Ada pepatah "Jangan menunda-nunda kebaikan." — kalau itu hal baik, lakukan tanpa ragu.
Tapi, sesuatu yang menurut kita “baik”, belum tentu juga baik bagi orang lain.
Artinya, langsung masuk ke inti masalah secara frontal belum tentu merupakan tindakan yang benar.
Lagipula, aku baru kenal Classy-chan belum lama. Aku tidak punya rasa percaya diri berlebihan sampai berpikir bisa langsung membuka isi hatinya begitu saja.
Kalau Zenchi-san dan Tsuna-chan sih beda cerita. Mereka punya kelemahan yang jelas, jadi gampang kujatuhkan.
...Yah, dua orang itu memang kasus khusus.
"Ya sudahlah, daripada kebanyakan mikir, yang penting bergerak dulu itu tidak salah, kan? Jadi sekarang targetnya: mempererat hubungan dengan Classy-chan."
Seperti biasa aku mengomel sendiri sambil memainkan ponsel.
Entah karena kebiasaan jadi streamer, aku jadi sering bicara sendiri.
Sebenarnya tidak buruk juga sih—bisa melatih cara bicara.
Cuma kalau dilihat orang lain, pasti dikira orang aneh.
―――
Hanayori : "Mau kencan nggak!?!?"
Classy : "Eh...?"
Hanayori : "Singkatnya sih cuma nemenin jalan aja. Kalau kamu buta arah kan bahaya"
Classy : "Kalau dibilang begitu aku susah nolaknya... baiklah"
Hanayori : "Ohh, kalau gitu besok jam 9 di depan Patiko gimana?"
Classy : "Oke. Kalau di sana aku tidak bakal nyasar"
―――
Dia jawab dengan percaya diri, padahal dari Stasiun Shibuya ke sana itu dekat banget, lho.
Katanya Classy-chan tinggal di Shibuya, jadi pas juga.
Aku sendiri harus pindah jalur kereta, tapi tenang saja. Aku bukan orang yang gampang nyasar.
"Bagus, bagus. Jadi kalau Patiko, tidak bakal tersesat, ya. Dapat pengetahuan aneh lagi nih."
Tempat terkenal pasti penuh orang, dan kalau ke sana mungkin malah tidak bisa menikmati suasana.
Jadi mending ke tempat yang biasa saja.
Sisanya tinggal lihat apakah rencanaku bisa berjalan mulus atau tidak.
Yang beginian sih harus dicoba dulu baru tahu.
"Baiklah... besok aku bakal dandan semaksimal mungkin."
***
Sekarang aku sedang menunggu Classy-chan di depan Patiko.
Kulirik jam tangan—sekitar sepuluh menit sebelum waktu janjian.
Kalau menunggu orang biasanya suka diajak kenalan.
Tapi kalau pasang ekspresi cewek yang lagi jatuh cinta sambil menunggu seseorang, biasanya orang langsung paham dan tidak ganggu.
Teknik akting yang cukup berguna.
...Walau kadang masih ada yang nekat ngajak ngobrol juga sih, dan kalau nolak rasanya agak tidak enak.
Maaf ya, aku tidak tertarik sama cowok.
Coba lahir ulang jadi cewek dulu.
"Kayaknya bentar lagi datang deh."
Hari ini aku pakai outfit monokrom klasik: hitam dan putih.
Kalau modal wajah bagus, pakaian simpel pun tetap cocok. Enak banget.
Celana denim putih dengan belahan tengah, model longgar dan nyaman, plus menonjolkan pinggang tinggi.
Atasannya blus hitam yang lembut dan flowy.
Sekarang musim gugur.
Memang agak dingin, tapi masih bisa ditahan.
Lagian masih banyak kok yang pakai rok mini.
Bahkan pas musim dingin juga tetap begitu.
Demi fashion, suhu bukan masalah.
Dulu waktu masih di kehidupan sebelumnya aku mikir, “Niat banget sih...”
Tapi sekarang aku mengerti.
