Bab 5 - Terima Kasih.....
Aku, Sano Yuuto, punya empat orang yang sudah ditakdirkan menjadi pasanganku──
Kedengarannya seperti delusi anak chuunibyou yang konyol, tapi sejak aku bisa mengingat sesuatu, aku selalu merasa begitu.
Aku tidak tahu wajah atau nama mereka, tapi entah kenapa aku merasa sudah mengetahui segalanya tentang mereka.
Perasaan samar itu mulai nyata sejak aku bertemu dengan teman masa kecilku, Satsuki.
Waktu SD, entah kenapa aku bisa melihat bayangan Satsuki saat ia sudah tumbuh menjadi siswi SMA. Rambut pendeknya yang berwarna merah muda berubah menjadi rambut panjang seindah bunga sakura yang beterbangan, senyumnya mampu memikat siapa pun, dan tubuhnya yang berkembang membuatku yakin kalau dia adalah wanita terbaik.
Itulah saat aku sadar bahwa Satsuki adalah orang pertama dari takdirku.
“Aku tidak boleh melepaskannya.”
Dorongan seperti naluri bertahan hidup itu terus menggerakkan diriku.
Takdir itu mulai bergerak ketika aku masuk SMA.
Kitagawa Reine, Nanjou Shuna, Shinonome Shino. Begitu aku bertemu mereka, keempat wanita takdirku pun lengkap.
Saat kelas 1 SMA, aku mulai bergerak untuk mendapatkan mereka semua.
Tapi meski aku sendiri yang turun tangan, mereka malah menginjak-injak ketulusanku.
Akhirnya, aku memutuskan untuk fokus pada Satsuki dulu.
Bukan berarti aku menyerah, hanya saja aku ingin menjadikan Satsuki milikku terlebih dahulu. Katanya sih dia mau jadi gravure idol, tapi jujur saja, terserah dia. Kalau memang itu yang dia mau, silakan saja. Aku tidak berniat mengekang.
Dalam diriku, aku punya firasat bahwa titik balik akan datang saat kelas 2 SMA.
Namun ketika tiba saatnya, hubunganku dengan mereka berempat tidak berubah sama sekali. Sekali lagi ketulusanku diabaikan.
“...Ngomong-ngomong, ada kan si ‘mob’ yang mencoba akrab dengan mereka?”
Esok harinya pun keberadaannya langsung dilupakan, konyol sekali. Aku bahkan tidak ingat wajahnya, tapi mengingat betapa menyedihkan sosoknya, sedikit menenangkan perasaanku.
Perubahan besar terjadi ketika mereka mulai disebut ‘Empat Dewi Cantik’.
Entah kenapa, saat itu pula perasaan mereka terhadapku membaik. Mereka jadi sering bicara padaku, berterima kasih atas hal-hal yang tidak aku lakukan, bahkan tiba-tiba sejumlah besar uang masuk ke rekeningku. Aneh, tapi aku yakin satu hal:
Dunia ini berputar mengelilingiku.
Tuhan sendiri sedang berusaha menyatukanku dengan Empat Dewi Cantik itu.
Dan aku sadar, ada seseorang yang menjadi “perantara” untuk menaikkan nilai diriku di mata mereka. Lebih tepatnya, menciptakan situasi yang menguntungkan bagiku. Prediksiku benar—aku tidak perlu melakukan apa-apa, dan ketika naik kelas 3, aku sudah berhasil menaklukkan mereka semua.
Aku menyebut perantara itu sebagai “Santa Claus.”
Aku tidak tahu wajah atau suaranya, tapi rasanya nama itu paling cocok.
Namun, ada satu masalah: keempatnya tidak akur. Semua ingin memonopoliku.
Masalah remeh seperti itu aku serahkan saja pada “Santa Claus”.
“Dan meski begitu, dia tidak bisa dipakai saat momen penting, huh…”
Aku menunda jawaban atas pengakuan mereka karena ingin memberi waktu agar mereka bisa akrab.
Kupikir dengan waktu sampai kelulusan, mereka pasti bisa akur. Kalau pun tidak, Santa Claus pasti akan mengurusnya.
Tapi saat hari kelulusan tiba, Satsuki malah menuntutku untuk memilih salah satu. Padahal sudah kuberi waktu sebanyak itu, tapi dia tidak bisa memahami maksudku. Jengkel, aku akhirnya mengusulkan agar kami jadi ‘teman tidur’ supaya mereka bisa saling mengenal lebih baik. Namun, Satsuki justru membalikkan badan dan meninggalkanku.
Aku tidak menyangka akan ditolak. Sempat terdiam, tapi segera ingin mengejarnya.
Namun tepat saat itu, seorang siswa sekolah kami tertabrak di depan Satsuki. Situasi jadi kacau.
“Kalau mau celaka pun, jangan sampai nyusahin aku, dong…”
Sungguh menyebalkan. Tapi bagaimanapun, aku sudah pasti masuk universitas yang sama dengan Empat Dewi Cantik itu. Hanya masalah waktu sampai mereka semua jadi milikku.
Meski begitu, ada satu hal yang menggangguku.
“Reine, jangan kirim pesan nggak penting terus…”
Kupikir itu tanda dia menerima usulanku, tapi isinya cuma hal sepele. Biasanya aku hanya mengiyakan saja, tapi kali ini aku buru-buru mengakhiri percakapan karena ingin melanjutkan game.
Lagipula, Santa Claus pasti akan membereskan semuanya.
“…Tapi aneh juga, ya. Pesanku tidak dibaca sama sekali.”
Begitulah aku berpikir, sampai akhirnya hari upacara masuk kuliah tiba. Sejak hari itu, aku tidak mendapat balasan sama sekali dari mereka berempat.
Terpaksa, aku berniat pergi ke kampus bersama Satsuki. Tapi saat menjemput ke rumahnya, tidak ada siapa pun di sana.
Langit biru muda membentang, angin sepoi membawa kelopak sakura beterbangan.
Sudah kelima kalinya aku menghadiri upacara masuk—dari TK sampai sekarang. Angka itu tidak berarti apa-apa, tapi di sisiku selalu ada Satsuki.
“Apa yang mereka lakukan, ya…”
Upacara masuk diadakan per fakultas, jadi memang tidak mungkin bersama mereka. Tapi tetap saja, rasanya janggal.
Aku memasuki aula peringatan universitas. Ruangan luas dengan panggung di tengah, kursi bertingkat seperti teater. Suasananya membuatku benar-benar merasa sudah jadi mahasiswa.
Aku duduk sesuai instruksi panitia. Di sekitarku, mahasiswa baru dengan setelan jas bercanda dengan teman barunya.
