"Jadi, bagaimana pekerjaanmu? Berjalan lancar?"
Begitu aku sampai di kantor, itulah hal pertama yang dikatakan oleh Kohaku-san.
Sudah sekitar dua minggu aku tidak mampir ke sini, jadi aku sempat khawatir tempat ini sudah berubah menjadi rumah penimbun sampah. Tapi ternyata kantornya jauh lebih bersih dari yang aku bayangkan, dan itu cukup melegakan.
Kemungkinan besar, itu berkat kerja keras Marin-chan.
Meski begitu, di sudut ruangan ada tiga buah barang besar yang sepertinya adalah sampah rumah tangga, yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Mungkin dia memungutnya dari tempat pembuangan sampah atau dari rumah klien lagi.
"Laporan kerjaku aku kirim tiap hari, kan? Jangan-jangan... kamu tidak membacanya?"
"Yah, uh... begitulah. Aku hanya sekilas lihat... agak samar... hmm, semacam begitu?"
"Itu 'kan bagian dari pekerjaanmu, Kohaku-san. Tidak mungkin kamu tidak membacanya."
"Soalnya laporan dari Tomoya-kun itu sama sekali tidak menarik. Membaca itu bikin ngantuk."
"Memangnya ada laporan yang menarik?"
"Kamu 'kan lagi kerja bareng gadis sekelasmu, jadi kupikir bakal ada hal menarik atau kejadian keberuntungan yang agak... nakal gitu, tahu maksudku?"
Kenapa orang ini bisa bilang hal seperti itu, dan pas banget di waktu seperti ini?
Apa dia memasang alat penyadap di suatu tempat?
Untuk berjaga-jaga, aku merogoh kantong seragam dan tas sekolahku, tapi yang kutemukan hanya bungkus permen karet yang kukunyah saat berangkat dan bekas pelapis double tape dari pelajaran di sekolah.
"Kamu lagi ngapain?"
"Bukan apa-apa. Lagipula, hal seperti itu tidak mungkin terjadi di dunia nyata."
"Eeeeh? Yakin?"
"Yakin. Tidak mungkin. Tidak ada dan tidak akan ada."
"Baiklah, aku mengerti. Tapi kalau sampai terjadi, pastikan kamu tulis detailnya ya. Lengkap."
"Tentu saja. Kalau—dan hanya kalau—itu benar-benar terjadi."
Tentu saja aku tidak akan pernah menuliskannya.
Saat kami sedang bercanda seperti biasa, terdengar suara Marin-chan dari dalam rumah.
"Mama~. Kakak udah datang~?"
Kantor Narcissus ini terletak di salah satu ruangan rumah keluarga Suisen, dan terhubung langsung ke area tempat tinggal Kohaku-san dan Marin-chan.
"Tuh, dipanggil. Ayo kita masuk."
"Iya, ayo."
"Hmm, kira-kira makan malam hari ini apa ya~?"
Dengan langkah ringan penuh semangat, Kohaku-san menuju ke dalam. Aku pun perlahan mengikutinya dari belakang.
Bukan kali pertama aku ikut makan di sini.
Bahkan, sepertinya Kohaku-san cukup sering mengundangku makan, mungkin karena tahu situasi keluargaku.
Begitu memasuki ruang keluarga rumah keluarga Suisen, aroma kehidupan langsung menyambutku.
Hangat dan lembut.
Entah kenapa, terasa seperti nostalgia... seperti saat berkunjung ke rumah nenek di kampung.
Sangat berbeda dengan ruang keluarga di rumah keluarga Izuha.
"Ah, Kakak~! Selamat datang!"
Begitu melihat wajahku, Marin-chan langsung tersenyum cerah dengan ekspresi benar-benar bahagia.
Karena dia anak perempuan Kohaku-san, aku yakin suatu saat nanti dia pasti akan jadi gadis yang sangat cantik. Tapi untuk saat ini, dia masih sesuai dengan usianya, dan lebih cocok disebut "imut" daripada "cantik".
