Sejak hari setelah aku tidak perlu lagi pergi ke rumah Izuha, aku langsung memulai pekerjaan paruh waktu yang baru.
Pekerjaan kali ini adalah mengambil barang edisi terbatas hasil kolaborasi dengan seorang idola yang belakangan ini sedang naik daun—katanya, itu hadiah ulang tahun untuk putrinya.
Sepulang sekolah, aku naik kereta selama empat jam pulang-pergi.
Setelah itu aku kembali ke kantor, melaporkan semuanya pada Kohaku-san, lalu makan malam bertiga bersama Marin-chan.
Keesokan harinya, pekerjaan paruh waktu yang lain.
Dan besoknya lagi, pekerjaan yang berbeda lagi.
Hari-hari tanpa Izuha pun kembali seperti semula.
Waktu terus menumpuk tanpa memedulikan keinginanku.
Lambat laun, aku mungkin akan melupakan seperti apa pemandangan yang dulu pernah ada di sana.
Mungkin ini terdengar kejam, tapi hidup memang seperti itu.
Ketika minimarket langgananmu tutup, awalnya memang terasa menyedihkan, tapi setelah beberapa hari berlalu, kamu akan menemukan minimarket baru yang jadi tempat langgananmu berikutnya.
Itulah manusia.
Ketika gadis yang dulu jadi cinta pertamaku pindah sekolah,
Ketika manga yang sangat kusukai tiba-tiba dihentikan,
Bahkan ketika orang tuaku mulai membicarakan soal perceraian,
Matahari tetap terbit di pagi hari,
Perut tetap lapar dan aku makan,
Saat mengantuk, aku tetap tidur di ranjang.
Lihat saja,
Semuanya tidak sesulit itu pada akhirnya, dan aku menjalani hidup seperti biasa.
Justru, harus seperti itulah seharusnya.
Kalau terus terbebani oleh perasaan yang berat,
Aku tidak akan bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
***
“Hah? Apa aku baru saja melihat sesuatu yang sangat langka?”
Saat pulang sekolah, aku sedang mengangkut tiga kardus ke gudang olahraga ketika secara kebetulan Yuubara lewat dan berkedip beberapa kali karena terkejut.
Lalu, dengan gaya yang sengaja dibuat dramatis, dia menggosok matanya dan berkata dengan nada berlebihan:
“Besok bakal turun salju, ya?”
“Kalau itu gara-gara aku, bahaya juga. Oke deh. Mending berhenti sekarang juga. Gitu aja.”
“Tunggu, tunggu! Jangan kabur dulu! Aku cuma bercanda, kok.”
Saat aku hendak kabur, ujung seragamku ditarik pelan. Gagal kabur.
“Tapi, serius deh. Ada apa? Biasanya kamu yang paling duluan kabur dari hal-hal kayak gini, kan?”
“Kamu kira aku melakukannya karena mau sendiri?”
“Maksudnya?”
“Aku dipaksa.”
Hanya dengan itu, dia langsung paham.
Tatapan matanya seakan bertanya, ‘Chika-chan?’ dan aku mengangguk sebagai jawaban, ‘Iya.’
Itu kejadian beberapa waktu lalu.
Lewat pesan di aplikasi, Kohaku-san memberi tahu bahwa pekerjaan paruh waktuku hari ini ditunda. Katanya, karena urusan mendadak dari pihak klien.
Dengan begitu, aku tiba-tiba punya hari libur yang tak terduga.
Kupikir, mungkin ini saat yang tepat buat bersih-bersih kamar.
Padahal aku sudah cukup rajin bersih-bersih dan melakukan pencegahan, tapi tetap saja muncul jamur di sudut kamar karena musim hujan.
Aku benar-benar ingin menghilangkan semuanya.
Atau mungkin menyiapkan makanan stok seminggu juga bagus.
Beberapa hari lalu aku melihat resep makanan simpel yang viral di medsos, dan ingin mencobanya. Kalau enak, bisa masuk daftar andalan.
Semua rencana itu langsung buyar dalam sekejap.
Karena ada beruang liar berkeliaran di koridor sekolah.
Beruang yang bisa bicara itu sedang mencari “korban” untuk hari ini. Begitu melihatku, matanya langsung berkilat.
Namanya adalah Chikamatsu.
“Kebetulan kamu ada di sini. Bantu aku. Ini perintah. Jadi kamu nggak punya hak untuk menolak.”
“Eh? Tiba-tiba banget, sih?”
“Minggu depan, anak-anak SMP akan datang untuk tur keliling sekolah. Ini persiapannya.”
‘Kenapa harus aku?’ Kalimat itu sudah sampai di tenggorokanku, tapi hari ini aku menahannya.
Memang merepotkan, tapi waktunya pas.
Kalau aku ada kerja paruh waktu, aku pasti kabur. Tapi hari ini aku libur.
Dan rasanya ini kesempatan bagus buat mencatatkan “peran aktif” di acara sekolah.
Soalnya belum lama ini, aku sempat ditegur.
