Baik itu dalam kebaikan maupun kejahatan, manusia cenderung tertarik pada orang-orang yang memiliki kepribadian yang kuat. Karena mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Aku sendiri tidak punya kepribadian yang kuat.
Dari kecil, hidupku hanya berputar di sekitar ibuku. Segalanya harus sesuai dengan keinginannya, dan membuatnya marah adalah hal yang paling menakutkan di dunia. Karena itu, aku tumbuh tanpa memiliki kemauan sendiri. Tanpa sadar, aku selalu membaca ekspresi orang lain sebelum bertindak, tanpa ada maksud apa pun.
Orang seperti itu memang jarang diperlakukan buruk, tapi di sisi lain juga sering diremehkan. Tidak ada yang takut membuatku marah, karena mereka tahu tidak akan ada konsekuensinya.
Kedengarannya sepele, tapi sebenarnya itu hal yang penting.
Sejak SD, sudah ada semacam kecenderungan untuk memihak para perempuan. Bahkan jika mereka yang bersalah seratus persen, begitu mereka menangis, posisi akan berbalik—dan akulah yang akan disalahkan. Akibatnya, anak-anak laki-laki jadi enggan melawan, karena tahu akan berakhir tidak menyenangkan.
Meski tidak separah itu, orang-orang juga tidak akan menyerang seseorang yang mudah marah dan mungkin nekat membawa pisau. Takut mati itu naluri.
Begitu pula di sekolah, murid yang suka mengadu ke guru jarang dijahili—karena semua orang takut dimarahi. Aku juga begitu. Sejak dulu aku paling benci dimarahi ibuku.
Akhirnya terbentuklah kebiasaan di mana “orang yang tidak melawan boleh diperlakukan sesuka hati.”
Ini berbeda dengan bullying. Bullying adalah tindakan kriminal yang jelas, bom waktu yang akan meledak suatu saat nanti. Sedangkan kondisi seperti ini, tanpa kesadaran dari si korban, bisa terus memburuk tanpa batas.
Teman-teman sekelasku tidak mengejekku karena jahat.
Buktinya, aku bisa ikut mengobrol dengan mereka. Ini bukan perundungan. Mereka hanya berbicara seenaknya karena berpikir, “Ah, Sagiri Keiya orangnya baik, dia tidak akan marah.”
Dan memang benar—aku tidak bisa marah.
Kadang aku merasa kesepian, kadang aku kesal sendiri, tapi aku selalu menahannya.
Ketika mereka berkata aku dan Eina tidak pacaran, ya, itu benar. Tapi kami tinggal serumah. Aku tahu sisi Eina yang tidak diketahui siapa pun. Rasa superior itu, entah bagaimana, menutupi semua kelemahanku.
Mungkin bisa dibilang aku memandang rendah mereka. Tapi meskipun begitu, kalau ada yang kesulitan, aku tetap ingin menolong. Itu sudah menjadi kebiasaanku yang sulit dihapus.
Dan justru karena itulah, rasa hormat orang lain padaku makin hilang.
Ibuku pernah bilang, “Kebaikan sejati adalah yang tidak mengharap balasan.” Ironisnya, orang yang mengajariku hal itu juga yang membuatku terjebak dalam rasa bergantung.
Anak mama?
Silakan saja bilang begitu. Karena bagiku, dulu ibuku memang segalanya. Seberapa pun aku tumbuh, dia tetap menjadi standar untuk menilai segalanya. Sebuah penyakit yang tidak sembuh-sembuh, bahkan setelah aku “dibeli” oleh Eina.
Kapan ya, aku bisa mulai menyukai diriku sendiri?
“Oi, bangun, woy!”
Suara ketukan di kepalaku membuatku tersadar. Tidak terlalu sakit, tapi cukup untuk mengusir kantuk. Aku menangkis dengan lengan, dan di depanku muncul wajah teman sekelasku—Masanaga Masayoshi—dengan senyum usilnya.
“Pelajaran udah kelar, tahu! Keiya, lo tuh gak ikut klub mana pun, tapi masih aja ketiduran di kelas, gimana sih!”
“Ah… maaf. Makasih udah bangunin.”
“Bangunin? Gue malah heran kenapa lo bisa tidur! Lo kan gak punya temen, gak pernah begadang juga. Jadi kenapa tidur, hah?”
“...nggak punya temen tuh gak ada hubungannya, kan?”
“Ya kali aja lo ketiduran gara-gara teleponan sampe malam.”
Dari kulitnya yang agak gelap, bisa ditebak kalau dia anak atletik—memang, Masayoshi anggota klub atletik. Badannya tinggi dan ramping, gerakannya lincah. Kalau ada pelajaran olahraga di luar kelas, dia pasti yang paling duluan sampai. Alasan sederhana: dia memang suka berlari.
Untungnya, karena itu, guru-guru menyukainya, dan nilai kepribadiannya pun bagus.
“Ah, gak tahu juga. Ngantuk aja, gitu. Emang kenapa nanya begitu tiba-tiba?”
“...Gue cuma butuh lo bentar. Ayo ikut gue sebentar, cuma beberapa menit.”
“Hmm…”
Karena masih setengah sadar, aku menuruti tanpa berpikir panjang. Saat berjalan, kesadaranku mulai kembali, tapi sudah terlanjur ikut, jadi ya sudahlah.
Dia membawaku ke toilet laki-laki, lalu bicara dengan wajah agak kikuk.
“Lo punya hobi yang sama kayak gue gak, kira-kira?”
“...Aku suka Eina.”
“Ya iya, udah tahu itu! Maksud gue tuh kayak—main game, nongkrong, karaoke, gitu-gitu!”
“Anak SMA ikut kencan buta? Kayaknya aneh deh. Lagian kenapa lo nanya begitu?”
“Tolong gue, Keiya.”
Kalimat itu langsung menarik perhatianku. Wajahnya serius, bukan bercanda. Dari nada suaranya, aku tahu dia tidak sedang mengejekku. (Lagian aku jarang bergaul, jadi dia juga pasti belum tahu sifat asliku.)
“...Lo kenapa? Ada masalah apa?”
“Gue gak mau bayar lagi!”
Dari ceritanya, waktu SMP dia anak yang biasa aja. Pas masuk SMA, dia pengin tampil keren tapi gagal, lalu takut dikucilkan. Jadi, pas kelas satu, dia ‘menyogok’ cewek populer pakai uang biar bisa kelihatan punya pacar. Katanya keluarganya memang kaya.
Lalu karena latihan di klub atletik, dia mulai punya teman, dan si cewek itu juga udah gak peduli lagi. Tapi belakangan, tiba-tiba cewek itu minta uang lagi.
Kalimatnya bisa diringkas seperti itu—teriakan penuh putus asa dari seseorang yang kepepet.
“Ya udah, jangan dibayar aja.”
“Lo gak ngerti, bro! Kalau dia nyebarin gosip jelek ke cewek-cewek lain, gue tamat! Kena skors juga bisa, terus bokap gue pasti ngamuk...”
“Oh, jadi tipe yang begitu. Aku ngerti. Dulu di SD juga ada yang kayak gitu. Tapi, aku gak yakin bisa bantu, loh.”
“Gue tahu! Tapi gue malu ngomong ke yang lain. Gue udah bohong bilang kami masih pacaran, dan sekarang... yah, gue malu sendiri. Tapi lo beda. Lo juga bayar Eina, kan?”
“Haah? Itu lagi? Dari mana sih gosip itu? Apa sekarang ‘bayar teman’ jadi hal umum gitu?”
“Oh, itu dari koran sekolah. Ada artikel kecil judulnya ‘Misteri Cowok Dekat Eina’, terus katanya hasil investigasi menunjukkan lo bayar dia buat jadi pacar.”
...Ya ampun.
Cuma karena klub jurnalis, bukan berarti bisa seenaknya bikin berita.
Mungkin guru tahu tapi sengaja diem aja. Tapi kalau gosip ini sudah nyebar ke tingkat kelas, ya sama aja kayak di internet—sekali tersebar, gak akan hilang.
“Yasudahlah. Jadi, gimana caraku bantu lo?”
“Gue tahu ini nyebelin, tapi... bisa gak lo jadi penggantiku? Gue pengin banget putus dari dia. Caranya terserah lo. Gue gak peduli kalau nanti muncul gosip kayak ‘ceweknya direbut Keiya’ atau apa pun itu. Yang penting gue bebas dari dia! Tolong, Keiya, gue mohon!”
◇
“Artikel?”
“Ya. Artikel di koran sekolah. Aku sendiri belum sempat baca, tapi kau juga belum lihat, kan?”
“Maaf, aku tidak tertarik pada hal seperti itu, jadi tidak tahu. Tapi bukankah hal semacam itu tidak penting? Hubungan kita bukan seperti yang mereka katakan. Lagipula, itu cuma gosip tanpa dasar.”
Seperti yang kuduga, Eina sama sekali tidak memedulikannya.
Dengan kekuasaan yang dia miliki, kalau pun merasa terganggu, dia bisa langsung melapor ke guru atau bahkan membubarkan klub pers.
“Atau mungkin, Keiya, kamu yang merasa terganggu? Tentang gosip kalau kamu membayar aku untuk berteman?”
“Hmm… tidak juga. Ya, agak repot sih kalau orang lain jadi salah paham, tapi kalau gosip itu bisa menutupi hubungan kita yang sebenarnya, aku rasa tidak masalah.”
Kalau seseorang benar-benar ingin menyelidiki hubungan kami, mungkin mudah saja. Kami naik mobil yang sama dan pulang ke tempat yang sama setiap hari. Hanya karena aku tidak ikut klub, jadi tidak banyak yang memperhatikan. Tapi kalau ada yang benar-benar ingin tahu, mereka pasti bisa menebak kalau hubungan kami lebih dari sekadar “teman”, meski tidak sampai tahu kalau aku “dibeli”.
Kalau itu bisa dicegah hanya dengan gosip kecil, biarlah.
Kupikir tidak perlu memusingkan klub pers itu lagi.
“Tapi yang lebih menarik, soalmu menjadi pengganti itu. Kamu memang temanku, jadi aku tidak akan ikut campur... tapi kamu benar-benar mau melakukannya?”
“Awalnya aku tidak mau, tapi... oh, tunggu. Maksudnya pengganti itu, ya seperti itu, ya?”
Karena gosipnya bilang aku membayar Eina, mereka mungkin berpikir aku orang kaya, jadi wajar kalau aku yang disuruh menanggung biayanya. Baru sekarang aku paham logikanya.
“Eina, uangku... masih bisa dipakai sebanyak satu miliar yen?”
“Tentu. Nilaimu tidak pernah turun sedikit pun.”
“Begitu, ya. Kalau begitu, aku terima saja permintaannya.”
Uang adalah bentuk nilai.
Seperti halnya ada kebahagiaan yang bisa dibeli dengan uang, ada juga nyawa yang bisa dipertaruhkan demi uang.
“Cukup berikan uang pisah, dan semuanya akan selesai. Mudah, bukan? Sama seperti yang dilakukan ibuku dulu.”
Meskipun waktu itu bukan uang pisah, tapi harga hidupku sendiri, rasanya mirip. Ada banyak kesialan yang bisa dihindari hanya dengan uang.
Sore harinya, aku kembali menemui Masanaga dan menyampaikan bahwa aku setuju.
“Eh, seriusan mau bantu!?”
“Kau kira aku bakal nolak?”
“Bukan begitu, aku cuma tahu ini permintaan konyol banget, jadi… makasih banget! Emang cuma lo yang bisa gue mintain tolong begini. Beneran, makasih!”
“Jadi, gimana caranya aku ketemu cewek itu? Aku gak kenal dia, jadi kalau gak ada arahan, aku gak bisa berbuat apa-apa. Lagian aku juga gak ngerti yang namanya ‘kelas sosial’ di sekolah ini. Buatku, cewek paling cantik ya Eina.”
“Haha! Ya, itu sih bener banget. Kalau ngomongin cewek yang bisa ‘dibeli’ pake uang, ya Eina lah orangnya. Tapi tahun lalu kita beda kelas.”
Kalau ada yang berani mencoba “membeli” Eina, pasti butuh uang dalam jumlah luar biasa. Tapi karena keluarga Masanaga katanya kaya, mungkin satu miliar yen tidak terlalu besar buatnya. Kalau benar begitu, berarti undian lotre yang sering heboh di TV itu sebenarnya sepele.
“Yaudah, nanti gue panggil dia ke kelas. Gue bakal bilang kalau yang bayar bukan gue lagi, jadi dia bisa putus dari gue. Lo tunggu di sini aja, oke?”
“Ya, silakan.”
Menjelang sore, Eina sudah menyiapkan uangnya. Entah siapa yang dia suruh membawakan, tapi di kursiku sudah ada koper hitam berisi uang tunai satu miliar yen. Biasanya, transaksi besar dilakukan lewat rekening, tapi aku bahkan tidak punya rekening bank, jadi begini saja. Beratnya? Tidak tahu, dan tidak peduli.
...Hari ini dia terlalu penurut.
Kupikir Eina bakal ngotot ikut atau ingin memastikan kalau cewek itu tidak lebih cantik darinya, tapi ternyata tidak.
“Dia udah datang. Sisanya urusan lo, ya.”
“Semoga berhasil putus darinya.”
Setelah Masanaga pergi, aku sendirian di kelas.
Sambil iseng mencoret-coret papan tulis, seorang gadis berambut pirang sebahu masuk ke ruangan. Tidak kukenal wajahnya—bukan teman sekelas, apalagi orang dari rumah Eina.
“Ehm, kau gadis yang dipanggil Masanaga, kan?”
“Terus, kamu siapa?”
“Temannya. Aku dengar kau minta uang terus darinya, dan dia sudah lelah. Mulai sekarang, aku yang akan membayar ganti dia.”
“Oh, aku udah dengar. Tapi kamu gak kelihatan kaya, deh. Aku ini mahal, tahu! Tapi wajar dong, aku pura-pura jadi pacarnya, masa gak dibayar mahal. Cewek secantik aku, mana mungkin pacaran beneran sama cowok kayak dia—atau kayak kamu. Kamu juga keliatannya ngebosenin banget.”
“Begitu, ya. Ya sudah, cepat saja kita selesaikan urusan ini.”
“...Hah?”
Aku juga tidak tertarik padanya.
Bahkan tidak ada kesan apa pun—hanya orang asing. Aku membuka koper dan meletakkannya di atas meja guru.
“Berapa pun yang kau mau, cukup hentikan hubunganmu dengannya.”
“Wah, gaya banget bawa koper segala. Tapi aku ini cewek mahal, tahu—eh... HAAAAAAAAAA!?”
Begitu koper dibuka, dia langsung menjerit, matanya membelalak seolah baru pertama kali melihat uang dalam jumlah segitu. Aku malah lega. Reaksi seperti itu membuat segalanya lebih mudah.
“Uang palsu...?”
“Kalau tidak percaya, silakan ke bank atau polisi untuk mengeceknya. Di dalam koper itu pas satu miliar yen. Kalau dari reaksimu, sepertinya cukup, ya.”
“C-cukup!? Cukup banget!! B-boleh aku hitung!?”
