“Ah, sial. Seriusan, nih?”
Aku mengumpat sambil menghembuskan napas kasar di depan papan informasi elektronik.
Aku sudah buru-buru ke stasiun dengan sepeda pinjaman dari Yuubara, tapi kereta ke arah tujuanku baru saja berangkat beberapa menit lalu. Jalurnya jarang dilewati kereta, dan berikutnya adalah kereta terakhir malam ini.
Dan itu pun... satu jam lagi.
Tanpa banyak pikir, tubuhku langsung bergerak ke langkah selanjutnya.
Aku kembali menaiki sepeda pinjaman dari Yuubara dan mulai mengayuh sekuat tenaga menembus malam di kota.
Angin malam membelai pipi dan menerbangkan poniku ke belakang. Sayangnya, anginnya malah datang dari depan sejak tadi. Aku menggigit gigi dan menggenggam erat setang sepeda.
“Uraaahhhhhhhhhh──!!”
Seakan menantang dunia yang terasa kejam ini, aku menginjak pedal dengan kaki kanan, lalu menghentak lebih keras lagi dengan kaki kiri.
Setelah itu, lebih kuat lagi: kanan. Kiri. Kanan. Kiri.
Berbagai pemandangan yang diterangi lampu jalanan muncul satu per satu dari dalam gelapnya malam, dan berlalu begitu cepat di sisiku.
Sebuah mesin penjual otomatis tua yang masih menjual minuman kaleng seharga delapan puluh yen. Lampu lalu lintas merah yang berkedip terus seperti kedipan mata. Tiang-tiang listrik yang berjajar lebih rapi daripada barisan murid saat upacara bendera. Di parkiran minimarket, ada sebuah truk yang bagian dalam kaca depannya dipenuhi boneka karakter anime.
Salah satu karakter anime itu... adalah karakter favorit Izuha.
Kalau tidak salah, dulu kami pernah bertengkar karena itu.
Yah, lebih tepatnya aku cuma dimarahi sepihak sih, bukan bertengkar.
Hari itu, di atas meja ruang tamu rumah keluarga Izuha, ada beberapa boneka karakter anime yang berjajar rapi.
Kata Izuha, itu salah satu karakter favoritnya, dan ia bahkan mencucinya dengan tangan secara khusus.
Waktu itu, aku bertanya tanpa maksud apa-apa.
“Eh? Kenapa ada dua boneka yang sama?”
“Eh? Nggak ada kok. Kamu ngomong apa sih? Kamu lihat apa? Ini cerita horor? Jangan, dong. Aku kan tinggal sendiri... malam... toilet... ya ampuuuuuuun!!”
“Tapi, yang ini dan yang ini kan sama, kan?”
Aku menunjuk dua boneka itu satu per satu, sementara Izuha terlihat benar-benar panik.
“……Hah?”
Suaranya tiba-tiba berubah dingin banget.
“Itu beda, tahu? Yang ini karakter favoritku, dan yang itu si junior-chan.”
“Serius? Kupikir itu sama. Soalnya warna rambutnya sama-sama oranye.”
“RAMBUT!!”
Ekspresi Izuha berubah menyeramkan, seperti iblis.
“Panjang rambutnya juga kira-kira sama, kan?”
“Tomoya-kun, kamu tuh ya... menilai orang cuma dari warna dan panjang rambut aja?! Coba lihat baik-baik deh. Jelas-jelas beda, tahu! Model rambutnya beda, dasi seragamnya beda, bentuk mata dan mulutnya juga beda~!”
“Beda, ya?”
Aku coba membandingkan kedua boneka itu lagi setelah mendengarnya, tapi aku tetap tidak melihat perbedaan apa pun. Aku sempat curiga, jangan-jangan Izuha lagi nge-prank aku dengan serius.
“Nggak sama! Sama sekali nggak sama, ngerti nggak?!”
“Yume, kamu kayaknya berubah karakter deh? Emang biasanya ngomongnya begitu?”
“Lupakan soal perubahan karakternya! Sekarang kamu duduk, Tomoya-kun. Duduk bersila di situ!”
