no fucking license
Bookmark

Agapeia Short Story

Dalam perjalanan pulang dari sekolah penjaga, aku melihat Mizuki sedang jongkok di pinggir jalan. Aku pun buru-buru menghentikan motorku.

Awalnya aku khawatir dia sedang tidak enak badan, tapi segera kusadari bahwa kekhawatiran itu tidak perlu.

Soalnya, di depan tatapan seriusnya itu, ada seekor kucing belang cokelat.

“…………”

Mizuki mengulurkan tangan, seolah memanggil kucing itu untuk mendekat. Tapi si kucing sama sekali tidak mau mendekat. Justru ia tampak waspada, bulunya berdiri.

Mungkin secara naluriah, hewan itu merasakan kekuatan spiritual Mizuki yang luar biasa. Ya wajar saja, manusia yang lebih kuat dari harimau pasti terlihat menakutkan bagi mereka.

“……hmm”

Dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasa, Mizuki memiringkan kepalanya seolah kebingungan, lalu dengan suara pelan ia mencoba memanggil.

“……meong”

Gawat… gadis cool yang ngomong pakai bahasa kucing itu benar-benar tidak adil!

Jantungku hampir berhenti karena saking imutnya. Tapi berbeda denganku, si kucing malah mendesis, “Hisss!”, menunjukkan ancaman.

Dasar! Apa yang tidak kau sukai!? Adegan Mizuki pakai bahasa kucing itu bahkan tidak ada di dalam “YuuAga”! Ini momen super langka, tahu!

Tidak terima, aku pun langsung berlari ke minimarket terdekat, membeli camilan kucing berbentuk tube, lalu kembali secepat mungkin.

“……Makoto!?”

Aku jongkok di samping Mizuki yang tampak kaget, lalu membuka bungkus camilan itu dan menyodorkannya.

Dan seketika, kucing yang tadi hampir kabur itu langsung melesat seperti roket ke arahku.

“Ny-nyanya~!”

Padahal aku juga manusia yang punya kekuatan spiritual besar seperti Mizuki, tapi kucing itu sama sekali tidak peduli. Ia menjilat camilan itu dengan lahap, bahkan seperti minta tambah tanpa rasa malu. Memangnya tidak punya harga diri sebagai kucing liar?

Saat aku sedang memikirkan itu, Mizuki menatapku dengan tajam.

“……curang”

“Dasar polos! Kalau bisa mengambil hati kucing, proses dan caranya tidak penting!”

Aku tersenyum licik seperti penjahat, lalu membuka sisa camilan dan menyerahkannya pada Mizuki.

Dan pada saat itu juga—

Puluhan kucing tiba-tiba berkerumun ke arahnya.

“Bertambah!?”

Entah dari mana, hampir sepuluh ekor kucing sudah berkumpul. Ini bukan pulau kucing, tahu!?

“……tenang”

Meski terlihat sedikit panik menghadapi kucing-kucing yang mengeong keras mendekat, Mizuki justru tampak senang, sudut bibirnya sedikit terangkat.

Dalam sekejap, camilan itu habis dimakan, dan para kucing liar pun langsung berhamburan pergi.

“Dasar makhluk materialistis.”

“……kucing memang begitu.”

Di sampingku yang menghela napas, Mizuki menatap telapak tangannya dengan puas. Sepertinya sambil memberi makan, dia juga sempat membelai mereka dan menikmati lembutnya bulu mereka.

“Kalau kamu suka sekali, kenapa tidak pelihara saja?”

Saat aku mengusulkan itu, Mizuki langsung menggeleng.

“……tidak. Soalnya aku bisa mati.”

Bukan kucingnya, tapi dirinya sendiri—karena pertarungan melawan roh jahat. Jika itu terjadi, berarti dia meninggalkan tanggung jawab sebagai pemilik. Karena itu, dia tidak ingin memelihara hewan apa pun.

Tatapan matanya yang sedikit sedih mengatakan semuanya.

“Kamu serius sekali ya.”

Aku tersenyum kecut, tapi tiba-tiba Mizuki menatapku tajam.

“……ngomong-ngomong, yang tadi… kamu lihat?”

Tentu saja, kamu yang bilang “meong” tadi itu sangat imut—

Kalau aku mengatakan itu, sepertinya aku bakal disambar petir sampai hilang ingatan.

Jadi, aku pun mulai memutar otak, mencari cara untuk selamat dari situasi ini.
Posting Komentar

Posting Komentar