no fucking license
Bookmark

Bab 1 Elf

  Bukan berarti aku tidak melakukan apa-apa saat Dahlia tidak ada.
Aku juga pernah berusaha sendiri dengan cara yang menyedihkan.
Itu terjadi belum lama setelah aku keluar dari klub basket, di awal musim gugur—saat aku jatuh cinta pada Yoshino-san.

Hari itu, aku naik kereta yang lebih awal dari biasanya dan datang ke sekolah lebih cepat.
Aku berpikir, kalau ingin bicara dengan Yoshino-san yang hampir tidak punya hubungan denganku, satu-satunya kesempatan hanyalah di pagi hari! —pikiran yang sangat sederhana.
Dan alasan aku datang sepagi itu adalah karena aku bahkan tidak tahu kapan dia biasanya tiba di sekolah.
Aku yang jatuh cinta padanya secara sepihak tanpa tahu apa pun tentang dirinya, hanya bisa mengandalkan naluri.

Karena itu, aku masuk ke ruang kelas yang masih kosong, duduk di bangkuku, dan berpura-pura belajar sambil diam-diam menunggu.
Sesekali aku melirik ke arah pintu, memperhatikan apakah ada seseorang yang masuk.
Kalau dipikir lagi, tingkahku waktu itu benar-benar mencurigakan.

Tapi akhirnya, momen yang kutunggu datang juga.
Sekitar dua puluh menit sebelum bel masuk, perlahan-lahan murid-murid mulai berdatangan, dan di antara mereka—Yoshino-san masuk ke kelas sendirian.
Wah... seperti biasa, dia cantik sekali. Bagaikan malaikat.
Tapi aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu terlalu lama.

Saat dia berjalan menuju tempat duduknya, aku mencoba bertingkah seolah-olah biasa saja, dan mengucapkan salam yang sudah kulatih sejak kemarin.

“Yo… Yoshino-san, se… selamat pa—”

“Kaede-chan, pagi~!”

Tiba-tiba muncul Shikura Sakura-san, gadis paling ceria dan populer di kelas.

“Pagi~. Dengar suara ceriamu di pagi hari rasanya bikin semangat lagi deh hari ini.”

“Eh~ beneran? Makasih, Kaede-chan!”

……Apakah keajaiban sekejam ini bisa dimaafkan oleh dunia?

Akhirnya aku hanya bisa duduk tegak, berpura-pura tidak terjadi apa-apa, lalu kembali menyalin rumus kimia ke dalam buku catatan.
Seandainya mungkin, aku ingin menagih kembali tenaga dan mental yang terbuang sia-sia pagi itu.

Siang harinya, aku mencoba lagi. Tenang, masih ada strategi berikutnya.
Saat jam makan siang, semua teman sekelas sudah berkumpul dengan kelompok mereka masing-masing.
Tentu saja, aku sendirian—si penyendiri abadi.
Sementara itu, Yoshino-san sedang makan bersama tiga temannya, tampak begitu bahagia.
Namun aku tidak punya waktu untuk iri.

Setelah selesai makan roti dari minimarket, aku dengan sengaja mengeluarkan buku dari tas dengan gerakan berlebihan agar terlihat mencolok.
Judulnya “Malam di Bawah Hujan Bunga.” Buku itu termasuk populer dengan tema kisah remaja yang ringan dan hangat.
Alasan aku memilih buku itu adalah karena aku pernah melihat Yoshino-san membacanya dengan serius di jam istirahat.
Jadi aku berpikir, kalau aku baca buku yang sama, pasti nanti ada kesempatan untuk ngobrol tentang itu!
Dengan penuh harapan, aku membuka halamannya dengan gaya seolah-olah sedang membaca sungguhan.

Namun saat kulirik dengan ekor mata, Yoshino-san tampak asyik bercanda sambil makan bersama teman-temannya.
Dan pada akhirnya, aku langsung sadar—tidak mungkin hal sekecil itu bisa menarik perhatiannya.

Setelah itu, aku mencoba berbagai cara lain, namun semua berakhir dengan kegagalan.
Dan akhirnya, aku memutuskan melakukan langkah terakhir.
Aku sebenarnya tidak suka ide ini karena terkesan seperti penguntit, tapi mau bagaimana lagi.

Sore itu, aku tidak langsung pulang.
Tujuanku adalah restoran cepat saji yang terkenal di seluruh Jepang—Entucky Burger.
Aku berdiri di antrean, melihat menu di atas konter, lalu menunggu giliranku.

“Pelanggan berikutnya, silakan.”