“Eh? Kenapa?”
“Karena mulai sekarang kita nonton anime bareng, jelas?! Kamu harus menanamkan dalam jiwamu tentang betapa bersinarnya karakter favoritku dan betapa wholesome-nya hubungan mereka dengan si junior-chan!”
“Kamu serem banget, Yume-san…”
Matanya serius banget.
Setelah itu, aku dipaksa nonton anime dari season pertama, season kedua, sampai movie-nya selama tiga hari penuh.
Berkat itu, sekarang aku bisa langsung tahu mana karakter favorit Izuha hanya dengan sekali lihat. Tapi kupikir kemampuan identifikasi ini tidak akan terlalu berguna dalam hidupku ke depannya.
Ya, walaupun begitu... mungkin masih lebih berguna daripada konjugasi verba tak beraturan dalam bahasa Jepang.
Soalnya, sekarang aku jadi nggak akan menginjak “ekor Izuha” secara tidak sengaja lagi.
Sepeda terus melaju.
Roda berputar.
Di depan sana ada halte bus—halte tua dengan bilik kecil khas daerah pedesaan.
Bangkunya memudar karena hujan dan angin, bahkan ujungnya ada yang retak.
Di telingaku, suara hujan dari masa lalu kembali menggema.
Dalam perjalanan pulang dari kerja paruh waktu, aku yang bodohnya lupa membawa payung meski sedang musim hujan, berteduh sebentar di halte bus.
Tapi sudah kutunggu cukup lama, hujan itu tak kunjung reda.
Aku pun mulai serius mempertimbangkan—mana yang lebih mahal: beli payung dari minimarket atau biaya berobat kalau sampai masuk angin karena basah kuyup?
Termasuk kemungkinan aku tidak kena flu juga, tentu saja.
Saat aku sedang memandang langit kelabu itu dengan kesal...
“Ah, ternyata kamu di sini.”
Izuha muncul dengan dua payung di tangan.
Satu dia pakai, satu lagi masih tertutup.
“Kenapa kamu datang ke sini?”
“Aku ingat kamu tadi nggak bawa payung, jadi aku kejar ke sini.”
“Serius?”
“Iya. Nih, pakai.”
Padahal bisa saja aku punya payung lipat di tas. Atau mungkin aku sempat beli di jalan.
Kemungkinannya justru lebih besar ke sana.
Dia bisa saja berpikir itu cuma perasaannya sendiri dan membiarkanku menghadapi sendiri.
Tapi Izuha Yume ini, hanya karena membayangkan aku mungkin saja kehujanan, ia memilih mengejarku—tanpa tahu apakah bisa menyusul atau tidak.
“Terima kasih. Aku tertolong banget.”
“Ehehe, sama-sama.”
Hari itu agak dingin karena hujan.
Tapi saat aku membuka payung yang dia berikan, tubuhku langsung terasa hangat.
Padahal itu cuma payung plastik bening biasa yang dijual di mana-mana.
Tapi hatiku, benar-benar terasa hangat.
“Sebagai ucapan terima kasih, aku traktir kamu minuman di minimarket. Mau camilan juga boleh.”
Itu bukan karena hitung-hitungan atau strategi apa pun.
Meskipun jadi lebih mahal daripada beli payung, aku benar-benar merasa senang saat itu.
Tak lama, tanjakan curam muncul di depan.
“Bawa ke sini, dunia!!”
Aku berdiri di pedal dan kayuh dengan sekuat tenaga.
Tentu saja, saat menanjak, beban makin berat dan kecepatanku menurun.
Tapi aku tidak sekali pun menapakkan kaki ke tanah.
Aku terus mengayuh pedal.
Mungkin ini cuma keyakinan bodoh, tapi aku merasa—kalau aku berhenti sekali saja, aku tidak akan bisa sampai ke tempat Izuha.
Dengan tekad dan semangat, aku berhasil menaklukkan tanjakan itu.
Dan di ujungnya, tampak sebuah kuil.
