Tinggal serumah dengan idol itu... bukan kehidupan biasa.
Tinggal serumah dengan idol.
Bagi seorang siswa SMA biasa sepertiku, jelas itu bukan kehidupan sehari-hari yang biasa.
Tapi manusia memang makhluk aneh—bahkan pada situasi seperti itu pun, lama-lama jadi terbiasa.
Setelah urusan dengan si kembar selesai, kami kembali menjalani hari-hari seperti biasa.
Kegiatan kanal MiTube Milsta masih berlanjut, dan jumlah pelanggan dengan cepat melampaui dua juta, terus bertambah tanpa henti. Soal monetisasi juga langsung lolos, dan Kanon bilang hasilnya benar-benar “cuan banget.” Meskipun kupikir dia agak matre, setelah mendengar pendapatannya, aku tidak bisa menyalahkannya kalau dia senyum-senyum sendiri.
Namun, hebatnya mereka adalah tidak jadi terlena dengan itu.
Sambil terus aktif di MiTube, mereka juga tetap bersinar di dunia hiburan sebagai idol papan atas. Untuk mendukung mereka yang selalu bersikap stoik, aku pun ikut membantu sebisaku.
Makanya, kali ini juga kupikir… ya sudah, demi kesuksesan Milsta.
“Haaah…”
Dengan ekspresi lelah, aku berjalan menuju stasiun.
Awal Desember. Angin dingin menusuk pipiku. Sambil menggosok tanganku yang kasar karena pekerjaan rumah tangga, aku melanjutkan langkah ke tujuan.
“…Eh?”
Sesampainya di tempat janjian, aku melihat siluet yang sepertinya Kanon.
Dia mengenakan jaket pendek dengan bulu di leher dan rok mini. Seperti biasa, seleranya soal fashion benar-benar niat.
Benar, hari ini adalah hari di mana Kanon ‘memonopoliku.’ Rincian kenapa bisa begitu biarlah kusimpan, tapi intinya, hari ini aku harus melayani Kanon sebagai bentuk hadiah.
Kenapa aku terdengar murung?
Bayangkan saja—di sebelahmu ada seorang idol super populer yang diidamkan semua orang. Saat di luar, aku harus terus waspada agar tidak ketahuan orang lain. Bayangkan betapa lelahnya secara mental...
Biar kutegaskan, bukan berarti aku tidak suka bersama Kanon.
Malah, aku senang dia ingin menghabiskan satu hari penuh denganku.
Tapi... lelah mental itu soal lain. Setelah kencan dengan Rei dan Mia, aku sudah cukup kapok.
——Aku terdengar seperti bajingan, ya?
Meski ada berbagai alasan, dari luar aku terlihat seperti cowok yang gonta-ganti cewek.
Ah, seandainya aku tidak menyadarinya... Dengan pikiran begitu, aku berjalan menuju Kanon.
“Ah, Rintarou!”
Kanon melambai setelah melihatku.
Padahal masih lebih dari sepuluh menit sebelum waktu janjian, aku tidak menyangka dia sudah tiba lebih dulu. Lagipula, meskipun kami tinggal di rumah yang sama, kenapa juga harus janjian di luar? Menurut Kanon, itu lebih aman, katanya…
“Kau cepat juga. Masih belum waktunya.”
“Kau juga tidak bisa ngomel begitu, tahu.”
Dengan sedikit malu, Kanon menyikut pinggangku.
“Entah kenapa aku semangat banget, jadi datang lebih awal. Ini pertama kalinya kita seharian jalan bareng, kan?”
Sambil berkata begitu, Kanon tersenyum polos.
Karena terlalu manis, aku bisa merasakan tatapan orang-orang mulai mengarah ke kami.
Meskipun dia pakai topi dan kacamata hitam untuk menyamar, gaya dan ekspresinya sudah cukup mencolok. Aura yang dia pancarkan benar-benar beda dari orang biasa. Sedikit lengah saja, langsung jadi pusat perhatian.
“...Untuk sekarang, lebih baik kita pergi dari sini. Kau cukup mencolok.”
“Oh, iya. Itu bahaya juga.”
“Ayo, ke sini.”
Kalau diam di tempat, makin mencolok. Lebih baik sambil jalan. Aku menggenggam tangan Kanon dan menjauh dari depan stasiun.
“Ngomong-ngomong, aku belum dengar rencanamu hari ini... Eh, kenapa?”
“Eh? Ah, t–tidak apa-apa kok!”
Wajah Kanon memerah dan dia langsung mengalihkan pandangan.
Apa mungkin... karena kami bergandengan tangan?
“Maaf, maaf. Memang agak memalukan, ya.”
Sambil berkata begitu, aku mencoba melepas tangannya.
Tapi kali ini, justru Kanon yang menggenggam tanganku lebih erat.
“T–Tunggu dulu! Lagian... tidak apa-apa kan, tetap seperti ini. Biar tidak nyasar.”
“Eh, tapi…”
“Kalau aku bilang tidak apa-apa, berarti tidak apa-apa! Hari ini, aku yang pegang kendali!”
“…Ya udah, kalau itu maumu.”
