no fucking license
Bookmark

Obrolan Ringan Tracy 1

 Seorang sosok kecil menerobos masuk ke Green Butterfly Inn, penginapan langganan milik party petualang “Tangisan di Malam Hari” yang berbasis di ibu kota kerajaan, Teira=Luare, tepat saat sang pemimpin party, petarung bernama Mark, sedang berkutat menatap buku pembukuan di ruang makan.


"Haaai, halo semuanya~! Idol kesayangan kalian, Tracy-chan, datang bermain nih!"


"Oh, Tracy! Jadi kamu ada di ibu kota sekarang ya!"


Sosok gadis berzirah ringan itu muncul di ruang makan yang lengang di siang hari.


...Setidaknya secara penampilan luar.


Mata bundar berwarna jingga kemerahan yang terus bergerak aktif, kulit seputih porselen, dan rambut panjang berwarna madu.


Zirah yang dikenakannya terbuat dari kulit naga ular—jenis naga rendahan—dengan desain bernama corset mail, model umum untuk perlengkapan petualang wanita. Pakaian itu melekat ketat pada tubuhnya yang ramping khas seorang pencuri, namun bagian rok pendek yang membalut pinggangnya terlihat mencolok. Zettai ryouiki-nya benar-benar menyilaukan. Kabarnya, demi menjaga bagian terbuka itu dari dingin, pakaiannya dilengkapi sihir anti-beku.


Tracy, sang pencuri. Petualang peringkat keenam yang berbasis di kota Teira=Kaine di sebelah timur ibu kota. Ia tidak tergabung secara tetap dengan party manapun, dan menerima misi dari berbagai party sesuai kebutuhan.


Tracy, yang menebarkan pesona dengan wajah manis seperti gadis remaja... Namun kenyataannya adalah seorang pria berusia pertengahan tiga puluhan. Penampilannya yang awet muda hingga tak masuk akal itu membuat para petualang menyebutnya sebagai "Keajaiban nomor satu Teira=Ciel."


"Yah, makan aja kue kacang ini dulu."


"Waah, kamu traktir? Makasih ya! Aku suka banget yang ini~!"


Mark yang belum sempat menyentuh kue kacangnya menyerahkannya ke Tracy, dan reaksi bahagia yang berlebihan dari si pencuri membuatnya ikut tersenyum. Soal usia dan jenis kelamin, Mark coba abaikan. Tak ada pria waras yang tak akan merasa senang jika dihargai oleh gadis selucu ini—begitu Mark membenarkan perasaannya sendiri. Perlu dicatat, Mark adalah seorang heteroseksual, namun saat melihat Tracy, kepercayaannya akan hal itu kadang goyah.


"Ngomong-ngomong, kudengar Raja lagi kumpulin petualang ya?"


"Ah, iya. Telingamu memang tajam, ya."


Tracy mengucapkan itu sambil menyuap kue ke mulutnya, seperti sedang membahas cuaca biasa.


Baru kemarin pihak istana mengirim pesan ke guild petualang, meminta “sebanyak mungkin petualang andal.” Party “Tangisan di Malam Hari” pun termasuk yang dipanggil oleh pihak guild.


Menurut informasi internal yang diterima dari guild, misi yang dimaksud adalah membantu atau memburu Putri Mawar dari Penjara Dendam yang muncul di selatan.


"Menurutku, kamu sebaiknya ikut deh."


Dengan mata jingga yang bersinar, Tracy mengarahkan garpu kecil ke arah Mark.


Mark menelan ludah. Orang ini... lebih tepatnya, pria ini... selalu punya cara ajaib mendengar kabar yang tak diketahui siapa pun. Mark menjaga hubungan baik dengan Tracy bukan cuma karena dia “imut”, melainkan karena bertukar info dengannya bisa jadi garis hidup petualang.


Mark menurunkan suaranya, lalu mendekat ke Tracy. Entah kenapa, aromanya harum dan aneh.


"Tapi kan, lawannya itu ‘Named’ yang bahkan bisa bikin Lawrence kesulitan. Bukannya itu berbahaya?"