Dia mengambil satu ikat uang dan mulai menghitungnya dengan tangan gemetar. Sepertinya bakal makan waktu lama, jadi aku kembali mencoret-coret papan tulis sambil mendengar teriakannya:
“Seratus juta! ...Lima ratus juta!? Satu miliar!?”
Ya... reaksinya sangat khas orang biasa.
Melihatnya, aku sadar betapa aku sudah terbiasa dengan kehidupan di rumah Eina.
—Manusia yang silau oleh uang memang terlihat menyedihkan.
Aku tidak bermaksud menghina, tapi wajah ibuku terlintas di benakku.
Saat melihat uang, orang bisa kehilangan akal. Aku pernah melihat contohnya, jadi aku tahu kalau “uang punya kekuatan iblis” bukanlah kebohongan.
“Sudah selesai menghitung?”
“A-aku... aku hitung lagi di rumah! Ini gak masuk akal! Ini sungguhan!? Serius!?”
“Kalau begitu aku pergi. Tolong jangan ganggu dia lagi.”
“T-tunggu!”
Kupikir dia akan minta tambah, tapi ternyata tidak.
Syukurlah, karena koper itu sudah menguras seluruh uangku yang tersedia.
“E-eh, tunggu dulu! Kamu gak mau punya pacar, gitu?”
“Tidak. Aku tidak akan berpura-pura pacaran dengan orang yang tidak aku sukai. Lagipula, aku sudah punya seseorang yang kusukai. Jadi, sampai sini saja.”
Kali ini dia tidak mengejar. Aku bisa bernapas lega.
Aku tidak pernah menyangka akan menggunakan uang dengan cara seperti ini.
Kalau nilainya masih sama seperti saat aku “dibeli”, berarti masih tersisa dua miliar yen lagi. Tapi karena aku jarang menggunakannya, rasanya tidak terlalu berarti.
Begitu keluar dari gerbang sekolah, aku berpapasan dengan Masanaga yang sedang jogging di sekitar lapangan.
“Serius, udah kelar?”
“Ya. Semangat latihanmu.”
“Gue udah tahu, sih. Dia kirim pesan ke HP gue, bilang gak butuh gue lagi. Tapi... lo bayar berapa?”
“Tanya sendiri sama dia. Kalau aku jawab, malah bakal ribet.”
Aku berpamitan, menuruni tanjakan kecil, dan melihat mobil hitam yang sudah menunggu di depan. Begitu aku mendekat, pintu belakang terbuka otomatis.
Di dalam, Eina duduk dengan tangan di pangkuannya, mata terpejam.
“...Tidur?”
“Tidak. Aku menunggumu. Jadi, bagaimana? Negosiasinya berhasil?”
“Dia sampai terkejut lihat uangnya, jadi sepertinya berhasil. Meskipun rasanya aneh juga, memberi uang sebanyak itu pada orang yang bahkan tidak kusukai.”
“Orang bilang uang kotor tidak akan melekat di tangan. Bahkan kalau jumlahnya sangat besar, uang seperti itu biasanya cepat lenyap. Tidak ada yang benar-benar diuntungkan.”
“Uang kotor, ya…?”
“Dia pura-pura jadi pacar demi uang, bukan? Sebagai kontrak mungkin wajar, tapi aku cuma penasaran—uang sebanyak itu akan dia pakai untuk apa. Kalau untuk memperbaiki diri, bagus. Tapi kalau tidak...”
“Maksudmu apa?”
“Tidak ada. Lupakan saja. Selama dia tidak lagi mendekatimu, aku tidak peduli. Sekarang... ayo pulang, Keiya. Kembali ke ‘sarang cinta’ kita.”
Begitu tiba di rumah dan kembali ke kamar tidur, Eina langsung memutuskan untuk tidur sampai waktu makan malam.
Alasannya mungkin ada hubungannya dengan kenapa aku mengantuk di sekolah tadi. Semalam kami terlalu larut berbincang tentang ke mana kami ingin pergi kalau nanti sempat berlibur. Pembicaraan itu ternyata seru sampai membuat kami begadang, sesuatu yang jarang terjadi.
Aku sendiri sudah menebus kantuk itu di sekolah, jadi tidak masalah. Tapi untuk Eina, yang selalu menjadi murid teladan, pasti cukup melelahkan.
“Tuan Keiya, bagaimana rasa teh yang saya buat?”
“Hmm, enak. Terima kasih.”
Matahari musim panas masih lama terbenam.
Menikmati waktu santai di kursi ruang kaca seperti ini adalah salah satu hal yang menyenangkan dari rumah besar ini. Biasanya kursi di seberangku diduduki oleh Eina, tapi karena dia sedang tidur, kursi itu kosong.
Di dekatku berdiri seorang pelayan yang mendorong troli minuman — Haru.
Sebenarnya aku sudah bilang padanya dia boleh duduk, tapi dia menolak dengan sopan. Aku tidak tahu apa saja tugasnya sehari-hari, tapi sepertinya melayani aku dan Eina secara langsung bukan hal yang biasa.
“Ehehe... aku diajari sama Ayaka-san! Cara menyeduh teh ini, juga cara mengepang rambut seperti ini!”
“Dia memang hebat. Tidak heran nilai jualnya setinggi itu... Oh ya, Haru, aku ingin tanya sesuatu. Ada hal yang agak mengganjal dari perkataan Eina tadi.”
Karena masih terbayang obrolan kami di dalam mobil, aku pikir tidak ada salahnya menanyakan pendapat Haru—sesama perempuan.
Setelah mendengar penjelasanku dari awal sampai akhir, Haru meletakkan jari di dagu sambil berpikir keras.
“Hmm... mungkin cewek itu sebenarnya sudah punya pacar, Tuan. Tapi dia mempertahankan hubungannya dengan pacar itu menggunakan uang. Dan sekarang uangnya mulai menipis, jadi dia mencari sumber baru.”
“Tapi kalau dia sudah punya pacar, bukankah itu berarti selingkuh? Di depan orang lain, mereka tetap kelihatan seperti pasangan, kan?”
“Justru kebalikannya! Kalau pacar aslinya disembunyikan, ya karena hubungan itu tidak bisa diumumkan. Alasannya bisa banyak. Tapi kalau si pacar yang ingin menyembunyikan, berarti dia tidak benar-benar mencintai gadis itu—mungkin cuma main-main, atau ada hal yang membuat hubungan itu tidak bisa ditunjukkan ke publik.”
“Tidak bisa ditunjukkan... maksudmu seperti aku dan Eina?”
“Itu beda cerita, Tuan Keiya. Kalau di sekolah, biasanya berarti si pacar adalah... guru, misalnya! Ahaha, cuma dugaan, kok!”
...Guru, ya?
Secara teori, cinta itu bebas. Tapi bagiku, guru selalu identik dengan orang yang memarahi, bukan seseorang yang bisa dicintai. Sulit membayangkannya.
Aku menatap taman luas di luar kaca sambil kembali menyesap tehku.
“Haru, sebelum bekerja di sini, kau juga pelajar, kan? Pernah suka sama gurumu?”
“Hmm... ada teman yang suka sama orang dewasa, sih. Tapi sekolahku dulu kebanyakan guru tua. Aku tahu setiap usia punya pesonanya sendiri, tapi... yah, yang di sekolahku semuanya terlihat membosankan. Jadi aku sendiri gak pernah suka. Kalau pun ada, mungkin aku gak akan tahu—karena itu hubungan terlarang, kan?”
“Jadi cowok membosankan memang gak laku, ya. Aku juga baru dibilang begitu barusan.”
“Eh!? Siapa yang bilang!? Matanya rusak kali, ya!? Tuan Keiya itu sama sekali gak membosankan! Siapa sih orangnya? Kasih tahu namanya, biar saya kasih pelajaran sedikit!”
“...Aku gak marah, jadi tolong tenang, ya.”
Aku menahan tawa saat Haru tiba-tiba menarik keluar suntikan kecil dari balik rok seragamnya. Sambil menenangkannya, aku baru sadar—aku bahkan tidak sempat menanyakan nama gadis yang tadi kutemui di sekolah.
...Yah, sudahlah.
Toh kami tidak akan berhubungan lagi. Tidak ada artinya tahu nama seseorang yang hanya lewat dalam hidupku.
“Haru, boleh kutambah tehnya?”
“Tentu! Serahkan padaku!”
Aku menikmati soreku dengan tenang, merasakan kebebasan yang sudah lama tidak kurasakan. Setelah itu, aku kembali ke kamar Eina dengan perasaan puas.
Mungkin sebaiknya aku membangunkannya sebelum makan malam.
Aku memang tidak akan bosan hanya dengan menatap wajah tidurnya, tapi pelayan—terutama Ayaka-san—pasti akan kerepotan kalau Eina tidak segera bangun.
“Eina, sudah bangun? Kalau tidak bangun sekarang, nanti semua orang repot.”
Tirai di sekeliling tempat tidur hanya ditutup kalau kami tidur berdua—itu aturan yang dibuat oleh Eina sendiri. Karena itu, kesempatan melihat wajah tidurnya seperti ini cukup langka.
Dia tampak tidur sangat lelap, nyaris seperti mati, tapi dadanya naik turun perlahan—menandakan dia masih bernapas.
“...”
Aku duduk di sisi tempat tidur dan menatap wajahnya.
Aku sempat berpikir, apa benar dia akan terbangun kalau aku menciumnya seperti di cerita dongeng? Tapi yang lebih kuat darinya adalah rasa takjub.
Wajah tidur Eina begitu cantik, sampai-sampai terlihat seperti boneka—dingin, tapi menawan. Rasanya seperti sedang melihat karya seni.
“Eina... Eina.”
Aku mengguncang bahunya dengan lembut.
Mungkin karena belum terbiasa begadang, tidurnya jadi berat.
Saat aku terus mengguncangnya dengan sabar, tiba-tiba tanganku ditangkap.
“...Jangan... pergi...”
Pasti itu hanya mengigau.
Aku penasaran, mimpi seperti apa yang sedang dia lihat.
Satu-satunya kemungkinan aku meninggalkannya adalah kalau aku “dibeli” oleh orang lain... tapi siapa di dunia ini yang lebih kaya dari Eina? Dan kenapa mereka mau “membeli” diriku?
Tidak realistis. Tapi ya, mimpi memang seperti itu.
“Tidak akan pergi, Eina. Aku akan selalu di sisimu... sampai kau menganggapku tidak berharga lagi. Saat itu tiba, kau boleh menyingkirkanku.”
Karena aku memang tidak punya apa-apa.
Tidak punya alasan untuk hidup,
tidak punya tujuan yang ingin kukejar.
Dihina memang tidak menyenangkan, tapi rasa jengkelku tidak pernah benar-benar meledak.
Mungkin karena aku tidak tahu bagaimana harus menilai diriku sendiri. Aku tidak punya pendapat tentang diriku—kosong di dalam, hanya sebagian kecil dari kekosongan yang lebih besar.
Yang jelas, aku tidak menyukai diriku sendiri.
Sejak kecil, aku diajari bahwa memikirkan diri sendiri itu egois, dan menjadi egois adalah hal yang buruk. Sebaliknya, berbuat baik kepada orang lain adalah hal yang benar.
Karena itulah, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa jika Eina merasa bahagia setelah “membuang” diriku, maka aku akan menerimanya tanpa penyesalan.
“Aku mencintaimu, Eina. Kalau aku bisa membeli dirimu dengan uang... kira-kira berapa harganya? Nilai diriku sendiri mungkin tidak akan pernah cukup, ya.”
Saat aku memegang tangannya di bawah selimut sambil menatap wajah tidurnya, mata Eina perlahan terbuka. Begitu tatapannya fokus padaku, dia bertanya dengan suara lembut.
“...Keiya, kamu mencintaiku?”
“Ya. Aku sangat mencintaimu.”
“...Hehe. Terima kasih, aku juga mencintaimu.”
Dan seperti biasa, kami berbagi ciuman selamat bangun—entah yang keberapa kalinya.
Kali ini berlangsung lama, mungkin sekitar tiga menit.
Karena tubuh Eina masih lemah, akulah yang menahan kepalanya dan menyusupkan lidahku lebih dulu.
Lerok... chuu... jub...
Suara lembap itu hanya terdengar di antara kami berdua. Eina tersenyum lelah, seolah puas, lalu tampak benar-benar rileks.
“Sudah segar?”
“Masih agak mengantuk... Mungkin aku jalan-jalan sebentar ke taman. Atau kita turun ke kota? Aku tidak keberatan ke mana pun, asalkan kamu yang pilih.”
“Hmm... kalau ke kota, nanti bisa ketemu teman sekelas. Jadi lebih baik di taman saja. Lagian para pelayan juga akan repot menjaga kita.”
“Kalau begitu, mau mengantarku ke taman? Aku masih agak lemas.”
Aku tentu tidak mengomentari fakta bahwa barusan dia masih punya cukup tenaga untuk mencium begitu lama. Itu hanya cara Eina untuk manja.
Aku menggenggam jemarinya, lalu berjalan perlahan seperti sedang menuntun pasangan ke lantai dansa di malam pesta. Kami keluar dari kamar, menuruni tangga, lalu melewati pintu depan menuju taman di belakang rumah.
Hamparan rumput hijau terbentang luas sejauh mata memandang—nyaris seperti dataran di dunia fantasi.
Taman ini terlalu besar hanya untuk kami berdua; bahkan kalau seluruh pelayan berbaris di sini pun, masih terasa lapang.
Di ujung taman ada bangunan laundry, tempat para pelayan yang bertugas mencuci menghabiskan hampir seluruh waktunya.
Sementara di sisi berlawanan berdiri menara pandang yang dilengkapi teleskop untuk melihat kota dari kejauhan.
Di tengah-tengah antara keduanya ada paviliun kecil, biasanya digunakan saat pembersihan besar atau ketika Eina ingin bersembunyi dari tamu. Tempat itu tidak dilarang dipakai, jadi kadang para pelayan juga beristirahat di sana.
“Ah... sinar mataharinya hangat sekali. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Aku ingin berbaring di sini sebentar.”
“Nanti malah tidur lagi. Padahal ke sini buat menyegarkan diri.”
“Oh iya, benar juga~. Tapi walau taman ini sudah kulihat setiap hari, kalau datang bersamamu rasanya seperti tempat persembunyian kita setelah kabur bersama. Seharusnya aku ganti ke gaun putih, ya. Pakaian ini terlalu seperti baju tidur.”
“Sekarang gak apa-apa. Masih banyak waktu untuk datang ke sini lagi. Saat itu, tunjukkan saja berbagai sisi dirimu padaku, Eina. Aku akan senang melihatnya.”
“Kalau aku lakukan itu... kamu akan bersemangat?”
“...Hmm, jujur aja, aku tipe pria yang bisa bersemangat cuma dengan melihat wajah tidurmu, tahu. Jadi ya, kamu bisa menebaknya sendiri.”
Sambil berjalan tanpa arah di taman, kami saling bergandengan tangan, lalu secara alami menyesuaikan langkah.
“Masih ingat caranya?”
“Tentu. Aku sudah diajari.”
Musik hanya terdengar dalam kepala kami, tapi ritmenya sama.
Tanpa perlu aba-aba, kami mulai menari waltz di bawah langit sore. Gerakan kami mungkin belum cukup anggun untuk ditunjukkan pada orang lain, tapi cukup untuk membuat Eina tersenyum bahagia.
