? Kalau tidak segera kembali ke kelas, kamu bisa terlambat, lho?"


Waktunya sudah cukup mepet. Sambil terus berjalan, aku menegurnya, dan dia pun mengikuti langkahku dengan cepat.


"Maaf! Aku cuma ingin bilang sebentar saja! Soalnya aku khawatir sama kondisi Ayaka-senpai..."


Yah, memang awalnya Shizuku yang membantu Ayaka, jadi wajar kalau dia cemas.

Untuk menenangkannya, aku memperlambat langkah dan menoleh ke arahnya.


"Katanya cuma anemia ringan, jadi tidak masalah. Hari ini dia disuruh pulang untuk jaga-jaga."


"Syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Kouki-senpai, karena sudah menolongnya!"


Shizuku membungkuk sopan, dan aku pun tersenyum lebar. Dia memang adik kelas yang selalu imut.


"Dan juga, Senpai... tadi itu keren banget! Gendong gaya putri itu romantis banget, luar biasa! Senpai memang luar biasa!"


Matanya bersinar penuh kagum. Aku senang sih dipuji, tapi Shizuku memang selalu memberikan penilaian yang terlalu tinggi.

Dia cenderung mengagumi diriku secara berlebihan.


"Aku nggak ngapa-ngapain yang istimewa, kok."


"Itu namanya rendah hati. Senpai memang selalu bersikap anggun~♪"


Apapun yang kukatakan, selalu ditanggapi positif olehnya. Pada titik ini, aku bahkan sudah pasrah.


"Senpai itu keren! Benar-benar ganteng banget!"


Matanya berbinar seperti heroine dalam manga shoujo.


"Keren banget! Beneran kayak pangeran yang datang naik kuda putih… bikin jantung berdebar~"


"Di-puji segitunya sih… ya, aku nggak keberatan juga sih."


Aku tahu ini klise, tapi aku tetap merasa senang ketika dipuji terus-menerus seperti itu.


"Umm, jadi begini... Senpai, sebenarnya aku ada permintaan."


"Permintaan?"


"Iya! Umm… a-apa Senpai mau pergi belanja bareng setelah pulang sekolah nanti? Aku pengin coba jalan-jalan bareng Senpai…"


Sambil menarik ujung lengan bajuku dengan manja, Shizuku menyampaikan permintaannya yang super imut.


Yah, aku tidak punya alasan untuk menolaknya. Lagipula, sejauh ini dia tidak menunjukkan tanda-tanda yandere, jadi harusnya aman.


"Ya, tentu. Gimana kalau ke departemen store dekat stasiun?"


"Iya! Makasih banyak, Senpai! Yay~! Kencan bareng Senpai~♪"


Begitu aku mengangguk, Shizuku langsung melompat-lompat kegirangan.

Melihat dia seceria itu, aku juga ikut merasa senang.


"Kalau begitu, ini janji ya! Sampai ketemu nanti, setelah pulang sekolah!"


Setelah mengucapkan janji itu, aku dan Shizuku berpisah.


Karena dia masih kelas satu, tentu ruang kelasnya berbeda dari kelasku yang di tahun kedua.


(Wah, aku harus buru-buru atau bisa terlambat...)


Waktunya memang cukup mepet. Aku pun mempercepat langkah menuju ruang kelasku.


Nilai Konoe Kouki sebenarnya biasa-biasa saja. Tidak terlalu bagus, tapi juga tidak buruk.

Bukan berarti dia tidak belajar sama sekali, tapi juga tidak sampai bisa dibilang rajin.


Kalau punya waktu untuk baca buku pelajaran, lebih baik digunakan untuk baca buku mesum—begitulah masa remaja berjalan.


Setelah selesai mengantar Ayaka ke UKS, aku berhasil mengikuti pelajaran matematika tanpa terlambat.


(Bisa mesra-mesraan sama cewek memang menyenangkan, tapi belajar tetap saja bikin malas.)


Begitu jam pelajaran pertama selesai, aku pun menghela napas panjang.

Meskipun ini adalah tahun keduaku sebagai siswa kelas dua SMA, pelajaran tetap terasa sulit. Yah, mau gimana lagi.


Karena waktu istirahat hanya sepuluh menit, aku segera bersiap untuk pelajaran berikutnya—dan saat itulah...


"Kouki-san? Apa bisa aku bicara sebentar?"


Seseorang memanggilku. Lebih tepatnya, sepasang dada besar memanggilku. Eh, salah maksud.


Yang memanggilku adalah teman sekelasku yang berdada besar, Saionji Ayaka.


"Ayaka? Bukannya kamu sudah pulang?"


Bukankah guru UKS bilang tadi dia akan dipulangkan? Lalu kenapa dia masih ada di sini?


"Aku benar-benar ingin menanyakan sesuatu padamu… ayo, sebentar saja ke sini."


"Eh? Ah, oke..."


Tanpa menunggu persetujuanku, Ayaka langsung menarik tanganku. Jarang sekali dia seagresif ini.


"Kouki-san, bisakah kamu menjawab pertanyaanku?"


Tempat yang dia bawa aku adalah lorong tangga.

Meski banyak siswa yang lewat dan melirik kami penasaran, Ayaka sama sekali tidak terganggu.


"Setelah di UKS tadi… aku makin yakin. Aroma yang menempel di tubuhmu jauh lebih kuat dari kemarin... dan aku tidak bisa mengabaikannya."


Sepertinya dia penasaran sampai sebegitunya, sampai-sampai menunda pulang hanya demi menanyakan hal ini.


"Tolong... bisakah kau memberitahuku? Aroma ini… milik siapa?"


Pertanyaannya... sulit dijawab.


"A-aroma? Kamu bisa mengenali bau orang?"


"Tentu. Selama itu menempel di tubuh Kouki-san, aku bisa membedakannya."


"Gila juga... hidungmu luar biasa ya."


"Bukan soal hidung. Karena ini tentang Kouki-san, makanya aku bisa mengenalinya... Justru karena itu, aku ingin tahu. Siapa pemilik aroma ini? Tolong beri tahu aku."


Kalau ditanya begitu... aku sendiri juga bingung harus jawab apa.


