no fucking license
Bookmark

Bab 5 TS Vtuber

Memang benar, aku ini seorang TS (transformed) VTuber otaku yuri garis keras — bahkan mungkin ekstrem.
Tapi jangan salah paham. Aku tidak pernah berniat menjatuhkan orang lain dengan cara paksa.

Yang aku inginkan itu sederhana:
orang yang “jatuh” padaku harus melakukannya dengan kemauan sendiri.
Tanpa paksaan, tanpa jebakan — cuma perasaan yang muncul secara alami.

Kalau dengan kondisi seperti itu, gaya seperti waktu aku bersama Zenchi-san—yang kesannya “kakak perhatian, nyaris kayak keluarga”—itu bukan hal buruk, kan?
Meskipun, yah… kalau diingat-ingat, waktu itu aku cuma bantu bersihin rumah yang beneran udah kayak tempat pembuangan sampah. Jadi itu lebih ke keadaan darurat, bukan modus, sumpah.

“Untuk Tsuna-chan, hmm… ya, aku tahu harus pakai cara apa.”
Kalau berhasil, mungkin dia bakal langsung “terpikat” sih. Tapi… apa dia bakal semudah itu?

Aku pengen dia beneran ngejawab “iya” pada bendera yang sudah kutancapkan sendiri.
Kalau sampai beneran kejadian, aku bakal puas banget.
Sayangnya, kali ini bukan off-collab (tatap muka langsung), jadi aku nggak bisa menggoda dia secara langsung.
Artinya… semua bergantung pada kemampuanku bicara dan improvisasi.

Dan yah, aku kan VTuber.
Kalau bisa menaklukkan seseorang cuma lewat avatar dan suara, bukankah itu justru yang paling “teetee”?
Inilah bentuk kasih sayang murni antar avatar virtual!
Para penonton pasti menyukainya.

“Fufufufu… wah, aku tidak sabar banget, deh.”

Jujur saja, entah berhasil atau tidak, setiap kali aku melakukan siaran sebagai VTuber, aku selalu senang.
Ini kan impianku. Dan waktu aku masih berjuang untuk mewujudkannya pun sudah terasa menyenangkan.
Tapi sekarang, setelah impian itu tercapai, aku justru menikmatinya lebih dari sebelumnya.
Menyenangkan banget, kan, kalau bisa bilang: “Hidup setelah mimpi pun tetap indah.”

Sekarang aku berdiri di atas panggung yang dulu cuma bisa kuimpikan.
Jadi, aku ingin terus melangkah—dengan kepala tegak, membalas semua dukungan yang sudah diberikan padaku.

***

“Y-ya! Aku… pendekar pedang hitam yang tertelan kegelapan, Tsunamayo! H-hari ini, aku akan melakukan kolaborasi pertam—… a-aku tergagap…”

• Wah, ini sih intro khas anak introvert.
• Tapi lucu banget, sumpah.
• Nama segarang itu tapi orangnya polos, ngakak.

Avatar Tsuna-chan yang berpenampilan gadis Jepang berkimono dengan nuansa samurai muncul di layar.
Kali ini kolaborasinya disiarkan di channel Tsuna-chan, karena itu permintaan langsung dari pihak agensi—mungkin biar penontonku bisa “mengalir” ke dia juga.

Melihatnya langsung panik di awal siaran, aku refleks tertawa kecil.
Kemudian aku juga menampilkan avatarku di layar.

“Wah, itu tadi so imut banget sampe geli, sumpah.”

“Hah!? K-kejam banget!? Aku berusaha, loh!?”

• Kamu juga tidak kalah imut, tahu.
• Wkwk, ngomong gitu padahal kamu sama aja.
• Belajarlah dari Tsunamayo, si introvert sejati!

“Belajar jadi introvert? Tidak, makasih. Itu identitasnya Tsuna-chan, bukan aku.”

“Kalau ‘introvert’ jadi identitas tuh… rasanya aneh banget, tahu tidak…”

“Itu ciri khasmu, jadi peluk aja kekuranganmu~.”

“Ini mah ngeledek, yaa…?”

Komentar terus mengalir, dan kebanyakan malah ngebully Tsuna-chan secara halus.
Kasihan juga sih—penonton bilang dia “onigiri 100 yen, lucu tapi murah” … jahat banget sumpah.

