no fucking license
Bookmark

Kukkoro Prolog

“Ku… kor…” 

Itu adalah sebuah misteri dunia, sekaligus harta terbesar dalam sejarah umat manusia selama puluhan ribu tahun.

Sosok wanita yang mulia, meskipun kalah dari musuh yang dibencinya, tetap berusaha kuat dan mempertahankan harga dirinya—pemandangan itulah yang membuat para pria terhormat berdehem-dehem sambil menahan napas bersemangat.

“Ku… kor…” itu seperti bunga sakura—indah namun fana. Kilauannya mungkin hanya sesaat, bahkan lebih singkat dibandingkan permata.

Namun, justru pada momen itulah, ia memancarkan cahaya paling terang di dunia.

Dan aku, Usami Shun, adalah salah satu orang yang hatinya telah direnggut oleh “ku… kor…”.

Aku hanyalah siswa SMA biasa yang bisa ditemukan di mana saja, tetapi seluruh uang sakuku habis hanya untuk membeli manga dan doujinshi yang menampilkan heroine “ku… kor…”.

Meski begitu, hatiku tetap tidak pernah merasa cukup. Aku terus mencari “ku… kor…” tanpa henti.

Bahkan sampai nekat mengambil banyak pekerjaan paruh waktu meski tidak pandai bersosialisasi, lalu menghabiskan seluruh gajiku untuk “ku… kor…”.

Aku adalah seorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai “penggemar garis keras ku… kor…”.

Ini adalah kisah tentang aku—seorang penggemar fanatik—yang terus berjuang hanya demi bisa melihat “ku… kor…”.

◇◆◇

“Fuah…”

Pagi hari, seperti biasa aku berjalan di jalan menuju sekolah sambil menguap, lalu mengusap air mata di sudut mataku.

Penelitianku kemarin benar-benar menarik sampai aku terlalu larut dan jadi kurang tidur.

“Haha, kurang tidur lagi ya, Shun?”

Yang menyapaku adalah sahabatku, Tamura Issei.

Issei juga menyukai “ku… kor…” seperti aku, dan sejak mengetahui selera masing-masing saat masuk SMA, kami langsung akrab.

Bisa dibilang dia adalah sahabat seumur hidupku.

“Aku sedikit terlalu serius dalam riset semalam. Mau lihat? Ini chapter terbaru dari manga yang lagi ramai dibicarakan di kalangan ku… kor….”

Aku menunjukkan layar ponselku kepadanya, tapi Issei malah tersenyum penuh percaya diri.

Lalu dia juga menunjukkan ponselnya.

Di sana, terpampang chapter manga yang sama.

“Fufu… kamu kira aku bakal melewatkannya? Tentu saja aku langsung baca begitu rilis kemarin!”

“Ooh…! Tapi kamu masih kalah. Ini tahu nggak?”

Aku menyimpan ponselku, lalu mengeluarkan sebuah buku dari dalam tas dengan hati-hati.

Itu adalah doujinshi yang kutemukan di sebuah event baru-baru ini, dan biasanya kusimpan sebagai koleksi berharga di rak kamarku. Hari ini entah kenapa aku membawanya.

“A-apa itu?!”

“Ini karya dari penulis yang belum terlalu terkenal. Tapi gambar, alur, dan penyusunannya luar biasa! Terutama ekspresi heroine saat kalah dari musuh—meski terlihat frustrasi, hatinya tetap tidak goyah! Mau baca?”

“O-ohh…! S-serius mau kamu pinjamkan?!”

“Fufu, kita kan teman. Tentu saja boleh.”

Aku menyerahkan doujinshi itu.

Issei menerimanya dengan tangan gemetar, lalu mulai membaca dengan penuh perhatian.

Melihatnya memperlakukan buku dengan hati-hati seperti itu membuatku senang. Memang menyenangkan punya teman yang sepemikiran.

Aku menunggu dengan penuh antusias sampai dia selesai membaca.