“Fufu, bagus sekali.”
“Ngomong-ngomong, Eina... kapan kamu siapkan uang satu miliar itu?”
“Sejak awal. Aku tinggal menelpon, dan mereka akan membawanya.”
“Tapi bukannya semua orang sibuk dengan pekerjaan rumah?”
“Aku tidak mengambilnya dari uang rumah tangga, jadi tidak masalah. Lagian repot kalau begitu, kan? Jadi aku minta pihak bank yang menyiapkannya. Karena jumlahnya besar, butuh waktu, jadi kupesan lebih awal. Setelah siap, tinggal kuberi pada pengawal untuk membawanya.”
“...Pantas saja aku merasa penjagaan di sekelilingmu agak longgar. Jadi sebenarnya pengawalmu selalu ada, hanya saja tak terlihat, ya.”
“Tentu saja. Aku memang tidak ‘membeli’ segalanya, tapi kalau untuk membeli jadwal mereka sepuluh tahun ke depan, aku sanggup. Aku hanya butuh kamu di sisiku, Keiya. Semua ini untuk melindungimu.”
“...Terima kasih, Eina. Kamu memang selalu baik padaku. Mungkin karena itu aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Gadis yang kuberikan uang satu miliar tadi bahkan sempat menawariku untuk jadi pacarnya, tapi ya... aku menolak. Karena bagiku, cukup ada kamu.”
“...Keiya.”
Waltz kami berakhir di situ.
Eina menunduk dan mengecup leherku. Ciuman itu kuat, hampir seperti gigitan—mungkin akan meninggalkan bekas kalau kulihat di cermin nanti.
Aku mencoba mengangkat tubuhnya, tapi dia justru melingkarkan kakinya ke pinggangku dan menempel erat di dadaku.
“Tidak berat, kan?”
“Tidak. Nih, buktinya aku masih bisa mengangkatmu sambil mengayun sedikit. Mungkin karena aku sering bantu kerjaan rumah, jadi fisikku lumayan kuat.”
“Begitu, ya. Bagus sekali... Dengan kekuatan itu, mungkin kamu bisa sedikit... lebih ‘kuat’ juga nanti.”
“Hah? Hei, jangan jadikan aku alat hiburan. Kalau bicara ‘hebat’, ini bukan taman hiburan, kan? Kita gak bisa naik roller coaster di sini.”
Aku hampir melanjutkan dengan bercanda—menyuruhnya saja membeli taman hiburan kalau mau naik permainan—tapi langkah seseorang di rumput menghentikanku.
Ketika menoleh, aku melihat Ikuba Hijiri berdiri tak jauh dari kami, wajahnya tegang dan matanya menghindar.
Ekspresinya jelas menunjukkan rasa bersalah—seperti seseorang yang tanpa sengaja mengganggu momen pribadi majikannya. Dia memainkan ujung rambut hitamnya yang diikat ke samping, tampak gugup.
Aku tidak tahu apakah dalam situasi seperti ini dia harus memberi salam formal, tapi sepertinya dia tak bisa. Di tangannya ada map tebal berisi banyak dokumen, mustahil untuk melakukan gerakan sopan.
Hijiri adalah adik dari Shion, keduanya dibeli oleh Eina sekaligus. Ciri paling mudah membedakan mereka: rambut panjang adalah Hijiri, rambut pendek adalah Shion. Atau kalau seperti pengalamanku—setelah mandi—yang tubuhnya lebih besar itu Hijiri, dan yang lebih kecil Shion. Tapi ya... sebaiknya aku hentikan pikiran itu sebelum kepalaku mulai aneh lagi.
“E-Eina-sama, maaf mengganggu di saat Anda sedang... menikmati waktu. Tapi laporannya sudah selesai.”
“Sudah selesai? Benarkah? Semua sudah diperiksa?”
“Ya. Kami bahkan mendapat bantuan dari pihak berwenang. Karena dianggap berisiko disimpan di ruang kerja, saya ingin menyerahkannya langsung kepada Anda.”
“Itu keputusan yang tepat. Aku memang tidak suka bekerja di ruang itu. Tapi sekarang kamu sedang mengganggu, jadi... anggap saja aku tidak melihat apa pun kali ini. Serahkan saja pada Yatsuka, dia sudah memperhatikan dari jendela sejak tadi. Tidak perlu menjelaskan lagi, dia pasti paham.”
“Ba-baik! Maaf telah mengganggu...!”
Hijiri buru-buru kembali ke arah rumah, wajahnya pucat.
Dia bahkan tidak lewat pintu depan, tapi memutar lewat dapur belakang—saking paniknya. Aku bisa mengerti kenapa dia takut pada Eina, tapi kalau dia terus begini, pekerjaannya bisa terganggu. Mungkin aku perlu memperhatikannya sedikit nanti.
“Eina, apa yang kau suruh dia selidiki?”
“Aku hanya ingin tahu bagaimana gadis itu memakai uang satu miliar itu. Bagi kita, jumlah itu sepele, tapi bagi orang lain tentu tidak sama. Aku hanya berharap dia tidak memakainya untuk hal yang sia-sia.”
◇
Memang aku yang menyerahkan uang satu miliar itu, tapi yang menyiapkannya adalah Eina.
Kalau dia tertarik ingin tahu ke mana uang itu pergi, aku tentu tidak berhak menghentikannya.
Jujur saja, aku pun juga penasaran.
“Yatsuka, berikan dokumen yang tadi diserahkan Hijiri.”
“Baik, silakan.”
Karena cahaya matahari sore cukup terang, kami berpindah ke ruang kaca dan membuka semua dokumen di sana.
Tempat itu memang bukan untuk keperluan semacam ini, tapi situasinya mendesak, jadi tak ada pilihan lain.
“Gimana caranya kalian menyelidiki ini? Maksudku, kita bahkan tidak tahu siapa gadis itu, kan?”
“Itu benar, tapi kalau dia sampai berpura-pura menjadi pacar teman sekelasmu, cukup selidiki sedikit saja, dan identitasnya akan ketahuan. Begitu tahu siapa orangnya, sisanya mudah.”
“Wah...”
Ternyata gadis itu bernama Sayama Akina.
Aku tidak tertarik, jadi cuma membaca bagian itu, tapi informasi yang tercantum luar biasa banyak: alamat rumah, data kependudukan, rekaman kamera pengawas di sekitar kota selama setahun yang menunjukkan kebiasaannya, toko-toko tempat dia berbelanja pakaian dan pakaian dalam, bahkan hasil pengukuran tubuh dari sekolah—tinggi, berat, ukuran tubuh—semuanya ada di situ.
Yang lebih gila lagi, bahkan riwayat hubungannya dengan laki-laki lain juga ditemukan, entah dari mana sumbernya.
Ada juga foto rumahnya, kosmetik yang dia pakai, dan nilai rapor sekolah.
Jumlah datanya begitu besar sampai aku merasa kewalahan hanya membaca sekilas.
“Tidak mungkin polisi sekalipun bisa menyelidiki sampai sejauh ini. Secara waktu pun rasanya gak mungkin.”
“Oh, bisa kok. Kalau dia sering datang ke toko tertentu, aku tinggal menelpon pemiliknya saja. Kalau mereka tidak mau bekerja sama, tinggal kuambil saja posisi atau izin usahanya.”
“Kami tidak bisa membiarkan Eina-sama menunggu terlalu lama, jadi kami percepat semua prosedur,” ujar Yatsuka dengan tenang.
“Kerja yang baik,” kata Eina tersenyum tipis. “Dengan begini, aku tahu lebih banyak tentang gadis itu daripada pacarnya sendiri. Bagaimana menurutmu, Keiya? Kau mau menjadikannya pacar?”
“Tidak sama sekali. Semua ini cuma bocoran data pribadi. Jadi... bagian mana yang menunjukkan ke mana uang itu dipakai? Informasinya terlalu banyak sampai mataku lelah membacanya.”
“Fufu... Jadi kamu benar-benar tidak tertarik, ya? Memang, kamu ini betul-betul terpikat padaku.”
“Jangan bilang begitu dengan nada aneh, dong... Memang sih, aku kadang... ya, deg-degan juga cuma dengan menggenggam tanganmu, tapi tetap aja...”
“Manis sekali. Tapi, baiklah. Kalau begitu, lihat bagian ini.”
Eina menunjuk beberapa foto hasil tangkapan kamera di kota.
Dalam foto-foto itu, terlihat Sayama bersama seorang pria yang tidak kukenal.
Setelah melihat rekaman lengkapnya (Yatsuka menyimpannya karena aku yang menyuruhnya), terlihat bahwa Sayama menghabiskan hampir seluruh waktu sepulang sekolah bersama pria itu.
Biasanya mereka bertemu di depan stasiun, pergi karaoke, berbelanja—kegiatan kencan yang tampak normal dan sehat.
Namun, saat malam tiba, semuanya berubah.
Keduanya berjalan menuju kawasan hotel.
Sayama mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian biasa, lalu masuk ke sebuah gedung tanpa papan nama.
Rekaman dari kamera di dalam gedung menunjukkan Sayama duduk bersama pria itu, segelas anggur di tangannya.
Pipinya memerah, dan terlihat jelas kalau dia sudah mabuk.
Kemungkinan besar dia dipaksa minum alkohol, hingga kesadarannya kabur—dan dalam keadaan itu, pria itu memintanya mengeluarkan uang, lalu mengantarnya pulang dengan taksi.
“...Ini jelas rekaman yang seharusnya tidak boleh kita lihat.”
“Yah, bahkan orang jahat pun masih butuh teknologi modern. Dan pemilik tempat itu pasti tidak mau ditangkap hanya karena menolak menyerahkan rekaman CCTV. Jadi santai saja, tidak usah dipikirkan.”
“Dari yang saya lihat,” tambah Yatsuka, “dia menggunakan uang di tempat yang seharusnya tidak boleh dimasuki anak sekolah. Dan sepertinya, dia benar-benar jatuh cinta pada pria itu.”
“Pria itu bernama Sugo Mitsuru. Katanya pengusaha muda yang memimpin perusahaan rintisan. Tapi kalau dilihat dari catatan keuangan perusahaannya, itu jelas perusahaan abal-abal. Laporan keuangannya dibuat rapi agar terlihat normal, tapi sebenarnya penuh rekayasa. Lokasi kantornya pun aneh, dan transaksi terakhirnya mencurigakan. Katanya perusahaan ‘spiritual’, tapi jelas arahnya sudah menyimpang.”
Eina mulai mengungkap satu per satu informasi tentang pria itu—begitu detail sampai aku malas bertanya bagaimana caranya dia mendapatkannya.
Tidak ada gunanya memikirkan bagaimana Eina dan bawahannya bisa melakukan semua ini.
Hukum atau sistem apa pun tidak akan menang melawan seseorang seperti Eina, yang bahkan bisa “memaksa hukum bekerja untuknya.”
“Jadi... singkatnya, dia ditipu?”
“Lebih tepatnya, dia menyumbangkan uangnya secara sukarela. Kalau dugaanku benar, hari ini juga dia akan menyerahkan uang satu miliar itu padanya. Kalau kau tertarik, bagaimana kalau kita lihat langsung?”
“...Kalau ternyata dia ditipu, kamu akan menolongnya?”
“Tidak mungkin. Kalau semuanya berjalan sesuai dugaanku, justru aku ingin melihatnya. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksi pria itu ketika tiba-tiba diberi uang sebanyak itu. Biasanya dia cuma mendapat beberapa puluh ribu yen dari gadis itu setiap hari, tapi sekarang... satu miliar. Aku ingin melihat wajahnya.”
Eina menutup map, menyerahkannya kembali pada Hijiri, lalu berdiri menuju kamar tidur.
Aku buru-buru mengejarnya, dan seperti biasa, dia sudah duduk di tempat tidur sambil mengulurkan kaki—menandakan aku harus memakaikan kaus kakinya.
Aku mendesah kecil sambil menuruti, tapi sebelum sempat mengganti bajunya, dia sudah berdiri hendak pergi.
“Eh, kamu gak ganti pakaian dulu?”
“Tidak perlu. Aku tidak akan turun dari mobil, dan gaun ini juga tidak memalukan untuk dikenakan di luar. Kecuali kamu ingin sekali melihatku dalam seragam sekolah.”
“Uh... n-nggak, bukan begitu... Oh iya, bolehkah Hijiri ikut? Kupikir dia masih merasa bersalah karena dimarahi tadi.”
“Kau ini selalu lembut bahkan pada orang-orangku. Baiklah, biarkan dia ikut. Siapa tahu ada pekerjaan untuknya nanti.”
Sudah lama aku tidak pergi ke kota lagi setelah kembali ke rumah itu.
Di mobil, aku duduk di tengah antara Eina dan Hijiri.
Karena Sayama adalah anggota klub musik, kami harus menunggu sampai kegiatan klubnya selesai.
Mobil berhenti di dekat stasiun, dan kami menunggu cukup lama.
Aku mencoba mengobrol agar Eina tidak bosan, tapi waktu berjalan begitu lambat.
“Jangan tiba-tiba diam begitu, nanti aku yang bosan,” katanya sambil menatapku.
Sepertinya dia tahu kalau aku kehabisan bahan pembicaraan.
“Aku senang menghabiskan waktu tenang bersamamu, Keiya, tapi kalau kamu terlihat tegang begitu, bagaimana kalau kamu ikuti saja instruksiku untuk mengalihkan pikiranmu?”
“Eh... instruksi apa?”
Dan di situlah semua kendali direnggut dariku.
Daripada mengalihkan pikiran, justru seluruh kepalaku hanya bisa fokus padanya.
Eina menyuruhku bermain adu jari dengan satu tangan, sementara tangan lainnya harus diletakkan di bahunya.
Dia tidak berkata apa pun lagi, tapi tanganku... perlahan bergerak lebih jauh.
Ketika jemariku menyentuh punggungnya, bagian yang paling lembut terasa di bawah telapak tanganku.
Eina tetap diam, tapi ekspresinya berubah, napasnya sedikit berat—dan di kursi sebelah, Hijiri sudah memerah sampai ke telinga.
Tiba-tiba suara dari kamera depan mobil memotong suasana.
“Eina! Lihat, itu Sayama!”
“Dengan koper itu juga!”
“Uangnya... satu miliar, ya.”
“Lihat, di sana ada pria itu. Sepertinya benar-benar dibawanya. Kejar mereka.”
Atas perintah Eina, mobil pelan-pelan mengikuti keduanya.
Dari gerak bibirnya, jelas pria itu langsung bertanya tentang koper besar yang dibawa Sayama.
“Hijiri, bacakan dari bibir mereka.”
『Koper itu apa? Berat sekali, ya.』
『I-ini... pendapatan tambahan! Mitsu-chan, perusahaanmu masih baik-baik saja, kan? Uang sebanyak ini pasti bisa membantu, kan!?』
『...Baiklah. Ayo kita lihat di tempatku dulu.』
Tanpa jeda, Hijiri melaporkan hasilnya.
Aku tidak tahu seberapa akuratnya, tapi kelihatannya tepat.
“Hijiri, kamu bisa membaca gerakan bibir? Hebat juga!”
