Di dalam kereta, tidak ada siapa pun selain kami berdua.
Aku sengaja memilih gerbong paling ujung demi mempertimbangkan perasaan Hibise, dan sepertinya itu justru jadi keputusan yang tepat.
Hibise mengenakan headphone dan mendengarkan musik.
Dari posisiku, aku tidak bisa melihat ekspresinya.
──Canggung sekali.
Aku yang sudah menolak perasaannya, dan Hibise yang baru saja ditolak, kini duduk berdampingan di kereta yang sama.
Seharusnya, pulang bersama seperti ini adalah pilihan yang salah.
Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Hibise sendirian di sekolah gelap itu dalam keadaan seperti tadi.
Mengantarnya sampai stasiun saja sudah cukup.
Setelah itu, dia bisa pulang sendiri.
Kupikir, aku akan pulang dengan kereta berikutnya. Naik kereta yang sama dengan orang yang baru saja menolakmu pasti terasa berat.
──Namun kenyataannya tidak begitu.
Sejak tadi, Hibise terus menggenggam ujung bajuku.
Genggamannya lemah, tidak cukup untuk benar-benar menahanku.
Namun cukup untuk menyampaikan bahwa dia tidak berniat melepaskanku.
Meski begitu, tidak ada kata-kata.
Kami berdua diam, membiarkan waktu berlalu tanpa sepatah kata pun.
Di luar jendela, lampu kota yang sudah akrab terlihat mengalir ke belakang.
Aku hanya menatapnya, mencoba menghabiskan waktu.
Namun, waktu itu pun segera habis.
Pengumuman stasiun tujuan terdengar pelan di dalam kereta.
“──Hibise, maaf tapi…”
Aku menghentikan ucapanku.
Stasiun tujuan Hibise masih beberapa pemberhentian lagi.
Aku berniat turun di sini dan berpisah.
Namun, Hibise perlahan berdiri, bersiap turun juga.
“…Aku ikut sampai depan gerbang tiket.”
Suaranya pelan, tapi tanpa keraguan.
“…Begitu ya.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Kereta berhenti, pintu terbuka.
Karena kami berada di ujung gerbong, kami otomatis turun paling belakang ke peron.
Para pekerja kantoran yang baru pulang, siswa yang masih berkeringat setelah kegiatan klub, orang-orang yang berjalan sambil menatap ponsel.
Semuanya terlihat jelas di mataku, namun entah kenapa terasa tidak nyata.
Papan informasi kedatangan.
Hembusan angin dari kereta yang masuk ke peron seberang.
Aku berjalan sambil merasakan semuanya secara samar.
Hibise berjalan sedikit di belakangku, tapi aku tidak menoleh.
Kami naik eskalator.
Tanpa harus melakukan apa pun, kakiku terbawa naik.
Suara mesin yang berulang membuat pikiranku kosong.
──Di sinilah akhirnya.
Begitu turun dari eskalator, pandangan terbuka lebar.
Gerbang tiket sudah di depan mata, terlalu dekat untuk memberi waktu berpikir.
Langkahku terhenti.
Akhirnya aku menoleh ke arah Hibise.
Namun, Hibise tetap menunduk, headphone-nya sudah dilepas dan menggantung di leher.
Meski begitu, suasananya terasa sunyi, seolah dia tidak mendengar apa pun.
“──Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Begitu diucapkan, barulah terasa nyata.
Semua yang harus kusampaikan sudah kusampaikan.
Tidak perlu menambah kata lagi.
Saat aku hendak mengakhiri perpisahan—
“──Lima kali.”
“Hah?”
Kata pendek itu tiba-tiba muncul di tengah keramaian.
“Jumlah aku ditolak oleh Senpai.”
Nada bicaranya tidak seperti bercanda, juga bukan menyalahkan.
Hanya menyatakan fakta.
“…Ya.”
Apa lagi yang bisa kukatakan?
“Kalau dipikir-pikir, Senpai itu kejam. Pengakuan cintaku yang paling serius… bisa kamu lupakan keesokan harinya.”
Hibise menatapku dengan sedikit kesal.
“Itu karena ‘kekuatan dunia’—”
“Diam! Jangan membantah!”
Aku refleks mengangkat bahu.
Meski kata-katanya terdengar keras, suaranya perlahan mulai kembali bersemangat.
“…Tapi mungkin aku juga terlalu bergantung pada itu.”
Hibise tersenyum tipis, seolah menghela napas.
“Karena Senpai pasti akan melupakan perasaanku… jadi rasanya seperti tidak dihitung. Aku saja yang harus menanggung rasa ditolak itu… hiks.”
“Kenapa malah menyakiti diri sendiri begitu…”
Aku berkata begitu, dan ekspresinya sedikit muram. Bahkan udara di sekitar terasa ikut suram.
Kalau memang menyakitkan, tidak perlu diucapkan.
Meski begitu, suasana tidak terasa berat.
Justru ketegangan tadi sedikit mereda.
“Po-kok-nya!”
Hibise tiba-tiba berseru keras.
Karena kami berada di depan gerbang tiket, perhatian orang-orang langsung tertuju ke kami.
“Senpai mengingatku!”
Kali ini, dia tersenyum jelas.
“Kalau diingat, berarti kita bisa mulai lagi dari awal!”
Di wajahnya, tidak ada lagi bekas air mata.
“Selangkah demi selangkah, aku akan mendekat lagi… sampai bisa berdiri di samping Senpai lagi. Seperti waktu SMA!”
Dengan senyum cerah seperti matahari, dia menyatakannya dengan tegas.
“Jadi, Senpai. Aku tidak akan menyerah.”
Detik berikutnya, Hibise melompat ke dalam pelukanku.
Tanpa sempat berpikir, tubuhku menerima benturan dan kehangatannya.
Aku hanya bisa berdiri terpaku.
“Muuh…”
Dia menggesekkan wajahnya ke dadaku, menghela napas manja.
Aku tahu, dia ingin aku membalas pelukannya.
Tapi itu… tidak bisa kulakukan.
Aku mengangkat kedua tangan, seperti tanda menyerah.
“Tolong… lepaskan…”
Suaraku terdengar lemah.
“Tidak mauu!”
Dia justru makin mendekat.
Tangannya yang melingkari punggungku semakin kuat, jarak kami makin rapat.
──Aku benar-benar dalam masalah.
Kupikir membiarkannya sesuka hati adalah bentuk ketulusanku.
Tapi situasi ini… benar-benar berbahaya.
“Hibise, sudah cukup…”
“Sebentar lagii…”
Suaranya manja, tapi pelukannya semakin kuat.
Tubuhku benar-benar terkunci.