Tak lama kemudian, ia menutup buku itu dan mengangkat wajahnya dengan mata berbinar.

“Ini luar biasa! Penulisnya jenius!”

“Fufufu… kan?”

“Iya! Aku jadi penggemarnya! Karya berikutnya pasti aku beli!”

Melihat reaksinya, aku merasa keputusan meminjamkannya sangat tepat.

Saat pertama kali aku membaca ini, aku juga terkejut.

Cerita tanpa unsur “ku… kor…” pun sebenarnya sudah bagus, tapi proses menuju adegan itu, alasan heroine tidak boleh kalah—semuanya luar biasa.

Dan yang paling penting… ekspresinya.

Digambar dengan sangat halus, seindah lukisan kelas dunia di museum, tapi tetap mempertahankan kebanggaan dan kekuatan seorang ksatria wanita.

Sempurna.

Tak ada cela.

Penulis ini pantas disebut sebagai jenius tersembunyi dalam dunia “ku… kor…”.

Tidak, aku ingin menyebutnya begitu.

Ini adalah karya luar biasa yang hanya tinggal menunggu dikenal luas.

Aku bahkan ingin memuji diriku sendiri karena tidak melewatkan tulisan kecil “ku… kor…” di stan kecil itu.

Tulisan yang sangat kecil…

Kalau bukan aku, pasti terlewat.

“Nanti ada event yang katanya dihadiri penulis ini. Mau ikut?”

“Mau! Aku pasti ikut!”

“Baiklah. Tanggalnya hari ini, kamu bisa?”

“Kalau ada jadwal lain, bakal aku kosongkan!”

Issei mengacungkan jempol dengan senyum ceria tanpa dasar.

Aku hanya bisa berpikir, ini orang beneran nggak apa-apa?

…tapi aku juga sama saja, jadi tidak bisa komentar.

Mencari bahan “riset ku… kor…” adalah prioritas utama.

“Ngomong-ngomong, kamu hebat ya, Shun… tahu banyak karya ku… kor….”

“Sudah pasti. Membaca dan meneliti itu kewajiban bagi pecinta sejati. Jauh lebih memperkaya hidup dibanding belajar sekolah.”

“Tapi nilai kamu tetap bagus, kan? Kecuali matematika.”

Issei menghela napas.

Tolong jangan bahas matematika…

“Sudahlah, tinggalkan angka-angka itu. Kita lanjut bahas ku… kor… saja.”

“Kamu mengalihkan topik…”

Kami pun mulai bertukar informasi tentang karya terbaru.

“Jadi di bagian akhir—”

“Eh, lihat itu.”

Issei tiba-tiba menghentikanku dan menunjuk ke suatu arah.

Aku melihat ke sana.

Seorang gadis dengan penampilan mencolok sedang dikelilingi sekelompok anak nakal.

“J-jangan! Lepaskan aku!”

“Hehe… cuma mau main sebentar kok. Seru, bahkan mungkin enak juga!”

Meskipun agak jauh, suara mereka terdengar jelas.

Gadis itu terlihat berusaha melawan.

Orang-orang di sekitar hanya menonton, mungkin karena takut pada para preman itu.

“Aduh… padahal daerah sini biasanya aman…”

“Issei, tolong jagain tasku. Aku ke sana sebentar.”

“Hah? Eh, Shun—!”

Aku langsung berlari.

Situasi satu lawan banyak sebenarnya adalah “situasi favorit” dalam dunia ku… kor….

Namun, justru karena aku memahami esensinya, aku tahu satu hal:

Di dunia nyata… hal seperti itu tidak boleh terjadi.

Karena itu, aku tidak bisa pura-pura tidak melihat.

Aku sendiri terkejut bisa bergerak tanpa ragu.

Aku bukan orang kuat. Bukan juga pahlawan.

Aku hanya siswa biasa yang selalu menghindari masalah.

Namun sekarang, aku berdiri di depan mereka, melindungi gadis itu.

“Apaan lu?”

Pemimpin mereka menatapku dengan kesal.