Masih bergandengan tangan, kami berjalan berdampingan.
“…”
Dari genggaman tangan ini, hangatnya Kanon terasa.
Wah, ini bahaya. Aku jadi agak terlalu sadar.
Soalnya, aku cuma beberapa kali pernah menggandeng tangan cewek, dan kali ini lawannya adalah idol nasional—terlalu berat!
Tapi kalau kelihatan gugup, pasti dia malah ngeledek. Demi harga diriku, aku harus terlihat tenang.
“J–jadi, apa kau sudah merencanakan kegiatan hari ini?”
“Hmm… pertama kita lihat-lihat baju, ya?”
“Berarti... belum direncanakan apa-apa, ya.”
“T–Tidak juga! Hari ini aku bakal benar-benar mengarahkan semuanya, oke!”
“Iya, iya… tolong jangan terlalu sadis.”
Dan begitu, kami pun mulai menjelajahi kota.
Pertama, kami menuju ke toko high-brand.
Kanon sepertinya sudah langganan di toko ini, dia masuk dengan langkah yang sangat terbiasa.
Sebaliknya, aku yang hampir tidak pernah memakai barang-barang bermerek dan benar-benar rakyat jelata, mengikuti dari belakang dengan hati-hati.
Padahal aku ini, setidaknya secara status, adalah putra dari presiden perusahaan besar.
"Maaf, ya. Tiba-tiba ngajak kamu nemenin belanja."
"Bukan masalah. Hari ini aku memang janji buat nemenin kamu seharian, jadi tidak usah pikirin aku."
"Gitu ya?"
"Dan juga, aku penasaran kamu biasanya belanja kayak gimana."
Sejujurnya, aku lega tahu kalau Kanon memang suka belanja di toko mahal seperti ini.
Mia juga memakai barang-barang bagus seperti Kanon, tapi setidaknya Rei punya kebiasaan buruk memilih barang murahan dari toko-toko biasa. Meskipun begitu, bahkan kalau dia pakai baju sederhana sekalipun, dia tetap kelihatan cocok. Prinsip dia untuk tetap terlihat bagus meskipun dengan barang murah justru terasa mengesankan. Tapi, karena dia sudah berhasil sebagai idol, aku ingin dia sedikit lebih memanjakan diri...
"Ngeliatin cewek belanja itu tidak seru, tahu? Bingung milih baju yang kelihatannya sama, coba-coba baju terus bilang ‘kayaknya bukan ini deh’ dan akhirnya tidak beli apa-apa... Intinya butuh waktu lama."
"Kamu sendiri yang bilang begitu?"
"Aku cuma ingin kamu siap mental kalau mau nemenin aku belanja. Karena aku tidak suka bikin orang nunggu, makanya biasanya aku belanja sendirian. Bahkan keluarga pun jarang aku ajak."
Kalau dia sendiri sampai bilang seperti itu, berarti emang berat, ya.
Tapi aku sudah siap. Sekali aku bilang mau ikut, aku tidak akan tarik kembali.
"Tenang aja. Meskipun kelihatannya begini, aku cukup tahan banting, kok."
Tinggal serumah dengan para idol yang sering berkeliaran dengan pakaian tipis dan tetap bisa jaga akal sehat—itu buktinya.
"...Kalau kamu sudah sejauh itu bilangnya, ya sudah, aku juga tidak bakal setengah-setengah."
"Ayo, tantang saja aku."
Saat aku mengatakan itu, Kanon tertawa kecil seperti tidak bisa menahan diri.
"Yang ini... dan yang ini. Mana yang lebih bagus, ya..."
Kanon mengambil beberapa baju dari gantungan dekatnya.
Seperti yang dia bilang sebelumnya, memang benar—aku tidak bisa membedakan apa bedanya baju-baju itu.
Warnanya sedikit beda? Kalau kupikir begitu, kelihatannya iya, tapi juga terlihat seperti sama persis...
"Haha, tidak usah dilihatin serius begitu, dua-duanya emang desainnya sama kok."
"Eh, serius? Lalu kenapa kamu bingung milih?"
"Ukurannya beda. Aku lagi mikir mau pilih yang sedikit longgar atau yang pas badan."
"...Itu dilema juga, ya?"
"Itu bisa bikin kesan yang beda lho. Panjang baju beda beberapa sentimeter saja udah beda rasanya."
Begitu ya...
Untuk orang yang tidak peduli soal fashion kayak aku, itu dunia yang asing.
"Oh iya, sekalian aja, boleh ngg—eh, boleh aku mix & match baju buat Rintarou juga?"
"Eh? Tidak usah, deh... Aku juga tidak akan mampu belinya."
Dengan tabunganku sekarang, bahkan satu baju di toko ini pun rasanya berat buat dibeli.
Apalagi kalau satu set dari atas sampai bawah—langsung bangkrut.
"Apa-apaan sih? Jelas-jelas aku yang bakal bayar."
"...Kamu serius?"
"Ya iyalah. Aku ingin kamu pakai baju yang aku pilih, jadi tidak akan kubiarkan kamu bayar."
Sungguh jiwa besar.
