Sekolah dasar yang biasanya penuh dengan semangat anak-anak di siang hari, berubah menjadi dunia yang benar-benar berbeda di malam hari, dipenuhi keheningan.
Di koridor putih yang diterangi cahaya bulan, hanya suara langkah kaki yang bergema.
"Tuanku."
"Ada apa?"
Sang Penyihir dan pasangannya bertukar kata dengan nada santai seperti biasa.
Sekilas tampak tak waspada, namun palu baja berwarna timah meneteskan jejak kekerasan di sepanjang lorong.
"Apa benar tidak apa-apa mengucapkan hal seperti itu tadi?"
Pasangannya yang menyamar sebagai salib bertanya.
Hal seperti itu... jelas merujuk pada insiden sebelumnya dengan Silver Lotus.
Meski mengakui kesalahan di pihak mereka, dia tetap memperingatkan agar tidak merebut haknya dan secara sepihak mengusulkan persaingan.
"Kalau dia menerima tantangan itu, seharusnya bisa jadi hiburan yang seru."
Goldbloom menepuk bahunya dengan palu, tampak bosan.
Silver Lotus tidak bereaksi banyak terhadap improvisasi tak terduga pada pertemuan pertama mereka.
Sebagai balasan atas provokasi yang begitu jelas, dia hanya berkata—
"Katanya tidak perlu, tapi tetap saja…"
Sebuah kepala goblin muncul dari balik pintu dan langsung meledak terkena ayunan palu.
Itu adalah yang ketiga sejauh ini.
Pisau yang dilapisi racun berbahaya meluncur di lantai, menyebarkan warna mencolok yang beracun.
Tanpa memperdulikannya, Goldbloom terus melangkah maju.
"Dia tidak mengejar kita."
"…Dan tak terlihat ada familiarnya yang dipanggil."
Mata merah seperti kelinci menunjukkan tekad hanya untuk membantai para inkubus.
Namun sejauh ini, belum tampak adanya tindakan nyata dari pihak mereka.
Hanya palu milik Goldbloom yang menghancurkan nyawa para inkubus.
"Kemampuan fisik di bawah rata-rata, energi magisnya lemah, tak bisa mendeteksi kehadiranku, dan cuma punya satu familiar."
Sang Penyihir tidak merasakan sedikit pun kekuatan dari lawan yang disebut sebagai anggota “Number 13.”
Sulit percaya dia layak mendapat gelar itu.
Sampai-sampai membuatnya mempertanyakan apakah ada kesalahan dalam pencapaian yang dilaporkan oleh penyihir senior.
"Ahh, sungguh mengecewakan."
"Justru karena itu, bukankah ini kesempatan bagus untuk menguji kemampuannya?"
"Kau ingin aku mengawasinya diam-diam? Jangan konyol."
Dengan kekuatan luar biasa, dia menghabisi inkubus tanpa ada yang bisa menandingi.
Sebagai anggota peringkat atas, kekuatannya bisa dinilai tanpa perlu diamati.
"Tuanku, bekerja sama sebenarnya juga merupakan pilihan."
Dengan bekerjasama, mereka bisa menghabisi incubus secara efisien sekaligus menilai kemampuan Silver Lotus.
Saran dari pasangan yang tersembunyi di balik dadanya mungkin akan dipilih oleh penyihir biasa.
"Itu lebih dari sekadar lelucon."
Namun Goldbloom bukan penyihir biasa.
Saat mendengar kata "kerja sama", dia mengernyit.
Wajahnya dengan jelas menunjukkan ketidaksukaan.
"Kegagalan membiarkan incubus lolos adalah tanggung jawabku."
"Hmm…"
Kalimat yang ia ucapkan mengandung bobot yang tak terbayangkan dari nada suaranya yang kasar.
Awan menutupi bulan, dan kegelapan turun.
Langkah kaki yang sebelumnya terdengar teratur kini berhenti, memberi jalan pada kesunyian yang mengisi lorong.
"Jika ini salahku, maka aku yang akan menyelesaikannya."