"Kemarin aku ke sekolah, terus mampir ke toko buku juga. Jadi pasti ketemu banyak orang... mungkin itu aromanya?"


"Bukan itu."


Ayaka langsung menepis jawabanku.


"Aroma ini jelas hasil dari kontak langsung denganmu. Dan ini ada dua aroma berbeda… Salah satunya benar-benar asing bagiku, aroma seorang wanita. Yang satunya lagi—mirip dengan aroma Kouki-san, dan juga agak mirip aroma Konami-san, tapi bukan orang yang sama… Ini aroma dari seorang gadis yang sangat manis."


Penjelasannya membingungkan, tapi... setelah mendengarnya, aku langsung teringat dua orang.


(Ja-jangan-jangan… dia mencium aroma Izanami dan Hikari!?)


Kemarin aku memang bertemu mereka berdua di dunia setelah kematian.

Apa mungkin Ayaka bisa mencium aroma mereka?


(Tapi ini bukan cuma soal penciuman biasa! Gimana bisa dia merasakan kehadiran mereka berdua... Tapi bukan itu masalahnya sekarang!)


Yang harus kupikirkan adalah—apakah aku harus memberi tahu Ayaka soal Izanami dan Hikari atau tidak.


(Kalau aku cerita pun, dia pasti tidak akan percaya… Lagipula kalau aku coba jelaskan, aku harus menjelaskan juga kenapa Ayaka bisa berubah jadi yandere.)


Sejujurnya, aku tidak ingin memberi rangsangan berlebihan pada Ayaka.

Kalau sampai salah bicara dan Ayaka mengaktifkan mode yandere-nya lagi, bisa-bisa aku mati lagi.


Aku tidak mau mati lagi, jadi... sebaiknya aku tidak mengatakan apa-apa tentang mereka berdua.


"Maaf, aku benar-benar tidak bisa menjawabnya."


Jadi, aku pun menggeleng pelan.


Yah, Ayaka itu gadis yang anggun dan tenang. Dia tidak akan marah hanya karena ditolak menjawab—setidaknya, itulah yang kupikirkan saat itu.


"…Begitu. Aku mengerti."


Seketika, ekspresinya menghilang dari wajahnya.

Aku langsung merasakan hawa dingin menyusup ke punggungku. Refleks, aku langsung teringat saat Konami berubah menjadi yandere.


(Ta-tapi… jangan bilang, Ayaka juga bakal jadi yandere sekarang!?)


Entah kenapa aku merasa begitu, sampai-sampai tubuhku menegang.


Apa malaikat maut akan muncul lagi dan membunuhku…!? Jantungku berdetak kencang.


"Tapi kalau begitu, tak ada lagi yang perlu kutanyakan. Maaf sudah menyita waktumu, ya."


Ayaka mengatakan itu dengan tenang, lalu membalikkan badan dan pergi.

…Yandere-nya… tidak muncul. Eh? Jangan-jangan aku cuma terlalu parno?


"U-uh, maaf…"


"Tidak masalah. Kalau begitu, sudah cukup."


Dia terkekeh kecil sambil berjalan menjauh meninggalkanku.


"Ayaka? Kamu mau ke mana?"


"Ada mobil jemputan yang menunggu. Lagi pula aku juga tidak enak badan, jadi aku pulang sekarang… Sampai jumpa."


Ayaka terus berjalan menjauh. Tak lama kemudian, dia menghilang dari pandanganku.


Tingkah lakunya jelas-jelas aneh. Tapi kalau dia memang berubah jadi yandere, seharusnya malaikat maut muncul lagi. Jadi… sebenarnya apa yang sedang terjadi?


(Aku merasa tidak enak… Mending aku kirim pesan saja lewat ponsel.)




Melihat semua itu, aku langsung panik total.


"Tidaaaakkk! Aku nggak mau dibunuh sama cowok yang punya titit!! Kalau harus mati, mending dibunuh cewek cantik aja!! Aku nggak mau mati!!"


Sambil berteriak nggak jelas, aku mengibaskan tangan ke sana kemari seperti orang kesurupan.

Tapi tentu saja, perlawanan kecil macam itu tidak mempan terhadap dua pria berbaju hitam.

Aku langsung ditahan dan diikat dengan tali.


"Berhenti! Aku maunya ‘main ikat-ikatan’ kayak gini tuh sama cewek, bukan sama kalian berdua!!"


Aku meronta-ronta sekuat tenaga, tapi tetap saja sia-sia.

Salah satu dari mereka kemudian menekan sapu tangan ke wajahku.


Ada bau aneh… Ini pasti semacam obat bius.

Aku mencoba menahan napas supaya tidak menghirupnya, tapi karena tak bisa bernapas, aku malah terengah-engah.

Alhasil, aku malah menyedot terlalu banyak zat dari sapu tangan itu. Pandanganku pun mulai kabur.


"Uu… aa…"


Seluruh tubuhku kehilangan tenaga, dan aku jatuh terkulai ke lantai. Aku tak bisa bergerak lagi.


Setidaknya… sebelum kehilangan kesadaran, aku ingin tahu siapa sebenarnya yang bersembunyi di bawah tempat tidur tadi.

Dengan sisa tenaga, aku memaksakan mataku untuk tetap terbuka.


"Bawa dia. Jangan sampai terluka... Bawa dia ke kamarku."


Itu adalah suara seorang perempuan.


Tepat sebelum kesadaranku menghilang sepenuhnya, hal terakhir yang kulihat adalah…

sepasang… payudara besar yang menggoda.


Mungkin aku sudah mati. Mungkin aku dibunuh oleh pencuri. Tapi kalau bisa memilih, aku lebih rela dibunuh oleh wanita dengan oppai indah itu daripada oleh lelaki.

Oppai itu benar-benar sempurna, seperti yang sering muncul di manga-manga mesum.

Entah kenapa, aku merasa pernah melihatnya… tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.

Agak menyedihkan juga, mengingat situasinya.


Saat aku merenungkan hal konyol itu, aku baru menyadari satu hal:

(Tempat ini bukan ruang putih! Tidak ada Izanami! Jadi aku… masih hidup!?)

Begitu aku menyadari bahwa aku belum mati, kesadaranku pun mulai kembali sepenuhnya.

Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena obat bius yang kuhirup tadi. Tapi justru karena rasa sakit itulah aku tahu aku masih hidup.

(Ini di mana? Apa yang sebenarnya terjadi padaku!?)


Aku mencoba mengamati keadaan sekeliling. Tapi terlalu gelap, jadi aku tidak bisa melihat apa pun.

Sepertinya aku ada di dalam sebuah ruangan.

(Eh? Aku nggak bisa bergerak. Hah? Aku… diikat?)

Kepalaku bisa digerakkan, tapi tangan dan kakiku tidak bisa sama sekali.

Sepertinya aku diikat dengan tali atau semacamnya.

Untungnya, posisiku duduk di kursi, jadi setidaknya tidak terlalu menyiksa.

(Apa aku diculik…?)

Dari semua yang terjadi, itu kemungkinan paling masuk akal.

Seseorang masuk ke kamarku, lalu saat aku sadar, dua pria berbaju hitam membekapku dan membiusku.

Situasi ini benar-benar bukan keahlianku.


“G-gue nggak suka yang kasar begini! Gue ini perjaka yang sukanya mesra-mesraan! Maafkan aku karena belum pernah pacaran!”


Karena panik, aku berteriak seenaknya, berharap ada reaksi dari orang yang mungkin sedang mengawasiku.

Kalau memang ada yang memperhatikanku, pasti ada respons, kan?


“...Kau sudah bangun. Selamat sore.”


Seperti dugaanku, ada suara yang menjawab.

Ternyata aku memang tidak sendirian di ruangan ini.

Tapi suara itu… membuatku jauh lebih kaget daripada yang kuduga.


“Eh? Eh? Itu… suara Ayaka, kan? Kenapa…?”


Suara yang menjawabku adalah suara Saionji Ayaka—pemilik oppai terbesar di sekolah.

Artinya, orang yang menyusup ke kamarku tadi… juga Ayaka!?

Pantas saja, oppai itu terlihat familier.


“A-apa kau bisa buka tali ini? Aku nggak bisa gerak.”


Jujur, aku sedikit lega.

Kupikir aku ditangkap pencuri beneran, tapi ternyata cuma orang yang kukenal.


“Tapi… kenapa kau menyusup ke kamarku? Siapa pria berbaju hitam itu? Lalu, gimana dengan kondisi tubuhmu? Kenapa nggak membalas pesanku?”


Banyak pertanyaan bermunculan di kepalaku.

Bukan karena marah, tapi murni karena penasaran.


“Kau kan kenal aku. Kalau minta izin, aku pasti akan mengizinkanmu masuk kamarku. Tapi menyusup secara diam-diam itu… agak salah, tahu?”


Namun yang paling ingin kusampaikan adalah:


“Dan yang paling penting… kenapa kau cari-cari majalah mesumku!? Bahkan ditaruh di atas meja segala! Itu serangan mental yang nggak bisa dimaafkan bagi seorang pria, tahu nggak!?”


Bagi pria, majalah mesum adalah bagian dari "jiwa".

Dilihat tanpa izin itu rasanya seperti jiwa kita diobrak-abrik.

Mencari dan memajangnya seperti trofi itu tindakan yang kejam.


“J-jangan bilang… kau sampai membacanya?”


Aku masih berharap yang membacanya adalah dua pria berbaju hitam itu.

Tapi kalau ternyata Ayaka yang membacanya… mungkin jiwaku akan hancur.

Namun—


“Ya, tentu saja aku membacanya. Itu pertama kalinya aku membaca hal seperti itu, jadi aku kurang mengerti, tapi tetap aku baca.”


Dia menjawab dengan tenang.

Air mataku mengalir deras seketika.


“Bunuh aku saja! Sekalian! Aku sudah nggak kuat!”


Rasanya ingin mati. Seluruh preferensi seksualku terbongkar.


“Itu beda! Beda, Ayaka! Buku yang bertema tentakel itu… itu buku mesum pertamaku, aku beli waktu SMP saat belum ngerti apa-apa! Aku cuma beli karena cewek di sampulnya imut! Jadi aku nggak bisa buang!”


Meski aku penyuka oppai, koleksi bukuku mencakup beberapa genre unik juga.

Beberapa kubeli karena rasa penasaran atau kurang pengetahuan.

Membayangkan semua itu dibaca Ayaka membuatku ingin menghilang.


“Yang kusuka itu oppai! M-meski tentakel juga agak menggoda… tapi itu bukan fokus utamaku, oke!?”


Aku berusaha keras meluruskan kesalahpahaman.

Tapi berbeda dengan sikap panikku, Ayaka tetap tenang.


“Aku tahu. Karena itu tentang dirimu, Kōki-san... Aku tahu kalau kau pertama kali beli buku itu saat SMP kelas tiga, karena kau nggak paham genre-nya dan tertarik karena sampulnya.”


“Itu benar! Karena cewek di sampulnya terlalu imut, jadi… tunggu, kok kau tahu!?”


Dia tahu hal yang bahkan tidak kuingat jelas.


“Aku tahu semuanya tentang Kouki-san.”


Walau ruangan gelap, aku bisa merasakan bahwa dia tidak tersenyum.

Suasana hatinya jelas bukan yang biasa.


“Kouki-san suka oppai besar, tidak suka kekerasan, makanya kau tidak punya koleksi genre sadis. Aku tahu semuanya—tinggi badan, berat badan, tanggal lahir, golongan darah, hobi, waktu lahir, sekolah yang pernah kau masuki, anggota keluargamu, pertemananmu, pola pikirmu, impianmu, harapanmu, bahkan cita-citamu… semua.”


(…Jadi dia tahu soal Yukihime juga karena ini)

Sekarang semua masuk akal.

Dia mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.


“Itu karena… aku mencintaimu, Kōki-san.”


Alasannya terdengar manis. Tapi—


“...Bukannya itu… terlalu berlebihan?”


Ini sudah bukan cinta biasa.

Nada suaranya pun terdengar datar dan menakutkan.


“Aku sangat mencintaimu, jadi aku belajar banyak tentangmu. Aku ingin tahu, ingin mengerti dirimu… lihat, aku rajin belajar, lho?”


