“...Aku ini sebenarnya sedang ngapain, sih...”
Suara kereta bergema secara teratur. Aku menyandarkan tubuh di kursi panjang, menyilangkan tangan, lalu mendongakkan dagu sambil menempelkan kepala ke jendela yang dingin. Pemandangan yang mengalir di luar terlihat monoton dan membosankan tanpa akhir.
Untuk menjaga ketenangan pikiranku, aku menatap kosong ke udara dan menghela napas.
Di iklan yang tergantung di langit-langit tertulis, “Pendaftaran sesi penjelasan sekolah sedang dibuka!”
Padahal aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan ujian masuk universitas, tapi entah kenapa aku tetap bergumam dalam hati, “Semangat ya.”
—Pelarian dari kenyataan ini sudah keterlaluan.
“Ugh... bukan begitu. Aku ini bukan selingkuh...!”
Tanpa sadar aku mengatakannya keras-keras.
Belakangan ini, tatapan Satsuki dan yang lainnya terasa makin tajam.
Atau lebih tepatnya—aku benar-benar dicurigai.
—Disangka selingkuh.
Kecurigaan itu menyebar ke seluruh rumah. Dan yang lebih parah, tingkah keempatnya makin aneh dari hari ke hari.
Reine yang tiba-tiba bilang ingin jadi idol sekarang terus berlatih senyum di depan cermin di kamarnya, mencari-cari kostum lucu di Amazon, lalu menunjukkannya padaku sambil bertanya, “Menurutmu ini cocok?”
Kamarnya sudah seperti ruang ganti artis panggung.
Satsuki mulai memilih pakaian yang semakin menggoda—memperlihatkan bahu, punggung, memakai riasan lebih tebal, benar-benar seperti wanita dewasa.
Gerakan dan senyumnya entah kenapa mengingatkanku pada ibu Reine, Nona Hisui... jujur saja, itu tidak baik untuk jantungku.
Shino... menyatakan akan menjadi biksu.
...Aku benar-benar tidak mengerti.
Sambil bilang ingin “memutus nafsu duniawi”, dia justru menyimpulkan bahwa “kebahagiaan adalah ajaran tertinggi Buddha”, lalu malah menguras tenagaku habis-habisan.
Serius, ini latihan macam apa sebenarnya?
Dan yang paling menakutkan adalah Shuna.
Dia—yang biasanya kecanduan gacha dan judi—sekarang malah berhenti semuanya dan mulai belajar untuk ujian pegawai negeri.
Saat kutanya alasannya, dia cuma bilang,
“Sekarang tren itu hidup sederhana dan rendah hati~”
dan tidak menjelaskan apa-apa lagi.
...Dibanding itu, mendengar meteor akan jatuh malah terasa lebih masuk akal.
“Aku tahu kok...”
Penyebab semua keanehan ini... adalah aku.
Lebih tepatnya, karena aku bersama Hibise.
Mungkin semuanya sudah ketahuan.
Kalau begitu, wajar saja aku dicurigai selingkuh.
Tapi kali ini, ada alasan yang tidak bisa kujelaskan.
Seberapa pun mereka mencurigai, seberapa pun mereka salah paham—
aku tidak boleh melibatkan mereka.
Karena ini semua... tentang 【LoD】.
“Kenapa wajahnya murung begitu, Senpai~ Mau makan Pocky?”
Tiba-tiba aku ditarik kembali ke kenyataan.
Di sebelahku, Hibise menatapku dengan mata berbinar, sambil menggigit Pocky.
...Eh, dekat banget.
Aku tanpa sadar menghela napas.
“...Ini di dalam kereta, lho.”
“Kalau banyak orang, aku juga tidak akan begini kok. Sekarang kan sepi~”
Memang, gerbong ini kosong. Hanya pemandangan yang terus mengalir di luar.
...Tapi tetap saja, itu bukan alasan untuk mendekat sambil menggigit Pocky.
“Hmm...”
Hibise mendorong ujung Pocky yang tidak ada cokelatnya ke arahku.
“Hmm~!”
Dia mengayunkannya dengan penuh semangat. Matanya berkilau, pipinya sedikit memerah, dan tatapannya lurus menembus mataku.
—Ah... jadi begitu.
Aku mengambil batang Pocky itu, lalu mematahkannya di tengah.
“Terima kasih.”
Langsung kumakan. Rasa manis cokelat menyebar di mulutku, seolah mengisi ulang otakku. Perasaan murungku langsung hilang.
Gula memang luar biasa.
“E-eh, eh!? Apa yang barusan Senpai lakukan!?”
Hibise di sebelahku langsung membeku, wajahnya merah padam. Matanya berkedip-kedip, mulutnya membuka dan menutup.
Ikan mas, ya?
“Memangnya tidak boleh dimakan?”
“Boleh sih... tapi ada tata caranya, ritualnya, template-nya gitu...”
Suaranya makin lama makin pelan. Dia memainkan poni rambutnya, wajahnya merah seperti apel.
Kenapa sih sampai segitunya malu...
“Sudah kubilang sebelumnya, jangan sembarangan melakukan hal seperti itu. Nanti dikira main Pocky Game.”
“...Akan kuperhatikan~”
Aku menegurnya sambil mengangkat bahu, tapi jelas dia tidak benar-benar kapok.
Hibise memang aneh soal jarak.
Dia sering memegang bahuku, mendekat sampai hampir bergesekan pipi.
Kalau bukan aku yang jadi lawannya, pasti sudah banyak yang salah paham.
Padahal wajahnya juga cantik (sayangnya), kalau tersenyum kelihatan imut tanpa penjagaan (sayangnya), dan kalau dia melakukan kontak fisik seperti itu, pasti banyak cowok yang langsung baper (sayangnya).
Tapi dia sendiri sama sekali tidak sadar.
Benar-benar “sayang sekali”.
“Entah kenapa, aku merasa barusan direndahkan ya?”
“Perasaanmu saja.”
Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan.
“Selama ada Satsuki dan yang lain, aku tidak akan salah paham karena godaanmu kok. Sayang sekali ya.”
“...Aku jadi kesal nih. Boleh aku serius sedikit?”
Hibise menatapku dengan urat di pelipisnya terlihat.
“—Setidaknya kamu harus tahu satu hal ini.”
“Hah?”
Aku tersenyum pahit.
“Kalau aku sampai kalah oleh godaanmu—aku bakal ‘disayang berlebihan’ oleh Satsuki dan yang lain selama seminggu penuh.”
“...Oh iya ya. Maaf... hiks.”
“Kamu bilang apa?”
“Tidak bilang apa-apa!”
Dia menggembungkan pipinya, lalu memakai headphone.
Rambut emasnya bergoyang pelan mengikuti getaran kereta.
Hibise itu orang baik. Selama ini aku sudah cukup lama bersamanya untuk tahu itu.
Dia mau mendengarkan keluh kesahku tentang kehidupan harem yang ribet ini, tanpa mengeluh, tanpa menertawakan.
Dia hanya diam di sampingku, menerima semuanya.
Entah dia merasa kasihan atau apa, tapi dia selalu mendengarkan dengan wajah serius.
“Hmm?”
Getaran terasa di dalam kereta. Suara rem melengking, tubuh kereta berguncang besar.
Lalu berhenti.
Udara panas langsung masuk.
“Sudah sampai.”
“Iya~”
Begitu turun, suasana antara pintu timur dan barat stasiun terasa sangat berbeda. Katanya, harga sewa pun bisa beda sampai tiga kali lipat.
Katanya dibangun meniru Stasiun Tokyo, tapi entah kenapa rasanya biasa saja.
Dinding bata yang terkena sinar matahari memancarkan panas.
“Ah~ sudah lama ya~”
Hibise mengangkat tangan ke belakang kepala, menatap langit. Rambut emasnya yang basah oleh keringat menempel di lehernya, berkilau terkena cahaya.
Saat melewati jalan depan stasiun, pantulan panas dari aspal terasa semakin menyengat.
Lonceng angin di pintu masuk pertokoan berayun lemah.
“Lumayan banyak berubah ya.”
“Serius? Sudah dua tahun lebih tidak ke sini, tapi rasanya tidak banyak berubah.”
“Eh~ masa sih~?”
Dia melihat sekeliling. Aku mencoba menimpali.
“Mungkin ingatanku saja yang salah.”
“Sebenarnya aku ke sini bulan lalu sih.”
Aku langsung menarik pita di rambutnya.
“Balikin perhatian baikku.”
“Sakit sakit sakit! Jangan tarik pita! Itu cuma bercanda! Aku cuma mau mencairkan suasana karena Senpai kelihatan tegang!”
Aku menghela napas.
Tak lama kemudian, kami sampai di sebuah persimpangan yang terasa familiar.
Aspal terasa panas, udara bergetar karena gelombang panas.
“...Kita sudah sampai ya.”
“Iya...”
Di depan kami berdiri sebuah sekolah dengan megah.
“Tidak menyangka akan kembali ke sini...”
Jalanan sudah diperbaiki. Tidak ada bekas darah, tidak ada jejak ban terbakar.
Tempat kami berdiri ini—
adalah akhir dari 【LoD】.
Tempat di mana aku—Iriya Satoshi—dan para gadis 【Empat Penjuru】 seharusnya berakhir.
“Merasa nostalgia?”
Hibise menatap wajahku dari dekat.
“Sedikit...”
Sebagian besar kenangan di sini justru ingin kulupakan.
Rasa takut mencatat hari kematian di buku harian.
Rasa hampa saat tahu apa pun yang kulakukan sia-sia.
Rasa sakit terbakar... lalu tenggelam dalam keheningan.
Tapi tetap saja—
aku berhasil mengubah dunia.
Aku berhasil menyelamatkan mereka.
Itu saja sudah cukup.
...Walaupun aku sendiri ikut selamat.
“...Jadi di sinilah akhir rute ‘bad end total’ dari 【LoD】.”
Hibise melihat ponselnya, lalu menutupnya.
“Terima kasih sudah ikut.”
Dia menundukkan kepala.
“Tidak perlu. Ini bagian dari kesepakatan.”