Sebagai penyihir dengan kekuatan luar biasa, Goldbloom tak mengandalkan orang lain.
Tak akan membiarkan orang lain mengatasinya.
Semakin sering menang, obsesinya terhadap prinsip ini makin menguat.
Pasangannya pun menyadari ini bukanlah hal yang sehat, tapi tidak ada solusi yang mudah.
"Keluarlah, dasar kodok bodoh."
Mata emasnya yang menyipit menatap ujung lorong.
"Heh… jadi kau sadar juga ya."
Bayangan bergetar di tengah kegelapan.
Suara mengejek yang menyakitkan telinga bergema di koridor.
"Bawa-bawa pengikut dan sok jadi bos di sini, ya?"
Terdapat sembilan aura yang terasa.
Dua di depan, empat di tengah, tiga di belakang.
Goblin yang jadi antek inkubus, dan tentunya si Frogman.
"Di sini kau nggak bisa pakai sihir andalanmu, kan?"
Suaranya merendahkan, seolah mengasihani.
Para goblin ikut tertawa mengejek.
Tapi Goldbloom hanya mendengarnya tanpa marah.
Benar, meriam sihir andalannya bisa menghancurkan sekolah dalam sekejap.
"Kau pikir itu senjataku satu-satunya?"
"Apa?"
Dia menertawakan pemikiran dangkal itu.
Bukan karena tidak bisa digunakan, tapi karena tidak perlu.
Sihir itu—mengumpulkan energi, mempercepat, dan menembakkannya—adalah kemampuan yang dia kembangkan untuk membasmi inkubus dari jarak jauh.
"Ayo, Katharina."
Jarak tempur sebenarnya milik Goldbloom adalah pertarungan jarak dekat.
"Dengan senang hati, Tuanku."
Dia mengulurkan tangan ke perisai besar yang diam di sebelahnya.
Lambang bunga osmanthus keemasan bersinar samar, dan suara mekanisme makina terdengar di lorong.
"Brute."
Suara logam yang dingin dan tajam menggetarkan telinga.
Empat pegangan muncul dari bagian belakang perisai besar yang kokoh.
Salah satunya ditarik dengan cepat, dan muncul sebuah bilah tipis dan panjang.
Ujungnya berhenti tepat di leher Frogman.
"Mainan baru, ya… Hancurkan dia!"
Frogman tak melihatnya sebagai ancaman besar.
Karena di tempat sempit, senjata panjang sulit digunakan.
Para goblin maju dengan pisau dan ketapel.
Dua dari mereka masuk ke jangkauan—dan bilah emas bergetar.
"Bodoh."
Peluru dari ketapel salah sasaran dan hanya menebas udara.
Itulah yang terakhir kali bisa disadari oleh para goblin.
"Kau cukup hebat juga, ya…"
Frogman mendesis melihat dua rekannya tergeletak hampir bersamaan.
Satu serangan yang menembus dari mata ke belakang kepala, dilakukan dua kali.
Kecepatannya sangat luar biasa.
"Kau kira bisa menang karena tempat ini sempit, ya?"
Dengan langkah ringan, Goldbloom maju dan kembali mengangkat estock.
Begitu bilahnya bergetar—ketapel diluncurkan serentak.
Namun serangan itu tertahan oleh dua perisai besar yang berputar, membuat asap beracun menutupi pandangan.
Melihat kesempatan itu, dua goblin dan Frogman dari belakang menyerbu.
"Terbalik, bodoh."
Serangan balasan dari perisai besar melontarkan goblin, dan estock membidik Frogman yang meloncat ke langit-langit.
Di ruang sempit, sihir besar memang sulit digunakan.
Tapi di ruang sempit, gerakan pun terbatas.
"Keparat!"
Kilatan emas menyambar ke arah matanya.
Menghindari tusukan tajam itu di lorong sempit adalah hal yang hampir mustahil.
Frogman menangkis dengan cakar dan mundur dengan cepat.
"Jangan kabur!"
Dua perisai dibuka layaknya pintu, dan Goldbloom mengejar.
