no fucking license
Bookmark

Bab 7 Classmate Bishoujo

 "Eh, Izuha. Maaf, tapi minggu depan sepertinya aku tidak bisa datang selama empat hari. Boleh ya?"


Seperti biasa setelah selesai shift, aku mengatakan itu pada Izuha yang selalu repot-repot mengantarku sampai ke pintu masuk.


"Kenapa emangnya?"


"Soalnya ada ujian akhir semester. Jadi aku harus belajar dulu sebelum harinya tiba."


Bukan karena ayahku memaksaku belajar atau semacamnya. Orang itu sudah tidak peduli dengan nilai-nilaiku, mau seperti apa pun hasilnya.


Yang justru lebih cerewet soal itu adalah atasan kami, Kohaku-san. Dia tidak suka kalau aku menghabiskan masa remajaku cuma buat kerja paruh waktu.


Makanya, supaya dia tidak banyak menuntut, aku tetap harus menjaga nilai supaya tidak jatuh. Kalau sampai nilainya anjlok, bisa-bisa dia bilang, "Kalau nilaimu turun, lebih baik kurangi dulu kerja part-timenya, ya?"


Lalu ada juga Chikamatsu. Alasan dia tidak terlalu keras padaku juga ada hubungannya sama nilai.


Hak datang karena kewajiban dijalankan. Kalau aku mengabaikan kewajiban tapi tetap nuntut hak, itu tidak benar.


Lagian, aku juga punya cita-cita buat kerja dan dapat uang di perusahaan bagus suatu hari nanti. Buat itu, latar belakang pendidikan tetap penting.


Yang paling penting, kalau aku sampai dapat nilai merah, aku harus ikut kelas tambahan, dan itu bakal mengurangi jam kerjaku.


Mengorbankan keuntungan besar demi hasil sesaat itu bodoh, kan? Kamu juga setuju, ‘kan?


Tapi, kali ini alasannya agak beda.


"Soalnya, aku diajak ikut kelompok belajar sama anak sekelas. Kupikir, sekali-kali ikut aja."


"Wah, bagus tuh. Kalau itu alasannya, aku paham. Semangat ya!"


"Sebenernya sih, belajar sendiri lebih efisien. Tapi yang ngajak itu anak yang ranking dua pas ujian masuk."


"Heeh. Jadi orang itu cuma satu peringkat di bawahku, ya."


"...Hah?"


Aku bengong. Perlu waktu beberapa detik buat mencerna apa yang barusan dia katakan.


Barusan... dia bilang apa?


"Kenapa liat aku kayak gitu? Walau begini, aku cukup percaya diri dalam pelajaran, lho."


"Maksudmu... jadi peringkat satu waktu ujian masuk itu kamu?"


"Ya memang. Aku bahkan sempat diminta pidato sebagai perwakilan siswa baru di upacara masuk sekolah. Tapi karena waktu itu aku udah mutusin buat nggak datang ke sekolah, jadi aku tolak."


Ngomong-ngomong, Yuubara juga pernah bilang begitu. Katanya karena ranking satu menolak, akhirnya Yuubara yang ranking dua ditunjuk buat pidato.


"Jangan-jangan, kamu selama ini nganggep aku anak bodoh ya?"


"Iya, aku emang nganggep gitu. Dan sekarang juga masih."


"APA KAMU BILANG TADI!?"


Setelah itu, suasananya jadi ribut.


Izuha marah-marah sambil bilang aku jahat berulang kali.


Aku buru-buru minta maaf, tapi karena nada suaraku kayak ogah-ogahan, dia malah makin kesal.


Dia terus-terusan manggil aku, "Kuguruki bodoh~!" kayak anak SD yang lagi ngambek.


Jadi anak ini... dulunya calon perwakilan murid baru?


Apa jangan-jangan sekolah kita ini sebenarnya standar akademiknya rendah?


Padahal katanya sekolah ini top tier di daerah sini...


"Hmm~ hmm~ hmm~. Kalau kamu ngomong sampai segitunya, aku yang bakal bantuin kamu belajar deh. Belajar sama ranking satu pastinya lebih baik daripada sama ranking dua, ‘kan?"


"Tapi, meskipun itu benar..."


"Itu memang benar!"


Izuha yang terus ngoceh itu akhirnya bisa aku tenangkan.