“Memang benar, kerja paruh waktu diizinkan oleh aturan sekolah, tapi kalau kamu terus-terusan mengutamakan itu daripada kegiatan sekolah, maka kami harus memberikan peringatan keras. Ingat baik-baik itu.”
Chikamatsu sempat mengucapkan hal itu waktu itu.
Kalau dia sampai jengkel dan melapor ke tempat kerjaku, bisa kacau.
Bisa-bisa dia akur dengan Kohaku-san dan hidup kerja paruh waktuku jadi jauh lebih dibatasi.
Lagi pula, aku juga bohong pada Kohaku-san—katanya aku rajin belajar dan aktif ikut kegiatan sekolah.
Kalau kebohongan itu ketahuan, terburuknya aku bisa dilarang kerja.
Itulah sebabnya, aku tak punya pilihan selain mengorbankan hari liburku untuk mengangkut kardus ke gudang olahraga.
“Kalau kamu sendiri, ngapain di sini?”
“Eh, udah lupa, ya?”
Yuubara mengembungkan pipinya dengan ekspresi dibuat-buat.
“Aku ini ketua kelas, tahu. Jadi sama seperti kamu, bantuin persiapan acara open house.”
“Ketua kelas juga harus kerjain hal kayak gini?”
“Soalnya banyak orang kayak seseorang itu, yang nggak mau kerja sama. Jadi terus kekurangan tenaga. Aku sering banget dapet tugas yang nggak enak. Kasihan, kan?”
Seseorang yang dimaksud mendapat tepukan di bahu.
Tapi seseorang itu malah miringkan kepala, seolah nggak ngerti.
“Siapa, tuh? Wah, kasihan juga dia. Aku simpati, deh.”
“Ya ya. Sekali-kali, kerjalah yang rajin, ya.”
Lalu Yuubara mulai berjalan ke arah gudang olahraga.
Sepertinya tujuan kami sama, jadi aku mengikuti di belakangnya.
Langkah Yuubara kecil, jadi aku cepat menyusul dan berjalan di sampingnya.
“Eh, kamu kayak cowok banget, ya.”
“Aku emang cowok dari lahir.”
“Bukan itu maksudku. Kamu tadi angkat kardus berat kayak nggak ada apa-apanya. Makanya.”
“Nggak seberat itu kok.”
“Masa, sih? Tapi tetap aja, keren. Emang cowok banget, deh.”
Entah kenapa, Yuubara kelihatan sangat ceria.
Kayaknya kalau dibiarkan, dia bisa nyanyi-nyanyi sendiri.
Di lapangan, banyak murid sedang latihan ekstrakurikuler.
Anak-anak klub sepak bola dan baseball mengejar bola sambil berlumuran lumpur.
Yang terus berlari keliling lapangan seperti ikan pelagis mungkin dari klub atletik.
Klub renang, yang saat musim dingin gabung latihan dengan klub atletik, sekarang kembali ke habitatnya dan berlatih penuh semangat di kolam yang berbau klorin.
Dari jendela koridor sekolah, terdengar alunan musik dari klub band.
Nada dari terompet yang diangkat tinggi menyatu dengan cahaya jingga dari matahari sore.
Angin berhembus.
Daun-daun di pepohonan saling bergesekan, menimbulkan suara gemerisik.
Sudah lama aku tidak melihat "musim semi biru" seperti ini dengan santai, seperti yang pernah disebut Kohaku-san.
Saat aku menatap pemandangan itu dengan santai, tiba-tiba tangan putih dari samping mengulurkan tangan.
“Kenapa tiba-tiba ngajak salaman?”
“Eh? Maksudnya?”
“Justru aku yang mau nanya itu.”
“Oh, aku ngerti. Kamu salah paham, ya.”
Yuubara tertawa nakal dengan senyum menggoda.
“Aku cuma mau bantuin bawain kardus, kok. Tapi ternyata kamu pengen gandeng tangan aku, ya? Ohh~ gitu~”
Entah kenapa, aku merasa pernah melakukan interaksi seperti ini sebelumnya.
Dulu, perannya dibalik. Aku yang membantu Izuha bawa tas belanja kain.
“Gimana? Mau gandengan tangan beneran?”
“Itu cuma salah paham.”
“Eh, kamu malu ya, malu ya~”
“Bukan gitu. Dan soal kardus, nggak usah dipikirin juga. Beneran, ini nggak berat.”
“Kalau aku tangan kosong dan kamu bawa tiga kardus, nanti aku kelihatan kayak orang yang jahat, dong. Itu nggak bisa dibiarin.”
Sambil tertawa ringan, “Kasih satu, dong!” kata Yuubara sambil mengambil kardus paling atas.
“Maksa banget, sih.”
“Ugh, ternyata ini lumayan berat juga.”
“Kalau berat, balikin aja ke atas. Aku masih kuat, kok.”
“Nggak mau~ aku usahain, deh~”
Dia tertawa kecil.