Dengan mudah menghindari peluru ketapel, dia menancapkan tusukan ke mata, dahi, dan tenggorokan musuh.
Kelompok goblin runtuh tanpa sempat mengerang.
"Ini penyihir yang merepotkan…"
Melihat itu, Frogman mendarat dan segera melompat mundur—dikejar oleh lemparan estock.
"Hampir saja—"
Dia memutar tubuhnya untuk menghindari, tapi yang menunggunya di sana adalah palu baja yang mengayun deras.
"Apa!?"
Mengandalkan putaran tubuhnya, Frogman melempar granat kecil yang disembunyikan di tangannya.
Sebuah serangan balik dari udara yang nyaris seperti atraksi sirkus.
Namun, ayunan penuh dari palu baja menghantamnya dan menghancurkannya dalam satu pukulan.
"…Anak buahmu sudah habis, tahu?"
Menyapu debu yang berterbangan di koridor, Goldbloom menyampaikan itu dengan wajah tenang.
"Haa… nggak ada gunanya mereka."
Mendarat di samping goblin yang matanya tertembus estock, Frogman menghela napas.
Awan bergerak, dan sinar bulan kembali menerangi.
"Pengganggu sudah tak ada."
"Sudah saatnya skakmat."
Goldbloom mencabut estock baru dari balik perisai besarnya.
Cahaya keemasan mendekat, dan Frogman yang berwarna merah darah mundur ke dalam bayangan, seolah menghindari sinar bulan.
Menuju lorong penghubung yang menuju bangunan lain, tempat cahaya bulan tak menjangkau.
"Nggak terlalu cepat, tuh?"
Dia sudah bosan menghadapi lawan yang hanya bisa kabur.
Kali ini, dia akan menusuknya agar si inkubus itu tak bisa lagi berkata dengan nada mengejek.
Dengan tekad itu, Goldbloom melangkah maju.
"Tuanku!"
Namun dari lorong penghubung, dari langit-langit, dan dari depan—cakar menyerang secara bersamaan.
Ternyata Frogman bukan satu, tapi tiga.
"Aku tahu!"
Meski tak terduga, sang benteng tak tergoyahkan.
Dia memutar perisai besar untuk menahan satu serangan, menghadapi musuh di depan, dan menggunakan energinya untuk menciptakan perisai lain di atas kepalanya.
Dunia seolah berputar balik.
"Masih terlalu lemah, tahu!"
"Hebat sekali, Tuanku."
Dengan tenang, ia menahan serangan dari tiga arah sekaligus.
Tak ada satu pun yang bisa menyentuh seragam putih bersihnya.
"Yah… sepertinya kami kalah, ya."
Trio merah darah itu malah tersenyum, meski serangan mendadak mereka ditangkis dengan mudah.
Berpikir bahwa menyerang dari tiga sisi bisa menjatuhkan benteng itu adalah pemikiran yang naif.
Goldbloom hanya mengernyit.
Namun—
"Apa… apa ini!?"
Sebuah keanehan tiba-tiba terjadi.
Pandangan menjadi kabur, tubuh gemetar, keringat dingin mengucur deras.
Gejalanya sangat mirip dengan efek obat beracun inkubus.
Namun Goldbloom tidak terkena serangan apapun, bahkan tidak menghirup debu beracun.
"Sial… tubuhku…!"
"Tuanku! Energimu terganggu! Segera stabilkan!"
Pasangannya langsung mengenali penyebabnya dan memperingatkan.
Energi yang membuat penyihir menjadi penyihir kini lepas kendali dan mengamuk.
Perisai besar kehilangan daya apung dan jatuh, estock yang terlepas pun hancur seperti pasir.
"Terima kasih sudah pakai sihir, ya."
Frogman berdiri di bawah sinar bulan, menepuk tangan sambil membuka kedua lengannya.
Goldbloom yang nyaris roboh bertumpu pada lutut, wajahnya memerah dan napasnya memburu.
Pertarungan telah berakhir.
Trio merah darah dengan santai mendekati mangsanya.
"Bagaimana efek obat barunya? Luar biasa, kan?"