Aku menjawab singkat. Hibise tersenyum lembut.
Tidak perlu kata-kata lagi.
“Ayo kita pergi!”
“Ya...”
Setiap langkah di atas aspal terasa panas di telapak kaki.
Suara lonceng angin kembali terdengar samar dari kejauhan.
◇
Suara hujan yang mengetuk jendela semakin lama semakin deras. Pemandangan di luar tampak kabur berwarna abu-abu, seolah seluruh dunia tenggelam dalam lapisan air yang tipis.
Di balik kaca, terlihat anak-anak SD dengan topi sekolah berlarian sambil memainkan “perang-perangan” menggunakan payung. Seolah-olah suara benturan rangka payung yang kering itu bisa terdengar sampai ke sini. Meski basah kuyup seperti itu, mereka tetap bisa tertawa—mungkin itu adalah hak istimewa anak-anak.
Berbanding terbalik dengan itu, suasana di dalam kafe terasa hangat dan tenang. Suara biji kopi yang digiling, aroma pahit kopi yang menguar. Permukaan cairan hitam di dalam gelasku bergoyang pelan, memantulkan cahaya lampu dan berkilau sesaat.
“──”
“Hmm, fufun~♪”
Harusora Hibise bersenandung riang, sambil menuangkan sirup gula cair ke dalam gelasnya—bukan satu atau dua, tapi berkali-kali tanpa ragu. Setiap kali dia mengaduk dengan sedotan, es di dalam gelas berbunyi pelan.
Aku menyesap sedikit, perlahan.
Saat itu juga, bahuku terasa rileks, dan aku menghela napas panjang.
“Kelihatannya wajahmu bilang ‘cepat lanjut ceritanya’ ya~”
“Yah… tidak bisa dibilang salah.”
Kalau cuma menyebut nama Sano Yuuto, aku tidak akan terlalu terkejut. Tapi kalimat berikutnya jelas tidak bisa kuterima.
“…Apa maksudnya ‘heroine kelima di 【LoD】’ itu?”
Hibise mengabaikan pertanyaanku, lalu mengambil sendok dan menyendok coffee jelly edisi terbatas di piring di sebelahnya.
“Hmm~ enak!”
Dia bergumam dengan suara yang seolah meleleh. Sendok itu masuk ke mulutnya, dan matanya sedikit menyipit.
Gerakannya itu benar-benar tampak polos, seakan tidak ada hubungannya sama sekali dengan percakapan ini.
Tak lama kemudian, dia menyeka mulutnya dengan tisu dan tersenyum.
“Secara harfiah, kok~ Aku adalah heroine kelima di 【LoD】—Harusora Hibise.”
Saat kata-kata itu jatuh di tengah suara hujan, rasanya suasana di dalam kafe menjadi sedikit lebih berat.
“…Tidak mungkin ada orang seperti itu.”
Kata-kataku keluar secara refleks, bahkan lebih kasar dari yang kupikirkan. Dadaku terasa panas, dan aku tidak bisa menghentikan diri.
“【LoD】 itu cuma galge biasa di mana Sano Yuuto menaklukkan 【Empat Wanita Cantik】. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada heroine kelima.”
Tanganku yang berada di atas meja tanpa sadar mengencang. Es di dalam gelas berbunyi pelan.
Tidak ada orang yang memainkan 【LoD】 sedalam aku.
Semua CG sudah kukumpulkan. Semua ilustrasi, musik, dialog—semuanya sudah kuhafal.
Aku sudah menghabiskan ratusan jam di dunia itu.
Dan sekarang kau bilang aku melewatkan heroine kelima?
Mustahil.
Saat aku menatap tajam ke arah Hibise, dia menerima tatapanku tanpa menghindar, hanya sedikit mengernyitkan alis.
“Ya mau bagaimana lagi, saya sendiri juga cuma bisa menjelaskannya seperti itu~”
Nada suaranya tenang. Tidak ada kesan berpura-pura atau panik.
Hanya seperti sedang menyampaikan fakta.
Hibise mengangkat sendoknya pelan, lalu mengarahkannya ke arahku seperti guru yang sedang mengajar.
“Lagipula, senpai sudah tahu kalau kalian itu karakter dalam game 【LoD】, kan? Bukankah itu sudah jadi bukti?”
“Itu…”
Napas tercekat. Suara petir di luar membuat kaca bergetar, dan tetesan air di meja ikut bergetar kecil.
Hanya aku, Satsuki, Reine, Shuna, dan Shino yang tahu bahwa dunia ini adalah dunia game.
Dan sekarang, ada pihak ketiga yang mengatakannya begitu saja tanpa ragu.
Sensasi dingin menjalar di punggungku. Pandanganku sedikit bergetar.
“Aku ini heroine yang kalah, sih~”
Hibise berkata santai.
“Waktu itu, aku tidak pernah punya perasaan cinta pada Sano Yuuto.”
Suaranya lembut, tapi entah kenapa terasa membekas di telinga.
Dia menyendok jelly lagi, lalu meminumnya bersama kopi.
“──【Empat Wanita Cantik】. Saionji Satsuki, Kitagawa Reine, Nanjou Shuna, Shinonome Shino—mereka berempat selalu jadi pusat perhatian. Kami semua mengagumi mereka.”
Dia tersenyum nostalgis.
“Dan Sano Yuuto, yang mendapatkan semuanya. Hebat sekali ya dia~”
“Yah…”
Aku terdiam.
Seolah-olah kenangan pahit masa lalu diputar ulang secara paksa di kepalaku.
Semua itu telah dirampas oleh pria itu.
“Tapi yang paling mengejutkan adalah, posisi Sano Yuuto diambil alih oleh Satoshi-senpai. Sebenarnya apa yang terjadi?”
“A-ah… itu… banyak hal…”
“Hmm~”
Dia menatapku seperti sedang mengorek sesuatu.
“Yah, yang penting usaha senpai membuahkan hasil. Baguslah.”
“? Makasih.”
“A-sama~”
Cara bicaranya terasa sedikit aneh, tapi tertutup oleh senyumnya.
Aku meneguk kopi es. Tanpa gula, tanpa sirup—rasanya pahit, tapi cukup untuk mendinginkan kepalaku yang panas.
“Fuu…”
Sambil menatap gelas, aku berusaha mengingat tujuan pembicaraan ini—kenapa aku ada di sini bersama Hibise.
“…Jadi, maksudmu ingin tahu tentang Sano itu apa?”
Aku langsung masuk ke inti.
“Kalau memang kamu heroine kelima, wajar kalau kamu suka Sano, tapi—”
“Tidak mungkin! Mana mungkin saya suka pria seperti itu! Tidak mungkin! Saya bahkan tidak mengerti kenapa Satsuki-senpai dan yang lain bisa menyukainya!”
“…Sebagai heroine, itu gimana ya…”
Hibise benar-benar terlihat jijik, mengibaskan kedua tangannya dengan kuat. Permukaan kopi sedikit bergetar.
“Waktu SMA, hubungan saya dengan Sano cuma sebatas kadang ngobrol.”
Dia berkata santai, lalu mengangkat bahu.
“Terus kami ketemu lagi waktu open campus, ngobrol banyak hal, lalu…”
Dia berhenti sejenak.
“…dia mulai menguntit saya.”
“Apa?”
Refleks aku bersuara.
Hibise langsung mengembungkan pipinya kesal.
“Justru saya yang mau tanya! Itu lebih menghancurkan mental daripada ujian masuk, tahu!?”
Suara benturan keras terdengar di dalam kafe.
“Setiap hari! Setiap hari! Dia kirim puisi menjijikkan dan curhat tentang dirinya sendiri! Padahal saya sama sekali tidak tertarik! Bahkan untuk memblokirnya saja saya takut! Kalau dia jadi marah dan melakukan sesuatu bagaimana!?”
“Tenang dulu—”
“Ah, maaf…”
Dia seperti sadar diri, lalu langsung melemas dan duduk kembali.
…Serius, apa yang dilakukan orang itu?
“Yah, berkat itu banyak hal terjadi… tapi itu tidak penting.”
Hibise merapikan sikapnya. Suasana langsung berubah.
Aku juga tanpa sadar ikut menegakkan punggung.
“Sekarang masuk ke inti.”
Tatapannya menembus lurus ke arahku.
“Sano Yuuto sudah keluar dari universitas, kan?”
“Eh? Serius?”
Aku benar-benar kaget.
“Kita satu jurusan loh… setidaknya punya sedikit perhatian, dong…”
“Tidak bisa bantah…”
Memang benar, aku tidak melihatnya sejak tahun kedua. Aku terlalu sibuk menikmati waktu bersama Satsuki dan yang lain.
Terakhir kali bicara dengannya itu waktu tahun pertama.
Dia selalu sendirian di kelas. Duduk di dekat jendela, diam mengikuti kuliah.
“──Yah, itu cuma di permukaan saja.”
“Di permukaan?”
“Iya.”
Lampu di dalam kafe sempat berkelip. Pantulan cahaya di gelas membuat wajah Hibise terlihat pucat.
“──Dia hilang.”
Petir menyambar, lampu padam sesaat, lalu kembali menyala.
“Hah? Hilang?”
“Iya.”
Aku benar-benar tidak bisa mengikuti.
“Harusnya Satsuki-senpai tahu, dia kan teman masa kecil Sano. Tapi sepertinya tidak memberitahumu ya~”
“Yah… kalau kamu tidak bilang, aku bahkan tidak akan ingat dia.”
“Ya, sesuai sifat Satsuki-senpai sih.”
“…Benar juga.”
Cara bicaranya seolah dia sudah mengenal Satsuki sejak lama terasa sedikit aneh.
“Saya sebenarnya ingin menanyakan sesuatu pada Sano, tapi LINE tidak dibalas, lokasinya tidak diketahui… jujur saja, saya kesulitan. Padahal biasanya dia menghubungi terus saat tidak dibutuhkan, tapi saat penting malah tidak ada. Hah…”
Nada bicaranya ringan, tapi helaan napas dan decakan lidahnya menunjukkan kekesalan yang nyata.