Gerak-geriknya yang lincah dengan tubuh kecilnya mampu memikat siapa saja yang melihat.
Ucapannya juga sangat sopan.
Menurut Kohaku-san, "Kalau boleh jujur, dia ini benar-benar seperti malaikat yang dikirim ke dunia."
Dan aku sepenuhnya setuju dengan pendapat itu.
Karena memang benar.
Marin-chan benar-benar malaikat.
"Terima kasih sudah menerima kedatanganku."
"Makan malamnya sebentar lagi, ya. Tunggu sedikit lagi, ya!"
Marin-chan memakai apron yang dulu pernah dia pamerkan padaku, katanya dia buat sendiri waktu pelajaran keterampilan rumah tangga.
Setelah melirikku sebentar, dia langsung kembali ke tempatnya memasak.
"Marin~. Malam ini makan apa, sih~?"
Kohaku-san mengejar ke arah dapur dan mengintip ke panci yang ada di depan Marin-chan.
"Stew! Soalnya waktu itu Kakak bilang suka, kan? Walaupun ini musim panas, maaf ya."
"Eh, ini stew krim, ya? Mama sih lebih suka beef stew."
"Hari ini harus sesuai selera tamu."
"Marin terlalu manis sama Tomoya-kun. Mama juga mau dimanjaa~."
"Tenang aja, daging kesukaan Mama juga ada banyak kok. Memang ayam sih. Lagipula, aku juga masak asparagus gulung. Gimana? Kurang?"
"Tidaaak~. Marin, mama sayang banget! Suka banget~!"
"Mooou~. Sudah kubilang jangan nempel-nempel waktu masak, itu bahaya!"
Seperti yang dikatakan Marin-chan, dalam waktu kurang dari lima menit, meja makan pun dipenuhi dengan masakan buatan sendiri.
Ada sup krim panas yang mengepulkan uap dengan deras, marinade tomat dan mentimun yang segar untuk musim panas, serta daging gulung asparagus dengan bumbu garam.
Di tempat dudukku dan Marin-chan masing-masing disediakan baguette, sementara di depan Kohaku-san, terdapat semangkuk besar nasi putih yang menggunung.
Meja makan yang sangat mewah.
Kami serempak mengucapkan “Selamat Makan” sambil menyatukan tangan, lalu langsung mencicipi sup krim buatan Marin-chan.
“Gimana, gimana? Enak nggak, kak?”
Marin-chan menatapku dengan mata penuh harap dan gugup, menunggu respons atas suapan pertamaku.
Tanpa terburu-buru oleh tatapannya, aku mengunyah dengan baik dan menelannya perlahan.
Meski bahan-bahannya dipotong agak besar agar terasa teksturnya, rasanya tetap meresap dengan sempurna. Ini benar-benar...
“Hmm, enak banget.”
“Syukurlah~”
Marin-chan menghela napas panjang lega.
Lalu, akhirnya dia sendiri mengambil sesendok.
“Amun-amun~”
“Kamu pakai bumbu rahasia ya? Rasanya agak beda dari biasanya.”
“Tepat sekali! Aku pakai awase miso. Jadi cocok juga dimakan sama nasi.”
“Keren banget. Kamu jago masak, ya.”
Baru dipuji sedikit saja, Marin-chan langsung tersipu malu sambil berkata “Ehehehe~.”
Kalau sedang makan di rumah keluarga Suisen, biasanya aku lebih sering ngobrol dengan Marin-chan.
Bukan karena Kohaku-san punya prinsip makan dalam diam atau semacamnya—justru sebaliknya.
“Gatsu gatsu. Hafu hafu. Gubi gubi. Musha musha.”
Dia benar-benar tenggelam dalam dunia makannya sendiri.