Setelah itu, terdengar bunyi "klik", dan lampu di langit-langit menyala.

Sepertinya dia baru menyalakannya.


“Ugh…”


Mataku silau dan tidak bisa melihat dengan jelas sejenak.

Tapi begitu terbiasa, wajah Ayaka pun terlihat jelas.


“Ufufu.”


Di matanya… tidak ada cahaya.


(Dia… jadi yandere lagi!)


Itu adalah ekspresi yang sama seperti saat hari kelulusan dulu.

Bahkan Shinigami-chan sudah berdiri di sampingnya sambil memutar-mutar sabitnya.

Maksudnya, dia benar-benar siap membunuhku!?


“Lihat, ini adalah tempat penyembuhanku… ‘Ruangan Kouki-san’.”


Setelah ruangan terang, aku bisa melihat sekeliling dengan jelas.

Begitu melihatnya… aku nyaris pingsan.


“Itu… fo-foto-foto aku!? Dan itu semua hasil nyolong foto, kan!?”


Dindingnya penuh dengan foto-fotoku.

Ada yang tersenyum, marah, bahkan wajah aneh.

Yang paling memalukan adalah foto saat aku mimisan sambil baca majalah mesum.


“Itu… itu buku harian lamaku!? Yang kukira hilang waktu SMP!?”


Buku harian itu dipajang dalam pigura.

Sekarang aku mengerti kenapa dia tahu buku mesum pertamaku.


Tapi yang paling mengejutkan adalah…


“Pa-p-p-pakaian dalam!? Itu celana dalamku, kan!? Kenapa disegel vakum begitu!?”


Celana dalamku yang hilang dulu… ternyata disimpan di sini dengan rapi.

Ada juga barang-barangku yang lain dipajang di sana.


Seperti ruangan milik penggemar berat idol.


“Hebat, kan? Aku mencari banyak koneksi untuk tahu lebih banyak tentang Kouki-san. Berkat itu, aku tahu banyak hal♪”


“APA yang bisa kau pelajari dari celana dalamku…!?”


Banyak hal ingin kutanyakan. Tapi Ayaka tidak memberi kesempatan.


“Aku sudah belajar banyak tentang Kouki-san. Aku pikir aku tahu semuanya… tapi ternyata ada satu hal yang tidak kupahami sama sekali.”


Sambil berbicara dengan nada datar, Ayaka menempelkan hidungnya ke leherku.

Sepertinya dia sedang mengecek aroma tubuhku.


Aroma manis Ayaka juga masuk ke hidungku.

Biasanya aku akan menghirupnya dalam-dalam, tapi saat ini tidak ada waktu untuk itu.


“Aah, tetap saja… aku tidak bisa tahu. Aroma ini… milik siapa!? Ada dua aroma asing yang melekat padamu! Satu memang mirip Kouki-san, jadi aku tidak terlalu khawatir… tapi yang satu lagi membuatku sangat tidak tenang!!”


Ayaka yang biasanya anggun kini berubah drastis, napasnya memburu dengan marah.


(Aroma yang dia tidak tahu itu… pasti dari Hikari dan Izanami, kan?)

Dia juga mengatakan hal serupa di sekolah tadi.

Dan saat itu, aku sengaja tidak menjelaskan apa-apa karena kupikir akan percuma.


Tapi sepertinya… keputusan itu salah.


“Kouki-san tidak mau memberitahuku… jadi aku memutuskan untuk mencari tahu sendiri! Aku sewa detektif, suruh para pelayan membantuku, dan aku sendiri menyelidiki kamarmu! Tapi tidak kutemukan jejak apa pun! Ada sesuatu yang tidak kuketahui yang telah bersentuhan denganmu… dan itu, aku benci sekali!”


Di sekolah pun, tingkah laku Ayaka sudah tampak aneh.

Ternyata dia memang sedang berada di ambang menjadi yandere… dan ketika tak lagi bisa menahan diri, dia pun menyusup ke kamarku.

Dua pria berbaju hitam itu mungkin adalah pelayan yang ia sewa.

Tapi karena tidak menemukan apa pun, akhirnya dia benar-benar berubah menjadi yandere.


"Siapa perempuan itu, ya? Aku ingin tahu segalanya tentangmu, Kōki-san... Kumohon, tolong katakan padaku... siapa sebenarnya mereka?"


Dia ingin tahu. Tapi… apa aku boleh mengatakan yang sebenarnya tentang Izanami dan Hikari?

Terutama soal Izanami. Dia itu dewi, dan mungkin ada aturan yang melarang manusia dunia ini mengetahui keberadaannya.

Aku merasa lebih baik tidak mengatakan apa pun agar tidak menimbulkan masalah…


“Tidak mau bilang, ya? Kalau begitu… harus bagaimana, ya?”


Kilau!

Seolah merespons keinginan Ayaka, si Shinigami-chan mengangkat sabit besarnya hingga berkilat.

Merasa situasinya sangat berbahaya, aku langsung berteriak.


“Aku ngerti! Aku akan jujur! Mungkin kedengarannya gila, tapi dengarkan dulu! Sebenarnya aku… pernah mati sekali. Dan waktu itu aku bertemu dengan seorang dewi bernama Izanami, serta seorang gadis bernama Hikari yang katanya anakku di masa depan! Dua orang itulah yang kau rasakan keberadaannya, kan!?”


Aku langsung melupakan kekhawatiran soal Izanami.

Lagipula, semua kekacauan ini juga akibat ulahnya, jadi kupikir aku tidak perlu repot-repot memikirkan perasaannya.


Aku menjelaskan dengan suara lantang dan serius. Tapi—


“Begitu ya... Sampai harus berbohong seperti itu demi menyembunyikan siapa perempuan itu. Dia sangat berharga untukmu, ya...”


“Itu bukan bohong! Dan lagi, Izanami sama sekali bukan orang yang penting buatku! Tolong jangan salah paham! Aku cuma suka tubuh dan wajahnya, selebihnya nggak ada yang kusukai dari dia!!”


Meski aku membantah dengan keras, Ayaka tetap tidak mempercayai kata-kataku.


“Kouki-san, kalau aku yang mengatakan hal serupa, apa kau akan percaya?”