"Maaf, lama nunggu?"
"Baru aja datang kok—hmph."
"Ekspresi bangga misterius itu kenapa?"
"Karena aku berhasil bilang jawaban template romcom."
Classy-chan datang sambil sedikit terburu-buru, lalu memiringkan kepala melihat reaksiku.
Kayaknya dia tidak paham trope komedi romantis.
Tapi lupakan itu dulu.
Aku memperhatikannya dari atas sampai bawah.
Awalnya kukira dia bakal pakai gaun lagi, tapi ternyata hari ini dia memakai dress merah yang tidak terlalu menonjolkan bentuk tubuh.
Ada detail bordir halus di sana-sini.
Kelihatan mahal banget.
Apa dia memang dari keluarga kaya?
Atau punya pemasukan besar selain jadi VTuber?
"Ada yang aneh di tubuhku?"
"Tidak kok. Hari ini juga cantik."
"Kamu juga. Baju itu cocok sekali."
"Iya dong."
Dulu aku pernah belajar kalau terlalu merendah itu malah terdengar menyebalkan.
Jadi sekarang kalau dipuji, aku terima saja sebagai fakta.
Tergantung situasi sih, tapi soal diriku sendiri begitu.
Tenang, aku bukan tipe yang suka pamer tiba-tiba.
Classy-chan juga kelihatannya tidak terlalu peduli, jadi setelah salam singkat kami mulai berjalan.
"Memang ramai sekali ya di sini..."
"Ya iyalah, ini kan tempat suci buat janjian ketemu orang. Lumayan nambah EXP, kan?"
"Aku mau muntah."
"Itu gagal total dong."
Dengan wajah pucat, dia benar-benar kelihatan hampir muntah.
Kayaknya memaksanya membiasakan diri sama keramaian bukan ide bagus.
Lain kali jangan begitu deh.
"Hari ini kita mau ke mana? Tempat terlalu ramai tolong jangan."
"Tenang! Memang ramai sih, tapi tujuan kita tempat makan."
"Tempat makan?"
"Iya. Aku nemu kafe yang lagi viral dan katanya enak. Kita jalan-jalan santai dulu, nanti pas siang ke sana."
"Baiklah. Waktu dulu aku ikut rekomendasimu ke kedai kopi, kopinya enak sekali. Jadi soal pilih tempat, aku serahkan padamu."
"Yup, serahkan saja. Aku rajin cari info kok."
Sambil tersenyum tipis, Classy-chan bicara begitu.
Tatapan matanya agak tajam, tapi senyumnya lembut.
Kontras itu punya daya tarik tersendiri.
Setidaknya aku suka banget.
"Ngomong-ngomong kamu masih SMA ya? Pantas peka sama tren."
"Tidak semua anak SMA ngerti tren kali."
"Benar juga. Seperti masa sekolahku dulu."
"Itu self-burn yang susah direspons tau!"
"Bercanda."
Sesaat dia memasang wajah datar yang terlalu meyakinkan.
...Kayaknya itu bukan bercanda deh.
Ya sudahlah.
Biar suasana tidak aneh, aku langsung tersenyum dan meraih tangannya.
"Ayo jalan! Biar tidak kepisah, aku pegang tanganmu."
"...Aku sebenarnya bukan anak kecil lagi... tapi ya, tidak buruk."
Pipinya sedikit memerah.
Jelas berhasil.
Classy-chan yang malu-malu juga lucu banget.
"Oh? Jangan-jangan Classy-chan lagi fase dere nih...?"
"Kalau ngomong aneh-aneh lagi, kulepas tangan ini."
"Yang bakal repot kalau dilepas justru kamu kan?"
"..."
Dengan wajah pasrah, dia diam dan membiarkanku menarik tangannya sambil berjalan.
Bukan marah.
Dia cuma malu.
"Fufufufu~♪"
Saat aku berjalan sambil bersenandung asal, dia tiba-tiba berbisik dari samping.
"Memangnya... kamu senang bersamaku?"
