“Aku—Kitagawa Reine—saat ini sedang menjalankan sebuah misi penting.”
Targetku adalah pacar tercintaku—Iriya Satoshi.
Akhir-akhir ini, ada aroma perempuan lain darinya, dan itu membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Hari ini pun aku mengajaknya kencan ke toko buku sepulang kuliah, tapi seperti yang sudah kuduga, dia menolaknya.
“Sudah kuduga sih, tapi tetap saja menyebalkan……”
Saat ini aku sedang diam-diam menguntit Satoshi.
Menyamakan langkah, bersembunyi di balik bayangan, mengikuti dari belakang—sensasi ini cukup menegangkan.
Akhir-akhir ini aku sering membaca novel misteri, jadi… ini agak menyenangkan juga.
Dan tempat yang dimasuki Satoshi adalah sebuah kafe bernama “Meguri”, yang berada di dekat universitas, tak jauh dari stasiun.
Pintu kayu tua, jendela kaca buram. Musik jazz yang mengalun dari dalam, bercampur aroma kopi.
Seolah hiruk-pikuk di luar itu bohong, waktu di dalam terasa berjalan lebih lambat.
—Ini pertama kalinya aku ke sini, tapi suasananya bagus juga.
Aku masuk beberapa langkah setelahnya, lalu sengaja duduk di meja yang agak jauh.
Posisinya pas—punggung Satoshi terlihat jelas di hadapanku.
Kuangkat cangkir, lalu menyesap sedikit sambil menjaga ekspresi.
Pahit……
Di tanganku ada buku saku.
Berpura-pura membaca, tapi pandanganku sepenuhnya terpaku pada punggung Satoshi.
“Cantik banget……”
“Indah……”
—Menyebalkan……
Ke mana pun aku pergi, penampilanku selalu menarik perhatian.
Sudah seperti takdir.
Aku mengeluarkan buku catatan dari tas, membuka halaman, lalu mulai mencatat.
“Fufu, melakukan hal yang sama dengan pacar itu menyenangkan juga……”
…meskipun isi catatan itu adalah jurnal pengamatan terhadap pacarku sendiri.
Sambil mengamati Satoshi, aku menopang dagu.
Aku akan mengungkap kasus ini dengan sempurna dan membungkam tiga orang itu.
Akan kutunjukkan apa yang terjadi kalau Kitagawa Reine ini serius!
Kling, kling.
Bel pintu berbunyi. Suaranya ringan, lalu larut ke dalam suasana tenang kafe.
“Maaf sudah menunggu~!”
Tanpa sadar, punggungku menegang.
“Lama.”
Suara rendah dan tenang. Tapi ada kelembutan di dalamnya.
Nada suaranya berbeda dari saat dia berbicara dengan kami biasanya.
“Hah? Harusnya bilang ‘aku juga baru datang’, dong~? Nanti nggak laku, lho☆”
Suara ceria dan ringan. Nada bercanda yang membuat suasana sedikit mencair.
Tapi di telingaku, alarm bahaya justru berbunyi semakin keras.
“Ah… jadi pengen pulang aja deh.”
“Maaf~! Aku yang salah, jadi jangan dibuang dong~!”
“Eh, itu jadi terdengar aneh banget!?”
Dari percakapan santai itu, jelas kalau jarak psikologis mereka cukup dekat.
Tanpa sadar, aku menggenggam cangkir di atas meja.
“Perempuan itu… kandidat selingkuhan……”
Aku mengalihkan pandangan.
Rambut pirang pucatnya memantulkan cahaya lampu.
Pita besar di kepalanya dan headphone di lehernya langsung mencuri perhatian.
Bulu mata panjang, bibir berkilau. Dari cara bicaranya dengan Satoshi, jelas dia lebih muda.
Memang cantik… tapi entah kenapa senyumnya membuatku kesal.
“Hmph… kalau soal karakter adik, aku juga punya, tahu……”
Padahal biasanya aku tidak suka dianggap seperti adik, tapi sekarang rasanya seperti posisiku direbut, dan pipiku tanpa sadar mengembung.