“Itu… yah…”


Sejujurnya, mungkin aku juga tidak akan percaya.

Aku sendiri sadar cerita ini terdengar terlalu mengada-ada.


Jadi walaupun aku sudah bicara sejujurnya, tetap saja tidak ada gunanya.

Bahkan sebaliknya—Ayaka malah semakin curiga.


“Sudah cukup. Kalau Kouki-san tidak mau menjelaskan, maka aku akan mencari tahu sendiri.”


“G-gimana caranya!? Jangan bilang mau disiksa!? Aku nggak kuat kalau bukan hukuman mesum!”


“Tenang saja. Tidak akan menyakitkan... Hanya akan terasa sedikit ‘cekrek’ ketika aku melihat langsung ke dalam otakmu. Kalau aku melihat ke dalam sana, pasti semua rahasia yang kau sembunyikan bisa terbongkar, kan?”


“Nggak akan bisa lah! Dan kalau sampai otakku diambil, itu bukan ‘cekrek’ tapi ‘crot’, dan aku beneran mati dong!”


“Ufufu. Kouki-san akan terus hidup, kok. Di dalam hatiku… dan di dalam toples formalin.”


“Oh, syukurlah—YA NGGAKLAH!? Itu mah artinya aku mati total! Nggak ada harapan dan serem banget!”


“Aku senang kau menyukainya.”


Aneh. Padahal kami sama-sama pakai bahasa Jepang, tapi rasanya percakapan ini tidak nyambung.

Sepertinya aku tidak bisa lagi menjangkau Ayaka hanya dengan kata-kata.


“Kalau begitu... sampai jumpa.”


Begitu Ayaka mengucapkan itu, Shinigami-chan tersenyum ceria lalu mengangkat sabitnya tinggi-tinggi.

Aku pun berusaha keras kabur, tapi tubuhku masih terikat ke kursi. Aku tak bisa bergerak sedikit pun.


Ah… ini akhir hidupku.

(Sial… apa aku akan mati lagi dalam keadaan masih perjaka? Di depan oppai seindah ini, aku akan mati sia-sia?)


Tidak… aku tidak mau!

Kalau memang harus mati, setidaknya… aku ingin bisa menyentuh oppai itu sekali saja!


“Uwooooooooooooo!!”


Di ambang kematian.

Aku sudah pasrah dengan hidupku, tapi justru karena itu aku memaksakan seluruh tenaga dalam tubuhku.

Bukan untuk melarikan diri. Tapi demi menyentuh oppai itu, aku berusaha melepaskan diri dari ikatan!


(Demi oppai!!)


Mungkin saat itu aku mengerahkan kekuatan terbesar sepanjang hidupku.

Kekuatan luar biasa saat terdesak benar-benar muncul—tali ikatan itu putus, dan lenganku pun bebas.


“…………♪”


Tepat di saat yang sama, srek!

Sabit besar itu menghujam tubuhku.

Kesadaranku pun mulai redup, tapi aku mengerahkan seluruh tenaga terakhirku untuk menggapai oppai Ayaka.


(Sampai… kan…!)


Aku menjatuhkan tubuhku ke depan, memperpendek jarak antara diriku dan Ayaka—




Tangan yang aku julurkan berhasil menggenggam erat oppai Ayaka.


"────Bufuh"


Karena ukurannya yang luar biasa dan kelembutannya yang luar biasa pula, mimisan pun menyembur dari hidungku.

Jari-jariku tenggelam dalam oppai itu seolah diserap oleh kehangatan dan empuknya daging.

Bersamaan dengan itu, kesadaranku juga perlahan-lahan tenggelam ke dalam kegelapan...

Namun hatiku—penuh dengan kebahagiaan.


Oppai memang luar biasa.

Bahkan saat ajal menjemput, mereka tetap mampu membawa kebahagiaan bagi seorang pria…


"Maafkan aku, Kouki-san. Aku hanya… ingin tahu segalanya tentang orang yang kucintai, itu saja."


Dan kemudian—

Pandanganku dipenuhi cahaya putih yang menyilaukan.


Konoe Kouki, masih perjaka. Meninggal untuk ketiga kalinya──


"Baiklah, saatnya hidup kembali! Aku akan segera bangkit dan merasakan oppai itu lagi! Ayo, Izanami, cepatlah!!"

Meski sudah mati, aku masih penuh semangat.


"Kuahaha! Bahkan setelah dibunuh, kau masih seaktif ini? Aku belum pernah melihat anak semenarik dirimu, kuhuhu. Tak bisa berhenti tertawa aku dibuatmu!"

"Kalau kau mau tertawa, biar aku buat kau tertawa lebih lagi! Nih, kutusuk-tusuk!"

"Ahyahya!? Jangan remas lengan atasku! Sudah berapa kali kukatakan tubuhku sensitif… ahyahya, hentikan! Gaya tertawaku jadi kehilangan wibawa, hentikanlahh!"


Ternyata tawa khas "kuhuhu" milik Izanami memang sengaja dibuat berwibawa.

Tapi karena dia sedang tidak marah, aku pun segera melepaskannya.


"Hmm… tetap saja, lengan atas tidak bisa menandingi. Katanya selembut oppai, tapi kalau dibandingkan dengan oppai-nya Ayaka, jelas kalah jauh"

"Bodoh! Mana mungkin tubuh dewi kalah dari gadis manusia biasa!? Nih, sentuh langsung dadaku dan bandingkan! Pasti lebih hebat punyaku!"


"Ja-jangan remehkan aku hanya karena aku masih perjaka! Bukan berarti aku mau menyentuh semua oppai yang ada. Aku hanya mau menyentuh oppai milik gadis yang menyukaiku! Oppai-mu itu… paling banter hanya layak disembah dari jauh!"

"Tapi kau terus menatapnya, bukan? Jelas-jelas kau tertarik. Nih, jangan pura-pura jaim, langsung sentuh saja. Akan kuperlihatkan betapa menawannya aku!"


Begitulah, bahkan setelah mati pun, aku dan Izanami tetap saja ribut-ribut seperti biasa.

Dan melihat kami dengan tatapan datar, adalah putriku tercinta, Hikari.