Ada rasa cemas.
Ragu.
Jelas bukan emosi yang baik.
Aku menggenggam tangannya lebih erat, lalu berbisik di dekat telinganya.
"Senang kok. Jadi jangan khawatir, ikut saja denganku."
"...Ugh, a-aku mengerti, jadi jangan bicara dekat telingaku. Jantungku tidak kuat."
Sudah lama tidak pakai teknik ganti suara mode lembut.
Untuk menenangkan orang, ini paling ampuh.
Aku memang tidak tahu apa yang sedang Classy-chan pikirkan.
Aku juga tidak tahu beban apa yang dia bawa.
Tapi setidaknya, selama dia bersamaku...
aku ingin dia merasa tenang.
Dan itu jelas bukan akting.
Itu perasaanku yang sesungguhnya.
――Setelah itu, kami menikmati kencan sambil terus bergandengan tangan.
Awalnya Classy-chan masih kelihatan canggung saat pegangan tangan, tapi makin lama entah dia mulai terbiasa atau sudah pasrah, dia jadi santai dan ikut menikmati waktu bersama.
Sepertinya Classy-chan cuma punya dress atau one-piece saja. Begitu tahu itu, aku langsung menyeretnya ke toko pakaian.
Setelah sesi fashion show Classy-chan selesai, kami membeli beberapa potong pakaian.
Tentu saja dibayar sekaligus pakai kartu.
Setelah itu kami sampai di kafe tujuan, dan sekarang ada di sini.
"Tempatnya lumayan stylish ya."
Classy-chan berkata sambil melihat sekeliling ruangan dengan kagum.
"Iya kan? Lagipula kita datang di luar jam ramai, jadi nggak terlalu banyak orang. Enak buat santai."
"Kalau tidak salah yang terkenal di sini pancake, ya? Pantas kalau sebelum jam makan siang belum terlalu ramai."
"Non non. Kamu masih terlalu polos, Classy-chan. Pancake itu bisa jadi makan siang yang sah, lho. Tempat ini cuma menyajikan pancake mulai jam tiga sore, makanya sekarang sepi."
"Eh... makanan penuh gula begitu bisa dijadikan makan siang?"
Classy-chan tampak sedikit mundur melihat kenyataan zaman sekarang.
Jujur, aku juga agak berat kalau makan pancake manis dari siang. Pasti bikin enek.
Tapi ya, pancake itu bukan selalu yang penuh es krim, buah, dan krim kok.
Banyak juga yang model gurih dan cocok jadi makanan biasa.
"Pancake memang enak, tapi rekomendasi utamaku di sini itu gratin. Sebenarnya ini lebih cocok disebut kedai kopi daripada kafe. Cuma pemiliknya ngotot mau nyebut tempat ini kafe."
"Dia sampai mengurus izin usaha hanya demi itu...? Tekadnya luar biasa juga."
"Iya kan? Tapi berkat itu menunya jadi banyak dan enak-enak sih."
"Benar juga. Aku tidak punya hak mengomentari selera pemiliknya."
Sambil ngobrol begitu, kami memesan gratin.
Pemilik tempat ini pria berjanggut yang keren dan berwibawa.
Gap antara penampilan sangar dan tempat lucunya bikin menarik.
***
"Enak bangettt~"
"Jauh lebih enak dari perkiraanku. ...Apa lain kali aku bisa datang sendiri, ya?"
"Hahaha, syukurlah kalau kamu suka. Kalau bingung jalan, ajak aku lagi juga boleh. Atau telepon saja, nanti kutunjukin jalannya."
"Begitu ya... kalau begitu aku akan mengandalkanmu."
"Siappp~"
Classy-chan yang biasanya ragu bergantung pada orang lain, ternyata menjawab sejujur itu.
Walau kemungkinan besar bukan karena percaya padaku, tapi murni karena dia suka tempat ini.
Sedikit mengecewakan.
Tempat ini memang ada di lokasi yang agak rumit, jadi pasti nanti akan ada kesempatan buat menuntunnya lagi.