“Aku cuma siswa biasa yang kebetulan suka ku… kor…. Dia jelas tidak mau, jadi hentikan.”

“Hah? Ngomong apa sih lu? Kita tidak ngapa-ngapain kok. Cuma ngajak main, kan?”

“Gahaha!”

“Iya, main yang enak!”

Sejujurnya… aku takut.

Aku belum pernah berkelahi.

Selama ini aku hanya hidup tenang, menghindari masalah.

Namun sekarang… aku berdiri di sini.

Pria sepertiku tiba-tiba berdiri di hadapan para berandalan.

Kalau aku menceritakan ini pada diriku yang kemarin, pasti tidak akan dipercaya.
Namun, amarah karena kukkoro diremehkan dengan mudah menghapus rasa takut dan gelisah yang tadi menyelimutiku.

“Jangan meremehkan kukkoro. Dasar sampah yang bahkan tidak punya otak di kepala.”

“Hah?”

Ekspresi para berandalan yang tadi tertawa bodoh langsung berubah menjadi serius.

Kalau biasanya, aku pasti sudah ketakutan sampai gemetar di titik ini. Tapi sekarang, kemarahan besar menggerakkan tubuhku.

“Dengar baik-baik. Kukkoro itu adalah harta suci yang diizinkan Tuhan untuk dinikmati oleh seluruh manusia di dunia ini. Karena kalian tidak bisa memahaminya, kalian cuma jadi monyet yang berpikir pakai nafsu saja.”

“Apa sih yang kau omongkan dari tadi…!”

Aku tidak peduli kalau mereka menghina diriku.

Mau dibilang culun, bodoh, atau apa pun—terserah.

Tapi satu hal yang tidak bisa kuterima adalah kukkoro, sesuatu yang lebih berharga dari nyawaku, diremehkan.

“Cih! Cepat minggir dari sana!”

“Ugh—!?”

Tiba-tiba pria yang terlihat seperti pemimpin mengayunkan tinjunya, dan sebuah benturan keras menghantam pipi kiriku, membuatku terjatuh.

Butuh beberapa detik bagiku untuk menyadari bahwa aku baru saja dipukul.

Rasa sakit yang belum pernah kurasakan selama tujuh belas tahun hidupku membuatku refleks memegangi pipi.

Namun, aku tetap berdiri dan menatap mereka dengan tajam.

“Hah? Tatapan apa itu? Sok keren banget sih.”

“Fufu… fufufu… ahahahahahaha!!!”

Tawa tiba-tiba keluar dari mulutku.

Sakit sekali. Tidak ada yang menyenangkan sama sekali. Tapi aku tidak bisa berhenti tertawa.

“Oi… orang ini agak berbahaya, ya…?”

“Matanya kayak orang gila…!”

Aku tidak peduli dengan apa yang mereka katakan.

Aku hanya mengikuti dorongan ini.

“Tidak lulus.”

“Hah?”

“Kalian tidak lulus, wahai para berandalan.”

Aku menatap mereka dan mengangkat jari telunjuk tangan kananku.

Lalu, kuarahkan jari itu ke depan wajahku.

“Menurut kalian kukkoro butuh kekerasan? Salah, salah besar. Kekerasan itu hanya bumbu. Hanya salah satu elemen untuk memperindah kukkoro. Dan situasi sekarang ini… sayangnya tidak memenuhi syarat sebagai kukkoro.”

Kukkoro itu indah karena sang heroine bertarung dengan keyakinan, mempertaruhkan segalanya melawan kejahatan, kalah—namun tetap menjaga harga dirinya.

Tapi kenyataannya sekarang, gadis ini hanya ketakutan. Ini bukan apa-apa selain perundungan kelompok. Tidak ada keindahan sama sekali.

Meskipun sama-sama situasi seorang gadis diserang, ini jelas bertentangan dengan estetika kukkoro.

“Rasakan keindahan kukkoro!!!”

Aku menyerang mereka dengan serius.

