Orang tuaku bercerai sekitar setengah tahun yang lalu, saat itu aku masih seorang siswa SMP.
Sebenarnya, tanda-tandanya sudah muncul jauh sebelumnya—hanya saja semuanya meledak di waktu itu.
Bukan karena salah satu dari mereka yang sepenuhnya bersalah; keduanya hanya kebetulan menemukan orang baru yang mereka sukai, dan memutuskan untuk berpisah.
Mungkin itu keputusan terbaik bagi mereka, tapi yang jadi korban dari semua itu adalah anak yang terjebak di tengah—yaitu aku.
Ada ungkapan “anak adalah pengikat tali pernikahan,” tapi jelas aku gagal menjalankan peran itu. Ayah dan Ibu tidak mungkin punya perasaan sayang terhadap pengikat yang gagal menjaga mereka tetap bersama.
Mau ikut ayah ataupun ibu, hasilnya sama saja: aku hanya akan jadi beban yang tidak diinginkan di keluarga baru mereka.
Pada akhirnya, aku memilih tinggal bersama ayah bukan karena cinta atau alasan sentimental, tapi karena pertimbangan yang realistis.
Berbeda dengan ibuku yang harus bergantung pada pria barunya, ayahku adalah pria mandiri secara finansial, bahkan memiliki posisi cukup tinggi di perusahaan besar.
Negosiasinya pun cukup mudah.
Sebagai imbalan karena tidak ikut campur dalam keluarga barunya, aku menuntut sebuah apartemen tempat aku bisa hidup sendiri begitu masuk SMA.
Lalu, juga biaya sekolah hingga lulus kuliah, dan kebutuhan hidup paling dasar.
Tentu saja, aku berencana untuk membayar semuanya kembali, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Bahkan anak seusiaku masih punya harga diri, kan?
Memang sekarang aku tidak punya pilihan dan harus bergantung padanya, tapi aku tidak mau hidup dengan nyaman sambil berhutang budi pada ayah seperti itu.
Karena itu, untuk sedikit meringankan beban di masa depan, aku mulai bekerja paruh waktu.
Karena ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin, aku berusaha mengikuti pelajaran dengan sepenuh tenaga. Tapi karena kelelahan dari pekerjaan, begitu jam istirahat tiba, aku langsung jatuh tertidur seperti mati lampu.
Lalu, sepulang sekolah, aku langsung lari ke tempat kerja.
Hari libur? Hampir semuanya kuhabiskan hanya untuk bekerja dan menghasilkan uang.
Akibatnya, teman-teman sekelas yang awalnya sempat mengajakku ngobrol pun mulai menjauh setelah satu bulan.
Sekarang, sudah biasa jika aku melewati hari sekolah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Aku tidak punya sumber daya untuk menjalin komunikasi seperti kebanyakan teman sekelasku.
Baik di rumah maupun di sekolah, tanpa kusadari aku menjadi sendirian.
Tapi aku tidak mengeluh—karena ini memang sudah menjadi konsekuensinya.
Siapa juga yang mau dekat-dekat dengan orang yang selalu menolak ajakan bermain?
Benar, kan?
* * *
"Kakak kelas Sumigi──!! Tunggu sebentarrrrr!!"
Saat aku berjalan di lorong sekolah saat jam istirahat, tiba-tiba aku dipanggil dengan suara keras dan berat.
Sebelum aku sempat menjawab, suara langkah kaki berat dan kasar semakin mendekat.
Ketika aku menoleh ke belakang, yang muncul adalah guru pembina siswa, Chikamatsu-sensei.
Dia adalah guru matematika berusia empat puluh delapan tahun, bertubuh besar baik secara vertikal maupun horizontal, dengan penampilan seperti yakuza. Anehnya, dia punya istri dan anak yang sangat imut.
Kabarnya, dia dulunya adalah atlet judo terkenal yang namanya sempat mendunia.