Kalau Rei dan Mia itu ‘wah’ dengan caranya masing-masing, Kanon ini beda arah tapi tetap luar biasa.
Tapi jujur saja, daripada merasa senang, aku justru merasa tidak enak.
"Kalau kamu merasa tidak enak... besok masakin makanan favorit aku, ya. Gitu aja cukup, kan?"
"Yah... beneran cukup segitu aja?"
Kurasa sama sekali tidak sebanding.
"Kalau aku bilang cukup, berarti cukup. Jangan bikin aku malu."
"...Kalau kamu ngomong kayak gitu, aku tidak bisa bantah."
"Ayo, cepat, kita cari baju buat kamu!"
Tanganku ditarik paksa oleh Kanon, dan aku pun diseret ke bagian pakaian pria.
Sambil terus bilang "yang ini kurang", "yang itu lebih bagus", Kanon memilihkan baju untukku.
Wajah seriusnya saat itu, entah kenapa sangat membekas dalam ingatanku.
"Hmm... aku rasa, daripada pakai high-neck, Rintarou lebih cocok yang agak terbuka di bagian dada."
"...Penilaiannya dari mana tuh?"
"Dari bentuk tulang, wajah, dan lainnya."
Kanon mengambil baju dan menyesuaikannya di dadaku.
Matanya tidak lepas dari baju itu, dan dia mulai berbicara perlahan.
"...Aku ingin punya brand sendiri suatu saat nanti."
"Brand?"
"Iya. Kayak baju, aksesoris... aku ingin masuk ke dunia fashion."
"Oh..."
Entah kenapa, aku tidak merasa terkejut sama sekali.
"Itu mimpi yang bagus."
"Jangan asal ngomong, ya?"
"Tentu saja tidak. Aku serius."
Saat kukatakan itu, pipi Kanon memerah.
"Aneh, ya. Tapi kalau kamu yang bilang begitu... rasanya mimpi itu bisa tercapai."
"Akan tercapai, kok. Kalau itu kamu."
"Wah, langsung to the point gitu. Emang kamu punya alasan?"
"Karena kamu itu Kanon."
Kanon selalu memikirkan banyak hal. Bahkan untuk masa depan jauh sekalipun.
Pasti dia sudah mulai menyusun jalur untuk mencapai mimpinya.
Kata-kata Kanon terasa begitu nyata—bahkan aku pun bisa merasakannya.
"Di antara kalian bertiga, kamu yang paling bisa diandalkan. Aku tidak khawatir sama sekali."
"H-hmph... ya jelas lah."
Kanon membuang muka.
Tapi aku tidak melewatkan kalau telinganya juga merah sampai ke ujung.
"Whoa, Kanon yang biasanya cool sekarang kelihatan malu banget, nih."
"H-hah!? Aku tidak malu! Aku cuma kesel karena kamu bilang hal-hal yang terlalu biasa!"
Melihat Kanon yang panik seperti itu, aku tidak bisa menahan tawa.
Kalau dibanding Rei dan Mia... dia ini memang paling gampang digoda.
"...Mimpi kamu sendiri masih jadi bapak rumah tangga, ya?"
"Hmm? Ya... semacam itu."
"Eh, semacam itu?"
"Bukan tidak... cuma..."
Sejujurnya, setelah hubunganku dengan Ayah membaik, aku jadi agak kehilangan arah.
Dulu, aku ingin jadi bapak rumah tangga karena menentang Ayah. Tapi sekarang, perasaan itu sudah memudar, dan tekadku jadi tidak sekuat dulu.
"Ya, cukup cocok juga, tuh."
Kanon mengangguk besar melihatku keluar dari ruang ganti.
Inner hitam, hoodie abu-abu oversize, dan celana denim—kesan keseluruhannya monokrom.
Melihat pantulan di cermin, menurutku ini tidak buruk juga.
"Seperti yang aku bayangkan, jadi terlihat lebih dewasa, ya."
"Kamu mikirin sampai ke situ pas milih baju?"
"Tentu saja. Kalau tidak nentuin konsep dari awal, nanti malah bingung sendiri."
——Begitu ya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa selain mengangguk.
"Gimana? Kamu suka?"
"Ya, segar dan aku suka."
"Benar? Kalau begitu, mumpung sudah beli, pakai itu saja hari ini."
"Tidak masalah sih... Tapi seriusan kamu mau beli ini?"
Dengan rasa takut, aku melihat label harganya.
Angka yang tertera membuatku nyaris tidak percaya. Memang tidak sampai sepuluh juta, tapi hoodie ini sendiri hampir menghabiskan semua gaji part-time-ku sebulan.
"Tidak apa-apa kok. Soalnya, penghasilan dari MiTube juga berkat bantuan kamu, tapi kita bagi rata semua, jadi aku merasa tidak enak terus."
Padahal tidak perlu sama sekali merasa sungkan, Kanon justru tersenyum pahit seperti minta maaf.
"Mungkin kamu keberatan, tapi aku harap kamu bisa menerimanya. Menurutku ini masih dalam batas yang pantas sebagai imbalan buat kamu."
"Kalau begitu..."
Menolaknya sekarang malah terasa tidak sopan.