Bahkan aroma kopi pun terasa mengganggu sekarang.
—Tunggu saja nanti kalau kamu sudah pulang. Akan kusambut dengan senyuman… lalu setelah itu……
“Ehem.”
Aku menenangkan diri dan kembali fokus pada penyelidikan.
Dari yang kulihat, ekspresi Satoshi tidak menunjukkan kelembutan seperti saat berbicara dengan kekasih.
Justru dia terlihat canggung dan menghindari pandangan.
…Berarti perempuan itu yang mendekat secara sepihak. Kalau begitu, mungkin ini pemerasan?
“Satoshi-senpai.”
—Hah?
Barusan dia bilang apa? “Satoshi-senpai”?
Seolah-olah semua omong kosong di dunia disatukan dalam satu kalimat.
“Ada apa?”
“Aku sudah berusaha tampil cantik demi senpai, tapi tidak ada komentar sama sekali, ya~?”
Perempuan licik……
Pipi merona, pandangan ke atas, memainkan rambut dengan jari, lalu memiringkan kepala dengan sengaja.
Benar-benar tipe perempuan yang dibuat-buat imut.
Satsuki jauh lebih jago.
“Ya… cocok sih.”
Tunggu saja nanti kalau kamu pulang, ya?
Aku ini wanita yang toleran. Akan kusambut dengan senyuman, tapi setelah itu akan kupaksa kamu mengaku semuanya.
“Daripada itu, ‘Hibise’.”
Panggil nama!?
Saat itu juga tanganku tergelincir, kopi terciprat, meninggalkan noda hitam di taplak putih.
“Fufu, senpai ini~. Dulu saja masih malu-malu, sekarang sudah terbiasa memanggil ‘Hibise’, ya~”
“Tidak pernah ada masa seperti itu.”
“Ah masa sih~”
Untuk sementara, catat saja dulu.
Satoshi bersikap manja pada perempuan lain.
“Aku pernah berpikir tidak enak memanggil stalker dengan nama, nanti malah bikin dia besar kepala.”
“Bagian mana dari aku yang stalker sih!?”
“Yang tahu alamat emailku itu.”
“Itu aku tanya ke dosen pembimbing senpai!”
“Kenapa kamu sampai tahu tentang seminarku……”
“Ya jelas dong! Aku tanya satu per satu dosen di fakultasku!”
“Gila……”
Ekspresi dan kata-katanya tidak sinkron.
“Makanya, itu bukan begitu! Awalnya aku mau tanya teman senpai, tapi tidak ada satu pun yang tahu kontaknya! Jadi terpaksa aku tanya ke dosen!”
“Uhuk!?”
Satoshi tersedak, lalu dengan elegan mengelap mulut dengan napkin, sebelum menatap Hibise dengan ekspresi canggung.
“Ehm… hal-hal tentang kampus jangan dibicarakan keras-keras……”
“Aku sempat mengintip seminar senpai, tapi meskipun itu kerja kelompok, cuma senpai yang kerja sendiri, kan~”
“Tolong, serius……”
“Padahal aku mau menyapa waktu itu, tapi suasananya terlalu menyedihkan, jadi aku batal……”
“……”
Rahasia kehidupan seminar Satoshi terungkap.
—Sendirian?
Jadi selama ini dia berbohong soal menjalani kehidupan kampus dengan baik?
“L-lagipula, tidak masuk akal dosen membocorkan data pribadi mahasiswa! Apa yang mereka pikirkan sih!?”
“Ah, itu ya. Aku bilang kalau senpai adalah takdirku, jadi mereka malah mendukung kok♡”
Aku dan Satoshi sama-sama menyemburkan kopi.
“Apa yang kamu lakukan sih!?”
“Oh iya, aku juga bilang hal yang sama ke dosen-dosen lain juga♡”
“Benar-benar bikin masalah saja!”