“Terima kasih... saya sempat kehilangan pendengaran untuk sementara waktu dulu, jadi saya belajar.”
“Yang seharusnya kau banggakan bukan itu, tapi penglihatanmu,” ujar Eina dengan tenang. “Tapi ya sudah, lanjutkan pengawasan.”
Mobil hitam kami mengikuti mereka dari jauh—terlihat mencurigakan, tapi pasangan itu tampak tidak menyadarinya.
Mungkin karena mereka terlalu tenggelam dalam dunia mereka sendiri.
Ketika Sayama menyerahkan koper itu dan pura-pura tidak kuat mengangkatnya, ekspresi pria itu berubah drastis.
Dia pasti merasakan berat uang itu.
Satu lembar mungkin ringan, tapi jika sudah segepok—beratnya nyata.
Wajahnya jelas menunjukkan rasa tidak percaya, seolah sedang berpikir dari mana gadis ini bisa membawa uang sebanyak ini?
Kalau dia berpikir Sayama mencuri atau merampok untuk mendapatkannya, dia seharusnya melapor ke polisi.
Tapi sepertinya dia tidak sebaik itu.
Pria seperti dia, yang biasa menipu gadis-gadis muda demi uang, pasti lebih takut kehilangan sumber penghasilannya.
Padahal kenyataannya, uang itu datang dari sumber yang jauh lebih berbahaya daripada kejahatan biasa... tapi itu urusan lain.
“Eina-sama, saya ada usul,” kata Hijiri tiba-tiba. “Bagaimana kalau kita ikut sedikit mencampuri ‘eksperimen satu miliar yen’ ini?”
“Oh? Jarang sekali kau mengajukan usul. Seperti apa maksudmu?”
“Hmm... begini...”
Hijiri tampak ragu, tapi Eina sudah terlihat tertarik.
Dia mengangguk kecil, lalu mengangkat ponselnya.
“Menarik juga. Baiklah, aku ikut idemu. Aku akan membuat perusahaan pria itu bangkrut sekarang. Jadi bersiaplah untuk bergerak kapan saja.”
“Bangkrut...?”
Kata itu saja sudah cukup membuatku tercekat.
Dalam istilah mudah, bangkrut berarti perusahaan sudah tidak punya uang untuk melanjutkan operasionalnya.
Beda dengan “tutup usaha”, yang dilakukan atas keputusan sendiri. Bangkrut berarti tidak bisa lagi melanjutkan meski mau.
Biasanya, butuh banyak prosedur—urusan pajak, dokumen, asuransi, dan sebagainya.
Tapi bagi Eina, semua itu bisa selesai hanya dengan satu panggilan telepon.
“B-bisa kamu lakukan itu? Maksudku... bolehkah kamu melakukan hal seperti itu?”
“Orang biasa tidak bisa, tentu saja. Tapi tidak penasaran kah kamu, Keiya? Bagaimana reaksi pria itu ketika tahu perusahaannya tiba-tiba bangkrut tanpa sepengetahuannya? Apa dia tetap akan memanfaatkan gadis itu, atau malah memulai perusahaan baru dengan uangnya? Semua tergantung padanya... dan aku ingin tahu bagaimana mereka akan bergerak setelah ini.”
“Y-ya, aku penasaran sih... tapi bukannya prosesnya butuh waktu lama?”
“Tidak juga. Paling butuh beberapa jam. Semua pihak terkait akan bergerak dengan sendirinya.”
“...Kau benar-benar luar biasa.”
Eina tersenyum lembut.
“Perempuan bisa lebih menakutkan daripada yang kamu pikir, Keiya. Aku bahkan ingat dengan jelas berapa kali kamu bersemangat sejak awal tahun ini—dan bagian mana dari tubuhku yang kamu lihat saat itu.”
“Ugh... m-maaf...”
"Padahal sedang menikmati."
Setelah basa-basi secukupnya, Hijiri menampilkan rekaman kamera toko secara real-time di komputernya. Sudutnya berbeda dari sebelumnya, jadi alih-alih diberikan, mereka mungkin baru memasangnya secara diam-diam.
Saat Eina menelepon, kedua orang itu sudah masuk ke dalam toko.
Di dalam, mereka tampak gembira melihat koper yang terbuka, dan berkumpul mengelilingi Sayama, dipimpin oleh Sugo, untuk menghitung isinya. Sepertinya semua orang di toko itu terlibat... atau setidaknya terhubung dengan Sugo meskipun tidak ada hubungan dengan perusahaannya.
『Uwaaah, seratus juta yen!』
『Gila...』
『Waaaaah! Serius, Sugo! Kau hebat! Hei, hei, hei! Bukankah kita harus membuka arak itu sekarang! Ini kan seratus juta! Kan?!』
"Apa ada arak seharga seratus juta yen?"
"Ada, tapi tidak akan terlihat di tempat seperti ini. Kalau kau tertarik, mau kucari di ruang bawah tanah rumah? Mungkin ada yang bernilai empat ratus juta, bukan seratus juta... Tapi anak di bawah umur tidak boleh minum alkohol."
"Aku tidak bilang ingin minum! Aku cuma penasaran apa ada yang harganya setinggi itu."
"Botolnya sudah keluar... Tapi menurut penglihatanku, itu tidak mungkin bernilai seratus juta yen."
Keahlianku menilai terbatas, jadi aku bahkan tidak bisa memastikannya. Eina tampak sedikit kecewa.
"Akan lucu kalau benar-benar muncul, tapi ternyata benar-benar kosong. Melihat ini, sepertinya dia menggalang dana dengan alasan mendukung toko, bukan karena masalah perusahaannya. Mungkin toko yang dikelola temannya sedang kesulitan... Tapi kenyataannya, dia membagi uang itu untuk dirinya sendiri, atau mencatatnya sebagai aset perusahaan untuk menutupi kerugian."
"Jangan bicara yang mustahil... Ah, dia membuka botolnya dan menuangkannya ke semua orang. Apa seratus juta bisa diperlakukan sebegitu sembrononya?"
"Sudah kubilang itu kosong. Mengambil seratus ribu atau dua ratus ribu dari wanita yang baru saja memegang seratus juta yen tidak akan menyebabkan kerugian besar. Kerugian itu, mungkin, akan datang ketika dia kehabisan uang. Dan jika itu terjadi, dia mungkin akan dibujuk untuk syuting video mesum di studio di belakang gedung ini. Merayu seseorang dan membuatnya terus menyumbangkan uang itu luar biasa. Dia pasti akan menyetujuinya."
"Tapi, dia mendapatkan uang dari sumber lain, jadi kerugiannya tidak akan terasa."
"Dan dia, yang bukan orang dalam sekolah, tidak tahu tentang itu. Makanya hubungan mereka bisa terus berlanjut. Tapi matanya dibutakan oleh seratus juta, dan kelemahannya terlihat."
Eina menatap kamera dengan kekecewaan yang mendalam, lalu tersenyum seolah menertawakan kontradiksi dirinya sendiri. Aku ingat, dia menatap Ibu dengan tatapan yang sama saat dia membeliku darinya.
『Nah. Mulai hari ini, kau adalah milikku. Senang bertemu denganmu, Keiya-ku.』
Ciuman saat itu adalah yang pertama bagiku.
Meskipun ekspresiku mungkin tidak bagus, aku berpikir bahwa eksperimen Eina ini tidak masalah selama dia menikmatinya. Aku masih mencintainya. Aku jatuh cinta lagi dengan setiap gerakan kecilnya. Bahagia rasanya memiliki orang yang kucintai di sisiku.
Itu terjadi karena aku dibeli dengan uang.
Jika aku menganggap ini buruk, aku juga harus menganggap buruk situasi yang kualami. Karena kami sama-sama bergerak dengan uang Eina.
『Terima kasih, Akina-chan! Aku tidak tahu kau sekaya ini! Terima kasih banyak! Ini akan membantu bisnis toko ini bangkit sedikit!』
『B-benarkah!?』
『Ya, jadi... uangnya sudah cukup. Terima kasih selama ini! Aku merasa tidak enak jika terus menerima uang darimu, jadi mungkin kita tidak perlu bertemu lagi...』
"Lho? Kenapa alurnya berubah?"
"Jika kau tahu kau dicintai, manipulasi itu mudah. Mengubah posisi pun mudah."
"Maksudnya, sebelumnya dia di posisi yang mendukung dengan uang, tapi setelah ini dia akan berada di posisi yang membayar untuk mempertahankan hubungan. Yang penting adalah perasaan bahwa dia sendiri yang membayar. Meskipun ada orang yang rasional yang mencoba menghentikannya, dia akan merasa tidak ditipu."
Seperti yang mereka berdua katakan, alur ceritanya tidak berubah. Sugo menyeringai, menenangkan gadis itu yang memohon ingin lebih sering bertemu dengannya. Ketika dia mengatakan bahwa tidak ada alasan lagi untuk bersama, Sayama dengan ceroboh melemahkan posisinya. Jika dia bisa membuatnya mengatakan bahwa dia akan membayar lagi agar bisa tetap bersama, pihak Sugo yang menang, dan itu adalah pertandingan sepihak yang berlangsung kurang dari satu menit.
"Uang habis, hubungan putus... Nah, permintaan apa yang akan dia ajukan besok? Jika dia tidak bisa membayar, kemungkinan besar dia akan dibujuk untuk menjual tubuhnya, tapi karena itu dia, kurasa dia akan meminta uang lagi. Dan pihak sana akan salah mengira bahwa dia lebih kaya dari yang dibayangkan, dan menaikkan jumlah permintaan uang..."
"T-tapi perusahaannya akan bangkrut, kan? Aku belum pernah mendengar kebangkrutan di mana prosedurnya diabaikan sepenuhnya dan orangnya tidak tahu. Bagaimana nasib itu?"
"Entahlah? Kebangkrutan... tepatnya kepailitan yang akan terjadi, dan jika itu terjadi, semua aset perusahaan bisa kami ambil. Sei akan mengambil uang tunai begitu prosedurnya selesai. Aku tidak akan menyalahkanmu jika kau membunuhnya, tapi tolong jangan sampai polisi kesulitan. Aset selain uang tunai akan kuserahkan pada negara."
"...Uang itu, masuk ke kantongmu?"
"Boleh saja, tapi jika bisa mengumpulkan sejumlah tertentu, mungkin aku akan menggunakannya untuk persiapan acara festival sekolah."
............Apa yang akan terjadi?
Kebangkrutan di mana orang yang bersangkutan tidak terlibat, bersamaan dengan penarikan seratus juta yen. Jika dikembalikan ke perusahaan, itu akan diambil, jadi haruskah aku menyimpannya di kantongku? Tidak, bahkan jika aku melakukannya, itu akan diambil... Tidak, tidak. Karena ini adalah kebangkrutan/kepailitan abnormal yang disebabkan oleh kekuasaan Eina, tidak ada pengambilan atau apa pun?
Aku memang tidak tahu. Apa yang akan terjadi? Meskipun dia jelas-jelas mengabaikan hukum, aku penasaran sejauh mana dia bisa membuat semuanya masuk akal.
"Nah, sudah dekat waktu makan malam, mari kita pulang. Hijiri, usulmu luar biasa."
"A, terima kasih... Merupakan kehormatan untuk dipuji."
"Aku juga semakin penasaran. Apa yang akan terjadi dalam kasus ini?"
"Kau juga mengerti romansa, ya. Yang bagus adalah yang tidak bisa ditebak. Prosedurnya mungkin sudah selesai saat kita sampai di rumah. Besok pasti menarik."
Saat kami sampai di rumah, Ayaka-san sudah menunggu, menyiapkan makan malam. Sepertinya dia sudah memperkirakan waktu kedatangan kami.
Kecuali hidangan yang memang dingin, makanannya baru matang dan hangat. Sensasi memasukkan nasi putih hangat ke mulut selalu penuh kebahagiaan.
"...Apa yang harus kulakukan?"
"Hm?"
Tema hari ini adalah Masakan Cina. Aku dan Eina masing-masing didampingi oleh Yatsuka-san dan Sei di samping kami (biasanya hanya Ayaka-san, tetapi hari ini koki tampaknya sedang sakit pinggang dan mengurung diri di kamar). Pakaian pelayan biasanya tidak terlihat, dan mereka mengenakan gaun cheongsam, yang sesuai dengan tema masakan. Ini juga hobi Eina. Dia tidak melakukan ini setiap hari, tapi sepertinya mood-nya sedang bagus hari ini.
Hijiri mengenakan gaun yang mirip miniskirt, sementara Yatsuka-san mengenakan gaun panjang yang menutupi sampai kaki. Dengan postur setinggi dan kaki sepanjang dia, kaki yang terlihat dari belahan (slit) gaun itu sangat sensual, dan setiap kali masuk ke pandanganku, jantungku berdebar. Belahan gaun itu mencapai pangkal paha, membuatku cemas bahwa suatu saat nanti akan terlihat saat dia berjalan.
Aku melemparkan topik acak kepada Eina sebagai tindakan darurat untuk menyamarkan kegelisahanku.
"Kurasa dia akan meminta uang padaku. Dia mengira aku anak dari keluarga kaya. Tapi aku tidak tahu seberapa banyak uang yang bisa kuambil, dan aku tidak suka dia sampai harus membayar permintaannya setiap saat. Aku melakukannya untuk menolong. Jadi... apa yang harus kulakukan?"
"Kau tidak perlu membayarnya. Inti ceritanya adalah bagaimana dia akan mencari uang ketika dia salah mengira kau kaya. Dan bagaimana pria itu akan bereaksi melihatnya enggan mengeluarkan uang padal dia sendiri yang memohon—Dalam dokumen investigasi Hijiri juga ada buku hariannya. Dia mabuk dalam apa yang disebut cinta sejati."
"...Aku tidak mengerti maksudnya."
"Melanjutkan hubungan dengan menyumbangkan uang itu memang sesat, tapi katanya dia tidak rugi karena suatu saat akan menikah dengan pria itu. Apakah itu benar-benar cinta sejati? Bagaimana menurutmu?"
"Hmm... Aku tidak tahu apakah ada jawabannya..."
Apa itu kebenaran? Apa itu cinta?
Ada banyak definisi yang ingin kutanyakan. Apakah cinta orang tua kandungku dulu adalah cinta sejati? Atau apakah kasih sayang Ibu padaku adalah cinta sejati? Aku tidak tahu apa-apa. Lagipula, aku belum hidup lama.
Meskipun begitu, ada satu hal yang bisa kukatakan dengan bangga.
"Aku dan Eina lebih romantis..."
Klang, suara sendok jatuh ke piring.
Eina memegang tangannya di dada, mengulangi napas yang tidak wajar dan berkedip, seolah menenangkan napas yang terganggu.
".....................................Benar. Jika ada yang namanya cinta sejati, itu pasti merujuk pada kita. Aku tidak menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu. Aku sangat senang."
"B-benarkah?"
"Ya. Perutku mulai terasa gatal... Mari kita mandi sedikit lebih awal hari ini. Aku akan memijatmu di bak mandi, sebagai hal yang istimewa hari ini."