Kuil yang juga pernah kami lewati sepulang dari satu-satunya kencan kami.
“Ah! Dengar-dengar, nanti bakal ada festival musim panas di kuil ini. Tuh, lihat tuh!”
Izuha berseru sambil menunjuk papan pengumuman di depan kuil.
“Seru ya, festival musim panas. Pakai yukata, lihat mikoshi. Jajan di stan-stan. Kamu suka apa, Tomoya-kun? Aku sih suka permen apel, baby castella, takoyaki, sama es serut!”
“Aku sih belum pernah jajan di stan festival…”
Mendengar itu, ekspresi Izuha langsung jadi muram. “Maaf,” katanya.
“Kamu punya trauma soal itu?”
“Enggak. Cuma... makanan di stan mahal, kan? Jus yang di supermarket cuma seribuan bisa jadi tiga ratus yen di festival. Menghambur-hamburkan uang cuma karena suasananya tuh bodoh.”
“Waaah, Tomoya-kun tetap aja pelit. Kalau pergi ke festival bareng kamu, pasti ngebosenin.”
“Kalau aku pergi ke festival bareng kamu, kayaknya bakal ribut banget.”
“Apa, sih?”
“Suaramu bisa sampai nutupin suara kembang api.”
“Enggak segitunya!”
Kami terus berdebat soal gimana jadinya kalau kami benar-benar pergi ke festival bareng.
Izuha pasti nyasar. Nggak, kamu yang nyasar, Tomoya. Kenapa aku? Kamu kan emang buta arah. Nggak juga! Bohong~. Riuh dan ramai.
Kami begitu semangat membicarakannya, tapi tak satu pun dari kami mengucapkan,
“Kalau gitu, ayo kita benar-benar pergi bareng.”
Karena kami tahu.
Festival itu jatuh di akhir Juli.
Dan saat itu tiba, hubungan pura-pura kami ini pasti sudah berakhir.
Tanjakan yang tadi kudaki, kini kulewati dengan menuruni secepat mungkin.
Berbanding terbalik dari tadi, kecepatanku terus meningkat.
Bahkan batu kecil pun bisa membuat stang sepedaku oleng.
“Waaah... hampir aja jatuh.”
Baru saja hati-hati, aku nyaris tergelincir.
Rasa dingin menjalar di punggung.
Tubuhku mendadak panas, lalu dingin. Keringat dingin membasahi tubuh.
Nafasku tercekat. Sesak. Jantungku sakit.
Tapi aku tidak rem.
Sebaliknya, aku terus mengayuh pedal.
Waktu yang kuhabiskan bersamanya hanyalah enam minggu.
Bahkan tidak sampai satu persen dari keseluruhan hidupku.
Tapi, begitu banyak kenangan bersinar dalam waktu sesingkat itu.
Di mana pun aku memandang, di berbagai sudut dunia ini, Izuha Yume seperti bintang yang tersebar di langit malam.
Ya, benar juga.
Lama waktu itu tidak berarti apa-apa.
Aku menatap bulan yang menggantung di langit malam.
Hey...
Kira-kira aku bisa, nggak ya?
Menjadi seperti Izuha waktu itu—menjadi bulan yang menerangi malamnya.
Atau, bukan. Bukan begitu.
Bukan “bisa nggak ya?”, tapi “AKU HARUS JADI.”
Karena itu aku pergi.
Ke tempat si bodoh yang menangis sendirian, tapi tetap tidak mau jujur dan bilang "Aku kesepian".
Aku ingin menyampaikan sesuatu.
Hey, mau dengar nggak, Izuha Yume?
***
Di depan mata gadis itu, gachaan, pintu kereta menutup. Cahaya yang sempat menerangi wajah cantiknya juga perlahan menyempit seiring pintu tertutup, lalu menghilang sepenuhnya.
Sekelilingnya perlahan tenggelam ke dalam kegelapan malam, seolah dibungkus dengan lembut.
Saat kereta melaju menembus malam, hanya Izuha Yume yang tertinggal sendirian di stasiun itu.
