no fucking license
Bookmark

Bab 9 TS Vtuber

Side Eriko Kawauchi

Aku cuma siswi SMA biasa yang bisa ditemukan di mana saja.

Wajah biasa aja, kemampuan olahraga juga nggak ada yang menonjol, tapi juga nggak payah. Kadang aku mikir, kalau aku cowok sih udah cocok jadi protagonis light novel.

Tapi meski begitu, ada satu hal yang bisa kubanggakan.

――Sahabatku itu cewek super cantik banget.

Namaku Eriko Kawauchi, nama yang terasa umum banget. Beda jauh sama nama sahabatku yang super elegan: Yumemi Renge.

Dia gadis cantik tipe klasik berambut hitam, tapi kepribadiannya cukup santai dan to the point. Dia perhatian sama kecantikan dan kesehatan, dan senyumnya manis banget.

Nilai ujian selalu seratus dan pengetahuannya luas. Tapi dia nggak sombong, juga nggak pura-pura rendah hati. Buat dia, itu cuma fakta biasa yang nggak perlu dibesar-besarkan.

Dan... dadanya gede.

Aku pernah kepikiran pengin menggenggamnya dengan tanganku sendiri. Meraih mimpi. Eh, kok enak didengar ya...

Lupakan itu dulu.

Setiap hari aku kepikiran pengin pamer ke seluruh dunia kalau sahabatku secantik ini. Tapi aku beneran nggak ngerti kenapa dia mau berteman sama aku.

Kelebihanku paling cuma cara berpikirku yang agak absurd dan suka bercanda.

Nggak berguna banget, woy. Masa iya Renge tertarik sama itu...?

“Di wajahku ada sesuatu?”

Saat aku bengong menatap wajah cantik Renge, dia yang berjalan di sampingku memiringkan kepala. Gerakan sesederhana itu aja rasanya cukup buat makan gyudon tiga mangkuk.

“Nggak, nggak ada apa-apa sih. Cuma ya... Renge tuh cantik banget. Sampai susah nyari cela.”

“Haha, apaan tuh? Emang kamu mau nyari cela di wajahku?”

“Yah, gagal juga sih!”

“Ya gimana, aku memang percaya diri soal penampilan.”

Aku juga kagum sama cara dia ngomong begitu.

Dia bisa ngomong fakta apa adanya tanpa dilebih-lebihkan atau direndahkan. Kalau dilihat dari sudut pandang orang Jepang, mungkin bakal dibilang sok banget. Tapi justru sisi blak-blakan Renge itu yang kusuka.

“Serius deh, dengan wajah kayak gini tapi bilang nggak butuh pacar, keren juga. Padahal bisa milih sesuka hati.”

“Ah, ya... aku emang nggak tertarik sih.”

“Udah kuduga...”

“Kamu sendiri gimana akhir-akhir ini? Soal cinta gitu?”

“Aku!? Nggak mungkin lah. Nggak ada orang yang kusuka, dan kalaupun ada, kayaknya juga nggak bakal jadian.”

“Masa? Menurutku kamu tipe yang cukup populer loh.”

“Eh...”

Itu ucapan jujur tanpa nada menyindir sama sekali.

Dia beneran mikir aku populer ya...

Yah, memang sih pernah ada yang nembak waktu SMP, entah gimana ceritanya.

Tapi karena aku nggak ngerti soal cinta-cintaan, kutolak.

“Aku paling senang kalau bareng Renge. Cowok mah nggak perlu! Sahabat cantik aja udah cukup!”

Aku bercanda sambil melirik sahabatku yang tertawa.

Tapi semua yang kubilang barusan itu jujur.

Belakangan ini aku sering mikir... apa aku pantas jadi sahabat cewek sesempurna ini?

Aku yang serba biasa ini dibanding Renge yang terlalu bersinar.

Rakyat jelata sepertiku sampai silau, bahkan nggak layak mendekat...

Halah, pikiran ala dongeng macam apa itu.

Nggak cocok banget buatku.

“Kalau kamu punya pacar nanti, aku bakal cek dulu.”

“Cek apaan?”

“Apakah dia bisa melindungimu bahkan kalau harus mati.”

“Itu cek berat banget! Siapa juga yang pacaran pakai tekad segitu? Orang cinta zaman sekarang aja dibilang tipis.”

“Kalau demi kamu sih, aku bisa mati mungkin. Tergantung situasi.”

“Hah? Eh? Apa sih yang kamu omongin?”

Kata-kata “jangan bercanda” yang hampir keluar langsung tenggelam saat lihat tatapan serius Renge.

Memang dia ngomong karena suasana, tapi aku tahu itu bukan bohong sepenuhnya.

...Cinta sahabatku ini berat banget nggak sih?

Atau aku aja yang kegeeran?

Atau cuma perasaanku?

Lalu ekspresinya melunak, dan sambil menyibakkan rambutku dia berkata,

“Kamu tadi mikir soal nggak seimbang atau semacamnya lagi kan, dasar bodoh. Sahabat satu-satunya yang nggak tergantikan buatku ya cuma kamu, Kawauchi.”

Dibilang sahabat satu-satunya, tubuhku langsung terasa panas.

Senang, malu, bingung... semuanya campur aduk.

Aku menyangkal dengan suara kecil seperti mau menutupinya.

“T-tapi aku kan nggak punya daya tarik apa-apa...”

“Ahaha, lucu juga kamu bilang begitu. Kamu itu imut, baik, perhatian, dan bikin tenang. Hal-hal kecil yang biasa kamu lakukan itu bikin aku senang.”

“Ugh... guh... ngg... nggngng...”

“Kalau diterusin lagi—”

“Udah! Udah cukup! Serius deh... malu tau!”

Aku menutupi wajah dengan tangan, tapi panas tubuhku terasa jelas di telapak tangan.

Panas banget.

Ini sahabatku sebenarnya seberapa cantik dan ganteng sih?

“Eh, lucu banget. Kamu malu ya? Kawauchi lagi malu?”

“Tolong berhenti...”

Aku tarik ucapan tadi!

Aku suka kamu, tapi berhenti ngerjain aku begini!!

Dia sadar penuh sama pesonanya sendiri lalu memilih tindakan paling efektif. Licik banget, sumpah.

Otaknya dipakai buat apa sih sebenarnya?

――GON!!

Ada suara keras dari dekat, tapi paling juga cuma otaku yuri di sekitar sini yang teriak kegirangan.

Posting Komentar

Posting Komentar