"Artesia Eisenfuth – Wafat pada usia 316 tahun."
"Sebagai kepala keluarga adipati pendukung Kekaisaran, ia beristirahat setelah menunaikan tugasnya."
Nama dan kalimat yang terukir di batu nisan itu.
Sambil memandangi ukiran itu, seorang pemuda berusia akhir dua puluhan—Kartz—berbicara kepada batu nisan sambil menundukkan kepala.
“...Tidak peduli berapa kali aku melihatnya, rasanya tetap seperti lelucon.”
Makam dari majikannya yang telah wafat sepuluh tahun lalu.
Dulu, Kartz pernah mengabdi pada seorang wanita.
Wanita itu memiliki sihir yang melampaui batas waktu dan menjadi kepala keluarga Adipati Eisenfuth, melindungi Kekaisaran, keluarganya, dan banyak orang lainnya selama lebih dari tiga abad.
Namun meski begitu—
“Aku tidak akan pernah memaafkan mereka yang membunuh Putri Artesia.”
Menurut catatan resmi, kematiannya disebut sebagai “wafat karena sakit.”
Namun kenyataannya tidak demikian.
Setelah kepergiannya, situasi politik Kekaisaran berubah drastis.
Hanya dalam waktu sepuluh tahun, peta kekuatan di benua ini berubah total. Dipimpin oleh keluarga adipati, semua negara jatuh di bawah kendali Kekaisaran.
Gerakan itu terlalu cepat dan terlalu terorganisir.
Semua perubahan besar itu berawal dari kematian Putri Artesia. Karena itu, Kartz pun mulai menyelidiki dengan rasa curiga.
Dan pada akhirnya—ia menemukan bahwa Artesia dibunuh oleh para dalang dari balik bayangan.
“Tanpa Putri Artesia, aku tidak punya alasan lagi untuk tetap hidup di dunia ini.”
Setelah menunduk sekali lagi di depan batu nisan, Kartz berbalik dan berjalan menuju gubuk penjaga makam.
Memasuki gubuk reyot yang seolah akan runtuh kapan saja, ia mengambil cangkir teh tua yang tergeletak di atas meja.
Keluarga Adipati Eisenfuth memiliki bunga wolfsbane (bunga aconitum) sebagai lambang mereka.
Dan di dalam cangkir itu, terdapat rebusan dari bunga beracun tersebut.
Sekali teguk, racun itu cukup untuk mengakhiri hidup siapa pun seketika.
“Akhirnya... aku akan menyusul Putri Artesia ke dunia tempat ia berada.”
Kartz tersenyum tipis.
Dan kemudian—
“—Karena itulah aku telah mempersiapkan segalanya selama sepuluh tahun.”
Ia menghentakkan kakinya dengan kuat ke lantai, menghancurkan papan kayu di bawahnya.
Tersembunyi di balik lantai itu adalah sebuah lorong bawah tanah dan tangga menurun kasar yang digali langsung dari tanah.
Lorong ini adalah jalan rahasia keluar dari gubuk yang tak mencolok, dan sekaligus pintu masuk ke ruang bawah tanah yang dulu ditinggalkan—bekas makam bawah tanah.
Namun, yang tersimpan di dalamnya bukanlah mayat.
Ada deretan pakaian bangsawan, pakaian khas para pedagang antarnegara, pakaian rakyat biasa yang tersebar luas, hingga pakaian compang-camping milik kaum miskin.
Pakaian-pakaian itu disiapkan oleh Kartz untuk menyamar dan menyusup demi mengumpulkan informasi dari berbagai kalangan.
Bukan hanya itu.
Di ruangan lain, terdapat alat penyadap suara yang bisa digunakan untuk mendengar percakapan bahkan dari balik dinding atau bawah tanah, alat pengintai jarak jauh untuk membaca gerakan bibir dari kejauhan, lambang dan stempel palsu dari bangsawan terkenal, serta tumpukan koran dan buku lama yang telah dipotong—semuanya menumpuk seperti gunung dan berserakan di mana-mana.
Semua itu dikumpulkan Kartz demi hari ini.
Demi mengetahui siapa yang membunuh Artesia dan apa tujuan mereka.
Apa saja yang telah mereka persiapkan?
Siapa saja tokoh penting yang terlibat?
Apa kondisi dan faktor yang harus diubah agar kematian itu bisa dicegah?
Setelah meneliti semuanya, Kartz menyusun rencana matang—lengkap dengan orang yang dibutuhkan, barang, kondisi, situasi, dan semua kemungkinan yang ada.
“Aku tidak akan menyia-nyiakan sihir terakhir yang Putri Artesia wariskan padaku.”
Dengan senyum yang ditujukan pada cangkir teh itu, Kartz pun menatap ke depan dan mengangkat wajahnya.
“Kali ini... akulah yang akan menyelamatkan Putri Artesia.”
Dengan pernyataan penuh tekad itu, Kartz mengangkat cangkir yang ada di tangannya—dan menenggaknya sekaligus.



Posting Komentar