Begitu dipanggil, aku melangkah maju, dan di balik konter—di sana ada Yoshino-san, mengenakan seragam khas Entucky berwarna merah dan hitam.
Melihatnya seperti itu untuk pertama kali membuat dadaku terasa hangat. Ia terlihat begitu segar dan manis dalam seragam itu.

Bagaimana aku tahu dia bekerja di sini?
Kebetulan aku mendengar gosipnya dari teman sekelas. Ternyata kemampuan tidak mencolok juga berguna dalam hal-hal seperti ini.

“Tooba-kun, kamu datang juga ya. Terima kasih. Jadi, mau pesan apa?”

Namaku disebut lagi! —teriakku dalam hati, tapi tentu saja aku menahannya agar tidak kelihatan aneh.

“U-um, aku pesan… satu set burger fillet katsu, dan minumnya teh oolong…”

“Baik, satu set fillet katsu dan teh oolong. Mohon menunggu sebentar.”

Setelah membayar, dia tersenyum sopan.

“Terima kasih. Silakan menunggu di samping.”

Aku sadar kalau aku hanya akan tampak seperti pelanggan biasa jika tidak melakukan sesuatu, jadi tanpa berpikir panjang aku berkata,
“Ah, a-ano, bolehkah aku datang lagi lain kali?”
Yoshino-san tampak sedikit bingung, lalu menjawab,
“Eh? Tentu. Kami tunggu kedatangannya lagi.”

Jawaban yang sangat… formal.

Tak lama kemudian, pesanan dipanggil.

“Nomor 19, pesanan fillet katsu siap!”

Aku mengambil nampan makananku dan berterima kasih.
Dan ya—itu saja. Tidak ada yang lain.

Aku berdiri di pojok ruangan, tidak tahu harus apa.
Tentu saja, dia sedang bekerja.
Selain itu, restoran ini ramai oleh siswa dari sekolah lain.
Aku hanyalah teman sekelas biasa. Tidak ada kesempatan untuk bicara lebih jauh.

Kesimpulannya jelas—
Tidak mungkin. Benar-benar tidak mungkin.

Aku sudah mengerahkan semua keberanian yang kumiliki untuk mendekatinya, tapi setiap kali berakhir dengan kegagalan.
Aku bahkan belum pernah berhasil melakukan percakapan normal dengannya.
Paling jauh hanya saling menyapa beberapa kali.

Dan kalau kupikir, mungkin para siswa populer yang mudah berpacaran itu sebenarnya hidup di dunia yang berbeda denganku.
Semua kisah cinta remaja yang kudengar terasa seperti kebohongan belaka.
Seolah Tuhan yang kejam hanya menciptakan harapan palsu agar bisa menertawakan usaha sia-sia orang sepertiku.

Keesokan harinya, sepulang sekolah, aku datang ke taman di tepi tanggul sungai.
Tempat itu dipenuhi bunga kosmos yang bermekaran—tempat yang bisa dibilang penuh kenangan.
Di sinilah aku pertama kali bertemu dan jatuh cinta pada Yoshino-san.

Setelah beberapa hari penuh kegagalan, mungkin karena perasaan sentimental, aku kembali ke tempat itu tanpa sadar.
Aku duduk di bangku taman, melamun sendirian, waktu berjalan tanpa terasa.

Karena itu, aku bahkan tidak sadar saat seseorang mendekat.

“Tooba-kun, kamu juga suka tempat ini, ya?”

Aku menoleh dengan terkejut—dan di sana berdiri Yoshino-san.
Waktu seperti berhenti. Orang yang selama ini kucari tiba-tiba muncul di depanku begitu saja.

“Boleh aku duduk di sini?”

Dia berkata sambil tersenyum lembut—lebih manis daripada yang pernah kubayangkan.
Aku panik dan hanya bisa mengangguk. Ia duduk di ujung bangku, sedikit menjauh dariku.

“Beberapa kali aku datang ke sini, tapi baru kali ini ketemu kamu lagi sejak hari itu.”

Dia pasti bicara tentang hari pertama kali kami bertemu.

“...Iya, mungkin begitu.”

Kesempatan emas yang tak akan datang dua kali, tapi aku malah tidak bisa berbicara dengan baik. Aku benci diriku sendiri yang begitu kaku.

“Tempat ini indah, ya. Aku mengerti kenapa kamu sering datang ke sini. Lagipula, tidak banyak orang yang tahu tempat ini, seperti tempat rahasia.”

Dia terus berbicara, seolah berusaha mengisi keheningan di antara kami. Kebaikannya benar-benar terasa menembus hati.

“...Iya.”

Meski aku tahu itu, aku tetap tidak bisa berkata apa-apa.