Bahkan ketika aku dan Marin-chan masih mengunyah suapan pertama, porsi besar sup krim Kohaku-san sudah habis sekitar delapan puluh persen.
“Seperti biasa, kamu makan dengan kecepatan luar biasa ya.”
“Iya. Ibu hari ini juga penuh semangat.”
Sepertinya Marin-chan senang melihat ibunya seperti itu—wajahnya benar-benar terlihat bahagia.
“Masih ada kalau mau nambah, mau aku ambilkan?”
“Enggak, enggak. Aku bisa ambil sendiri. Kamu makan yang banyak, ya. Kalau tidak, kamu nggak akan bisa tumbuh besar seperti Mama.”
“Iyaaa~.”
Mulai dari porsi kedua, Kohaku-san menyiramkan sup krimnya ke atas nasi seperti sedang makan kari.
Cara makan yang cukup sulit dipercaya.
Aku sempat terkejut, tapi sepertinya itu hal yang biasa di keluarga Suisen.
“Ibu memang suka makan seperti ini.”
“Kalau supnya seenak ini, dimakan begitu pun masih cocok sih. Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran... apakah Izuha bisa makan sup krim seperti ini?”
Komentarku yang terlontar tiba-tiba membuat Marin-chan memiringkan kepalanya dan bertanya:
“Izuha-san itu siapa?”
Tatapan matanya bersinar-sinar penuh rasa ingin tahu.
“Dia tamuku sekarang. Terkait pekerjaan. Selama satu setengah bulan ke depan, aku ditugaskan menjadi temannya.”
“Makanya belakangan ini, Kakak jadi jarang main ke sini, ya?”
“Yah, ya begitu deh. Soalnya pulangnya lebih cepat langsung ke rumah.”
“Orangnya seperti apa?”
“Kamu tertarik?”
Marin-chan mengangguk semangat, jadi aku memutuskan untuk bercerita sedikit.
“Hmm, begini. Baru-baru ini, ada kejadian seperti ini nih...”
***
Itu terjadi pada hari kesembilan sejak aku mulai rutin mengunjungi rumah keluarga Izuha.
Hari itu, kami memasak bersama dan makan bersama.
Menurut Izuha—entah dari mana dia dapat idenya, kemungkinan besar dari internet—untuk mempererat hubungan, yang paling efektif adalah menyelesaikan tugas bersama secara kooperatif.
Kebetulan, baik aku maupun dia cukup mahir dalam urusan rumah tangga, jadi tanpa kesulitan berarti, kami masing-masing menyelesaikan peran kami dengan sempurna, dan proses memasak pun selesai dengan lancar.
Dan, seperti biasa, makan malam juga segera mendekati akhir.
Di atas meja hanya tersisa piring-piring kosong yang sudah bersih dan gelas berisi susu.
"Yume. Susunya diminum juga, ya."
"Puih."
"Jangan bilang 'puih' sendiri dong. Jangan mengembungkan pipi. Jangan membuang muka. Jangan bilang 'musu~' juga. Jangan melirik dengan tatapan sebal kayak gitu. Lagipula, kenapa kamu beli susu kalau memang nggak niat diminum sih?"
Meski dia teman sekelas, ada sisi kekanak-kanakan aneh dari anak ini.
Kadang aku merasa bukan sedang berteman, tapi seperti jadi ayahnya sendiri.
Padahal aku juga masih anak SMA, dan punya ‘anak’ sebesar ini tuh agak berat juga rasanya.
"Soalnya, aku tiba-tiba pengin bikin roti panggang ala Prancis setelah sekian lama."
"Dan akhirnya sisanya nggak dipakai, ya. Padahal masa simpannya sebentar, loh."
Kardus susu yang masih tersisa lebih dari delapan puluh persen itu terasa berat saat diangkat.
Aku menatapnya seakan berkata, “Terus sekarang gimana, dong ini?”
"Oh iya! Tomoya-kun aja yang minum. Kamu kan suka, kan? Nih, silakan."