Aku bisa merasakan tatapan orang-orang mulai berkumpul.
──Gawat… ini benar-benar gawat…
Dari luar, mungkin kami terlihat seperti pasangan yang tidak ingin berpisah.
Tapi bagiku, ini seperti berjalan di atas tali tipis.
Memisahkannya secara paksa juga terasa tidak enak──
“──Selingkuh.”
Sebuah bisikan dingin melintas di dekat telingaku.
Jantungku benar-benar melonjak.
Rasa dingin menjalar di punggung, darahku seakan langsung menghilang.
Aku refleks mengangkat wajah.
Di depanku──Satsuki berdiri.
Dengan senyum lebar.
Memiringkan kepala sedikit, menatap lurus ke arahku.
Suasana di depan gerbang mendadak terasa mencolok.
Orang-orang yang lewat tanpa sadar tertarik pada Satsuki.
Namun, matanya… tidak tersenyum.
Gelap, keruh, dan dingin.
Tatapan itu jelas tertuju pada—
Hibise yang masih memelukku.
Aku berusaha melepaskan Hibise, menggoyangkan tubuh dan memberi isyarat.
Instingku mengatakan, jika aku berbicara, hanya akan memperkeruh keadaan.
“Sebentar lagi! Sedikit lagi saja!”
Namun, pelukannya justru semakin kuat.
Seolah tidak akan pernah melepaskan.
──Tolong, dengarkan aku!
Dan pada saat itu—
“──Selingkuh ya~”
“──Selingkuh, ya.”
Dengan takut-takut aku menoleh.
Di sana ada Shuna dan Shino.
Senyum Shuna yang biasanya menenangkan siapa pun.
Namun pupil matanya terbuka lebar, hanya wajahnya saja yang terlihat lembut.
Shino… benar-benar menakutkan.
Sekilas dia melihatku, lalu tersenyum sempurna.
Detik berikutnya, tatapannya jatuh ke Hibise.
Seolah sedang menilai… bagaimana cara “mengolahnya”.
“──”
Dari samping Satsuki, hawa dingin terasa jelas.
Tanpa berkata apa-apa, Reine berjalan mendekat.
Langkahnya pelan, tapi kehadirannya terasa berat.
Dia berhenti di depan Hibise, lalu menatapnya dari atas.
Tatapan dingin tanpa emosi.
Detik berikutnya, tangan Reine meraih pita Hibise.
“──Mengganggu.”
Satu kata pendek dan dingin.
“Eh? Kyaa!”
Hibise langsung ditarik paksa dari pelukanku.
Tubuhnya terangkat, lalu—
Terhempas ke lantai.
“Aduh…! Apa yang kau—”
Hibise yang duduk bersimpuh mulai mengecil suaranya.
Pada saat yang sama, keringat dingin mengucur di dahinya.
Keempat gadis itu perlahan mendekat.
Membentuk lingkaran, mengelilinginya.
Senyum.
Diam.
Dingin.
Tidak ada jalan keluar.
“──Salam kenal, Hibise.”
Suara Sastuki terdengar lembut.
Dia berjongkok agar sejajar dengan Hibise.
“Sepertinya kamu sudah banyak ‘dibantu’ oleh pacarku, ya?”
“Eh, anu…”
Terdesak oleh senyum itu, mulut Hibise kaku, kata-katanya tidak keluar.
“Ada banyak hal yang ingin kami tanyakan.”
Satsuki tersenyum.
“Jadi… mampir ke rumah kami, ya?”
“Eh, tapi…”
“Jangan sungkan. Shino sudah menyiapkan hidangan terbaik. Iya, kan?”
Shino melangkah maju.
“Ya. Kucing pencuri… maaf.”
Sekilas dia memandang Hibise seperti melihat sampah.
Namun seketika berubah menjadi senyum sempurna ala bangsawan.
“Hibise-san adalah junior penting bagi Satoshi-san. Kalau dia sudah banyak membantu, tentu kami harus menyambutnya dengan baik. Kalau tidak, nama keluarga Shinonome akan tercemar.”
Bahasanya sopan.
Namun… tidak ada pilihan untuk menolak.
“Su-sudah malam, jadi lain kali saja—!”
Hibise buru-buru berdiri dan mencoba lari ke arah tangga.
──Namun.
“Yaah, stop dulu~”
Dengan suara santai, tangan Shuna menangkap lengannya.
Cengkeramannya kuat.
Sambil tersenyum seperti biasanya, dia berkata:
“Jangan kaku begitu, Hibise-chan. Kita ini tidak perlu pakai sungkan, kan~?”
“Ti-tidak, kita belum ada hubungan apa-apa…”
“Hm~?”
“Eh, anu…”
Suara Hibise semakin mengecil.
“Tidak mungkin ada hak untuk menolak, kan?”
Kata Reine datar, tanpa emosi.
“Kamu sudah menyentuh sesuatu yang berharga bagi kami──kan?”
“I-iya…”
Hibise tidak mampu berkata apa-apa lagi dan hanya menundukkan bahunya.
──Bagaimanapun juga, ini terlalu menyedihkan…
Baru saja dia ditolak olehku dan masih dalam keadaan terluka. Lalu tepat setelah itu, dia harus menghadapi situasi pengepungan seperti ini.
Aku juga tidak bisa hanya diam saja.
“Dengar.”
“Kenapa~?”
Meskipun aku memanggil, tak satu pun dari mereka mengalihkan pandangan dari Hibise.
“Aku dan Hibise sama-sama lelah. Bagaimana kalau kita lanjutkan pembicaraan ini besok saja? Sudah malam juga.”
“Senpai…”
Hibise menatapku seolah menemukan secercah harapan.
Untuk sesaat, cahaya kembali ke matanya.
Namun──
“Ah, kalau Satoshi-kun sih wajib ikut interogasi semalaman.”
Satoshi berkata dengan senyum cerah.
“Eh?”
“Kamu pikir setelah membuat kami khawatir sampai seperti itu, kamu bisa tidur nyenyak begitu saja?”
“Eh, itu…”
Kata “selingkuh” tadi kembali terngiang di kepalaku.
Keringat dingin mengalir di punggungku.
“Jadi begitu.”
Satsuki berdiri, menatapku dan Hibise secara bergantian, lalu berkata dengan nada ceria,
“Kita pulang ke rumah saja, ya! ──oke?”
Nada bicaranya seperti sedang mengajak ke pesta teh yang menyenangkan.
Namun, di balik itu, jelas terasa emosi yang mendidih seperti magma.
Aku dan Hibise sama-sama menyadarinya.
Kami saling menatap.
Tidak perlu kata-kata──
““……baik.””