“…Aku ingin membantu, tapi yang kutahu tentang Sano cuma dari dalam 【LoD】. Kehidupan dia setelah kuliah, aku tidak tahu apa-apa…”
Saat itu, Hibise perlahan mengambil ponselnya.
Dia meletakkannya di atas meja, memutar layar, lalu menggesernya ke arahku.
“Sebenarnya ini bukan sesuatu yang pantas saya minta pada senpai… tapi situasinya tidak memungkinkan lagi…”
Itu—video.
“…Ini—hah?”
Aku dan keempat gadis itu… saling berpelukan, terengah-engah, dalam keadaan berantakan.
Suara napas dan gesekan kulit terdengar dari speaker ponsel.
“…Ini kamar aku…?”
Jantungku berdetak cepat.
Loteng satu. Kamar satu. Kamar mandi satu.
Tiga sudut berbeda.
Aku menggeser layar dengan panik.
Hari demi hari.
Hari demi hari.
Semua.
Semua kehidupan kami terekam di sana.
“Oi… ini apa…?”
Tanganku gemetar. Hampir saja ponselnya jatuh.
Di dalam kepalaku, rasanya seperti darah mendidih.
“Tunggu dulu!”
Hibise buru-buru mendekat.
“Bukan saya yang memasang kamera! Itu Sano! Sano Yuuto!”
“Hah?”
Suaraku keluar kaku, lebih karena tidak bisa menerima daripada marah.
“Ingat saya bilang dia sering kirim pesan menjijikkan? Video ini juga dikirim bersamaan. Katanya karena kita ‘rekan’, jadi dia berbagi rekaman…”
“Rekan…?”
“Saya tidak tahu apa-apa! Saya tidak tertarik sama sekali! Sudah saya tolak, tapi dia tetap kirim lewat screen share!”
“Brengsek…!”
Aku hampir saja memukul meja, tapi menahan diri dan menggenggam erat tinjuku. Kuku-kuku menancap ke telapak tangan, menimbulkan rasa nyeri. Kukira dia sudah jadi lebih tenang, tapi ternyata diam-diam melakukan hal sekotor ini… membuatku muak.
Kalau sampai ini bocor ke internet──
Dadaku terasa goyah, perutku seakan terpelintir.
“Tolong, tenang dulu.”
Suara ringan Hibise justru terasa menyebalkan di telinga.
“Mana mungkin aku bisa tenang! Kamarku disadap diam-diam seperti ini!”
Suaraku sampai melengking.
Tanpa sadar, pandangan orang-orang di sekitar langsung tertuju ke arahku.
Aku menahan napas, lalu buru-buru menutup mulut. Yang terdengar hanya detak jantungku sendiri, anehnya begitu keras.
Aku menghela napas, lalu perlahan duduk kembali di kursi.
Telapak tanganku basah oleh keringat, tapi jari-jariku masih gemetar karena amarah.
“Aku paham perasaanmu. Kalau nanti bisa menangkapnya, langsung saja laporkan ke polisi.”
“──Tapi, tolong dengarkan dulu sampai akhir.”
“…Apa lagi?”
Tenggorokanku terasa seperti terbakar.
Untuk menahan dorongan berteriak, aku mencubit pahaku kuat-kuat. Kuku menekan kulit, menimbulkan rasa nyeri tumpul. Mengandalkan rasa sakit itu untuk menenangkan diri, aku mengambil gelas dan meneguk kopi.
Pahit.
Rasanya sama seperti tadi, tapi sekarang pahitnya menusuk sampai ke dalam perut.
Melihatku seperti itu, ekspresi Hibise tetap tidak berubah.
“Tolong lihat hari terakhirnya.”
Tanpa berkata apa-apa, ibu jariku bergerak sendiri menggulir layar.
Hari terakhir.
Di pojok kanan atas tertulis tanggal──setahun setelah upacara kelulusan SMA.
Ngomong-ngomong──
Hari itu adalah hari peringatan saat Satsuki diam-diam mendahului yang lain dan pergi bersamaku. Dia menggandeng lenganku sambil tersenyum malu-malu.
Dan malam itu, tiga orang lainnya sedikit cemberut.
Kenangan yang hangat… dan terasa begitu nostalgia.
Yang terlihat di kamera adalah kamarku.
Reine, Shuna, dan Shino yang tertinggal di sana berbincang santai.
『Haa… Satsuki-san memang selalu cepat bertindak dalam hal seperti ini ya』
Shino berkata pelan dengan senyum pahit. Nada bicaranya sopan, tapi terselip rasa lelah.
『Meninggalkan persiapan pada kita lalu pergi begitu saja… benar-benar ya』
Reine menyilangkan kaki dan menghela napas.
『Yah, memang seperti Satsuki-chan sih~』
Nada santai Shuna terdengar justru sangat ceria.
『Tapi, kita tetap harus merayakan dengan baik untuk Satoshi-san』
Shino menambahkan dengan tenang.
『Untuk sekarang, kita belanja dulu. Nanti Satsuki-san harus kita beri “pelajaran” yang layak』
Shino berdiri dan merapikan ujung roknya.
Di saat berikutnya, Reine tersenyum nakal.
『Kira-kira hukuman apa yang pantas untuk yang curi start, ya?』
『Hehe~ topik rapat 【Empat Serangkai】 berikutnya itu ya~』
Shuna berkata riang, dan mereka bertiga saling berpandangan lalu tertawa.
Reine dan yang lain berjalan bersama menuju pintu masuk.
Melihat itu, aku hendak mempercepat video sampai mereka kembali, lalu mengulurkan tangan ke layar.
Saat itu juga──
『──Ah, iya. Hampir lupa』
Nada suara Reine tiba-tiba mengubah suasana.
Padahal terdengar santai, tapi begitu masuk ke telinga, hawa dingin menjalar di punggungku.
Di layar, langkah ketiganya berhenti bersamaan.
Sekejap kemudian, mereka menghilang dari kamar──dan muncul di tempat berbeda.
Shino muncul di kamar mandi.
Shuna berhenti menutup tirai di bagian dalam kamar, lalu menoleh ke arah kamera.
Reine, setelah menaiki tangga ke loteng, perlahan hanya mengarahkan wajahnya ke kamera.
──Mata kami bertemu.
Shino. Shuna. Reine.
Ketiganya tidak berkedip sedikit pun.
Hanya menatap lurus ke arah layar… dengan mata dingin.
Apa ini…
…Tatapan itu, sama seperti saat Satsuki melukai Sano di sekolah hari itu──
『──Lenyaplah, sampah』
Ucapan hinaan yang sempurna, angkuh, dan tajam.
Dingin, seperti bilah pisau yang diasah, terbang dalam bentuk kata-kata.
『Akhirnya… hari ini tiba』
Nada suara lembut dan sopan.
Tapi di baliknya, penuh dengan penghinaan yang yakin.
『──Nanti ceritakan kesanmu di akhir ya~』
Senyum yang muncul dari kegelapan itu… seperti iblis.
Reine mengulurkan tangan ke dalam loteng.
Shuna merunduk di balik sofa.
Shino menyelipkan tangannya ke belakang cermin.
Krek…!
Suara gangguan kering terdengar.
Gambar bergetar sesaat.
Ujung jari mereka mengabur, rambut mulai dipenuhi noise, garis senyum mereka terputus-putus.
Cahaya pecah, lalu kegelapan menelan semuanya.
Di tengah layar monitor, huruf putih perlahan muncul.
──【RESET】
“...Apa ini...?”
Tenggorokanku terasa kering. Tangan ini tidak berhenti gemetar.
Kami direkam secara diam-diam oleh kamera pengawas—itu saja sudah cukup membuat mual. Tapi rekaman terakhir itu...
Ketiganya tahu tentang keberadaan kamera tersebut.
Dan mereka menunjukkan niat membunuh kepada seseorang di balik layar.
Tidak perlu ditebak lagi siapa orang itu.
──Sano Yuuto.
Perutku terasa mengencang. Keringat dingin mengalir di punggung, membuat bajuku menempel.
“──Setelah video ini, Sano Yuuto dinyatakan hilang.”
Di kejauhan, terdengar bunyi sendok yang menyentuh cangkir. Musik latar di kafe terdengar anehnya begitu jelas di telinga.
Lalu aku diperlihatkan riwayat chat antara Hibise dan Sano.
Pesan dari Hibise sejak tanggal 14 Maret sama sekali tidak pernah dibaca.
“Aku akan bicara terus terang. Aku pikir keempat orang itu terlibat dalam hilangnya Sano Yuuto.”
“...!”
Aku menggigit bibir. Rasa darah terasa di mulut.
Aku ingin berteriak bahwa itu tidak mungkin.
Tapi kata-kata penyangkalan tidak bisa keluar.
Rekaman kamera itu. Tatapan ketiga orang itu. Keyakinan bahwa mereka tahu. Alasan mereka membiarkannya.
Semuanya terasa terhubung oleh satu benang yang sama.
Keringat dingin yang mengalir di leher perlahan turun ke punggung.
“…Kau mau aku melakukan apa?”
Suara yang akhirnya keluar terdengar serak.
“Aku ingin kamu membantu mencari Sano Yuuto.”
Nada suara Hibise tidak ragu sama sekali.
“Seperti yang tadi aku bilang, aku sadar bahwa aku ini heroine kelima. Tapi selama ini aku tidak pernah terlibat langsung dengan 【LoD】.”
Hibise menatapku lurus, lalu melanjutkan.
“Aku ingin tahu… dunia ini sebenarnya apa. Dan siapa sebenarnya Harusora Hibise ini──aku ingin memahaminya.”
Lalu dia tersenyum tipis ke arahku.
“Satoshi-senpai. Tujuan kita mungkin berbeda, tapi dalam hal harus menemukan Sano Yuuto… kepentingan kita seharusnya sama, bukan?”
Dia mengulurkan tangan kanannya.
“…Kau tidak ingin memukulnya setidaknya sekali?”
Lengan kananku yang sempat tidak bisa digerakkan karena kecelakaan, kini tanpa sadar kembali bertenaga.
“Kalau begitu──kita sepakat?”
“…Aku mengandalkanmu.”
“Iya.”