Sebelum keberangkatan, sang kondektur sempat menanyakan, "Ini kereta terakhir, tidak apa-apa, kan?" dan gadis itu hanya menjawab sambil tersenyum, "Tidak apa-apa."
Padahal, kenyataannya sama sekali tidak baik-baik saja, dan dia bahkan tidak sedang tersenyum. Tapi kesedihannya disembunyikan oleh kegelapan malam yang menenangkan.
Tak seorang pun di dunia menyadari perasaannya.
Malam begitu sunyi, seolah dunia sedang tertidur.
Hanya ada suara angin yang sesekali menggoyangkan rumput, nyanyian serangga, dan sedikit suara ombak — hanya itu saja.
Tak ada suara tawa, tak ada teriakan, bahkan tangisan pun tidak terdengar.
Setelah melihat Kuguruki Tomoya di depan sekolah, Yume naik kereta sendirian dan datang sejauh ini.
Kali ini, semua itu bukan hasil dari pertimbangan atau rencana.
Tubuhnya hanya bergerak dengan sendirinya, seperti sedang mengumpulkan kembali pecahan kenangan.
Namun, sampai di sinilah ia bisa pergi. Begitu ia duduk di bangku stasiun, kakinya terasa seperti berubah menjadi batu dan tak bisa bergerak lagi.
Kalau dipikir-pikir, itu adalah hal yang wajar.
Karena Yume memang sudah tidak punya tempat yang ingin ia tuju.
“Bukan begini yang kuharapkan…”
Sejak kehilangan kedua orang tuanya, ia mulai takut untuk menyayangi seseorang lagi. Ia berpikir untuk hidup sendirian. Tapi sebenarnya, Yume adalah gadis yang manja dan sangat suka bersama orang lain.
Ia bukan tipe orang yang cukup kuat untuk terus hidup sendirian.
Karena itulah, rencana persahabatan palsu itu mungkin memang sudah gagal sejak awal.
Bagaimanapun bentuknya, apa pun awal pertemuannya, begitu seseorang bertemu orang lain, ia tidak bisa terus sendirian.
Dan yang terpenting, orang yang ia temui itu terlalu berbahaya.
Ia sendiri tak sadar, tapi kalau dipikir kembali, sejak awal ia sudah tertarik pada Kuguruki Tomoya. Bukan hanya karena wajah atau suaranya yang sesuai dengan tipe ideal, ada alasan yang jauh lebih dalam.
Ia baru benar-benar menyadari hal itu malam ketika Tomoya mengungkapkan kelemahannya.
Mereka memang punya nasib yang berbeda. Karena itu, luka yang mereka bawa dan rasa sakit yang mereka tanggung pun berbeda. Tapi tetap saja, baik Izuha Yume maupun Kuguruki Tomoya, mereka berdua memikul kehampaan yang sama di dalam hati.
Rasanya... menyenangkan.
Ia menyadari bahwa merasa sendiri dan kesepian bukan hanya dirinya seorang di dunia ini.
Karena itulah, ia ingin tetap berada di sisi Tomoya.
Ia ingin mengatakan bahwa ada seseorang di sisinya.
Bahwa ia tidak sendirian.
Bahwa ia ada di sini untuknya.
Bahwa ia tidak benar-benar sendirian di dunia ini.
“Sebenarnya, akulah yang ingin mendengar kata-kata itu…”
Yume memeluk lututnya sambil duduk meringkuk di atas bangku. Air matanya kembali mengalir deras tanpa bisa dihentikan. Luka di hatinya masih segar dan bernanah, tak ada tanda-tanda bahwa air matanya akan mengering dalam waktu dekat.
Ia teringat janji yang pernah dibuat bersama orang tuanya.
Janji untuk merayakan sesuatu bertiga di tempat ini.
Ia tidak pernah membayangkan janji itu akan dilanggar. Tapi kini, Yume berada sendirian.
Dua orang yang seharusnya membuatnya tersenyum, kini tak lagi ada di dunia ini.
Ia juga mengingat Kuguruki Tomoya.