Saat Satoshi hampir meledak marah, Hibise menopang dagu dengan kesal sambil mengaduk kopi.
“Yang salah itu senpai yang tidak punya teman! Aku sampai harus melakukan semua ini demi bisa bertemu denganmu, jadi seharusnya kamu bersyukur!”
“Jangan bawa-bawa soal teman dong……!”
Memang, menjaga harga diri itu khas laki-laki… tapi entah kenapa kalau Satoshi yang melakukannya terasa lucu.
Tapi yang jadi masalah sekarang adalah Hibise.
Tidak kusangka ada perempuan yang sampai melakukan pendekatan dari lingkungan fakultas seperti ini.
“Seharusnya aku langsung pindah jurusan saja……”
Dulu, saat Satoshi bilang ingin serius belajar ekonomi dan ingin sendiri di kampus, kami menghormati keinginannya meski dengan berat hati.
Sekarang aku sadar… keputusan itu salah.
“Haa……”
Saat itu—
Nada suara Hibise sedikit berubah.
“Yah, pada akhirnya aku senang bisa berhubungan dengan senpai seperti ini……”
Aku langsung masuk ke mode detektif.
Menahan napas, fokus pada kata-kata berikutnya.
“Tapi aku merasa bersalah karena sudah merepotkan… sampai membuatmu membatalkan kencan dengan pacarmu……”
“Tidak, tidak apa-apa. Untuk hari ini, aku juga melakukannya karena mau.”
Hm?
Jantungku berdetak keras. Napasku sedikit terhenti.
Aku detektif. Harus tenang. Tenang……
“Cuma saja, soal mereka berempat……”
Empat orang. Kata itu langsung menarik perhatianku.
“Tentu saja. Aku tidak akan membocorkannya kok~”
Suara manis Hibise terdengar seperti alarm bahaya.
“Kita ini… punya hubungan rahasia, kan~”
“Yah… bisa dibilang begitu……”
Hubungan rahasia!? Tidak boleh sampai kami tahu!?
Jantungku hampir berhenti. Ujung jariku gemetar. Kopi di cangkir bergetar membentuk riak.
“Untuk sekarang, kita pindah tempat saja yuk~”
“Ya. Aku juga menantikannya.”
“Fufu, aku juga~”
…Menantikannya? Apa maksudnya? Apa yang kalian nantikan!?
Keduanya berdiri bersamaan.
Rambut pirang perempuan itu bergoyang pelan terkena cahaya lampu.
Seolah dia adalah pemenangnya.
Dan aku—si berambut perak—adalah pihak yang kalah.
“Ayo, kita pergi. Sayang♡”
“Tolong hentikan yang begitu…… nanti repot.”
“Ah, tidak apa-apa dong~ Kita ini hubungan rahasia, kan? Kalau tidak ada sedikit kesenangan, membosankan, tahu~”
“Haa… terserah deh.”
“Ih, senpai ini tidak jujur banget sih☆”
Tawa perempuan itu memenuhi kafe, lalu menghilang bersama bunyi bel pintu.
Aku yang tertinggal hanya bisa membeku.
Jari-jariku gemetar di atas meja. Getarannya membuat kopi di cangkir ikut bergetar.
Riak kecil itu terasa seperti menggambarkan perasaanku.
“S-selingkuh… ini sudah pasti selingkuh, kan…?”
◇
Uuuh…… kenapa jadi begini……
Bagian dalam dadaku terasa nyeri berdenyut. Awalnya aku berniat menguntit dengan tenang dalam mode detektif.
Tapi sekarang, detak jantungku berdentum keras tanpa bisa dihentikan.
“Ini benar-benar seperti TKP perselingkuhan, kan…!”
Dilihat dari tadi, interaksi mereka berdua jelas-jelas seperti hubungan rahasia.
Meski kepalaku mencoba menyangkal, hatiku mulai mengakuinya dengan sendirinya.
“Langkahnya cepat banget sih~!”