Aku membalas jabat tangannya.
──Hei… sebenarnya, apa yang kalian pikirkan…?
◇
“Menyerahkan ini pada Hibise ternyata kesalahan besar…!”
“Keji sekali cara bicaranya! Ini kan hari libur, wajar saja tidak ada siapa pun!”
“Walaupun begitu, masuk ke area sekolah tanpa izin itu jelas tidak masuk akal, tahu!”
Kami memang sudah sampai di almamater, tapi gerbangnya tertutup rapat.
Setelah dicek, ternyata hari ini hari libur. Jangankan kegiatan klub, bahkan guru pun tidak ada.
Area luas sekolah itu dikelilingi jaring pelindung berwarna hijau. Wajar saja—itu untuk melindungi murid dari bahaya luar.
──Kalau sampai ada penyusup seperti kami, ya repot.
“Sekolah kita juga ceroboh ya~. Sampai ada lubang seperti ini.”
Hibise menunjuk ke arah bawah jaring. Di sana ada lubang menganga. Rangka besinya sudah bengkok, dan ujung kawatnya berkarat. Ukurannya cukup untuk dilewati satu orang.
“…Jangan bilang, waktu kamu ke sini bulan lalu itu buat bikin lubang ini?”
“Sejahat itu saya juga tidak sampai melakukan kejahatan, kok. Lubang ini sudah ada sejak zaman kita masih siswa. Katanya ada anak-anak yang kabur waktu lari jarak jauh.”
Dia tertawa kecil. Di wajahnya tercampur rasa nostalgia dan sedikit kenakalan.
“Pas saya cek bulan lalu, masih ada. Untunglah.”
Nanti setelah selesai, mungkin harus dilaporkan sebagai alumni.
“Baiklah──ikuti saya ya, Holmes-kun.”
“Harusnya Watson, bukan Holmes.”
Walau begitu, pandanganku tetap mengikuti gerakan Hibise. Ia berjongkok di depan jaring, lalu membuka celahnya dengan tangan dan menyelinap masuk.
“Hmm… hop.”
Angin bertiup, pepohonan di sekitar berdesir.
──Ngomong-ngomong… kelihatan, lho.
Gaun off-shoulder merah yang ia kenakan berkibar pelan, memperlihatkan garis bahu dan punggungnya. Kain lembut itu memantulkan cahaya, menonjolkan kulitnya yang putih.
“Ah—”
Tanpa sadar aku bersuara. Angin kembali bertiup.
Ujung rok terangkat, memperlihatkan kakinya yang jenjang.
──Nah kan, benar saja. Kelihatan jelas—
“Berharap bisa lihat ya~?”
Hibise menoleh dengan senyum usil.
“Hah?”
Roknya kembali bergoyang, dan terlihat celana pendek hitam di dalamnya. Merah, hitam, dan kulit putihnya—kontras itu membekas di mataku.
“Sayang sekali! Ini namanya ‘skapan’, fashion yang pakai rok tapi ada celana di dalamnya. Kalau mau lihat yang lebih… ya tunggu jadi pacar dulu~”
“Cepat jalan.”
“Ah! Sakit! Jangan tendang pantat saya dong!”
Aku melepas sepatu dan mendorongnya dari belakang. Ia terhuyung, tapi berhasil masuk.
Aku menyusul, merunduk melewati bawah jaring. Lututku kena pasir, celana sedikit kotor. Setelah menepuk-nepuknya, aku mengangkat kepala.
Di sana terbentang lapangan sekolah yang sudah lama tak kulihat. Dalam keheningan itu, ada sesuatu yang mengusik di dalam dada.
Di belakang lapangan, terlihat pagar tinggi pelindung bola untuk klub bisbol. Di baliknya, lintasan atletik membentang melingkar. Garis putih dari kapur memantulkan cahaya sore.
Kami berjalan hati-hati, menghindari garis itu.
Pekerjaan seperti ini biasanya tugas anak kelas satu. Aku memang tidak ikut klub olahraga, tapi pernah beberapa kali melihat junior dimarahi karena garisnya tidak rapi.
“Sekolah tanpa satu orang pun ternyata enak juga ya~”
“…Agak seram sih.”
Suara Hibise terbawa angin. Biasanya ada guru berpatroli, tapi sekarang tidak ada siapa pun. Jendela gedung tertutup, memantulkan cahaya seperti cermin.
Angin menabrak dinding dan pagar, sesekali mengeluarkan suara seperti geraman rendah.
Di lapangan luas ini hanya ada kami berdua.
Rasanya seperti berada di dunia terpisah.
“Masuk ke gedungnya gimana?”
Masuk ke area saja sudah sulit, apalagi ke dalam bangunan.
“Pasti ada yang kebuka kok~”
Dia tersenyum sambil mengacungkan jempol.
Rencana setengah matang…
“Gedung sekolah itu luas, lho? Lupa menutup satu dua pintu itu hal biasa. Lagipula, yang di sini kan junior kita~”
“Itu juga benar… eh tunggu. Jangan seret aku juga.”
Aku tidak mau disamakan dengannya.
Kami memutari gedung. Pintu depan jelas terkunci, jadi kami mencari pintu belakang. Tanah beton terasa panas dari bawah sepatu.
Hibise menarik gagang pintu geser.
Pintu itu terbuka dengan sedikit bunyi berderit.
“Tada!”
Dia menoleh dengan wajah bangga.
“Ternyata banyak juga orang ceroboh selevel kamu ya… tahun ini pasti angka kelulusannya parah.”
“Maksudnya apa itu!?”
Aku menghela napas dan masuk ke dalam.
Di luar panas menyengat, tapi di dalam agak gelap dan lembap.
Suara luar meredup, digantikan gema langkah kaki kami di lorong.
Aku memutar keran. Air hangat keluar dengan suara logam. Aku minum sedikit. Tidak dingin, tapi entah kenapa terasa nostalgik.
Hibise juga mencuci tangan di sampingku, sambil tersenyum.
Di lorong, deretan loker berjajar. Di atasnya bertumpuk barang pribadi.
Baju olahraga terlipat, kotak bekal yang lupa dibawa pulang, botol minum setengah penuh, foto idol, majalah bintang Korea, edisi Jump dua minggu lalu… bahkan kotak figur.
“Tidak berubah ya…”
“Iya~”
Kami saling berpandangan dan tersenyum kecut.
“Coba masuk kelas yuk!”
“Eh, tunggu—”
Hibise langsung berjalan ke ujung lorong. Rambut emasnya bergoyang pelan di belakang.
Cahaya sore masuk dari jendela, bayangannya memanjang.
Aku mengikutinya masuk ke kelas.
Dia sudah duduk di kursi dekat jendela.
Dia membuka jendela sedikit, menopang dagu, dan memandang keluar.
Angin masuk, menggoyangkan tirai. Cahaya memantul di rambutnya.
Aku duduk di sebelahnya dan melihat sekeliling.
“Ruang kelas ternyata sekecil ini ya…”
“Itu tandanya kita sudah dewasa.”
“Benar juga.”
“Jangan-jangan Senpai mikir, ‘Hibise juga berkembang ya… hehe’? Dasar mesum!”
“Hah.”
“Eh!? Ditertawakan!?”
Aku mengabaikan candanya dan menyandarkan tubuh ke kursi.
“──Ngomong-ngomong, Senpai ingin kembali jadi anak SMA?”
Nada suaranya santai, tapi terasa seperti sedang menguji jawabanku.
“Tidak sama sekali. Soalnya Satsuki dan yang lain tidak ada.”
“Jangan pamer kemesraan juga dong…”
Hibise menunduk, menghela napas kecil.
Angin musim panas masuk dari jendela.
Aroma kayu tua, debu kapur di papan tulis, cahaya yang memutih di dinding luar—
Bukan sekadar nostalgia.
Seperti ada sesuatu yang hampir bisa kuingat.
Aku menarik napas.
──Sudah saatnya berhenti berpura-pura.
“…Hei, Hibise.”
“Ya?”
“──Kenapa kamu berpura-pura jadi ‘heroine kelima’ dan mendekatiku?”
Angin kencang masuk. Tirai berkibar keras, menghantam bingkai jendela.
“Keji sekali~. Aku memang heroine kelima, tahu?”
“Yang itu jelas tidak benar.”
“──”
Saat aku menegaskan, dia terdiam.
Dia memang tahu isi 【LoD】 sejak awal.
Sempurna.
Karena itu, aku sempat percaya bahwa heroine kelima benar-benar ada.
Tapi—
“──Di kehidupan sebelumnya, aku sudah memainkan 【LoD】 sampai bosan.”
Satu-satunya hal yang bisa kubanggakan.
CG, teks, percabangan ending, sampai perbedaan dialog kecil—
Aku mengulangnya berkali-kali sampai hafal.
“Awal 【LoD】—upacara masuk kalian—aku sudah melihatnya berkali-kali. Sampai hafal wajah NPC.”
“──”
Hibise tetap diam, menatapku tanpa ekspresi.
“Sudah cukup, kan?”
Aku melangkah mendekat.
“Harusora Hibise──cuma karakter NPC.”
Begitu aku mengatakannya, udara di kelas terasa mendingin.
Alasannya sederhana.
Debut di kampus.
Warna rambut, pakaian, aura—semuanya berubah drastis.
“…Seperti dugaan saya, ya, Senpai.”
Hibise menghela napas kecil, seolah menyerah.
Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya padaku.
Itu adalah CG pertama dari 【LoD】.
Dia memperbesar gambar itu.
Di sana ada seorang gadis berkacamata dengan rambut sedikit cokelat dikuncir dua.
Penampilannya biasa saja, tidak mencolok—tipikal gadis kutu buku.
…Perubahannya keterlaluan.
“Sejak kapan sadar?”
Nada suaranya santai, seperti obrolan biasa.
“Waktu ke acara handshake.”
“Cepat juga ya… harusnya bilang saja.”
Dia mengembungkan pipi, tampak tidak puas.
Aku justru ingin menghela napas.
“──Karena kamu menyembunyikan sesuatu.”
“Hah?”
Kalau dia cuma NPC, aku tidak akan sejauh ini.