"Tapi kamu ‘kan nggak ikut kelas, jadi pasti nggak paham pelajaran SMA."


"Aku tetap belajar sendiri, kok. Kalau materi tahun pertama, aku paham semua. Malah aku rasa lebih unggul dibanding kamu yang belajarnya ngikutin kurikulum sekolah."


Sebagai percobaan, aku kasih soal matematika yang baru diajarin tadi siang di kelas.


Dia ngerjainnya cepat dan tepat, tanpa kelihatan ragu sedikit pun.


Cara dia muter-muterin penanya juga kelihatan keren banget, kayak orang yang udah biasa.


"...Ternyata kamu nggak sebodoh kelihatannya, ya."


"Kuguruki-kun itu jahat banget!"


Mata Izuha menyipit tajam, kayak ujung jarum.


"Dan lagi, belajar bareng itu kesannya kayak teman deket gitu, ‘kan? Sekali-kali punya momen kayak gitu juga penting. Tenang aja, aku tetap bayar kok."


Satu sisi, belajar bareng anak yang terasa asing meskipun ranking dua.


Satu sisi lain, belajar bareng ranking satu dan dibayar pula.


Jelas banget pilihan mana yang lebih menguntungkan buatku.


***


Keesokan harinya.


“Uh, Yuubara. Boleh bicara sebentar?”


Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku yang memulai pembicaraan dengannya. Mungkin karena itu juga, Yuubara, yang sedang duduk di kursinya dan mempersiapkan pelajaran selanjutnya, menatapku dengan ekspresi terkejut.


Mulutnya terbuka lebar, sementara bulu matanya yang panjang berkedip-kedip cepat.


“A-Ada apa? Jarang banget kamu nyapa aku duluan, Kuguruki-kun.”


“Soal undangan belajar kelompok yang kamu tawarkan tempo hari…”


“Kamu akhirnya semangat juga? Mau kapan? Aku sih kapan aja oke!”


Wajahnya langsung bersinar cerah.


Jujur saja, aku berharap dia tidak terlihat sebahagia itu.


Soalnya sekarang aku harus menolak ajakannya.


“Eh, ternyata aku tidak bisa ikut… Soalnya kerja part-time-ku nggak bisa diganggu.”


“Oh, begitu ya…”


Kegembiraan yang terpancar di wajahnya lenyap seketika, dan mendadak aroma hujan memenuhi udara meski kami sedang di dalam kelas. Bukan bau hujan yang segar, tapi lembap dan pengap seperti hujan gerimis musim panas yang menyelinap ke dalam kulit. Pertanda hujan deras akan datang.


Saat hujan turun tiba-tiba, manusia hanya bisa pasrah kehujanan.


Aku sempat khawatir pipi Yuubara juga ikut basah karena air mata.


Tentu saja, itu tidak terjadi.


“Maaf ya. Padahal kamu udah repot-repot ngajak.”


“Ga-Gak apa-apa kok. Aku juga sebenarnya... ya, gak terlalu peduli…”


Tapi dari cara dia memalingkan wajah dengan cepat, jelas dia tidak benar-benar tidak peduli.


Dan kalau dia membuang muka begitu, aku jadi tidak tahu ekspresi apa yang sedang dia tunjukkan.


“Begitu ya.”


“Iya, begitu.”


“Ya udah, cuma mau ngomong itu aja.”


Ini akhirnya.


Sama seperti yang lain, Yuubara mungkin tidak akan pernah mengajak bicara aku lagi setelah ini. Ini semua salahku sendiri, dan aku yang memilih jalan ini, jadi seharusnya aku tidak menyesal.


Namun, tepat saat aku hendak melangkah pergi, suara Yuubara menahanku dari belakang.


“Eh… Menurut kamu, aku ini nyebelin ya?”


“Ha?”


Aku menoleh.


Tapi dia masih belum menatapku.


“Kayak, aku sering banget nyapa kamu. Aku mikir jangan-jangan kamu risih atau nggak suka…”


“Bukan gitu kok.”


“Beneran?”


Beneran, Yuubara.


Aku cuma bingung karena nggak pernah bisa membalas perasaan baikmu dengan layak.


“Mungkin kamu susah percaya, tapi aku senang kok waktu kamu ngajak. Aku bener-bener senang. Kalau aku nggak ada shift kerja, aku pasti ikut.”