"Ayah benar-benar… tak bisa dibiarkan sendiri, ya"


Hikari tampak agak kesal, sambil menepuk-nepuk punggungku ringan.


"Eh? Kepribadian Hikari berubah lagi. Jadi kali ini ibumu… Ayaka, ya?"


Penampilannya masih sama seperti Hikari yang sebelumnya, tapi cara bicara dan auranya berbeda.

Jadi, ibu kandungnya kali ini pun berubah.


"Ya. Maafkan ibuku yang merepotkan… Tapi karena Ayah ternyata jauh lebih sehat dari yang kupikir, aku jadi tenang. Syukurlah Ayah baik-baik saja"


Sepertinya Hikari sempat khawatir karena aku sempat mati.

Tapi tetap saja, meski ibunya berubah, Hikari selalu jadi anak yang baik.


"Tenang saja. Aku akan selalu semangat kalau Hikari muncul di hadapanku, meski aku sudah mati berkali-kali"


"…Tapi kali ini, Ayah semangatnya karena oppai Ibu, kan? Ayah memang benar-benar maniak oppai. Bahkan setelah menikah pun masih begitu"

"Ya… sepertinya aku akan tetap menyukai oppai meskipun sudah menikah, ya"


Sebagai pria, ya memang tak bisa dihindari.


"Ayah memang selalu mesum. Harusnya sedikit lebih tenang"

"Jangan ngomong gitu, Hikari. Nih, biar Ayah gendong biar kamu ceria lagi"


"Kya! Ayah, jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Aku ini sudah dua belas tahun, tahu!"


Ternyata Hikari kali ini agak anggun dan sedikit dewasa.

Saat kugendong, dia memerah dan menepuk-nepuk pundakku. Mungkin ini masa pemberontakannya.

Tapi aku tetap tak akan berhenti.


"Kalau kau menolak begini malah makin lucu. Nih, takai-takai~"

"J-jangan! Malu tahu…"

"Ah, maaf, maaf. Jangan cemberut begitu. Hikari lucu sih, jadi aku jadi ingin memanjakanmu"

"Lu-lucu… Ayah pikir aku akan langsung senang kalau dipuji begitu? Ayah memang, aduh…"


Meskipun ngomel, senyuman manis tak bisa disembunyikan dari bibir mungilnya.


Tapi, meski kami bercanda begitu, aku sebenarnya ingin menanyakan sesuatu.


"Hikari. Seperti apa ibumu kali ini?"


Sama seperti waktu Konomi jadi yandere, aku berharap dapat petunjuk soal Ayaka dari Hikari.


"Aku senang kalau kau bisa menjelaskannya… secara insting anak, ya"


"Hmm… kalau satu kata yang menggambarkan Ibu… mungkin ‘masokis’"

"Eh"


Aku melongo setelah mendengar jawaban putriku sendiri.


"Masokis? Maksudmu ibumu, sampai anak perempuannya pun sadar kalau dia seorang masokis!?"


Padahal selama ini Ayaka tampak lembut dan anggun, tidak terlihat seperti itu sama sekali.

Dia bahkan seperti ragu untuk berkata kasar.


Tapi… sampai Hikari pun bisa bilang begitu… berarti sudah parah.


"Iya. Saat dimarahi Ayah, dia malah tersenyum bahagia. Dan Ayah juga terlihat menikmatinya, aku jadi malu sebagai anaknya…"


Ya Tuhan. Ternyata aku juga ikut menikmatinya seperti permainan. Parah banget.

Kasihan juga Hikari yang harus menyaksikan itu. Mungkin itu sebabnya Hikari kali ini terlihat lebih dewasa dibanding sebelumnya.


"Ma-maaf ya. Kami membuatmu repot"

"…Tidak apa-apa. Jangan minta maaf. Aku juga… sebenarnya cukup bahagia"


Hikari berkata begitu, lalu memelukku dengan lembut.


"Jadi, kumohon… jangan tinggalkan Ibu, ya"


Sebagai seorang anak, Hikari jelas merasa sedih dengan kondisi ibunya sekarang.

Aku pun mengacak-acak lembut rambut Hikari.


"Tentu saja. Tenang saja… Aku tidak akan pernah membenci orang yang mencintaiku. Dan lagi, karena oppai-nya besar, anehnya aku jadi bisa memaafkan meski sempat dibunuh… cewek itu curang"

"Ayah…! Benar-benar… Tapi aku bahagia bisa lahir sebagai putri Ayah"

"Aku juga senang Hikari lahir sebagai anakku"


Itu adalah perasaanku yang tulus. Karena Hikari, aku tidak akan menyerah.


"Jadi jangan khawatir. Ayahmu akan membuktikan kalau dia bukan sekadar cowok cabul"

"Itu sudah kuketahui sejak lama. Ayah adalah pria paling keren di dunia bagi aku dan Ibu!"


Setelah dipuji seperti itu, mana mungkin aku tidak semangat?


"Baiklah! Ayah akan berjuang! Izanami, ayo cepat hidupkan aku kembali!"

"Umu! Buatlah aku terhibur lagi!"


Dengan berkata begitu, Izanami menepukkan kedua telapak tangannya.


Pop!

Bersamaan dengan suara yang lucu itu, penglihatanku menjadi hitam gulita.


"Ayah… sampai jumpa lagi di masa depan, ya?"


Dengan kata-kata terakhir dari Hikari itu—

aku pun kembali hidup di dunia nyata──


"Aku tak mau bicara, ya? Kalau begitu… apa yang harus kulakukan, ya?"


Aku hidup kembali, tepat di saat aku belum sempat menjelaskan tentang Izanami dan Hikari kepada Ayaka. Kali ini, setidaknya aku punya sedikit waktu lebih banyak dibanding saat bersama Konomi.


(Aku tidak bisa jujur di sini… dia tidak akan mempercayainya.)


Membicarakan tentang Izanami dan Hikari sekarang hanya akan memperburuk keadaan.


Kalau Ayaka menganggapku berbohong, rasa tidak percayanya justru akan makin dalam.