Aku pun menerimanya dengan jujur.
"Makasih, Kanon."
"Sama-sama. Oh, tapi jangan lupa ya, kamu masih punya janji buat masakin makanan kesukaanku."
"Siap, permintaan mudah itu mah."
Setelah membayar, kami meninggalkan toko.
◇◆◇
Selanjutnya, kami menuju ke sebuah kafe baru yang sedang viral.
Katanya lagi ramai di media sosial, dan sebagai influencer Milky Way Stars, menurut Kanon, kami wajib melakukan riset.
——Sebenarnya kamu cuma pengen makan itu, kan?
Sambil mengantri, aku melihat gambar French toast di papan menu depan toko.
Ternyata bukan French toast biasa—di atasnya ada es krim vanila, sirup maple, dan krim kocok.
Sekilas, rasanya tidak ada sesuatu yang terlalu baru sampai harus ngantri begini.
"Alasan toko ini viral itu karena topping-nya yang banyak."
"Topping yang banyak?"
"Iya. Kamu bisa pilih topping sebanyak yang kamu mau."
"Heeh..."
French toast adalah makanan yang sangat sederhana.
Cuma merendam roti dalam campuran telur, susu, dan krim, lalu dipanggang.
Karena kesederhanaannya itulah, variasi topping bisa menciptakan kemungkinan yang tidak terbatas.
Menarik juga.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya kami bisa masuk ke dalam.
Menu-nya hanya berisi daftar minuman dan topping untuk French toast.
"...Topping-nya bisa pilih berapa banyak sih?"
Kalau dilihat dari menu, sepertinya bisa pilih sampai maksimal tiga puluh topping.
Aku tidak butuh sebanyak itu. Di tempat ini memang aneh sih ngomong begitu, tapi satu jenis pun sebenarnya sudah cukup.
"Yang standar itu es krim sama sirup maple. Aku pilih lima, tapi kamu tiga saja pas, kan?"
"Terima kasih atas sarannya. Kalau begitu aku pilih tiga."
Aku memilih es krim vanila, sirup maple, dan stroberi.
Kanon menambahkan karamel dan irisan almond di atas topping yang sama denganku.
"Kalau datang ke tempat begini, rasanya agak canggung juga, ya."
Sambil melihat sekeliling, aku berkata begitu.
Kalau dilihat-lihat, pengunjungnya hampir semua perempuan. Di sudut, ada pasangan duduk, jadi bukan berarti tidak ada pria sama sekali, tapi dengan rasio seperti ini, wajar kalau merasa kurang nyaman...
"...Ngomong-ngomong, waktu kamu kencan sama Shiro, bukannya juga pergi ke kafe semacam ini?"
"Ya, tapi waktu itu ke toko pancake."
"...Heeh."
Kanon terlihat menunjukkan ekspresi kesal.
Ada banyak hal yang terjadi antara kami dan Twins. Walaupun sudah berdamai, mungkin tetap ada yang masih mengganjal baginya.
"Kamu masih kontak sama mereka?"
"Hm? Kadang mereka kirim obrolan tidak penting sih. Kayaknya mereka juga baik-baik saja."
Sejak kejadian itu, Milsta dan Twins sama-sama makin populer. Setelah mulai aktif di MiTube, platform streaming yang terkenal sampai ke luar negeri, Milsta langsung dapat banyak fans global.
Sebaliknya, Twins makin sering muncul di TV berkat kolaborasi dengan Milsta. Kata Shiro, musim semi nanti mereka bahkan akan punya acara reguler.
Meski jalannya berliku, pada akhirnya, semua itu membawa dampak positif bagi kedua pihak.
"Digodain idol itu... hidup kamu enak juga, ya."
"Jangan lupa, mereka mulai ganggu aku itu gara-gara kalian juga."
Saat aku membalas begitu, Kanon tertawa lepas.
"...Ngomong-ngomong, hadiah dari game itu 'jalan-jalan bareng aku', bukannya harusnya kamu pilih sesuatu yang lebih bagus?"
"Kamu ngomong apa sih. Waktu bareng kamu itu sudah cukup berharga, tahu."
"Benarkah...?"
Dengar itu, aku senang juga, tapi aku sendiri tidak paham kenapa.
"...Kalau bareng kamu, aku bisa tertawa seperti gadis biasa."
Saat Kanon berkata begitu, BGM di dalam toko berganti menjadi lagu Milsta.
Seketika aku panik, mengira identitas Kanon ketahuan, tapi ternyata hanya kebetulan.
Mengingat Milsta adalah idol nasional, bukan hal aneh lagu mereka diputar di tempat umum.
"Aku sudah berusaha keras biar bisa sukses, jadi harusnya tidak masalah kalau harus menyamar saat di luar... tapi tetap saja, kadang terasa berat."
"Ya, aku bisa paham itu."
Rei dan Mia juga pernah bilang hal yang sama.
Mereka tidak menyesal jadi idol. Tapi kadang terasa sesak.
Karena mereka sadar itu termasuk masalah mewah, mereka tidak pernah mengeluh.
"Tapi, kalau aku sama kamu, rasanya tidak perlu nyamar."