“Begitu ya…” gumam Yuubara lirih. “Begitu ya, begitu ya…” Suaranya terdengar hangat.


“Oh iya. Hampir lupa. Harusnya aku bilang ini dari tadi. Terima kasih udah ngajak, ya.”


“Kalau begitu… boleh nggak, kalau lain kali aku ngajak lagi?”


Akhirnya, Yuubara menatap ke arahku.


Matanya terbuka lebar, memantulkan sosokku seorang diri.


Aroma hujan itu sudah menghilang.


“Kemungkinan besar aku bakal nolak lagi, lho? Kamu tahu kan, aku sering kayak gitu.”


“Gak masalah. Aku orangnya susah nyerah. Sampai kamu mau, aku bakal terus ngajak!”


Sepertinya, aku selama ini salah paham tentang gadis bernama Yuubara Shion ini.


Yuubara ternyata jauh lebih kuat dan jauh lebih baik dari yang aku kira.


Mungkin bukan penampilannya, tapi itu—itulah keindahan sejatinya.


Dan mungkin sekarang, aku akhirnya tahu kenapa selalu ada banyak orang di sekelilingnya.


“Kalau kamu nggak keberatan, aku juga nggak punya alasan buat nolak.”


“Ih, apa sih itu. Gak jujur banget.”


“Memang. Aku orangnya nggak jujur.”


Begitu aku bilang begitu, Yuubara tertawa kecil, “Ahahaha!”


“Kamu aneh deh. Malah jujur pas ngomong gitu.”


“Kamu cewek yang hebat, Yuubara. Aku suka tipe yang kayak gitu.”


“S-Suka!? Maksudnya gimana…!? Eh, nggak, nggak. Aku ngerti kok. Iya, ngerti…”


“Kamu kenapa panik?”


“Be-bebe-bebas aja kalau kamu suka aku atau nggak, nggak penting kok!”


Seperti biasa, dia jelas-jelas tidak terlihat ‘nggak peduli’.


Mungkin ini yang disebut... tsundere.


* * *


Nah. Jadi, sepulang sekolah di hari saat aku bicara dengan Yuubara, sesi belajar bareng dengan Izuha akhirnya dimulai—atau setidaknya, itu rencananya.


Tapi sebelum dimulai pun, sudah ada drama. Jadi dengarkan ceritaku dulu.


Saat aku datang dengan tas yang lebih berat dari biasanya—penuh dengan buku pelajaran dan kumpulan soal—yang menyambutku adalah Izuha… yang tampak sangat berbeda dari biasanya.


"Apa-apaan itu?"


Aku berdiri terpaku dengan ekspresi kelelahan, sementara Izuha menaikkan kacamatanya dengan gaya keren.


Ia mengenakan blus putih dan rok mini ketat. Tentu saja—aku bahkan tidak tahu kenapa ini terasa "tentu saja"—kakinya yang panjang terlihat jelas dibalut stoking hitam tipis. Yang denier-nya rendah, tipis sekali.


"Ini cosplay guru," katanya sambil berbangga diri.


Sudah kuduga. Aku tahu dari awal.


"Jadi beneran cosplay, ya?"


"Kenapa? Gimana? Keren, kan? Blus dan roknya punya ibu, tapi kacamata dan stokingnya aku beli sendiri, lho!"


"Bego amat..."


"Silakan bilang apa aja."


Biasanya Izuha akan cemberut kalau aku meledek begitu, tapi kali ini dia tampak senang banget dan menanggapi dengan santai.


Ia bahkan berdiri di depan kaca pintu masuk rumah dan mengecek penampilannya dengan teliti.


"Ah~ seharusnya aku beli blus baru juga, ya. Bagian dada agak sempit nih..."


Dan saat dia mengarahkan tangannya ke kancingnya, aku panik dan segera menghentikannya, "Tunggu, tunggu! Mau ngapain?!"


Aku benar-benar terpancing oleh umpan besarnya.


Dengan ekspresi puas, mata Izuha menyipit, jelas dia sedang menikmati mempermainkanku.


"Nee, Tomoya-kun. Kalau kamu bisa dapet peringkat satu di ujian, ‘bu guru’ bakal kasih hadiah spesial~♡"


Dia membuka satu kancing dan membisikkan itu dengan suara manis yang dibuat-buat.