Bahkan sekarang, dia masih rutin pergi ke dojo setelah pulang sekolah untuk melempar murid-murid berbobot lebih dari delapan puluh kilogram setiap hari.
"Katanya kau bolos lagi dari kegiatan sekolah."
Dengan tubuh sebesar itu, saat dia berdiri di depanmu, tekanan auranya luar biasa besar.
Rasanya seperti sedang berhadapan langsung dengan beruang.
"Aku tidak bolos, hanya tidak ikut karena ada shift kerja."
Tentu saja, kalau aku menunjukkan rasa takut di sini, kendali pembicaraan akan langsung diambil olehnya. Jadi aku tetap menjawab dengan sikap tegas.
Beruang tetaplah beruang, tapi bagaimanapun dia masih seorang guru yang hidup di masyarakat manusia.
Seharusnya tidak mungkin langsung melemparku begitu saja… kan? Mungkin.
"Itu sama saja."
"Tak masalah, kan? Toh tidak dapat nilai juga, hanya buang tenaga dan waktu."
"Anak-anak zaman sekarang kenapa jadi begitu, ya? Begitu buka mulut langsung ngomongin cost-performance atau time-performance.
Bukan begitu caranya berpikir. Justru bisa menghabiskan waktu dengan sia-sia itu adalah hak istimewa anak muda.
Lagipula, waktu yang tampaknya tidak berguna itulah yang membangun persahabatan, dan kelak menjadi kenangan berharga saat dewasa."
Sepertinya akan jadi ceramah panjang, jadi aku mengangkat tangan untuk minta bicara.
"Permisi, Chikamatsu-sensei."
"Hm? Ada apa?"
"Boleh saya pergi sekarang? Soalnya ceramahnya juga nggak time-efficient."
Andai saja dia kecewa dan menyerah padaku setelah ini, tentu saja akan lebih mudah. Tapi sepertinya tidak semudah itu.
Terlepas dari penampilannya, Chikamatsu-sensei adalah guru yang paling serius dan penuh semangat di sekolah ini.
"…Kau, punya teman dekat di sekolah?"
"Tidak, sih."
"Sudah kuduga. Aku tidak pernah melihatmu akrab dengan siapa pun.
Cobalah ikut kegiatan sekolah dengan sungguh-sungguh, setidaknya sekali saja.
Kalau kau berhasil mendapatkan satu teman saja, mungkin kehidupan sekolahmu akan jadi lebih menyenangkan."
"Siapa yang bilang kalau sekolah itu membosankan hanya karena tidak punya teman?"
Memang sih, sekolah sama sekali tidak menyenangkan bagiku, tapi aku balas dengan logika dan argumen yang sah.
Guru biasanya suka memakai logika yang terkesan benar untuk membungkam murid, jadi kalau dibalik dengan cara yang sama, mereka pun tak bisa berkutik.
Seperti yang kuduga, Chikamatsu-sensei pun terdiam dan menggumam, "Guh…" Tidak bisa membalas. Efeknya sangat efektif.
"…Itu tadi ucapan yang tidak pantas. Maaf."
"Tidak, saya juga minta maaf sudah bicara kasar."
Sebagai penutup, aku tetap memberi ucapan penyesalan formal agar masalah selesai. Tapi, seperti biasa, tidak semudah itu.
"Tapi dengar baik-baik," katanya sambil menatapku tajam dengan mata mengintimidasi.
Andai dia bukan guru dan aku bukan murid, aku pasti tidak akan mau berurusan dengan orang sepertinya.
"Yang jadi tugas utama siswa itu bukan kerja paruh waktu."
"Ya, saya tahu."
"Memang betul aturan sekolah memperbolehkan kerja paruh waktu. Tapi kalau kau terus-menerus mengutamakan kerja daripada kegiatan sekolah, maka pihak sekolah bisa saja memberi peringatan keras."
Akhirnya, dia menutup dengan kalimat seperti ancaman:
"Camkan baik-baik dalam hati."