Pada akhirnya, aku dan Hibise tidak punya pilihan selain menurut.
◇
Aku dan Hibise digiring seolah-olah dikepung oleh keempat orang itu.
Dari stasiun ke apartemenku sebenarnya tidak sampai lima menit.
Jarak yang biasanya terasa dekat, kali ini terasa anehnya sangat panjang.
Tak satu pun dari kami membuka mulut.
Hanya suara langkah kaki yang menggema kering di gang malam.
Cahaya lampu jalan memanjangkan bayangan keempat gadis itu dalam sudut yang tidak wajar, dan di tengahnya, aku dan Hibise seolah terkurung.
Kami berjalan menembus jalanan malam dalam diam, dan akhirnya sampai di apartemen.
Naik tangga, lalu berhenti di depan kamarku—Satsuki berhenti.
Gerakannya mengambil kunci tidak menunjukkan sedikit pun keraguan.
Klik.
"Silakan."
Didorong masuk, aku melangkah ke dalam.
Bahkan aku sendiri sebagai pemilik kamar ini merasa seperti memasuki rumah orang lain—tidak nyaman.
Saat lampu dinyalakan, aku langsung menyadari ada yang aneh.
──Kamarnya sedikit berubah.
Dua bantal duduk disusun di depan meja.
Jaraknya dekat, tapi posisinya tidak memberi ruang untuk kabur.
Seperti kursi terdakwa.
Di sofa seberang meja, Satsuki duduk.
Ia bersandar santai, menatap kami dari atas dengan penuh kendali.
Dan di bawahnya—
Di lantai kiri dan kanan meja, Reine, Shuna, dan Shino duduk.
Dengan Satsuki sebagai pusatnya, posisi mereka secara alami mengarahkan semua pandangan ke satu titik.
"Ayo, duduk."
Satsuki menyilangkan kakinya.
Sekilas paha mulusnya terlihat tanpa ragu, tapi yang terasa bukanlah daya tarik—melainkan tekanan.
Dengan dagu bertumpu di tangan, ia menatap kami tajam, menyuruh kami duduk.
Aku dan Hibise akhirnya duduk di bantal itu tanpa bisa menolak.
"──Jadi?"
Satu kata saja.
──Tidak perlu alasan.
──Tidak perlu basa-basi.
──Ceritakan semua yang kalian sembunyikan.
Seolah itu yang ia katakan.
"Hibise itu junior di kampusku… dan kami cukup sering bergaul—"
"Ah, yang begitu tidak perlu."
Satsuki menjentikkan jarinya pelan.
Seolah menunggu itu, Shino membanting setumpuk dokumen ke atas meja.
Brak.
Foto-foto aku dan Hibise berjalan bersama.
Berbagai sudut dan jarak, bertumpuk rapi.
Masing-masing dilengkapi tanggal dan lokasi yang tersusun dengan detail.
"Kami sudah menyelidikinya."
"Ah, iya…"
Aku mengangguk refleks.
Senyum Shino punya tekanan yang cukup untuk membuat orang menyerah.
Entah dia menyelidiki sendiri atau memakai kekuatan keluarga Shinonome, hasilnya tetap sama—
kami berada di posisi diadili.
"──Tapi tetap saja, ada yang belum jelas, ya~"
Shuna menatapku dengan nada santai yang tidak cocok dengan suasana ini.
Seolah sengaja mengusap ketegangan di udara.
"Sudah pasti sih, Satoshi-kun jadi cowok nakal yang pura-pura selingkuh buat bikin kami panik dan main-main~"
"Maaf, tapi yang itu benar-benar salah paham!"
Aku langsung menyangkal.
Aku tidak mungkin menguji perasaan kekasihku seperti itu.
"Hmm~?"
Shuna memiringkan kepala.
Tatapannya seperti benar-benar bertanya—apa itu benar?
"…Terlepas dari niatku, kalau kalian sampai berpikir begitu, berarti aku memang pantas dihukum…"
"Jawaban bagus~"
Tepuk tangan terdengar.
Bukan hanya Shuna, tapi Shino dan Satsuki juga ikut bertepuk tangan bersamaan.
Suara kering.
Aku tidak pernah tahu tepuk tangan bisa terasa seburuk ini.
"──Merepotkan sekali."
Suara Reine memotong suasana itu.
Tajam, tanpa celah untuk lari.
"Yang ingin kami ketahui cuma dua hal."
Ia mengangkat dua jari.
"Pertama. Tujuan Hibise mendekati Satoshi."
Satu jari dilipat.
"Kedua, Satoshi."
Tatapannya menembusku lurus.
"Kenapa kamu diam-diam bersama Hibise tanpa memberi tahu kami? Kamu tahu ini pasti akan jadi masalah, kan?"
──Ya, memang bakal sampai ke situ…
Udara terasa semakin berat.
Keempatnya bergantian menatapku dan Hibise.
"Ah, kalau itu sederhana."
Hibise membuka suara, memotong suasana.
"Karena aku suka Senpai."
"H-Hoi!?"
Pengakuannya terlalu santai sampai suaraku melengking.
"Jadi ya, ini NTR. Senpai tidak cocok untuk kalian, jadi akan aku ambil. Mohon kerja samanya~"
"Oi oi oi Hibise!?"
Sepertinya remnya benar-benar rusak—dia tidak mendengarkan sama sekali.
"Kalau dipikir-pikir, tidak perlu takut juga, kan~?"
Ia mengangkat bahu, nada bicaranya seperti memancing.
"Cinta itu pasti ada rintangan. Tapi kalau dibilang 'tembok'? Anggap saja ada empat pijakan, selesai~"
"…Sudah, diam dulu ya."
"Kalau begitu, bungkam aku dengan ciuman dong~"
"Mau kututup pakai lakban!?"
"Kyaa, seram~ aku diserang~!"
"Makanya jangan bilang begitu…!"
──hah.
Aku terdiam sebelum sempat menyelesaikan kalimat.
Perlahan, aku menoleh ke empat orang itu.
──Tak satu pun mengubah ekspresi.
Tidak marah. Tidak kesal.
Hanya wajah tanpa emosi, menatap kami.
…Jujur saja, akan lebih baik kalau mereka marah.
Aku tanpa sadar duduk bersimpuh.
Namun Hibise tidak mundur.
Bahkan, dia terlihat siap menghadapi mereka langsung.
Kalau keberanian berlebihan, itu namanya bodoh…
Beberapa detik.
Keheningan berat mengendap.
Lalu, Hibise menghela napas kecil.
"Yah, itu sih tidak penting."
Saat itu juga, udara menjadi dingin.