Dan karena suara manis yang dibuat-buat itu, efeknya sangat manjur.


Dalam sekejap, pikiranku dipenuhi oleh bayangan imajinasi berwarna pink.


"Ahahaha. Mukamu merah banget. Imut~"


Tapi ini bukan salahku, kan? Cowok seumuranku—yah, mungkin dua setengah juta remaja cowok di seluruh Jepang—pasti pernah menghayal hal kayak gini.


"Lu..."


"Kyaaa~ nggak boleh, lho. Kita kan guru dan murid. Jangan bertindak kasar kayak di ‘buku tipis’. Lawan hasratmu. Tolong, jangan kalah sama pesonaku~"


"Padahal kamu yang mulai duluan. Dan aku juga nggak niat ngelakuin hal aneh, sumpah."


...Serius, aku gak bercanda.y,,


"Eh? Aku cuma bilang kasih hadiah, lho? Yang mesum itu kamu, Tomoya-kun. Kamu yang salah paham sendiri. Dasar, m-e-s-u-m~"


"Dan kamu, jangan baca ‘buku tipis’ begituan. Masih di bawah umur, tahu!"


"Tapi kamu tahu apa itu ‘buku tipis’, kan? Jadi kamu juga tahu isinya. Jadi kita sama aja. Sama-sama bersalah. Debat selesai."


...Kalau dibilang begitu, aku nggak bisa balas.


Kenapa hari ini dia cerewet banget? Efek cosplay, ya?


Aku cuma bisa menyesali masa laluku yang pernah nyimak pembicaraan para otaku di pojok kelas tentang hal-hal kayak gini, cuma karena aku gabut saat itu.


Meski aku belum pernah baca “buku tipis”, minimal aku punya video dan gambar mesum di laptop—jadi tetap aja, aku juga bersalah. Aku nggak punya hak menyalahkan Izuha.


Aku masuk ke ruang tengah dan duduk.


"Udahlah. Ayo mulai belajarnya."


"Okaaaay~"


Izuha mengerti itu tanda aku nyerah, dan dia langsung duduk di sampingku dengan patuh.


Akhirnya—akhirnya—sesi belajar dimulai.


Aku sempat berpikir kalau cara ngajarnya jelek, aku bakal komplain saat pulang nanti. Tapi ternyata, di luar dugaan, dia ngajarinya jago banget.


Dia bisa langsung paham kenapa aku nggak ngerti, dan membimbing pikiranku ke arah yang tepat.


Bahkan soal yang selama ini nggak pernah bisa aku pecahkan, tiba-tiba bisa aku jawab dengan benar.


"Kamu kok kayak udah biasa banget ngajarin orang, ya?"


"Yup. Dulu waktu aku masih sekolah, aku suka bantuin temen yang susah belajar. Lagian, ibuku juga guru."


"Serius?"


"Iya. Aku juga sering diajarin langsung sama beliau waktu kecil."


Sambil menyibakkan rambut ke telinga, Izuha tersenyum lembut.


Wajahnya tampak serius—mungkin bahkan lebih serius dari aku yang jadi muridnya.


Andai saja dia selalu menampilkan wajah seperti itu.


Tentu saja, aku nggak akan bilang langsung.


"Ada apa, Tomoya-kun?"


"Nggak. Nggak ada apa-apa."


Aku pura-pura cuek karena nggak mau ketahuan lagi terpesona sama wajah sampingnya.


Tapi Izuha malah senyum menyeringai.


Hari ini dia kayaknya peka banget. Mungkin dia bisa ngerti bahkan arti pandanganku.


Aku menelan ludah.


"Hehee~ aku tahu kok. Kamu pengen tahu cara ngerjain soal yang ini juga, ya?"


...Bukan. Salah banget.


Tapi mending aku ikuti aja salah paham ini.


"Benar. Kamu jago juga nebaknya."


"Nggak bisa nolak, deh. Jadi, gini ya..."


Dan begitulah—meski awalnya kacau, hari pertama belajar bareng jadi jauh lebih bermanfaat dari yang aku kira.


Bukan cuma hari pertama. Hari kedua, ketiga, keempat... semakin lama, aku merasa pemahamanku semakin dalam.