Aku benar-benar nggak paham apa yang bikin dia sebahagia itu.
Tapi aku sadar...
Aku mulai menikmati interaksi seperti ini bersama Yuubara.
***
Setelah membawa barang-barang ke gudang olahraga, barulah pekerjaan sukarelaku benar-benar dimulai.
Kekurangan tenaga kerja yang kronis ternyata bukan hanya gurauan atau sindiran semata.
Suasana di sekolah setelah jam pelajaran benar-benar kacau balau.
“Uwaaaah! Salah cetak! Gimana ini, gimana ini, gimana ini!”
“Tenang. Kalian kelas satu, cetak ulang yang ini. Cepat sana. Ayo, lari!”
“Brosur untuk guru dan untuk dibagikan ke siswa SMP, simpan terpisah, ya. Iya, yang itu taruh di sebelah sana.”
“Kursi lipatnya kayaknya kurang. Aku ambil lagi, tolong temani aku ke gym, ya.”
Semua orang berlarian membawa tumpukan brosur, kardus, kursi lipat, dan berbagai macam barang lainnya.
“Hei, Kuguruki-kun, kamu ke sini.”
“Siap.”
“Tidak ada waktu untuk bengong, tahu. Open house sekolah kita itu cukup heboh, jadi seperti yang kamu lihat, ini benar-benar neraka.”
Ditarik oleh Yuubara, aku pun ikut berlari.
Karena deklarasi “Karena Kuguruki-kun itu teman sekelas, hari ini dia jadi bawahanku,” aku pun ditugaskan bekerja di bawah perintah Yuubara.
Padahal dia masih kelas satu, tapi dia sudah punya pengaruh yang cukup kuat di lingkungan OSIS.
Tidak ada yang membantah perintah Yuubara.
Paling-paling, hanya beberapa cowok yang menatapku dengan pandangan tidak suka.
Itu hanya iri hati yang konyol.
Aku mengabaikan semua emosi yang ditujukan kepadaku dan segera memulai tugas yang diberikan.
Bukan tanpa alasan aku terus dilatih oleh Kohaku-san selama ini.
Pekerjaan kasar seperti ini adalah keahlianku.
Aku dan Yuubara mulai mengangkut meja dan kursi ke ruang kelas.
“Kita harus bawa semua ini?”
“Yap, semangat, ya.”
“Dimengerti. Hup.”
“Eh, kamu nggak harus bawa enam sekaligus, tahu. Berat, kan?”
“Aku nggak apa-apa. Aku sering kerja sambilan yang butuh tenaga kayak gini.”
“Hebat juga. Memang cowok itu keren, ya~”
Hari itu juga, kami memeriksa ulang brosur yang akan dibagikan kepada para siswa SMP.
“Kuguruki-kun, soal brosur yang aku kasih tadi...”
“Sudah aku taruh di sana. Tadi aku cek sekilas juga, dan ada tiga salah ketik.”
“Eh, beneran? Makasih banget. Kamu nyelametin aku, deh.”
Aku juga ikut membantu menyiapkan ruangan untuk pelaksanaan sesi penjelasan.
“Gaffer tape-nya kurang. Kuguruki-kun, bisa ambil di ruang guru—”
“Kayaknya sebentar lagi ada yang bawa.”
“Maksud kamu?”
Begitu aku menjawab permintaan Yuubara, kakak kelas yang keluar beberapa menit lalu pun kembali ke kelas sambil membawa gulungan gaffer tape.
Waktu yang sangat pas.
“Nih. Kamu Kuguruki, ya? Huh, berani-beraninya nyuruh-nyuruh senior.”
“Terima kasih banyak. Benar-benar membantu.”
“Yah, sekalian lewat aja sih.”
Aku menerima gulungan itu sambil mengucapkan terima kasih, dan Yuubara menatapku dengan mulut terbuka.
“Tadi ada kakak kelas yang bilang mau ke ruang OSIS, jadi aku titip minta sekalian ambil. Aku juga sudah bisa memperkirakan situasinya bakal begini. Kalau kekurangan orang, ya manfaatkan yang ada semaksimal mungkin.”
“Hebat banget kamu. Cowok yang bisa kerja tuh emang keren.”
Dengan mata yang berbinar, Yuubara menyikut pinggangku sambil tertawa, seperti bilang "dasar kamu ini~".
Berhentilah, itu titik lemahnya, tahu!
Aku menahan diri sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara aneh.
***
Beberapa puluh menit kemudian, saat aku pulang dari ruang guru setelah mengurus izin dan konfirmasi berbagai hal, aku mendengar seseorang memanggil namaku, “Kuguruki-kun.”
Aku mencari sumber suara dan melihat Yuubara mengintip dari balik pintu ruang kelas kosong.
Dia melambai sambil berkata, “Sini, sini~,” mengisyaratkan agar aku mendekat.
Karena hari ini aku secara resmi adalah "bawahan" Yuubara, aku pun patuh dan mengikuti perintahnya tanpa banyak protes.
