◆ 1 November 1903, Pukul 21:08 – sembilan lewat delapan menit – Distrik Kitano Ijinka-gai, Kobe – Sisa-sisa Iblis yang Malang
Seorang gadis bernama Maria sedang berada dalam teror yang luar biasa.
Maria meringkuk di bawah selimut di tempat tidurnya, tubuhnya gemetar hebat. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa takut akibat suara berisik—seperti sesuatu yang merayap dan bergerak di seluruh ruangan—dan sesekali terdengar jeritan nyaring dari suara perempuan.
Dengan gemetar, ia mengintip dari celah selimutnya, dan melihat benda-benda seperti kendi air dan vas bunga melayang dan berputar di udara seolah-olah sedang menari gila.
──Tidak salah lagi, rumah ini dirasuki oleh roh jahat.
Empat hari yang lalu, ayahnya yang sedang berada di Inggris secara mengejutkan mengirimkan hadiah. Dalam surat yang menyertainya, sang ayah menulis bahwa ia membeli barang itu secara impulsif karena tak bisa menahan daya tariknya yang aneh.
Saat Maria membuka kotak itu, di dalamnya terdapat sebuah boneka gadis kecil berambut putih. Namun, begitu ia mengangkat boneka itu dan mata mereka saling bertemu──
Boneka itu tiba-tiba menyeringai lebar, tertawa dengan suara tajam, lalu berubah menjadi ribuan lalat yang langsung memenuhi seluruh ruangan. Dan setelah itu──hal-hal yang sangat mengerikan mulai terjadi.
Sejak hari itu, setiap malam, Maria selalu dihantui oleh kejadian-kejadian supranatural yang mengerikan.
Di pelabuhan-pelabuhan asing tempat perdagangan berlangsung, kejadian seperti ini—di mana suatu negara dijajah oleh makhluk gaib dari budaya asing—bukanlah hal yang langka.
Maria sudah memahami situasi semacam itu dengan baik. Ayahnya adalah seorang pedagang senjata asal Inggris yang merambah hingga ke Timur Jauh—bahkan sampai ke negara kecil seperti Jepang ini, demi memperluas bisnisnya dari tanah airnya, sang kekaisaran besar yang dijuluki "negara tempat matahari tak pernah terbenam."
Saat ini, mata para pedagang senjata itu tertuju pada negeri ini──Jepang, sebuah negara kecil yang bisa hilang tertiup angin.
Alasannya adalah: perang.
Kekaisaran sedang membangun pusat militer besar-besaran dengan slogan “Taklukkan Timur,” dan terus mengirim pasokan militer dalam jumlah besar melalui Jalur Kereta Api Trans-Siberia. Sementara itu, Jepang harus memungut pajak tinggi dari rakyatnya demi membeli kapal perang dan peluru dari seluruh penjuru dunia.
Ayah Maria, yang mengimpor meriam dan amunisi dari luar negeri, bisa menjualnya ke pejabat Jepang dengan harga sesuka hati. Karena itulah, ia sering menjadi sasaran rasa iri dari para pedagang lokal. Bahkan, semalam beberapa perampok masuk ke rumah mereka. Maria harus melawan mereka dengan sekuat tenaga. Andai saja ia belum diajari cara menggunakan senjata oleh ayahnya, mungkin malam itu nyawanya sudah melayang.
...Maria benar-benar putus asa dengan keadaannya.
Lalu, saat itulah sebuah surat datang.
"Untuk mengusir roh jahat yang telah merasuki tempat tinggal kamu, Aku akan datang besok pukul 21:00, sembilan tepat. Exorcist dari Angkatan Darat Kekaisaran."
Pengusir setan!
Sebuah sistem pertahanan terhadap serangan dari para iblis barat.
Bagi Maria, yang sedang berdiri di ambang keputusasaan, kedatangan mereka adalah secercah harapan yang bersinar terang.
—Tok, tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari arah depan rumah.
Dia datang! Dia benar-benar datang! Maria langsung melompat dari tempat tidur, turun tergesa-gesa dari lantai dua, nyaris terguling di tangga, lalu berlari keluar ke arah pintu depan.
Ia melihat pandangan ke atas, penasaran seperti apa sosok pengusir setan dari militer itu…
Namun, tak ada siapa pun di sana.
Saat Maria masih berdiri kebingungan...
"—Permisi, Nona. Aku di sini.”
Suara itu datang dari bawah.
Ketika ia melihat ke bawah, ada seorang anak laki-laki mengenakan seragam militer yang tampak kebesaran, seolah sedang bermain pura-pura menjadi tentara.
Maria tertegun.
Ketika mendengar "tentara", ia membayangkan seorang pria dewasa berbadan kekar. Tapi yang berdiri di depannya sekarang hanyalah anak laki-laki dengan tinggi sekitar seratus empat puluh centimeter.
"Aku adalah Mayor Anokutara Kaina, dari Divisi Nol, Brigade Ketujuh, Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.”
