Aku selalu menginginkan teman.
Tapi aku punya tatapan yang tajam, canggung saat berbicara, dan serba tidak mahir.
Yang terburuk, kekuatan aneh yang ada dalam diriku malah membuat semua orang menjauh dariku.
"Jangan bercahaya... jangan bercahaya..."
Di pojok ruang kelas, di sudut lapangan, di tepi panggung saat pertunjukan—aku selalu menahan dada sambil meringkuk, sekuat tenaga.
Tubuhku berbeda dari orang lain. Aku menjalani hari-hariku agar tak ada yang menunjuk-nunjuk ke arahku.
“—Zekka.”
Satu-satunya yang memanggil namaku dari dekat hanyalah nenek.
Ayah dan ibu tidak ada, dan karena aku selalu sendirian, nenek jadi orang yang paling sering mengurusku.
“—Hari ini, nenek akan ceritakan kisah leluhur kita, ya.”
Menurut nenek, leluhurku dulu adalah seorang samurai terkenal.
Yang diceritakan adalah kisah kepahlawanan seorang pria yang dikenal tak tertandingi di seluruh negeri.
“—Dia juga memiliki kekuatan yang sama sepertimu.”
Namun setelah kematiannya, kekuatan aneh itu tidak pernah muncul lagi di dunia selama ratusan tahun.
“—Mungkin Zekka memang memiliki sesuatu... semacam takdir.”
Nenek berkata demikian dengan nada penuh makna, lalu mengelus kepalaku dengan lembut.
“—Jagalah baik-baik. Kekuatan itu pasti akan menolongmu suatu hari nanti.”
Kisah kepahlawanan yang beliau ceritakan—dari awal hingga akhir—dipenuhi dengan lika-liku dan petualangan hebat.
Dia melemparkan dirinya ke medan perang, menantang banyak dojo, hingga bertarung satu lawan satu di pulau tak berpenghuni—
Aku masih ingat betul, betapa dada kecilku terasa bergelora saat mendengarnya.
Tentu saja, aku merasa lega karena ternyata bukan hanya aku yang memiliki kekuatan aneh seperti itu.
Aku terkesima dengan strategi perang yang diciptakannya, cerita-cerita keberaniannya, kekayaan dan gelar yang ia raih.
Namun, yang paling menggerakkan hatiku justru bukan itu semua.
“—Sekian ceritanya. Inilah legenda Miyamoto Musashi yang masih diceritakan hingga zaman sekarang.”
Aku mulai mengagumi pria itu—seseorang yang diakui oleh banyak orang sepanjang hidupnya.
—Karena dia yang terkuat, maka dia bisa jadi sosok yang disukai banyak orang.
—Seburuk apa pun kekurangan yang dimiliki, selama punya kekuatan, itu semua tak jadi soal.
—Bahkan mencari teman pun pasti akan jadi hal yang mudah.
—Menjadi kuat itu adalah daya tarik.
Aku yang selama ini hanya menderita karena kekuatan anehku, akhirnya merasa telah menemukan tujuan.
Kalau dipikir sekarang, pola pikirku waktu itu memang kekanak-kanakan sampai-sampai aku bisa tertawa sendiri.
“Nenek…”
Tapi saat itu aku sangat serius.
“Aku mau jadi kuat.”
Biasanya aku selalu kesulitan mengungkapkan perasaanku dengan benar.
Namun, hanya saat itu saja, aku bisa mengatakannya dengan lantang.
“Aku mau jadi pendekar terkuat!”
Aku ingin menjadi lebih kuat dari leluhurku sendiri.
Lalu, aku akan punya banyak teman.
Begitulah, aku mulai menapaki jalan pedang dengan sepenuh hati—
Sudah hampir sepuluh tahun berlalu sejak saat itu. Sekarang aku duduk di bangku kelas dua SMP.
Kalau semua berjalan sesuai dengan impian masa kecilku, mungkin sekarang aku sudah dikelilingi oleh banyak teman.
Dan seharusnya aku sedang menikmati kehidupan sekolah yang damai dan penuh kebahagiaan—seharusnya.
“Benar-benar mengecewakan.”
Namun kenyataannya, yang mengelilingiku saat ini adalah sekelompok orang bersenjata, jumlah mereka belasan orang.