Begitu tahu, seharusnya aku langsung menjauh.
“Tapi saat tahu kamu NPC, ada satu hal yang tidak bisa kuabaikan.”
Aku menatapnya lurus.
“Harusora Hibise itu karakter dalam 【LoD】… jadi kenapa kamu sadar kalau dunia ini adalah 【LoD】?”
Coba pikirkan.
Kalau suatu hari diberi tahu—
Dunia ini adalah game.
Kamu NPC. Kamu tokoh utama. Kamu heroine. Kamu hanya peran sampingan.
Apa bisa tetap tertawa?
Apa bisa menerima?
…Tidak mungkin.
Kalau benar percaya itu—
berarti akal sehat atau mentalnya sudah rusak.
Kalau sampai parah, orang seperti itu bisa saja dipaksa dirawat di rumah sakit jiwa.
Itulah reaksi yang normal.
Tidak ada yang aneh dengan itu.
Satsuki dan yang lain justru pengecualian dari pengecualian.
Karena aku—seorang reinkarnator—meninggalkan bom bernama 【Buku Harian】, mereka jadi mengetahui kebenaran dunia ini.
Tapi bagi orang yang tidak terlibat langsung, itu tidak lebih dari catatan pengamatan seorang penguntit yang egois.
Kalau yang membacanya orang lain, mungkin sekarang aku sudah diamankan dengan alasan yang berbeda.
Orang yang mungkin menyadari bahwa dunia ini adalah dunia game adalah──
“Senpai mengira aku juga reinkarnator?”
Suara Satsuki menyela dengan tenang.
Seolah-olah dia mengintip isi pikiranku dari dalam.
“Benar…”
Aku tidak berniat menyangkal atau mengelak.
──Tapi.
“Namun, ternyata bukan begitu…”
“Eh?”
Suara bingung yang singkat.
Saat aku bersandar dalam ke kursi, terdengar bunyi berderit.
Memang, sampai titik tertentu aku mengira Hibise adalah reinkarnator.
Dan bahkan sekarang pun, aku berharap itu benar.
Aku menundukkan pandangan dan memasukkan tangan ke dalam tas.
Ujung jariku meraba bagian dasar, menyentuh sesuatu yang keras.
Rasa bersudut. Tumpukan kertas. Berat yang familiar.
Bagian dalam dadaku terasa dingin.
──Saat Satsuki dan yang lain menembakku dengan pengakuan cinta, mungkin mereka juga merasakan hal seperti ini…
Aku menggenggamnya erat.
Lalu menarik benda itu keluar dari dalam tas.
Saat itu juga, mata Hibise membelalak lebar.
Mata birunya yang seperti langit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi kehilangan kata-kata.
“Itu…!”
Hibise tak mampu menyembunyikan emosinya.
Benda itu adalah──【Buku Harian】 miliknya.
“……Senpai, jahat juga ya.”
Hibise menghela napas kecil.
Tidak terdengar marah, juga tidak seperti menyalahkan.
Hanya… suara yang seolah sudah menyerah.
“Aku memang licik.”
“…Baru tahu.”
Dia tersenyum.
Namun senyum itu tampak lemah.
“…Sejak kapan?”
“Sejak ‘reinkarnasi’ itu.”
Saat Hibise meninggalkan tempat duduknya, aku menggeledah tasnya.
Selama ada kemungkinan bahaya mengarah ke Hibise dan yang lain, aku tidak bisa memilih cara.
Tapi… aku sebenarnya tidak ingin tahu kebenarannya.
“Begitu ya…”
Hibise bergumam lemah.
“Isinya──”
“…Tentu saja, aku membacanya.”
“Begitu ya… begitu…”
Suaranya semakin mengecil.
“…Jadi, Senpai sudah tahu ya.”
“…Iya.”
Satu-satunya cara bagi penghuni dunia ini untuk mengetahui bahwa dunia ini adalah 【LoD】 hanya satu.
Mendengarnya langsung dari aku—seorang reinkarnator.
Satsuki dan yang lain mengetahui rahasia itu karena membaca 【Buku Harianku】.
Kalau begitu, Hibise──?
Senyum sedih yang kadang ia tunjukkan.
Tatapan yang seolah memohon sesuatu.
Kenangan yang tadinya terpisah kini terhubung menjadi satu garis di kepalaku.
“──Hibise selalu berada di dekatku.”
Hibise tetap diam.
Seolah itu adalah jawaban yang benar.
Mungkin… aku terlalu sombong.
Mengira hanya aku yang mengetahui kebenaran.
Mengira aku sendirian yang menyelamatkan Satsuki dan yang lain, dan menghancurkan skenario 【LoD】.
Satsuki dan yang lain memang tahu tindakanku secara tidak langsung.
Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar mengetahui diriku saat itu.
Pikiran yang terlalu arogan.
“…Kenapa aku tidak menyadari kemungkinan ini ya…”
Kenapa aku berpikir bahwa hanya aku yang merasakan penderitaan karena dilupakan?
Tenggorokanku terasa perih.
“Aku──telah melupakanmu, ya…”
Hibise adalah “korban dari kekuatan pemaksaan.”
8 April
Hari upacara masuk sekolah.
Karena ada kejadian yang benar-benar keterlaluan, aku tuliskan di sini.
Di sekolah kami… ada seorang penguntit!?
29 April
Nama pria itu Iriya Satoshi.
Dia menunjukkan obsesi yang tidak wajar terhadap empat orang ini: Saionji Satsuki, Kitagawa Reine, Nanjou Shuna, dan Shinonome Shino.
Tapi yang membuatku penasaran… dia juga terlihat tertarik pada seorang pria bernama Sano Yuuto…
Sebenarnya, apa sih orang ini…?
1 Mei
Karena rasa keadilan, aku mencoba membuntutinya…
Tapi malah jadi sendirian tanpa teman☆
Tidak ada yang mau mengajakku main……
10 Mei
Akhirnya, dia sadar kalau aku membuntutinya.
Dia bilang, “Tolong berhenti menguntitku.”
Untuk sementara, aku langsung menghajarnya pakai tas.
11 Mei
Aku bilang akan melaporkannya ke polisi.
Tapi dia malah mengatakan hal yang tidak masuk akal.
Katanya dunia ini adalah dunia game bernama 【LoD】.
“Beri aku beberapa hari, nanti akan kubuktikan.”
…Jangan-jangan orang ini tipe delusional ya?
14 Mei
Aku diberi sesuatu yang disebut “buku panduan strategi.”
Katanya, “Sampai hari kelulusan kita, semua yang tertulis di buku ini akan terjadi. Kalau ada kejadian yang berbeda, laporkan saja aku ke polisi.”
…Omong kosong banget.
15 Mei
Serius ini……
Sesuai yang tertulis di “buku panduan”, benar saja—Saionji Satsuki datang berkonsultasi dengan Sano Yuuto.
Tapi Sano Yuuto itu benar-benar sampah, sih?
“C-Cuma kebetulan! Dia belum sepenuhnya keluar dari sifat aslinya yang sampah itu!”
Untuk sekarang… kutunda dulu penilaiannya.
11 Juni
Katanya Kitagawa Reine akan digoda orang, jadi aku langsung menuju lokasi.
“Ah, ternyata tidak terjadi apa-apa.”
Sano Yuuto… tidak menyelamatkan Kitagawa Reine.
“Y-ya, lawannya juga kelihatan sangar sih… haha……”
Untuk sementara… kutunda lagi.
5 Juli
Hari ini juga, aku benar-benar akan memasukkan si Iriya Satoshi itu ke penjara!
Dia bilang akan mengintip Nanjou Shuna yang sedang ganti baju di kelas.
Katanya, “Ini kan bagian dari event, mau bagaimana lagi!”
Padahal kelihatannya dia sendiri juga antusias banget.
Dan soal Sano Yuuto—ya, sudah jelas.
Dia malah hampir melakukan pelecehan, sampai-sampai Senpai Shuna kabur.
“Tidak bisa dimaafkan! Dasar sampah!”
Yang paling kasihan di sini justru ketua OSIS yang jadi korban percobaan pelecehan dan pengintaian, bukan?
…Untuk sekarang, masih kutunda penilaiannya.
4 September
Katanya Shinonome Shino ingin punya teman. Lucu juga ya.
Sano Yuuto mengintip catatan milik Shinonome Shino lalu menantangnya bertanding.
“Wah, setelah liburan musim panas, akhirnya jadi laki-laki juga ya.”
Senpai Iritani Satoshi mengatakan itu dengan nada bangga saat membicarakan Sano Yuuto.
8 September
“Dasar bodoh, dia sama sekali tidak belajar…”
Ya, benar juga.
Ngomong-ngomong, Senpai, membawa aku ke game center seperti ini… apa tidak aneh?
Katanya mau mengajariku belajar?
Yah, kalau begitu sih… tidak masalah.
9 September
【Berita buruk】: Cara mengajar si stalker ternyata terlalu jago.
Menyebalkan.
Tapi kalau ada Senpai Iriya Satoshi, bukannya nilai ujianku jadi gampang banget ya?
15 September
Iriya Satoshi itu spesifikasinya terlalu tinggi.
Bukan cuma pintar, dia juga jago olahraga.
Yang paling mengerikan adalah kekIa.
Itu bukan jumlah uang yang wajar dimiliki anak SMA, kan?
Tolong tuliskan nama saham yang menguntungkan di 【Buku Panduan】 dong.
Mohon yaa~♡
20 September
Sudah lama kupikirkan, tapi si brengsek itu…
Sebaliknya, Senpai Iriya Satoshi sebenarnya orang yang sangat baik.
Terima kasih untuk parfait-nya♡
1 Oktober
Senpai Iriya Satoshi akhirnya sudah mantap dengan keputusannya.
“Kalau itu wanita yang kau suka, bahagiakan sendiri!” begitu katanya.
Ya sudah, terserah sih.
Tapi satu hal pasti—aku tidak akan pernah menyukai Senpai Iriya Satoshi seumur hidup!
7 Oktober
Senpai Iriya Satoshi terlihat akrab dengan Senpai Saionji Satsuki dan yang lainnya.