• Kalian berdua deket banget ya, ternyata.
• Kombinasinya aneh tapi cocok.
• “Hana × Tsuna” jadi kenyataan, huh.
• Zenchi: (menatap dengan tajam)

“Oh, soal panggilan ya? Jadi, kemarin dia bilang aku boleh pakai bahasa santai, makanya kupanggil ‘Tsuna-chan’. Suka-suka aja, sih.”

“Wha—!? Jadi bukan panggilan penuh makna gitu!? Aku sempat senang banget, loh!”

“Introvert detected.”

“Guh—! Itu tusukan langsung ke jantung…”

Aku memang baru ngobrol dengannya lewat pesan semalam, belum bisa dibilang akrab.
Tapi jujur, aku lumayan suka gaya dia.
Aku juga sempat nonton beberapa siarannya, kan.
Lagipula, aku VTuber otaku sejati—aku sudah nonton semua siaran teman seagensiku, dari senior sampai rekan debut.
Sebagai riset juga, biar tahu cara “menaklukkan” mereka dengan efektif~.

• Kasian banget Tsuna-chan di-bully terus wkwk
• Tempo percakapan mereka pas banget
• Ini dia, kebrutalan khas Hanayori
• 100 yen tapi worth it 

“Baiklah, tapi kali ini… aku yang akan balas, tahu!? Aku sudah menyiapkan rencana agar bisa ‘menaklukkan sebelum ditaklukkan’!”

“Oh~? Jadi kemarin waktu kamu bilang ‘aku tidak semudah itu ditaklukkan’, ternyata kamu nyiapin strategi, ya? Boleh juga~.”

“Ugh! T-tapi jangan berekspektasi tinggi! Aku belum siap banget, tahu!?”

…Lucu banget.
Otakku bahkan sempat nge-freeze karena terlalu gemas.

Anaknya gampang panik, dan reaksinya super ekspresif.
Tidak heran sih kalau penonton suka. Kalau kayak begini, kolaborasinya bakal jalan mulus banget.

• Tsuna udah kelihatan ketakutan
• Hanayori itu cuma gadis mesum yang pura-pura kalem!
• Fans Hanayori tidak pernah lupa nambahin “(tertawa)” di setiap komentar wkwk

Dan setelah sedikit jeda—Tsuna-chan akhirnya bicara lagi.

“B-baiklah! Nama rencanaku adalah… Operasi Menaklukkan Sebelum Dita—eh, Ditaklukkan!”

“Terus?”

“Ehh… dengan cara… mempesona! Uh-huh~ ♡”

Dengan suara yang katanya “menggoda” (versi dia sendiri), Tsuna-chan tiba-tiba mencoba tampil seksi.
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana—dan sepertinya dia sadar karena langsung hampir menangis.

“T-tolong, katakan sesuatu dong!”

“Maaf, maaf. Aku cuma kaget aja. Tapi serius, kamu lemah banget, Tsuna-chan. Aku si mesum pun tidak bisa ngeledekmu karena kamu terlalu polos.”

“Uuhh… kalau sendirian aku bisa lebih baik, sumpah. Ini soalnya kolab pertamaku, jadi grogi banget…”

“Jadi kamu ngeledek aku balik nih? Kolab pertamaku dulu juga berantakan banget, tahu.”

“Eh!? I-itu kan seru! Aku nonton waktu itu! Aku bahkan spontan manggil kamu ‘Mama’ waktu live!”

“…aku tidak butuh informasi itu. Oke, skip aja bagian ‘godaan’ tadi, lanjut ke topik berikut.”

• Waduh lemah banget ini Tsuna-nya 
• Rasanya pengen melindungi dia, tapi kayaknya dia gak bisa dilindungi juga
• Cara Hanayori nanganin Tsuna tuh kayak nge-handle adik bego
• Kolab pertamanya malah viral loh
• Secara angka sih sukses, tapi secara mental… mungkin tidak 

“Kalau gitu, gimana kalau kita ngobrolin soal hobi aja?”

“Boleh, boleh. Kamu duluan, Tsuna-chan.”

“Baiklah! Dengan segala kerendahan hati, izinkan aku bercerita!”

“Wah, tiba-tiba formal banget. Samurai vibes detected.”

Jadi obrolan mereka beralih ke topik hobi.
Tapi aku tahu… kalau Tsuna-chan sudah mulai ngomong soal hobinya, itu bakal berbahaya.
Dan iya, aku sengaja memancingnya.
Karena ini bagian dari strategiku menaklukkan dia.

Komentar mulai memanas.