Di tengah liburan musim panas, di sebuah sudut pelabuhan yang menghadap ke malam, aku berada dalam situasi yang benar-benar tanpa harapan.
“Kami dengar kamu adalah keturunan pendekar pedang legendaris, jadi kami sempat menaruh harapan.”
Seorang perempuan dalam pakaian hanfu mencolok—yang tampaknya pemimpin kelompok itu—maju ke depan.
“Meski sudah terpojok sejauh ini, kamu tetap tak menunjukkan rasa takut. Untuk itu, kupuji kamu sedikit.”
Dia menatapku dari atas dengan pandangan merendahkan, sementara aku hanya bisa berlutut dengan satu kaki karena tubuhku tak bisa bergerak dengan baik.
“Tapi kenapa terus lari? Kami tahu kamu memiliki Sacred Gear, bukan?”
Suara perempuan itu terdengar dewasa dan tenang, mungkin dia beberapa tahun lebih tua dariku—dan berbicara seolah sedang menasihati.
“Kekuatan itu… tidak akan kupakai…”
Dengan tubuh limbung, aku tetap memaksakan diri untuk berdiri.
“Heh, jadi kamu masih bisa menatapku dengan mata penuh keberanian begitu, ya?”
“...Mata ini memang dari lahir seperti ini.”
Dulu, aku pernah bercita-cita menjadi pendekar pedang terkuat.
Tapi semakin aku tumbuh dewasa, semakin aku sadar bahwa impian itu hanyalah khayalan.
“...Aku sudah... muak dengan pertarungan...”
Sekarang bukan lagi zaman peperangan. Sekuat apa pun kamu dengan pedang, itu tak akan membuatmu jadi orang populer.
“Aku... tidak akan... membiarkan diriku dikendalikan oleh... payudara lagi...”
Yang paling parah, semakin aku menjadi kuat, semakin kekuatan itu tumbuh, dan semakin jauh aku dari kehidupan normal.
“Akhirnya... aku mengerti. Tujuan hidupku bukanlah menjadi yang terkuat...”
Yang aku inginkan hanyalah teman biasa. Yang aku dambakan adalah kehidupan sehari-hari yang sederhana. Jika itu tujuannya, maka jawabannya pun jelas.
“──Mulai sekarang, aku harus menjadi manusia biasa.”
Maka meski ditertawakan, meski disakiti, aku tidak akan menggunakan kekuatan itu lagi.
“Kalau begitu, justru lebih baik kau keluarkan Sacred Gear-mu sekarang. Aku akan mengambilnya dengan cara yang lebih lembut dibanding para malaikat jatuh, lho?”
“Aku akan menyelesaikan urusan dengan kekuatanku sendiri... Aku tidak akan menyerahkannya pada orang seperti kalian...”
“Sungguh ucapan yang penuh idealisme. Aku benar-benar tidak suka anak-anak.”
Dia menggeleng pelan dengan ekspresi malas, lalu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.
“Tapi kalau kamu memang kesepian, akan aku temani. Akan kubuat menderita sampai batasnya... lalu kubunuh dengan manis.”
Orang-orang lainnya pun mengikuti tindakannya, masing-masing bersiap dengan senjata di tangan.
“──Berhenti, Shibunkyou.”
Satu-satunya yang menghentikan mereka adalah seorang ksatria berzirah biru yang berada di antara kelompok bersenjata itu.
“Tujuan kita, Hero Faction, seharusnya hanya merebut Sacred Gear darinya, bukan?”
Wajahnya tak terlihat karena helm, namun dari suaranya yang tegas dan anggun, dia tampak seperti orang yang penuh wibawa.
“Menyiksa orang yang tak bersenjata secara berlebihan, itu bukanlah tindakan yang terhormat──”
“Orang luar, diam saja. Atau kau juga ingin aku ‘bermain’ denganmu, Tuan Ksatria Biru?”
Orang yang dipanggil Shibunkyou itu dengan mudahnya menepis teguran dari rekannya sendiri.
Lalu dia kembali menghadapku dan menampilkan senyuman paling jahat yang pernah kulihat sejauh ini.
“Yah, mari kita dengar jeritan seperti apa yang bisa dikeluarkan oleh keturunan pendekar legendaris.”
Dengan perlahan dia mengangkat pedangnya — lalu tanpa ragu menebaskan bilahnya ke arahku──
"Yang akan menjerit itu justru kalian."