“Aku juga sering datang ke sini di musim gugur, melihat bunga kosmos sambil berpikir tentang banyak hal. Mungkin ‘merenung’ terdengar berlebihan, ya.”

Perkataan itu mengubah suasana.

“Kalau begitu… kamu sedang memikirkan sesuatu? Ada yang kamu khawatirkan?”

“Pernah aku bilang, kan? Aku ketua klub dukungan—semacam klub aneh. Kami membantu orang yang punya masalah, meski kadang tidak berhasil. Jadi mungkin, ya, aku sering mikirin hal-hal itu.”

Ia tersenyum kecil.

“Begitu, ya…”

“Ngomong-ngomong, kamu juga baik-baik saja? Waktu di Entucky siang tadi, kamu kelihatan agak murung.”

Ternyata dia memperhatikan aku selama ini.

“Tapi lucu juga ya, kalau dipikir-pikir, kita berdua sama. Saat sedang punya beban, tanpa sadar datang ke tempat ini.”

Ia tertawa kecil, suaranya terdengar lembut.

Lalu, mata bulatnya menatapku dengan penuh perhatian.

“Kalau aku bisa melakukan sesuatu untuk membantu, aku akan senang. Tidak cuma mendengarkan, tapi hal lain juga tidak apa-apa. Ah, mungkin kamu bisa datang ke ruang klub? Di sana kita bisa bicara lebih tenang. Jadi…”

Senyumnya—entah kenapa terasa begitu hangat dan tulus.
Aku seperti terpesona melihatnya.
Kami saling menatap dalam diam, seolah waktu berhenti sesaat.
Seandainya bisa, aku ingin momen itu berlangsung selamanya.

Namun realitas segera kembali, dan Yoshino-san buru-buru merapikan duduknya.

“Po… pokoknya, datanglah ke ruang klub lain kali. Kalau begitu, aku yakin bisa membantu sedikit, walau cuma seujung sendok teh.”

“Kalau begitu,” ucap Yoshino-san singkat sebelum berbalik dan pergi dari taman dengan langkah cepat, mungkin karena malu.
Yang tertinggal hanyalah aku, yang hanya bisa bengong sambil mengingat kembali ekspresi Yoshino-san yang terpatri jelas di retina mataku.

Dan sekali lagi, aku menyadari betapa Yoshino-san adalah orang yang benar-benar baik dan penuh kasih.
Dia ingin dengan tulus mendengarkan masalah seseorang seperti aku—seseorang yang bahkan nyaris tidak dikenalinya.
Tidak mungkin ada gadis lain di dunia ini yang sebaik itu.

Jadi meskipun Yoshino-san mungkin adalah wortel yang tergantung di ujung tali—sesuatu yang mustahil ku raih seumur hidup—aku tetap tidak bisa begitu saja menyerah.

Beberapa hari setelah itu, saat jam istirahat siang, aku berdiri di depan sebuah kotak logam.
Di bagian tengahnya, dengan tulisan tangan yang rapi dan besar, tertempel label bertuliskan “Kotak Permintaan.”

Tempat ini berada di gedung kelas khusus yang agak jauh dari ruang kelas utama.
Di salah satu lorong panjangnya, tersembunyi ruang klub kecil milik Klub Dukungan yang dijalankan oleh Yoshino-san.
Kotak itu digunakan untuk menerima berbagai permintaan atau masalah dari siswa lain—bisa lewat surat atau catatan tertulis.

Aku menengok ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa pun di sekitar.
Meskipun suasana khas jam istirahat yang ramai masih terasa sampai ke sini, di area ini relatif sepi.
Begitu yakin aman, aku mengeluarkan selembar kertas bertuliskan:

“Tolong ajari aku pelajaran Bahasa Jepang modern yang sulit.
—Tooba Kouichi.”

Aku mengulurkan tangan hendak memasukkan kertas itu ke dalam kotak.

Ini adalah rencana terakhirku—hasil dari kebodohan dan keputusasaan.
Aku tahu aku tidak bisa datang dan berkata, “Aku ingin curhat tentang perasaanku padamu.”
Jadi aku membuat alasan palsu—meskipun memang aku benar-benar lemah dalam pelajaran Bahasa Jepang—agar bisa lebih dekat dengannya secara alami.
Lagipula, Yoshino-san sendiri bilang, “Silakan ajukan masalah sebanyak mungkin!” kan?

Namun tetap saja, aku masih ragu.
Apakah benar ini hal yang pantas dilakukan?

Saat aku menimbang-nimbang, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat, tap tap tap, sepatu indoor menampar lantai.
Refleks, aku segera bersembunyi di balik lemari alat kebersihan di dekat sana.