“Ngapain kamu di tempat kayak gini?”
“Yuk, istirahat sebentar~. Gak apa-apa kok. Karena kamu, pekerjaan kita jadi lancar banget.”
Aku tidak cukup rajin untuk menolak ajakan seperti itu.
Lagi pula, terus bekerja bukan berarti segalanya selesai lebih cepat.
Istirahat yang cukup itu penting.
Kohaku-san juga pernah bilang, manusia nggak bisa terus bekerja seratus persen tanpa henti.
Di dalam ruangan yang agak gelap, debu-debu beterbangan halus di udara.
Cahaya oranye dari celah tirai membelah kegelapan dan menyorot wajahku.
Sambil menyipitkan mata karena silau, aku duduk di sebelah Yuubara.
“Kamu beneran kerja keras hari ini. Aku sampai kaget, lho.”
“Kaget kenapa?”
“Soalnya, kamu ternyata bisa diandalkan banget. Nih, ini traktiran. Silakan~.”
Di tangannya ada sekaleng minuman dari mesin penjual otomatis.
Melihat itu, baru aku sadar betapa keringnya tenggorokanku.
Meskipun sudah sore, cuaca masih panas luar biasa.
Ditambah lagi, aku tadi lari ke sana kemari keliling sekolah.
Pantas saja, pikirku.
Tapi aku tidak langsung mengambilnya.
“Kenapa? Kamu gak haus?”
“Kalau aku terima ini, jangan-jangan nanti kamu bakal nyuruh aku bantu-bantu lagi, ya?”
Yuubara menjulurkan lidahnya sambil berkata, “Ketahuan, ya~”
“Dugaanku benar, dong. Kalau gitu aku gak mau. Hari ini aku bantu karena kebetulan libur kerja paruh waktu, itu aja.”
“Cuma bercanda, kok. Yah, aku bakal senang sih kalau kamu mau bantu lagi, tapi aku nggak maksa. Ini beneran hadiah. Menghargai kerja keras anak buah juga bagian dari tugas atasan, kan?”
Kalau begitu, aku akan menerimanya dengan senang hati—pikirku sambil mengulurkan tangan.
Tapi, kaleng yang seharusnya aku ambil malah ditarik oleh Yuubara.
Sebaliknya, tangan kosongnya yang lain justru meraih tanganku.
Sesuatu yang hangat dan lembut tiba-tiba menggenggam tanganku.
“──Hah?”
“Tadi kayaknya kamu pengen jabat tangan sama aku, kan? Ini hadiah part dua~.”
“Kamu maksud waktu kita angkut kardus itu? Udah kubilang, itu cuma salah paham.”
“Gimana? Senang bisa gandengan tangan sama aku?”
“...Nggak juga.”
Melihatku cemberut, Yuubara tertawa ceria sambil berkata, “Duh, gak manis banget sih kamu~.”
Setelah itu, dia akhirnya benar-benar memberikan kaleng minumannya.
Aku menenggaknya dalam satu tegukan panjang.
Tubuhku yang dehidrasi rasanya seperti menyerap cairan itu langsung ke dalam setiap selnya.
“Kamu haus banget, ya.”
Dengan senyum lembut seolah sedang memberi susu pada kucing liar, Yuubara mengelus kepalaku pelan sambil berkata, “Nah, minum yang banyak~.”
“Aku bukan kucing.”
“Aku tahu kok. Lagian, kamu nggak seimut kucing juga sih.”
“Bukan itu maksudku.”
“Ahahaha! Ngambek ya? Ayo, coba meong deh~”
“Dibilangin juga, aku bukan kucing!”
Aneh rasanya.
Berada di ruang kelas kosong setelah sekolah, mengobrol santai begini dengan teman sekelas cewek.
Rasanya seperti... aku punya teman biasa.
Tiba-tiba ponsel di sakuku bergetar, membuat jantungku terlonjak.
“Ponselmu bunyi tuh.”
“Iya, kedengeran.”
“Gak kamu cek?”
“Lagi mau aku cek.”
Saat kuambil dan lihat layarnya, nama yang muncul adalah—Asagi-san, bibi dari Izuha.
…Kenapa dia menelepon?
Aku melirik Yuubara seolah bertanya, “Boleh aku keluar dulu?”
Dia mengangguk paham, “Tentu saja.”
Aku memberi isyarat terima kasih dengan tangan, lalu berjalan sedikit menjauh dan menyentuh nama Asagi di layar.
『Yah, Kuguruki-kun. Gimana kencan sepulang sekolahmu, lancar?』
Kalimat pembuka yang langsung menohok.
Aku bahkan tidak paham maksudnya.
“Hah? Um, apa maksudnya?”
Bukan, ini bukan kencan atau apa. Kami cuma istirahat bareng. Jadi, ya, maksudnya…
Tapi, kenapa dia bisa tahu?