"Kalau nggak bisa serang tubuhnya, cukup masuk lewat energinya dan rusak sumbernya… Begitu caranya, bahkan penyihir sekuat apapun pasti—"
"MATILAH KAU!!"
Mace yang diayunkan dari belakang ditahan dengan mudah.
Bahkan, tangannya ditangkap dan ditarik mendekat, membuat tubuhnya tak bisa bergerak, dan wajahnya dipandangi dari jarak dekat.
Meskipun tahu sedang dipermainkan, dia hanya bisa menendang lemah.
"Kelihatannya masih kuat, ayo kita mulai."
"Sudah lama nggak dapat betina, ya!"
Trio merah darah saling pandang, tak lagi memperhatikan penyihir itu.
Tatapan mereka penuh nafsu, membayangkan bagaimana cara menodai wanita di hadapan mereka.
Akhir dari penyihir yang kalah memang selalu tragis.
"Lepaskan…!"
Tanpa rasa takut, Goldbloom membalas tatapan itu dengan mata emasnya yang penuh kebencian dan jijik.
Meski pikirannya sudah melambat, nalurinya sebagai penyihir tetap melindunginya.
Namun bagi para inkubus, itu hanya membuat permainan ini makin menyenangkan.
"Tuanku!"
Cakar diarahkan untuk merobek bagian dada tempat pasangannya tersembunyi bersama salib yang bisa bicara.
"Jangan rusak terlalu cepat ya… huh?"
Frogman yang menjulurkan lidah melihat ke arah lorong dan melihat sosok kecil.
Kulit hijau muda, telinga dan hidung runcing—jelas seekor goblin.
Sang goblin menatap mereka dengan pandangan penuh keinginan.
Frogman menyeringai dan menarik tangan si gadis kecil.
"Nanti kau juga bisa ikut main, jadi tunggu—"
Tanpa sempat menjawab, goblin itu tumbang.
Di punggungnya tergantung balon besar berwarna coklat kehitaman.
"Ba-balonnya…?"
Bukan. Itu bukan balon.
Delapan kaki mencengkeram punggung goblin—kaki makhluk pengisap darah yang menghisap kehidupan mangsanya.
Trio merah darah langsung melompat mundur, senyuman jijik mereka hilang seketika.
"Tersisa tiga."
Suara polos, namun tanpa sedikit pun kepolosan kekanak-kanakan.
Sepasang mata merah yang bersinar dari balik bayangan hanya memandang para inkubus.
Mereka yang ada di sana, hanya bisa samar-samar menyadari bahwa pemilik suara itu adalah seorang penyihir—dari energi tipis yang dipancarkannya.
"A-apa ini… siapa mereka…?"
Namun, meskipun mereka masih sadar penuh, pemandangan yang mereka saksikan terasa seperti mimpi buruk yang ingin mereka tolak.
Seratus, dua ratus, atau bahkan lebih banyak energi menggeliat dan merayap.
"Tuanku, ini semua adalah familiar…!"
Pasangan Goldbloom menjawab pertanyaannya yang diucapkan dengan suara gemetar.
Dengan rasa kaget—kenapa mereka sama sekali tidak bisa merasakan keberadaan mereka sebelumnya?
Dari bayangan, makhluk-makhluk pengisap darah merayap keluar—kutu besar di langit-langit, kutu kecil di lantai.
Masing-masing memang kecil dan lemah, namun saat mereka datang dalam gelombang coklat yang bergulung, tak ada yang lebih menakutkan.
"Kau… penyihir?"
Menghadapi pemandangan yang begitu mengerikan, Frogman merah darah akhirnya bicara, dengan ketegangan menegang di seluruh tubuh.
Seperti katak yang menatap langsung mata ular.
Mendengar pertanyaan itu, seorang gadis berambut perak dan bermata merah darah melangkah keluar dari bayangan—Silver Lotus.
"Benar."
Alasan almamater Fuuka masih bertahan hingga kini adalah karena si Penyihir Putih Murni, Goldbloom, bertarung dengan penuh rasionalitas.