“Ah, maaf.”
“Ih! Selalu begitu deh~!”
Suara ceria itu terdengar ringan, sementara Iriya Satoshi menjawab dengan canggung.
Hanya dari itu saja, perutku terasa mual.
Lalu, tanpa ragu, Harusora Hibise sengaja melingkarkan lengannya ke lengan Satoshi.
“Tolong… lepaskan dia……”
Dalam benakku, berbagai kemungkinan yang tak masuk akal mulai bermunculan.
──Sebuah kamar hotel, seprai yang berantakan, suara desahan perempuan.
Adegan-adegan itu terus terputar di kepalaku, dan tidak bisa kuhentikan meskipun aku mencoba.
“Kita sudah sampai.”
Aku mengikuti arah pandangan mereka, dan melihat sebuah gedung yang berdiri sendirian. Sepertinya bernama “Yamabiru”, tapi papan namanya terlihat miring.
“Ini tempat……”
Satoshi menatap bangunan itu dan bergumam.
“Hmm? Ada apa?”
“Tidak… bukan apa-apa……”
“Senpai aneh deh.”
Hibise tersenyum kecil sambil menatap Satoshi. Lalu, mereka berdua masuk begitu saja ke dalam gedung.
“Ini hotel? Tapi rasanya bukan juga……”
Jantungku berdegup kencang. Suaranya menutupi kebisingan di sekitarku.
Aku melangkah satu detik terlambat, lalu dengan tangan gemetar, mendorong pintu itu.
◇
“Terima kasih sudah datang hari ini!”
Tiba-tiba, suara ceria terdengar melalui mikrofon.
—Tempat itu benar-benar berbeda dari lokasi perselingkuhan yang kubayangkan.
Sebuah ruangan seukuran karaoke box yang direnovasi. Lampu langit-langit yang rendah memancarkan panas lembut, dindingnya dipenuhi poster tulisan tangan. Speakernya tampak murahan, suaranya sedikit pecah dan kadang berdesis.
Para gadis yang tersenyum di atas panggung tampak bersinar begitu terang.
Senyum mereka masih menyisakan kesan amatir. Tapi terlihat jelas mereka berusaha keras untuk bersinar.
Para penggemar yang jumlahnya tidak banyak membentuk antrean kecil, semuanya menatap dengan serius.
—Sepertinya ini adalah tempat acara jabat tangan.
Mereka menggenggam tiket undian, berjabat tangan, berfoto, tertawa, bahkan ada yang sampai berkaca-kaca.
Aku mengintip dari balik bayangan di pintu masuk, diam-diam mengawasi Iriya Satoshi dan yang lainnya.
“Baiklah, kita pergi ya, Satoshi-senpai.”
Harusora Hibise berkata santai, sementara Satoshi tampak sedikit ragu.
“Ehm… aku pikir, sebaiknya aku pulang saja. Aku tidak bisa mengkhianati mereka……”
Aku menggenggam tangan di balik bayangan.
“Aku bisa menjabat tanganmu sebanyak yang kamu mau, jadi cepat pulang sana. B-bahkan lebih dari itu juga……”
Untuk menghentikan imajinasiku yang mulai liar, aku berdeham.
Namun—
“Tapi, Satoshi-senpai. Kamu sudah datang sejauh ini tanpa memberi tahu mereka, kan~?”
“Bukan, maksudku……”
“Kamu sudah lama mendukung mereka, kan? Sebenarnya kamu ingin datang, tapi karena ditentang, kamu diam-diam datang, ya?”
“Ugh… kalau dibilang begitu, memang benar sih……”
“Aku ini perempuan yang praktis, kok. Aku sudah memutuskan tidak akan melakukan hal yang membuat pacarku tidak nyaman.”
“Jangan bilang sesuatu yang bisa disalahartikan…… ya sudah, kalau sudah sampai sini, kita nikmati saja.”
“Itu baru semangat~!”
Satoshi pun akhirnya menyerah dengan mudah.