『Ahaha, gak usah panik gitu. Hari ini kan ulang tahunnya Yume. Jadi kupikir, sekalian kasih kejutan, aku datang ke rumahnya buat makan malam bareng. Tapi ternyata dia nggak ada, dan ponselnya juga nggak bisa dihubungi. Makanya, aku pikir—pasti dia lagi kencan sama kamu, kan? Benar, gak?』
Aku tidak bisa menjawab ya atau tidak.
Yang keluar dari mulutku cuma tawa kering, “Ahaha…”
Itu saja yang bisa kulakukan saat ini.
Kepalaku makin kacau.
『Kelihatannya dugaanku benar, ya. Maaf, ya, ganggu di tengah kencan. Tapi aku cuma mau pastikan keberadaannya. Oh, dan tolong jangan bilang ke Yume soal ini, ya. Kalau dia tahu aku ngintilin dan ganggu kencannya, pasti marah. Eh, dia nggak denger pembicaraan kita, kan?』
“Dia nggak ada di dekat sini sekarang.”
Itu saja yang bisa kuucapkan.
Dan itu bukan kebohongan.
Izuha memang tidak ada di sisiku saat ini.
『Begitu, ya. Syukurlah. Soalnya, sendirian di hari ulang tahun tuh rasanya menyedihkan. Apalagi untuk Yume yang manja dan suka perhatian. Oke deh, Kuguruki-kun. Tolong jaga dan temani keponakan kesayanganku, ya.』
Setelah mengatakan itu, Asagi-san langsung memutus panggilan.
Aku hanya berdiri diam menatap layar yang perlahan menjadi gelap.
Bahkan setelah layar mati, aku masih belum bisa bergerak.
Hari ini… ulang tahunnya Izuha?
Aku… sama sekali gak tahu.
Tapi, ada satu hal yang aku tahu.
Dia punya keluarga yang harmonis, dan sebelum orang tuanya meninggal karena kecelakaan, mereka selalu merayakan ulang tahun bersama.
Bahkan tahun lalu, mereka berjanji akan menghabiskan ulang tahun tahun ini bersama lagi.
Dan hari ini adalah hari itu. Tapi… janji itu tidak bisa ditepati.
Ngomong-ngomong, waktu terakhir bertemu, dia seperti ingin mengatakan sesuatu, ya…
『Kamis nanti, kamu ada rencana?』
Saat aku menjawab kalau aku ada shift kerja paruh waktu, dia cuma tertawa dan bilang, 『Semangat, ya.』
Katakan saja terus terang. Kalau bilang begitu, aku mungkin bisa sedikit menyesuaikan jadwalku.
Aku menekan nomor Izuha di ponselku.
Setelah beberapa dering, koneksi tak kasat mata menghubungkan kami berdua.
Meskipun Izuha tidak berada di sisiku, aku bisa merasakan napasnya begitu dekat.
“──Izuha, ya?”
Dari seberang, terdengar suara napas yang tertahan. Aku bisa merasakannya.
『T-Tomoya-kun? Tiba-tiba banget, ada apa nih?』
“Harusnya aku yang tanya. Barusan Asagi telepon. Dia bilang ke rumahmu tapi kamu nggak ada, dan saat ditelepon juga nggak nyambung.”
『Ah, maaf. Aku nggak sadar ada yang nelpon.』
“Tiba-tiba gitu, jadi aku sempat panik. Dia sempat mikir kita lagi jalan bareng.”
Aku mendengar suara burung berkicau dan deburan ombak.
Sepertinya Izuha sedang di pantai.
Pantai sepi yang dulu dia bilang ingin dikunjungi lagi bersama orang tuanya. Tapi sekarang dia datang sendiri. Tidak, sendirian.
“Aku udah tutupin soal itu. Nggak salah, kan? Kamu nggak mau bikin orang khawatir, kan?”
『…Iya. Terima kasih.』
“Oh iya, hari ini ulang tahunmu ya?”
『Dengar dari Asagi-chan, ya?』
“Ya, begitulah.”
『Aku nggak butuh hadiah kok. Jadi nggak perlu repot-repot. Lagipula, sekarang kita juga udah bukan... semacamnya lagi, jadi kamu nggak harus menyiapkan apa pun.』
“Kenapa kamu dari tadi terus…”
『Hehe, maaf ya. Aku jadi nyebelin, kayak ngambek nggak jelas. Padahal kamu udah baik banget kasih tahu soal Asagi-chan. Makasih ya. Sampai sini aja, ya.』
“Hei, tunggu──”
Panggilan diputus sepihak.
Setelah itu, berkali-kali aku coba hubungi lagi, tapi tak berhasil.
Sepertinya dia mematikan ponselnya.
Sial. Kenapa sih…
Genggamanku pada ponsel makin erat. Ujung jariku memerah dan terasa panas.
Suara Izuha tadi, terus-menerus terngiang di telinga dan pikiranku.
Dia… menangis.
Suaranya terus bergetar.
Rasanya seperti jantungku diremas.
Yang muncul di benakku berikutnya adalah kata-kata Izuha malam itu—malam saat aku kecewa melihat ayahku berkencan, dan dia diam-diam menemani sepanjang malam.