Meskipun waktu yang mereka habiskan bersama sangat singkat, tapi kenangan mereka begitu banyak hingga tak bisa dihitung.
Kenangan-kenangan itu bersinar seindah bintang, dan justru membuat hati Yume semakin rapuh.
Awalnya, yang membuatnya tertarik adalah rasa empati. Tapi sekarang, bukan hanya itu.
“Kesepian…”
Suaranya bergema pelan di keheningan malam dan perlahan larut ke dalam gelap.
“Sendirian itu... sesepi ini rasanya. Aku ingin bersama seseorang. Aku tidak mau sendirian. Rasanya sesak. Menyakitkan. Menyedihkan. Menakutkan. Dingin…”
Dunia Izuha Yume kini dipenuhi oleh keputusasaan yang begitu dalam.
“…Tolong… ada siapa pun, tolong aku…”
Namun tetap saja, yang bisa ia ucapkan hanya "siapa pun" — itu sudah menjadi batas kemampuannya.
Ia tidak bisa menyebut nama dia. Tidak sanggup.
Dan saat itulah, air matanya... tiba-tiba terangkat pelan, seolah disambut oleh seseorang──.
***
Sebelum air mata milik Izuha jatuh dan hancur ke bumi, aku sempat menadah dan menghapusnya.
Agar dia tak perlu lagi menunduk dalam kesedihan.
Agar dia bisa menatap ke atas, ke arah bulan yang bersinar dengan indah.
“Eh?”
Dengan ekspresi terkejut, akhirnya Dewa menoleh ke arahku.
Matanya memerah, penuh jejak kesedihan yang mendalam.
Sebagai gantinya, aku tersenyum lebar. Ya, aku tertawa sekuat mungkin seakan berkata bahwa tak akan ada lagi hal menyakitkan yang menantinya.
“Maaf, aku terlambat.”
Ternyata benar, Izuha ada di tempat yang sudah kuduga.
Di tempat yang pernah ia bilang selalu ia datangi setiap ulang tahun bersama orang tuanya—tempat yang ada di dalam foto itu. Seorang diri, seperti yang kuduga, sambil menangis.
“Kenapa kamu bisa ada di sini, Kuguruki-kun?”
“Soalnya, kamu memutus telepon secara sepihak. Siapa yang gak bakal kepikiran?”
“Ah… maaf.”
“Yah, gak apa-apa.”
Aku duduk di sebelah Izuha.
Seperti yang biasa kami lakukan di rumah itu, bahu kami saling berdampingan.
Entah kenapa, duduk di sampingnya terasa sangat pas.
“...Kok kamu bisa tahu aku di sini?”
Sambil mengusap matanya dengan kasar, Izuha bertanya.
“Insting.”
“Kamu kan kerja malam ini, ya?”
“Dibatalkan. Aku bantu kegiatan sekolah. Tapi aku tinggalkan di tengah jalan.”
“Gak apa-apa tuh?”
“Mungkin bakal dimarahin, tapi gak masalah. Aku udah siap. Karena itu, aku di sini.”
Mataku sudah terbiasa dengan kegelapan malam setelah berlari sejauh ini.
Karena lampu jalan sedikit, bintang-bintang terlihat jelas.
Seperti yang kulihat di hari terakhir kerja paruh waktu, segitiga musim panas masih tergantung di langit.
Musim panas yang sesungguhnya telah tiba, dan seharusnya kami tak lagi bersama.
Namun, meski terpisah oleh Bima Sakti, aku ingin tetap berada di sisinya.
Bukan hanya sekali setahun, tapi lebih sering lagi.
Aku memohon dengan sungguh-sungguh pada Vega dan Altair—maukah mereka mengabulkannya?
“Seperti yang kamu bilang, bintangnya memang luar biasa. Gak mungkin bisa lihat ini di kota.”
“Kan?”
“Iya, luar biasa indah.”
Lautan pun terlihat.
Tak seperti siang hari, laut yang kosong itu sunyi, sedikit menyedihkan dan agak menakutkan.
Debur ombak pun terdengar.