"──Sano Yuuto itu sekarang ada di mana?"
Nada santainya hilang.
Suara tenang.
Tanpa candaan, tanpa mundur.
Hanya satu kalimat—dan suasana langsung menegang.
Aku refleks menekan keningku.
Seriusan, sekarang bahas itu…?
"──Maksudmu apa?"
Reine bertanya dengan tekanan.
Tatapannya tajam, suaranya rendah.
Namun Hibise tidak terganggu sama sekali.
"Aku mendekati Senpai memang karena ingin merebutnya dari kalian. Dan satu lagi—"
Ia berhenti sejenak.
"──untuk meminta bantuannya mencari Sano Yuto."
Tanpa sengaja, mataku bertemu dengan Satsuki.
"…Itu benar?"
"…Benar."
Aku menjawab dengan napas berat.
Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini dengan cara yang lebih baik.
Tapi Hibise sudah sejauh ini—tidak ada jalan mundur.
Hibise tanpa berkata apa-apa meletakkan ponselnya di meja.
Layar dinyalakan, lalu diarahkan ke mereka.
"Eh?"
Terdengar suara terkejut.
Tampilan layar terbagi tiga.
Ruang tamu.
Kamar mandi.
Loteng.
Tenggorokanku terasa tercekat.
"Sano memasang kamera pengawas di kamarku."
"────"
Tak satu pun dari mereka bicara.
Hanya menatap layar.
Hibise menekan tombol percepatan maksimal.
Hari-hari di layar berlalu dengan cepat.
──Di sana, bahkan hal-hal yang seharusnya tidak boleh bocor pun terekam tanpa ampun.
"Untuk itu saja sih masih bisa diselesaikan. Tinggal kupukul sekali, lalu serahkan ke polisi."
Lalu video berhenti.
"Reine, Shuna, Shino."
Aku memanggil nama mereka pelan.
Adegan itu—yang di layar.
Tatapan mereka yang seolah membenci seseorang.
"…Sejak kapan kalian tahu?"
Tidak ada jawaban.
Aku pun mengangkat pandanganku, menatap Satsuki di depan.
"Dan Satsuki… hari itu, kamulah yang mengajakku pergi."
14 Maret.
Hari peringatan satu tahun sejak kecelakaan itu.
Bagiku, ini sama sekali bukan hari yang membawa keberuntungan.
Namun bagi mereka berempat, ini adalah hari takdir—hari di mana mereka diselamatkan olehku.
Sebuah kenangan yang selama ini mereka simpan dengan sangat berharga, layaknya hari perayaan.
Dan sekarang—
kenangan itu, hanya dengan satu rekaman pengawasan ini, mulai terguncang dengan jelas.
“...Kalau harus dari mulut Senpai mungkin sulit, jadi biar aku yang bilang, ya.
Kami menduga—kalian berempat terlibat dalam hilangnya Sano Yuuto.”
Satu kalimat itu benar-benar menutup semua jalan keluar.
“Sejak hari itu, kami sudah tidak bisa menghubungi Sano Yuuto lagi.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap mereka berempat lurus.
“──Apa yang kalian lakukan?”
Pertanyaannya singkat.
Namun itu sama saja dengan vonis.
Aku menatap mereka satu per satu.
Tak ada satu pun yang mengangkat wajah.
──Kenapa kalian tidak menyangkal…!?
Keringat mulai mengalir di dahiku.
Keheningan ini terasa seperti mereka sedang menyusun alasan untuk menutupi sesuatu, membuat detak jantungku semakin cepat.
“──Begitu ya.”
Satu kalimat keluar dari Satoshi, seolah terlepas bersama napasnya.
“Aku boleh tanya satu hal?”
Dengan suara yang datar tanpa emosi, ia menatap Hibise.
“Kamu dapat rekaman itu dari mana?”
“Jujur saja, ini cukup menjengkelkan, tapi aku dianggap sebagai kaki tangan oleh Sano Yuuto.”
“Kaki tangan?”
“Iya. Dia bilang, ‘Kalau kamu kaki tangan, berarti kamu harus tahu apa yang aku lakukan,’ lalu dia terus mengirimkan rekaman itu.
Tentu saja, aku tidak memberi tahu siapa pun selain Senpai.”
“Begitu…”
Satsuki menghela napas pelan.
“──Jadi, kamu sudah tahu ya.”
Ia bergumam, lalu menatapku.
“Seperti yang Hibise bilang. Kami memang bertemu dengan orang itu.”
“Kalau begitu—sekarang dia di mana!?”
Tanpa sadar suaraku meninggi.
“Siapa tahu?”
Jawaban yang kembali justru dingin tanpa emosi.
“Kenapa kalian bertemu dengan dia!?”
Detak jantungku melonjak drastis.
Namun ekspresi mereka berempat tetap tenang—terlalu tenang.
Perbedaan itu membuat emosiku hampir meledak.
“──Demi kamu, Satoshi-kun.”
Satsuki berkata pelan.
“Hah? Demi aku?”
Aku tidak mengerti. Pikiranku tidak bisa mengejar maksudnya.
“Satoshi-kun… belakangan ini, kamu bahagia?”
“...Apa maksudmu tiba-tiba?”
“Jawab saja.”
Saat aku sadar, Reine, Shuna, dan Shino juga menatapku.
Di situasi seperti ini, aku tidak punya pilihan untuk diam.
“──Aku sangat bahagia.”
Aku menjawab dengan tegas.
Pada saat itu, terdengar suara seseorang menahan napas—dari arah Hibise.
“Begitu… kalau begitu, syukurlah…”
Satsuki menghela napas lega, bahunya sedikit rileks.
“Waktu kami memulai hidup seperti ini… kami berempat berjanji akan membuatmu paling bahagia.”
Lalu, ekspresinya mengeras.
“Dan untuk mendapatkan kebahagiaan itu—【LoD】 adalah penghalang.”
Dari sisi Hibise terdengar suara kecil.
“Bagi kamu, 【LoD】 itu kenangan yang ingin kamu lupakan, kan?”
“...Ya.”
Sebuah neraka, di mana semuanya dihapus dan aku harus menerima takdir kematian.
Aku tidak ingin mengingatnya lagi.
“──Itu adalah pemicu yang akan membuatmu mengingat neraka itu lagi.”
Reine melanjutkan.
“Walaupun kamu mencoba bahagia, kalau melihat itu, kamu akan mengingat masa lalu. Itu terlalu menyakitkan…”
“Reine…”
Suaranya sedikit bergetar.
“Satoshi-san.”
Shino berbicara dengan tenang.
“Kemungkinan besar benar bahwa kami adalah penyebab dia menghilang.”