"Kalau Tomoya-kun kelihatan sedih, aku ingin melakukan sesuatu buat bantu. Bahkan kalau aku nggak bisa ngapa-ngapain, aku tetap ingin ada di dekatmu. Itu... udah kayak teman sejati, kan?"
Sudah berkali-kali aku bilang, hubungan kami bukan hubungan pertemanan biasa.
Kami cuma diikat oleh uang—hubungan palsu.
Tapi… tapi… tapi...
Kenapa aku jadi segelisah seperti ini?
Kenapa saat memikirkan Izuha, dadaku terasa sesakit ini?
“Sudah selesai teleponnya?”
Suara itu menyeretku kembali ke kenyataan.
Ruang kelas kosong di sore hari.
Terdengar suara langkah kaki tergesa di koridor.
Sinar jingga matahari sore yang pahit dan manis.
Yuubara Shion tiba-tiba berdiri di sebelahku.
Dunia nyata yang aku tempati sekarang jelas berbeda jauh dari pantai tempat Izuha berada.
“Yuk, semangat sedikit lagi. Kalau semuanya sudah selesai, kita mampir ke suatu tempat, yuk. Kayak pesta kecil setelah kerja. Kamu harus ikut ya. Itu perintah atasan.”
Entah ekspresi seperti apa yang Yuubara tunjukkan saat mengatakan itu.
Aku tak tahu, karena mataku tertuju pada bayangannya di lantai. Aku menatapnya tajam.
Ah, sepatu dalam sekolahku masih bersih. Tapi sepatu Yuubara sudah usang di bagian depannya, padahal baru setengah tahun dipakai.
Perbedaan jalan hidup kami sejak masuk SMA terasa begitu jelas hanya dengan melihat itu.
“Maaf, Yuubara…”
Aku membungkukkan kepala.
Sikap yang memalukan dan seharusnya tidak kulakukan lagi, namun kini kulakukan lagi.
“Kamu sampai harus membungkuk segala cuma karena nggak mau makan bareng aku? Itu agak menyakitkan, tahu.”
“Ada tempat yang harus aku datangi sekarang. Harus banget. Sekarang juga.”
Aku abaikan ucapannya, dan menegaskan niatku.
Dalam pikiranku, sisi logis diriku berteriak, ‘Berhenti!’
Kamu nggak bisa bantu Izuha lagi.
Buat apa semua ini?
Mungkin itu benar.
Tapi aku tetap memilih melakukan hal bodoh.
Kalau ketahuan kabur dari kerja, Chikamatsu pasti marah besar.
Nggak cuma dimarahi—dia mungkin bakal komplain ke tempat kerja.
Kalau begitu, bisa-bisa aku kehilangan kerja paruh waktu terbaikku.
Bayangan masa depan itu membuat punggungku merinding. Tubuhku bergetar.
Tapi… entah kenapa…
Ketika kutaruh Izuha di satu sisi timbangan, dan kerja paruh waktuku di sisi lain, tanpa ragu, timbangan itu langsung miring ke arah Izuha.
Bukan kerja. Tapi Izuha Yume.
Bukan logika. Tapi dorongan.
Perasaan yang lebih kuat dari segala alasan.
Suara dalam diriku berteriak, “Pergilah!!”
Pergilah, Tomoya Kuguruki!!
“Kamu serius ninggalin kerja gitu aja? Buat pergi ke suatu tempat?”
Bukan cuma Chikamatsu, bahkan gadis cantik yang berdiri di hadapanku juga tidak akan membiarkanku pergi begitu saja.
Padahal aku merasa kami mulai sedikit dekat.
Bisa jadi, dia teman pertamaku di SMA.
“Ya, itu benar.”
Aku mengangguk.
Aku sendiri yang memutuskan kemungkinan untuk lebih dekat dengan Yuubara.
“Nggak nyangka deh. Tomoya-kun ternyata tipe yang kayak gini, ya? Gampang banget ninggalin kerja. Aku agak kecewa. Kukira kamu itu orang yang bertanggung jawab. Yang kerja keras bukan cuma demi uang, tapi juga karena kamu satu-satunya yang bisa melakukannya. Tapi ternyata aku salah, ya.”
“…Maaf. Tapi aku tetap pergi.”
Aku masukkan ponsel ke saku, genggam kenop pintu.
Tiba-tiba Yuubara berteriak.
“Eh, tunggu, Tomoya-kun!! Kita belum selesai──”
Kalimat yang tak ingin kukatakan pun akhirnya keluar.
“…Dia menangis.”
“Siapa?”
Apa pun yang kukatakan hanyalah alasan.
Aku tahu.
Itu bukan pembenaran.
Tapi begitu kuucapkan, kata-katanya mengalir tanpa bisa dihentikan.
“Dia itu… pintar, tapi bodoh juga. Kadang nyebelin. Tapi orangnya baik banget. Waktu aku terpuruk, dia diam-diam nemenin aku semalaman.”
