no fucking license
Bookmark

Selingan Classmate Bishoujo

 Hari setelah Tomoya Kuruguki berhenti datang ke rumah Yume Izuha.

Di pagi hari, Yume melangkahkan kaki telanjangnya ke lantai ruang tamu dan terkejut dengan betapa luas dan sunyinya ruangan itu.

Justru karena masih ada sisa-sisa kehadiran bocah laki-laki yang menghabiskan waktu sebulan bersamanya, kekosongan yang ditinggalkannya kini terasa makin menyakitkan.

Hari-hari bersamanya terlalu menyenangkan.

Biasanya dia akan langsung masuk kamar dan tenggelam dalam berselancar di internet, tapi hari ini rasanya dia tidak bisa melakukan itu.

Sebaliknya, dia duduk memeluk lutut di atas sofa tempat dia dan Tomoya pernah tertidur bersama, hanya mendengarkan suara jam dinding yang setia bekerja.

Sudah pasti, Tomoya tak akan lagi menekan bel rumah keluarga Izuha.

Waktu yang dijanjikan telah lewat, dan Yume menghela napas panjang dari dalam dadanya.


"Jadi… ruangan ini ternyata seluas ini dan sesunyi ini, ya. Bukannya aku nggak tahu, cuma… aku lupa saja."


Hari pun berlalu dalam kebingungan itu—satu hari, dua hari, tiga hari—hingga lembaran kalender pun terus berganti.

Begitulah, sampai akhirnya Yume menginjak usia enam belas tahun.


Dulu, dia lebih menyukai ulang tahun ketimbang Natal atau malam tahun baru.

Namun tahun ini, ulang tahunnya terasa begitu hambar.

Tak ada kue ulang tahun, dan tak ada satu pun orang yang mengucapkan selamat.


Ibunya tercinta…

"Yume, selamat ulang tahun. Ayo kita buat bento dan pergi ke laut lagi tahun ini."


Ayahnya tercinta…

"Nanti malam kita beli kue, ya. Papa udah pesen yang gede banget di toko."


Suara mereka seakan menggema di benaknya, membuat Yume menoleh ke sekeliling ruangan kosong itu.

Yang tersisa hanyalah kesunyian yang menusuk hingga ke tulang.

Tak ada siapa pun di sana.


Yume tahu bahwa kedua orang tuanya sudah tiada di dunia ini.

Namun, mereka masih hidup di dalam hatinya.

Dia bisa merasakan kehadiran mereka, walau tak bisa melihat atau menyentuh mereka.


Dan itu… membuatnya bahagia sekaligus sangat sedih.

Sebuah kenyataan yang begitu kejam.


Andai saja dia bisa melupakan semuanya, hidup pasti akan lebih mudah.

Tapi bahkan untuk melupakan hal-hal kecil pun, dia tak sanggup.


Tidak, bahkan mati pun dia tak ingin melupakan.


"Ah, nggak boleh. Ini nggak bagus. Bahaya ini."


Sesuatu terasa menyayat luka di hatinya, dan Yume buru-buru menyeka matanya.

Hanya dengan satu sentuhan ringan di kelopak mata, telapak tangannya sudah basah oleh air hangat.


"Y-ya udah deh. Ini kan hari ulang tahunku. Harusnya makan enak, ya. Iya, itu ide bagus. Kayaknya lagi tren makan yakiniku sendirian. Habis itu mampir beli manga di toko buku, terus ngopi elegan di kafe kece. Pasti seru, ya. Seru… walau sendirian."


Setelah berhari-hari hanya memeluk lutut di rumah, akhirnya Yume memutuskan keluar di sore hari.

Dia mandi sekadarnya, memakai pakaian yang rapi, lalu berjalan keluar dengan langkah ringan.


"Aku tahu di sana ada restoran enak, tapi hari ini mau coba yang baru, ah."


Dengan alasan itu, dia membelok ke kiri.

"Aku cium bau enak dari arah sini, nih."


Alasan lain, dia berjalan lurus terus.

Dan tempat yang akhirnya dia tuju bukanlah restoran yakiniku mahal, bukan juga toko buku favorit atau kafe trendi—melainkan sekolah yang sejak masuk belum pernah dia datangi.