“Mungkin aku juga harus mulai cari teman di fakultas ini. Toh di SMA aku tidak punya teman beneran…”
Karena dikelilingi Empat Dewi Cantik, aku jadi dibenci teman sejenis. Itu memang menjauhkan teman, tapi sebenarnya aku tidak masalah. Orang yang iri itu cuma sampah.
Untungnya, universitas ini termasuk elit. Pasti ada orang yang sepadan untukku.
Aku menoleh ke arah anak berkacamata di sebelahku, kelihatan pendiam. Mau kucoba ajak bicara—
Namun tiba-tiba, teriakan menggema di aula.
“Tolong! Biarkan aku menghadiri upacara masuk sendirian!”
◇
“Sendirian pakai kursi roda itu nggak boleh. Apalagi tangan kananmu masih belum pulih. Kalau tanpa kami, kamu tidak bisa bergerak, kan?”
“Bukan begitu… kalau cuma di dalam kampus, kan sudah ada jalur khusus. Nggak repot kok. Lagipula kalau memang sulit, aku bisa minta bantuan staf kampus…”
“Kenapa kamu malah bilang lebih baik minta staf kampus ketimbang kami? Apa kami sudah tidak diperlukan lagi? Kalau ada yang kurang dari kami, bilang saja! Jangan buang kami…”
“Bukan itu maksudku! Cuma… kalau aku jalan bareng cewek-cewek cantik kayak kalian, aku bakal jadi pusat perhatian! Padahal aku cuma mau hidup tenang di kampus.”
“Jadi, dalam bayangan kehidupan kampusmu… kami nggak ada, ya? Eh, dengar nggak kalian? Barusan aku lihat di papan pengumuman, ada ‘Kolam Darah’ di sini. Kayaknya pas banget buat loncatin diri, deh.”
“Ehh! Jangan tiba-tiba ngomongin hal gelap gitu! Oke, oke! Aku menyerah, aku bakal bareng kalian terus!”
“Jangan maksa, lho. Yuk, kita pergi.”
“Tunggu dulu! Ehh, kalau kupikir lagi… aku ini orangnya pemalu, tiga tahun SMA pun nggak punya teman. Mana bisa aku ngobrol sama staf kampus? Jadi ya, tanpa kalian, aku nggak bisa ngapa-ngapain! Jadi tolong temani aku terus!”
“…Beneran?”
“Bener! Lihat mataku. Kelihatan aku bohong?”
“…Yah, memang sih, Satoshi nggak punya teman. Maaf ya, aku salah paham.”
“Eh? Jadi poinnya itu!?”
◇
Sepertinya dia tidak menyadarinya, tapi suara laki-laki itu bergema di seluruh aula. Sayangnya, fakta bahwa dia seorang penyendiri sudah tersebar di fakultas, membuat orang-orang hanya bisa menahan tawa. Dia terlihat seperti sedang berbicara dengan seseorang, tapi suara lawan bicaranya tidak terdengar. Jujur saja, aku tidak tertarik. Yang lebih penting, aku ingin menilai apakah orang di sebelahku cocok dijadikan teman atau tidak.
…Begitulah yang kupikirkan, tapi dia malah menoleh ke belakang. Lebih tepatnya, bukan hanya dia, tapi para mahasiswa lain juga ikut menoleh. Karena penasaran, aku pun ikut melihat ke arah pintu masuk aula, di mana seorang pria di kursi roda tengah dipeluk oleh empat siswi sekaligus.
…Entah kenapa, pemandangan itu sangat membuatku kesal. Biasanya aku yang berada di posisi membuat harem, jadi tidak begitu terpengaruh. Tapi kalau yang melakukannya orang asing, rasa jengkel itu benar-benar terasa. Mulai sekarang, kalau mau bermesraan, aku harus tahu tempat dan situasinya.
Berbeda dari kerumunan, aku segera menghadap lagi ke arah panggung. Namun—
“Lepaslah, Satsuki! Reine, juga Shuna, kalian terlalu nempel! Dan kau juga, Shino! Jangan tempelkan wajahmu ke pangkuanku!”
Mendengar nama-nama itu, aku refleks menoleh lagi. Dan di sana terbentang sebuah pemandangan yang seharusnya tidak mungkin ada.
“Ha—?”
'Empat Gadis Cantikku' sedang dengan penuh perhatian merawat seorang penyendiri yang bahkan duduk di kursi roda.
Mereka berempat mengikuti perkataan lelaki itu, tersenyum dengan tulus seakan benar-benar bahagia. Jantungku berdegup kencang, seolah terlambat satu detak.
Berhenti—
Aku refleks berdiri dan ingin maju mendekat, tapi aula tiba-tiba menjadi gelap. Upacara masuk akan segera dimulai. Aku tidak boleh bertindak gegabah lalu membuat kehidupan kampusku berakhir abu-abu seperti dia. Dengan terpaksa aku duduk kembali, tapi tanpa kusadari tanganku mengepal erat sampai kuku menusuk telapak.
“Apa yang sebenarnya terjadi…!?”
Mereka tidak menjawab teleponku, tidak muncul selama liburan musim semi.
Dan yang paling penting—siapa sebenarnya pria itu!?
◇
“Minggir sebentar!”
“Uwah!”
Begitu upacara masuk berakhir, aku tidak bisa menahan diri dan langsung berlari ke bagian belakang aula. Tapi sosok mereka sudah tidak ada. Aku membuka paksa pintu keluar dan berlari ke luar gedung peringatan.
“Sial… ke mana mereka pergi!?”
Bayangan mereka sama sekali tidak terlihat.
“Benar! Telepon…!”
Mereka pasti membawa ponsel. Aku merogoh kedua saku celana. Ponselku sempat tersangkut, tapi akhirnya berhasil kutarik keluar.
“Satsuki… sinyalnya tidak nyambung!? Shuna tidak membawa ponsel kan… Lalu Reine? Shino!? Apa-apaan ini, sialan!”
Aku menendang tong sampah di samping mesin penjual minuman, membuat botol plastik tumpah ke luar.
“Di saat-saat seperti inilah seharusnya 'Santa Claus' muncul! Kenapa justru menghilang di saat paling penting!?”
Aku mencoba menenangkan diri dengan menarik napas dalam, tapi malah semakin buruk. Setiap kali aku menghirup udara, rasa cemas dan amarah pada sesuatu yang tidak kukenal justru semakin membesar.
“Sebenarnya apa yang sedang terjadi!?”
◇
“Haa~ bosan sekali ya~”
“Fufu, memang begitulah acara seremonial.”
Kalau begitu, kenapa ikut datang…
Itu tidak bisa kuucapkan, nanti malah dianggap murung. Jadi aku hanya mengeluh dalam hati.
Tapi mengingat lagi kejadian di upacara tadi, aku benar-benar jadi malas masuk kuliah mulai besok.