Baguslah, baguslah.
Eh? Tunggu… aku jadi sendirian lagi!?
9 Oktober
Tatapan mata Senpai Iriya Satoshi terlihat sedih.
Sepertinya dia benar-benar diabaikan oleh keempat orang itu.
Cewek… menakutkan juga ya…
Tapi entah kenapa, ada bagian dari diriku yang merasa senang.
Yah, untuk sementara—
“Yang sabar ya☆”
12 Oktober
Karena ada Senpai Iriya Satoshi, ujian jadi gampang banget wkwk.
Sepertinya dia juga sudah benar-benar serius menghadapinya.
Kalau begini, minggu depan namanya pasti bakal jadi bahan pembicaraan di mana-mana.
18 Oktober
Kenapa Senpai Iriya Satoshi tidak bisa meraih peringkat satu?
Katanya itu ada hubungannya dengan 【LoD】.
Misalnya, Shinonome Shino adalah peringkat teratas di angkatan.
Kalau Senpai Iriya Satoshi sampai jadi nomor satu, maka skenario 【LoD】 akan berubah.
Untuk mencegah itu, ada sesuatu seperti penjaga alur cerita—
“kekuatan paksa dunia.”
Aku sih jadi bisa memahami banyak hal sekarang…
“Tapi, rasanya seperti ada sesuatu yang terlupakan…”
25 Oktober
Fakta bahwa keempat orang itu tidak mengingat Senpai Iriya Satoshi juga disebabkan oleh “kekuatan paksa dunia”.
Kalau itu Senpai Iriya Satoshi, dia pasti bisa menaklukkan keempat heroine itu menggantikan Sano Yuuto.
…Entah kenapa, ini bikin kesal.
31 Oktober
“Aku… mungkin akan mati.”
Hah?
1 November
Iriya Satoshi adalah karakter figuran (mob) dalam 【LoD】.
Dan entah kenapa, dia akan terseret masalah para heroine lalu mati.
Apa maksudnya itu…
“Aku juga tidak tahu…”
Ada satu masalah.
Kalau Sano Yuuto, tingkat kesukaannya tidak akan mencapai maksimum, dan berakhir dengan bad ending (semua mati).
“Masalah mereka akan kita selesaikan sendiri. Itu satu-satunya cara.”
Hah!? Aku juga harus bantu!?
6 November
Kami sudah mencoba berbagai cara untuk menaikkan tingkat kesukaan keempat gadis itu terhadap Sano Yuuto.
Tapi semuanya dianggap “tidak pernah terjadi” oleh ‘kekuatan paksa dunia’.
Sepertinya yang harus menyelamatkan mereka memang harus Sano Yuuto.
10 November
Senpai Saionji Satsuki mencoba meminta bantuan pada Sano Yuuto, tapi si brengsek itu malah mengabaikannya.
“Aku punya rencana.”
15 November
Senpai Iriya Satoshi memutuskan membeli photobook gravure milik Senpai Saionji Satsuki.
Hipotesisnya: kalau semua itu dijadikan “kontribusi” Sano Yuuto, mungkin ‘kekuatan paksa dunia’ akan menganggapnya valid.
…Dan untuk itu, Senpai Iriya Satoshi katanya mau membeli 100 buku sekaligus.
“Serius…? Kayaknya ada batas pembelian deh.”
Eh? Aku juga harus beli!?
20 November
Kami mengirim tiket acara jabat tangan ke rumah Sano Yuuto.
Dengan begini, masa iya dia langsung datang… dia kan tidak sebodoh itu—
24 Desember
Iya, iya.
Ternyata dia memang bodoh.
25 Desember
Senpai Saionji Satsuki mengucapkan terima kasih pada Sano Yuuto.
“Untuk sementara, Satsuki sudah berhasil menghindari bad ending.”
Benar juga!
10 Januari
Kami akan pergi menyelamatkan Senpai Kitagawa Reine.
Dia akan dibunuh karena orang tuanya yang toxic .
Untuk si brengsek itu, aku sudah tidak ingin berkata apa-apa lagi.
Dia jelas tidak akan datang membantu.
14 Januari
Kesimpulan: dompetnya tidak ditemukan.
Padahal sudah sampai masuk ke sungai di tengah dinginnya musim dingin untuk mencarinya…
“…Sepertinya harus menjalankan rencana B.”
15 Januari
Wanita tua itu kelihatan senang sekali dengan dompet palsu itu.
20 Januari
“Berhasil ya.”
Senpai Iriya Satoshi mengatakan itu sambil tersenyum… tapi entah kenapa, senyumnya terlihat sedikit sedih.
21 Januari
Katanya dompetnya sudah ditemukan.
Tapi dilihat dari mana pun, itu jelas barang palsu…
22 Januari
Di 【Buku Panduan】 tertulis kalau Sano Yuuto akan mengalahkan Shinonome Shino.
Tidak mungkin, kan… dia sama sekali tidak berusaha.
Kalau Senpai sih, menurutku bisa menang.
“Yang itu!”
Eh?
1 Februari
Seriusan…?
Apa benar?
Tapi… kalau pakai joki ujian, mungkin bisa ya…?
28 Februari
Seriusan, Sano Yuuto benar-benar jadi peringkat satu…
1 Maret
Senpai Shinonome Shino dan Sano Yuuto jadi akrab.
Baguslah, akhirnya punya teman.
Iya… teman yang baik, ya.
3 Maret
Sano Yuuto menemukan Senpai Nanjou Shuna yang sedang kesulitan.
Dan ya… dia mengabaikannya.
Sudah kuduga.
Kalau begitu, saatnya menyelamatkan heroine terakhir!
4 Maret
Perusahaan orang tua Senpai Nanjou Shuna adalah percetakan.
Seharusnya, Sano Yuuto menulis light novel self-publish… katanya.
Dan entah kenapa, itu akan laku keras… katanya.
Aku tidak tahu kenapa si brengsek itu punya bakat menulis, tapi jelas dia tidak berniat menyelamatkan Senpai Nanjou Shuna.
“—Operasi ghostwriter.”
Dengan wajah penuh percaya diri, Senpai Iriya Satoshi membawa naskah berjudul “Rinne” yang seharusnya ditulis Sano Yuuto.
Yah, dengan spesifikasi Senpai yang setinggi itu, harapanku—
Lucu banget wkwk. Tulisan edgy ala chuunibyou banget ini wkwk.
Senpai Iriya Satoshi langsung merah padam mukanya.
11 Maret
Karena Senpai Iriya Satoshi tidak punya bakat menulis, jadinya butuh waktu lama.
Tapi yah, dengan ini, Senpai Nanjou Shuna pasti bisa diselamatkan.
15 Maret
Terjual sangat laris.
‘Kekuatan paksa dunia’ ini benar-benar gila.
22 Maret
Cetak ulang berhasil!
Tapi… tidak dibayar sama sekali…
30 Maret
Senpai Nanjou Shuna mengucapkan terima kasih pada Sano Yuuto.
“—Ini sudah benar, kan?”
Iya, kerja bagus.
Ngomong-ngomong, Senpai… hari ini aku yang traktir, ya?
8 April
Naik ke kelas dua.
Senpai Iriya Satoshi dan yang lain sekarang kelas tiga.
Punggung yang sudah akrab kulihat.
Seeenpaaai!
“Maaf, kamu siapa?”
…Eh?
15 Mei
Senpai Iriya Satoshi kehilangan ingatannya tentangku.
“‘Kekuatan paksa dunia’ adalah kekuatan yang menjaga jalannya skenario.”
Mungkin tindakannya dianggap mengganggu.
Yah… tidak apa-apa sih!
Aku juga sudah terbiasa sendirian!
Aku sudah berusaha membuatnya mengingatku lagi, tapi sia-sia.
Aku tidak menangis… kok.
18 Juni
Karena event 【LoD】 masih terus berjalan, Senpai Iriya Satoshi juga masih melanjutkan perannya sebagai “stalker”.
Si brengsek itu terus saja membuat masalah, jadi Senpai pasti tidak bisa tenang.
Tapi…
Tolong jangan pasang wajah sesedih itu…
Ekspresi Senpai sekarang… bukan wajah orang yang mencintai 【LoD】 dulu.
21 Juli
“Sudah… tidak apa-apa lagi.”
Punggung Senpai terlihat kecil.
Sepertinya dia sudah mencapai batasnya.
“Baiklah! Aku akan mengatasi trauma ujian ini!”
15 Agustus
Mungkin karena fokus belajar, dia hampir tidak pernah keluar dari apartemen.
Apa sebaiknya aku bilang ya…
Sejak Senpai Iriya Satoshi tidak ikut campur, Sano Yuuto mulai menunjukkan sifat aslinya.
Senpai Saionji Satsuki dan yang lain terlihat kebingungan.
…Ah, mungkin aku cuma khawatir berlebihan ya?
Senpai pasti mundur karena tahu semuanya akan baik-baik saja.
17 September
Senpai Iriya Satoshi sudah tidak terlalu peduli dengan 【LoD】 lagi.
Benar-benar seperti siswa yang serius mempersiapkan ujian.
Meski begitu, sepertinya dia tetap mengamati dari jauh.
31 Oktober
Sesuai yang tertulis di 【Buku Panduan】, akhirnya terjadi pengakuan cinta.
Tapi Sano Yuuto—menundanya.
Senpai Iriya Satoshi langsung jatuh terduduk.
“Kenapa…?”
1 November
Aku sudah tahu kalau semuanya bisa dianggap “tidak pernah terjadi” oleh ‘kekuatan paksa dunia’.
Karena itu, aku menunjukkan 【Buku Panduan】 padanya.
Memang taruhan, tapi setelah aku menjelaskan tentang ‘kekuatan paksa dunia’, dia mempercayaiku.
Sepertinya… bad ending (semua mati)… sudah dipastikan.
10 November
Singkatnya, ini semua karena kelengahan.
Pilihan yang bahkan bayi pun tidak akan salah pilih—seharusnya sesederhana itu.
Tapi, Senpai… Sano Yuuto itu brengsek, tahu?
