Itu terjadi pada suatu pagi di hari libur.
“Chikage, hari ini ayo pergi beli pants.”
Saat baru saja menyapa Junna di pagi hari, Chikage langsung mendengar kalimat seperti petir di siang bolong, membuatnya sempat berpikir kalau mungkin otaknya sedang error. Tapi, ia segera menyadari kesalahpahaman dalam pikirannya.
“Yang Anda maksud… bukan pakaian dalam, tapi celana panjang, ya? Dalam arti, bawahan seperti celana jeans.”
“Tentu saja.”
Melihat ekspresi Junna seolah berkata, “kenapa kamu bertanya hal yang jelas begitu?”, Chikage dalam hati menghela napas lega. Karena pikirannya yang kotor, ia sempat mengira maksudnya adalah yang lain.
Meski begitu, tetap saja ini terasa aneh.
“Biasanya Tuan Putri selalu mengenakan rok panjang dan jarang sekali memakai celana panjang. Tiba-tiba ingin membeli celana… Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Sanada Yuuki?”
“Benar. Aku sudah berjanji akan latihan naik sepeda dengannya. Dan saat pertama kali bertemu Yuuki-kun, aku tidak bisa bungee jumping karena memakai rok, jadi kami buru-buru ke toko pakaian. Karena akan sering bersama Yuuki-kun, kemungkinan besar akan ada banyak kejadian serupa. Jadi aku pikir, akan lebih baik kalau punya lebih banyak pakaian yang nyaman untuk bergerak.”
Begitu rupanya. Di lemari Junna memang ada beberapa pakaian bergaya sporty, tapi tampaknya ia ingin memperluas variasi dalam berpakaian. Intinya, dia ingin tampil modis… demi Yuuki.
“Saya mengerti. Kalau begitu, mari kita berangkat.”
Dan demikianlah, hari itu mereka pergi ke sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian. Biasanya Junna tidak pernah langsung pergi berbelanja ke tempat umum seperti ini, tapi sejak kunjungannya bersama Yuuki tempo hari, ia mulai merasa ingin lebih banyak melihat dunia luar.
Meskipun begitu, tetap saja Junna adalah putri dari keluarga Tenkouin. Ia sudah menghubungi pihak pusat perbelanjaan sebelumnya agar mendapat layanan VIP. Setelah itu, dengan bantuan staf toko, ia mencoba berbagai pakaian satu per satu dan langsung memutuskan untuk membeli banyak di antaranya.
“Tuan Putri terlihat sangat segar dan memukau dalam balutan jeans seperti ini.”
Chikage menghela napas takjub saat melihat Junna mengenakan celana jeans berwarna indigo. Saat itu juga, Junna tiba-tiba berhenti melangkah di satu tempat.
Itu adalah bagian pakaian pria.
“Tuan Putri, itu bagian pakaian pria, lho?”
“Ya, aku tahu. Tapi entah kenapa… aku tertarik saja.”
Junna menyentuh jaket jas pria yang tergantung di gantungan. Sejak bertemu Yuuki, rasa ingin tahu Junna memang meningkat drastis.
Chikage lalu bertanya dengan nada hati-hati,
“Mau coba memakainya?”
“Boleh?”
Mata Junna berbinar penuh harap saat menoleh ke belakang. Jelas sekali bahwa dia benar-benar tertarik.
Chikage pun mengangguk santai.
“Untuk sekadar iseng seperti ini, tidak ada salahnya.”
“Kalau begitu, aku serahkan padamu.”
Dan begitu saja, Junna untuk pertama kalinya dalam hidupnya mengenakan setelan jas pria.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Junna muncul dengan jas pria berukuran pas di tubuhnya, rambut diikat rapi ke atas, menjelma menjadi sosok wanita tampan yang luar biasa menawan. Bahkan Chikage nyaris jatuh berlutut karena takjub.
Bukan hanya Chikage—para pelanggan wanita yang kebetulan berada di sekitar mereka pun tampak terpesona.
—Syukurlah Tuan Putri terlahir sebagai perempuan. Kalau dia lahir sebagai laki-laki, pasti akan menjadi kekacauan besar.
Chikage memuji dalam hati sambil tersenyum lembut ke arah Junna.
“Sangat cocok sekali. Rasanya ingin memperlihatkan ini ke Sanada Yuuki.”
“Jujur saja… aku juga berpikir begitu.”
“Kalau begitu, perlu saya panggil?”
Saat berkata demikian, Chikage sudah mengeluarkan ponsel dan mulai mengetik pesan untuk Yuuki melalui aplikasi. Junna yang terkejut langsung menunjukkan wajah panik.
“Jangan! Panggil dia mendadak seperti ini, tanpa janjian sebelumnya, nanti malah menyusahkan dia!”
“Kalau dia ada waktu, dia pasti akan datang… seperti anjing yang berlari ke tuannya.”
Dan benar saja—Yuuki datang secepat itu. Mereka janjian bertemu di lounge pusat perbelanjaan, dan saat Yuuki muncul serta melihat Junna dalam pakaian pria, dia langsung memandangnya dengan ekspresi seperti terbakar oleh cahaya yang terlalu terang.
“Dia lebih keren daripada aku…”
Komentar tulus Yuuki itu membuat Junna tersipu sejadi-jadinya dan terlihat sangat bahagia. Tak tahan melihatnya, Chikage berdiri dan berkata,
“Sebagai permintaan maaf karena memanggilmu mendadak, aku akan membelikan kopi.”
Setelah berkata demikian, ia berjalan menuju vending machine dengan sengaja pelan-pelan, lalu kembali dengan membawa kopi kaleng dan memberikannya pada Yuuki. Setelah mengucapkan terima kasih dan menyesap minumannya, Yuuki mulai bersikap santai dan melontarkan canda ringan.
“Yah, kalau begini, aku juga harus nyoba pakai baju cewek kali, ya. Hahaha.”
Yuuki tertawa, tapi Junna malah serius memikirkannya, lalu menjawab dengan wajah sungguh-sungguh,
“Itu… ide yang bagus.”
“Eh!?”
Mata Yuuki membelalak. Junna pun mengeluarkan notebook petualangan-nya dari tas, menulis sesuatu, lalu menunjukkannya pada Yuuki. Tertulis di sana:
Hari di mana aku berdandan seperti pria, dan Yuuki-kun berdandan seperti wanita.
Melihat tulisan itu, Yuuki terdiam membisu. Tangan Chikage tiba-tiba mendarat di pundaknya. Bahkan Chikage sendiri merasa dirinya tak bisa menahan senyum.
“Ayo kita pergi, Sanada Yuuki.”
“Eh!? Tunggu dulu! Barusan itu cuma bercanda! Hei, matamu serius banget tuh! Jangan tarik-tarik! Mau diapain aku!?”
“Aku akan dandani kamu dengan sempurna.”
Sambil tertawa, Chikage pun menyeret Yuuki dan Junna ke bagian pakaian wanita.
Dan konon, setelah itu, dilangsungkan sesi foto kenang-kenangan… antara Junna yang tampil tampan dalam pakaian pria, dan Yuuki yang berpenampilan feminin dalam pakaian wanita. Atau mungkin tidak. Siapa yang tahu?


Posting Komentar