"Meski begitu, tetap saja kamu harus menyamar, kan?"
"Iya sih, tapi... gimana ya, rasanya beda. Cuma dengan kamu saja, aku merasa tenang."
Entah kenapa——.
Melihat Kanon tersenyum ringan seperti itu, jantungku berdebar tiba-tiba.
Entah kenapa, aku jadi teringat saat pertama kali mulai tinggal bersama tiga orang itu. Saat Kanon sedikit rapuh dan aku meminjamkan pundakku.
Dia bilang, waktu bersamaku, dia bisa melupakan kalau dirinya adalah idol.
Dan dia juga bilang merasa tenang.
"Ah, kamu juga lagi ingat kejadian itu kan, Rintarou?"
"Kok kamu tahu?"
"Aku juga lagi mengingatnya."
Wajah Kanon saat mengatakan itu terlihat sedikit lebih dewasa.
"Boleh aku pinjam pundakmu lagi? Atau, sekarang mau ganti jadi pangkuan?"
"Biasanya itu impian cowok, kan?"
"Tidak juga. Banyak kok cewek yang ingin dipangku. Setidaknya, aku merasa bisa tidur nyenyak di pangkuanmu."
Kalau hanya dengan begitu bisa membuat Kanon merasa tenang——
Meskipun aku sendiri tidak bisa mengerti rasanya, kalau itu bisa membuat dia nyaman, maka pundak atau pangkuanku pun tidak masalah. Aku bisa memberikannya sebanyak yang dia mau, dari lubuk hatiku.
"Terima kasih menunggu. Ini French toast dengan tiga dan lima topping."
Saat kami sedang ngobrol, French toast pun datang.
——Banyak banget.
Di atas piring, ada dua potong French toast super tebal. Hanya dengan melihatnya saja sudah terasa begah. Di sekeliling dua potong raksasa itu, topping-topping bertumpuk seolah tidak ada habisnya.
Pancake yang aku makan bareng Shiro waktu itu juga luar biasa, tapi yang ini tidak kalah mengejutkan.
"Wah! Lebih gede dari yang di foto SNS!"
"Aku mulai khawatir bisa habisin ini atau tidak..."
"Tenang aja. Kalau kamu tidak habis, aku bantu kok."
"Dengar itu rasanya tenang."
Aku tahu betul kapasitas perut Kanon.
Dari semua anggota Milsta, dia memang yang paling sedikit makan, tapi itu hanya kalau dibandingkan dengan Rei dan Mia. Kalau dibandingkan dengan cewek biasa, dia termasuk yang makan banyak. Berdasarkan pengalamanku sebagai orang yang biasa masak untuk mereka, aku yakin Kanon bisa habisin sampai tiga porsi.
Aku pun memotong French toast dengan pisau, lalu menyuapkannya ke mulut.
Pertama, aku mencicipinya begitu saja. Bagian luar renyah, bagian dalam lembut dan meleleh. Cairan telur yang meresap keluar perlahan, menyebarkan rasa manis yang sederhana dan aroma mentega ke seluruh mulutku.
"Enaknya gila…"
"Iya, enak banget."
Sambil tersenyum, Kanon menyuapkan suapan kedua ke mulutnya. Tak mau kalah, aku pun memotong bagian lain dari French toast dan kali ini menambahkan es krim di atasnya.
French toast yang panas berpadu sempurna dengan es krim vanila dingin, menghasilkan rasa manis yang begitu luar biasa sampai-sampai membuatku nyengir tanpa sadar.
Jadi begitu caranya—menggunakan topping yang berbeda-beda agar tidak cepat bosan. Ngomong-ngomong, di daftar topping tadi aku sempat lihat ada sosis dan bacon. Saat itu aku tidak begitu mengerti kenapa ada topping seperti itu, tapi sekarang aku paham—menambahkan topping asin di tengah-tengah makan bisa membantu menetralkan rasa manisnya. Ini benar-benar dipikirkan dengan baik. Harusnya aku juga pesan tadi.
Tapi bahkan dengan topping yang sekarang saja, rasanya sudah cukup memuaskan.
Aku juga pesan kopi sebagai pendamping. Yang bisa menetralkan rasa manis bukan hanya makanan asin.
Begitulah, aku terus menyantap French toast raksasa itu.
"...Kau baik-baik saja?"
"Iya… entah bagaimana berhasil juga."
Sambil mengusap perutku, aku menghembuskan napas panjang. Di depanku hanya tersisa piring kosong.
Akhirnya aku berhasil menghabiskan French toast itu. Benar-benar perjuangan sampai akhir. Bukan karena perutku terlalu penuh, tapi lebih karena kadar manisnya yang luar biasa.
"Kayaknya aku tidak mau makan makanan manis lagi untuk sementara."
"Ah, 'sementara' ya," katanya sambil menekankan kata itu.
"Berisik."
Jangan pasang wajah puas kayak habis ngelucu gitu, dong.
"Yah, yah, minum kopinya dulu. Biar tenang."
"Aku tahu tanpa kau bilang juga..."
Aku langsung menenggak habis kopi isi ulangku.