Diiringi suara ombak itu, kami melanjutkan percakapan perlahan.
“Ngomong-ngomong, hari ini kan ulang tahun kamu.”
“Iya?”
“Maaf, karena buru-buru jadi aku gak sempat beli kado.”
“Gak apa-apa kok.” Izuha menggeleng.
Aroma manis sampo yang biasa ia pakai samar tercium di antara bau asin laut.
“Padahal aku bilang gak perlu hadiah, tapi kamu tetap datang. Itu udah jadi hadiah terbaik. Aku senang banget.”
“Eh?”
“Kamu datang sejauh ini, kayak pahlawan.”
“Begitu, ya.”
“Kenapa kamu sejauh ini datang? Berkeringat segitunya, berlari seperti orang gila. Aku kan udah bukan klien kamu lagi. Kita juga bukan teman lagi…”
Aku tahu jawabannya.
Tapi saat ingin mengucapkannya, aku jadi sangat gugup.
Tenggorokanku kering, wajahku pasti merah.
Untung sekarang malam. Kalau siang, aku pasti udah diketawain.
“Aku pengin bersamamu.”
“Apa maksudnya?”
“Karena kamu—enggak, karena Yume menangis. Dan aku tahu, mungkin kamu sendirian. Jadi aku ingin berada di sisimu. Itu sebabnya aku berlari ke sini... Yume.”
Tapi, sebenarnya aku belum punya hak untuk mengatakan itu.
Itu sebabnya, aku harus mengatakan ini.
Mantra lama yang sudah berdebu, yang tak ada lagi yang mau pakai.
Aku ingin menyampaikannya padamu, dengan sungguh-sungguh:
"Mau jadi temanku?"
Aku gak pernah menyangka akan mengucapkan kata-kata itu lagi.
Apalagi di stasiun kecil dan sepi yang bahkan kereta terakhir pun sudah lewat.
Dan kepada teman sekelasku yang gak sekolah.
Tapi mungkin karena hubungan kami gak biasa, karena awal pertemuan kami pun aneh, aku harus memulainya dari sini.
“Bukan karena uang atau pekerjaan. Tapi sebagai teman sejajar, biasa saja.”
Izuha tertawa.
“Berarti… itu tandanya kamu setuju?”
“Sebenernya aku gak mau.”
“Eh? Kok gitu!? Kenapa?! Jelasin dong!”
“Yah, gimana ya…”
Sambil menggaruk pipi,
“Aku lebih pengin hubungan yang bukan cuma teman. Lebih dari itu…”
Suaranya pelan sekali.
Lebih pelan dari suara serangga.
Tertelan ombak, aku nyaris tak mendengarnya.
“Ha? Apa tadi? Aku gak dengar.”
“Gak, gak ada apa-apa~. Haaah, dasar... ya udah deh. Kalau Tomoya-kun maksa banget, aku mau jadi teman sekarang.”
Setelah berkata begitu, Izuha menyandarkan kepalanya di pundakku.
Dia gemetar.
Suara, tubuh, dan mungkin hatinya juga.
“Hey, Tomoya-kun. Kita ini sekarang... teman, kan?”
“Iya.”
“Kamu bakal tetap di sisiku, kan?”
“Iya.”
“Kamu gak bakal ninggalin aku, kan?”
“Iya.”
“Kalau begitu…”
“Ya?”
“Boleh gak… aku manja sedikit?”
Tanpa menunggu jawabanku, Izuha mulai menangis keras.
Kesedihan dan keputusasaan yang selama ini ia tahan dalam tubuh kecilnya akhirnya tumpah.
Tangisan itu, air mata itu, berkilauan bagaikan cahaya bintang.
Berkali-kali membasahi pipinya yang putih dan lembut.
Tetesan cahaya itu terus mengalir.
Tak peduli berapa kali aku mengusapnya, tetap tak cukup. Tak bisa mengejarnya.
Begitu menyadarinya, tubuhku bergerak sendiri.
Ya. Aku memeluk tubuh mungil Izuha seerat mungkin.