• Wah ini fix bakal chaos
• Hanayori jangan! Stop dia sebelum terlambat!
• Ngobrol soal hobi di tangan Tsuna = neraka tanpa akhir
• Oke, siap-siap begadang nonton nih

Dan kemudian… Tsuna-chan mulai berbicara.

“Aku suka baca novel dan manga! Terutama yang bergenre fantasi isekai! Aku sering banget ngebayangin diriku jadi karakter di dalamnya, kadang juga bikin setting orisinal buat khayalanku sendiri!”

Ah, sudah dimulai…

“Misalnya nih, hehe… aku suka banget cerita tentang ‘putri lemah yang harus dilindungi’. Hanayori-san tuh cocok banget jadi ksatria pengawal, tahu!? Soalnya kamu kuat, tegas, dan bisa diandalkan! Aaaah, aku mulai kebayang, nih!

‘Dalam perjalanan panjang, sang putri diserang oleh para bandit! Tanpa kekuatan untuk melawan, ia menangis dan berteriak, tolong! Ada yang bisa bantu aku!? Tapi teriakannya tak terdengar—karena ksatria pengawalnya sedang bertarung mati-matian! Saat tangan jahat para bandit hampir menyentuhnya… muncullah sang ksatria, menebas semua musuh dan berkata dengan penuh wibawa—’”

Saat itu juga, aku tahu ini momenku.
Aku langsung masuk ke peran itu, menyalakan mode suara aktris profesional.
Bayangkan diriku sebagai ksatria gagah yang melindungi sang putri lemah.
Nada tegas, suara tinggi tapi lembut, dan penuh keyakinan.

Dan aku ucapkan dengan lantang—

“――Apakah Anda baik-baik saja, Yang Mulia!?”

• !!!??!!!?!
• ASTAGA HANAYORI!?
• MERINDING PARAH
• Sumpah, ini kayak adegan anime beneran
• Aku bisa ngebayangin suasananya langsung


“……uh.”
Suara napas kecil terdengar dari mic.
Sepertinya Tsuna-chan sudah kembali sadar dari “trance”-nya. Aku pun menghela napas lega. Artinya, umpanku berhasil.

――Tsunamayo, si pendekar pedang hitam, punya kebiasaan unik: imajinasinya berlebihan.
Bukan sekadar berkhayal biasa, tapi sampai benar-benar tenggelam ke dunia yang dia bayangkan — bahkan selama siaran langsung.

Waktu debut pertamanya, dia sempat membicarakan hobinya… dan berakhir dengan bercerita tentang petualangan protagonis perempuan super kuat selama 11 jam nonstop.
Cerita itu bahkan ditutup dengan adegan ciuman antara sang protagonis dan heroine-nya.
Ya, dengan kata lain, Tsuna-chan punya bakat yuri yang terpendam.

Karena aku tahu itu, aku sengaja menuntunnya ke arah obrolan “hobi” agar dia bisa tenggelam dalam dunianya lagi.
Dan hasilnya — sukses besar.

Beberapa hari setelah debut, Tsuna-chan pernah curhat, katanya orang-orang tidak ngerti dirinya.
Kebiasaan “berimajinasi kelewatan” itu bikin orang menjauh, jadi dia mencoba menahannya. Tapi di dunia Vtuber, dia berharap bisa diterima.
Sayangnya, karena terlalu senang, dia kebablasan.

Tapi menurutku itu bukan kebiasaan buruk.
Semua orang juga pernah berkhayal, kan?
Cowok pasti pernah ngebayangin dirinya jadi pahlawan yang mengalahkan teroris di sekolah.
Dan cewek pun pasti pernah membayangkan diselamatkan pangeran berkuda putih.

Imajinasi kayak gitu Cuma berkembang sedikit lebih jauh aja.
Dan bukannya mengejek, aku malah mengagumi daya khayal sekuat itu.

Tapi yah, kalau Cuma dikatakan lewat kata-kata, Tsuna-chan mungkin tidak akan percaya.
Dia pasti sudah sadar, lalu menyesal karena “melakukan kesalahan” lagi.

Jadi—
Kali ini aku akan menunjukkannya lewat tindakan.

“Lanjut aja, Tsuna-chan.”

Aku mengembalikan nada suaraku jadi lembut, dan menatap kameraku.
Aku tidak bohong — ucapanku tulus.
Orang dengan tipe kepribadian seperti dia bisa merasakan kebohongan dengan cepat.
Sama seperti aku di kehidupan sebelumnya.

“B-beneran boleh…?”

“Tentu saja.”