Ia mengatakannya dengan jelas.
“Dan pemicunya… adalah kamera pengawas yang Hibise-san temukan itu.”
Pandangan kami tertuju ke ponsel di atas meja.
“‘Kalau tidak ingin ini sampai ke polisi, menghilanglah dari hadapan kami.’
──Itulah yang kami katakan.”
Lalu ia menghela napas.
“Sepertinya bajingan itu menepati janjinya, jadi setidaknya kami bisa sedikit lega.”
“Jadi begitu…”
Alasan dan motifnya akhirnya tersambung.
Namun, rasa janggal di dalam dadaku tidak hilang begitu saja.
“Maaf ya~”
Shuna mendekat dan menggenggam tanganku.
“Kalau kami bilang ke kamu soal ini, kamu pasti akan menentang kami~”
“...Ya.”
Bahkan sekarang pun, setelah tahu semuanya, amarahku belum hilang.
“Tapi kan~, kamu itu bukan orang dari 【LoD】, kamu reinkarnator, kan~?
Jadi urusan 【LoD】 itu kami yang akan membereskannya~”
“Sudah, cukup. Aku mengerti.”
Masih banyak hal yang belum kupahami.
Tindakan mereka yang dulu kupikir sudah berhenti—ternyata bara apinya masih tersisa.
...Jujur saja, aku ingin mengeluh.
Tapi tetap saja, aku harus mengatakannya.
“──Terima kasih… karena melakukan ini demi aku.”
Kata-kataku terdengar lebih lembut dari yang kukira.
“...Kamu tidak marah?”
“Tentu saja aku marah!”
Tanpa sadar suaraku meninggi, membuat mereka berempat tersentak.
Aku menggaruk kepala, lalu menatap langit-langit.
“...Aku senang kalian memikirkan kebahagiaanku. Tapi…”
Aku menatap mereka lurus.
“Aku tidak mau hidup yang harus kalian tanggung sendirian.”
“Satoshi-kun…”
Ada rasa terasing, seperti aku ditinggalkan.
Aku sudah menjadi bagian dari dunia ini.
Masa lalu kehidupanku sebelumnya—tidak lagi penting.
“Maaf, Hibise. Jadi—”
Aku berhenti.
Saat menoleh ke samping, Kyouka terlihat gemetar.
Bahunya bergetar kecil, napasnya pendek.
“Kenapa…”
Suaranya serak.
“Kenapa… kalian tahu tentang 【LoD】…?”
Ia menatap mereka berempat.
“Seharusnya kalian tidak bisa mengingat Senpai… jadi kenapa…?”
Kami saling bertatapan.
Satsuki berdiri perlahan, membuka lemari, lalu tanpa ragu mengambil sesuatu.
Sebuah buku catatan.
“Tidak mungkin…!”
Begitu diletakkan di meja, mata Hibise membelalak.
“Begitulah. Kami membaca 【buku harian】 itu.
Masa lalumu… perasaanmu… semuanya.”
“──”
“Termasuk… betapa buruknya hal yang sudah kami lakukan.”
“‘Itu semua karena paksaan dunia,’ begitu kan?”
“Walaupun begitu… kami tetap harus menyesalinya selamanya.”
Topik ini sudah dibahas berkali-kali.
Namun kami tidak pernah menemukan titik temu.
“Lebih penting lagi—”
“...Hibise?”
Ia tetap menunduk, tidak bergerak sedikit pun.
Wajahnya tertutup poni, tidak terlihat ekspresinya.
“──Harusora Hibise-san.”
Shino berbicara pelan, langsung ke inti.
“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”
Ia melanjutkan meski Hibise tidak mengangkat wajah.
“Fakta bahwa kamu adalah karakter mob di 【LoD】… kami sudah menyadarinya.”
“Eh!?”
Tanpa sadar aku bersuara.
Ini benar-benar di luar dugaan.
“Kami juga memainkan 【LoD】, lho~”
“Eh? Eh?”
“Ini buktinya.”
Mengabaikan kebingunganku, Reine mengeluarkan laptop dari belakang sofa dan meletakkannya di meja.
Juga ada kotak game yang familiar.
Di layar—
terlihat empat karakter dengan wajah yang sama seperti mereka di depanku.
Aku bolak-balik melihat layar dan kenyataan, lalu tanpa sadar menepuk meja.
“Kalian benar-benar memainkannya!? Kalian sendiri adalah heroinenya!?”
“Tentu saja! ──Walaupun rasanya paling buruk.”
Ekspresi Satsuki jelas muram.
“Melihat diri sendiri ‘ditaklukkan’ itu pengalaman yang langka banget ya~”
Nada suara Shuna santai, tapi emosinya mati.
“Benar-benar… hidup ini menarik ya~”
Namun yang terasa hanya rasa tidak nyaman.
“Memang.”
Reine menyilangkan tangan dan berkata dingin.
“Rasanya seperti menonton masa lalu memalukan kita diputar secara real-time.”
Penolakannya sangat jelas.
“Fufu…”
Shino menghela napas kecil.
Menunduk, memilih kata-katanya dengan hati-hati.
“Kalau membayangkan ini ditonton oleh banyak orang, rasanya benar-benar menjengkelkan. Game di mana kami berakhir bersama orang itu…”
Ia berhenti sejenak, lalu perlahan mengangkat wajahnya.
Senyumnya tetap lembut seperti biasa.
“Bagaimana kalau kita hancurkan saja perusahaannya?”
Nada bicaranya terdengar seperti bercanda, namun suasana tiba-tiba menjadi lebih dingin.
“──”
Aku tidak bisa berkata apa-apa…
Kata-kata penghiburan, maupun candaan untuk mencairkan suasana—semuanya terasa terlalu ringan.
Sedikit saja salah bicara, rasanya seperti akan menginjak ranjau.
Karakter dalam game… menaklukkan karakter yang merupakan diri mereka sendiri?
Keanehan itu sulit dicerna.
Shino tetap menatapku sambil tersenyum.
“Dari penyelidikan keluarga Shinonome, kami sudah mengetahui bahwa Hibise adalah junior kami. Kalau sudah sejauh itu, tinggal mencari saja dari CG upacara masuk.”
“Lalu, kemungkinan Hibise pernah bersama Satoshi-kun saat SMA juga muncul, ya~. Soalnya, kami tidak sebodoh itu sampai memberi celah pada mahasiswi untuk jatuh cinta padanya~”
“Begitu ya…”
Kemampuan invest mereka membuat punggungku merinding.
Kalau benar-benar selingkuh… aku bisa saja dibunuh.