Aku hanya ingin sedikit waktu sendirian, tapi kenapa nasibku harus sampai sebegini buruknya?
Setelah menenangkan Satsuki dan yang lainnya, barulah aku sadar kalau seluruh mahasiswa baru menatapku. Tatapan mereka penuh rasa kasihan sekaligus iri karena aku dikelilingi 'Empat Gadis Cantik'. Saat itu aku benar-benar menyadari keadaanku.
Dengan kata lain, aku sudah mendapat cap buruk: “penyendiri yang brengsek, yang membuat para gadis cantik menangis.”
Kehidupan kampusku… tamat sudah.
Minimal, aku sudah memulainya dengan status minus.
Aku ingin ikut acara makan atau bermain setelah upacara untuk memperbaiki nama, tapi dengan kondisiku sekarang, aku malah akan merepotkan. Dan yang lebih parah, keempat gadis di belakangku itu menakutkan.
“Ugh, sudah ada yang mencoba mendekat lagi… padahal aku sibuk mengurus Satoshi-kun, jadi maaf, aku tolak… Dari mana mereka dapat nomor kontakku sih?”
“Haa… sama juga denganku. Padahal aku benar-benar tidak suka cowok mesum begitu…”
Seperti biasa, Satsuki dan Reine langsung tegas. Shuna dan Shino juga terlihat kesal melihat layar ponselnya. Terutama Shuna, yang baru saja punya ponsel, kini malah ingin membuangnya.
Hari ini seharusnya hari yang cerah, tapi suasananya terus saja suram. Ini tidak baik, jadi aku memutuskan untuk mengusulkan sesuatu.
“Y-yaah… sudahlah, lupakan itu semua. Bagaimana kalau kita rayakan masuk kuliah di rumahku? Kita bisa pesan makanan antar.”
Mereka memang baru saja pindah ke kamar-kamar yang tepat di sebelah apartemenku. Siapa sangka empat kamar sekaligus kosong, benar-benar kebetulan.
Mendengar usulku, suasana langsung berubah cerah.
“Ide bagus! Yuk, begitu saja!”
“Kalau begitu, bagaimana kalau aku kirim makanan dari rumah?”
“Kalau makan seperti itu tiap hari, lidah kita bisa rusak.”
“Ya, betul juga~ Lebih baik kita pakai uang pribadi, biar terasa seperti mahasiswa pada umumnya.”
“Shuna benar, rasanya lebih wajar kalau kita patungan.”
“Aku juga setuju. Aku bahkan ingin mencoba sistem ‘patungan’ itu sekali.”
“Jadi itu yang kau ingin coba…”
Shino terlihat sangat bersemangat. Memang, anak orang kaya selalu punya cara berpikir yang berbeda.
Tapi setidaknya suasana muram sudah hilang, jadi tidak apa-apa.
…Tapi, tunggu dulu. Ke mana perginya 'Buku Harian' milikku?
Aku tidak menemukannya di kamar…
◇
Kalau melihat dari belakang, pidato rektor, dekan, dan para pejabat itu memang membosankan. Separuh mahasiswa serius mendengarkan, separuh lainnya tidak.
Satoshi-kun sendiri mendengarkan dengan tenang. Dan kami pun diam-diam mengintip wajahnya.
Di situlah aku merasa—
Dia benar-benar terlihat menawan.
“Fufu”
Di tengah keheningan dan kegelapan, tiba-tiba muncul empat cahaya kecil yang berpendar lembut.
'Kelompok Shihou'
Shuna:
"Ya ampun~ ketahuan juga sama sampah itu~"
Shino:
"Benar juga... rasanya aku ingin pulang ke rumah Satoshi-san dan menangis..."
Satsuki:
"Itu semua tidak penting, kalian lihat ekspresi wajahnya barusan?"
Reine:
"Fufufu, Satsuki hentikan (haha). Mengingatnya saja bikin susah menahan tawa (haha)."
Shino:
"Betul sekali wkwkwk."
Shuna:
"Buatku sih menjijikkan. Sampai kapan dia masih menganggap kita miliknya, sih?"
Satsuki:
"Shuna, tolong kendalikan niat membunuhmu... kursi rodanya sudah berderit-derit tuh."
Shuna:
"Ah, maaf ya~"
Shino:
"Baiklah, sepertinya kita harus masuk ke pokok pembicaraan. Kalau sampai ketahuan kalau kita bersama dengan Satoshi-san..."
Reine:
"Sudah pasti, mereka akan mencoba mendekatinya dari sana."
Shuna:
"Kalau bisa, kita juga harus selalu bersama. Untungnya fakultas Satoshi itu fakultas besar, jadi kita bisa menyelinap tanpa ketahuan, bukan?"
Satsuki:
"Tapi, karena itu juga dia pasti akan mencari celah untuk mendekat."
Shino:
"Ya, justru karena kita ada di sini, dia akan makin nekat mendekati."
Shuna:
"Benar-benar merepotkan~ gimana kalau aku semprot pakai obat serangga?"
Reine:
"Jangan... nanti malah ganggu orang lain."
Shuna:
"Oke deh~"
Satsuki:
"Untuk sekarang, kita lihat dulu apa gerakan mereka."
Shino:
"Benar. Tapi kalau mereka mencoba menyakiti..."
Satsuki:
"Shino, kamu juga harus sabar, ya? Soalnya kita sudah sepakat tentang cara membunuhnya—"
Aku kuliah di Universitas Pendidikan, jurusan Ekonomi. Alasanku memilih ekonomi sederhana saja: sejak kehidupan sebelumnya, aku selalu mengagumi bidang ini. Entah karena katanya kuat untuk mencari kerja, atau sekadar terdengar keren kalau bilang belajar ekonomi. Mungkin keduanya.
Tapi kenyataannya, Fakultas Ekonomi itu ternyata sangat kental nuansa sains. Matematika tingkat tinggi seperti Matematika III itu jelas mustahil bagi anak IPS murni, tapi sayangnya, banyak dosen di sini dulunya dari jalur sains, jadi mereka menganggap mahasiswa baru juga harus siap dengan hal itu.
Bayangkan saja, lebih dari setengah kuliah isinya matematika. Aku sering bertanya-tanya, bagaimana anak-anak IPS murni bisa bertahan hidup di sini. Tapi ya, daripada mikirin orang lain, lebih baik fokus pada diriku sendiri.
Hari itu aku ada kelas di ruang 201, Gedung Barat No.5. Fakultas Ekonomi memang salah satu yang terbesar, jadi kelas tahun pertama sering sekali penuh dengan mahasiswa. Waktu pertama masuk ke aula kuliah besar, aku sempat terkesima. Langit-langitnya tinggi, lampu-lampu modern menghiasi, cahaya hangat menyinari seluruh ruangan. Bangku-bangku bertingkat tersusun rapi dengan meja panjang, kayunya tampak tua namun penuh sejarah.