“…Nanti kalau kamu pulang, tunggu saja ya?”
Kalau dipikir-pikir, Satoshi memang sering memutar MV mereka di YouTube.
Dan melihat ekspresi dia yang menyeringai waktu itu, kami sampai kehilangan kendali.
Sekarang, di depan mataku, dia menunjukkan ekspresi yang sama sambil dengan semangat mengantre.
“Aku selalu mendukung kalian.”
“Wah, terima kasih banyak!”
—Dukung aku saja! Eh, mereka foto bareng!?
Mereka bikin pose hati berdua!?
Dan Satoshi itu… benar-benar tersenyum lebar!
“Fuu……”
Kelihatannya puas sekali ya?
Setelah turun dari panggung, Satoshi disambut oleh Hibise.
“Wah, kelihatannya senpai senang sekali ya~”
Aku setuju dengan si rubah betina itu.
“Yah… ini grup yang sudah lama aku dukung……”
Satoshi berkata sambil tersenyum malu. Wajahnya yang terkena cahaya lampu terlihat lebih lembut, bahkan sedikit kekanak-kanakan.
“Aku sudah hampir menyerah, jadi ini benar-benar membantu. Terima kasih.”
“Tidak, tidak. Aku juga fans kok~ Aku senang tahu kalau senpai menyukai grup yang sama.”
“Itu harusnya kalimatku. Tidak menyangka kamu tahu grup yang se-‘niche’ ini.”
“Kebetulan muncul di rekomendasi video! Intuisiku bilang mereka bakal besar, jadi lebih baik dukung dari sekarang~”
“Haha, benar juga.”
Keduanya saling menatap, lalu tertawa bersama.
“Kalau begitu, ayo kita pergi!”
Satoshi dan Hibise berjalan menuju pintu keluar.
Agar tidak ketahuan, aku keluar lebih dulu dari gedung, berjalan menyusuri dinding, lalu bersembunyi di balik bayangan.
“Tidak kusangka Satoshi suka idol……”
Aku memang belum mendapatkan bukti pasti perselingkuhan.
Tapi melihat sisi Satoshi yang tidak kukenal membuat hatiku sedikit sakit.
Aku melihat dia berbagi hobinya dengan orang lain.
Entah ini rasa cemburu atau ketakutan akan ditinggalkan, aku sendiri tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
Namun, melihat wajah samping Satoshi, aku menyadari sesuatu.
Kalau terus begini, tidak akan baik.
Kalau ingin tetap berada di sisinya, aku juga harus mendapatkan sesuatu.
“…Aku harus melakukannya.”
Sudah lama sejak terakhir kali aku datang ke acara jabat tangan.
“…Rasanya anticlimax.”
Tanpa sadar, aku bergumam pelan.
Kalau dibilang kebetulan—ya, mungkin hanya itu.
Grup ini bahkan belum genap satu tahun sejak dibentuk.
Jarang update di media sosial, eksposurnya pun minim.
Kalau menyebut namanya, mungkin hanya sedikit orang yang tahu—hampir seperti grup tak dikenal.
“—Kalau mau berpura-pura ini kebetulan, seharusnya kamu melakukannya dengan lebih rapi.”
◇
“Reine, lama sekali ya……”
Aku, Shuna, dan Shino masing-masing mengisi waktu sambil menunggu Reine.
“Iya. Semoga saja dia tidak tersesat di suatu tempat……”
“Kalau tersesat, tinggal tanya orang juga pasti bisa pulang kok. Kamu terlalu berlebihan, Shino.”
“Tapi, Reine itu pemalu lho~?”
“…Apa kita coba telepon saja?”
Di antara kami, Reine memang seperti yang paling muda.
Penampilannya memang seperti gadis bangsawan yang anggun dan sulit didekati, tapi sebenarnya dia penakut, canggung, dan tidak bisa dibiarkan sendirian.
Wajar kalau kami jadi khawatir.
Dan tepat saat itu—
“…Aku pulang.”