“──Justru karena itu, aku tidak mengerti dirimu. Harusora Hibise.”
Reine menatap Hibise dari atas.
“Kenapa seorang karakter mob bisa menyadari 【LoD】? Dan juga—”
“Curang.”
Suaranya serak, memotong ucapan Reine.
“Curang curang curang curang curang curang curang…”
Kata yang sama terus keluar, berulang tanpa henti.
Seperti mantra—mekanis, tanpa emosi.
Logika runtuh begitu saja.
“H-Hibise?”
“Jangan sentuh aku!”
Saat Reine hendak menyentuhnya, Hibise menepis tangannya dengan keras.
Suara kering terdengar.
Hibise tetap menunduk, lalu berkata pelan,
“──Jadi begitu, ya…”
Nada suaranya yang lembut justru terasa menyeramkan.
“Kelompok ‘Tim Empat Arah’ yang posesif itu… kenapa bisa pacaran dengan Senpai… aku benar-benar tidak pernah mengerti…”
Ia perlahan mengangkat wajah.
Pertama menatapku, lalu mengalihkan pandangan ke mereka berempat.
“Padahal kalian tidak ingat apa pun, tapi cuma karena membaca 【buku harian】, kalian merasa sudah memahami kebenaran, ya~”
Ia tertawa.
Tawa tipis, kering, tanpa emosi.
“Benar-benar menyedihkan—kalian semua.”
Udara menegang.
“Kalian cuma memproyeksikan pengganti Sano Yuuto pada Senpai, kan?”
“──Kalau terus bicara sembarangan, aku bunuh kamu.”
Reine menjawab dengan suara rendah.
Shuna, Shino, dan Satsuki juga tidak bergerak.
Namun Hibise tidak gentar.
“Oh, oh, serem banget~”
Ia mengangkat bahu, tetap memprovokasi.
“──Kalau begitu, aku tanya ya.
Kalau kalian tidak tahu kebenarannya, kalian masih akan bersama Sano Yuuto sampai sekarang, kan?”
Untuk sesaat, ada kekosongan di antara mereka.
Namun Hibise tidak melewatkannya.
“Jangan bilang kalian tidak pernah memikirkannya ya~? Kalian sampai memilih universitas yang sama dengannya.
──Aku tahu itu.”
“……”
Mereka tidak menjawab.
Keheningan itu sendiri sudah menjadi jawaban.
“Kalian yang tidak bisa mengingat apa pun—budak 【LoD】—tidak mungkin berpikir bahwa kalian akan mati pada hari itu.”
Situasi ini sudah berbalik.
Tempat yang seharusnya untuk menghakimi kami, kini justru berubah.
Posisi hakim dan terdakwa sudah sepenuhnya terbalik.
Hibise tersenyum.
“Setelah menerima pengakuan menjijikkan dari orang itu, apa yang kalian rasakan~?”
Ia mendekat sedikit.
“Mungkin awalnya kalian marah besar. Tapi──”
Hibise menatap lurus.
“Aku satu-satunya yang tahu sisi baiknya.
Cinta bisa dimulai dari hubungan fisik.
Dia hanya sedang tertekan karena ujian.
Menunjukkan kekurangan berarti tanda kepercayaan.
Dia tidak bisa tanpa aku.
──Kalian berpikir seperti itu, kan?”
Tanpa jeda, ia melontarkan semuanya, lalu kembali tertawa sinis.
“Kalian benar-benar beruntung, ya. Bisa menyadari kesalahan kalian sebelum terlambat.”
“──Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?”
Satsuki akhirnya bertanya.
“Intinya—”
Nada suara Hibise naik tajam.
“Kalian itu tidak pernah benar-benar mencintai Senpai…!”
Suaranya meninggi.
“Kalian cuma ingin menghapus masa lalu saat kalian tertipu!
Kalian cuma tidak mau mengakui bahwa kalian pernah mencintai pria yang salah—itu cuma mekanisme pertahanan diri…!”
Kata-katanya mengalir deras seperti banjir.
“Perasaan Senpai pada kalian sudah tertulis di 【buku harian】, dan dia juga sedang terluka. Ini hubungan yang sejak awal sudah pasti menang. Hebat ya, heroine utama!”
Nada sarkasme yang tajam.
“Bahkan mengganti objek cinta dari Sano Yuuto ke Iriya Satoshi juga cuma seperti ganti baterai saja!”
“Hibise──!”
Aku melangkah maju.
Namun—
“Curang…”
Suara kecil.
Kelembutan yang bertolak belakang dengan sebelumnya.
“Ini curang…!”
Air matanya mengalir deras.
“Ini terlalu curang… tidak mungkin aku bisa menang…!”
Suaranya bergetar, pecah.
“Padahal kalian tidak punya kenangan apa pun…!”
Hibise menatap mereka berempat dengan tajam, lalu akhirnya menatapku—
dengan tatapan memohon yang lemah.
“Aku saja yang dilupakan… ditinggalkan sendirian…!
Dan sekarang bahkan satu-satunya jalan menangku juga hilang… ini curang…!”
Hibise meraih barang-barangnya dengan kasar, lalu berlari keluar tanpa menoleh.
“Hibise!”
Saat aku berteriak, yang tersisa hanya suara pintu tertutup.
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki menuruni tangga.
Di tengahnya, ada suara benda bergesekan dengan dinding.
Lalu—
semuanya menjauh… dan menghilang.
Keheningan jatuh menyelimuti ruangan.
Seolah tak ada satu pun yang bernapas, hanya suara detik jam yang terdengar jelas di telinga.
“Aku──!”
Tanpa sadar suaraku keluar, tapi terhenti di sana.
Mengejar.
Seharusnya aku mengatakan itu.
Namun entah kenapa, ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku, membuatku tak bisa bersuara.
Lidahku tak bergerak, pandanganku jatuh ke lantai.
Aku menunduk.
Aku sudah memilih.
Bukan Hibise—melainkan empat orang yang ada di sini.
Kalau begitu, mengejar Hibise sekarang… itu sama saja dengan pengkhianatan.
Perasaan yang entah penyesalan atau kebencian pada diri sendiri, sesuatu yang lengket dan tak nyaman, perlahan memenuhi dadaku.
“──Hibise memang menekan titik yang menyakitkan ya.”
Suara Satsuki terdengar tanpa amarah ataupun nada menyalahkan.
Hanya ada kelelahan… seperti seseorang yang sudah menerima semuanya.
“Kami memang tidak tahu apa-apa… itu benar. Kami hanya tahu dari membaca Buku Harian itu.”
Reine bergumam pelan.
“Bukan begitu. Aku… justru merasa senang.”