Di podium ada speaker, proyektor, dan layar besar yang tergantung dekat langit-langit, seakan menatap mahasiswa dari atas. Pemandangan kuliah jelas berbeda jauh dengan masa SMA.
Sayangnya, aku duduk di barisan paling depan. Kalau bisa, aku ingin melihat suasana dari belakang. Tapi ya, kursi roda membuatku sulit bergerak, jadi kupendam saja keinginan itu.
Yang lebih kupikirkan adalah—
"Gimana ini, sumpah..."
Masalahku nggak ada habisnya. Tentu saja, semuanya tentang Empat Dewi Cantik (Shihou Bijin).
Kalau aku bilang ingin sendiri, mereka pasti “terjerumus ke kegelapan”. Tapi kalau kubiarkan mereka seenaknya, itu juga bikin masalah. Contoh paling baru ya, pesta kecil setelah upacara penerimaan mahasiswa.
Kami sempat minum-minum bareng dengan minuman yang kubeli diam-diam, suasana ala mahasiswa banget. Seru sih. Tapi masalah datang setelahnya.
Meyakinkan mereka untuk pulang ke kamar masing-masing itu benar-benar sulit. Mereka sampai menawarkan untuk memandikanku atau bahkan tidur sekamar denganku. Saat itu, akal sehat dan nafsuku bertarung habis-habisan. Untungnya akal sehat menang, jadi dengan paksa aku mengusir mereka pulang.
Seandainya itu cuma kejadian sekali seumur hidup, mungkin aku akan mengenangnya sebagai memori indah. Tapi kenyataannya? Hampir tiap hari seperti itu. Aku jadi nggak punya waktu buat tenang.
Contoh lain, soal pindah kelas di kampus.
Berbeda dengan SMA, di universitas tidak ada “kelas tetap”. Jadi tiap jam istirahat kita harus pindah kelas. Kadang bahkan harus pindah gedung. Buat pengguna kursi roda seperti aku, itu jelas tantangan. Untungnya, salah satu dari mereka selalu datang untuk membantu saat aku ada waktu kosong.
Itu benar-benar sangat menolongku. Aku bahkan merasa harus berterima kasih dengan sujud. Tapi—
"Bisakah kalian berhenti ngambek setiap kali aku minta sendiri sebentar...?"
Ya, mereka selalu merajuk. “Aku nggak mau berpisah denganmu” atau “Kalau begitu aku juga ikut kelasmu” – hasilnya ya ribut. Dosen sampai harus melerai. Pernah juga Shino mencoba memanfaatkan pengaruh keluarganya untuk menekan dosen.
Akibatnya, kuliah jadi nggak kondusif, tatapan orang-orang makin menusuk, dan aku makin stres duduk di barisan depan.
Aku benar-benar kesulitan.
Sebenarnya kalau mereka melakukannya dengan niat jahat, gampang saja aku menolaknya. Tapi karena semua datang dari kebaikan hati dan rasa bersalah mereka, aku jadi nggak bisa dengan tegas bilang “stop”.
"Syukurlah kita beda fakultas..."
Itu satu-satunya pelipur lara. Satsuki di Hukum, Reine di Sastra, Shuna di Manajemen, dan Shino di Ilmu Politik. Berkat itu, setidaknya saat kuliah aku bisa punya waktu sendiri. Bahkan pelajaran yang tadinya terasa membosankan, sekarang jadi terasa menyenangkan hanya karena bisa sendirian.
"Katanya mereka ada urusan pas jam istirahat siang. Oke, sekarang saatnya aku coba cari teman baru...!"
Jujur, aku nggak punya kenalan sama sekali di fakultas ini. Kalau di SMA, jadi penyendiri masih bisa. Tapi di universitas, beda cerita. Kalau nggak aktif mencari relasi, bisa-bisa benar-benar terasing.
Sayangnya—
"Tapi gara-gara mereka, aku malah dihindari orang..."
Bel istirahat berbunyi. Mahasiswa berbondong-bondong keluar. Aku duduk di barisan depan, dekat pintu. Normalnya, itu posisi strategis buat menyapa orang. Tapi setiap kali aku mencoba membuka percakapan, mereka mengabaikan dan cepat-cepat keluar. Bahkan ada yang rela muter jauh lewat pintu belakang.
Rasanya sakit sekali. Tiga tahun SMA kujalani sebagai penyendiri, jadi kemampuan bersosialisasi sudah tumpul. Ditambah perlakuan begini, makin terasa perih.
Kelas pun sepi. Tinggal aku sendirian.
"Tolonglah, minimal aku punya satu teman saja..."
Kalau perlu, cari teman sesama penyendiri saja. Pasti ada yang gagal “debut kampus” dan ingin cari teman juga.
"Ayo lah, siapa pun boleh. Aku bahkan mau traktir makan tiap hari kalau perlu...!"
"Permisi, boleh sebentar?"
Datang juga!!
Aku hampir tak percaya. Seakan doaku terkabul, ada seseorang yang menyapaku dari belakang.
Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi, aku ingin berterima kasih pada Tuhan.
Yang terpenting sekarang adalah kesan pertama. Kalau gagal, kesempatan punya teman akan hilang. Aku sudah banyak membuat kesalahan, jadi ini saatnya taruhan terakhir. Aku harus tersenyum sebaik mungkin—
"H-halo, senang berkena... eh!?"
Aku menoleh.
Yang kulihat adalah Yuuto Sano – orang yang punya ikatan rumit denganku... tubuhku langsung membeku.
Aku sudah tahu dia ada di fakultas yang sama. Tapi karena tak pernah ada kontak langsung, aku sengaja menghindar. Kupikir itu cukup.
Tapi sekarang, dia sendiri yang menghampiriku.
"Perkenalkan, aku Sano Yuuto."
"Ah... e-eh, aku... aku Iriya Satoshi. Senang berkenalan."
"Haha, kita sekelas, kan? Santai aja, nggak usah pakai bahasa formal."
"O-oh... baiklah."
Aku sama sekali tak menyangka. Orang yang selama ini paling berat di hatiku, kini berdiri tepat di hadapanku.
Dan sejak saat itu, percakapan kami membawa perasaan rumit yang tak bisa lagi kuabaikan—
Rasa hati yang kelam dan menjijikkan yang sebenarnya tidak ingin kulihat, tiba-tiba meluap keluar, membuat dadaku sesak seakan jantungku diremas kuat.
Saat tersadar kembali ke kenyataan, aku melihat Sano menatapku dengan mata penuh penghinaan.
“Jadi, memang sadar ya… dasar pria kotor.”
“Ti-tidak! Bukan begitu maksudku…!”