Dan kalau sudah bisa memahami, belajar jadi menyenangkan.


Rasanya sedikit seperti main game.


Kalau nggak bisa jawab, cari metode baru. Ulang terus sampai berhasil. Bahkan kalau lagi tiduran dan tiba-tiba nemu cara baru, aku langsung bangkit dan ambil pensil.


Ternyata aku ini tipe yang kalau fokus, hal lain nggak kelihatan.


Tapi kalau terus begini, jelas ada batasnya.


Saat ujian tinggal dua hari lagi, aku mulai kena imbas dari begadang terus-menerus.


Kepalaku seperti dipenuhi kabut. Aku nggak tahu lagi harus mikir apa. Tiap kali nahan ngantuk, rasa kantuk malah makin berat.


Aku tahu, ‘si kantuk’ sudah bersiap untuk menjatuhkanku ke lubang tidur.


"Hari ini kamu ngantuk banget, ya? Gak apa-apa?"


Jujur, sejak tadi aku dengar suara Izuha kayak lewat telinga aja. Nggak masuk otak.


Ngantuk. Aku cuma... ngantuk.


Aku bahkan nggak yakin, apakah aku benar-benar berhasil mengucapkan "nggak apa-apa".


"Kayaknya nggak bisa dipaksain, ya. Istirahat dulu, deh. Aku buatin kopi, ya."


Aku bahkan nggak punya tenaga buat bilang terima kasih.


Begitu Izuha pergi, rasa kantuk langsung menggila.


Seakan-akan dia menunggu saat itu.


Dalam sekejap, pertahanan runtuh, dan kesadaranku diserbu.


Seperti dipukul dari belakang dengan keras, aku langsung KO.


Tubuhku sangat lelah. Aku bahkan nggak bisa megang pensil. Pandanganku miring. Dunia diselimuti kegelapan. Meski kepalaku membentur meja, aku nggak merasa sakit. Justru lega, karena akhirnya aku bisa berhenti menopangnya.


Di suatu tempat dalam pikiranku, aku mendengar suara—tring—seperti benang yang putus.


Dan seperti itu, aku pun terlelap, seolah kehilangan kesadaran.


***


Aku bermimpi.


Izuha mengenakan seragam sekolah dan berada di kelas yang sama denganku.


──Ya.

Itu mimpinya.


Kalau tidak salah, menyadari bahwa kita sedang berada dalam mimpi seperti ini disebut mimpi jernih, atau lucid dream. Karena aku sedang berada di dalam mimpi, rasa kantuk berat yang tadi sempat menggangguku kini sama sekali tidak terasa.


Meski hanya mimpi, di dalam kelas aku tetap sendirian seperti biasa.


Sementara itu, Izuha dikelilingi oleh teman-teman sekelas dan terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.


Itu adalah pemandangan yang, pada dasarnya, mungkin saja terjadi di dunia nyata.


Dengan wajah seperti itu, penampilan seperti itu, dan kepribadian seperti itu…


Kalau saja Izuha benar-benar datang ke sekolah, dia pasti langsung jadi pusat perhatian.

Kalau dia punya banyak teman, tentu dia tidak perlu membayar untuk berteman dengan orang sepertiku yang kesepian ini.


Izuha Yume yang seperti itu bagaikan bulan yang menggantung di langit malam—indah, namun tak tergapai olehku.


Sesekali, aku hanya bisa termenung melihat seisi kelas, dan memandang Izuha bukan sebagai Izuha Yume, melainkan hanya salah satu teman sekelas tanpa nama.

Hubungan kami pun tetap tak bersinggungan. Tapi kemudian—


『Hari ini, pulang bareng, ya』


Tiba-tiba, Izuha yang sedang dikelilingi teman-teman mengisyaratkan sesuatu kepadaku secara diam-diam, agar tidak ada yang menyadarinya.


『Oke』


『Kalau begitu, kita ketemu di tempat biasa, ya. Jangan pulang duluan. Pokoknya jangan』


『Iya, iya』


Izuha terlihat puas dengan jawabanku, lalu kembali bercengkerama dengan teman-temannya.


Bahkan dalam mimpi pun, hubungan kami tetap sebagai teman.


Dan seperti di dunia nyata, tidak ada satu pun teman sekelas yang tahu tentang hubungan itu.