Dan itu memang tujuanku: menambah titik kontak dengannya...!
Eh?
Jangan-jangan aku jenius?
...Nggak, itu namanya kepedean.
Sambil sama-sama mengusap perut kenyang, Classy-chan melirikku dari samping.
Tatapan yang seolah bertanya, habis ini kita ke mana?
...Aku menarik napas pelan.
Lalu, demi mencapai tujuan utamaku hari ini tanpa membuatnya curiga, aku tersenyum dan berkata,
"Selanjutnya... kita nggak punya waktu buat pergi jauh, jadi gimana kalau ke karaoke?"
――Reaksinya terjadi seketika.
Wajah Classy-chan langsung pucat dan dia menunduk.
Bahu yang sedikit bergetar itu jelas tanda penolakan.
Apa pun alasannya, reaksinya sama sekali tidak normal.
Aku langsung buru-buru menambahkan.
"Oh iya, sebenarnya aku bawa alat musik. Aku pengin diajarin."
"Alat musik...?"
Bahunya bergerak sedikit, lalu dia melihat piccolo yang kukeluarkan.
Classy-chan mengembuskan napas dan perlahan menenangkan diri.
"Kalau alat musik... itu bidangku. Baiklah."
"Hehe, aku tahu. Makanya aku minta tolong."
Di luar aku masih tersenyum, tapi dalam hati aku bingung.
Penolakan Classy-chan terhadap kata bernyanyi ternyata jauh lebih kuat dari perkiraanku.
Sambil menyembunyikan ekspresi tegang, aku terus melangkah.
...Ternyata nggak semudah itu ya.
***
"Ngomong-ngomong, mungkin ini pertama kalinya aku masuk karaoke."
"Oh? Serius? Padahal kamu kelihatan seperti orang yang sudah biasa."
"Soalnya kalau aku nyanyi, suara asliku lumayan keluar. Risiko ketahuan identitas asli besar."
"Ah... jadi begitu."
Di kehidupan sebelumnya aku suka banget karaoke, sampai mungkin sudah ratusan kali pergi.
Tapi di kehidupan sekarang, kalau mau jadi VTuber, aku harus hati-hati soal semuanya.
Jadi aku sebisa mungkin menghindari karaoke.
Aku memang ikut latihan vokal dan belajar teknik menyanyi dari profesional.
Katanya, cara bernyanyi terbaikku justru suara natural yang keluar begitu saja.
Fondasinya sudah jadi, tinggal dibenahi detail kecilnya.
Jujur aku sendiri masih ragu.
Tapi kalau profesional yang bilang, ya mau bagaimana lagi.
Dan waktu dengar rekaman suaraku sendiri, aku jadi paham maksud mereka.
Walau sebenarnya aku juga bisa nyanyi pakai voice changer.
"Aku sih bisa main beberapa alat musik, tapi nggak bisa main piccolo."
"Mungkin kamu memang kurang cocok dengan alat tiup?"
"Bisa jadi... tapi aku bisa main concert flute, sih."
"Kenapa... ya sudahlah, mungkin karena ukurannya. Pokoknya coba mainkan dulu."
Akhirnya aku memainkan Turkish March.
...Hmm, ekspresinya masih kurang ya.
Aku masih terlalu fokus sekadar bisa meniupnya.
Setelah mendengar sebentar, Classy-chan mulai berpikir serius.
"...Begini. Kesan 'kamu sebenarnya sudah cukup bisa' kita kesampingkan dulu. Masalahnya cuma kurang terbiasa. Kamu belum banyak pengalaman, kan? Setiap jenis flute punya karakter beda. Kalau kamu main piccolo dengan rasa concert flute, ya bakal salah."
"Ahh... benar juga. Aku memang mikir kalau bisa yang satu, berarti otomatis bisa yang lain."
Itu namanya meremehkan alat musik, ya.
Kalau terlalu banyak mencoba semuanya, akhirnya ada yang tidak maksimal.