Mati tanpa bisa meninggalkan apa pun bagi siapa pun—itu benar-benar menyakitkan.
“──Namun…”
Shino melanjutkan.
“Apa yang dikatakan Hibise adalah fakta.”
Dengan tatapan tertunduk, ia mengatakannya dengan tenang.
“Kalau saja tidak ada Buku Harian itu, mungkin aku akan melakukan persis seperti yang dia katakan.”
“…Sejujurnya, aku mungkin tidak ingin tahu itu.”
Tanpa sadar aku tersenyum kecut.
Bagiku, LoD sudah berakhir sejak hari itu.
Di dunia yang seharusnya tidak lagi ada bagiku, mereka masih bersama orang itu.
Hanya membayangkannya saja membuat dadaku terasa tidak nyaman.
“──Aku sedikit iri pada Hibise ya~”
Shuna berkata dengan lembut.
“Karena dia lebih mengenal Satoshi-kun dibanding kami, kan? Dari cara bicaranya tadi.”
“Ya. Dia itu korban ‘kekuatan paksaan dunia’.”
Dengan satu kalimat itu saja, semuanya sudah tersampaikan.
“Jadi… Satoshi-kun juga…”
“──Melupakan Hibise.”
Keheningan kembali turun.
Kali ini lebih dalam, lebih berat daripada sebelumnya.
“──Pergilah.”
“…Eh?”
Satsuki menatapku lurus dari depan.
“Ini satu-satunya kali aku memaafkanmu karena ‘selingkuh’. Jadi… pastikan kamu ingat itu, ya?”
Nada suaranya sedikit bercanda.
Namun di balik matanya, ada kecemasan yang nyata—dan juga kepercayaan yang jauh lebih besar.
Dadaku terasa hangat.
Aku berdiri, lalu meraih gagang pintu.
Tanpa menoleh, aku hanya mengatakan satu hal.
“…Terima kasih.”
Lalu aku berlari keluar dari apartemen.
◇
Malam musim panas.
Besok sekolah dimulai lagi.
Mungkin karena aku berharap fajar tidak segera datang, sisa panas dari siang hari tidak punya tempat untuk pergi, sehingga terasa semakin menempel di kulit.
Setiap kali bernapas, seolah udara hangat itu masuk hingga ke dalam dada.
Kalau Hibise pulang naik kereta, aku sudah tidak mungkin mengejarnya lagi.
Namun, tanpa sadar kakiku justru bergerak ke arah yang berlawanan dari stasiun.
Saat berjalan menyusuri rel, di ujung deretan lampu jalan yang sudah familiar, sebuah taman muncul.
Tempat di mana hubungan kami berkembang secara menentukan.
Mungkin karena sudah berkali-kali datang ke sini, aku tidak lagi merasakan nostalgia.
Tempat ini hanyalah tempat di mana berbagai kenyataan menumpuk.
“──Ada.”
Hibise duduk di bangku.
Ia mengenakan headphone, mengayunkan kakinya di udara mengikuti irama musik.
Tubuhnya juga sedikit bergoyang.
Mungkin menyadari tatapanku, Hibise mengangkat wajahnya, melepas headphone, lalu menatapku dengan lemah.
“Boleh… duduk di sebelahmu?”
“…Silakan.”
Aku duduk di bangku itu.
──Panas.
Malam di musim ini seharusnya sedikit lebih bersahabat.
Sambil memikirkan hal tak penting seperti itu, aku terdiam beberapa saat.
“──Kenapa Anda tahu saya ada di sini?”
Hibise bertanya pelan.
“Entahlah… aku merasa kamu pasti ada di sini.”
“Itu bukan jawaban…”
Ia tersenyum kecut, seperti kesal tapi juga bingung.
“Kalau kamu sudah naik kereta, aku tidak bisa melakukan apa-apa.”
Aku berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“Tapi kalau kamu ingin bicara denganku, kupikir kamu akan menungguku di tempat ini.”
“──”
Di masa-masa neraka itu, aku sering datang ke tempat ini sendirian.
Untuk menghindari bad ending.
Kalau saat itu Hibise benar-benar bersamaku…
maka dia pasti tahu arti tempat ini.
“──Senpai memang orang yang jahat ya…”
Hibise tersenyum padaku.
“Tidak apa-apa Anda mengejar saya?”
“Ya jelas tidak boleh… aku sudah memilih mereka.”
Setelah jeda singkat,
“──‘Selingkuh cuma boleh sekali.’ Begitu katanya.”
Hibise terdengar menahan napas.
“Benar-benar menyebalkan, ya mereka…”
Keluhan itu keluar tanpa nada tajam seperti sebelumnya.
Hibise lalu menghadapku sepenuhnya.
“…Maaf tentang tadi.”
Ia menundukkan kepala dalam-dalam.
“Saya jadi melampiaskan emosi. Padahal para senpai tidak salah apa-apa…”
Tanpa mengangkat wajahnya, ia melanjutkan,
“Saya pikir… karena hanya saya yang tahu masa lalu Senpai, saya bisa memanfaatkannya.
Tapi──”
Ia menghela napas kecil, seolah mengejek dirinya sendiri.
“Bahkan itu pun tidak tersisa untuk saya.”
Lalu ia mengangkat wajah dan tersenyum.
“Tapi kalau dipikir-pikir… itu memang wajar.”
Ia melanjutkan,
“Karena Senpai sudah melakukan begitu banyak untuk mereka.”
Kemudian Hibise menatap lurus.
“Perasaan mereka… saya sangat mengerti.”
Entah sudah keberapa kali ia menghela napas.
“…Saya harus bagaimana, ya?”
Senyumnya seperti memohon.
Meminta agar aku meninggalkan mereka.
Kalau tidak bisa, setidaknya sekali saja berbagi tubuh dengannya.
Saat melihat ekspresi itu, aku langsung mengerti keinginannya.
Bahkan jika Satsuki dan yang lain tahu.
“Toh ‘selingkuh cuma boleh sekali.’”
Dengan alasan itu, aku bisa saja memeluk “korban kekuatan paksaan dunia” ini.
Alasan? Bisa dicari sebanyak mungkin.
Kalau aku mau, aku bisa dengan mudah memilih pilihan terburuk itu.
Tapi──
“Aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu, Hibise…”
“Kejam sekali. Setidaknya memeluk saya tidak apa-apa, kan?”
Hibise menggembungkan pipinya, bercanda.
Aku hanya bisa membalas dengan senyum samar.
“Sebenarnya… yang benar itu menjauhkanmu sekarang.”
Biarkan Hibise membenciku, dan selesai.