“Ah~ ah, sebentar lagi ujian ya. Menyebalkan deh.”


“Kamu enak, Yume. Kamu kan pintar.”


“Aku justru khawatir nggak bisa dapat peringkat pertama lagi di ujian kali ini. Hmph. Seorang jenius juga punya masalahnya sendiri, tahu.”


“Jenius apanya, sih.”


Sesuai janji, kami pulang bersama berdua.


Dengan gaya kekanak-kanakan, Izuha berjalan di sampingku sambil melompat-lompat, berusaha menginjak bayangan kepala yang memanjang dari tubuhku. Setiap kali dia melompat, rok seragamnya mengembang besar. Garis pahanya jadi terlihat jelas.


Di saat seperti ini, aku jadi tidak tahu harus memasang ekspresi seperti apa.


Padahal biasanya tidak begitu, tapi kalau sedang berdua denganku, dia jadi sangat ceroboh. Dasar dia.


Meskipun Izuha sudah berusaha, dia tetap tidak bisa menginjak kepala bayangan miliknya yang terus saja berada di depan.


“Ah, aku tahu!!”


Padahal dia belum berhasil mencapai tujuannya, tapi suaranya berbinar penuh semangat. Sepertinya dia baru saja terpikirkan sesuatu.


Ya, seperti biasa.


Dan seperti biasa juga, aku hampir pasti akan terseret dalam ide-idenya. Tapi, sebenarnya tidak seburuk yang terdengar.


Sebagian dari diriku bahkan menikmati saat-saat ditarik oleh kelakuannya yang spontan itu.


“Kamu lagi mikirin hal konyol, ya?”


“Bukan hal konyol, tahu~!”


Izuha melompat tinggi sekali, lalu berputar sambil mendarat ringan.


Rambutnya yang panjang ikut melayang, dan dia menatapku.


Cahaya senja memantul di rambut dan seragamnya, membuat semuanya tampak berkilau.


Seperti ada sorotan cahaya hanya untuknya, membuatnya seolah menjadi pusat dunia.


“Ayo kita belajar bareng buat ujian~. Aku bakal ngajarin kamu lagi secara intensif. Soalnya, waktu itu juga kamu bisa dapat nilai bagus kan, gara-gara aku.”


“Yah, itu memang benar sih.”


“Oke, fix ya. Belajarnya di rumahku aja, ya?”


“Tapi, kamu nggak apa-apa, Yume? Kamu jadi ngajar terus, nanti malah nggak sempat belajar sendiri.”


“Ngajarin orang itu juga bentuk latihan ulang, lho~. Lagi pula, karena hubungan kita ini rahasia, kita nggak bisa bareng di sekolah, kan? Jadi, aku pengen bisa lebih lama bareng kamu setelah pulang sekolah.”


Izuha tersenyum malu-malu sambil tertawa pelan, “Nihihihi.”


Tapi tetap saja, kenapa ya aku bisa sampai mimpi seperti ini?


Mungkin tanpa kusadari, aku memang menginginkan sesuatu seperti ini.


Tapi keinginan pada apa?


Agar Izuha datang ke sekolah?


Agar aku punya teman?


Atau… agar aku bisa punya hubungan seperti ini, seperti teman biasa dengannya?


“Hei, coba kasih tahu aku dong. ──Yume.”


Meskipun aku bertanya, Izuha dalam mimpiku hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban.


Ya, mungkin memang tidak bisa dijawab.


Karena jawabannya sepertinya… belum ada dalam diriku yang sekarang.


***


"──Yume."

"Ada apa, Tomoya-kun?"


Saat aku membuka mata, cahaya langsung memenuhi pandanganku.

Namun, itu bukan warna jingga senja yang tadi menyelimuti kami berdua, melainkan warna buatan yang terasa jauh lebih artifisial. Dalam cahaya itu, perlahan wajah Izuha yang semula buram mulai terlihat jelas.


Entah kenapa, aku memandangnya dari bawah.


"Kau sudah bangun?"

"Selamat pagi."

"Ufufufu. Selamat pagi. Tidurmu nyenyak, ya."


Setiap kali dia bicara, kabut di dalam kepalaku semakin menghilang.

Ini adalah rumah Izuha.

Wajah Izuha ada di depanku.

Dia sudah tidak mengenakan seragam lagi.