Dunia ini adalah 【LoD】, tapi bagi kita ini adalah kenyataan.
Tidak ada yang namanya “pilihan” di sini…
11 November
Selama ini masih ada pilihan untuk mengubah masa depan.
Tapi sekarang, setelah rute terkunci pada bad ending (semua mati), tidak ada lagi cara untuk mengubahnya.
“Maaf…”
Karena itu, Senpai Iriya Satoshi…
Kenapa Anda malah meminta maaf pada keempat orang itu?
20 November
“Pokoknya, kita cari cara supaya bisa selamat!”
Tentu saja!
29 November
Melihat Senpai Iriya Satoshi yang semakin hari semakin hancur… rasanya menyakitkan.
2 Desember
Seandainya saja waktu liburan musim panas dulu aku sudah memberitahunya…
13 Desember
Maafkan aku.
15 Desember
Maaf maaf maaf maaf maaf maaf maaf…
16 Desember
Tuhan… tolong selamatkan Senpai Iriya Satoshi…
20 Desember
Kenapa Senpai harus mati…?
Dia cuma berusaha menyelamatkan seseorang!
Kalian yang tidak tahu apa-apa itu juga sama bersalahnya!
24 Desember
“Utara” terlihat berbincang santai dengan orang itu di depan Senpai Iriya Satoshi.
25 Desember
“Utara” bersikap seolah berjasa di hadapan Senpai Iriya Satoshi.
Orang yang sudah melupakan segalanya malah bersikap sok berjasa—benar-benar tidak tahu diri!
26 Desember
Senpai bodoh…
Padahal Anda sudah tahu akan dilupakan, bukan…?
9 Januari
Sepertinya Senpai Iriya Satoshi kehilangan kartu pelajarnya.
Aku berniat membantu sambil berpura-pura jadi orang lain…
Tapi “Selatan” ada di sana sambil tersenyum, jadi aku ragu.
10 Januari
Senpai Iriya Satoshi terlihat bahagia…
11 Januari
Tolong… jangan lupakan aku…
24 Januari
Berkat “Utara” dan “Selatan”, sepertinya dia jadi lebih bersemangat.
Curang sekali…
28 Januari
Aku menceritakan tentang 【LoD】 kepada “Timur”.
Jadi… aku yang setiap hari berbicara dengannya tetap tidak cukup ya…
Dia terlihat sangat menikmatinya.
29 Januari
Bodoh sekali…… Berapa kali lagi harus dikhianati baru kamu puas?
2 Februari
Senpai hampir saja mengakhiri hidupnya.
Padahal aku sudah berkali-kali bilang itu tidak boleh… tapi dia tidak mendengarkan.
Aku benar-benar tidak ingin melakukannya, tapi aku tetap membawa “Barat” ke tempat Senpai berada.
Syukurlah… berhasil.
Sungguh.
6 Februari
Selamat atas selesainya ujian.
Hari ini, silakan istirahat dengan tenang.
17 Februari
Aku memang tidak bisa menjadi seseorang yang spesial, ya…
Aku sudah tahu kok.
Aku mengerti……
18 Februari
Bahkan “Kekuatan Paksaan Dunia” itu bukan sesuatu yang tak terkalahkan!
Kita pasti bisa menghancurkannya!
19 Februari
Aku akan menyelamatkannya!
20 Februari
Pasti ada caranya!
21 Februari
Pasti ada…!
22 Februari
Ada…
Pasti ada…
Pasti ada caranya……
23 Februari
Kenapa kalian ingin membunuh Iriya Satoshi!?
Jawab aku, dasar sampah!
28 Februari
Tolong… aku mohon… selamatkan Senpai.
Senpai hanya berusaha menyelamatkan orang yang dia cintai…!
Tolong……
1 Maret
Sano Yuuto.
Aku tidak akan pernah memaafkanmu.
Kalau Senpai mati, aku pasti akan membunuhmu.
2 Maret
Kalian semua juga sama saja.
3 Maret
Aku tidak tahu di mana dia berada… bahkan namanya pun……
7 Maret
Kalau aku menyerahkan tubuhku…
apa itu bisa sedikit meringankan hati Senpai…?
8 Maret
Jadi, tolong… jangan mengakhiri hidupmu!
Jangan menyerah!
Tamparan pertamaku dalam hidup… terdengar begitu menyakitkan di hati.
9 Maret
“Aku… kepikiran satu cara……”
Eh?
10 Maret
Menyelamatkan para gadis itu lalu mati!?
Coba pikirkan cara supaya kamu sendiri selamat dong!
Kenapa kamu malah memasang wajah setenang itu!?
12 Maret
Jangan menyerah, tolong!
Hei… kumohon… berhenti. Tolong hentikan!
Aku ini baru pertama kali menyukai seseorang…!
Jadi… tolong… berhenti……
13 Maret
Senpai… bahkan sudah melupakan pengakuan perasaanku.
Sungguh kejam.
Dia menyerahkan selembar kertas kecil dari buku catatan, memintaku untuk menyampaikan pesan itu kepada keempat gadis itu jika semuanya berhasil diselamatkan.
Kalau sudah setidak peka ini, itu namanya dosa, tahu!
Aku menyembunyikan kertas itu di kamar Senpai.
Hiduplah… lalu sampaikan sendiri.
Dasar bodoh. Dungu. Bodoh banget!
Aku tidak mau……
Aku tidak mau…… ini terjadi……
14 Maret
Hari kelulusan para Senpai berlangsung di bawah langit cerah tanpa awan.
Di bawah langit biru yang jernih, sisa-sisa musim dingin masih terasa samar di udara, namun dingin yang menusuk sudah mulai menghilang, digantikan oleh kehangatan yang lembut.
Di ujung-ujung ranting pepohonan jalan, masih banyak kuncup yang tertutup rapat.
Namun, jauh di dalamnya, terasa jelas tanda-tanda musim semi yang sebentar lagi akan mekar.
Ada yang saling menepuk bahu dengan teman klubnya, enggan berpisah untuk terakhir kalinya.
Ada yang tertawa riuh membicarakan rencana perayaan setelah kelulusan.
Ada pula yang berdiri bersama keluarga, berulang kali berfoto di depan gerbang sekolah.
Seluruh sekolah dipenuhi suasana hangat yang merayakan satu titik penting dalam hidup—kelulusan.
“……”
Aku menyelinap di antara kerumunan yang penuh kebahagiaan itu, berusaha agar tidak menimbulkan suara.
Aku yang biasa dan tidak mencolok ini bahkan tidak bisa menjadi bagian dari latar belakang yang semarak itu.
Tak ada yang menatapku, tak ada yang menyapaku—aku hanya lewat begitu saja.
Di tengah arus para lulusan, aku berjalan sendirian sebagai siswa yang masih tinggal, seolah melawan arus.
Senpai yang dulu dekat denganku—
sudah tidak ada lagi.
“……”
Setelah melewati gerbang sekolah, para lulusan berjalan di jalan pulang untuk terakhir kalinya.
Mereka berkali-kali berhenti, menoleh ke belakang, menatap gedung sekolah, lalu melangkah lagi.
Langkah kaki yang masih dipenuhi rasa enggan itu membuat waktu terasa berjalan lebih lambat.
Aku melewati mereka.
Aku tidak punya urusan apa pun.
Seperti saat aku sekadar melihat papan nama pabrik yang selalu kulihat—
tanpa perasaan, hanya diproses sekilas di sudut pandang, lalu aku terus berjalan maju.
“―――Ketemu.”
Setelah melewati para “tokoh utama” yang jumlahnya tak terhitung, di depan sana ada sekelompok empat gadis cantik.
Jalan biasa untuk berangkat dan pulang sekolah itu, entah kenapa hanya di bagian itu saja terasa begitu mencolok dan memikat.
Seolah-olah bunga sakura tiba-tiba bermekaran di sana.
Namun――
“Siapa pun yang dipilih nanti, tidak boleh saling menyalahkan, ya?”
Satsuki-senpai menatap tajam tiga orang lainnya.
Suaranya terdengar ceria, tapi ada ketegangan yang jelas terasa di dalamnya.
“Tidak perlu kamu bilang juga.”
Reine-senpai menyibakkan rambut peraknya yang menutupi telinga dengan kasar.
Dari satu gerakan itu saja, suasana hatinya yang buruk sudah sangat jelas terlihat.
“Sudahlah, sudahlah. Setidaknya di hari kelulusan ini kita akur saja, ya~”
Shuna-senpai menyela di antara mereka berdua dengan senyum lembut seperti biasanya.
Kalau diperhatikan lebih dekat, seragamnya penuh dengan bulu-bulu kain dan sedikit kotor di beberapa bagian.
“……”
Shino-senpai sama sekali tidak mengatakan apa pun, seolah tiga orang lainnya memang tidak ada sejak awal.
Ia memeluk tasnya dengan kedua tangan, lalu menutup mata dengan tenang.
Entah sedang berdoa atau hanya menghindari kenyataan—tidak ada yang bisa terbaca dari ekspresinya.
Aku melewati keempat orang itu dengan tenang, tanpa suara.
“Maaf, bikin nunggu!”
Terdengar suara ringan yang terkesan sembrono dari belakang.
Pada saat itu juga, aku bisa merasakan suasana di antara keempat gadis itu langsung melunak.
“Lama banget sih!”
“Maaf, maaf.”
Dia tertawa canggung sambil meminta maaf pada nada suara Satsuki-senpai yang seperti menyalahkan.
Seolah itu menjadi isyarat, pertengkaran kecil seperti biasanya pun langsung dimulai.
“……Nggak penting banget.”
Aku bergumam pelan, seolah membuangnya.
Langkah kakiku tanpa sadar menjadi sedikit lebih cepat.
Aku terus berjalan maju, seakan ingin menjauh dari suara-suara yang terdengar dari belakang.
Akar dari semua masalah—yang bahkan tidak tahu apa-apa.
“――Jadi teman tidur, yuk.” “――……”
Saat kalimat itu sampai ke telingaku, napasku langsung kacau dan aku mulai berjalan setengah berlari.
Suaranya, wajahnya, aura yang dia bawa—
semuanya terasa menjijikkan sampai membuat mual.