Aku menjawab tanpa ragu, menenangkannya agar terus melanjutkan.

“Hiks… B-baiklah! Kalau begitu, aku lanjut! ‘Ah, akhirnya Anda datang, ksatriaku!’”

“‘Aku akan datang ke mana pun demi Anda, Yang Mulia. Aku adalah ksatria pelindung Anda, bukan?’”


――Lima jam kemudian.


“S-selesai!”

Begitu Tsuna-chan mengucapkannya, aku langsung keluar dari mode akting.
Tiba-tiba tubuhku terasa berat.
Kami barusan benar-benar melakukan drama improvisasi berdurasi lima jam.

Aku aja sampai kelelahan — padahal aku terbiasa.
Tapi Tsuna-chan? Dari awal sampai akhir dia tetap semangat. Luar biasa juga anak ini.

Begitu “pementasan” selesai, kolom komentar langsung meledak.
Selama lima jam penuh, jumlah penonton tidak pernah turun di bawah tiga puluh ribu.
Banyak yang nonton sambil kerja atau belajar, tapi tetap saja — ini pencapaian besar.
Itu bukti betapa kuatnya cerita yang kami ciptakan berdua.

• Ini… gila banget.
• Serius, aku merinding. Ini improv, kan!?
• Kayak nonton dua orang jenius lagi main teater. 
• Bisa dijadiin buku, sumpah.
• ↑ Komentar lima–tujuh–lima wkwk
• Akting Hanayori emang top, tapi Tsunamayo juga jago banget!
• Baru kali ini aku bisa tenggelam dalam cerita Vtuber gini.
• Please, tolong lakukan lagi.
• Lima jam dan aku tidak bosan sama sekali.

Komentar isinya pujian di mana-mana.
Mungkin ada satu dua kritik kalau dicari, tapi semua itu tidak penting.

“Seru banget ya, Tsuna-chan.”

“Uuhh… sniff iyaaa…”

“Kenapa malah nangis? Tokoh utamanya tidak boleh nangis, tahu.”

“S-soalnya… ini pengalaman pertama aku kayak gini… senang banget… benar-benar senang…”

“Hei, hei, udah, jangan nangis. Sini, tenang dulu.”

• TEETEE!
•TEETEE BANGET 
•Ibu dan anak wkwkwk
• Sebagai penonton awal Tsunamayo, aku terharu banget…
• ↑ Nih tisu, bro.
• Rasanya kayak nonton kelahiran momen sejarah Vtuber.

Tsuna-chan masih terus menangis haru.
Padahal aku tidak ngelakuin hal besar juga, sih.
Aku Cuma menikmati waktuku dengannya sebagai sesama Vtuber.

Dalam sejarah yang kuingat dari kehidupanku sebelumnya, Tsuna-chan bahkan tidak pernah ada.
Jadi mungkin ini efek kupu-kupu—realitas yang berubah sedikit.
Tapi bagiku, tidak masalah.

Yang penting, di depanku sekarang bukan sekadar catatan sejarah,
Tapi seseorang yang hidup, nyata, dan bernafas — seorang Vtuber bernama Tsunamayo.

“Kenapa?”

“Hm?”

“Kenapa Hanayori-san mau… ikut dalam ‘kebiasaan buruk’ aku tadi?”

“Itu bukan kebiasaan buruk, kok. Lihat aja komentar. Baik pendengarku maupun pendengar kamu semua ngasih pujian, kan?
Itu artinya, kekuatan ceritanya datang dari kamu sendiri, Tsuna-chan.”

• Siapa yang disebut ‘lemah’ barusan, hah
• Meski ngomongnya kayak ngatain, tetep aja terdengar lembut wkwk
• Ya wajar sih dipuji, itu keren banget
• Aku fans lama Tsuna, tapi bahkan debutnya tidak sebagus ini.
• Sejak dulu cerita monolog dia emang bagus. Sekarang makin matang.

“T-tapi itu karena Hanayori-san bantu juga…”

“Duh, cerewet banget sih anak introvert ini…”

“Kejaam!!”

“Dipuji tuh diterima aja, tidak usah ribet. Aku suka, tahu?”

“E-eeeh… a-aku…”

“Yap, aku suka siaran kamu maksudnya.”