Meski berhasil menggagalkan pengepungan para goblin, ia tetap membatasi diri dengan tidak menggunakan kekuatan destruktif berlebihan.
Namun, akhirnya ia jatuh ke dalam situasi genting.
Ia telah memperkirakan bahwa para incubi yang berhasil melarikan diri akan datang kembali dengan bala bantuan, dan tampaknya memang itu yang terjadi.
“Seingatku, tadi ada goblin di sini?”
Saat aku menunjuk goblin yang telah tumbang, wajah si Frogman yang sulit dibaca itu tampak menyeringai.
Karena terlalu fokus pada Goldbloom, para goblin di belakangnya lengah dan mudah untuk dihabisi.
Meski awalnya bukan niatku menjadikannya umpan, hasil akhirnya malah jadi lebih efisien.
“…Dasar tak berguna, yang dikirim cuma sampah.”
Ucapnya dengan nada menghina, lalu sosok merah darah itu bergetar, seolah menyatu dengan lorong yang disinari cahaya bulan.
Satu-satunya perbedaan dengan Frogman yang dikenal hanyalah warna dan cakar yang dimilikinya.
Kamuflase yang cerdik, namun meski menyembunyikan wujud secara visual, familiarku tetap bisa mendeteksinya.
“Mereka mengincar Goldbloom.”
“Ya.”
Satu Frogman mengincarku, satu lagi mengincar Goldbloom. Sementara satu yang tampak seperti "Named" tidak bergerak sama sekali.
Aku mengangkat kukri di tangan kanan ke arah depan, mengarahkan pandangan musuh ke sana.
Itulah sinyal──
“Apa!?”
Dua Frogman yang hendak melakukan serangan tiba-tiba justru diserbu oleh gerombolan kutu cokelat.
Familiarku mendeteksi energeia, bukan karbon dioksida, jadi tipuan visual tidak mempan.
Mereka melompat lurus seperti peluru ── kutu yang menyamar itu tidak sempat menghindar.
“Apa-apaan ini!?”
“Sial, nggak bisa lepas!”
Dua makhluk cokelat berbentuk manusia menari tak karuan, mencoba melepaskan diri dengan kedua tangan.
Namun kutu-kutu itu terus menempel satu demi satu.
“GYAAAAAAA!”
Teriakan incubi yang tubuhnya dipenuhi proboscis menggema di lorong.
Meski termasuk varian, jika bukan "Named", penanganannya tetap sama.
Saat perut kutu-kutu itu mulai memerah, tubuh incubi pun jatuh dan tak bergerak lagi.
“Apa ini semacam lelucon?”
"Named" yang lolos dari gelombang pertama kutu sepertinya sadar bahwa kamuflasenya tidak berguna, lalu memperlihatkan diri kembali.
Lokasinya ── langit-langit.
Dalam posisi terbalik, ia mengamati diriku.
“Itu… familiar apa, sebenarnya?”
Sepertinya para incubi memandang familiar sebagai makhluk lebih rendah dari penyihir.
Meski ada familiar yang memiliki kemampuan bertarung, peran utamanya tetap sebagai pendukung.
Yang meremehkan mereka biasanya mudah disingkirkan, tapi kalau terlalu waspada, jadi merepotkan.
“Tidak mungkin… Jangan-jangan, itu kamu? Kamu, kan!?”
Frogman itu terus mengoceh sendiri sementara kutu-kutu mulai membidiknya.
Bayangan-bayangan cokelat dari berbagai arah bersiap melompat.
“Penyihir yang mengendalikan serangga busuk ini──!”
Mereka melompat serentak.
Dengan kecepatan yang tak bisa kuikuti, peluru cokelat dan bayangan merah darah saling bersilangan.
Enam familiarku lenyap, dan jasad kutu jatuh ke lantai putih.
Energia mereka cepat menghilang, tak sempat dikuburkan pun.
“Tak kusangka bisa melihat langsung biang keladi bencana ini… Ini hasil yang tak terduga.”
Frogman mendarat tanpa luka.