Aku memang ingin jadi serba bisa, tapi jalannya masih panjang.
"...Kalau begitu, mau aku contohkan?"
"Boleh? Tolong dong."
Aku menyerahkan mouthpiece cadangan yang kubawa.
Sekarang flu juga lagi musim, jadi urusan begini harus tetap hati-hati.
Classy-chan memasang mouthpiece lalu memegang piccolo.
Pemandangannya benar-benar cocok.
Bahkan sampai terasa agak fantastis.
Inilah orang yang asli berbakat.
Kalau soal musik, aku jelas belum bisa menandinginya.
"~~♪"
Begitu dia mulai memainkan Turkish March, aku langsung sadar kalau level kami beda jauh.
Benar-benar memukau.
Nada tinggi memenuhi ruangan karaoke.
Sementara itu aku hanya bisa menatap Classy-chan yang bermain dengan sangat bahagia.
Dengan senyum di wajahnya, ekspresi yang seolah memikat semua orang.
Aku merasa seluruh tubuhnya sedang berkata, aku mencintai musik.
"Keren... keren banget, Classy-chan!"
Mendengar pujianku, dia tersenyum malu-malu.
"Itu hasil latihan setiap hari. Aku tidak punya kemampuan selain musik, jadi kalau tidak berlatih lebih keras dari orang lain, aku akan tertinggal. Kamu juga pasti cepat berkembang."
"Hmm... tapi rasanya aku nggak bakal bisa ngalahin kamu."
"Tidak perlu menang. Kita bukan sedang bertanding."
"Ya juga sih. Tapi aku tipe yang kuat di saat genting, lho. Bisa aja nanti aku malah menang."
"Aku tidak akan kalah."
Melihat Classy-chan yang penuh percaya diri seperti ini terasa menyenangkan.
Biasanya dia terlalu merendahkan diri.
Aku justru ingin dia lebih sering sesombong ini.
Apa aku harus bilang dia harus belajar dariku?
...Nggak juga sih.
"Kalau kemampuan musikmu sehebat ini... Classy-chan, soal nyanyi juga—"
――Dari satu kalimat itu, aku langsung sadar kalau aku telah salah bicara.
“...Hanayori-san. Sebenarnya, apa yang kamu tahu tentang diriku?”
Ahh... aku terlalu terburu-buru.
...Bukan, aku terlalu jauh mencampuri urusannya.
Classy-chan yang tadi tersenyum cerah sudah tidak ada lagi.
Di hadapanku kini hanya ada Classy-chan dengan sedikit kemarahan dan ketakutan di wajahnya.
Aku tidak bisa mengatakan apa pun.
Karena aku tahu yang salah adalah diriku.
Melihat aku terus diam, Classy-chan akhirnya kehilangan kesabaran. Dengan gerakan pelan, dia merapikan barang-barangnya lalu berdiri dari kursi.
“Hari ini menyenangkan. ――Tapi, jangan ikut campur dalam urusanku. ...Mulai sekarang, mari kita berhubungan baik sebagai sesama Vtuber saja.”
“――T-tunggu, Classy-cha...”
Ucapan untuk menghentikannya terputus oleh pintu yang tertutup keras di depanku.
Itu jelas penolakan.
Sebagai sesama Vtuber.
Artinya, dia tidak berniat menjalin hubungan lebih dari itu.
Di saat terakhir...
Tidak, sejak awal, akulah yang salah karena mencoba menggali masalah pribadinya.
Semua yang kulakukan ternyata tak lebih dari kepuasan diri sendiri.
“Aah, sial... hanya karena dia oshi-ku, hanya karena kami sama-sama VTuber, aku jadi berpikir bisa menyelesaikan semuanya... terlalu sombong ya...?”
Aku sampai begitu terguncang dan menyesal sampai gaya bicaraku semasa kehidupan sebelumnya keluar begitu saja.
Rasanya seperti identitas diriku yang tak tergoyahkan sedang runtuh.
Seolah aku hampir kehilangan arti dari mimpi dan tujuan mutlak yang selama ini kupegang.