◇
Sarapan pagi itu adalah masakan Jepang, dimulai dengan yudofu (tahu rebus) yang dibuat dengan cermat oleh Ayaka-san untuk menghangatkan perut. Dibandingkan dengan sarapan ala Barat, hidangan lengkap ini membutuhkan waktu lebih lama untuk dihabiskan. Namun, energi yang didapat luar biasa, dan kesediaan Ayaka-san untuk melayani permintaan tambahan sangatlah hebat. Aku tidak pernah peduli dengan jenis beras, tetapi itu pun bisa dipilih. Dan bagi yang belum kenyang dengan hidangan utama, dia bahkan membawakan alat panggang khusus untuk membuat dashimaki tamago (telur dadar gulung) di depan mata. Aku sungguh salut dengan semangat pelayanan Ayaka-san, meskipun itu mungkin bagian dari pekerjaannya. Dia selalu tersenyum dan penuh semangat... Benar-benar imut. Aku selalu berharap ada orang seperti dia di kelasku agar suasana menjadi lebih cerah.
"Baiklah, baiklah♪ Aku akan menuangkan tehnya sekarang!"
"Terima kasih."
Aroma hangat nasi yang baru matang bercampur dengan bau terong panggang yang direndam dan sentuhan shigureni (rebusan) daging sapi, serta aroma minyak wijen di atas ikan tai (kakap merah), semuanya menggugah selera. Pilihan tambahan yang kuinginkan adalah mengubah hidangan tai menjadi tai-chazuke setelah selesai menyantap hidangan utama. Eina sudah selesai makan, jadi dia boleh kembali ke kamar, tetapi dia tetap menemaniku sampai akhir.
――――――.
Aku mencoba memikirkan sarapan dan Ayaka-san, dalam arti tertentu, sebagai pertahanan diri. Jika aku menatap Eina, mau tak mau aku akan terfokus pada mulutnya. Karena tatapan itu akan langsung disadarinya, aku berusaha keras untuk tidak memikirkannya.
"Ada apa?"
"T-tidak... Bukan apa-apa."
"Keiya."
"Tidak, tidak! Benar-benar bukan apa-apa... H-hanya saja pijatan kemarin tidak bisa kulupakan... T-terlalu nyaman."
Aku pernah mendengar bahwa pijatan dari ahli terapi papan atas terasa seperti naik ke surga. Aku tidak punya pekerjaan atau usia yang memungkinkan untuk pergi ke sana, tetapi kenyamanan ini pasti mirip dengan itu. Jika kata merilekskan tubuh diizinkan, maka kata meleleh juga harus diizinkan. Bukankah ada ungkapan lemak yang meleleh sebagai versi superlatif dari daging yang lembut? Lemak yang meleleh begitu menyentuh suhu mulut dan rasa daging menyebar. Pijatan Eina mirip dengan itu.
Rasanya tubuhku seperti meleleh. Aku juga tidak bisa melupakan jari-jari Ayaka-san, tetapi yang ini berbeda. Itu sebabnya mataku terus tertuju padanya.
"Fufu. Aku senang kau puas. Tapi, tatapan seperti itu harus kau tahan di luar. Aku dan gadis-gadis di sini senang menerimanya, tapi orang lain tidak."
"T-tidak, aku tidak akan melakukannya sama sekali. Apalagi Eina terlalu cantik, aku tidak akan melirik yang lain!"
"Tidak perlu tegang begitu. Kita sama-sama hampir pingsan karena gairah kemarin, kan? Napasmu tersengal-sengal karena terpaku pada tubuhku, dan kau ingin menyentuhnya? Atau hanya karena uap air di pemandian besar?"
"K-keduanya............"
Aku ingin segera mengakhiri percakapan ini karena memalukan, tetapi Eina tampaknya senang dengan jawabanku. Ayaka-san mengacungkan jempol dari bawah kereta dorong, mengucapkan "Hebat!" kepadaku.
"Ehm, ehm. Terima kasih atas hidangannya!"
"Sarapan yang luar biasa hari ini, Ayaka. Sampaikan terima kasihku juga kepada koki."
"Bukan apa-apa, Nona~. Jarang Nona Eina mengatakan hal seperti itu, jadi aku pasti akan menyampaikannya! Kalau begitu, aku akan membereskan piringnya!"
"Nona Eina. Tuan Keiya. Mobil sudah siap!"
Haru datang ke ruang sarapan membawa tas kami berdua. Dia bukan pengemudi, hanya datang untuk menyampaikan pesan.
"Baik. Kalau begitu mari kita berangkat. Aku penasaran bagaimana reaksinya hari ini."
"Katanya aku tidak perlu membayar............ tapi aku merasa tidak akan bisa menolaknya. Gakumei juga terlihat tidak nyaman, dan meskipun ada Eina, aku juga tidak ingin ada rumor aneh di kalangan gadis-gadis."
Eina kembali menggenggam tanganku seperti sepasang kekasih, lalu berbalik.
"Hal seperti itu tidak akan terjadi. Aku akan melindungimu karena kau temanku, Keiya-kun. Tolak saja dengan tenang."
"............Kau tidak membelinya seperti Yukikura, jadi tolong jangan gunakan metode yang terlalu ekstrem. Tidak apa-apa, kan?"
"Aku akan mengurusnya sebaik mungkin."
Saat kami naik ke mobil, Miko (rekan Shion) dan Yurie-san yang berjaga di samping mobil membungkuk dalam-dalam untuk mengantar kami—lebih tepatnya, hanya kepadaku, "Kei-kun, sampai jumpa~."
Mobil mulai bergerak, tetapi jendelanya tertutup tirai. Sampai tiba, aku hanya bisa berbicara dengan Eina.
"Ngomong-ngomong, kebangkrutan? Kepailitan? Aku tidak tahu yang mana, tapi apakah sudah selesai?"
"Ya, dan sekalian, aku sudah menangkap para pihak yang terlibat, kecuali pria itu. Mereka melakukan tindakan kriminal, jadi polisi pun bersemangat. Meskipun tidak ada hubungannya dengan kasus ini, mereka tampaknya menggunakan perusahaan itu dalam skema penipuan."
"...Berarti, pria yang semua orang di sekitarnya ditangkap dan dilucuti asetnya, memegang seratus juta yen? Dan Sayama, yang tidak tahu itu, terus menyumbang? Begitu? Sungguh membingungkan. Apa yang sebenarnya akan terjadi?"
"Aku ingin melihat yang disebut cinta sejati itu. Di buku hariannya, dia bilang ingin menjadi istri direktur dan hidup mewah... Tapi apakah dia tidak menyadari kontradiksinya? Menikahi direktur yang meminta uang pada siswa SMA tidak akan membuatnya hidup mewah."
"I-itu kan namanya cinta itu buta. Lagipula, bukankah alasannya adalah bantuan untuk teman atau semacamnya? Dari alur ceritanya."
"Meskipun begitu, jika dia punya uang sendiri, dia seharusnya mengeluarkan uang saku. Jika aku punya toko seperti itu, aku akan mendukungnya dengan seratus juta, dua ratus juta, bahkan satu miliar."
"Itu karena kau yang luar biasa............"
............Tiba-tiba, aku penasaran.
Mengapa kekuatan Eina Ouhouin begitu besar? Ini pertanyaan yang terlambat, dan aku tidak terlalu ingin tahu sebelumnya, tetapi kasus Yukikura membuatku sedikit berubah pikiran.
"Hei, Eina. Aku merasa tidak enak jika melakukannya diam-diam, jadi bolehkah aku menyelidiki tentang dirimu?"
"............Boleh saja. Jika kau menemukan sesuatu, beritahu aku. Aku ingin tahu seberapa banyak yang bisa kau ketahui tentangku."
"............Maafkan aku. Aku tidak tahu apa-apa tentangmu."
"Tidak ada kata terlambat. Kau bisa mencari tahu sedikit demi sedikit."
Setelah itu, keheningan sesaat. Mobil tiba. Mobil berhenti di bawah tanjakan. Di sini, aku menjadi 'Keiya-kun'. Dan dia akan datang terlambat ke sekolah, memalsukan hubungan kami.
"...Aku pergi. Kita akan segera bertemu, tapi sekarang, aku pergi sebagai 'orang yang kau cintai'."
"Hati-hati di jalan―NGH? Djubu. Djubururu. Rero. Chu............"
Kali ini, aku yang secara paksa menciumnya, seolah menghisap lidahnya.
"............Aku mencintaimu, Eina."
"...Kadang-kadang, tindakanmu tidak bisa kutebak."
Aku keluar dari pintu mobil yang terbuka, dan kehidupan sekolahku dimulai. Dari sini, ini adalah hidupku sendiri, bukan sebagai milik Eina. Ada cara mudah untuk membedakannya: Eina tidak lagi memanggilku dengan sebutan akrab. Aku mencoba menahan diri untuk tidak melakukan tindakan bejat di rumah, tetapi ketika di sekolah, aku berusaha untuk menahannya. Hanya berusaha, lho. Aku bisa membuat alasan bahwa Eina tidak pernah menolak, jadi kadang-kadang kebiasaan itu terbawa. Ya, ini semua salah Eina.
『Jika kau tidak bisa mengikuti dorongan hatimu tanpa menyalahkan seseorang, salahkan saja aku. Aku ini orang penting, tahu.』
Aku mengingat kata-kata yang pernah dia ucapkan. Dia berkata begitu setelah mengetahui lingkungan masa kecilku. Dia memberiku jalan keluar. Dia memanjakanku dengan mengatakan aku boleh menyalahkannya seberapa pun aku mau. Jadi, Eina yang salah. Aku tidak salah. Aku suka Eina yang nakal. Ditambah dengan masa puberku yang terlambat datang, meskipun aku menyangkalnya secara lisan, aku melampiaskan hasrat yang membuatku pantas disebut mesum. Karena dia menerima semua yang kulakukan, termasuk rasa bersalah yang datang setelahnya, aku tidak punya batasan. Aku merasa sudah berbuat baik karena hanya batas terakhir yang tidak kulewati.
Namun, itu berarti semua batasan lain telah kulewati, dan dari luar, tidak ada bedanya. Jangan pasang wajah seolah kau menahannya. Jika aku menceritakan situasiku kepada anak laki-laki di kelasku, mereka semua akan mengatakan itu. Fantasi yang tidak berguna. Aku tidak bisa membocorkan tentang Eina. Tetapi benar juga bahwa tanpa keterlibatan Eina, orang sepertiku tidak akan mendapat perhatian. Aku tidak terlalu punya keinginan untuk menonjol, tetapi pemikiran itu selalu menyerang. Meskipun aku tahu aku tidak akan melakukannya, manusia akan selalu membayangkan apa yang akan terjadi jika aku melakukannya. Misalnya, aku selalu datang ke sekolah berbeda waktu dengan Eina, tetapi jika kami datang bersama, semua orang akan memperhatikan keberadaanku.
Biasanya, hal seperti itu tidak terjadi―
"Hei! Kau benar-benar melakukan apa!?"
"Beri tahu kami, dong!?"
"Eh? Eh? Eh?"
Aku merasa ada suasana aneh di kelas, tetapi aku tidak menyangka akan dikelilingi oleh laki-laki dan perempuan begitu mereka menyadari keberadaanku. Mungkin karena mereka biasanya meremehkanku, kegelisahan mereka terlihat jelas.
"Maaf, kalian bicara apa? Gakumei, ada apa? Aku baru saja datang, jadi aku tidak tahu apa-apa."
"Tidak, itu masalah kalau kau tidak tahu. Kami tidak bilang kau pasti melakukan sesuatu, lho. Tapi kalau kau bilang kau juga tidak tahu, itu sedikit horor, kau mengerti?"
"Kenapa?"
"Aku diminta uang lagi! Seratus ribu yen! Itu terlalu mahal! Aku tidak mungkin membayarnya!"
"Aku juga diminta! Dia bilang pinjam saja! Sebelum bisa meminjam, aku sudah tidak mampu membayarnya..."
"Di rumahku, dia benar-benar mengganggu, jadi aku memblokirnya di SNS. Keiya, apa yang kau lakukan?"
............
Begitu. Aku tidak tahu berapa banyak yang diminta, tetapi kemungkinan besar indera uangnya sudah rusak. Penampilanku tidak terlihat seperti anak orang kaya, jadi jika seratus juta keluar dariku, mereka mungkin berpikir yang lain juga bisa membayar lebih... Benarkah begitu?
"Lalu, di mana Sayama?"
"Kau tahu kenapa kami mengelilingimu? Dia bilang suruh bawa kau ke sana kalau kami tidak bisa membayar. Ayo ikut!"
"Tunggu, aku tidak akan lari! Aku tidak akan lari, jadi sakit! Hei, lenganku mau putus! Kalau kalian tunjukkan tempatnya, aku akan pergi sendiri! Kalian ini kaki tangan Sayama!?"
Meskipun aku bilang tidak ada tempat untuk lari, suaraku tidak didengarkan. Aku dibawa ke Gudang Olahraga. Saat ini, setelah latihan pagi klub olahraga selesai, tidak ada yang menggunakannya. Di dalamnya, Sayama menungguku dengan mata berbinar. Begitu kami ditinggalkan berdua.
"K-kau boleh melakukan apa saja pada tubuhku! Beri aku seratus ribu yen!"
Aku tidak menyangka dia akan bersujud.
"Tidak, aku merasa tidak enak menyentuh tubuh orang yang tidak kusukai. Aku tidak mau."
"Kalau begitu, berikan aku seratus ribu yen saja!?"
"Aku tidak akan memberikannya."
"............"
Seharusnya dia tahu kalau logikanya kacau jika dia berpikir sebentar, tetapi dia terlihat putus asa. Aku yakin dia tidak akan menjawab meskipun aku menanyakan alasannya. Jika aku menyebut nama Sugou, ceritanya mungkin berubah, tetapi itu akan memunculkan pertanyaan kenapa aku tahu tentang itu.
"Ah, maaf. Beri tahu aku untuk apa uang itu. Itu tergantung alasannya."
"Itu............ keluargaku sakit!"
"Dengan seratus juta, seharusnya bisa untuk operasi. Kalau tidak cukup, seratus ribu tambahan juga tidak akan bisa."
"M-maaf. Sebenarnya aku ingin membeli perhiasan..."
"Tidak ada perhiasan seharga seratus juta di toko perhiasan kota ini."
Alasan Sayama berbohong begitu kentara bukan hanya karena alasan yang sebenarnya sepele. Dia murni tidak bisa memikirkan cara menghabiskan seratus juta yen. Dan lagi, alasan yang bisa meyakinkanku secara spontan. Tentu saja, orang normal tidak menghabiskan ratusan juta untuk belanja. Ada banyak mobil yang harganya di bawah seratus juta. Situasi di mana seratus juta sudah habis dan masih butuh seratus ribu lagi tidak mungkin dibuat-buat dengan kebohongan.
"U, a, a, a............"
"Pokoknya, aku tidak punya uang lagi. Kalau begitu, aku pergi dulu."
"T-tunggu! Tunggu! Kalau kau pergi dari sini, aku akan berteriak! Aku akan bilang kau menyerangku!"
"Eh―"
Seolah mengatakan tidak ada pilihan bagi kami berdua, Sayama dengan kasar melepaskan seragamnya. Ketika aku mencoba pergi karena merasa tidak enak melihat telanjang orang yang tidak kusukai, dia berteriak saat sudah mengenakan pakaian dalamnya.