…Katanya, karena kami teman.
Dia orang yang penuh perhatian.
Meski kata-kataku kacau, Yuubara pasti nggak mengerti maksudnya.
“Makanya, sekarang giliranku. Aku juga mau ada di samping dia. Meskipun nggak bisa ngapa-ngapain, aku tetap ingin berada di dekatnya. Bahkan satu detik lebih cepat, sedikit lebih lama.”
Aku nggak bicara pada Yuubara lagi, tapi pada diriku sendiri.
Ya, itulah yang bisa kulakukan.
Dan aku ingin melakukannya.
Apa pun yang harus kukorbankan.
Aku membuka pintu dan keluar ke koridor.
Dan di sana, langkahku terhenti.
Bukan karena Yuubara mengejarku.
Tapi karena…
“──Chikamatsu-sensei.”
Sosok besar yang tak cocok di sekolah tiba-tiba muncul tepat di hadapanku. Seolah dia menungguku sejak tadi.
Mungkin memang sudah takdirku hari ini.
“Oh, Kuguruki. Di sini rupanya. Kami mau angkut barang berat, semua cowok harus kumpul di lapangan. Kamu juga ikut. Eh, hey, kamu mau ke mana!?”
Tubuhku sempat membeku. Tapi suaranya membuatku bergerak refleks.
Aku lari sekencang mungkin di koridor sekolah.
Aku nggak punya waktu untuk menjelaskan.
Dan meski dijelaskan, belum tentu dia bisa mengerti.
Jadi aku memilih melarikan diri.
Kabur dengan segenap tenaga.
“Tunggu! Hey! Tunggu, Kugurukiiiiii!! Jangan bilang kamu kabur sekarang!? Beneran mau mundur sekarang juga!?”
Suara Chikamatsu menggema dari belakang.
Dia bahkan mengancam akan memecatku.
Tapi aku tak berhenti.
Aku sudah siap kehilangan semuanya untuk ini.
Sekarang ini, ada sesuatu yang jauh lebih penting bagiku.
Sepertinya keberhasilanku memanfaatkan celah untuk lari mendadak benar-benar berhasil.
Karena terlalu fokus berteriak, Chikamatsu sampai berdiri mematung selama beberapa detik.
Aku berhasil mencuri waktu beberapa detik di awal.
Kalau bisa mempertahankan keunggulan ini sampai keluar dari sekolah, aku mungkin bisa lolos.
Namun aku terlalu fokus kabur dari Chikamatsu, sampai tidak sadar—
bahwa ada suara langkah kaki lain yang mengejarku dari belakang, sangat dekat.
“Hei, Kuguruki! Kenapa kamu kabur, sih!?”
“Hah!? Yuubara!? Kenapa kamu juga ikut ngejar!?”
“Ya karena kamu kabur, makanya aku kejar!”
“Tolonglah… kali ini, biarin aku pergi.”
Saat aku menoleh ke belakang untuk berdebat dengan Yuubara, yang kulihat adalah—
Chikamatsu yang sedang mengejarku dengan ekspresi mengerikan sambil berteriak,
“Berhentiiiiii! Kamu, dasar bandeeeeeel!”
Padahal jaraknya masih jauh, tapi aura tekanannya luar biasa.
Langkah kakinya bergema seperti gempa bumi.
Serem gila!
Dia beneran guru!? Atau jangan-jangan iblis!?
Aku jadi teringat waktu dulu, pas sepedaan di jalan sempit dan tanpa sengaja sikuku nyenggol kaca spion mobil mewah warna hitam.
Orang yang keluar dari mobil itu punya tatapan yang persis kayak Chikamatsu sekarang.
Itu adalah saat di mana aku paling merasa nyawaku terancam sepanjang hidupku.
Karena ketakutan yang tiba-tiba muncul kembali, kecepatanku menurun sejenak—dan Yuubara tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dia meraih tanganku—dan menggenggamnya erat.
Aku pun langsung tertangkap.
Sial. Jangan bilang ini akhir dari segalanya.
Dia pasti bakal menyeretku ke depan Chikamatsu dan menahanku di situ.
Aku akan dimarahi habis-habisan, dipaksa ke lapangan, dan waktu berlalu tanpa bisa melindungi hal yang penting bagiku.
Aku ini memang begini.
Bukan tipe pahlawan keren yang bisa menyelamatkan sang heroine saat dibutuhkan.
Selama ini, aku sudah terlalu sering menyerah begitu saja.
Waktu orang tuaku bertengkar.
Waktu aku melihat orang yang kubenci di jalan.
Waktu semua orang tertawa bareng dan aku sendirian—itu juga pernah terasa menyakitkan.
Dan sekarang pun akan sama seperti itu…
──Tapi nggak boleh gitu juga, kan, dasar bodoh!
Hei, Kuguruki Tomoya.
Dengar baik-baik, Tomoya!
Kali ini saja, jangan gampang nyerah.