“Satsuki dan yang lain pasti juga ingin menikmati kehidupan kampus yang indah. Tapi gara-gara ada parasit yang terus menghisap kebaikan mereka, mereka malah terbebani. Kamu tidak pernah terpikir untuk membebaskan mereka?”
“……!”
Kata-katanya, telanjang tanpa hiasan, menusuk hatiku seperti pisau tajam. Aku ingin menyangkal. Aku ingin membantah. Tapi suaraku sendiri ditelan oleh pusaran emosi hitam yang ada di dalam diriku.
“Aku juga sebenarnya nggak mau bilang begini.”
Ucap Sano, lalu menghela napas pendek.
“Tapi, kalau soal Satsuki dan yang lainnya… aku merasa mengambil peran kotor seperti ini juga tugasku.”
“Sano…”
Bukan hanya karena marah, aku tahu dari nada suaranya bahwa ini adalah peringatan tulus. Justru karena itu, hatiku semakin sesak.
“Kalau saja Iriya mau bilang, ‘sudah cukup, aku baik-baik saja sekarang’, semuanya akan selesai. Kamu bisa, kan? Mengatakan itu saja.”
“Itu…”
Benar. Hanya karena mereka pernah menyelamatkan hidupku, bukan berarti aku boleh mengikat mereka dengan rasa bersalah selamanya. Mereka juga punya hidupnya masing-masing. Kalau aku terus menahan mereka, maka semua yang sudah kulakukan untuk melindungi masa depan mereka jadi sia-sia.
Namun— sisi buruk dalam diriku menolak melepaskan.
Aku tidak ingin sendirian lagi—
Keinginan egois, murni demi diriku sendiri. Begitu menyadari itu, aku merasa diriku sangat hina.
Kalau satu-satunya cara untuk tetap terhubung dengan orang lain adalah dengan menanamkan rasa bersalah pada mereka… mungkin seharusnya aku mati saja waktu itu.
Kepalaku tertunduk. Hatiku ditelan kegelapan. Saat melirik ke arah Sano, ia menatapku dengan senyum miring, setengah mengejek, setengah mencemooh. Tapi aku sudah tidak peduli.
“Apa yang kau lakukan di sini…?”
◇
Tatapan tajam penuh hawa dingin Reine menusuk ke arah Sano. Namun, Sano tetap tersenyum lembut tanpa rasa gentar.
“Sudah sebulan ya. Apa kabar… eh, hei—”
Reine mengabaikannya, lalu membungkuk sedikit hingga sejajar dengan pandanganku. Aku buru-buru mengalihkan mata, teringat pada diriku yang tadi begitu menyedihkan. Tapi Reine hanya tersenyum tipis, seolah memaklumi seorang anak kecil yang bandel.
“Maaf ya, Satoshi. Aku agak terlambat.”
“Tidak apa-apa, itu—”
“Tidak usah dilanjutkan.”
Reine menempelkan jari lembutnya ke bibirku.
“Satoshi yang menganggap kami berharga, itu sangat membahagiakan. Tapi kalau orang lain mengira semuanya hanya karena rasa bersalahmu… aku akan merasa sedih.”
“Reine…”
Ia sempat menundukkan mata, namun segera kembali menampilkan wajah tegas dan dinginnya. Tanpa sepatah kata lagi, ia mendorong pegangan kursi rodaku.
“Ayo, kita makan siang. Shino katanya ingin coba ramen. Katanya ingin mencicipi masakan rakyat biasa.”
“Haha… itu memang Shino sekali.”
Suara Reine, dingin namun elegan, entah kenapa sekarang terasa hangat di telingaku. Sesak di dadaku perlahan mereda, berganti rasa tenang. Saat ia mendorong kursi rodaku, biasanya aku merasa canggung. Tapi kali ini justru sebaliknya, menenangkan.
“Lama tak jumpa, Reine. Apa kabar?”
“──”
“ッ”
Reine benar-benar memperlakukan Sano seolah dia tidak pernah ada. Saat kami hendak keluar dari gedung kuliah—
“Satoshi-kun, maaf bikin nunggu~!”
“Uwoah!”
Satsuki berlari ke arahku dan langsung menabrak kursi rodaku dengan wajah ceria. Tapi begitu melihat kondisiku, ekspresinya mendadak muram.
“Kamu baik-baik saja? Lukanya nggak makin parah? Aku benar-benar khawatir kalau kamu sendirian. Soalnya kamu nggak bisa apa-apa tanpa kami…”
“Tenang aja. Aku baik-baik saja, sama seperti biasanya.”
Padahal sebenarnya barusan tambah sakit karena dia menabrakku.
“Aku juga ikut khawatir, tahu…”
“Benar, jangan cuma Satsuki yang diperhatikan.”
Dari belakang muncul Shuna dan Shino, wajah mereka datar tanpa emosi.
“Eh? Ada apa? …Ah, jadi begitu.”
Satsuki menatap ke arah belakangku— sesuatu yang tidak ingin kulihat. Seketika matanya menjadi gelap, ekspresinya datar.
“Satsuki.”
Sano memanggilnya. Tapi Satsuki tak menggubris, hanya tersenyum padaku.
“Reine pasti sudah cerita, kan? Katanya ada ramen enak di luar kampus. Iya, kan, Shino?”
“Benar. Aku juga ingin coba yang namanya ‘mesin penjual tiket’ itu.”
“Haha, tetap saja kau gadis bangsawan.”
“Oi, tunggu—”
Sano hanya bergumam pelan, namun seakan tak seorang pun mendengarnya. Reine dan yang lain pun segera mendorongku keluar tanpa membiarkanku menoleh.
◇
“Oi…”
Kakiku seakan tertambat rantai, tidak bisa melangkah. Tanganku tidak bisa meraih apa pun yang penting.
Semuanya terasa seperti fatamorgana yang menjauh.
“Tunggu! Aku masih punya banyak hal yang ingin kutanyakan!”
Teriakanku pun tidak digubris, seolah menghantam tembok kosong.
“Shino, kamu tahu apa itu ramen?”
“Pertanyaan bodoh. Jangan meremehkanku.”
“Ya, ya. Tapi apa kamu bisa habiskan satu porsi? Kalau nggak, kasih ke aku aja. Aku lapar, kamu juga lapar kan, Satoshu-kun?”
“Eh? Ah… yah, iya juga.”
Bukan ke kamu maksudku!!
Aku melirik ke arah Iriya. Begitu mata kami bertemu, segera saja dia memutus kontak, membuat dinding tak kasatmata di antara kami. Dari semua orang di sana, hanya Iriya yang benar-benar mengakuiku. Ironisnya, itulah yang membuatku sadar bahwa keempat gadis itu bukan sekadar bayangan.