Tidak, dia memang masih mengenakan cosplay guru seperti biasa, tapi…


──Lalu, ya.

Ada sensasi lembut di bawah kepalaku.

Kalau kulihat dari situasinya, jawabannya cuma satu.


"Apa yang sedang kau lakukan…"


Meski begitu, aku tetap tak bisa menahan diri untuk bertanya.

Izuha tetap mempertahankan posisinya yang menunduk sambil mengelus pipiku, dan menjawab:


"Padahal aku sudah repot-repot memberimu bantal di pangkuanku, kenapa kau ngomong seperti itu, sih?"

"Aku juga nggak minta, tahu."

"Kalau kamu tidur terus dalam posisi seperti itu, tubuhmu pasti bakal pegal-pegal."

Yah, itu memang ada benarnya.


"...Terima kasih."

"Hehe, sikap jujur itu bagus. Sama-sama."


Setelah melihat senyum lebar Izuha, aku pun mengangkat tubuh bagian atasku.

Kepalaku terasa segar, rasa lesu yang tadi sempat membebani tubuhku pun sudah hilang sama sekali.


"Ahh..."

"Kenapa sih, ekspresimu kayak kecewa gitu?"

"Soalnya kamu bangun. Padahal aku masih pengin lihat wajah tidurmu lebih lama."

"Kamu itu... mesum ya?"

"Enggak, aku bukan orang mesum!"


Izuha pun mulai ribut seperti biasa.


"Aku tidur berapa lama?"

"Tidak terlalu lama kok. Hmm, sekitar dua puluh menit, mungkin."

"Selama itu... kamu terus begini?"

"Iya. Aku menikmati wajah tidurmu sepuasnya."


Dengan ekspresi bangga, Izuha mengangguk puas.

Tapi yang ingin aku tanyakan sebenarnya adalah, apa selama dua puluh menit dia benar-benar jadi bantal hidup buatku?

...Yah, aku juga sudah bilang terima kasih, jadi tidak perlu dibahas lagi.


"Kamu mimpi apa tadi?"

"Entahlah. Aku lupa."

"Benarkah? Padahal wajahmu terlihat senang banget saat tidur."


Itu memang benar.

Mimpi yang kulihat tadi perlahan-lahan memudar, seperti salju yang mencair di pagi hari setelah turun salju semalaman. Sekarang bahkan bayangannya pun sudah tidak jelas.

Seperti salju yang tidak bisa kita tahan di telapak tangan, aku sadar bahwa kepingan mimpi yang sudah lenyap itu tidak akan kembali lagi.


"Kalau aku sampai terlihat sangat senang, rasanya jadi sedikit sayang juga kalau sampai lupa."

"Yup yup! Aku yakin pasti aku muncul di dalam mimpi itu! Soalnya kamu sempat menyebut namaku juga."


"Tidak. Pasti bukan."

Aku menolaknya mentah-mentah.


"Kenapa sih!?" Izuha merajuk sambil cemberut.

Kalau dia sampai muncul di dalam mimpiku dan tetap ribut seperti ini... itu sih bukan mimpi, tapi mimpi buruk.

Tidak mungkin aku tertawa karena itu.


Tenggorokanku terasa kering, jadi aku meraih mug yang ada di atas meja.

Izuha menyadarinya dan berkata, "Udah dingin tuh, biar aku buat yang baru, ya?" Tapi aku mengabaikannya dan langsung mengambil mug-nya.


"Tidak usah, pakai ini saja."

Untuk tubuh yang baru bangun, kopi yang sudah dingin justru terasa pas.


Sekali teguk, aku menghabiskannya.

"Terima kasih atas jamuannya. Nah, ayo kita lanjutkan. Aku serahkan padamu, Bu Guru."


* * *


Sedikit tentang apa yang terjadi setelah itu.

Berkat sesi belajar bersama Izuha, aku berhasil meraih nilai yang sangat bagus di ujian akhir semester.

Skor tertinggiku sejauh ini—dan secara pribadi, aku benar-benar puas dengan hasilnya.


Namun, sepertinya Izuha agak kecewa karena murid yang dia ajarkan tidak berhasil meraih peringkat pertama.

Saat aku menyampaikan kabar itu, dia menunjukkan sedikit ekspresi tidak puas.

Posting Komentar

Posting Komentar