Dia pasti berencana membuat adegan serangan jika aku mencoba membungkam suaranya.
"Aku datang karena mendengar teriakan. Situasi macam apa ini?"
Kursi saksi mata pertama, yang seharusnya berpihak pada Sayama, direbut oleh Eina.
Eina Ouhouin sama sekali bukan pembela yang lemah. Gadis-gadis yang nyaris menjadi korban bullying bisa lolos darinya karena mereka kuat, dan dia tidak peduli karena semua orang sama-sama tidak berharga di matanya. Posisinya adalah: selama aku tidak terlibat, semuanya baik-baik saja. Aku yakin semua orang tidak melibatkan dia karena secara naluriah mereka merasakan bahayanya, atau karena dia jarang berinteraksi dengan siapa pun, sehingga mereka tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
"S-siapa kau............?"
"Aku Eina Ouhouin. Teman dari anak laki-laki di sana. Aku juga sama sekali tidak mengenalmu, tetapi sungguh tidak sopan telanjang dengan pakaian dalam di tempat seperti ini."
"I-ini dia yang menanggalkan! Aku dipaksa...!"
"Begitu. Kalau begitu, mari kita panggil polisi dan selidiki."
Apakah aku terlihat berpikir secara pendek?
Apakah aku mengira semua masalah bisa diselesaikan dengan memanggil polisi? Tidak.
Masalahnya adalah, Eina benar-benar bisa memanggil polisi—dan ketika dia melakukannya, segalanya benar-benar bisa terselesaikan.
Lagipula, saksi pertama sekaligus korban yang melapor adalah seorang siswi yang sangat dipercaya di sekolah. Dalam posisi seperti itu, tentu semua orang akan berpihak padanya.
“Aku sendiri tidak berpikir begitu, tapi kalau dia benar-benar dipaksa melepaskan pakaian, pasti ada bekas—entah serpihan kulit, sidik jari, atau lainnya. Kalau ini hanya jadi adu mulut ‘melakukan atau tidak’, pihak yang mengaku korban juga akan kesulitan. Jadi lebih baik diperiksa langsung, bukan begitu?”
“Eh... a-apa!? Ng-nggak masuk akal! Dia itu gak punya pacar dan gak populer! Jelas dia yang melakukannya! Kau perempuan juga, kan!? Harusnya kau mengerti!”
Sayama yang berasal dari kelas lain tampak tidak memahami betapa berbahayanya Eina. Dia malah terlihat bingung kenapa Eina tidak berpihak padanya. Kalau yang dihadapinya laki-laki, mungkin dia masih bisa menyerang balik. Tapi lawannya adalah Eina—dan itu artinya tamat.
“Aku ini temannya,” kata Eina dengan nada datar. “Dan sudah sewajarnya seorang teman mempercayai temannya sendiri.”
“Ka-kau cuma gak tahu aja! Tapi semua orang pasti percaya kalau dia yang melakukannya! Yang membelanya cuma kamu!”
“Jadi aku satu-satunya yang ada di pihaknya? Kalau begitu, sudah cukup. Bukan begitu, Keiya?”
“Uh, ya... kurasa begitu.”
“Haah!?”
Aku memang mengangguk karena itu benar, tapi kenyataannya tidak akan sesederhana itu.
Para siswa laki-laki pasti akan berpihak pada Eina demi mendapatkan perhatian darinya, sedangkan para perempuan... kemungkinan besar tidak akan berpihak pada siapa pun.
Lagi pula, siapa yang berani memusuhi Eina?
Kalau mereka benar-benar berani melawannya, mereka pasti sudah mencoba mengucilkannya saat Eina pernah membela korban perundungan. Tapi itu tidak terjadi.
Kalau dipikir ulang, para siswa yang “menyeretku” tadi bukan karena membelaku, melainkan karena sudah jengkel dengan Sayama dan ingin mengakhiri masalahnya.
Mungkin kalau dia masih bisa membayar mereka, hasilnya akan lain. Tapi sekarang dia berada di posisi yang meminta uang, bukan memberi uang. Dan andai pun dia bisa membayar, pepatah “uang habis, hubungan pun putus” tetap berlaku—bahkan lebih buruk lagi kalau itu dipakai pada orang seperti dia.
“Ba-baiklah! Kalau begitu, aku panggil polisi! Mereka pasti percaya padaku!”
“Oh? Benarkah begitu? Hebat juga, tapi kau yakin? Kalau sampai ketahuan berbohong, kau bisa ditangkap, tahu?”
Sebenarnya, entah memenuhi syarat penangkapan atau tidak, hal itu tidak penting.
Karena kalau Eina yang mengatakan “tangkap dia”, maka polisi harus menuruti.
Itu bukan ancaman, hanya kenyataan.
“Eh...? Se...serius?”
Eina sudah memegang ponselnya.
Mungkin Sayama berpikir itu hanya gertakan, tapi jelas tidak demikian.
Dan karena sudah terlanjur bicara besar, dia tidak bisa menarik ucapannya.
Sekarang, kalau dia berani mendorong atau memukul Eina, itu benar-benar akan berakhir dengan penangkapan.
“...Dasar sial! Mati saja kau!”
Mungkin karena sadar tak ada peluang menang, atau takut benar-benar ditangkap, Sayama akhirnya kabur sambil memaki, mengenakan kembali pakaiannya dengan terburu-buru.
Eina menyimpan ponselnya ke dalam saku dengan wajah bosan.
“...Terima kasih, Eina. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana tadi.”
“Tidak apa-apa. Menolong teman yang sedang kesulitan adalah hal wajar. Lagipula, jam pelajaran homeroom sebentar lagi dimulai. Ayo, kita juga kembali.”
“...”
Aku sempat ragu untuk mengatakan hal ini, tapi...
tadi aku sempat melihat titik laser yang diarahkan ke kepala Sayama.
Dia mungkin tidak sadar, tapi bisa dibilang dia baru saja lolos dari maut.
“...Kau gak sempat berpikir, kalau misalnya aku benar-benar melakukannya?”
“Aku tahu kamu bukan tipe orang yang akan menyerang gadis seperti itu. Lagipula, kalau kamu memang sampai sebatas itu, pasti aku atau salah satu pelayanku sudah jadi korban lebih dulu. Setiap kali aku mandi bersamamu, atau saat Yatsuka membantu mencuci tubuhmu, kamu bahkan tak bisa mengendalikan dirimu dengan benar. Aku tahu betul seberapa jauh batasmu.”
“Uh... seandainya kau bilang ‘aku percaya padamu’ saja, pasti terasa lebih enak didengar.”
“Kalimat seperti itu mudah diucapkan. Tapi tubuh dan uang tidak pernah berbohong.”
…Entah kenapa aku merasa kalimat itu menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
Eina memang punya cara berpikir yang tidak biasa. Mungkin ada sesuatu dalam masa lalunya yang membuatnya jadi seperti ini—atau mungkin sejak awal memang dididik dengan cara seperti itu.
“Jadi... kau juga tidak percaya dengan kata-kataku?”
“Kata-katamu itu selalu sejalan dengan tubuhmu.”
“Uh, cara ngomongmu terdengar seperti aku ini playboy.”
“Kalau seseorang menyerangku saat aku baru bangun tidur, bukankah dia memang binatang?”
Aku tidak bisa membantahnya, jadi kuputuskan mengganti topik.
Berbicara lebih jauh hanya akan membuatku terlihat seperti pria mesum yang tidak bisa mengendalikan diri.
Aku penasaran... bagaimana dengan Sayama sekarang?
Karena tidak ada saksi yang memihaknya, Sayama berusaha membalas dengan menyebarkan rumor buruk tentangku. Tapi tentu saja, itu tidak berhasil.
Para siswa laki-laki yang ingin mengambil hati Eina segera membantahnya, dan sebagian siswi malah ikut menyebarkan keburukan tentang Sayama agar tidak dibenci oleh para lelaki yang mereka sukai.
Rumor itu akhirnya sampai ke telinga guru, dan masalah pun selesai—karena semua orang harus mempercayai perkataan Eina.
“Dia memang ingin uang, tapi ini sudah berlebihan... Ngomong-ngomong, dia tadi teriak ‘satu juta yen’ terus. Maksudnya apa? Kamu tahu berapa yang sebenarnya kamu bayarkan?”
Di ruang tambahan pelajaran, Sayama duduk menunduk sambil menulis surat penyesalan dengan mata berkaca-kaca.
Tapi tangisannya bukan karena rasa bersalah—melainkan karena waktu bertemunya dengan Sugo tertunda.
Dia ingin tetap dekat dengan pria itu, dan untuk itu dia rela terus mengeluarkan uang.
Sedangkan di sisi lain, Sugo yang sudah kehilangan segalanya karena ulah Eina, kini justru jadi orang yang menggantungkan diri pada uang gadis itu.
Meski keadaannya hancur, dia tidak akan bisa menjauh dari “sumber uangnya”.
“Dia seperti dirasuki hantu uang. Serius, dia terus mengulang kata ‘satu juta, satu juta’ seperti mantra. Orang yang dulu bisa menipu orang lain demi uang, sekarang malah berubah aneh begini.”
“Mungkin itu... kekuatan uang. Uang bisa mengubah orang.”
“Kau bicara seolah pernah melihatnya sendiri. Dapat hadiah lotre, ya?”
“Bukan. Tapi aku tahu contohnya.”
Aku sadar, aku pun tidak lebih baik.
Aku ikut terjerat dalam permainan Eina.
Ketika aku memutuskan untuk ikut campur dalam urusan ini, berarti aku juga sudah jadi bagian dari kegilaan itu.
Saat aku hendak pulang, ponselku bergetar—panggilan dari Ayaka-san.
Aku pindah ke atap supaya tidak disalahpahami, lalu menjawabnya.
“Halo. Aku masih dalam sesi ‘roleplay’, jadi—”
“Tidak apa-apa! Aku tetap akan memanggilmu Sagiri-kun seperti biasa! Kalau ada yang salah paham, tinggal bilang saja aku pacarmu!”
“Eh... jangan juga begitu. Jadi, ada apa, ya?”
“Ah, maaf! Aku senang sekali bisa bicara berdua denganmu! Eina-sama sudah pulang lebih dulu, tapi katanya beliau ingin kamu ikut dalam ‘eksperimen’ ini juga! Aku sudah membeli hak pendampingan, jadi kali ini aku yang menjemputmu!”
“B-beli...? Em, boleh tahu berapa harganya?”
“Setengah dari harga ‘waktu mandi’! ~ Oh ya, nanti tunggu aku di depan stasiun, ya! Rasanya deg degan, seperti kencan sungguhan! Hihi, hatiku meledak rasanya! Sampai nanti! ~ ”
“Eh, tunggu dulu—”
Telepon sudah terputus sebelum aku sempat protes.
Otakku masih berusaha memahami semuanya, tapi kalau Eina yang menyuruhku ikut, aku tidak punya alasan menolak.
Kemungkinan besar ini masih berhubungan dengan pengawasan terhadap Sayama.
Kalau begitu, aku harus segera ke stasiun.
Hari itu, untuk pertama kalinya aku naik taksi.
Memang jaraknya tidak terlalu jauh, tapi waktu terasa penting, jadi aku tidak peduli soal biaya.
Begitu turun, aku duduk di tangga depan stasiun dan menunggu Ayaka-san datang.
Dia pasti tidak akan datang dengan seragam pelayannya, jadi aku mencoba memperhatikan setiap orang yang lewat.
Tak jauh dariku, aku melihat Sugo, pria yang selama ini menipu Sayama.
Dia berdiri di sana, tampak tak mengenaliku—meski aku tahu betul siapa dia.
Rasanya agak canggung.
“Sagiri-kuuun~! Maaf menunggu yaaa!”
Suara ceria itu datang dari seberang jalan.
Aku melihat seorang wanita mengenakan blus putih tanpa lengan dan rok hijau lumut melambaikan tangan dengan semangat.
Meskipun pakaiannya berbeda, aku tahu pasti—itu Ayaka-san.
“Ayaka-san! Jangan teriak dari situ! Orang-orang melihat, tahu!”
Dia menyeberang dengan cepat lalu langsung memelukku, berputar sekali, sambil tertawa riang.
Senyumnya yang hangat terasa menenangkan, seperti cahaya sore.
“Ehehe~! Akhirnya bisa berdua sama Sagiri-kun! Gadis itu belum datang, kan? Yuk, cari tempat yang aman dulu!”
“Ngomong-ngomong, Ayaka-san pernah makan di tempat cepat saji?”
“Tentu saja! Jangan kira aku ini orang yang cuma makan di restoran mahal, ya. Sebelum dibeli oleh Eina-sama, aku juga mahasiswa biasa, lho!”
“Justru karena Eina yang ‘membeli’mu, aku agak susah percaya bagian ‘biasa’-nya itu.”
“Ahaha~ tidak apa-apa! Lagian kita kan sudah sering dekat begini, jadi biarkan saja~”
Tempat terbaik untuk mengawasi area stasiun dengan aman adalah lantai dua restoran cepat saji yang punya jendela besar menghadap jalan.
Dari sana, kami bisa memantau pergerakan Sayama dan Sugo dengan jelas.
Tapi jujur saja... aku sulit fokus.
Kursinya sempit, dan Ayaka-san duduk terlalu dekat.
Aku memilih kursi di pojok supaya tidak mencolok, tapi sekarang malah terjepit antara dinding dan tubuhnya.
"Ko-... kalau di sini kan banyak teman sekelas juga yang suka nongkrong... nanti bisa salah paham, tahu!"
"Oho? Jadi maksudmu, kalau aku pakai seragam sekolah barulah tidak masalah begitu ya~?"
"Bukan itu maksudku... aku senang sih bisa melihat pakaian kasual Ayaka-san, tapi... itu mencolok sekali."
"Oh ya? Padahal aku sengaja pakai ini supaya tidak mencolok. Bagian mana yang mencolok, ya?"
"Kau terlalu cantik."
"Ahaha~ orang cantik kan banyak. Pegawai di kasir sana juga lumayan imut, lho?"
"Tidak bisa dibandingkan. Ayaka-san itu berbeda. Kau bahkan diakui oleh Eina karena kecantikanmu. Kalau mau menyamarkan diri, mending sembunyikan wajahmu sekalian saja..."
Aku tidak sedang menyanjung. Tidak ada gunanya berbohong.
Aku benar-benar serius—dia terlalu menonjol.
Entah dia sadar atau tidak, Ayaka-san hanya tersenyum malu dengan pipi yang memerah.
"...Aduh, Sagiri-kun, kamu itu memang... Tapi, karena kata-kata barusan bikin aku senang, aku janji deh nggak akan ganggu kamu lebih dari ini!"
Dari jendela, terlihat Sayama belum datang juga. Sepertinya dia masih menulis surat pernyataan di ruang guru.
Sementara itu, Sugo yang menunggu terlihat kesal. Mungkin di kepalanya ia bingung—padahal dia sendiri yang membuat Sayama menghabiskan uang, tapi sekarang gadis itu menolak memberinya lagi.