Untungnya, kopi bisa diisi ulang sepuasnya. Memang rasanya tidak istimewa seperti kopi di kafe spesialis, tapi cukup untuk menetralisir rasa manisnya.
"Huff... Tapi, enak juga, sih."
"Aku senang dengar kau bilang begitu."
Kanon tersenyum lebar sambil berkata begitu.
Sekarang makanan sudah habis, jadi kami tidak bisa duduk-duduk santai terus di sini.
Keramaian pelanggan sama sekali tidak berkurang, dan antriannya masih panjang.
Sudah waktunya kami meninggalkan tempat duduk ini. Setelah cepat-cepat membayar, kami pun keluar dari toko.
"Perut sudah terisi. Kali ini, gimana kalau kita lihat-lihat aksesori? Agak jauh sih, tidak apa-apa?"
"Tentu saja. Justru bagus buat bakar kalori."
Sambil mengusap perutku, aku menyetujui, dan kami mulai berjalan menuju tujuan berikutnya.
Saat itu juga, aku hampir menabrak pasangan yang berjalan dari arah depan dan buru-buru menyingkir.
"Ah, maaf…!"
"Tidak, tidak apa-apa kok."
Sepertinya pasangan itu sedang saling menatap wajah satu sama lain, sampai tidak memperhatikan jalan. Dalam hati, aku berpikir lebih baik jangan begitu, bahaya.
Aku kembali bergabung dengan Kanon.
"Kau tidak apa-apa?"
"Iya, tadi cuma hampir tabrakan aja."
"Mesra banget, ya. Tapi tetap aja, mereka harus lihat ke depan."
Dengan ekspresi sedikit jengkel, Kanon menatap punggung pasangan itu yang semakin menjauh.
"...Ngomong-ngomong, kau pernah bilang belum pernah pacaran sama cewek, kan?"
"Tidak usah bilang sejelas itu… Tapi ya, memang begitu."
Lagipula, jadi cowok SMA kelas dua yang belum punya pacar itu hal biasa, kan?
Ya, biasa saja.
"Kalau kau sendiri gimana?"
"Kau pikir aku ini siapa? Jelas aku ini gadis berpengalaman banget dong――――...yah, sebenarnya sih nol juga."
"Sudah kuduga."
"'Sudah kuduga' apaan tuh!? Masuk akal, ya, cewek secantik ini tidak punya pacar!?"
Kanon berteriak-teriak, masih dengan gayanya yang kocak seperti biasa. Tapi yang dia bilang itu tidak sepenuhnya salah.
Cuma, masalah Kanon berbeda jauh dengan masalahku.
Kalau aku ingin punya pacar, aku tidak bisa. Tapi Kanon, kalau dia mau, dia pasti bisa dengan mudah. Tapi selama dia masih jadi idol, itu hal yang mustahil.
"...Hei, menurutmu aneh nggak sih, kalau idol punya pacar?"
"Tidak aneh, tapi... kurasa itu bisa dianggap mengkhianati fans."
"Apa maksudmu?"
"Yah... Kalau dari awal dia bilang punya pacar, atau bahkan sudah nikah, itu cerita lain. Tapi fans biasanya merasa mereka mendukung seorang cewek yang tidak punya pacar, kan? Aku memang tidak ngerti kenapa ada orang yang sampai menghujat hanya karena si idol punya pacar, tapi... perasaan ingin berhenti jadi fans, aku masih bisa paham."
Idol biasanya beraktivitas dengan kesan “tidak punya pacar.”
Meski tidak secara terang-terangan bilang “tidak ada,” mayoritas fans mendukung dengan harapan itu.
Saat akhirnya diketahui dia punya pacar, wajar saja kalau sebagian fans kecewa dan berhenti mengikuti.
Perlu aku tegaskan, aku tidak membenarkan orang-orang yang menghujat idol hanya karena itu. Orang yang menyakiti orang lain tidak punya hak untuk merasa dirinya benar. Tapi itu juga berlaku untuk para idol. Kalau mereka menyalahkan fans dengan berkata, “kalian saja yang salah paham,” itu juga perbuatan buruk.
“Bukan cuma idol. Dunia hiburan, restoran, bahkan fashion... semua hidup dari dukungan fans atau pelanggan. Bisa dibilang, mereka itu mitra bisnis. Kalau para mitra itu bilang ‘tidak’, maka semua akan kehilangan keuntungan. Jadi, tentu saja tidak seharusnya mereka dikhianati.”
“...Benar juga. Aku setuju.”
Mengeluarkan uang itu hak masing-masing. Begitu juga memilih untuk tidak mengeluarkannya.
Tidak ada yang berhak menyalahkan pilihan itu.
Setelah jeda singkat, aku merasa agak malu sendiri.
Apa sih yang aku ceramahi ke idol sungguhan?
"Aku juga berpikir begitu. Kalau aku benar-benar yakin bisa menyembunyikannya, mungkin aku tidak akan terlalu keberatan. Tapi itu susah banget, kan? Harus selalu waspada, dan juga membuat pasangannya melakukan hal yang sama… rasanya terlalu berat buat dipikul.”
Kanon berkata sambil mengerutkan wajahnya sedikit.