“...Jangan negatif, aku. Untuk sekarang pulang dulu dan tidur... malam ini aku janji kolaborasi sama Tsuna-chan, ya.”
Aku lupa.
Malam ini aku memang sudah berjanji akan kolaborasi dengan Tsuna-chan mulai larut malam.
Sejujurnya aku sedang tidak dalam suasana hati untuk itu, tapi aku tidak bisa merepotkannya demi urusanku sendiri. Lagi pula, pengumumannya juga sudah terlanjur disampaikan ke para penonton.
“Pulang saja.”
Sambil menertawakan diriku sendiri yang emosinya terjun bebas, aku menelan rasa frustrasi dan mulai berjalan pulang.
***
Side Classy
Aku tidak punya apa pun yang bisa kubanggakan.
Dari masa lalu sampai sekarang, semua yang terjadi hanyalah kepalsuan yang ditopang oleh bakat warisan dari kedua orang tuaku.
“Kenapa... aku cuma bisa bicara seperti itu ya...”
Hanayori-san itu murni dan lurus sampai menyakitkan hati, juga baik hati sampai terasa menusuk.
Aku tahu satu hal pasti: itu bukan akting.
Hanayori-san yang tersenyum sambil menarik tanganku, Hanayori-san yang berkata “panas panas” sambil memakan gratin.
Semua itu adalah identitas dirinya.
Hal yang hanya dia miliki, dan hanya dia yang bisa lakukan.
Begitu mendengar soal bernyanyi, tubuhku langsung menegang.
Saat Hanayori-san mengajakku ke karaoke, napasku sampai nyaris tak terkendali, hampir saja aku memperlihatkan sisi memalukanku.
Karena Hanayori-san orang yang sangat memperhatikan orang lain, dia pasti sadar ada yang aneh denganku.
“Supaya aku... tetap menjadi diriku sendiri...”
Suara lirih yang keluar dariku menghilang ke ruang kosong.
Sepertinya pembuktian jati diriku tidak akan berjalan mulus.
***
Dulu aku pikir aku bahagia.
Aku lahir di keluarga kaya.
Ayahku seorang komponis jenius sekaligus pemain orkestra jenius dari Skotlandia.
Ibuku seorang penyanyi jenius sekaligus aktris jenius.
Singkatnya, aku termasuk golongan anak generasi kedua.
Sejak kecil aku tumbuh tanpa kekurangan, dan saat berusia tiga tahun aku sudah menjalani banyak syuting sebagai artis cilik.
Di lubuk hati kecilku, aku ingin memenuhi harapan kedua orang tuaku.
Tapi yang paling utama, aku hanya ingin punya lebih banyak waktu bersama mereka yang selalu sibuk.
Hari-hariku berjalan mulus.
Aku juga sering tampil di acara varietas.
Dipuja, dipuji, diangkat tinggi-tinggi... sampai aku sempat salah paham dan merasa dunia berputar mengelilingiku.
...Namun seiring bertambah usia, lapisan emas palsuku mulai terkelupas.
Aku jatuh ke hari-hari berkarat yang tak bisa dikembalikan lagi.
Saat berusia delapan tahun, pekerjaanku habis.
Katanya, masa berlaku “anak generasi kedua” sudah habis.
Artis cilik yang tak bisa menunjukkan kemampuan dalam waktu terbatas akan segera dibuang dan menghilang.
Aku pikir aku punya bakat.
Ya... ternyata itu cuma salah paham.
Semuanya setengah-setengah, serba bisa tapi tak unggul.
Kalau kekuatanku adalah tak ada bidang yang buruk, maka kelemahanku adalah tak ada bidang yang benar-benar menonjol.
Selalu ada orang yang lebih hebat.
“Seperti dugaan, anaknya si anu.”
“Kalau anak si anu, harusnya bisa segini.”
“Jangan nodai nama si anu.”
Sering ada cerita seperti itu di manga, kan?