Tiba-tiba, suara itu terdengar dari dalam diriku, membuat lawan-lawan kami terkejut.
“Kenapa suaranya keluar dari dadamu... Jangan-jangan, dia ada di... tempat itu...!?”
Dalam sekejap, dadaku memancarkan cahaya terang.
"Bukan “tempat itu”, sebut saja oppai."
Cahaya dari oppai itu lalu menyebar, membungkus seluruh area di sekelilingku.
Dan setelah cahaya itu menghilang, mereka pun melihat dengan mata kepala sendiri wujud asli dari kekuatan yang selama ini kusembunyikan.
“Jadi benar seperti rumor itu, Sacred Gear berbentuk pedang...!”
Entah sejak kapan, sebuah pedang telah berada dalam genggaman tangan kananku.
“Ten...sei? Kenapa kamu...”
"Aku tidak bisa membiarkanmu mati di tempat seperti ini."
Itulah kata-kata singkat dan dingin dari pedang bernama Tensei — kekuatan istimewa yang bersemayam di tubuhku.
“...Akhirnya kau mengeluarkannya juga. Sacred Gear sepasang pedang yang konon pernah dimiliki oleh Miyamoto Musashi.”
Meski wajah Shibunkyou tetap tenang, setetes keringat mengalir di pipinya.
“Tapi kenapa kau tidak mengeluarkan satu pedang lagi? Apa maksudmu?”
"Yang ada di sini sekarang hanya aku. Satunya lagi sudah pergi entah ke mana."
“Kau pikir aku akan tertipu dengan kebohongan seperti itu? Jangan bilang kau meremehkan kakak cantik ini, ya?”
"Jangan berpura-pura tenang, Pahlawan dari Benua. Kegelisahanmu itu terlihat jelas... dari oppai-mu."
Tanggapan tenang dan santai dari Tensei membuat otot-otot wajah Shibunkyou sedikit berkedut.
"Kalau tuannya payah, ternyata senjatanya juga bisa jadi seenaknya, ya──!"
Shibunkyou, yang tak lagi menahan emosinya, mengayunkan pedangnya ke arahku dengan penuh amarah.
"──Zekka, gunakan aku."
Dalam sekejap, suara itu mengalir langsung ke dalam kesadaranku.
"Pedang, pertarungan, atau soal jadi yang terkuat—semua itu tidak penting bagi musuhmu. Yang mereka lihat hanyalah pedang yang mendekat. Kematian yang nyata."
Yang ada di hadapanku saat ini adalah ancaman nyata, tajamnya bilah pedang yang mengarah langsung ke hidupku.
"Meski begitu... kau tetap memutuskan ingin memiliki teman, bukan?"
Sebagai senjata, Tensei dengan tenang dan tanpa belas kasih memaksaku untuk menghadapi pertarungan.
"Apakah kau rela mengakhiri hidupmu dalam kesendirian seperti ini──?"
Sebelum sempat berpikir, tubuhku sudah bergerak.
“Eh!? Kau... kau menahan seranganku!?”
Benturan pedang di bagian tsuba (pelindung gagang) memercikkan percikan api yang tajam, dan hentakan dari serangan membuat kedua kakiku tertanam kuat di tanah.
"…Aku… tidak mau mati di sini!"
Aku tahu ini adalah sebuah kontradiksi. Aku ingin melepaskan kekuatan ini, namun pada akhirnya aku tetap menggunakannya.
Meski begitu, bahkan sampai sekarang, aku belum punya satu orang teman pun.
"Aliran Niten Ichiryuu, Teknik Rahasia Ketiga──"
Ilmu pedang yang kuasah, insting yang kutajamkan, dan kerinduan akan sosok yang kuimpikan… semua itu menggerakkan tanganku secara alami.
"──── Rakka Rouzetsu! (Bunga Gugur yang Mengamuk!)"
Satu tebasan mendatar mengarah ke dada lawan, membuat kain hanfu-nya terbelah dan beterbangan seperti kelopak bunga.
“…A-Apa… yang barusan terjadi…?”
Namun dia tidak roboh. Bahkan setetes darah pun tidak mengalir, membuatnya terpaku dalam kebingungan.
"Aku yakin tadi terkena tebasan… Tapi tubuhku sama sekali tidak terluka… Apa maksudnya ini…?"