"...Ya sih, aku nggak keberatan. Tapi jarang banget loh ada orang yang nggak suka susu. Hot milk itu enak, lho."
"Enggak enak ah. Lagi pula, aku bisa tumbuh dengan baik kok tanpa harus minum susu."
Ucap Izuha sambil memamerkan pertumbuhan tubuhnya yang luar biasa.
Dia merapatkan payudara lembutnya dengan kedua tangan dan berkata, "Tuh, lihat sendiri."
Suara dotapun~ seakan terdengar dalam kepalaku.
Tapi, sebagai pria terhormat, aku langsung mengalihkan pandangan.
Soal tubuh, dia sama sekali nggak terlihat seperti anak kecil, sih...
Untuk mengalihkan berbagai macam pikiran yang berkecamuk, aku menenggak isi gelas susu itu dalam sekali teguk.
"Eh, gimana kalau kamu campur ke kopi aja? Kalau begitu mungkin kamu juga bisa minum."
"Tidak, Terima kasihhhh~"
Izuha menjulurkan lidah merahnya dan membuat ekspresi bleh.
***
"Anak SMA tapi tidak bisa minum susu sapi, ya?"
Meski ceritaku tidak begitu menarik, Marin-chan tetap mendengarkannya dengan antusias sambil mengangguk-angguk, "Hmm, hmm."
"Begitulah. Mau dimarahi karena pilih-pilih makanan juga percuma. Marin-chan jauh lebih dewasa daripada aku."
"Begitu ya. Tapi kelihatannya kamu cukup menikmati juga, ya. Baguslah, bagus."
Kohaku-san yang baru saja melahap sendok ketiga stew on the rice-nya ikut masuk ke dalam percakapan. Sepertinya dia diam-diam ikut mendengarkan dari awal.
"Aku sempat khawatir sedikit, tapi sepertinya memang benar aku tidak salah menerima pekerjaan ini."
"Ah, benar. Kohaku-san, waktu itu kamu sengaja tidak menjelaskan isi pekerjaannya padaku, kan?"
Saat aku bertanya, Kohaku-san mengangguk begitu saja tanpa niat berkelit, seolah mengatakan memang tidak ada niat untuk bermain-main.
"Kalau saat itu aku menjelaskan langsung, kamu pasti menolak, kan?"
"Itu... mungkin benar."
Kemungkinan besar memang begitu.
"Aku paham situasimu, Tomoya-kun. Aku juga mengerti perasaanmu. Tapi sebagai orang yang sudah lebih dulu mengalami masa muda, aku merasa kamu harus lebih banyak menikmati pengalaman yang hanya bisa dirasakan di masa remaja."
"Kalau kamu bilang 'musim semi', maksudnya piknik hanami atau semacamnya?"
Aku mencoba menjawab setengah bercanda dengan nada menyindir, tapi Kohaku-san tetap satu langkah lebih unggul.
"Itu juga bagus. Menikmati keindahan gadis-gadis seusiamu, itu juga salah satu hak istimewa masa muda, kan?"
Kata-katanya terdengar seperti petuah yang indah namun terlalu manis di telinga—mungkin karena aku sendiri masih menjalani masa 'musim semi' itu.
Kalau belum bisa melihat dari sudut pandang orang lain, kita mungkin memang tidak sadar betapa 'hijau' rumput di halaman sebelah.
Karena itu, aku tidak membantah lebih lanjut, hanya mengunyah potongan ayam dalam stew dan menelannya bersama semua unek-unekku.
Perutku terasa hangat, dan rasa kenyang perlahan mengisi tubuhku.
"Aku sedih karena tidak bisa sering ketemu dengan Kakak~"
"Kan kamu masih punya Mama, Marin-chan."
"Iya, aku senang karena Mama selalu ada."