Anak malang yang selalu dibandingkan dengan orang tuanya yang berbakat, lalu kehilangan jati diri.
Nama kedua orang tuaku yang selalu menempel berubah menjadi rantai berat yang mengikatku.
Suatu hari, aku mendapat kesempatan tampil di acara musik.
Aku pikir itu kesempatan terakhirku.
Kalau berhasil di sana, aku bisa diakui oleh kedua orang tuaku.
Padahal mereka bahkan tak menganggapku bagian penting dari hidup mereka.
Mereka berhenti pulang ke rumah dan memakai kesibukan sebagai alasan pembenar.
Aku kesepian.
Aku kesal.
Dan di acara musik itu—
—aku mengetahui batas kemampuanku sendiri.
“~~♪”
—Tak seorang pun bertepuk tangan.
Semua orang hanya terpaku.
Sesaat kemudian, produser acara menatapku dengan wajah sangat pahit.
Melihat ekspresi itu, aku sadar aku gagal.
Aku lari dari sana.
Menahan air mata dan isak tangis sambil melarikan diri.
Sebagai seorang talenta, itu mungkin hal yang sama sekali tak boleh dilakukan.
Tapi bagi diriku yang baru berusia delapan tahun, semuanya terlalu berat untuk ditanggung.
—Setelah itu, bagian penampilanku dipotong dari siaran.
Aku mengurung diri, lalu pensiun begitu saja.
Aku membuang segalanya, mengkhianati harapan orang tuaku, dan mengecewakan penggemar yang mendukungku.
...Bahkan aku tidak tahu apakah benar ada penggemar yang mendukungku.
Setelah itu, setiap mendengar lagu aku akan mengalami hiperventilasi.
Bertahun-tahun berlalu, dan aku mulai baik-baik saja jika hanya mendengar orang lain bernyanyi.
Tapi kalau aku sendiri yang bernyanyi, tentu mustahil.
Bahkan hanya disinggung agar aku bernyanyi saja sudah membuatku mual.
Itulah alasan kenapa aku tidak bisa bernyanyi.
***
“Tak peduli bagaimana aku menjelaskan atau pilihan apa yang kuambil, semuanya cuma terdengar seperti alasan. Akulah yang menepis tangan Hanayori-san saat dia mengulurkannya.”
Aku keras kepala dan tidak punya kepercayaan diri.
Bahkan lebih dari itu, waktuku berhenti sejak usia delapan tahun.
Aku terus memainkan alat musik karena tak bisa sepenuhnya memutus hubungan dengan orang tuaku.
Tapi pada akhirnya, aku tak pernah bisa bangga akan hal itu.
Karena kedua orang tuaku selalu merupakan versi diriku yang jauh lebih unggul.
“Aku pikir kalau menjadi VTuber dan membuang diriku yang dulu, aku bisa membuktikan keberadaan diriku sendiri... ternyata tidak.”
Pada akhirnya aku tidak berubah sama sekali.
Egois, manja, dan merepotkan Hanayori-san maupun Tsunamayo-san.
Aku sendiri yang menolak tangan Hanayori-san, orang pertama yang benar-benar bisa kupercaya dengan tulus.
“...Dengan wajah seperti apa aku harus menemuinya lagi... tidak, mungkin aku bahkan tak punya hak untuk menemuinya.”
Dia memang pandai memikat orang.
Bukan cuma karena wajah cantiknya, tapi juga cara bicaranya, kepribadiannya yang terpancar alami.
Konsistensi hatinya dan kebaikan tulusnya membuat kewaspadaan orang turun satu, bahkan dua tingkat.
Saat mengingat hangatnya tangan yang dulu kugenggam dengannya, aku mengipasi wajahku yang memanas.
“Kalau ada yang akan masuk ke dalam diriku... kalau ada yang akan membongkarku... aku ingin itu adalah dirimu.”
Kalau saja dia mau sekali lagi mengulurkan tangan padaku.
Mungkin... kali ini aku bisa menjadi lebih jujur.



Posting Komentar