“Hey, tolong jangan abaikan aku lagi! Dengarkan aku sekali saja!”
Akhirnya tubuhku mau bergerak sesuai keinginan. Aku mengejar mereka. Walau kesal karena tak dianggap, aku tetap mencoba menahan diri. Namun—
“Kalau begitu, aku saja yang menyuapkanmu~”
“Itu curang! Satoshi-kun, makan ramen pakai tangan non-dominan itu berbahaya. Biar aku yang bantu!”
“Kalau Satsuki yang berisik di sebelahnya, malah bikin selera makan hilang. Lebih baik aku saja yang menjaganya. Kalian berdua nikmati ramen kalian.”
“Itu tidak adil, Reine-san. Jelas seharusnya aku yang melakukannya.”
“Eh… aku bisa makan sendiri kok…”
“Oi! Berhenti!!”
Mereka— Empat Dewi Cantik yang seharusnya memperebutkan perhatianku— kini justru berebut perhatian pria lain. Dan mereka tampak begitu akrab.
Aku sengaja menunda jawaban cintaku, supaya mereka bisa mempererat ikatan satu sama lain. Tapi itu semua karena aku berada di pusat lingkaran itu. Bukan untuk orang lain!
“Kenapa kalian ada di samping dia!? Bukannya kalian semua bilang suka padaku!? Kenapa sekarang chat-ku nggak dibalas, bahkan menghindar dariku!? Sebenarnya apa yang terjadi!?”
Akhirnya, mereka berhenti. Di koridor sepi dekat lift, punggung keempatnya membeku di depan mataku.
“Haah… akhirnya berhenti juga.”
Suara nafasku sendiri menggema. Empat orang yang biasanya ramai kini hening bagai permukaan air.
Ini kesempatan! Aku tidak boleh melewatkannya!
“Kalau sulit untuk bicara, anggukkan kepala saja! Beri aku tanda! Aku akan menolong kalian, apa pun yang terjadi!!”
Tidak mungkin ini adalah yang mereka inginkan. Iriya pasti memanfaatkan kelembutan mereka sekaligus menekan dengan sesuatu. Kalau tidak, mereka tidak akan tega memperlakukan pria yang mereka sukai seperti ini.
Namun— saat lampu indikator lift menyala di lantai dua dan pintu terbuka, keempatnya masuk begitu saja bersama Iriya, tanpa menoleh sedikit pun padaku.
“Ghh! Tunggu!!”
Aku berlari, menahan pintu yang hampir tertutup dengan kakiku.
“Dengar aku! Kalian itu penuh kebaikan! Pasti ada sesuatu yang dia paksa pada kalian, kan!? Sebenarnya kalian tidak ingin ini semua, tapi diancam oleh Iriya Satoshi!!”
Aku melihat telinga mereka sedikit bergerak.
“Dan kau, Iriya! Jangan diam saja, dasar pengecut!!”
Aku hanya bisa melontarkan amarahku pada punggung Iriya yang tersembunyi di balik Reine dan Shino. Dia tetap diam, semakin membuatku muak.
“Hey…”
“……Satsuki? Satsuki!!”
Akhirnya, doaku terjawab. Satsuki membuka mulut, seolah ingin menjawabku.
Dia pasti disiksa oleh Iriya. Kalau begitu, sekarang aku yang akan—
“──Mati saja kau.”
Zok—
Mata Satsuki yang hitam kelam seperti ditutupi kegelapan pekat, dipadukan dengan suara dingin menusuk telinga, membuatku tidak sempat bereaksi. Dari celah pintu lift yang hampir tertutup, tangan kanan Satsuki dengan cepat menjulur ke arahku.
Jari-jarinya yang ramping mencengkeram kerah bajuku, lalu dengan kekuatan mengejutkan ia menarikku ke depan. Tanpa ragu sedikit pun, ia mencoba menyeretku masuk ke dalam lift.
“E-eh…?”
Dari mulutku meluncur gumaman kecil, campuran bingung dan takut. Namun bersamaan dengan itu, Satsuki menarik kembali tangannya, dan pintu lift pun menutup tanpa ampun.
Kepalaku terhantam pintu dengan keras, rasa sakit menyalurkan getarannya ke seluruh wajahku. Aku meringis kesakitan lalu jatuh terguling ke lantai.
“~~~~!”
“──”
Cairan merah memercik ke udara, menodai lantai.
Begitu pintu lift terbuka lagi, Satsuki berdiri di sana, menatapku dengan pandangan seolah aku hanyalah sampah. Dari penglihatan kaburku, terlihat Junna sedang tersenyum sambil menahan tombol buka-tutup.
Ironisnya, rasa sakit membuat kepalaku segera kembali jernih.
“A-apa yang…!?”
Kalimatku langsung terputus. Bukan hanya Satsuki, bahkan Shino dan Reine juga menatapku dengan ekspresi serupa, dingin dan penuh penghinaan.
“Dasar bajingan… berani-beraninya bicara seenaknya pada penyelamat nyawa kami?”
“Memanfaatkan kami? Mengancam dengan kelemahan? Jangan sembarangan merendahkan Satoshi-kun.”
“H-hah? Apa yang kalian bicarakan? Hei, Shuna!”
“Jangan panggil namaku seenaknya.──Menjijikkan.”
Suara Shuna, yang biasanya lembut dan menenangkan, kini berubah dingin penuh amarah. Senyum manis yang selalu ia tunjukkan seolah topeng, kini telah benar-benar menghilang.
Apa-apaan ini…? Apa yang sebenarnya sedang terjadi!?
Pikiranku kacau, tidak mampu menyamakan kenyataan dengan logika. Satsuki tiba-tiba jongkok di depanku, mencengkeram rambutku dengan kasar, lalu menarik kepalaku setinggi wajahnya.
Mata kami bertemu—mata Satsuki bagai lubang hitam yang menelan segalanya.
“Setelah puas mempermainkan kami, masih berani menatap wajah kami seolah tidak terjadi apa-apa? Lebih parahnya lagi, kau bahkan mencoba melukai hati Satoshi-kun. Mati, mati, mati, mati, mati, mati──Mati saja kau.”
“Hiii…!”
Apa ini benar-benar Satsuki…?
Aku memaksa melepaskan diri, rambutku tercabut sebagian, tapi rasa sakit itu tenggelam dalam rasa takut. Satsuki berdiri, pintu lift kembali menutup.
“Jangan pernah bicara padaku lagi. Kau saja yang pasti──”
Kalimat itu terputus, pintu pun menutup rapat.
Aku terdiam, pikiran kosong. Namun, ekspresi hinaan mereka tadi masih jelas membekas di kepalaku. Rasa marah dan dingin yang begitu dalam.