Padahal aku tidak melakukan kejahatan apa pun—tapi insting pengecutku bekerja otomatis.

“Hey, Kaede, kamu belum lupa janji kita setelah pulang nanti, kan?”

Suara riang itu sepertinya milik teman sekelas kami—Koizumi Itsuko-san. Aku tidak bisa melihatnya dari tempatku bersembunyi, tapi aku yakin.

“Mana mungkin aku lupa. Makanya aku ikut ke sini, kan?”

Dan suara yang menjawab tentu saja milik Yoshino Kaede-san—Yoshino-san sendiri.
Jujur saja, aku merasa sial karena waktu kedatanganku begitu buruk.

“Ya sih. Tapi tahu nggak, besok ada ujian remedial. Si Sugiyama tuh nyebelin banget, katanya kalau nilai nggak naik bisa nggak naik kelas. Ih, tatapan matanya aja aneh banget.”

“Ahaha… Tapi remedial-nya kan udah ada batasan materinya, jadi kalau kamu belajar sungguh-sungguh pasti bisa kok.”

“Wah, memang deh Kaede paling bisa diandalkan~!”

Jadi benar, mereka sedang bicara soal ujian remedial.
Aku pernah dengar tentang itu di kelas, tapi untungnya nilaku masih cukup, jadi tidak perlu ikut.

“Tapi seperti yang sudah kubilang, ya—kalau ada permintaan masuk ke Klub Dukungan, aku harus memprioritaskannya dulu. Oke?”

“Iya iya, aku ngerti~.”

Mendengar itu, aku menghela napas lega.
Untung aku belum memasukkan surat itu.
Kalau tadi sempat kuberikan, aku bisa saja merepotkan Koizumi-san, bahkan mungkin merusak hubungan mereka berdua.

Benar. Tidak seharusnya aku mencoba mendekati Yoshino-san dengan alasan seegois ini.
Aku pun mengangguk pelan dalam hati, merasa sedikit lega dengan keputusan itu.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Saat mereka berjalan melewati lorong, Yoshino-san tiba-tiba menoleh sedikit—dan pandangan kami bertemu.

“Eh? Tooba-kun? Kenapa kamu di sini?”

“Wah, ngapain kamu di tempat kayak gini?”

Keduanya tampak terkejut.
Dan aku—panik total. Dengan refleks, aku menyembunyikan kertas di belakang punggung dan merasa pusing seketika.
Kejadian tak terduga seperti ini jelas di luar kapasitas mental lemahku.

“A-aku… e-eh… nggak… bukan apa-apa…”

Itu saja yang bisa keluar dari mulutku, patah-patah dan menyedihkan.
Sungguh, kenapa aku selalu begini?

Yoshino-san menatapku dengan wajah khawatir.

“Kenapa, Tooba-kun? Oh, jangan-jangan kamu ada urusan dengan Klub Dukungan?”

Nada suaranya separuh bahagia, separuh khawatir. Tapi bagi diriku yang panik, suaranya terasa berat seperti beban.

“Ayolah, Kaede, cepat. Sugiyama sebentar lagi keluar dari ruang guru. Nanti kita nggak kebagian buku soal.”

Koizumi-san tampak mulai kesal, tapi Yoshino-san tetap sabar.

“Baiklah. Aku akan nyusul sebentar lagi. Kamu duluan aja, Itsuko.”

“Ya ya, tapi jangan lama-lama!”

Koizumi-san pergi dengan langkah cepat, meninggalkan kami berdua saja.
Sekarang hanya aku dan Yoshino-san di koridor yang sepi itu.

Dia mendongak sedikit untuk menatapku—karena aku lebih tinggi darinya—dan berkata,
“Kamu masih ingat pembicaraan kita waktu di taman, ya?”

“E-eh… mungkin…”

Suara yang keluar dari mulutku malah jadi seperti bicara dengan guru. Otakku benar-benar berhenti berfungsi.

“Hehe, aku senang bisa ketemu ‘teman sejiwa’ di sini.”

“Te… teman sejiwa?” aku bingung.

“Iya, orang yang bisa menikmati waktu dan tempat yang sama. Nggak banyak, tahu? Orang yang mau datang ke tempat biasa seperti taman itu cuma untuk melihat pemandangan.”

Yoshino-san tersenyum manis, agak menggoda.
Padahal sebenarnya, aku ke sana bukan karena pemandangannya, tapi karena tempat itu mengingatkanku padanya.
Meski begitu, mendengar dia bilang “senang” karena bertemu denganku… tentu saja aku langsung salah paham. Itu refleks alami seorang cowok.