Mendekapnya dalam pelukanku, mengelus rambut lembutnya berulang-ulang.
Karena dia menekan wajahnya ke dadaku, seragamku jadi basah oleh air matanya yang panas.
Agak lengket, jujur saja, gak enak.
Tapi aku tetap di sisinya.
Aku gak akan meninggalkannya.
Karena aku, Tomoya Kuguruki, dan Yume Izuha adalah teman.
“Selamat ulang tahun, Yume.”
Itu seharusnya ucapan dari dua orang lainnya.
Karena mereka tak ada, aku yang mengucapkannya.
Sambil menangis, Izuha mengangguk.
“Terima kasih, karena sudah ada di sini.”
Dia terus menangis cukup lama.
Hanya bulan dan bintang yang menyaksikan kami berdua.
Dengan cahaya yang lembut, mereka menerangi malam yang tak lagi sepi.
* * *
"Kalau begitu, ya sudah. Kita jalan kaki saja."
Awalnya, sepertinya Yume berniat pulang naik taksi, tapi begitu tahu aku datang dengan sepeda, dia langsung berkata seperti itu tanpa ragu.
"Kau tahu butuh waktu berapa lama dari sini ke rumah?"
"Semoga saja kita bisa sampai sebelum matahari terbit."
Setelah menangis sampai kehabisan air mata, Yume kembali ke sifat cerianya seperti biasa dan dengan penuh semangat mengangkat tangannya ke langit malam sambil berkata, "Ayo!!"
Aku tak bisa melawan keinginan pemeran utama hari ini, jadi terpaksa aku mendorong sepeda sambil berjalan di samping Yume.
Tentu saja, akan jauh lebih cepat jika aku mengayuh sepeda.
Tapi, kupikir jalan bersama seperti ini—berdua—jauh lebih menyenangkan daripada melaju sendiri.
Begitulah manusia.
Meskipun ada cara hidup yang lebih efisien atau lebih benar, kita tetap memilih jalan yang lebih menyentuh perasaan.
Dan ya, mungkin ketidakefisienan inilah yang menjadi ciri khas kami.
Karena kami tidak pandai menjalani hidup, maka kami memilih untuk terus bersama.
Dengan seseorang di samping, rasanya seperti bisa berjalan sejauh apa pun.
"Ngomong-ngomong, aku heran kau yang buta arah bisa sampai ke sini naik sepeda."
"Semua berkat alat canggih bernama smartphone."
"Meski begitu, kau tetap bisa nyasar, kan?"
"Yah, memang aku sempat salah jalan. Awalnya, rencananya aku masih sempat naik kereta terakhir."
"Kan, benar dugaanku."
Yume tertawa sambil memperlihatkan deretan giginya. Di pipinya, masih terlihat jelas sisa-sisa kesedihan yang belum sempat aku hapus.
Mustahil menghapus semua luka yang ia pendam hanya dalam semalam.
Atau mungkin, seumur hidup pun dia akan terus membawa luka itu.
Aku sudah tahu sejak awal.
Tapi meski bekasnya akan tetap ada, lukanya pasti akan memudar.
Mengubah rasa sakit menjadi kenangan, seharusnya bukan hal yang mustahil.
Sampai hari itu tiba, aku akan terus berada di sisinya.
"Ngomong-ngomong, hari ini aku lihat kau, lho."
"Maksudnya gimana?"
"Aku kebetulan lewat depan sekolah. Sumpah, kebetulan. Beneran kebetulan."
"Aku nggak curiga, kok. Santai aja, kenapa jadi panik?"
"Ehem. Terus, aku lihat kau kelihatan akrab sama Shion-chan."
"Hmm."
"...Dia bukan pacarmu, kan?"
Yume menatap wajahku, seolah ingin memastikan.
"Tentu saja bukan. Mana mungkin dia mau sama aku. Dia populer banget di kalangan cowok, tahu."
"Tapi, kalian kelihatan deket banget. Kayak tipe-tipe yang awalnya teman terus jadi pacar gitu, lho."
Oh, iya. Ada satu kesalahpahaman yang harus aku luruskan.