Memang sesuai dengan statusnya sebagai “Named”.
Namun, lalu apa?
Frogman itu menatapku tajam, lalu membalikkan badan dan menunjukkan niat untuk kabur.
Meskipun kuat, insting bertahan hidup tetap sama ── bila merasa terancam, mereka langsung mundur.
Apa dia pikir aku akan membiarkannya kabur?
“Kau pikir akan lolos begitu saja?”
“Yah, tentu saja aku kabur!”
Bayangan merah darah itu berlari melewati lorong putih.
Alih-alih melompat dari jendela, ia memilih anak tangga dengan rapi… Bagus.
Namun saat ia melewati shutter darurat di depan tangga──
“Apa!?”
Teriakan terkejut menggema, diikuti suara benda jatuh dari atas.
Aku melewati Goldbloom yang sedang membuka jendela, lalu menuju ke tangga.
“Itulah balasan bagi yang meremehkan serangga.”
Dari arah bahu kiriku, terdengar suara dingin dari partnerku.
Saat kulihat sisi lain shutter darurat──
Bayangan merah darah melompat-lompat di tengah hujan kutu.
Mata yang membelalak itu menatapku.
“Penyihir sepertimu──”
Tak sempat menyelesaikan ucapannya, tubuhnya diselimuti warna cokelat kehitaman.
Tak ada yang bisa menghindari setiap tetes hujan.
Sekali tertangkap, tamatlah riwayatmu.
Keheningan kembali menyelimuti lorong, hanya napas kasar Goldbloom yang terdengar.
──Semua incubi yang bersembunyi di almamater Fuka telah disingkirkan.
Kutu yang membengkak seperti balon tak bergerak, masih menyedot sisa energeia terakhir mereka.
Kelompok mereka yang gemuk mengingatkanku pada pemandangan budidaya jamur.
“Untung kita sempat memindahkan posisi tepat waktu.”
“Kalau diserang bertahap, mereka bisa kabur… Kerja bagus.”
Meski posisi penyergapan diubah mendadak, familiar-familiarku berhasil menyesuaikan diri.
“Kau baik-baik saja?”
Lalu, aku menyapa si Penyihir Putih yang sempat terjebak sendirian dalam dunia penuh monster.
Partnerku yang tadi mengangkat tangan kecil seperti bersorak, kini tampak mengecil.
Apa dia takut?
“Ya… entah bagaimana…”
Goldbloom menjawab dengan suara gemetar, jauh berbeda dari sikap percaya dirinya saat pertama bertemu.
Wajar saja ── ia tengah diracuni oleh narkotika incubi.
Kini, ia lebih mirip anak kucing terlantar daripada binatang buas yang terluka.
“Itu… itu familiarmu, ya?”
Dengan wajah yang tampak takut-takut, Goldbloom menatap kutu yang merayap pelan.
Ia bahkan tak mau menoleh ke arah tubuh incubi yang kini tinggal bangkai.
Reaksi seperti itu sudah biasa kulihat.
“Ya.”
Tentu saja aku mengiyakan ── sinar bulan dari belakangku tiba-tiba tertutupi.
Meski tak perlu melihat, aku tahu.
Ashidaka-gumo yang berpatroli di luar gedung kini mengintip dari jendela, seakan berkata, “Jangan lupa, aku di sini.”
Ia adalah familiar unggulan untuk memburu incubi yang lari cepat… Tapi bagi sebagian orang, ia mungkin terlihat seperti mimpi buruk.
Goldbloom tampak membeku karena takut.
“Tenang saja. Itu familiar.”
“B-bukan itu masalahnya…”
Nada suaranya yang bergetar bukan hanya karena narkotika incubi.
Aku melepas tudungku dan memberi isyarat pada laba-laba besar itu agar kembali berpatroli.
Namun, ketenangan tak bertahan lama.
“H-h-hey… A-apa itu!?”
Kini giliran kawanan kutu mendekati Goldbloom sambil mengangkat kaki depan mereka.
Penyihir putih yang duduk tak berdaya itu tampak seperti kupu-kupu yang terjebak di jaring laba-laba.