“Jadi aku rasa, hal paling menyenangkan hari ini adalah bisa ketemu kamu di sini.”

Aku tahu itu cuma basa-basi… tapi wajahku otomatis tersenyum bodoh.

“Ngomong-ngomong, kamu ke sini ada urusan apa?”

Pertanyaannya membuatku membeku.

“...Itu…”

Perasaan senang tadi langsung lenyap, berganti dengan rasa bersalah.
Aku sadar, kalau aku menyerahkan kertas yang kusimpan di belakang ini, Yoshino-san pasti akan langsung menanggapinya dengan serius.
Dia akan memprioritaskan permintaanku, bahkan mungkin membatalkan janjinya dengan Koizumi-san.

Dan Koizumi-san—setahuku—orang yang mudah marah. Kalau janji itu dibatalkan, kemarahannya pasti akan ditujukan ke Yoshino-san.
Sementara permintaanku hanyalah alasan murahan untuk mendekatinya.

Jelas, tidak ada alasan untuk meneruskan ini.

“Bukan apa-apa, kok.”

Aku akhirnya berbohong dengan nada memaksa.

“Benarkah? Tidak ada yang bisa kubantu?”

Matanya menatapku lembut, penuh perhatian.
Terlalu dekat. Terlalu manis.
Aku hampir saja mengaku semuanya.

Tapi aku menahan diri, memaksa bibirku berkata dingin,
“B-biarkan saja aku sendiri. Ini nggak ada hubungannya sama kamu…”

“Eh… apa kamu mendengar pembicaraan kami tadi? Jangan khawatir, aku nggak keberatan kok kalau—”
Dia sudah mengerti semuanya.
Yoshino-san memahami apa yang terjadi—bahkan perasaanku—dan malah mencoba menenangkanku.

Itu membuatku makin tersiksa.
Aku tidak ingin dia harus mengkhawatirkan orang sepertiku.

Jadi aku menambahkan kata-kata yang lebih kasar lagi, mencoba menyingkirkannya.

“Jangan salah paham. Aku cuma kebetulan lewat. Lagipula, kamu nggak usah sok baik. Nolong orang gitu cuma kepuasan diri sendiri aja. Malah nyebelin tahu.”

Kata-kata itu keluar tanpa kendali.
Aku sendiri ngeri mendengarnya, tapi sudah terlambat.

Yoshino-san menatapku dengan mata yang terbuka lebar, lalu tersenyum samar—senyum yang terlihat jelas palsu.

“...Maaf, ya. Aku yang salah karena salah paham.”

Begitu mendengarnya, penyesalan langsung menghantam seluruh tubuhku.
Tapi aku tidak bisa menarik kembali kata-kata itu.

Yoshino-san tersenyum lagi—senyum cerah, tapi kali ini jelas terlihat dipaksakan.

“Kalau aku mengganggumu, maaf banget ya. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi. Sampai jumpa.”

Dia berbalik dan berlari kecil meninggalkan lorong itu.
Namun sebelum benar-benar menghilang, aku sempat melihat—atau mungkin hanya merasa—kalau di matanya ada sedikit kilau air mata.

Dan di saat itu juga, aku sadar.
Cintaku… benar-benar sudah berakhir.

Aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri.
Dia sudah begitu baik, begitu tulus padaku—tapi aku malah menyakitinya.

Tidak peduli seberapa menyesal pun aku sekarang, semuanya sudah terlambat.
Tidak ada gadis yang bisa jatuh cinta pada orang yang membuatnya menangis.
Apalagi jika air mata itu keluar karena aku menolak uluran tangannya.

Aku berdiri lama di tempat itu, menatap kosong ke arah koridor.
Sampai akhirnya aku sadar—ada sesuatu tergeletak di lantai.
Tepat di jalur tempat Yoshino-san tadi berlari.

Aku berjalan mendekat dan memungutnya.

“...Penanda buku?”

Benar. Sebuah pembatas buku berwarna ungu tua, dengan bunga kosmos yang ditekan di dalamnya.
Cantik sekali, sampai terasa sedikit magis.

Mungkin itu milik Yoshino-san.

Entah kenapa, benda kecil itu terasa seperti satu-satunya benang tipis yang masih menghubungkanku dengannya.
Setidaknya sekarang aku punya alasan untuk menemuinya lagi—untuk mengembalikannya.

Tapi, aku tahu.
Saat aku berdiri di depannya lagi nanti, aku pasti akan panik lebih parah dari sekarang.
Dan dengan keadaan hubungan kami seperti ini—pasti dia membenciku.

...Ya. Cinta ini sudah benar-benar berakhir.
Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Posting Komentar

Posting Komentar