Terdengar suara pintu depan terbuka pelan. Aku pun perlahan berdiri.
“Selamat datang, Reine! Bagaimana?”
“……”
Reine yang berdiri di depan pintu terasa berbeda.
Pakaiannya tidak berantakan, rambutnya juga rapi.
Tapi auranya… terasa sunyi, dingin, seperti seseorang yang baru saja melewati sesuatu hingga batasnya runtuh.
“Teman-teman……”
Suara itu tidak lagi memiliki ketajaman atau dingin seperti biasanya.
Hanya ada ketenangan tanpa emosi, seperti permukaan danau yang benar-benar tenang.
“Hmm……”
Kami semua menahan napas. Lalu—
“Aku… akan jadi idol.”
…Hah?
Shino hampir menjatuhkan cangkir tehnya, sementara Shuna membeku dengan kue yang masih ada di mulutnya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Reine langsung kembali ke kamarnya.
“E-eh… ini sebenarnya maksudnya apa…?”
“Entahlah……”
Aku hanya bisa menjawab pertanyaan Shino dengan samar.
Kalau dibilang Reine jadi idol… entah kenapa terasa cukup masuk akal, dan itu justru yang menakutkan.
Kalau cuma soal visual, dia bahkan bisa mengalahkan selebritas sekalipun……
Saat itu, ponselku bergetar.
Di grup “Shihou”, ada laporan hasil penyelidikan rinci dari Reine.
“—Ternyata Satoshi diam-diam pergi ke acara jabat tangan idol tanpa memberi tahu kita ya……”
“Fufu, benar sekali.”
Aku dan Shino saling tersenyum.
Saat itu, Shuna yang tadi bersandar di sofa mulai bergerak.
“Sepertinya Reine-chan sudah menjalankan tugasnya dengan baik ya~”
Dengan nada santai seperti biasa, Shuna mengangkat sudut bibirnya.
Lalu dia berdiri dan meregangkan tubuh, membuat dadanya tampak semakin menonjol.
“Selanjutnya, serahkan saja padaku~”
Namun, senyumnya kali ini berbeda dari biasanya.
“—Sandiwara seperti ini, akan segera kuakhiri.”
Grup Shihou (4)
Dibaca 3 — 13:53
(Satoshi sedang bertemu diam-diam dengan perempuan yang mengaku bernama Hibise)
Dibaca 3 — 13:59
(Sepertinya bukan perselingkuhan)
Dibaca 3 — 13:59
(Berarti ini… pemerasan…?)
Dibaca 3 — 14:22
(Hibise menggandeng lengan Satoshi)
Dibaca 3 — 14:22
(……hukuman mati)
Dibaca 3 — 15:15
(jangan manja-manja sama perempuan selain aku dong…)
Dibaca 3 — 16:09
(Keduanya masuk ke gedung mencurigakan)
Dibaca 3 — 16:30
(Sepertinya ini acara jabat tangan idol)
Dibaca 3 — 17:35
(Satoshi kelihatan senang banget, sambil tersenyum lebar di acara jabat tangan!)
Grup Shihou (4)
Dibaca 3 — 18:10
(Sepertinya Satoshi menyukai perempuan tipe idol)
Dibaca 3 — 18:10
(Aku juga akan jadi idol! Aku ingin didukung oleh Satoshi! Aku ingin dia datang ke acara jabat tanganku!)
Dibaca 3 — 18:40
(Aku pulang lebih cepat dari Satoshi. Tidak ada bukti pasti soal perselingkuhan)
Dibaca 3 — 19:20
(Satoshi sudah pulang)
Dibaca 3 — 20:30
(Entah kenapa Satoshi terlihat sedang dalam suasana hati yang baik)
Dibaca 3 — 20:30
(Kira-kira dia sedang mengingat apa ya?)
21:00
(Untuk sementara… aku menari liar di atas Satoshi)
21:00
(Sepertinya aku punya bakat dalam menari)



Posting Komentar