"Dia itu bukan temanku."
Mungkin suatu hari nanti kami bisa jadi teman. Tapi sekarang belum. Tidak seperti Yume, aku belum pernah menawarkan 'kontrak kuno' itu pada Yuubara.
Karena teman pertamaku sudah kutentukan sejak awal.
"Hah? Jadi, pacar? Atau hubungan yang... cuma fisik?"
"Hoi. Jangan asal ngomong, woy."
Aku mendesah lelah melihat Yume yang mendadak heboh sendiri. Iya, aku hampir lupa karena dia bersikap manis barusan, tapi dia memang selalu seperti ini.
Mungkin aku terlalu cepat bertindak.
"Bukan itu maksudku. Agh, ya sudahlah. Aku jelaskan saja sekalian. Di sekolah, aku itu anak yang kesepian, tahu."
"Kau nggak perlu bohong cuma biar aku nggak merasa bersalah."
"Aku nggak bohong. Dengerin aja, toh malam masih panjang."
Sambil mendengar suara roda sepeda yang berputar seperti tawa ringan, aku mulai menjelaskan pada Yume.
Tentang diriku di sekolah.
Tentang bagaimana aku terlalu sibuk kerja paruh waktu hingga sulit bergaul.
Tentang Yuubara si ketua kelas yang sebenarnya hanya berusaha bersikap ramah.
Dan bahwa hubungan kami tak seakrab yang dibayangkan Yume.
Setelah penjelasan itu selesai, pembicaraan kami pun terhenti.
Aku kelelahan, dan Yume pasti juga begitu.
Kami terus berjalan berjam-jam, bahkan setelah kereta mulai beroperasi kembali, kami tak beranjak ke stasiun.
Kami terus berjalan.
Melewati malam, menyambut pagi.
Meski sudah musim panas, ini adalah malam terpanjang dalam hidupku.
Fajar mulai menyelimuti dunia dengan cahaya putih tipis, seperti kerudung pengantin.
Di balik tirai itu, terlihat langit biru cerah menandakan hari baru.
Dunia perlahan berubah dari monokrom ke warna-warni.
Semua yang terlihat dan terasa—dunia ini begitu indah, penuh warna, dan hangat.
Perasaan seperti ini… apa ya namanya?
Aku merasa seperti tahu, tapi juga seperti tidak tahu.
Saat akhirnya kami tiba di rumah Yume dengan selamat, matahari sudah agak tinggi. Sepertinya hari ini juga akan panas.
Di tengah udara panas, kota pun mulai terbangun.
"Enaknya kamu, Yume."
"Maksudmu?"
"Kau bisa tidur sekarang, kan? Aku harus pulang, mandi, lalu langsung ke sekolah."
Sebenarnya aku ingin bolos saja, tapi…
Aku masih harus kembalikan sepeda ke Yuubara.
Dan aku juga penasaran dengan reaksi Chikamatsu.
Setidaknya aku akan kembalikan kunci ke Yuubara dan absen sebentar, lalu mungkin kabur.
Kami berpisah di depan pintu rumah Yume.
Sebelum masuk, dia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Hari ini—eh, maksudnya kemarin ya—terima kasih banyak. Ini jadi ulang tahun yang nggak akan pernah aku lupakan."
Tapi saat dia mengangkat kepala lagi, yang terlihat hanyalah senyum.
Senyum cerah yang tak kalah terang dari matahari.
"Kalau begitu, aku senang."
"Iya."
"Ya udah, sampai jumpa."
Kali ini, untuk kata perpisahan, aku memilih "sampai jumpa".
Karena sekarang kami tahu akan ada "sampai jumpa" itu.
"Iya. Sampai nanti, ya."
Lalu dia melambaikan tangan.
Aku yang sudah benar-benar kelelahan tak menyadari sama sekali arti di balik kata-kata yang Yume ucapkan sambil tersenyum tadi—kata-kata yang ia ubah dengan sengaja.
Dan aku baru menyadarinya sekitar dua jam kemudian.


Posting Komentar