Membunuh──
Gerakan bibir Satsuki yang terakhir terlihat seakan mengucapkan kata itu.
“A-apa salahku…!?”
Dada terasa sesak, ketakutan, bingung, dan juga──
◇
“Capeknyaaa. Tapi kenapa kuliah itu membosankan sekali ya? Kukira bakal lebih seru.”
“Yah, memang begitu. Profesor itu ahli penelitian, bukan ahli mengajar. Kalau mau terasa menarik, kita sendiri yang harus menambah wawasan. Lebih aneh lagi, kenapa masih ada orang yang nekat ngajak ngobrol di tengah kuliah ya…”
“Hehe, karena orang yang serius belajar itu jarang. Kebanyakan cuma cari kenalan atau gebetan.”
“Aku sih cukup bilang ‘aku punya pacar’, langsung diam mereka.”
“…Itu sih curang.”
“Oh? Di 'Perjanjian Empat Arah' kita tidak melarang cara itu kan?”
“Seperti biasa, Reine paling pintar mencari celah ya.”
“Kalau begitu, aku juga mau pakai cara itu mulai besok.”
Pukul 18.00. Karena mengikuti jadwal kuliah Satsuki sampai jam ke-5, waktu sudah larut.
Di depan stasiun, angin sejuk berhembus, bunga sakura beterbangan. Orang-orang keluar dari gerbang dengan wajah lelah namun lega. Hari ini Jumat, jadi ekspresi mereka bercampur rasa penat sekaligus bahagia karena esok libur. Kami pun sama.
…Tapi, setelah semua yang terjadi tadi, bagaimana mereka bisa bercanda setenang itu?
Aku kembali teringat kejadian di lift. Para heroine 'LoD' yang gagal diraih memang selalu berakhir tragis di game. Jadi, mungkin beginilah kalau mereka menyimpan dendam di dunia nyata.
Yang lebih menakutkan, meski tadi mereka begitu mengerikan, sekarang mereka bisa makan ramen dengan wajah santai, seakan tidak terjadi apa-apa.
Darah mengalir tadi, kau tahu!?
Tapi yah, bukan itu yang terpenting…
Kami berlima berjalan di jalur rel. Suara roda kursi roda bergema bersama obrolan ringan mereka. Tak ada orang lain di sekitar.
Tiba-tiba suara peringatan perlintasan terdengar, lalu kereta lewat dengan gemuruh, mengguncang tanah. Cahaya dari jendela kereta bergantian menyinari kami, lalu keheningan kembali menyelimuti.
Seolah dunia menyiapkan panggung ini hanya untukku.
“Hei, Satsuki…”
“Hm? Ada apa, Satoshi-kun?”
“Aku ingin bilang sesuatu pada kalian. Tolong hadapkan kursiku ke arah mereka.”
“Baiklah.”
Dengan cekatan, Satsuki memutar kursi rodaku hingga aku berhadapan langsung dengan mereka. Empat gadis itu menatapku dengan bingung.
Aku sadar, kalau sekarang kuanggap bercanda, mungkin hidup seperti ini masih bisa kuperpanjang sebentar. Tapi──
“Mulai sekarang, aku tidak butuh perawatan kalian lagi. Jalani saja hidup kalian masing-masing. Terima kasih untuk semuanya.”
Aku menundukkan kepala dalam-dalam, mengucapkan rasa syukur dari hatiku.
“Jadi… kami sudah tidak dibutuhkan lagi? Kau tidak memerlukan kami…?”
Suara Satsuki terdengar nyaris gelap, seakan hendak jatuh ke jurang. Aku mengangkat kepala, melihat mata mereka. Semua cahaya sudah hilang.
Jangan sampai aku terhisap ke dalamnya.
“Bukan begitu. Aku bahagia kalian selalu ada di sisiku. Bahkan… kalau bisa, aku ingin kalian tetap bersamaku selamanya.”
“Kalau begitu, kenapa…?”
Aku menarik napas panjang. Kata-kata terasa berat, sulit keluar.
Sakit. Aku tidak ingin mengatakannya.
Tapi aku tidak bisa terus diam di sini.
“Aku… benci sekali orang yang membuat hidup orang lain jadi kacau demi kepentingannya sendiri. Tapi justru aku yang melakukannya. Dengan dalih ‘penyelamat nyawa’, aku menaruh belenggu di leher kalian—belenggu yang tidak bisa kalian lepaskan sendiri. Itu membuatku muak pada diriku sendiri…”
“──”
“Jadi… sudah cukup. Mulai sekarang aku akan menjalani semuanya seorang diri. Kalian tidak perlu lagi merasa bersalah. Lupakan aku, jalani hidup kalian masing-masing dengan bebas. Tolong… bebaskan dirimu dariku. Kumohon.”
Aku kembali menundukkan kepala dalam-dalam.
Pada akhirnya, ini pun demi diriku sendiri. Aku tidak ingin terus disiksa oleh rasa bersalah karena sudah merusak hidup orang lain. Aku ingin dikenang sebagai pahlawan yang pernah menyelamatkan gadis-gadis itu, bukan sebagai beban.
Reine pernah berkata bahwa mereka tidak berada di sisiku hanya karena rasa bersalah, tapi… aku tetap lebih memilih egoku sendiri. Permintaan egois dan sepihak. Aku menutup telinga dari perasaan mereka yang justru lebih menderita karena rasa bersalah dibanding aku.
“...Kau memang baik sekali, Satoshi-kun.”
“Tidak… aku ini orang paling rendah.”
Senyum tipis tercetak di wajah Satsuki, diikuti helaan napas kecil.
“Karena ini keinginan Satoshi-kun sendiri, sebenarnya aku ingin mengabulkannya. Tapi… maaf ya? Hanya itu yang tidak bisa kami kabulkan.”
“…Kenapa—hah?”
Aku mendongak, bingung dengan ucapan Satsuki. Pandanganku langsung tertuju pada sesuatu yang ada di tangannya.
Itu… buku harian?
Buku dengan sampul pudar dan sudut-sudut yang sudah aus. Buku yang kukira hilang sejak lama—buku harianku waktu SMA.
“K-kok bisa…!?”
Satsuki tersenyum kecil, wajahnya tampak bersalah.
“Maaf ya. Waktu hari kecelakaanmu, aku mengambilnya tanpa izin.”
“…Eh.”
“Aku sudah membacanya. Tentang 'LoD', tentang ‘Kekuatan Pemaksa Dunia’, tentang 'Saionji Satsuki', semua… sudah kubaca.”
Aku terdiam, tubuh membeku. Saat menoleh, Shino, Shuna, dan Reine juga menatapku. Jelas mereka semua sudah tahu isi buku harianku.
Satsuki membuka lembar demi lembar dengan gerakan lembut, seolah sedang menyentuh sesuatu yang berharga.