"...Hei, Rintarou. Kau sadar, kan, soal perasaan kami?”
Sambil berjalan pelan, Kanon menatapku dan bertanya.
Sepertinya aku harus memilih kata-kata dengan hati-hati. Salah ucap bisa menyakiti seseorang.
"...Yah. Aku tidak akan bilang tidak sadar."
Aku menjawab tanpa menatap mata Kanon.
Aku menyadari perasaan mereka. Siapa pun pasti sadar kalau sudah selama ini bersama.
"Kalau begitu, jawab aku, Rintarou. Setelah menyadarinya, apa yang akan kau lakukan?"
"...Tidak akan melakukan apa pun. Selama kalian masih idol, aku tidak akan membalas perasaan siapa pun."
Buatku, itu adalah batas yang tidak boleh dilewati.
Sebuah dunia yang suci, yang tidak boleh aku injak. Selama mereka berada di sana, aku tidak akan menyentuhnya.
"Aku cuma seorang pendukung kalian. Tidak lebih, tidak kurang."
"...Kau tidak berniat mengubah posisi itu?"
"Tidak."
"Haaah..."
Saat aku menegaskan jawabanku, Kanon menghela napas panjang.
"Kau ini benar-benar pria berdosa, ya. Kenapa bisa tahan sih?"
"Aku cuma pengecut. Bukan hal yang patut dibanggakan."
"Kau bukan pengecut, tahu. Aku yang bilang, ya—mengurus kami itu tidak bisa dilakukan orang sembarangan."
"Itu pujian, ya?"
"Tentu saja. Itu pujian."
Kalau dipikir-pikir, memang benar sih—mengurus tiga orang ini bukan hal mudah. Tugas utamaku adalah memastikan mereka bisa fokus kerja tanpa beban. Bangun pagi, makan enak, pergi kerja, pulang, mandi bersih, lalu tidur. Untuk mewujudkan kondisi itu, aku bangun lebih pagi dari siapa pun, dan tidur paling akhir.
Aku sama sekali tidak merasa ini menyakitkan. Aku adalah seseorang yang hidup berkat dukungan tiga orang itu. Kalau bukan karena mereka bertiga, aku tidak akan sanggup menghadapi ayahku, apalagi menjalani hidup dengan sikap positif.
Aku menjalani hidup seperti ini karena aku ingin mendukung mereka bertiga. Tapi, aku juga bisa mengerti kalau ada orang yang menganggap kehidupan ini berat.
"Hidup itu memang tidak berjalan sesuai keinginan, ya."
"Apaan, tiba-tiba ngomong begitu aja."
"Menurutku, lebih mudah kalau kamu cepat-cepat memilih salah satu dari kami."
"Itu sih... keterlaluan..."
"Aku tahu kok. Aku masih bisa berpikir jernih."
Kanon kembali menghela napas panjang.
"Aku masih bisa menggunakan akal sehatku. Tapi... sepertinya keinginanku untuk jadi yang nomor satu di hatimu semakin kuat tiap harinya. ...Jadi, kalau kamu memang mau memilih, cepat-cepatlah ambil keputusan."
"...Biasanya orang tidak bicara sejelas itu, tahu."
"Segala hal, kalau ingin diselesaikan, harus diungkapkan dengan kata-kata."
Dengan senyum manis dan kedipan mata, Kanou tiba-tiba melingkarkan lengannya di lenganku.
"H-Hey! Kamu maksudnya apa sih...!?"
"Gampang saja. Untuk menghilangkan perasaan mengganjal ini, kamu tinggal menoleh ke arahku. Kalau begitu, aku cuma bisa terus menunjukkan perasaanku sampai kamu melakukannya!"
"Itu sih tetap aja...!"
"Ayo! Cepat kita pergi!"
―――Aku tidak bisa menang melawan kepekaan si cewek ini.
Sambil ditarik-tarik oleh Kanon, aku hanya bisa tersenyum kecut.
Sepertinya dia sengaja berusaha mencairkan suasana yang sempat menggelap saat kami mengobrol tadi.
"...Hm?"
Tiba-tiba, mataku tertarik pada sebuah jalan kecil di samping.
Mungkin karena menyadari perubahan ekspresiku, Kanon melonggarkan lengannya yang melingkar di tanganku.
"Ada apa?"
"Bukan apa-apa, cuma... ada toko yang menarik perhatianku."
"Toko?"
"Boleh aku lihat sebentar?"
"Tidak masalah. Lagipula kita juga tidak sedang buru-buru."
Aku pun masuk ke jalan kecil itu bersama Kanou dan berhenti di depan toko yang membuatku penasaran.
Itu adalah toko tua yang menjual peralatan seperti pisau dan sejenisnya. Di depan toko terdapat etalase yang memajang pisau-pisau dapur yang terlihat sangat bagus.
Meski aku sering memasak, aku bukan koki profesional. Jadi, aku tidak bisa menilai kualitas pisau hanya dengan melihat. Tapi bahkan aku bisa merasakan bahwa pisau-pisau yang dipajang di sini punya daya tarik yang jelas berbeda dibanding pisau-pisau yang pernah kugunakan.