* * *
"Barusan itu, kamu lagi ribut sama Chika-chan, ya?"
Begitu aku akhirnya bebas dari ceramah panjang tadi dan kembali ke tempat dudukku, tiba-tiba ada orang lain yang nyamperin.
Saat aku otomatis mengernyitkan alis, dia memiringkan kepalanya dan berkata,
"Kenapa sih mukamu cemberut gitu?"
Yang mengatakannya adalah teman sekelasku, Yuubaru Shion.
Tatapannya yang tajam mencerminkan sikap tegas dan kuat dari dalam dirinya. Rambut pirangnya yang panjang bergelombang lembut seperti sayap malaikat.
Sejak awal masuk sekolah ini, dia sudah jadi bahan perbincangan, bukan hanya di kalangan teman seangkatan, tapi juga para kakak kelas.
Dan sekarang, dia mungkin satu-satunya teman sekelas yang masih mau mengajak bicara aku.
Mungkin karena dia ketua kelas, jadi nggak bisa membiarkan siswa penyendiri macam aku begitu saja.
"Biasa aja. Dan... maksudmu Chika-chan itu si Chikamatsu?"
"Ya. Panggilan itu lebih imut, kan?"
"‘Imut’ tuh nggak cocok sama guru kayak dia."
"Masak sih? Padahal kalau ngobrol langsung, dia tuh lumayan punya sisi manis juga, loh. Mungkin kamu nggak tahu aja karena sering dimarahin."
"Maaf deh."
Aku mengalihkan pandangan dari Yuubaru ke atas meja.
Di sana, masih ada coretan bekas dari kakak kelas yang pernah duduk di kursi ini.
‘Sahabat selamanya’
‘Kita paling hebat’
‘Sampai jumpa di sini lagi, sepuluh tahun nanti’
Kata-kata semacam itu diukir pakai cutter, bukan pensil mekanik atau spidol. Serius, bisa nggak sih jangan ninggalin kenangan memalukan kayak gini?
Sedihnya, hal-hal kayak “persahabatan abadi” itu cuma ilusi. Mungkin, sih.
Waktu aku mengusap bekas ukiran itu dengan ujung jariku, terasa kasar dan bertekstur.
Kalau itu Kohaku-san, dia mungkin bisa membacanya kayak orang buta main mahjong, tapi aku sih belum sampai tahap itu.
Yang ada malah jariku sakit, dan tetap saja aku nggak bisa menangkap makna dari persahabatan para senior itu.
"Terus, tadi kamu dimarahin gara-gara apa?"
"Itu bukan urusanmu, Yuubaru."
"Sikap kamu yang kayak gitu tuh, jelek banget. …Ya udah sih, bukan penting juga."
Meski begitu, ekspresi manyun di wajahnya menunjukkan bahwa sebenarnya dia peduli.
"Kamu sengaja nyamperin cuma buat nanya itu? Gabut banget."
"Bukan! …Begini, minggu depan kan ada ujian akhir. Nah, kami lagi bahas soal bikin sesi belajar bareng. Gimana? Kamu ikut juga, nggak?"
"Nggak. Lagian, aku juga nggak ada waktu."
Aku memalingkan wajah ke arah Yuubaru lagi dan langsung menolak.
Pertama, aku nggak yakin ada orang yang senang kalau aku ikutan.
Sekilas kulirik grup cewek-cewek yang dekat sama Yuubaru—aku lupa nama mereka—tapi mereka kelihatan dengerin dari jauh.
Dan kupikir mereka pasti lega dengar aku menolak.
"Kamu kerja lagi?"
"Iya."
"Padahal ini minggu ujian loh?"
"Nanti pas hari H aku minta libur. Lagian aku juga nggak mau ganggu jadwal kalian."
"Ka-kalau gitu… gimana kalau cuma aku aja? Kita belajar berdua. Jadwalnya bisa disesuaiin sama kamu. …Gimana? Masih nggak bisa juga?"