"Jadi kau benar-benar tak mau bicara? Itu sangat mengecewakan… Aku mencintaimu, Kouki-san. Justru karena mencintaimu, aku pikir aku sudah memahami segalanya tentang dirimu… Tapi ternyata masih ada sisi yang tidak kukenal darimu. Aku tak bisa menerimanya…"


Ayaka terus berbicara sesuka hatinya. Sejujurnya, aku tidak akan marah, tak peduli apapun yang dikatakan gadis cantik dan berdada besar seperti dirinya. Apa pun yang dia lakukan juga, aku tidak terlalu terganggu. Tapi tetap saja, bukan berarti aku tidak merasa apa-apa.


Selama ini aku selalu berhati-hati dalam memilih kata karena kupikir dia akan takut. Tapi kalau memang dia seorang do-M, tak ada gunanya lagi bersikap lembut.


Karena itu, aku memutuskan untuk jujur dan bicara langsung.


"Heh, Ayaka. Katanya kau tahu segalanya tentangku?"


"Iya. Aku menyewa detektif, memasang kamera tersembunyi, bahkan menyelidiki sendiri… Kupikir tidak ada hal tentangmu yang tidak kuketahui… Tapi bau ini… Siapa? Ini bau wanita yang tidak kukenal. Aku tidak bisa memaafkannya."


Dia terlihat seperti siap mengayunkan sabit besar layaknya shinigami. Tapi demi Hikari, aku mengumpulkan keberanian dan berteriak.


"Bau wanita!? Aku nggak tahu soal itu! Bukannya itu cuma bau ikan asin!? Aku ini remaja, tahu! Pasti tubuhku mengeluarkan aroma aneh yang belum pernah kau kenal!"


Aku sadar betul kalau itu kalimat paling buruk yang pernah kulontarkan. Tapi dalam situasi seperti ini, yang penting adalah momentum.


Aku melontarkan komentar cabul tanpa ragu.


"I-ikan… asin…!?"


Ayaka sampai kehilangan kata-kata karena ucapan cabulku yang tiba-tiba.


Bahkan si gadis shinigami terlihat canggung dan mulai gelisah.


"Atau jangan-jangan, kau sudah tahu bau amis tubuhku!? Kau tahu? Nggak mungkin, kan? Pasti nggak tahu, kan!? Bilang saja nggak tahu, ya!?"


Aku benar-benar tidak mau membayangkan gadis sekelasku tahu segala tentang kegiatan self-service ku. Tapi mengingat ini Ayaka, rasanya bukan hal mustahil…


Untungnya, dia menggeleng.


"T-tentu saja tidak!"


"Bagus… Tapi itu berarti kau tidak tahu segalanya tentangku, kan? Bahkan bau amis tubuhku kau nggak tahu, dan malah salah mengira itu bau wanita lain!"


Logika yang maksa banget. Tapi karena topiknya soal hal jorok, Ayaka jadi kesulitan membantah.


"Itu… aku…"


Dia jelas-jelas gugup. Aku pun langsung menyerang balik, memanfaatkan momentum untuk mengambil kendali percakapan.


"Jadi selama ini kau cuma sok tahu aja, ya?"


"B-bukan begitu…!"


"Kalau begitu, kau tahu nggak apa yang terjadi sama anunya aku waktu sedang mood bagus!?"


"……!?"


Ayaka langsung memerah seperti tomat karena kata-kata cabulku yang bertubi-tubi.


Sepertinya dia paham apa maksudku, tapi tentu saja tidak tahu harus menjawab apa.


Kesempatan bagus! Dia terdiam dan membeku! Aku lanjutkan seranganku.


"Tuh kan, masih banyak yang nggak kau tahu tentangku. Misalnya, seperti apa oppai yang paling kusukai, bisa jawab?"


"Tch… Kau suka… oppai besar, kan!?"


"Salah~! Aku suka SEMUA oppai di dunia ini! Kau kira oppai besar selalu jadi favorit!? Jangan besar kepala cuma karena punya oppai gede! Oppai-mu cuma besar, lembut, dan bentuknya bagus doang! Kau kira paling hebat ya!? Malu-maluin!"


…Tunggu, sepertinya aku malah muji dia barusan. Tapi ya sudahlah.


"Tuh, berarti ini ketidaktahuan yang ketiga. Katanya tahu segalanya tentangku, kok bisa malu-malu begitu ya~?"


"U-ugh…"


Ayaka hanya bisa menggertakkan gigi penuh penyesalan.


Meskipun sedang dalam mode yandere, kali ini aku yang memegang kendali percakapan.


Dan wajahnya memerah sekali, seolah senang. Hikari benar, Ayaka memang do-M.


Kalau begitu, aku akan bicara pakai gaya yang menyentuh titik lemah seorang do-M.


"Ayaka, lepasin ikatannya sekarang."


"T-tidak boleh! Aku masih punya pertanyaan…"


"Aku bilang LEPASKAN. Harus diulang berkali-kali baru nurut, ya?"


Nada bicaraku lebih tegas, seperti memerintah. Sebenarnya aku agak enggan bicara seperti itu, tapi Ayaka justru bereaksi sangat baik.


"H-hyaiii!"


Tubuhnya bergetar dan dia langsung melepas ikatanku dengan suara melengking.


Jelas sekali dia menikmatinya… Sekarang aku bebas.


Kalau begitu, sekalian saja aku lanjutkan peran dominan ini.


"Duduk bersila. Kau tahu nggak, kau tiba-tiba menculikku… dan melakukan banyak hal sesukamu. Aku harus menegurmu."


"Tapi… aku ingin menanyakan sesuatu…"


"Diam, dasar oppai monster! Berapa kali harus kukatakan hal yang sama!?"


"Ahhhn! Ma-maafkan akuu… aku akan duduk sekarang…"


Ayaka duduk bersila dengan nafas memburu dan tatapan penuh gairah ke arahku.


Cahaya belum kembali ke matanya… Bahkan si shinigami masih belum hilang, berarti mode yandere-nya masih aktif.


Tapi karena dia mulai mendengarkan, ini kesempatan bagus untuk menyadarkannya.


"Ayaka. Pertama-tama, aku nggak suka hal-hal yang terlalu memaksa. Saat kau menyuruh pria-pria kekar itu mengikatku, aku benar-benar ketakutan, tahu? Kalau pun kau mau menyeretku, setidaknya suruh perempuan! Sekarang, minta maaf soal itu."