"Baru tahu di sini ada toko pisau seperti ini... Mau lihat ke dalam?"
"Eh, i-iyakah?"
"Kalau kamu terus memperlihatkan wajah penasaran seperti itu, aku tidak bisa bilang 'ayo cepat lanjut ke tempat berikutnya'."
Aku mengucapkan terima kasih pada Kanou yang sedikit terkejut, lalu melangkah masuk ke dalam toko.
Di dalam, jumlah pisau yang dipajang jauh lebih banyak lagi.
Pisau sashimi, deba, gyuto, santoku, petty knife, dan masih banyak lagi.
Semuanya berkilau indah. Pisau yang kupakai sekarang pun sebenarnya sudah cukup bagus dan tidak ada masalah, tapi tetap saja, alat buatan tangan seorang pengrajin memiliki pesona yang berbeda dibanding hanya sekadar kepraktisan.
"...Aku sih tidak ngerti bedanya sama sekali, tapi kamu ada yang pengin?"
"Hmm... mungkin gyuto, ya. Soalnya bisa dipakai untuk berbagai macam."
Gyuto adalah salah satu jenis pisau serbaguna yang bisa digunakan untuk memotong daging, ikan, maupun sayuran. Benar-benar pisau yang cocok untuk berbagai kebutuhan.
Karena panjang bilahnya, memang bisa agak sulit digunakan kalau dapurnya sempit, tapi di dapurku sekarang itu tidak jadi masalah.
"...Kalian mahasiswa?"
Tiba-tiba, dari dalam toko muncul seorang kakek yang sepertinya pemilik toko.
Ia menatap kami dari balik kacamata tebalnya.
Sekilas, dia tampak sedikit curiga―――mungkin karena kami tidak terlihat seperti target konsumen mereka. Yah, wajar sih.
Karena ditanya, tidak mungkin aku diam saja. Aku pun memaksakan senyum ramah dan menjawab.
"Ya, kami mahasiswa. ...Apa kami tidak boleh masuk karena masih di bawah umur?"
"Tidak, bukan begitu. Maaf ya, tiba-tiba menyapa. Soalnya jarang anak muda datang ke sini, jadi aku refleks. ...Nak, boleh aku lihat tanganmu sebentar?"
"Eh? A-ah, silakan..."
Sesuai permintaannya, aku memperlihatkan tanganku.
Sambil menatap tanganku, si kakek menyipitkan mata dan mengangguk seolah terkesan.
"...Kapalan yang bagus. Bukti kamu sering masak."
"A-apa...?"
"Kadang-kadang ada anak muda yang datang ke toko seperti ini cuma buat iseng atau melakukan hal buruk... Tapi kamu sepertinya tahu cara menggunakan pisau dengan benar."
Sambil berkata begitu, kakek itu tersenyum hangat.
Mungkin karena penasaran dengan obrolan kami, Kanou ikut mengintip ke arah tanganku.
"Eh, bener juga. Ada kapalan di situ."
"Iya... yah, begitulah."
Di tanganku ada kapalan yang terbentuk karena sering menggunakan pisau.
Katanya sih, kapalan muncul karena cara memegang pisaunya salah, dan memang, dulu aku sering memaksakan diri memotong bahan makanan dengan pisau yang tumpul.
Sekarang aku sudah terbiasa menggunakan pisau dengan benar, jadi kapalan seperti itu sudah tidak terbentuk lagi. Tapi bekas ini tetap tertinggal sebagai semacam luka lama dari masa lalu.
"Jadi, ada yang mau kamu beli? Di sini banyak pisau bagus, lho."
"Ah... kalau begitu, aku ingin lihat gyuto."
"Kalau gyuto, di bagian sini."
Di bagian yang ditunjukkan kakek itu, ada banyak gyuto yang berkilau indah.
Semuanya terlihat sangat berkualitas. Bahkan aku yang awam bisa tahu hanya dari melihat. Tapi tentu saja, kualitas itu sebanding dengan harganya yang luar biasa mahal. Dengan harga segitu, aku bisa beli beberapa pakaian dari toko yang kami kunjungi sebelumnya.
"...Tidak mungkin aku sanggup beli."
"Haha, ya wajar saja."
Memang mengecewakan, tapi aku sudah menduganya sejak awal.
Pisau sebagus itu jelas tidak bisa kubeli dengan tabunganku sekarang. Jadi, aku tidak terlalu kecewa.
"Kalau suatu saat nanti kamu sudah bisa beli, datanglah lagi ke sini."
"Ya, terima kasih."
Entah kapan saat itu akan tiba.
Tapi, aku memutuskan untuk tidak kehilangan harapan dan terus melangkah ke depan.
"Maaf sudah buang-buang waktu. Yuk, kita lanjut."
"...Hm? Ah, iya."
Aku pun keluar dari toko bersama Kanon.
Sebelum kupanggil, Kanon tampak sedang menatap sesuatu terus-menerus. Entah apa yang menarik perhatiannya, ya?
Namun pertanyaan itu pun, entah sejak kapan, terlupakan begitu saja saat kami melanjutkan hari bersama.



Posting Komentar