Namun, sebagai orang yang tidak pernah berkelahi, seranganku tidak mungkin mengenai mereka. Sebaliknya, aku dihajar habis-habisan.

Meski begitu, aku tetap melawan mati-matian.

“Cih! Sebenarnya orang ini apaan sih!?”

“Rasakan… keindahan kukkoro…”

“Ah, sial! Ribet banget! Mati saja kau!”

Saat pria itu berteriak—

Rasa panas yang jauh lebih hebat dari sebelumnya menghantam sisi perutku.

Rasa sakitnya adalah yang paling parah sepanjang hidupku, sampai aku tidak bisa bernapas.

(Sakit… aku… tidak bisa… bernapas…)

Ketika kulihat, sebuah pisau tertancap di sisi perutku.

Darah terus mengalir tanpa henti, dan aku pun jatuh tersungkur.

Kesadaranku mulai memudar. Aku bisa merasakan kematian semakin dekat.

(Ah… jadi aku mati di sini ya… setidaknya… aku ingin melihat kukkoro yang asli sekali saja…)

Di sanalah kesadaranku terputus—

◇◆◇

Saat aku membuka mata, yang terlihat adalah langit-langit yang asing.

(A-apa… ini di mana…? Kenapa aku bisa… di sini…?)

Kepalaku terasa kosong, tubuhku tidak bisa digerakkan dengan baik.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi, tapi perlahan ingatanku kembali.

(Ah iya… aku ditusuk berandalan… jadi aku selamat…?)

Kalau memang begitu, mungkin akan dimulai romansa dengan gadis yang kuselamatkan—pikirku sesaat.

Namun saat mencoba menggerakkan tubuh, aku menyadari sesuatu.

Tubuhku tidak bisa digerakkan dengan baik.

Seperti tidak ada tenaga. Leherku tidak bisa diputar, dan penglihatanku agak kabur.

“Geralt! Kamu sudah bangun!”

Hah? Geralt? Siapa itu…?

Saat aku kebingungan, seorang wanita mendekat.

Wanita cantik berusia sekitar dua puluhan dengan rambut cokelat lembut.

Auranya lembut dan kalem. Jujur saja, meskipun cantik, dia bukan tipe favoritku yang suka wanita kuat ala kukkoro.

Situasi di mana seorang wanita asing memanggil nama yang tidak kukenal sambil menatapku membuatku bingung.

Apa yang sebenarnya terjadi…?

“Oh… Geralt…! Kamu sudah sadar. Waktu kamu demam tinggi kemarin, kami sangat khawatir.”

“Iya, syukurlah kamu baik-baik saja…”

Sekarang bahkan ada pria tampan datang.

Dia terlihat seperti pria elegan, memeluk bahu wanita itu—mungkin mereka pasangan suami istri.

Iri banget aku, sialan.

Tapi kalau mereka yang menolongku, aku harus berterima kasih.

“A… ba… da…”

(?! Suaraku… tidak keluar!?)

Lidahku tidak bisa bergerak dengan baik, dan suara yang keluar bahkan terasa bukan milikku sendiri.

Apa yang terjadi dengan tubuhku…?

“Ara ara, Geralt kenapa?”

“Haha, sehat itu bagus, bukan?”

Wanita itu dengan mudah mengangkat tubuhku.

Eh… tunggu…

Kenapa tubuh mereka besar banget!?

Tinggi badanku sekitar 170 cm, lho…

Saat aku masih kebingungan, aku melihat sebuah cermin di belakang—

dan apa yang terlihat di sana membuatku terkejut.

(Hei… yang mereka gendong itu bayi, kan…? Kalau begitu… jangan-jangan…)

Orang yang sedang digendong wanita itu—

adalah aku sendiri.

Dan saat itu, aku sampai pada satu kesimpulan.

(Jangan-jangan ini… reinkarnasi ke dunia lain!?)

Aku kehilangan kata-kata menghadapi situasi yang sama sekali tidak pernah kubayangkan ini—
Posting Komentar

Posting Komentar