Sebenarnya, itu bukan sekadar "kebetulan".

Yume tahu pasti bahwa Tomoya ada di sana.


Dia tak butuh daging panggang atau kue ulang tahun.

Yang dia inginkan hanya melihat wajahnya, walau sekali saja.

Mendengar suaranya, walau sepatah kata.

Dipanggil namanya.


Tomoya mungkin tidak tahu bahwa hari ini ulang tahun Yume, jadi dia pasti tidak akan bilang "selamat ulang tahun".

Tapi kalau Yume bisa melihat wajahnya, dia yakin setidaknya akan disapa.


Meskipun pekerjaan part-time-nya sudah selesai, hal seperti itu… mungkin tidak masalah untuk diminta, bukan?


Tolong… tolong izinkan aku bersikap egois sedikit saja.

Karena itu saja cukup untuk membuatku merasa tidak sendiri.

Cukup untuk membuatku kuat lagi.


Namun kenyataan kembali memperlakukan Yume dengan kejam.


Di balik pagar, Yume melihat wajah Tomoya.

Entah kenapa, dia membawa tiga kardus.


Saat hendak memanggilnya, suaranya menguap begitu saja di udara musim panas.


Dia tidak sendiri.


Bersamanya, ada gadis cantik yang pernah Yume temui saat kencan pertama dan terakhir mereka.


Mungkin Tomoya mengucapkan sesuatu yang lucu, karena gadis itu menepuk pundaknya.

Tomoya membalas sesuatu.

Gadis itu pura-pura cuek dan berjalan lebih dulu.

Tomoya segera menyusul.

Mereka terlihat saling mengerti.


Gadis itu berjalan pelan, seakan tahu Tomoya akan menyusulnya.

Tomoya pun langsung menyusul, berkata sesuatu, berbicara.

Gadis itu mengambil salah satu kardus dari tangannya.


Mereka tampak sedikit lesu, tapi di mata Yume, Tomoya seperti sedang tersenyum.

Dan karena itu, gadis di sampingnya pun ikut tersenyum.


Suara tawa pelan mereka seolah bisa terdengar sampai ke sini.


Mereka berdua ada dalam cahaya.

Berjalan bersama ke arah gudang olahraga dan segera menghilang dari pandangan.


Hanya puluhan meter, tapi terasa begitu jauh.


Dari balik pagar, Tomoya tak melihat Yume.


"Benar juga, mereka kan teman sekelas..."


Shion-chan bisa bertemu Tomoya setiap hari.

Enaknya.


Shion-chan bisa bersama Tomoya tanpa perlu membayar sepeser pun.

Enaknya.


Shion-chan adalah teman sungguhan.

Bukan hubungan palsu seperti aku dan Tomoya.


"...Enaknya."


Kata itu lolos dari mulut Yume, lalu dia mulai berjalan ke arah berlawanan dari Tomoya.

Dia tak sanggup lagi menahan diri.


"Ah… aaaah… aaaa… aaaaaaaaaaaaahhh—!!"


Tak mungkin bisa menahan tangis.

Air mata tumpah.

Pipinya basah.


Dia sadar bahwa dirinya benar-benar sendirian.


Manusia baru menyadari kesepian setelah pernah bersama seseorang.

Jika sejak awal sendiri, takkan terluka.


Yang menyakitkan adalah kekosongan yang ditinggalkan setelah seseorang pergi.

Keinginan untuk tetap bersama—itulah yang menyakitkan.


Padahal dia sudah tahu.

Namun kini, Yume kembali menjadi benar-benar sendiri.


"Aku salah… Hal sesederhana ini, kenapa aku nggak sadar dari awal, sih? Sekalipun pinter belajar, aku tetap bodoh. Bodoh, bodoh... benar-benar bodoh."


Orang-orang yang lewat menatap gadis yang menangis itu, namun tak ada yang berhenti.

Di dunia yang luas ini, Yume kini tak punya siapa pun yang akan menghapus air matanya.

Dan karena itu, air matanya tak kunjung berhenti.

Posting Komentar

Posting Komentar