"Marin~♡"
Ibunya langsung tersipu karena anaknya yang terlalu jujur. Matanya sampai berbentuk hati.
"Tapi kalau Kakak juga tinggal di sini, aku pasti lebih senang lagi~"
"Marin-chan♡"
Dan sekarang giliran anak SMA laki-laki ini yang meleleh karena cewek kecil yang polos. Kurasa mataku juga berubah jadi hati sekarang.
"Kalau begitu... karena Marin sangat menyukai Tomoya-kun, bagaimana kalau sekalian jadi papanya? Dengan begitu kita bisa hidup bertiga selamanya~"
"Aku masih di bawah umur, tahu! Kalau Kohaku-san nekat, bisa ditangkap polisi, loh. Kalau kamu mendekat lebih jauh lagi, aku tidak segan-segan menekan tombol alarm darurat."
Aku menjawab candaan Kohaku-san dengan nada waspada, seolah melindungi diri sendiri.
Sepertinya, pembicaraan serius kami tadi hanya berlangsung sebentar. Aku merasa sedikit lega.
"Enggak nyangka deh, aku yang bakal dikatain kayak gitu sama cowok. Tapi ya udah, jadi gimana nih? Kamu lebih pilih Marin daripada aku?"
"Eh? Ya jelas lah."
"Aku bisa kasih kamu sebanyak yang kamu mau, tapi anakku nggak akan aku kasih, ya!"
"Tolong pertimbangkan lagi, Bu. Aku akan membahagiakan putri Ibu!"
"Tidak! Yang akan membahagiakan Marin itu aku!"
"Kalian berdua... ngomong apaan sih!?"
Di tengah drama konyol antara aku dan Kohaku-san, Marin-chan jadi tersipu parah sampai mukanya memerah seperti tomat, berteriak, "Hyawaaaahhhh~!!" dan kepalanya mulai berputar-putar.
Melihat itu, Kohaku-san langsung tertawa terbahak.
Aku pun ikut tertawa.
Suasana makan malam yang ramai itu—untuk sesaat—terasa seperti keluarga biasa, penuh tawa dan kehangatan.
***
"Apa kamu mau makan yang manis-manis?"
Sambil mencuci piring bersama Marin-chan setelah makan malam, aku bertanya begitu.
Mendengar kata-kataku, punggung Kohaku-san yang sedang duduk di sofa ruang tamu sambil asyik menekan-nekan ponselnya langsung bereaksi. Oke, datang juga akhirnya, tile ini! Tsumo. Honitsu, Toitoi, Sanankou. Sepertinya dia sedang main game gacha mahjong lagi.
"Jadi, bagaimana? Mau atau tidak?"
"Kamu bawa oleh-oleh atau semacamnya?"
"Bukan sih, tapi aku bisa beliin di supermarket sebelah. Soalnya aku sudah sering dikasih makan di sini, jadi ini semacam tanda terima kasih."
"Serius nih? Anak kuliahan miskin mau traktir?"
"Aku selalu berusaha untuk tidak lupa berterima kasih pada orang yang baik padaku."
Meski begitu, ini bukan sesuatu yang biasa aku lakukan. Bahkan, ini pertama kalinya. Entah kenapa malam ini aku hanya merasa ingin melakukannya saja.
Kohaku-san menoleh ke arahku tanpa menggerakkan tubuhnya, hanya lehernya saja yang diputar.
"Kalau begitu, aku terima saja tawaranmu. Aku mau itu, éclair."
"Baik. Kalau Marin-chan mau apa?"
"Hmm, boleh aku ikut dan pilih sendiri?"
"Tentu saja. Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan sebentar."
"Yay! Jalan-jalan malam itu seru ya."
Begitulah, setelah selesai cuci piring, aku dan Marin-chan keluar rumah berdua.
Bulan purnama masih bersinar terang seperti raja malam di langit yang gelap.
Cahaya bulan membuat bayangan kami berdua memanjang jauh ke belakang.