"Pasukan Ksatria Kedua akan dikerahkan penuh. Lagipula, Tombak Es Minus juga udah dipastikan ikut. Bagian berbahaya bakal diurus yang kuat-kuat. Lebih penting lagi, bukannya lebih berbahaya kalau bikin Raja marah?"


Senyum ramah Tracy menghilang entah sejak kapan, digantikan ekspresi serius.


Jadi, tidak ikut serta justru benar-benar berbahaya. Sampai-sampai Tracy mau repot-repot datang sendiri untuk memperingatkan. Mungkin dia tahu sesuatu yang tidak bisa diutarakan secara langsung.


Mark sendiri pun sedang menimbang risiko membuat raja murka dengan risiko menghadapi musuh berbahaya. Menghadapi “Named” yang bisa bertarung seimbang dengan Lawrence Reinhardt jelas pekerjaan nekat. Namun, dimusuhi raja yang penuh ego dan curiga pada semua orang juga bukan hal sepele bagi petualang yang berbasis di ibu kota.


"…Begitu ya. Terima kasih, Tracy. Makan lagi satu kue, deh."


"Aha~ dua potong nanti aku gemuk~. Tapi makasih ya, aku terima niat baikmu~"


Setelah menghabiskan kue dan menyeruput secangkir teh, Tracy mengobrol ringan sejenak, lalu pergi.


* * *


"...Maaf ya, udah bohong. Tapi kalau kamu masih ada di ibu kota sekarang, mungkin bakal kena masalah besar. Mendingan ikut misi itu aja biar aman."


Tracy menggumam sambil menyembunyikan auranya yang mencolok dan membaur dalam keramaian kota.


"Dengan begini, sudah ada Tombak Es Minus, Tawon Beracun Kembar, Tangisan di Malam Hari, Pasukan Salju Putih, dan Boneka Peniup Seruling. Droet Si Tegas kayaknya tetap gak bakal nurut walau aku yang bicara, tapi untungnya dia juga lagi gak di ibu kota. Tinggal ngomong ke Sui-getsu, mungkin setengah dari petualang bawah bisa kuamankan."


Tracy menghitung dengan jari. Sejak datang ke ibu kota, ia sudah sibuk berkeliling ke berbagai party yang dikenalnya, membujuk mereka untuk ikut dalam misi Putri Mawar dari Penjara Dendam.


Tracy sangat ahli dalam mengambil hati orang lain, dan bisa mendapatkan “info rahasia khusus” dari siapa pun.


Dan meski info-info itu kecil, kalau dikumpulkan seratus-dua ratus, bisa jadi potongan puzzle yang membentuk gambar besar.


Merasakan ada yang aneh, Tracy sudah mengontak banyak kenalan di seluruh negeri, dan sekarang dia tahu cukup jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Tak lama lagi, Putri Mawar dari Penjara Dendam akan menyerang ibu kota. Dan kemungkinan besar, dengan pasukan.


Jika dia bisa menyampaikan prediksi ini ke ksatria istana dan membuat mereka percaya, mungkin bisa mengubah jalannya peristiwa. Tapi Tracy memutuskan untuk menyimpan semua informasi itu sendiri, dan hanya menyelamatkan kenalan-kenalannya. Karena jika ibu kota jatuh akibat serangan mendadak Putri Mawar, kemungkinan jumlah korban akan lebih sedikit daripada jika negara ini terseret perang yang panjang dan berdarah.


"…Adipati Gerald mungkin sudah mati, ya. Haaah, negara tempat aku lahir dan besar ini, bakal berakhir juga, ya. Padahal aku pengen dia bertahan sampai aku tua nanti~."


Dengan nada setengah acuh, Tracy mengeluh.


Ia masih punya moral dan tahu mana baik mana buruk, tapi bukan tipe dermawan yang merasa punya tanggung jawab atas seluruh umat manusia. Ia juga tak punya loyalitas pada negara. Asalkan dia dan kenalannya bisa selamat, dan situasinya tak berakhir terlalu buruk, itu sudah cukup baginya.


"...Haaah, mau bagaimana lagi. Aku numpang gabung ke Tombak Es Minus, ah~"


Dengan satu tarikan napas panjang yang membentuk uap putih di udara musim dingin, Tracy menghilang ke balik kota ibu kota kerajaan.

Posting Komentar

Posting Komentar