"Aku appreciate niatmu, tapi jujur aja, belajar sendirian lebih fokus."
Aku menggaruk belakang kepalaku.
Dulu waktu SMP aku juga pernah ikut belajar bareng gitu. Tapi, kenyataannya malah lebih banyak ngobrol dan main daripada belajar.
Paling cuma saling fotokopi catatan dan ngerjain sedikit soal.
Dulu sih itu menyenangkan, tapi sekarang aku nggak bisa buang-buang waktu.
Aku mau belajar dengan efisien, dan kalau sampai kena nilai merah karena santai, itu bakal fatal.
"Kalau ada soal yang kamu nggak ngerti, aku bisa bantuin. Jadi sebenarnya kamu untung juga."
"Nilaimu bagus?"
Begitu aku tanya, Yuubaru langsung senyum bangga.
Sikapnya jadi mirip adikku pas lagi sombong. Sedikit menyebalkan.
"Aku ranking dua waktu ujian masuk, loh. Waktu upacara masuk, aku bahkan jadi perwakilan siswa baru. …Eh? Jangan-jangan kamu lupa ya? Penampilanku yang keren itu?"
"Kalau lupa sih enggak, aku memang nggak lihat. Aku bolos upacara masuk."
"Whaat!? Kamu ini bener-bener anak nakal. Nggak bisa dipercaya!"
"Gak masalah juga kan. Lagian ikut upacara juga nggak dapat nilai.
Eh, tapi kenapa kamu yang jadi perwakilan? Bukannya harusnya yang ranking satu?"
"Anak ranking satu menolak. Jadi aku yang naik jadi wakil. Tapi sekarang aku udah ranking satu di tes kemampuan dan ujian tengah semester. Jadi aku beneran siswa terbaik sekarang.
Nah, gimana? Sekarang kamu bisa lihat nilai dari belajar bareng sama aku, kan?"
Sambil menaruh tangannya di mejaku, Yuubaru mendekat dan menatapku serius.
Auranya kuat banget. Hari ini dia bener-bener agresif.
Aku bahkan merasa sebentar lagi bisa kalah juga.
Tapi saat itu, bel masuk berbunyi.
Aku lega bukan main.
Kayaknya belum pernah sesenang ini dengar bel akhir istirahat.
Tapi di saat yang sama, ada rasa nyeri kecil di dada.
Nama rasa itu: rasa bersalah. Mungkin.
Soalnya Yuubaru beneran ngajak aku dengan niat baik.
"Kamu nggak balik ke tempat duduk?"
"Aku belum dapat jawabannya."
"…Kalau aku merasa ada manfaatnya, mungkin aku bakal pertimbangkan."
"Benar!?"
Seketika wajah Yuubaru bersinar cerah.
Tolonglah. Serangan cahaya kayak gitu tuh nyakitin banget buat orang kayak aku yang hidup di bayangan.
"C-cuma pertimbangkan aja, loh!"
"Itu udah cukup. Kalau kamu berubah pikiran, kabarin ya. Janji!"
Dengan langkah ringan, Yuubaru akhirnya kembali ke tempat duduknya.
Serius deh, orang sebaik apa sih dia, sampai segitu perhatiannya ke orang kayak aku?
Padahal dia punya banyak teman.
Nggak ada alasan juga untuk ngotot ngajak aku.
Dan lihat, sekarang pun begitu.
Begitu dia kembali ke grupnya, dia langsung dikerubungi dengan pertanyaan dari teman-temannya.
Sementara itu, aku kembali sendiri seperti biasa.
Pada akhirnya, obrolan dengan Yuubaru tadi adalah satu-satunya interaksi sosialku hari itu di sekolah.
***
Nah, begitu sekolah selesai, hari ini aku juga langsung kerja paruh waktu.
Matahari mulai condong ke barat, dan sinarnya perlahan berubah dari putih ke jingga. Pada waktu seperti ini, dunia dipenuhi cahaya yang menyilaukan sampai terasa menyakitkan.