"Mungkin dia butuh waktu untuk menyiapkan uang seratus juta yen, ya~"
"Ah, benar juga. Tapi gimana dia mau dapat uang sebanyak itu... dia juga gak mungkin gak ngasih sama sekali. Apa Eina memang sengaja membiarkan tindak kriminal terjadi?"
"Meski Eina-sama tidak keberatan, polisi jelas tidak akan tinggal diam~. Jadi, menyerang orang di jalan dan merampok uang jelas tidak boleh♪ nanti ditangkap, lho~"
"...Yah, iya juga."
Tapi di sisi lain, dia juga tidak mungkin meminjam uang sebanyak itu dari guru.
Seratus yen atau seribu yen masih mungkin, tapi seratus juta? Kecuali tiba-tiba negara ini mengalami inflasi besar-besaran dan nilai uang anjlok total.
"...Sebelum Sayama datang, boleh aku tanya sesuatu, Ayaka-san?"
"Hmm? Apa, Sagiri-kun?"
"Aku cuma ingin tahu... bagaimana awalnya Eina ‘membeli’ Ayaka-san? Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia, dan mungkin bisa aku jadikan bahan perbandingan."
"Aku ya... dulu tidak bisa dibilang menjalani hidup yang terpuji, sih. Waktu masih kuliah, aku sempat kerja sambilan, tapi ya... cuma buat uang jajan tambahan. Lalu..."
Dia berhenti bicara sejenak.
"...Kau tidak mau cerita, ya?"
"Bukan karena harus disembunyikan. Aku ini milik Eina-sama, jadi tidak ada yang perlu kututupi. Tapi kalau yang bertanya itu Sagiri-kun... aku takut kamu membenciku."
Dia tetap tersenyum seperti biasa, tapi senyum itu tampak dipaksakan.
Aku bisa merasakan kalau dia benar-benar tidak ingin mengungkit masa lalunya.
Tapi rasa ingin tahuku tetap tidak hilang—apa yang membuat Eina tertarik padanya? Apa yang dulu dilakukan Ayaka-san sampai dibeli seperti itu?
"Kalau aku bayar tiga miliar yen, mau cerita, kan?"
Ada hal-hal yang memang lebih berharga dari uang.
Tapi uang juga bisa menggantikan nyawa—dan pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar tak ternilai.
Aku sendiri tidak tahu berapa “harga”-ku sekarang, tapi mungkin sudah lebih tinggi dari waktu pertama kali aku “dibeli”.
Aku memegang kedua bahunya dan menundukkan kepala dengan sungguh-sungguh.
Ayaka-san hanya tersenyum kecil, terlihat bingung, lalu menghela napas panjang.
"...Kalau begitu, baiklah. Aku ceritakan. Tapi jangan salah paham, ya. Aku dulu sempat jadi pemandu pelanggan di tempat hiburan malam ilegal. Waktu itu aku benar-benar sedang kepepet, cuma ingin cari uang cepat..."
"Ah... begitu. Tapi jujur saja, itu agak mengejutkan juga. Hanya pemandu? Dengan wajah secantik ini, pasti bisa saja jadi pelayan di dalamnya, bukan?"
"Itu cuma karena aku bodoh! Temanku bilang kekurangan orang, jadi aku bantuin. Kupikir asal cuma ngajak orang masuk itu masih aman. Tapi aku benar-benar gak mau jual tubuhku."
Kecantikannya memang tidak bisa disangkal.
Banyak pria yang masuk ke tempat itu hanya karena berpikir semua perempuan di dalamnya secantik dia.
Lama-kelamaan, rasa bersalahnya menipis, sampai akhirnya... dia terseret dalam penggerebekan.
"Waktu tempat itu dirazia, aku ikut kena tangkap. Lalu orang tuaku tahu dan mengusirku dari rumah. Setelah kehilangan reputasi di dunia normal, sangat sulit memulai dari nol lagi. Aku benar-benar bingung harus ke mana... sampai akhirnya bertemu Eina-sama."
"...Jangan bilang kamu sendiri yang menawari dirimu padanya seperti Yukikura?"
"Tentu tidak! Aku tidak seberani itu! Waktu itu, tempat kerjaku mencatat peningkatan laba yang luar biasa selama aku di sana. Eina-sama tahu soal itu, entah dari mana. Beliau tertarik dan bertanya ‘berapa harga untuk membeli gadis itu’. Jadi, aku pun menyebutkan angka yang agak nekat..."
Aku tak perlu bertanya dari mana Eina tahu.
Dia bisa menutup perusahaan hanya lewat satu telepon—maka melihat catatan keuangan tempat ilegal seperti itu bukan hal sulit baginya.
Aku tak tahu apa yang Eina lihat dalam diri Ayaka-san, tapi kini dia bekerja di dapur sebagai pelayan rumah tangga.
Setelah menyelesaikan ceritanya, Ayaka-san menunduk seperti anak kecil yang takut dimarahi.
"...Sagiri-kun. Kamu jadi membenciku, ya?"
"Membenci? Tidak sama sekali. Aku tetap menyukai Ayaka-san, kok. Masa lalu setiap orang tidak selalu indah. Aku juga bukan siapa-siapa sebelum dibeli oleh Eina. Justru aku lega mendengarnya—karena itu berarti kamu juga berjuang untuk hidup. Aku sudah banyak berhutang budi padamu sejak hari pertama aku dibeli."
"...Sagiri-kun..."
"Lebih penting lagi—lihat, Sayama akhirnya datang."
"Kamu benar-benar gak marah, ya. Aku... senang."
"Ayaka-san?"
"Ya ya~! Haa, akhirnya ya! Mudah-mudahan dia bawa ‘kejutan menarik’ kali ini~!"
Dari jendela, aku melihat Sayama mendekat dengan wajah lesu.
Dia akhirnya bertemu kembali dengan Sugo. Dari penampilannya, jelas dia tidak membawa uang seratus juta.
Mungkin dia sedang berusaha menahannya agar tidak pergi.
Keduanya lalu berjalan menuju kawasan hotel seperti biasa, dan kami pun segera mengikuti dari sisi berlawanan jalan agar tidak ketahuan.
Karena masih mengenakan seragam, kami sempat berganti pakaian agar tidak mencolok.
"Kelihatannya hubungan mereka sudah renggang, ya~"
"Wajar saja. Perusahaan Sugo baru saja dipaksa bangkrut. Kalau uang satu miliar yen itu disimpan sendiri, mungkin dia masih punya sedikit simpanan. Tapi kalau dimasukkan ke rekening perusahaan, semua pasti sudah disita. Sekarang dia berharap bisa memeras Sayama lagi—meski gadis itu sudah tak punya apa-apa. Sungguh ironis."
"Berarti uang seratus juta belum disiapkan, ya?"
"Sepertinya belum."
Wajar saja. Tidak ada orang yang bisa menyiapkan uang sebanyak itu dalam waktu sehari.
Dari gerak bibirnya, Sayama sepertinya sedang berjanji akan membawanya besok.
Dia tipe orang yang keras kepala, apalagi kalau sudah jatuh cinta.
"Eh?"
"Ada apa?"
"Lihat, ada perempuan di sana—itu penjaga toko yang sedang narik pelanggan, kan? Dia menghadang jalan dan menahan mereka masuk. Dari kamera yang kulihat sebelumnya, tempat itu bukan cuma untuk tamu biasa. Sekarang malah kelihatan kayak buka lagi setelah kehabisan uang."
"Mungkin saja. Bisa jadi toko itu dan perusahaan Sugo saling berbagi keuntungan. Tapi karena perusahaannya sudah bangkrut, sekarang mereka butuh uang tunai."
Eina memintaku untuk “ikut campur” dalam eksperimen ini. Tapi bagaimana caranya? Apa yang bisa kulakukan supaya situasinya makin menarik baginya?
Kalau itu bisa membuat Eina tersenyum, aku akan melakukannya.
"...Ayaka-san. Bagaimana kalau kita pura-pura jadi pasangan, lalu masuk ke sana?"
"Hah? A-apa?"
Dia sempat terkejut, tapi segera paham maksudku. Setelah menarik napas dalam, dia bertanya dengan wajah serius.
"Maksudmu... kita akan... melakukan apa di dalam?"
"Dunia ini berputar karena uang, kan. Tempat seperti itu pasti menjebak tamu agar menghabiskan banyak uang, lalu kalau tidak bisa bayar, mereka akan ‘melakukan sesuatu’. Sekarang Sayama ingin menarik perhatian Sugo dengan uang. Jadi, kalau kita masuk ke sana dan berpura-pura sebagai pasangan kaya yang royal, hasilnya akan menarik, bukan?"
"Aha... begitu rupanya~"
Benar-benar—“bergaul dengan api, ikut terbakar.”
Ayaka-san perlahan tersenyum lebar, matanya bersinar penuh antusias.
"Menarik sekali~! Baiklah, aku ikut. Sekalipun harus ke neraka, aku akan menemanimu! Aku, Akabane Ayaka, resmi menjadi kaki tanganmu dalam misi gila ini!"
Cinta, bagi anak muda, adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup.
Aku juga tidak berbeda—tapi sejak dulu, dunia cintaku hanya berputar di sekitar Eina.
Setiap kali aku membayangkan kata “pacar”, yang muncul di pikiranku hanyalah dirinya.
Jadi, untuk meyakinkan orang lain bahwa kami benar-benar pasangan, aku harus bisa berperan sepenuhnya—dari sikap, hingga cara kami bersentuhan.
Setelah berkata “aku akan bersiap dulu”, Ayaka-san keluar sebentar.
Beberapa menit kemudian, dia kembali—penampilannya nyaris sama, tapi ada aura berbeda.
Lalu, di hadapan para penjaga toko, kami berciuman.
"Mmh..."
Refleks, tanganku hampir bergerak ke arah dadanya—tapi aku menahan diri.
Ini bukan kamar mandi, dan banyak mata yang memperhatikan.
Tubuhku bereaksi jujur, tapi aku harus menahan diri mati-matian.
Bagaimanapun, kami pernah saling telanjang di rumah besar itu.
Kalau bisa tetap tenang sekarang, pasti dulu aku takkan sampai “menyerang” Eina di pagi hari karena tak tahan.
Aku menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri.
"Ba... baiklah, ayo masuk, Ayaka. Katanya ini tempat yang bagus, kan?"
"Iya. Ayo!"
Kami bicara cukup keras supaya terdengar oleh penjaga toko.
Benar saja—mereka segera menyingkir dengan sikap sopan, mengira kami adalah pelanggan kaya.
Rencana berjalan sempurna.
Mungkin Eina sedang mengamati kami lewat kamera tersembunyi.
Aku tidak tahu apakah dia bisa menebak tindakanku atau tidak, tapi yang penting—kalau dia menikmati ini, maka semuanya sepadan.
Demi melihatnya tersenyum, aku rela jadi badut sekalipun.
Bahkan jika itu harus menghabiskan semua uangku.
Di dalam tas logam khusus yang dibawa Ayaka-san, tersimpan dua miliar yen uang tunai.
Tadi dia sempat berbisik padaku soal itu. Entah kapan dia menyiapkannya.
Kami menuruni tangga dan berdiri di depan pintu.
Saat aku meraih gagang pintu, Ayaka-san mencondongkan tubuh dan berbisik pelan di telingaku.
"Aku dengar dari Hijiri, lho~. Soal apa yang kamu lakukan dengan Eina-sama di mobil. Kalau kau lakukan hal yang sama, kita pasti tidak akan dicurigai, kan?"
"A... apa!? T-tapi itu... sangat memalukan!"
"Tidak apa-apa~ tunjukkan saja pada Eina-sama. Nanti kalau beliau marah, kita minta maaf bersama, ya?"
"T-tapi bukankah itu bisa menurunkan nilai dirimu?"
"Eina-sama tidak akan menilai rendah hal seperti itu. Nilai seseorang di matanya bukan ditentukan oleh moral umum, tapi oleh keunikan dan manfaatnya. Mungkin nanti kamu hanya akan ‘diperah habis-habisan sampai kehabisan tenaga’, itu saja~"
"I-itu sih..."
Rasanya ini berkaitan dengan sekolah besok… atau mungkin tidak. Tapi sudah sampai sejauh ini, tidak mungkin aku mundur lagi.
"Oh~ seperti yang dibilang, tempat ini punya suasana yang lumayan bagus juga, ya!"
Kalau seorang anak di bawah umur datang ke tempat seperti ini dengan seorang wanita dewasa, tentu saja akan menarik perhatian.
Tapi dari wajahku saja, orang tidak akan langsung tahu apakah aku masih di bawah umur atau tidak.
Dan dengan posisiku yang melingkarkan tangan di bahu Ayaka-san sambil menggerakkan jari-jari ke arahnya, sama sekali tidak terlihat seperti anak muda polos pada umumnya.
Mungkin aku agak berlebihan karena sempat menyelipkan tangan ke sisi tubuhnya, tapi siapa pun yang melihat kami pasti akan langsung mengira kami pasangan kekasih.
Ayaka-san tampak malu, wajahnya memerah, tapi tidak berusaha melepaskan tanganku.
Seorang pelayan datang menghampiri kami dan, dengan wajah sedikit gugup, mengalihkan pandangan sebelum mengantar kami ke meja yang kosong.
"Untuk permulaan, tolong bawakan semua jenis minuman beralkohol terbaik yang kalian punya di sini."
"Hah?"
Ayaka-san membuka koper logam yang dibawanya—dan memperlihatkan uang tunai senilai dua miliar yen.
Pelayan yang melihat itu langsung pucat dan berseru, "M-mohon tunggu sebentar!" sebelum kabur ke belakang dengan panik.
Tak lama, pria yang tampak seperti pemilik toko bergegas datang, dan seluruh perhatian di ruangan itu langsung tertuju pada kami.
Sementara itu, di sudut ruangan yang agak jauh, Sayama tampak sibuk berusaha menarik perhatian Sugo.
Namun Sugo sendiri malah ikut memperhatikan kami, sehingga usaha Sayama sepenuhnya tidak berarti.
"Ada dua miliar di sini. Jadi, tolong sajikan semua minuman yang ada di menu."
"Uh, maaf… tapi boleh saya tahu, pelanggan seperti Anda ini…"
"Jangan banyak tanya. Aku bayar kok. Apa kau keberatan dengan pelanggan yang membawa dua miliar yen?"
"T-tentu tidak! Akan segera kami siapkan! Dan... kelihatannya meja yang ada tidak cukup, jadi akan kami tambahkan juga!"
"Tolong lakukan itu."
Sebagian besar pegawai yang sebelumnya melayani pelanggan langsung menghilang ke belakang untuk melayani kami, layaknya melayani tamu kehormatan.
Yang tersisa hanyalah beberapa orang yang berjaga di pintu untuk menahan pelanggan lain, dan tentu saja—Sayama, yang kini duduk sendirian di tempat terpencil.
Dia terlihat bingung, terlebih karena Sugo pun kini meninggalkannya.
"Ayaka! Mari kita minum! Untuk masa depan indah kita berdua, bersulang!"
"Aduh~ Sagiri-kun, kamu belum mabuk tapi tangannya udah kemana-mana~ dasar mesum~!"
Dengan berbicara keras seperti ini, cepat atau lambat Sayama pasti memperhatikan kami.
Begitu aku melihat dia menatap ke arah kami, aku pura-pura tidak menyadari dan justru mencium Ayaka-san di bibir.