Saat sampai di persimpangan, lampu lalu lintas sedang merah.
“Hah… hah…”
Aku mencoba mengatur napas yang sudah kacau, tapi kegelisahan di dalam dada tidak kunjung mereda.
Saat itu, angin kencang berembus.
Angin musim semi pertama menggoyangkan rambutku, sejenak mengacaukan pandanganku.
Kacamataku sedikit berembun.
Meski begitu, aku―――tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.
Di depan lampu merah, dia hanya berdiri sambil menatap kosong ke langit.
Tidak terlihat tegang, tidak juga panik—seolah semuanya sama seperti biasanya.
Satu tangan dimasukkan ke dalam saku, sementara tangan lainnya sesekali menepuk-nepuk map ijazah kelulusannya yang disampirkan di bahu.
Terdengar suara pelan, tap… tap…
Lalu, tanpa sadar—
aku mengalihkan pandanganku.
Di balik pagar, di tempat yang tidak terkena sinar matahari, masih tersisa salju.
Putih yang kotor—tidak pantas untuk musim penuh perayaan seperti ini.
Aku melangkah maju dan menginjak salju itu.
Di bawah telapak sepatu, salju itu remuk dengan suara pelan, lalu langsung kehilangan bentuknya.
Salju yang mencair membasahi aspal, perlahan menyebar ke sekeliling.
“――Akhirnya… sampai juga, ya.”
Tiba-tiba terdengar suara Senpai di sampingku.
Seperti bergumam sendiri, bukan ditujukan kepadaku.
Pada saat itu, angin kencang berembus.
“Sampai tadi malam, tubuhku masih gemetar terus…”
Ia mengeluarkan tangannya dari saku, lalu mengangkatnya ke arah langit.
Gerakan yang terasa tidak bermakna, seolah hanya ingin memastikan sesuatu.
―――Lari… tolong lari!
Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku terasa tercekat.
Aku sudah berkali-kali memperingatkan Senpai.
Berulang-ulang, setiap hari.
Saat aku menunjukkan 【Buku Panduan】 itu, dia memang mengerti saat itu juga.
Tapi keesokan harinya――semuanya seperti tidak pernah terjadi.
Dunia ini akan “mengoreksi” semuanya seperti itu.
Hari-hari seperti itu… akan berakhir hari ini.
Bahkan jika aku memanggilnya sekarang, hasil akhirnya tidak akan berubah.
Skenario sudah menuju ending yang diinginkan oleh Sano Yuuto.
“Sekarang tinggal… apakah taruhanku akan berhasil atau tidak…”
Mendengar itu, tanpa sadar aku mengepalkan tangan dengan kuat.
Itu bukan “taruhan”.
Sama sekali bukan.
Aku menggenggam erat tinjuku yang gemetar.
Tidak ada kemungkinan menang sama sekali.
Entah Senpai mati sendirian,
atau keempat gadis itu ikut terseret dan mati bersama.
“――Selamat tinggal.”
Suara Satsuki-senpai terdengar begitu putus asa.
“Hah? Satsuki!? Kalian juga di sini!?”
Yang bersuara bodoh seperti itu adalah Sano Yuuto—orang yang tadi melontarkan pengakuan menjijikkan itu.
Keempat gadis yang sudah muak padanya berjalan ke arah sini tanpa sepatah kata pun.
“……Baiklah.”
Di sampingku, Senpai bergumam pelan.
Ia membuka tasnya dan menyimpan ijazah kelulusannya.
Gerakannya begitu rapi dan tenang—
sangat tidak sebanding dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
Kenapa…… kenapa harus Senpai yang mati……?
Senpai hanyalah orang baik yang kebetulan bereinkarnasi di dunia ini sebagai karakter sampingan.
Orang yang paling kikuk,
namun juga yang paling tulus mencintai.
“――Mati saja.”
Kata-kata kotor itu meledak dari dalam dadaku.
Mati saja. Mati saja. Mati saja!?
Kenapa orang itu yang tetap hidup,
sementara Senpai harus dibunuh?
Seorang pria terburuk yang bahkan bisa membunuh wanita yang dia cintai.
Seorang pria yang dengan santai merebut pencapaian orang lain, lalu menginjak-injak semuanya.
Lalu kenapa… justru Senpai—yang telah memberikan segalanya—yang harus……
Satsuki-senpai dan yang lainnya… sudah hampir sampai di sini.
“……Setidaknya, di saat terakhir ini, kabulkan satu permintaanku… ya?”
Ia mengatakannya dengan tenang.
―――Tidak mau.
“Kalau sampai kita bertemu lagi di sana, itu bakal terlalu memalukan.”
―――Seorang stalker bilang apa sih? Aku sudah muak melihat tingkah memalukanmu…!
Aku ingin berteriak seperti itu.
Tapi tenggorokanku menolak mengeluarkan kata-kata.
“……Sampai jumpa, 【LoD】.”
Seolah benar-benar tidak ada lagi penyesalan,
senyum itu terasa begitu lega—terbebas dari segalanya.
Di mata itu… tidak ada bayanganku.
Tunggu―――
Kata-kata itu hancur di dalam dadaku.
Padahal jaraknya cukup dekat kalau aku mengulurkan tangan.
Padahal aku ingin dia tetap hidup—
tapi hatiku sudah menyerah pada segalanya.
Lampu lalu lintas mulai berkedip.
Saat aku mengangkat pandangan, dari seberang sana sebuah truk melaju.
Entah tidak melihat lampu merah atau bagaimana, tidak ada tanda-tanda akan mengerem.
Mataku bertemu dengan mata Senpai.
Sesaat saja――
aku merasa dia tersenyum.
“Tunggu!”
Saat suaraku akhirnya keluar――sudah terlambat.
“――Maaf. Aku tidak akan membiarkan kalian melewati ini.”
Detik berikutnya, Senpai mendorong keras Sakurazuki-senpai dan yang lainnya.
Lalu, begitu saja――dia tertabrak.
Tubuhnya terlempar ke udara, lalu jatuh menghantam tanah dengan suara tumpul.
Buku-buku dan catatan berserakan tanpa bentuk,
dan di atas aspal, genangan darah mulai terbentuk dengan jelas.
“A…… a……”
Lututku lemas, dan aku jatuh terduduk di tempat.
Dingin dari tanah perlahan terasa menyusup.
――Kenapa sampai akhir aku tidak bergerak?
――Kenapa sampai akhir aku tidak berusaha menyelamatkannya?
Pertanyaan itu terus menghantam pikiranku berkali-kali.
Penyesalan mengalir deras seperti banjir, membuat napasku sesak.
“Anak-anak itu……”
Suara serak terdengar.
“……!”
Senpai sedang melihat ke arah keempat gadis itu.
“Haha… syukurlah……”
Suara yang memastikan mereka selamat terdengar begitu lembut.
Ia mengangkat tinjunya ke udara, dengan senyum tipis di wajahnya.
――Rasakan itu… dasar bajingan.
Aku merasa bibirnya bergerak seperti itu.
Lalu, begitu saja… lengannya jatuh lemas.
“A…… aa…… aaa……”
Aku langsung berusaha berlari menghampiri Senpai.
Tapi tubuhku tidak mau bergerak.
Yang keluar hanya air mata dan suara yang gemetar.
Tak lama kemudian, sopir truk turun, orang-orang dewasa mulai berkumpul, dan kerumunan terbentuk di sekitar Senpai.
Dari kejauhan, suara sirene perlahan mendekat.
Aku hanya bisa berdiri terpaku, menatap tanpa daya.
“――Apa yang terjadi?”
Tiba-tiba suara Sakurazuki-senpai terdengar.
Saat aku mengalihkan pandangan, keempat gadis yang diselamatkan oleh Senpai berdiri di sana dengan ekspresi bingung.
Wajah mereka benar-benar menunjukkan bahwa mereka tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Otakku seakan menyala kembali, dibakar oleh emosi yang meluap.
“Dasar tidak tahu balas budi…!”
Tanpa sadar, kata-kata kasar itu keluar dari mulutku.
Suara decakan lidahku terdengar sangat keras.
Perasaan Senpai.
Karena “Kekuatan Paksaan Dunia”, dalam ingatan keempat gadis itu tidak ada sosok Senpai.
Semua masa lalu di mana mereka diselamatkan—
mereka tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah mengerti seumur hidup mereka.
Pada saat itu—
Secara logika, aku mengerti.
Tapi emosiku tidak bisa menerimanya.
“Dia masih hidup!”
Eh?
Di dalam dadaku, seolah ada seutas benang tipis yang turun.
Rapuh seperti benang laba-laba—
namun terasa nyata.
Perasaan meluapkan emosi ke arah mereka lenyap dalam sekejap.
Aku langsung menoleh kembali ke arah Senpai.
“Masih… hidup?”
Saat ambulans tiba, Senpai segera diangkat ke atas tandu.
Ekspresi para petugas medis terlihat tegang dan penuh keseriusan.
Justru itu yang menunjukkan—bahwa Senpai masih hidup.
Benarkah…?
“Kekuatan Paksaan Dunia” itu mutlak.
Bahkan Senpai yang bereinkarnasi pun tidak bisa melawannya.
Dia hanya bisa mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan keempat gadis itu.
Walaupun aku mencoba berharap, aku tahu harapan itu kemungkinan akan sia-sia.
Tapi――
“Tolong… selamatkan dia…”
Bukan doa yang ditujukan kepada siapa pun.
Namun aku tetap berdoa.
Aku tetap berharap.
Dengan pikiran kosong, aku memunguti barang-barang Senpai yang berserakan.
Memaksa kakiku yang kaku untuk bergerak, aku mengambilnya satu per satu.
Aku menyerahkan barang-barang itu kepada petugas medis.
Saat pintu belakang ambulans tertutup, suasana di sekitar tiba-tiba menjadi sunyi.
Orang-orang pun perlahan bubar,
seolah tidak terjadi apa-apa.
Dengan tenang.
Pelan-pelan.
Kembali ke kehidupan sehari-hari mereka.
“Tolong… aku mohon……”


Posting Komentar