Namaku Sasaki Kouki.
Aku lebih suka yuri daripada makan tiga kali sehari.
Motto hidupku adalah: jangan menyelip di antara pasangan yuri.
Aku ini cowok tampan biasa yang terlalu mendalami sifat introver sampai-sampai membaca novel yuri di kelas. Satu-satunya hal yang kupercayai sejak dulu hanyalah penampilanku. Yah, kalau cewek-cewek terus mendekatimu, mau tidak mau jadi sadar juga.
Biasanya aku tidak pernah bicara dengan cewek. Selain itu, aku juga tidak ingin mengganggu yuri, jadi kalau tidak perlu aku sengaja menghindari berbicara dengan mereka.
Hobiku adalah memasangkan teman sekelas menjadi pasangan yuri.
Imajinasi itu bebas, kan? Meski aku sadar betapa menjijikkannya kebiasaan ini, tetap saja aku tidak bisa berhenti.
Tapi dengarkan dulu.
Belakangan ini ada dua orang yang menurutku benar-benar berpotensi jadi yuri sejati.
Yumemi Renge dan Kawauchi Eriko.
Yang satu gadis cantik, yang satu lagi gadis biasa.
Aroma yuri yang luar biasa tercium dari mereka berdua.
Kalau soal Kawauchi-san yang disebut gadis biasa, menurutku sebenarnya dia punya banyak sisi bagus. Sikapnya yang terus terang juga membuat orang mudah menyukainya.
Tapi entah kenapa, dia membenciku.
Meski sejujurnya, aku tidak terlalu peduli dengan penilaian cewek terhadapku.
Nah, kedua orang itu selalu bersama di sekolah.
Itu sendiri bukan hal aneh. Cewek SMA memang suka saling memeluk teman tanpa alasan. Sebagai penggemar yuri, melihat mereka saling lengket justru jadi asupan energi bagiku.
Tapi!!!!!
Hubungan Yumemi-san dan Kawauchi-san memang dekat, namun tetap ada jarak tertentu. Mereka saling menjaga ruang pribadi masing-masing saat berinteraksi.
Hanya dengan melihat itu saja, aku sudah hampir mimisan karena vibes sahabat sekaligus pasangan yuri mereka.
Namun!!!
Sesekali ruang pribadi itu dilanggar—dan saat itulah darah segar menyembur dari hidungku.
Sekarang akan kuperkenalkan salah satu contohnya.
Case 1
Itu terjadi saat aku pergi ke kantin sekolah pada hari musim panas yang sangat panas.
Karena jumlah murid di sekolahku cukup banyak, kantin penuh sesak dan tidak ada kursi kosong.
Tapi meminta duduk semeja dengan orang lain terlalu tinggi rintangannya bagiku. Setidaknya saat makan aku ingin sendirian. Begitulah hati seorang introver.
Kebetulan aku menemukan sudut yang kosong. Dengan sedikit lega, aku makan kari dengan diam.
"Ah, maaf. Boleh numpang semeja? Tempat lain penuh."
"Eh, jangan deh. Aku nggak mau makan di dekat cowok tampan."
"Kawauchi, memangnya kamu trauma sama cowok ganteng? Reaksimu berlebihan banget."
Sambil bercanda seperti duo komedi, yang menghampiriku adalah Yumemi-san dan Kawauchi-san. Sejak saat itu Kawauchi-san memang sudah membenciku, padahal aku tidak melakukan apa-apa.
"Oh, tentu saja. Tidak masalah kok."
Meski dalam hati gugup setengah mati, aku berhasil mengatakannya. Yumemi-san menjawab, "Makasih," lalu duduk berhadapan denganku bersama Kawauchi-san.
Tanpa sengaja aku hampir menyelip di antara pasangan yuri. Aku menggigit bibir sampai nyaris berdarah sambil buru-buru melahap nasi kari. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku membenci kari.
"Kawauchi, kamu makan ramen lagi? Coba pikirkan soal nutrisi dong."
"Gapapa kali. Aku bayar pakai uang sendiri, jadi pengin makan yang kusuka."
"Di zaman sekarang, kesehatan itu dibeli dengan uang."
"Dunia keras banget..."
Ucapan yang terlalu realistis.
Entah dia sudah pasrah atau sudah tercerahkan, tapi itu memang kenyataan.
"Ya terserah kamu sih. Aku nggak mau ikut campur. Tapi nanti gemuk lho? Aku tahu akhir-akhir ini kamu perhatian sama ukuran pinggangmu."
Wah, telak banget!
Sambil berpikir begitu, aku penasaran dengan reaksi Kawauchi-san. Biasanya dalam situasi seperti ini, orang bakal marah atau sedih.
Tapi Kawauchi-san berbeda.
Dengan tatapan tajam penuh rasa muak, dia berkata,
"Gapapa. Orang figuran kayak aku, mau gemuk atau kurus juga nggak ada bedanya. Paling cuma dibilang, 'Eh, badannya lebih berisi ya?' terus diledekin."
Kuat banget mentalnya. Dari mana dia belajar pola pikir begitu?
Tatapan itu jelas bukan tatapan yang pantas dimiliki siswi SMA yang sedang mekar-mekarnya.
Namun, inti masalahnya dimulai dari sini.
Inilah momen ketika mimisanku meledak.
Yumemi-san tertawa kecil, lalu menyentuh pipi Kawauchi-san yang duduk di depannya sambil berkata,
"Yah, kalau aku sih tetap suka Kawauchi, entah kamu gemuk atau kurus. Tapi aku nggak mau kamu cepat mati, jadi tolong jaga kesehatan juga ya?"
"Heh, heh, heh, tunggu dulu! Jangan gampang-gampang ngeluarin aura cowok ganteng begitu dong! Aku jadi malu tahu!"
"Menurutku yang salah itu Kawauchi yang terlalu gampang luluh."
"Berisik! Lagi pula ini tempat umum!"
"Mau di mana pun, kamu tetap bakal malu kok."
"Itu bukan inti masalahnya!!"
Dengan wajah merah padam, Kawauchi-san berteriak.
Sebaliknya, Yumemi-san hanya tersenyum santai sambil terus menggodanya.
"...Terima kasih atas makanannya."
Aku berdiri dari kursi sambil menangkupkan tangan, bersyukur atas segalanya.
Lalu langsung menuju toilet.
...Bagus, tidak ada orang.
Aku mengeluarkan saputangan dari saku, menutup mulut, lalu berteriak.
"AAAAAAAHHHHHHHHHHH!!!!"
"TEEETEEEHHHHHHHHHH!!!!!!!"
"ANDAI SAJA AKU BISA MENONTON DARI JARAK 150 METER!!!"
Kalian menghapus keberadaanku dari tengah jalan tadi, kan!?
Terima kasih! Aku memang ingin mengamati yuri tanpa disadari keberadaanku!
Ah, syukurlah aku hidup dengan perilaku baik selama ini!
Memberi payung pada nenek yang tidak punya payung, menolong anak kecil yang hampir jatuh, melindungi cowok feminin yang dilecehkan, menggagalkan perampok minimarket, sampai membantu orang mencari barang hilang selama enam jam... semua itu tidak sia-sia!
"HIDUPKU ADALAH YANG TERBAIK!!!"
—Beberapa hari kemudian, ditemukan bercak darah dalam jumlah mengerikan di toilet tempatku berada, dan sekolah sempat gempar karenanya.


Posting Komentar