Tapi bukan hanya karena cahaya senja.
Mungkin karena perasaan lega bahwa hari telah hampir berakhir, wajah dan suara orang-orang yang berlalu dipenuhi dengan cahaya.
“Eh? Kuguruki-kun?”
Suara itu terdengar saat aku sedang melewati jalan perbelanjaan dekat stasiun, menuju arah rumah keluarga Izuha.
Kalau ada orang yang memanggilku di tempat seperti ini, aku cuma bisa memikirkan satu orang saja.
Saat aku menoleh ke arah suara itu, sesuai dugaan, Izuha berdiri di sana.
Di tangannya, ada tas belanja kain (eco bag) yang menggembung penuh.
“Kau ngapain di sini?”
“Ehehe. Belanja~”
“Belanja? Padahal biasanya kamu ngandelin belanja online kan?”
“Memang sih, tapi ada hal-hal di dunia ini yang nggak bisa dibeli secara online. Contohnya ini!”
Dengan bangga membusungkan dadanya yang besar, Izuha berkata “Teeentara-ran~!” lalu seperti sedang menunjukkan jimat keramat, dia mengeluarkan sesuatu dari tas kainnya dengan efek suara “Teeentara-ran teen”, dan keluar "Ponpopopopopon" sebuah tabung putih yang penuh isi, “Jajaa~n!”
“Jangan nyanyi lagu latar jimat dong. Berisik tahu.”
“Ini lho, mayones merek Ke-chan!”
“Dan seperti biasa, kamu nge-skip semua komentarku. Ya udah, aku juga udah terbiasa.”
“Ehehe~ Bagus, kan?”
Dengan mata berbinar, dia terlihat begitu bahagia seperti mau mengelus mayones itu.
Katanya, itu mayones edisi terbatas yang hanya tersedia di toko tertentu, dibuat dari bahan-bahan pilihan.
Sekali makan, dunia akan tampak bersinar; dua kali makan, bisa lupa ingatan; dan tiga kali makan, kamu bakal terangkat ke surga.
Itulah ulasan dari Izuha, yang terdengar seperti mengandung zat ilegal. Tamat.
“Oh iya, kamu memang mayolover banget, ya.”
“Yup! Dulu bahkan aku lebih parah, aku bener-bener nyiram mayones ke semua makanan.”
“Contohnya?”
“Steak, atau... oden.”
Aku membayangkan itu, dan langsung refleks membuat wajah jijik.
Itu kombinasi yang jelas-jelas nggak nyambung sama sekali.
“Karena semua orang berekspresi kayak kamu, makanya sekarang aku udah nggak kayak gitu lagi.”
“Bagus deh. Belanjanya udah selesai?”
“Sudah. Aku memang mau pulang sekarang, soalnya waktunya juga udah deket dengan janjiku sama Kuguruki-kun.”
“Kalau begitu, mau jalan bareng?”
Izuha mengangguk sambil dengan hati-hati memasukkan kembali mayonesnya ke dalam tas.
Bersamaan dengan itu, aku mengulurkan tanganku ke arahnya.
“Apa ini? Nyuruh aku kasih ‘tangan’? Wah, kamu ternyata punya fetish nyuruh cewek kayak anjing, ya? Cukup baik sih, Tapi agak dark banget.”
Dengan tanda tanya berterbangan di atas kepalanya, Izuha tetap saja meletakkan tangannya di telapak tanganku dengan ragu-ragu. Tentu saja, aku langsung menepisnya.
“Aduh~ apa sih. Jahat banget,” katanya merajuk, tapi justru aku yang pengen ngomong gitu.
“Bukan begitu. Aku cuma mau bantu bawain tasmu.”
“Oh, begitu. …Boleh ya, aku manja sedikit?”
“Bawain barang berat itu tugas cowok, kan?”
“Hmm~ Seksisme ya~”
“Kamu yakin itu konteks pemakaiannya benar?”
