Pagiku selalu dimulai lebih awal.
Aku adalah tipe orang yang tak pernah lalai dalam melatih diri, jadi aku bangun pagi, menyiapkan banyak hal, lalu pergi berlari.
Meski pekerjaanku adalah streamer, tubuh tetap modal utama dalam pekerjaan apa pun. Hal yang paling menakutkan adalah jatuh sakit saat dibutuhkan.
"Nah, hari ini juga berangkat sekolah, yaa."
Sambil menguap lebar, aku berjalan menuju sekolah.
Walaupun tadi kubilang rajin melatih diri, pagi hari tetap terasa melelahkan. Ditambah ini adalah kehidupan keduaku, jadi sekolah pun terasa cukup merepotkan. Meski begitu, tetap ada alasan untuk pergi. Lagi pula, hal-hal yang merepotkan justru biasanya memang harus dilakukan.
Begitulah, aku berjalan santai, berpindah-pindah transportasi sambil menghindari jam sibuk, dan setelah satu jam akhirnya sampai di sekolah.
Aku melewati gerbang, menuju kelas, lalu membuka pintu dengan suara berderit. Seketika perhatian tertuju padaku.
"Selamat pagi, Yumemi-san!"
"Selamat pagi semuanya~"
Aku membalas sapaan teman-teman sekelas, lalu tanpa sengaja mengalihkan pandangan ke kursi belakang, tempat seorang cowok tampan yang sedang melamun... Sasaki.
"...!?"
Begitu sadar aku melihat ke arahnya, dia langsung memasang wajah kaku dan panik.
Namun saat aku seperti biasa berlari menghampiri sahabatku, gadis sederhana bernama Kawauchi Eriko, ekspresinya langsung berubah lega dan tersenyum bak Bodhisattva. Dasar fanatik yuri sejati. Simpel sekali orang ini.
"Pagi, Kawauchi."
"Mm, pagi. Kamu tetap populer seperti biasa ya, Renge."
Melihat banyak orang menyapaku, Kawauchi tersenyum sinis sambil berkata begitu.
Bukan sindiran, lebih ke bentuk ejekan pada dirinya sendiri seperti biasa—semacam, hidupmu repot ya, aku sih nggak bisa begitu.
"Kenapa? Cemburu ya?"
"Bukan begitu kali!"
Aku tertawa kecil, dan seperti biasa Kawauchi langsung terlihat panik. Reaksi seperti ini memang bikin orang sepertiku jadi ingin menggodanya terus.
Sejak dulu Kawauchi selalu kurang percaya diri, tapi jujur aku tak mengerti kenapa dia merendahkan dirinya sendiri sebegitu jauh.
Penampilan itu tidak penting. Kawauchi punya daya tariknya sendiri.
...Meski kalau aku bilang begitu, dia pasti cuma menganggap itu basa-basi.
—Karena itu!! Lebih baik kutunjukkan lewat tindakan!!
"Kawauchi..."
"A-apa?"
Aku perlahan mendekatinya.
Sedikit demi sedikit, mendorongnya ke arah dinding. Semakin dia mundur, semakin aku menutup jarak.
Wajah Kawauchi makin merah setiap kali aku melangkah maju.
"T-tunggu bentar! Bilang dulu maumu apa!"
"Hmm..."
Dia mengangkat tangan hendak mendorongku menjauh. Sayangnya, kemampuan fisik masih di pihakku.
Aku pun menahannya di dekat dinding, lalu menempelkan tangan di samping wajahnya—don!
Ya, teknik klasik yang biasa disebut kabedon.
Silakan tertawakan kalau terasa klise. Tapi pada Kawauchi yang tak punya daya tahan terhadap hal begini, efeknya sangat ampuh.
Lalu aku berbisik di dekat telinganya.
"Kalau aku bilang... aku juga cemburu saat Kawauchi bicara dengan gadis lain, menurutmu bagaimana?"
"—Kenapa harus sesama cewek ajaaa!?!"
"Pffft!"
Suasananya langsung hancur total. Seperti dugaan, Kawauchi memang tidak mudah ditaklukkan.
Hehe, wanita yang menarik.
Ngomong-ngomong, kupikir-pikir lagi... melakukan ini di dalam kelas mungkin kurang tepat ya? Untung kami ada di pojok kelas, jadi tidak terlalu mencolok.
"Haaah... Kawauchi itu ya, peka banget sih nggak."
"Aku nggak mau dibilang begitu sama kamu."
"Eh?"
Begitulah, sambil bercanda kami tertawa bersama.
Sementara itu, di forum internet...
『Barusan kejadian begini, menurut kalian gimana?』
『Halusinasi mulu wkwkwk.』
『Kasihan, dunia nyata sama 2D udah ketuker.』
『Ngayal tuh jangan kebangetan.』
『Mending waktunya dipakai belajar.』
『Kalau sebagai cerita fiksi sih lumayan lah.』
Konon katanya, ada seorang fanatik yuri sejati yang diam-diam menangis karena tak seorang pun mempercayainya.


Posting Komentar