Bayangan itu menyatu seolah meniru kami, tangan kami yang saling menggenggam bergerak ke depan dan ke belakang seperti sedang bermain ayunan.
Rasanya seperti hanya ada kami berdua di dunia ini, dan seluruh malam seakan menjadi milik kami berdua.
"Itu katanya disebut Strawberry Moon."
"Eh?"
"Bulan malam ini, begitu namanya. Aku belajar di sekolah."
Suara Marin-chan yang penuh percaya diri membuat udara malam yang manis ini sedikit bergetar.
Sekarang aku ingat, pagi ini berita juga sempat menyebutkan hal itu. Katanya, itu berasal dari kebiasaan masyarakat adat Amerika, dan tidak ada hubungannya dengan warna bulannya.
Bulan purnama bulan Januari disebut Wolf Moon. Februari disebut Snow Moon. Maret disebut Worm Moon, dan setiap bulan punya nama tersendiri. Bulan ini disebut Strawberry Moon.
"Padahal namanya strawberry, tapi warnanya tidak merah ya."
Seolah membaca naskah berita, aku pura-pura tidak tahu meski sebenarnya aku tahu.
"Katanya karena ini musim panen stroberi, jadi disebut begitu."
"Oh, begitu ya. Marin-chan pintar sekali. Hebat!"
"Hehehe. Kalau Kakak gimana? Belajarnya rajin juga?"
"Hmm, ya lumayanlah."
"Lumayan ya."
"Kamu senang sekolah?"
"Ya," jawab Marin-chan sambil mengangguk senang.
"Anak laki-lakinya agak usil sih. Sejak masuk SMP, makin banyak yang seperti itu."
"Itu karena mereka suka sama Marin-chan."
"Eh!? Masa sih?"
"Mereka pengen ngomong sama kamu, tapi karena nggak bisa ngomong baik-baik, akhirnya malah usil."
"Aneh," gumam Marin-chan. Katanya, kalau memang mau ngobrol, tinggal panggil saja. Wajahnya benar-benar terlihat bingung. Aku pun mengangguk setuju.
Kenapa ya manusia begitu sulit bersikap jujur?
Makhluk yang sungguh canggung dan tidak pandai mengungkapkan perasaan.
"Kalau mereka ngomongnya lembut seperti Kakak, aku pasti langsung jadi teman mereka."
"Eh?"
"Kakak nggak pernah usil, jadi pasti punya banyak teman di sekolah, kan?"
Aku sebenarnya bisa saja berbohong. Seperti soal Strawberry Moon tadi, aku bisa pura-pura tidak tahu dan menjawab sebaliknya dari kenyataan.
Tapi kali ini, aku tidak bisa menjawab "lumayanlah" seperti tadi.
Ya, pada akhirnya aku juga sama saja.
Sama tidak pandainya seperti anak-anak laki-laki di kelas Marin-chan.
"Sebenernya, aku itu... anak kesepian."
"Kesepian? Maksudnya seperti 'lumayan' tadi?"
Marin-chan memiringkan kepala dengan polos. Rambutnya yang lembut bergoyang tertiup angin malam. Di balik rambut itu, sepasang mata besarnya yang dalam memandangku seolah menggali ke dalam diriku dari kegelapan malam.
"Bukan. Maksudku aku benar-benar sendiri. Di sekolah, aku nggak punya teman."
Itulah diriku yang sebenarnya.
Izuha dan Marin-chan mungkin salah paham, tapi aku sebenarnya sama saja dengan Izuha—tidak punya teman.
"Eh? Tapi bukannya Kakak sekarang kerja jadi teman orang ya?"
"Iya sih. Aneh juga, ya."
Aku tidak punya satu pun teman di kelas, tapi sekarang aku dibayar untuk menjadi teman seseorang yang juga tidak punya teman.
Memang... dunia ini aneh sekali, ya.



Posting Komentar