Melupakan gadis yang sudah banyak berkorban untukku, lalu hidup dikelilingi banyak wanita—
benar-benar pria sampah.
Seperti pria host yang dulu menyedot habis uang dan hati seorang wanita.
Kalau dia ingin menyalahkanku, silakan.
Kalau itu bisa membuatnya melangkah maju.
Menurutku, itu cara akhir yang paling benar.
“Tapi aku tidak mungkin melakukan itu padamu…”
Aku menghela napas kecil.
Alasan kenapa mereka berempat begitu dekat, jelas.
Karena mereka adalah rekan yang mengalami penderitaan yang sama.
Dipaksa mencintai Sano Yuuto, dan dibebani takdir mati jika tidak bersatu dengannya.
Karena itu, mereka saling menghargai lebih dari apa pun.
Dalam hal itu, aku dan Hibise sama-sama “korban kekuatan paksaan”.
Kami tahu rasa sakit dilupakan, dianggap tidak pernah ada.
Namun ada satu perbedaan besar.
Aku berhasil membuat orang-orang yang ingin kuketahui… mengetahui segalanya tentangku.
Dan mereka menerimaku.
Tapi Hibise tidak.
Hibise adalah diriku… yang keinginannya tidak pernah terwujud.
“Aku yang melupakanmu… tidak mungkin bisa menjauhkanmu, padahal kamu merasakan penderitaan yang sama…”
“Senpai…”
Namun, bukan berarti aku bisa mengabulkan keinginannya.
Aku sudah memilih mereka.
Meski aku mengejarnya dengan penuh dorongan, kenyataannya aku tidak bisa melakukan apa-apa.
Benar-benar tidak bisa.
Karena itu—
“──Lakukan sesukamu.”
“Eh?”
“Bukan berarti aku akan menolakmu. Kalau kamu ingin tetap di dekatku, silakan. Kalau mau jalan bareng juga… ya, tidak apa-apa.”
“Artinya──”
“Tapi yang aku cintai hanya mereka.”
Aku menghela napas dalam.
“Sampai kamu menemukan sesuatu yang bisa membuatmu melupakanku… lakukan sesukamu.”
Sebuah kelonggaran—sampai dia menemukan kebahagiaan lain.
Itu batas maksimal yang bisa kuberikan.
“…Anda sedang menguji saya?”
“Kalau kamu menganggap begitu… ya wajar.”
Membiarkannya bebas berarti menerima segala pendekatan darinya, kapan pun dan bagaimana pun.
“Kalau dipikir-pikir… bukannya ini seperti Senpai menjadikan saya cadangan?”
“…Ya juga.”
Satsuki dan yang lain pasti tidak akan suka.
“Tapi aku tidak akan jatuh cinta padamu.”
Satu orang? Tidak—empat.
Sejak awal, aku memang tidak punya sedikit pun yang bisa disebut kesetiaan.
“Dasar… paling buruk.”
Hibise mendesah kesal.
“…Jadi kamu ilfeel?”
Kalau dia menyerah di sini, itu lebih baik.
Setidaknya dia tidak terikat padaku.
“Tidak—justru sekarang saya makin bersemangat.”
Hibise tersenyum.
Cahaya di mata birunya bukan bercanda atau sekadar gengsi.
Itu tekad yang nyata, menyala dengan jelas.
Angin hangat musim panas berhembus melewati taman.
Sejenak, ia menghapus rasa lengket di kulit.
Di bawah lampu jalan, rambut emas panjang Kyouka berayun, memantulkan cahaya seperti serpihan kecil yang berkilau.
“…Begitu ya.”
Sebentar lagi Agustus.
Kalau ujian sudah lewat, libur musim panas panjang menanti.
Waktu terus berjalan, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ya sudah, kita pulang.”
“Iya…”
Hibise berdiri dari bangku dengan ringan.
“Aku antar sampai stasiun.”
“Tidak usah. Saya tidak mau makin berutang budi pada mereka.”
“…Baiklah. Hati-hati.”
“Siap!”
Melihat Hibise kembali bersemangat, tanpa sadar aku tersenyum.
“Oh iya, Senpai. Tadi kena angin, ada kotoran di rambut Anda.”
“Hah? Serius?”
“Iya. Saya ambilkan ya, diam saja.”
“Oke…”
Aku tetap duduk di bangku.
Hibise berdiri di depanku.
──Lalu, ada sentuhan lembut di dahiku.
“──Eh?”
“Kelengahan, ya~”
Begitu ia menjauh, pipinya langsung memerah, dan ia tersenyum seperti anak kecil yang berhasil melakukan keisengan.
“Kamu—!?”
Panas di wajahku langsung naik.
Saat aku menyentuh bagian dahiku, benar saja—sensasi tadi masih terasa.
“Hee~ Senpai… jangan-jangan… Anda malu, yaa?”
Senyumnya penuh godaan.
“Padahal tadi bilang tidak melihatku sebagai wanita, tapi cuma karena ciuman di dahi dari orang sepertiku saja sudah bikin sadar, ya~? Ayo dong, kasih tahu!”
Hibise menggodaku seperti anak nakal.
Namun melihat tingkahnya itu, panas di pipiku perlahan mereda, dan pikiranku kembali tenang.
“──Itu dia yang bikin kamu disayangkan.”
“Hah!? Maksud ‘disayangkan’ itu apa sih!?”
Padahal kalau dia tidak melakukan hal aneh, semuanya baik-baik saja.
──Yah, tapi tidak akan kukatakan.
Aku berdiri, lalu menepuk-nepuk celanaku untuk menghilangkan debu.
“Kalau begitu, aku duluan ya.”
“Ah, tunggu sebentar!”
“Hm?”
Aku menoleh.
“Ada satu hal yang… belum sempat saya sampaikan ke Senpai.”
Setelah berdeham kecil, Hibise menatapku lurus.
“Senpai… saya senang Anda masih hidup!”
Ekspresinya lembut, penuh kehangatan.
Tanpa sadar aku ikut tersenyum.
“──Terima kasih.”
“Iya!”
Setelah itu, Hibise berlari ringan. Saat hampir keluar dari taman, ia berbalik.
“Kalau begitu, Senpai… sampai nanti!”
“Ya, sampai nanti.”
Dengan senyum cerah seperti matahari, Hibise berlari menjauh ke dalam malam.
Aku pun melangkah ke arah berlawanan.
“…Hah.”
Bahu dan lenganku terasa lemas.
“Terus… aku harus jelasin apa ke Satsuki dan yang lain?”
Saat kembali ke kamar nanti, aku harus berkata apa?
Tanpa menemukan jawaban, desahan kecilku larut ke dalam malam.



Posting Komentar