“Pertarungan… sudah berakhir.”
“…Apa?”
"Aku… yang menang."
Saat aku menyatakan kemenangan dengan tenang, ekspresi di mata Shibunkyou semakin menegang setelah mendengarnya.
"Dasar bocah sialan, jadi kamu benar-benar meremehkanku──!"
Merasa bahwa pertarungan belum selesai, musuh menyerbu ke depan dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Dual!!"
Tiba-tiba, pedang yang kugenggam mengeluarkan suara mekanis.
"──Sudah kukatakan, pertarungan ini sudah selesai."
Seketika, perubahan terjadi pada tubuhnya.
"A-apaan ini… dadaku mengecil… dan kekuatanku menghilang…!?"
Payudara Shibunkyou bersinar terang, lalu secara drastis mulai mengecil.
"Evolution!!"
Kali ini, payudaraku yang memancarkan cahaya… dan ukurannya perlahan mulai membesar.
Seiring dengan pertumbuhan payudara itu, aura yang dipancarkan oleh Tensei juga semakin kuat.
"Jangan bilang… kamu mengambil oppai-ku dan menjadikannya milikmu…!?"
"Aku menyerap kekuatan hidup dari musuh yang kutebas… yaitu Energi Susu (nyuu energy)."
"Nyuu energy… kenapa harus oppai sih…?"
"Pertanyaan bodoh. Tanpa oppai, seseorang bukanlah manusia. Oppai adalah sumber dari kehidupan itu sendiri."
“Tak… masuk… akal…”
Shibunkyou kehilangan kesadaran begitu saja dan jatuh tersungkur ke tanah.
Tensei menjunjung oppai sebagai yang tertinggi—dan inilah sumber utama yang telah menghancurkan hidupku.
“──Lagi-lagi… jadi makin besar…”
Dulu, tanpa sadar aku menyerap oppai orang lain, hingga ukuran dadaku jadi tak masuk akal untuk usiaku.
Orang-orang memanggilku macam-macam: si Dada Gede, Yokai Oppai, bahkan Shining Bust.
Karena itulah aku melarikan diri ke jalan pedang. Aku percaya kalau aku cukup kuat, aku bisa punya teman.
“……Tapi aku nggak sadar, bahwa mengejar gelar ‘yang terkuat’ juga berarti harus menebas banyak musuh.”
Dengan kata lain, semakin banyak musuh yang kukalahkan, oppaiku akan semakin membesar.
“……Semakin tinggi energi susu (nyuu energy)-ku, semakin aku menarik perhatian para petarung kuat.”
Siapa pun yang dekat denganku akan melihat oppai mereka menyala dan menyusut—dan akhirnya ikut terseret ke dalam pertarungan.
Siapa yang mau berteman dengan orang seperti itu?
"Namun, kalau kau tidak menggunakan kekuatanku, kau pasti sudah mati. Masih benci oppai?"
“…Iya.”
Aku… benci oppai.
"Aku... akan menjalani hidup sebagai orang biasa, jadi..."
"Kamu ingin mencari cara untuk menyegalkanku? Tak masalah."
"Kamu nggak marah?"
"Aku tidak punya hak untuk menolak keinginan tuanku. Seperti halnya pedang memilih tuannya, oppai juga memilih pemiliknya. Kau tidak bisa lari dari takdirmu."
Saat aku mengarah pandangan ke atas, aku melihat seluruh musuh telah masuk ke posisi siaga tempur, karena pemimpin mereka telah tumbang.
"Aku sudah memutuskan untuk menjalani hidup dengan benar. Biarlah ini menjadi pertempuran terakhir dalam hidupku."
"Heh... Aku tak tahu apakah ini akan jadi yang terakhir, tapi kalau kau mau bertarung—aku akan menemanimu."
Dadaku kembali bersinar. Tapi kali ini cahayanya jauh lebih terang dari sebelumnya.
"Tataplah baik-baik. Inilah samurai yang melampaui pria itu──"
Tensei mengucapkan deklarasinya dengan suara lantang.
"Dialah sang Pewaris Pedang Dua Oppai──Nitou Nyuu Kengou!"
Aku pun meneguhkan tekadku dan menyebutkan nama.
"Aku, Miyamoto Zekka, empat belas tahun──akan bertarung dengan segenap jiwa!"


Posting Komentar