Kalau yang terluka cuma dirimu sendiri, ya nggak apa-apa. Kalau kamu sedih, ya silakan nangis. Tapi kalau orang yang penting bagimu menangis, dan kamu berpaling dari itu, kamu bakal nyesel seumur hidup!
Nggak perlu pura-pura jadi orang baik yang nurut.
Meski kelihatan jelek, meski ditertawakan, meski diremehkan—tetaplah melawan sampai akhir!
Masih sempat, sekarang masih bisa.
Belum terlambat untuk segalanya.
Kalau kamu ulurkan tangan, kamu bisa menghapus air matanya.
Kalau begitu, ulurkanlah. Ulurkan tanganmu.
Untuk apa tanganmu itu kalau bukan untuk meraih hal penting?
Dengar baik-baik.
Kalau kamu belum tahu, akan aku kasih tahu sekarang.
Tangan seorang pria itu…
diciptakan untuk memeluk perempuan yang sedang menangis.
“Maaf, Yuubara. Aku bakal terima semua hukuman nanti. Hukuman seberat apa pun bakal kuterima. Tapi sekarang, tolong biarkan aku pergi. Kalau nggak, aku akan paksa lepas tangan ini dan tetap lari. Aku sudah memutuskan.”
“Kuguruki, kamu nggak salah paham?”
“──Hah?”
Sambil berbicara, tanpa sadar kakiku terus bergerak.
Bahkan Yuubara malah menarikku lebih dulu ke depan dan mempercepat langkahnya.
Kami berlari melintasi lorong menuju ruang loker sepatu, berbelok di tikungan, dan bayangan Chikamatsu tak lagi terlihat di belakang.
Turun tangga—satu, dua, tiga anak tangga.
“Lompat!”
Tanpa menungguku menjawab, Yuubara langsung melompat.
Karena tangannya masih menggenggamku, aku ikut melompat juga.
Melompati sisa anak tangga, tumitku mendarat dengan suara keras “DUM!” dan telapak kakiku terasa kesemutan.
Rambut panjang Yuubara melayang, roknya mengembang.
Dia tampak seperti malaikat dari cerita dongeng.
Kami mendarat di pendaratan tangga dan akhirnya melepaskan tangan masing-masing.
Namun di tangan yang terlepas itu, ada sesuatu yang tertinggal.
Dingin dan keras—logam.
“Ini…”
“Itu kunci sepeda aku. Kamu jalan kaki ke sekolah, kan? Pakai aja. Aku mau pinjamin dari tadi, tapi kamu malah kabur nggak dengerin.”
Kunci kecil itu terasa begitu berat di tanganku, meski ukurannya kecil.
“Biar aku urus soal Chikamatsu. Nanti aku yang jelasin ke dia. Tapi jangan salahin aku kalau kamu tetap dimarahi, ya.”
“Tentu saja. Tapi… kenapa kamu sampai segitunya?”
“Aku benci orang yang lari dari tanggung jawab. Orang yang ninggalin pekerjaan di tengah jalan itu nggak bisa dipercaya.”
“Aku ngerti.”
“Tapi aku lebih benci lagi orang yang pura-pura nggak lihat ketika orang penting di hidupnya sedang menangis.
Kamu lari ini kan buat hapus air mata orang itu, kan?
Itu sesuatu yang cuma kamu yang bisa lakuin, kan?
Kalau gitu… ya udah, pergi aja sana.
Nggak masalah, meski kamu nggak ada di sini.
…Nggak penting juga, sih.”
“Terima kasih…”
Aku nggak tahu bagaimana caranya mengungkapkan semua perasaan yang bergejolak di dadaku.
Mungkin kalau aku lebih dewasa dan lebih mengerti dunia, aku bisa menemukan kata yang lebih tepat.
“Aku bakal balas kebaikan ini suatu hari nanti. Pasti.”
“Nggak usah gitu-gitu juga, santai aja.”
“Beneran deh, makasih ya, Yuubara.
Dan satu hal lagi—aku tarik kata-kataku sebelumnya.
Aku senang bisa menggenggam tanganmu tadi.”
“Di saat kayak gini, kenapa malah ngomong gitu sih…”
Yuubara cemberut, seolah sedikit ngambek. Tapi pipinya memerah samar.
“Udah sana, cepetan pergi! Ini perintah atasan! Ayo, cepat!
Nanti kamu bisa disusul sama Chika-chan loh?”
“Iya, aku pergi dulu!”
“Karena aku udah bantuin kamu, kamu harus jadi pahlawan beneran ya!
Tunjukin kalau kamu cowok!”
Kata-kata itu mendorong punggungku.
Aku tidak akan menoleh lagi.
Lalu, aku pun kembali berlari.
Menuju dia—gadis yang pasti sedang menangis sendirian.
Gadis yang polos, jujur, manja, menyebalkan, cerewet, tapi juga hangat dan paling baik hati—yang tak ingin kulihat menangis lebih lama lagi.
──Aku datang sekarang.



Posting Komentar