Anokutara Kaina,nama yang terdengar asing dan unik itu langsung terhubung di benak Maria dengan sosok anak laki-laki menggemaskan yang ada di hadapannya.
Tanpa berpikir panjang, Maria menyentuh tangan kirinya—tangan kecil yang terbungkus sarung tangan militer.
Ia adalah anak laki-laki yang tinggal di dekat toko ayahnya, tiga tahun lebih muda darinya.
Ia mahir dalam sihir timur, mampu berlari di dinding dan terbang di udara, hingga anak-anak di lingkungan menganggapnya seperti pahlawan.
Maria sendiri sering bersikap seperti kakak dan bermain bersama dengannya.
Dan sekarang, anak kecil itu telah menjadi seorang tentara—bahkan seorang pengusir setan!
"Tidak kusangka… Maria…”
Kaina juga tampaknya masih mengingat Maria, dengan ekspresi yang nyaris menangis. Mungkin pertemuan tak terduga ini benar-benar membuatnya begitu bahagia.
Maria menatap lekat-lekat teman masa kecilnya yang kini berusia tiga belas tahun.
Wajahnya tak seperti orang Jepang—hidungnya tinggi, matanya besar dengan kelopak ganda, dan raut wajah yang tampak tegas serta rupawan.
Benar-benar seperti boneka Eropa berbentuk gadis… kecuali gaya rambut zan-giri (potongan rambut pendek yang sedikit lebih panjang dari biasa).
Ia mengenakan seragam militer berwarna biru tua: jaket model rokkotsufuku dan celana gunpaku.
Topi militernya dihiasi kain beludru kuning cerah dan lambang bintang yang masih bisa terlihat jelas meski dalam temaram senja.
Di lehernya melilit syal ungu, simbol khas para pengusir setan, yang dipakai seperti scarf—dan entah kenapa justru membuatnya terlihat semakin kekanak-kanakan dan menggemaskan.
"Mohon maaf atas keterlambatannya, Nona.”
Kaina berdiri tegak dan memberi hormat dengan pose sempurna.
Wajahnya sekarang benar-benar seperti seorang prajurit.
Dan suaranya, ketika berbicara dalam bahasa Inggris yang lancar…
Suaranya belum pecah. Anak itu berusaha keras menurunkan nada bicaranya agar terdengar lebih dewasa.
"Bolehkah aku membawa senjata api masuk ke dalam?”
Saat berkata begitu, Kaina mengeluarkan pistol dari sarung di pinggangnya.
Sebagai putri dari seorang pedagang senjata, Maria mengenali senjata itu.
Itu adalah pistol otomatis "Shisei Nambu-shiki", yang baru dikembangkan tahun lalu.
Maria mengangguk setuju soal membawa senjata, lalu berjalan di depan, memandu teman masa kecilnya masuk ke dalam rumah.
"Permisi.”
Dengan sopan dan rapi, Kaina menundukkan kepala lalu membuka pintu depan.
"... Gelap sekali ya,”
ujar bocah laki-laki itu sambil berjalan menyusuri lorong.
Itu wajar, karena malam ini tak ada bulan di langit.
Maria pun memperingatkannya untuk berhati-hati dengan langkah kakinya.
"Ya, terima kasih—uwah!?!”
Tiba-tiba bocah tentara itu mengeluarkan suara kaget dan nyaris terjatuh—mungkin tersandung sesuatu.
Suara kekanak-kanakan khas usianya itu terdengar begitu lucu, hingga Maria tanpa sadar tertawa kecil.
"……【Di malam bulan baru—pelayan Lakshmi yang melintasi langit malam—On Maka Shurie Sowa-ka──Mata Burung Hantu Malam】”
Dari belakang, terdengar Kaina mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jepang.
Saat Maria menoleh, dia melihat mata bocah itu bersinar samar.
“Tidak ada apa-apa kok,” ucap Kaina sambil tersenyum manis. “Aku hanya memperkuat penglihatan dengan sihir.”
Begitu mereka sampai di ruang tamu, Maria mempersilakan Kaina duduk di sofa, sementara dia sendiri duduk di kursi seberang, dipisahkan oleh meja.
“Ah, terima kasih,” ujar bocah itu, meskipun wajahnya sedikit kaku. Ia dengan cermat menepuk-nepuk permukaan sofa beberapa kali sebelum akhirnya duduk. Mungkin dia sedikit perfeksionis atau punya kebiasaan bersih-bersih yang ketat.
“Kalau begitu, bisakah Anda ceritakan bagaimana semua ini bermula?”
Maria pun menceritakan seluruh kejadian secara terbuka. Yang paling ia inginkan saat ini adalah membagikan ketakutannya kepada seseorang. Bocah itu dengan sabar mengangguk dan merespons setiap bagian dari ceritanya. Maria merasa sedikit lebih tenang, seolah-olah telah diselamatkan. Saat ia menyadarinya, suara tawa menyeramkan itu sudah tak terdengar lagi, dan fenomena poltergeist pun telah mereda.