“Satoshi-kun… selama ini kau selalu melindungi kami, ya? Selalu mendukung kami… sendirian.”
“Ah…”
Kata-kata itu menekan dadaku.
“Tapi, maaf… kami tidak ingat apa pun. Sampai membaca buku ini pun, kami bahkan tidak tahu siapa itu ‘Iriya Satoshi’. Kami salah paham, mengira orang lain yang sudah menolong kami. Bukankah itu keterlaluan?”
Bukan salah mereka… itu semua karena ‘Kekuatan Pemaksa Dunia’.
Aku ingin berteriak begitu, tapi suaraku tersangkut di tenggorokan.
“Yang kau berikan pada kami… adalah cinta tanpa pamrih. Tapi betapa kejam, menyedihkan, dan tidak adilnya perasaan itu, ya…?”
Air mata mulai jatuh membasahi pipi Satsuki. Bahunya bergetar menahan isak.
“Tapi sekarang… kami tahu. Kami akhirnya tahu siapa orang yang benar-benar menyelamatkan kami…!”
Tangisnya bercampur dengan teriakan yang menusuk hati.
“Sampai tubuhmu hancur begini, kau masih tetap melindungi kami dari balik bayangan…! Bagaimana mungkin, setelah tahu semua itu, kami bisa melupakanmu dan hidup santai seakan tidak terjadi apa-apa!? Jangan meremehkan kami, Satoshi-kun!!”
Kata-katanya bergema menusuk langit malam.
“Kau suruh kami melupakanmu? Selama ini kami memang dipaksa melupakan segalanya, tapi sekarang—kau masih tega menyuruh kami melupakan lagi!? Tidak… cukup sudah!”
Suara tangis bercampur teriakan.
“Kalau kau minta tubuh kami, kami akan memberikannya! Kalau kau suruh kami mati, kami akan mati sekarang juga! Jadi jangan pernah bilang dirimu tidak berharga lagi…! Jangan pernah menganggap dirimu hina…! Satoshi-kun adalah pahlawan, penyelamat, dan—orang yang kami cintai!”
Aku tercekat, tak sanggup berkata-kata.
Air mata mereka jatuh, berkilau diterpa cahaya bulan.
Mereka semua menatapku dengan mata penuh tekad.
Aku hanya bisa menunduk, tubuhku gemetar di kursi roda.
“…Di kehidupan sebelumnya, aku cuma seorang NEET yang tidak punya tempat. Setelah terlahir kembali, aku bertekad untuk hidup benar—untuk keluarga baruku, agar bisa jadi anak yang dibanggakan. Tapi akhirnya… aku tetap bukan ‘Iriya Sastoshi’ yang asli. Aku ditolak, dianggap aneh, lalu sendirian lagi.”
Dadaku sesak. Kata demi kata keluar dengan susah payah.
“Akhirnya aku memutuskan untuk hidup seorang diri. Tapi saat ingatan masa lalu kembali, aku sadar… aku hanya hidup agar tidak mati. Tiga tahun… tiga tahun penuh kesia-siaan.”
Aku mengisahkan semuanya: perjuangan yang terus-menerus direbut oleh tokoh utama, rasa kosong yang terus menggerogoti, dan keputusan untuk menulis di buku harian sebagai bukti aku pernah hidup.
“…Aku hanya ingin seseorang tahu.”
Aku ingin ada yang memuji hidupku.
Aku ingin ada yang berkata terima kasih.
Saat itu, sesuatu yang hangat menyelimutiku. Lembut, hangat, dan penuh kasih.
“Sudah cukup, Satoshi-kun. Kau sudah berjuang lebih dari cukup.”
Suara Satsuki menembus hatiku yang rapuh.
“Sekarang giliran kami. Biarkan kami yang menyelamatkanmu. Biarkan cinta kami yang mengikat hidupmu.”
…Cinta, bukan rasa bersalah.
Bisakah aku benar-benar menerima itu?
“Apa… benar boleh seperti itu…?”
Suaraku nyaris hilang. Namun jawaban mereka tegas, tanpa ragu:
“Tentu saja. Aku sudah siap sejak awal.”
“Aku juga! Jadi semangat lagi, ya!”
“…Aku masih bisa hidup sampai sekarang hanya karena dirimu.”
Aku terdiam. Kata-kata itu—terima kasih—adalah kata yang selama ini selalu kuinginkan.
Dadaku terasa panas, mataku basah. Air mata mengalir tanpa bisa dihentikan.
Mereka menggenggam tanganku, menghapus rasa kesepian yang selama ini menjeratku.
◇
Di sebuah taman kecil dekat rel, hanya ada bangku tua dan perosotan berbentuk gajah. Malam begitu sunyi, hanya bulan yang menyaksikan kami dari atas langit.
Lalu, tiba-tiba Satsuki membuka suara.
“Satoshi-kun… di antara kami berempat, siapa yang paling kau sukai?”
“…Hah!?”
Pertanyaan itu begitu mendadak. Aku panik, apalagi saat mereka mulai membuka-buka buku harianku dan membacanya dengan riang.
“Hentikan! Jangan dibaca lagi!!”
Tapi mereka tetap asyik menertawakan tulisan-tulisanku.
Pujianku untuk kecantikan Reine, kata-kata manis untuk Junna, kekagumanku pada Shino, bahkan catatan memalukan tentang Satsuki.
Wajahku memerah, ingin lenyap dari dunia.
Lalu suasana berubah mencekam ketika mereka saling menatap tajam.
“Tapi yang paling dia sukai jelas aku, kan?”
“Bodoh, jelas aku yang paling dia cintai.”
“Tidak, Satoshi hanya melihatku dengan cara paling… khusus.”
Saling klaim, saling bersaing, tatapan mereka tajam penuh tekad.
Aku berusaha menengahi, tapi keempat gadis itu hanya mendekat lebih rapat, senyum mereka tipis, mata berkilat berbahaya.
“Satoshi-kun… katakan, siapa yang paling kau cintai?”
Aku gemetar, wajahku panas.
Mereka tidak akan menerima jawaban setengah-setengah.
Akhirnya Satsuki menutup dengan kalimat yang membuat darahku membeku.
“Kami berempat sudah jadi milikmu. Tapi ingat… sebagai wanita, sebagai kekasihmu, posisi ‘yang paling utama’ tidak akan pernah kami serahkan. Mulai sekarang, kami akan benar-benar bersaing. Jadi, siap-siaplah ditaklukkan… Satoshi-kun.”
Mereka semua menatapku dengan mata serius—mata seorang gadis yang sudah menetapkan hati.
Aku hanya bisa gemetar, menjawab dengan lirih:
“…Tolong, jangan terlalu keras padaku.”



Posting Komentar