“O-oh, begitu ya! I-iya, aku tahu kok, hahaha…”

Aku nyengir lebar, menatap kamera dengan senyum nakal.
Dan di sisi lain, Tsuna-chan langsung salah paham, mukanya memerah.
Lucu banget. Kena jebakan~

• Ini baru TEETEE
• Hanayori, kamu wanita berbahaya 
• Percepat replay bagian ini, plis
• Tsuna-chan beneran polos banget
• Klip ini pasti viral, sumpah 

Aku sempat tertawa puas sebelum menatap Tsuna-chan lagi.
“Hey, Tsuna-chan. Seru, kan?”

“Iya… seru banget.”

“Kalau gitu, udah cukup. Hal yang menyenangkan tidak perlu alasan rumit buat dijelasin.”

“Iya…”

Dia mengangguk pelan.
Dan kali ini, aku yakin — yang muncul di wajahnya itu senyum tulus.
Lucu. Gadis jujur kayak gini… aku suka banget.

• Aku hampir nangis.
• Kenapa kamu masih main karakter ‘mesum’ sih, padahal kayak gini keren banget.
• Semua emosi negatif dikonversi jadi TEETEE.
• Jadi suci sekaligus absurd, aku suka

Diam, kalian semua!
Oke, iya, mungkin aku beneran udah mengorbankan seluruh tenagaku demi “teetee” (kehangatan antarsesama Vtuber), tapi jangan bahas kayak gitu di depan umum, dong!

…dan, yah, waktu udah larut juga.
Kalau lanjut, besok aku bakal ngantuk di sekolah.

“Tsuna-chan, udah malam. Kita tutup aja, ya.”

“Ah! Iya! Udah tengah malam ternyata! Baiklah, terima kasih semuanya! Sekian dulu untuk hari ini!”

“Yep, bye-bye!”

Kupikir udah selesai, tapi sebelum menutup siaran, Tsuna-chan tiba-tiba menambahkan, dengan suara yang pelan dan malu-malu,

“U-um… terima kasih banyak, Hanayori-san. Mungkin… aku ini, agak gampang jatuh hati… hehe. Sampai jumpa!”

• YUP, dia jatuh. Confirmed.
• Satu lagi tumbang.
• Perempuan yang menaklukkan dunia Vtuber.
• Dua down… berapa lagi yang bakal jatuh, ya?

***

Setelah siaran selesai, aku bersandar ke kursi dan bergumam pelan.

“Padahal awalnya aku tidak niat buat ‘menaklukkan’ dia sampai segitunya, loh…”

Ya sudahlah.
Yang penting sekarang, Tsuna-chan jadi lebih percaya diri.
Dan berkat itu juga, jumlah subscribernya melonjak pesat.

Bukan mau sombong, tapi ini hasil kerja keras kami berdua.
Kalau cuma aku sendiri, mungkin Tsuna tidak akan bisa berkembang sejauh ini.
Dan kalau dia sendirian, jalan yang ditempuh pasti jauh lebih berat.

Inilah arti sebenarnya dari “saling membantu antar-VTuber.”
Bisa dibilang ini juga bentuk lain dari “teetee” — kehangatan sesama rekan yang tulus.
Aku sendiri cukup terharu, sih.

“Kalau dalam satu agensi perbedaan jumlah subscriber terlalu jauh, itu bisa jadi masalah juga, kan? Baik buat perusahaan maupun mental para talent-nya.”

Agensiku, Koedame, isinya orang-orang aneh semua — masing-masing punya gaya unik dan ego tinggi.
Jadi kami jarang terlalu memusingkan angka, tapi tetap aja, sebagai bagian dari perusahaan, kami punya tanggung jawab buat hasilin profit.
Kami bukan cuma main-main.
Semua orang di sini berusaha sepenuh hati buat jadi VTuber yang hebat, masing-masing dengan kreativitas dan gaya sendiri.

Aku pun sama.
Aku menjadikan keinginanku sendiri sebagai senjata, dan walau masih rookie, aku berusaha keras untuk tetap dikenal sebagai VTuber yang tulus dan menghibur.
Aku tahu apa yang diinginkan penonton — dan aku sudah banyak belajar untuk bisa memberikan itu.
Itu hal yang bisa aku banggakan.

“Hmm, tapi meski aku lebih cocok di collab, kalau tidak bisa dapet jadwal bareng orang lain ya percuma juga.”

Sudah seminggu berlalu sejak collab-ku dengan Tsuna-chan.
Dalam seminggu itu aku cuma sempat sekali siaran solo, tapi entah kenapa… rasanya kurang greget.
Penonton kelihatan puas, tapi aku tahu diriku — aku paling bersinar saat siaran bareng orang lain.
Masalah kecil, tapi cukup bikin pusing.