Setelah ceritanya selesai, Maria bertanya di mana kira-kira roh jahat itu bersembunyi.
“Sekarang dia berada di dalam ruangan ini... Tapi tenang saja. Aku akan segera mengusirnya.”
Kaina mengeluarkan kotak kecil dan panjang dari dalam saku. Di atas kotak itu tertulis “Peluru Malaikat Agung”. Maria, yang sudah lama tinggal di Jepang, cukup bisa memahami arti tulisan itu.
Dengan gerakan terampil, Kaina membuka kotaknya. Di dalamnya terdapat peluru sungguhan. Dari pengetahuan Maria sebagai putri seorang pedagang senjata, peluru itu berkaliber 8 mm, jenis botol leher tanpa pelek. Pada kepala peluru yang terbuat dari perak, terukir motif salib dan ukiran-ukiran kecil lainnya.
Bocah itu menggenggam peluru dengan erat di tangan kirinya.
“【Dalam tangan-Mu】”
Ia mengacungkan dua jari tangan kanannya seperti pedang, menempelkannya ke dahinya.
“【Untuk negeri-Mu】”
Dua jari itu turun ke pusarnya.
“【Dengan kuasa-Mu】”
Lalu ke bahu kiri.
“【Kemuliaan selamanya】”
Dan terakhir, ke bahu kanan.
Tangan kirinya mulai bersinar dengan cahaya putih yang lembut.
“【Kini dan selamanya—biarlah terjadi demikian】”
Begitu Kaina membuka telapak tangannya, peluru malaikat itu bersinar indah. Cahaya itu memang sangat cantik, tapi entah kenapa, justru menimbulkan rasa gelisah di hati Maria.
“Dengan peluru yang telah disucikan ini, aku akan mengusir roh jahat yang bersembunyi di rumah ini.”
Kaina kemudian mengeluarkan pistol otomatis Nambu miliknya. Pistol dengan bentuk bulat yang khas...
Dengan gerakan cepat, Kaina menarik pelatuk belakang pistol, dan peluru yang sebelumnya terisi keluar melayang di udara. Dalam sekejap, dia menangkapnya dengan refleks yang luar biasa, lalu dengan gerakan yang mengalir seperti tarian, memasukkan peluru Malaikat Agung ke dalam kamar peluru.
Aksi yang begitu indah dan presisi itu membuat Maria terpana hingga tanpa sadar berseru kagum. Tapi buru-buru ia mengingatkan dirinya—bukan saatnya kagum! Sekarang bukan waktunya terkesima, ini soal roh jahat!
Saat Maria bertanya di mana roh jahat itu bersembunyi, bocah itu justru menunjuk ke arah tempat Maria berdiri. Ia spontan menoleh ke belakang—namun tak ada apa-apa di sana.
"Jangan nakut-nakutin, dong!" protes Maria.
"Tidak... Dia ada di sana," jawab Kaina, tersenyum... tapi senyumnya sangat menyedihkan.
Di tangannya, pistol Nambu itu kini tergenggam erat.
"────Tepat di sini."
Dalam pandangan Maria, ujung moncong pistol kaliber delapan milimeter itu kini mengarah langsung ke arahnya.
"────■■■■?"
Seharusnya itu adalah gumaman ‘kenapa?’ dari Maria. Namun yang keluar dari mulutnya... adalah suara jeritan tajam—suara yang sama persis dengan suara melengking yang telah menghantuinya selama berhari-hari terakhir.
◇Waktu yang sama / Tempat yang sama / Divisi Ke-0 Angkatan Darat Kekaisaran, Brigade Ketujuh - Perwira Tunggal, Mayor Anokutara Kaina
Peluru itu menghancurkan kepala roh jahat yang mengaku bernama Maria.
Tubuh yang mengaku sebagai Maria tergeletak di lantai yang penuh debu—wujud itu, yang hampir sepenuhnya terwujud secara fisik karena kepadatan eter yang tinggi, kini terlepas dari kendali roh jahat, dan mulai mengelupas menjadi cahaya putih yang memudar.
Yang tersisa pada akhirnya hanyalah sebuah gumpalan samar bercahaya putih, menyerupai lalat. Di ruangan gelap gulita tanpa lampu listrik maupun cahaya lilin, inti eter dari roh jahat itu—lalat bercahaya itu—melayang di udara seperti kunang-kunang.
Di dekat kaki Kaina, kecoak yang membesar akibat menyerap udara beracun mengeluarkan suara gemerisik, menendang serpihan perabot yang hancur.
Kaina menyelipkan kembali pistol otomatis Nambu ke sarungnya di pinggang, lalu menundukkan kepala dalam keheningan, memberikan doa bagi jiwa yang telah berlalu.
──────── Kisah Eksorsis Era Meiji: "Lilith yang Kehilangan Sebelah Tangan", dimulai di sini.


Posting Komentar