"Y-ya! Ma-maafkan saya, yang mulia!"


"Ha? Suaramu pelan dan nggak jelas! Minta maaf itu yang tegas, pakai hati!"


"Maafkan aku! Aku sudah berlaku kasar dan bertindak sepihak padamu!"


Ayaka langsung bersujud sambil membenturkan kepalanya ke lantai.


Haaah… aku tidak suka membuatnya melakukan hal sejauh ini, tapi kalau ini yang dia mau, ya sudah.


"Kau juga masuk ke rumahku tanpa izin, mencuri barang-barangku… bahkan baca majalah por… Eh, dan sesekali nyolong barang pribadiku juga, kan? Itu nggak benar, tahu?"


Ruangan khusus bernama ‘Kamar Kouki’ itu penuh barang milikku.


Semua itu kemungkinan besar hasil curian Ayaka, jadi aku menegurnya keras-keras.


"Mulai sekarang, jangan lakukan lagi."


"Aku cuma… suka padamu… makanya aku ingin memilikinya…"


"Kalau begitu tinggal bilang langsung! Mulutmu itu cuma dipakai buat makan gizi buat oppai ya? Minimal bilang 'Aku mau celana dalammu’, gitu kek! Nanti akan kuberi dengan senang hati… tentu saja, aku juga akan minta celana dalammu sebagai gantinya."


"Eh… B-benarkah? Kau tidak akan menganggapku menjijikkan?"


"Tidak. Karena itu tandanya kau benar-benar menyukaiku, kan? Aku akan menerimanya. Tapi celana dalammu tetap aku minta!"


Hal penting harus diulang dua kali.


Aku juga ingin punya celana dalam Ayaka, jadi aku paham perasaannya.


"Tapi tetap saja, masuk tanpa izin dan mencuri itu salah. Mulai sekarang, jangan lakukan lagi. Dasar babi betina tak tahu sopan santun! Isinya cuma oppai doang, ya? Kau tahu apa itu etika?"


"Higii! Ma-maafkan saya!!"


"‘Higii’? Itu suara babi? Kalau begitu ucapkan ‘buhii’. Bilang, ‘Aku babi betina berdada besar, dan aku minta maaf karena melakukan hal-hal buruk!’"


"Buhiiii! Aku babi betina berdada besar! Maafkan aku telah melakukan hal buruk!!"


"Bagus. Sebagai hadiah, akan kuberikan kunci cadangan rumahku. Mulai sekarang, masuk lewat pintu depan. Sapa Konomi dengan baik. Kau bebas masuk ke kamarku. Kalau mau ambil barang, tinggal bilang atau tinggalkan catatan."


Inilah kompromi dariku. Ayaka punya kecenderungan seperti stalker.


Kalau semua dikekang, dia mungkin tidak bisa menahan diri. Jadi sekalian saja kuberi kebebasan.


Ayaka mungkin punya preferensi aneh, tapi dia orang yang bisa dipercaya.


"Kouki-san… bolehkah aku menerima sebanyak itu darimu?"


"Tentu. Aku percaya padamu. Jadi jangan khianati kepercayaanku. Bahkan babi betina pun pasti bisa menjaga kepercayaan, kan?"


"Tentu saja bisa! Buhi!"


Ayaka tampak sangat bahagia dan bersuara girang. Tapi matanya belum benar-benar kembali normal…


Tapi sepertinya sudah hampir pulih.


"Kalau begitu… soal foto-foto… aku harus minta izin dulu, buhi?"


"Foto sih boleh saja. Tapi sebagai gantinya, berikan juga fotomu. Yang agak seksi, ya."


"Itu agak memalukan, buhi…"


"Ha? Oppai-mu segede itu, ya gunakan dong untuk sesuatu yang berguna."


Sambil berkata begitu, aku menyentuhkan jari ke bagian dadanya.


Lembut… Jarinya tenggelam sedikit. Oppai-nya tetap luar biasa seperti biasa.


Karena sentuhannya ke bagian atas, Ayaka membuka dan menutup mulutnya seperti ikan.


"A-anu… Kouki-san, kau menyentuhku, buhi…"


"Iya. Terus kenapa? Malu? Aku bahkan lebih malu waktu kau baca koleksi majalah por-anku. Jadi sedikit malu dong."


"Bughh…"


Napasnya mulai memburu dan menggema di dalam ruangan.


Tatapannya kabur, dan mode yandere-nya hampir sepenuhnya menghilang.


Sepertinya sebentar lagi dia akan pulih.


"Tak kusangka… Kouki-san ternyata ahli berkata-kata kasar juga… buhi."


Itu bukan pujian yang menyenangkan… Tapi kalau Ayaka senang, ya sudah.


"Ada banyak hal yang belum kau ketahui tentangku. Tak mungkin bisa memahami seluruh diri seseorang. Jadi mulai sekarang, silakan amati aku terus. Jangan diam-diam, tapi secara terang-terangan. Tenang saja, aku bukan laki-laki kecil yang tak bisa menerima perasaanmu. Meski seleramu aneh sekalipun, aku akan menerimanya."


Itu adalah kata-kata tulus dari hatiku.


Aku tidak akan membenci Ayaka. Jadi, aku ingin dia mengenalku lebih baik lagi.


"Perasaan sayangmu itu… aku benar-benar senang mendengarnya. Terima kasih."


Saat aku mengulurkan tangan, Ayaka menatapku sejenak dengan pandangan kosong.


"……"


Namun, perlahan-lahan cahaya kembali ke matanya. Dan sebaliknya, gadis shinigami makin lama makin memudar hingga akhirnya menghilang dari tempat ini.


Ayaka sudah kembali normal.


Dia tersenyum manis dan menggenggam tanganku.


"Ya. Aku sangat mencintaimu, Kouki-san… buhi!"


Sungguh ucapan yang indah dan menghangatkan hati… tapi kenapa harus ditutup dengan 'buhi' sih.


Bagaimanapun juga, aku berhasil menyelamatkan Ayaka dari mode yandere──

Posting Komentar

Posting Komentar