Saat aku lagi berpikir keras, tiba-tiba notifikasi dari aplikasi 【The Code】 muncul di layar.

―――
Zenchi: “Ayo collab.”
Hanayori: “Boleh. Kapan?”
Zenchi: “Besok.”
Hanayori: “BESOK!?”
―――

“Eh, seriusan nih? Cepet banget, tidak kasih waktu napas dulu gitu?”

Zenchi-san pasti tahu kalau aku masih anak SMA.
Makanya dia nentuin hari Sabtu — biar aku tidak bentrok sekolah. Tapi tetap aja, mendadak banget.
…eh, tapi dulu waktu Tsuna-chan ngajak collab juga H-1, ya.
Yaudah, aku tidak bisa ngeluh deh, ternyata aku juga sama aja.

“Yah, tapi nggak nyangka juga. Ini kayak kesempatan emas sih. Aku kira Zenchi-san tidak bakal ngajak duluan.”

Biasanya, Zenchi lebih ke tipe yang pasif.
Selalu jaga jarak, kayak ada dinding tak kasat mata di antara kami.
Tapi kalau sekarang dia sendiri yang mengajak… berarti tembok itu mulai retak sedikit, kan?
Dan jujur aja — aku senang banget.

Aku buka jadwalku.
Halaman kosong melompong.
Aku menatap layar itu lama, lalu menghela napas dalam.

…bukan karena tidak punya teman, ya!?
Aku sengaja ngosongin jadwal biar siap kapan pun kalau ada urusan VTuber, oke!?
Bukan karena dikucilkan teman sekelas atau semacamnya!

Sungguh!!

“Astaga, kenapa aku malah membela diri sendiri… fokus, fokus! Yang penting sekarang, aku harus siapin strategi buat collab sama Zenchi-san.”

Katanya semua konsep collab diserahkan padaku.
Waduh, tanggung jawab gede juga.
Meskipun aku yakin dia tidak akan marah kalau aku ngelakuin hal aneh, tapi tetap aja… tekanan mentalnya gede.

“Waktu collab sebelumnya, aku udah berhasil ‘menaklukkan’ Zenchi-san. Tapi makin lama efeknya bakal berkurang. Jadi—”

Aku berdiri tegap, mengepalkan tangan, dan berseru dengan nada penuh semangat.

“Karena itu… sekarang waktunya dia benar-benar jatuh sepenuhnya!”

Wajahku mungkin udah kayak penjahat final boss sekarang, tapi bodo amat.
Untuk mimpiku, aku harus lanjut.
Karena “menjatuhkan” bukan akhir — justru itu baru permulaan.

***

Sisi Zenchi

“...Hari ini Hanayori bakal datang. Vui!”

• Hah, dia lucu banget waktu excited gini.
• Kayak anak kecil nunggu ibunya pulang 
• Kelihatan dari ekspresinya, dia beneran tidak sabar.
• Gila, ini beneran orang yang katanya cool?
• Jadi gini rasanya “jatuh” ya…
• Eeeeee….
• Hening tapi hangat banget atmosfernya.

Entah kenapa semua orang ribut di kolom komentar.
Padahal aku cuma… merasa senang.

Satu-satunya orang yang tidak bisa kumengerti di dunia ini —
adalah Hanayori Kohaku.
Aku bahkan tidak tahu nama aslinya di dunia nyata, dan jujur saja, aku tidak peduli.

Dia… hangat.
Setiap kali Hanayori tersenyum padaku, atau tertawa kecil karena sesuatu yang bodoh,
ada sesuatu di dadaku yang terasa… nyesek.

Aku tidak ngerti kenapa.
Tapi waktu collab terakhir, dia bersinar lebih terang dari siapa pun di dunia ini.
Apakah karena dia bantu beresin rumahku?
Atau karena dia masak buatku?

――Bukan.

Alasannya sederhana.
Hanayori melihatku apa adanya.
Bukan “Zenchi sang VTuber keren”, bukan juga “idola”.
Tapi hanya “aku.”

Dia tersenyum padaku.
Dia menyentuhku dengan kehangatan yang nyata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa… hidup.

Makanya aku menunggu hari ini.
Tapi di balik rasa bahagia itu,
ada sesuatu yang membara di dalam dada — perasaan asing yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Apa ini?
Aku tidak tahu.
Tapi… aku takut.
Karena kalau aku tahu jawabannya, aku rasa aku tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi.

Posting Komentar

Posting Komentar