“J-jangan dekati aku!”
Semakin lingkaran pengepungan mengecil, napasnya makin berat.
Gawat.
Bahkan aku yang kurang peka bisa merasakan perubahan aliran energeia di udara.
“Tenanglah.”
Sambil menenangkan Goldbloom, aku mengangkat tangan untuk menghalangi gerakan kutu.
Jika ini memang narkotika incubi, maka efeknya seperti afrodisiak.
Jika makin parah, kehidupan sehari-harinya bisa terganggu.
“Itu bukan incubi.”
Kutu menurunkan kakinya dan berhenti bergerak saat aku menggeleng.
Mereka tak punya mata.
Sebagai gantinya, mereka menggunakan organ Haller di kaki depan sebagai sensor.
Dengan kata lain, mereka mengangkat kaki bukan untuk mengancam, tapi untuk mengenali penyihir yang kini terganggu energeianya akibat narkotika.
Namun, gadis ini tidak tahu hal itu. Yang ia rasakan hanya ketakutan.
“Maaf.”
“…I-iya.”
Kutu-kutu pun bubar, dan aku memeriksa kondisi Goldbloom yang masih linglung.
Ia masih sadar.
Mata berkedip cepat, napas juga cepat.
Pipi memerah dan berkeringat.
Meski disebut obat baru, tetap saja itu afrodisiak.
Artinya, aku tak bisa melakukan apapun.
“Kau… tak akan bilang apa-apa?”
Goldbloom yang menerima tatapanku tampak gelisah.
Matanya yang keemasan tampak ketakutan… seperti anak kecil yang takut dimarahi orang tuanya.
Sebuah reaksi yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Apa yang sebenarnya ia harapkan dariku?
Bersimpati? Tidak mungkin.
Menyalahkan karena kelemahan dan kecerobohannya? Itu terlalu mudah.
Bahkan orang bodoh pun bisa melakukannya.
Partnerku diam seperti patung dan tidak membantuku.
Aku pun──
“Hutang satu.”
“Eh?”
Aku menghindar.
Penyihir yang kalah tak akan punya kesempatan kedua.
Tak ada.
Namun aku tak punya kata-kata untuk menasihati.
Seorang penyihir yang selalu bertarung sendirian, menolak kebersamaan, tak akan punya kalimat yang mampu meyakinkan siapa pun.
Hari ini, aku hanya kebetulan tidak gagal.
Sambil menumpuk kalimat-kalimat seperti pembelaan diri di dalam hati, aku mengalihkan pandangan dari mata keemasan itu.
“Bisakah kau sembuhkan racunnya?”
Aku menyarungkan kukri dan bertanya.
Pada salib kecil yang sejak tadi diam.
Satu-satunya yang bisa memahami kondisi penyihir dari luar adalah partnernya.
“Jika menggunakan sihir baru, ada kemungkinan gejala memburuk.”
“Bagaimana dengan pemulihan alami?”
“Karena energeia menunjukkan kecenderungan stabil, pemulihan alami kemungkinan besar bisa dilakukan.”
Respon cepat dan tepat itu membuatku terkesan dalam hati.
Tak sedikit partner yang panik saat penyihirnya dalam bahaya.
Meski pasti terpengaruh energeia juga, ia tetap tenang dan menganalisis.
“Baiklah.”
“…Lady Silver Lotus, terima kasih.”
Partner yang bisa diandalkan.
Karena butuh istirahat, aku memanggil pengawal dan mulai bersiap membereskan sisa-sisa pertempuran.
Sebelas goblin yang dibunuh Goldbloom, dan enam belas bangkai incubi yang mengering harus disingkirkan.
“Tunggu.”
Saat aku membalikkan badan, tangan kurus itu terulur.
Gadis itu mencoba berdiri, namun kehilangan keseimbangan ── tubuhnya lebih kecil dariku ── dan aku segera menangkapnya.
“Nnnghh!”
Tubuh ringkihnya bergetar, dan suara menggoda terdengar dekat telingaku.



Posting Komentar