“Siapa tahu~” katanya sambil tersenyum lebar, lalu menyerahkan tas kainnya dengan patuh.
Setelah itu, kami mulai berjalan berdampingan menyusuri jalan perbelanjaan yang mulai diselimuti senja.
Suasana sore hari di jalan perbelanjaan berbeda banget dibanding malam.
Kalau malam, orang-orang mabuk keluar dari izakaya dan berkeliaran seperti zombie yang haus air,
tapi sekarang, orang-orang seperti kami banyak yang berjalan dengan eco bag yang juga menggembung.
Setiap beberapa meter, aroma di udara dan musik latar di sekitar berubah.
Seorang anak kecil merengek pada ibunya sambil menarik-narik tangannya. “Mama, beli itu dong.” “Nggak boleh, kan baru beli kemarin.” “Yaaa~ mauuuu!” “Kalau kamu terus manja, mama tinggalin loh.” “Nggak mauu~!”
Adegan itu terasa seperti diri kami di masa lalu — aku dan Izuha.
Dan sekarang, itu juga adalah pemandangan yang tak akan pernah bisa kembali lagi bagi kami, yang telah kehilangan orang tua.
“Rasanya... mengharukan ya.”
Izuha yang berjalan di sampingku tersenyum, matanya menyipit.
Ah, itu pasti gara-gara papan nama toko itu. Kena pantulan sinar matahari.
Pasti itu penyebabnya kenapa mataku juga terasa perih dan jadi menyipit.
Tapi kenapa sih harus pasang papan di situ.
Silau banget, bikin mata pedih.
Ya, semua ini cuma karena senja. Bukan karena yang lain.
“Ngomong-ngomong, kamu kayak mikir berat banget. Kamu nggak suka anak kecil, ya?”
“Nggak tahu juga. Nggak pernah kepikiran, sih.”
“Kalau aku suka. Lihat mereka itu bikin hati hangat.”
“Gitu ya.”
“Tapi kadang, aku juga jadi merasa sedikit sedih.”
Mata Izuha semakin menyipit.
Sungguh, bikin repot.
Silau banget, sampai susah buka mata dan susah jalan.
“Tapi ya… Hari ini nggak terlalu sedih. Mungkin karena aku lagi jalan bareng kamu. Soalnya, aku nggak sendirian.”
“...Nggak sendirian, ya. Kira-kira aku udah benar-benar jadi teman kamu belum, ya.”
“Kamu nanya aneh-aneh deh.”
“Gitu ya?”
“Nggak apa-apa kok. Soalnya, aku senang kalau bareng kamu.”
Sambil melewati ibu dan anak tadi, kami pun tersenyum dengan mata menyipit.
Lalu, kami terus berjalan menjauh.
Tanpa menoleh ke belakang, terus mengalir bersama waktu.
Meski baru lima belas tahun, kami tahu itu yang seharusnya dilakukan.
Setelah berjalan beberapa lama, Izuha tiba-tiba mengendus-endus udara.
“Tunggu di sini sebentar, ya. Satu menit aja!”
Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung lari ke suatu tempat.
Mungkin ke toilet?
Tapi benar saja, setelah satu menit dua belas detik, dia kembali.
“Telat dua belas detik.”
“Maaf~ Tapi kamu terlalu detail, sih.”
Dia tampaknya sadar kalau itu cuma bercandaan, dan dengan senyum ‘hehehe’, dia menanggapinya.
Tapi kali ini, di tangannya ada kantong kertas cokelat yang sebelumnya tidak ada.
“Aku beli karaage. Tadi baru digoreng, jadi aku nggak tahan.”
“Kok kamu tahu itu baru digoreng?”
“Hidungku tajam. Selevel anjing. Yuk, makan sambil jalan. Harus dimakan pas panas-panas gini.”
“Kalau makan sekarang, nanti nggak bisa makan malam, tahu.”
“Kamu ngomong kayak ibu-ibu. …Kalau gitu, kamu nggak mau ya? Padahal ini kelihatan enak banget lho. Sayang banget deh. Rugi deh.”
“Makan deh.”
Untuk tubuh di masa pertumbuhan, aroma ini benar-benar menggoda.
“Fufufu~ Harusnya dari awal kamu jujur aja gitu.”
Sambil berkata begitu, Izuha mengambil satu potong besar karaage dari kantong kertas dan menyodorkannya ke arahku.
“Hayoo~ Aaa~n ♡”
“Makasih.”
Saat aku menggigitnya, jus daging langsung meledak dan hampir bikin lidahku melepuh.
Bumbunya nggak terlalu kuat, jadi mungkin mereka memang sengaja menonjolkan rasa asli dagingnya.
Tetap saja, rasanya enak banget.
Mungkin ini bukan karaage dari supermarket atau stan pinggir jalan, tapi dari toko daging langsung.
“Ah, panas. Tapi enak. Enak banget ini.”
“Giliranku~ Auh~ Hmm, enak banget~ Mungkin kalau dikasih mayones, rasanya makin mantap ya.”
“Kalau karaage seenak ini dikasih mayones, itu namanya ngotorin rasa.”
“Duh, cuek banget sih~”
Meski begitu, Izuha tetap mengambil satu potong karaage lagi dan memakannya begitu saja.
Bayangan panjang kami berdua terlukis di depan jalan.
Jarak kami tak terlalu dekat untuk dibilang pacar, tapi juga tak cukup jauh untuk disebut orang asing.
Hubungan antara aku dan Izuha saat sedang tidak kerja paruh waktu terasa sangat alami.
Namun, sepertinya menurutnya berbeda.
"Jalan pulang sekolah sambil jajan begini... terasa seperti teman, ya."
"Padahal kamu sendiri tidak sekolah."
"Eeh~ itu kan rahasia yang tidak boleh disebut, ya kan?"
Sambil terus mengeluh soal panas, tapi tetap tersenyum bilang enak, kami berdua menghabiskan satu kantong penuh karaage (ayam goreng Jepang) tanpa sisa.
Ujung jari Izuha tampak sedikit mengilap karena minyak.
"Terima kasih banyak."
Izuha mengucapkannya sambil melipat kantong kertas dengan rapi.
"Itu seharusnya ucapanku, bukan?"
"Hm? Kenapa memang?"
"Aku yang kamu traktir karaage, kan. Kenapa kamu malah yang bilang terima kasih?"
"Soalnya kamu sudah bantu bawakan belanjaanku. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih."
"Ah, begitu ya."
"Tapi, ya... karena aku mentraktir kamu karaage, anggap saja impas, ya."
"Iya, impas. Jadi, terima kasih."
"Kenapa sekarang malah kamu yang mengucapkan terima kasih padaku?"
Ekspresi Izuha yang terlihat bingung dengan mulut sedikit terbuka tampak begitu polos dan agak lucu.
"Karena kamu udah lebih dulu bilang terima kasih, jadi kalau aku tidak balas, ya nggak jadi impas dong."
"Ohh, masuk akal juga."
Entah karena perut yang kenyang, perasaan melankolis yang sempat aku rasakan tadi lenyap begitu saja.
Memang manusia itu makhluk yang sederhana—kalau makan makanan enak, semangatnya langsung kembali.
"Kalau begitu, hari ini kita mau ngapain?"
tanya Izuha.
"Apa pun asal bukan main game 'Aku cinta kamu'."
jawabku.
Matahari sore masih menyinari kami dengan silau yang sama seperti tadi, tapi sekarang kami bisa melangkah maju sambil menghadap ke depan.
Bayangan kami yang berjalan berdampingan pun terasa seperti semakin mendekat satu langkah lebih dekat dari sebelumnya.
Aku dan Izuha, sama seperti orang-orang lainnya, kini berdiri berdua dalam cahaya yang begitu terang, sampai terasa menyakitkan.


Posting Komentar