"Aaaaaaaaaaa! Kenapa kamu ada di sini!?"
"...Kau lumayan bagus juga, ya. Apa karena sering menyentuh Eina-sama setiap hari?"
"A-aku cuma bantu saling mencuci waktu mandi!"
"Kalau kamu mau, aku juga tidak keberatan disentuh lebih agresif, lho?"
"T-tolong... itu kalau bisa hanya di kamar mandi..."
Kami terus berbisik pelan dengan wajah merah, seperti pasangan yang malu-malu.
Semuanya bagian dari rencana—dengan berpura-pura tidak sadar, kami bisa memancing Sayama untuk mendekat dengan sendirinya.
"Hei! Apa-apaan kamu datang ke tempat seperti ini! Sagiri Kei-ya!"
Tanganku ditarik, namaku dipanggil keras-keras. Ya, tidak mungkin aku berpura-pura tidak mengenalnya lagi.
"...Oh, kau Sayama. Jadi uang seratus juta itu buat datang ke tempat ini, ya?"
"Bukan begitu! Dan kamu kan masih di bawah umur! Tidak boleh datang ke tempat seperti ini!"
"Eh? Jangan begitu, dong. Kamu sendiri juga ada di sini, kan?"
"Aku datang karena alasan lain! Beda sama kamu yang cuma mau mabuk bareng cewek! …tunggu, kamu punya pacar!?"
"Halo~ aku pacarnya Sagiri-kun♪ peace peace~ ehehe~! Kalau boleh tahu, kamu siapa?"
"A-aku..."
Sayama tidak bisa menjawab. Dia tidak bisa berpura-pura jadi pacarku, karena hubungannya dengan Sugo hanya didasarkan pada uang—jika dia mengaku pacarku, maka dia sendiri akan kehilangan sumber itu.
Tatapan Sayama beralih pada koper uang dua miliar di hadapan kami.
"—Uang itu! Bagi aku seratus juta saja!"
Nada suaranya terdengar seperti permintaan, tapi gerak tubuhnya seperti pencuri.
Aku segera menutup koper itu dan menyingkirkan tubuhnya.
"Tidak boleh. Hari ini kami ke sini untuk minum."
"Aku nggak sabar nunggu~! Penasaran rasanya kayak apa~!"
"Sedikit saja, nggak apa-apa kan! Kan banyak banget uangnya!"
"Itu uangku—" bugh!
Aku belum selesai bicara ketika pukulan keras menghantam hidungku.
Darah langsung mengucur deras.
Begitu terjadi keributan, tentu semua mata tertuju ke arah kami.
Sayama tampak semakin panik, tidak sadar kalau dia malah memperburuk keadaan.
"Ngomong-ngomong, kamu yang salah karena nggak mau ngasih! Uang ini aku ambil!"
"Berhenti! Itu uangku! Pencuri! Pencuri!"
"Diam! Aku butuh uang seratus juta!"
Aku memang tidak menyangka dia akan langsung main tangan, tapi aku sudah terbiasa dengan kekerasan.
Ibuku dulu sering melakukannya.
Jadi aku sengaja menahan diri, membiarkan Sayama terlihat seperti orang yang kehilangan kendali.
Tak lama kemudian, Sugo kembali dari belakang.
Begitu melihat situasinya, dia langsung mendorong Sayama menjauh dan berlutut di depanku.
"Maaf sebesar-besarnya, Tuan! Apakah Anda baik-baik saja!? Cepat, ambil kotak P3K!"
"Y-ya, segera!"
"Aku dipukul karena mempertahankan uangku. Kamu kan yang biasa mengurus gadis itu, kan? Apakah dia memang selalu begini? Dengan pelanggan yang seperti ini, aku jadi tidak terlalu ingin menghabiskan uang di tempat sebaik ini."
"—Hei, keluarkan dia dari sini!"
"Hah!? Kenapa!?"
Bagi Sugo, Sayama hanyalah “sumber uang”.
Sejak hari ketika gadis itu membawa satu miliar yen dan berkata ingin terus bersama selama masih bisa membayar, hubungan mereka memang murni bisnis.
Namun kini, ada tamu baru—aku—yang membawa uang dua miliar yen dan dengan murah hati menghamburkannya.
Bagi Sugo, Sayama sudah tidak berguna lagi.
Seperti pepatah, “bila uang berhenti mengalir, hubungan pun terputus.”
Sayama yang bahkan tak mampu menyiapkan seratus juta yen, jelas sudah tidak punya tempat lagi di sini.
"Sugo! Tunggu! Aku masih punya uang! Aku bisa kasih seratus juta! Jangan usir akuuu!"
"Ada yang dia teriakkan, tapi tak perlu dipedulikan, kan?"
"Jangan khawatir, Tuan. Kami akan segera menanganinya. Ngomong-ngomong, soal pesanan minuman tadi…"
"Oh, tentang itu. Setelah berdarah begini, aku jadi tidak mood untuk minum. Aku akan datang lagi besok. Kalau bisa, tolong kosongkan tempat ini khusus untuk kami besok. Aku bayar sepuluh miliar yen."
Aku meletakkan uang muka sepuluh juta yen di atas meja.
Sugo dan sang pemilik langsung setuju tanpa pikir panjang.
Mereka tahu, melayani satu tamu kaya jauh lebih menguntungkan daripada menipu beberapa pelanggan kecil.
"Kamu nggak apa-apa, Sagiri-kun?"
"Ya, tidak apa-apa. Ayo pulang. Suasananya sudah hancur, aku tidak mood lagi malam ini..."
◇
"Kau boros sekali dalam membayar, ya."
Ketika aku kembali ke rumah, Eina sudah berdiri di bangku di depan air mancur. Dia sepertinya baru saja mengamati tingkah lakuku dari kamera.
"M-maaf, Eina! Itu bukan jumlah yang bisa kugerakkan... kurasa. Aku pikir dengan mengatakan itu, aku bisa keluar dengan mudah, dan aku masih bisa mengamati mereka berdua untuk sementara waktu."
"......Uangku tidak akan habis, tidak peduli berapa banyak yang kau gunakan. Aku hanya berpikir kau berani. Aku kira kau akan fokus pada gadis itu dan menyuruh kami segera menangkap pria itu, tapi mengejutkan kau memilih untuk memperpanjang kasusnya."
"――――――Mungkin, itu jadi menyenangkan."
Eina berdiri tanpa suara, perlahan menarik tanganku hingga tubuhku mendekat padanya. Dia memelukku erat-erat seolah mengambil kembali apa yang hilang, dan menciumku.
"............Ya, aku puas karena ini akan menyenangkan sedikit lebih lama. Kau luar biasa, Keiya. Campur tanganku memang keputusan yang tepat. Aku sungguh memujimu."
"K-kau tidak marah? Itu............ k-kau melihat, kan. Ke Ayaka-san. Soal... macam-macam itu."
"Marah? Tubuh itu jujur, jadi tidak bisa dihindari. Lihat saja sekarang... Kau berdebar saat menyentuhku. Kau pasti lelah hari ini, kan? Setelah makan malam, mari kita langsung mandi dan istirahat. Aku akan menghilangkan semua kelelahan itu, dan membuatmu meleleh hingga kau tidak bisa memikirkan siapa pun selain diriku............"
Sampai pada titik ini, aku hanya bisa pasrah. Saat waktu makan malam tiba, aku dibawa oleh Eina ke ruang makan. Biasanya dia fokus pada makanannya sendiri, tetapi hari ini, dia membantuku makan seolah-olah dia adalah seorang pelayan. Itu sangat telaten hingga Ayaka-san kebingungan harus bereaksi seperti apa, dan hampir tidak ada momen di mana tubuh kami tidak bersentuhan selama makan. Seberapa anehnya Eina mau membereskan piring, semua orang yang tinggal di rumah ini pasti mengerti.
"Nah, istirahat sejenak setelah makan sudah cukup, mari kita mandi sekarang."
Mungkinkah dia membantu membereskan piring agar ada jeda waktu yang lebih lama antara makan dan mandi? Biasanya waktu itu tercipta sendiri tanpa dia melakukan apa-apa, tapi hari ini Eina terlihat terburu-buru. Namun, di ruang ganti, dia menghabiskan banyak waktu menyuruhku menanggalkan pakaian. Terus terang, ini merusak instingku. Mengatakannya seperti ini mungkin terdengar seperti aku sedang melawan, tapi ini hanya gertakanku. Aku nyaris tidak melampaui batas terakhir, tetapi selain itu, semua batasan sudah dilanggar dengan mudah, atau lebih tepatnya diinjak-injak.
"A-apa hari ini kita berdua saja?"
"Boleh, kan. Tenang saja. Biasanya kau yang mencuci tubuhku duluan, tapi hari ini aku yang akan mencucimu duluan. Tapi sebelum itu, kita harus merendam tubuh di bak mandi dengan benar. Perlahan, ya."
Waktu itu terbatas, tetapi kami bisa membuatnya seolah tak terbatas. Sama seperti tidak adanya jam di kamar tidur kami, waktu kami berdua seolah abadi. Kenyataannya, waktu yang menyenangkan berlalu cepat, tetapi itu tidak masalah jika kami tidak menyadarinya.
"Uh! E-Eina-san! Tolong sentuh di situ saat kita mandi saja...!"
"Percuma memintanya dengan formalitas. Kau hanya perlu memikirkanku. Sambil melihat tubuh satu sama lain, membayangkan apa yang mungkin terjadi dalam waktu dekat, kita bersentuhan perlahan. Sensasi ini, seolah meleleh dalam air, dan kita berdua menjadi satu..."
Aku tidak dilarang untuk mengalihkan pandangan. Tetapi mataku selalu tertuju padanya. Semakin lama aku melihat, semakin besar gairah itu diketahui Eina, tetapi aku tidak bisa berhenti. Pikiranku meleleh.
"Kau jatuh cinta padaku sebagai cinta pertamamu, kan? Aku juga begitu. Katanya ada mitos bahwa cinta pertama tidak pernah berakhir bahagia, tapi kita tidak, kan? Hanya membayangkannya saja membuatku merinding. Aneh, padahal kita sedang di kamar mandi. Hanya membayangkan kau menyerangku saja, perutku terasa gatal, dan aku berharap itu terjadi sedetik kemudian. Bagaimana denganmu? Apa yang kau pikirkan tentangku?"
"M-memikirkan apa... K-kurasa aku tidak ingin mengatakannya. Aku sadar diri. Itu, hasratku, lebih tak terbatas dari yang kukira. Meskipun sudah banyak hal yang kau lakukan untukku, aku sama sekali tidak puas. Keinginan muncul satu demi satu, membuatku heran. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah terjadi sampai aku dibeli olehmu. Jadi sebaiknya kau berhenti. Kau benar-benar harus berhenti memamerkannya."
"Bukankah keraguanmu itu sudah sangat terlambat? Selain itu, kau mengejek dirimu sendiri sebagai pria yang tidak bermoral, tapi di depanmu, aku juga hanyalah seorang gadis, tanpa kedudukan atau kekuasaan. Jika kau tidak bermoral, aku juga tidak bermoral. Rasionalitasmu yang saling bertentangan itu cukup keras kepala. Ada satu kesalahpahaman yang harus kukoreksi. Aku melakukan berbagai hal dengan bebas, tapi terhadapmu, aku berusaha menahan diri dengan sangat baik. Coba saja, curahkan semua keinginanmu. Aku akan memuaskanmu sebelum kita selesai mandi. Aku akan mengajarkan pada tubuhmu kenikmatan yang memabukkan, hingga seluruh tubuhmu hanya bisa memikirkanku, dan bahkan hanya dengan sentuhan ujung jari, kau akan langsung mengingatnya sampai tertidur."
Eina bersungguh-sungguh. Dia selalu bersungguh-sungguh. Dia tidak pernah setengah-setengah dalam merayuku. Mengatakan tanpa memilih kata, ini juga merupakan semacam tindakan yang memicu perasaan bejat. Sambil mengajarkan bahwa dia adalah bangsawan, sambil menyatakan bahwa aku adalah miliknya, Eina Ouin ingin dinodai olehku.
Dia merayuku dengan perasaan bejat, seolah menghancurkan barang berharga menjadi berkeping-keping atau mengotorinya.
"............E-Eina."
Aku memeluknya... Aku terlalu malu untuk mengatakannya menghadapnya meskipun hanya berdua, jadi aku berbisik di telinganya. Sebagian besar permintaanku tidak mempertimbangkan Eina, melainkan memprioritaskan keinginanku sendiri, tetapi dia membelai leherku dan mengangguk dengan gembira.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan melakukannya. Kau adalah satu-satunya pria yang luar biasa di dunia. Aku harus sering-sering mengingatkanmu, karena tubuhmu langsung menciut. Jangan khawatir. Aku bukan pelayan, tapi aku tidak akan kalah dari siapa pun dalam melayanimu."
◇
"Y-ya, ya..."
"Tubuhmu masih terlihat bersemangat, tapi sepertinya kepalamu akan menjadi bodoh jika kita teruskan. Aku penasaran apa yang akan terjadi jika kau yang sedang bergairah menghimpitku, tapi itu akan jadi hiburan musim panas kita, ya... Fufufu."
"A-a-aku tidak akan melakukan apa-apa... Aku tidak akan melakukannya... Uuh."
"Oh, benarkah? Padahal semua orang menantikannya, lho. Aku bahkan bisa melakukannya kapan saja dan di mana saja... Sudahlah. Keiya, apa rencanamu besok?"
Tirai di ranjang berkanopi tertutup, menciptakan waktu khusus bagi aku dan Eina. Meskipun kami masing-masing sudah melakukan intervensi sekali, nasib kedua orang itu sama sekali tidak bisa ditebak. Sambil berpegangan tangan dan saling berhadapan hingga tertidur, kami membahas rencana ke depan.
"Aku sudah bilang sepuluh miliar, jadi aku harus membawanya, kan... Tapi aku tidak bisa menggerakkannya? Nilai diriku..."
"Bukan begitu, tapi kau tidak perlu membawanya. Aku terus melihat dari kamera, dan kau tidak mengungkapkan identitasmu, kan? Biasanya, jika kau mencoba pergi tanpa membayar, cara toko seperti itu adalah dengan meminta identitas atau jaminan, tetapi mereka terlalu tergiur dengan uang sehingga lalai. Jadi, kau tidak perlu membayar sepuluh miliar itu."
"...? Tapi kalau aku tidak pergi, ceritanya tidak akan berjalan. Dia hanya akan menyimpan uang muka di sakunya dan selesai, kan?"
"Besok pagi, saat tidak ada orang, aku akan meledakkan toko itu."
"Mele... DAK!?"
Ada konsep homonim. Hikou (terbang), hikou (kenakalan), hikou (mogok). Kata yang sama memiliki arti berbeda. Meskipun aku ingin mengatakan aku tidak mengerti, kata peledakan tidak punya homonim. Peledakan ya peledakan.
"U-untuk apa kau melakukan hal seperti itu?"
"Jika toko itu tidak bisa digunakan secara fisik, kau tidak perlu memikirkan alasan untuk tidak pergi ke sana. Peledakan itu bisa jadi insiden, kecelakaan, atau apa pun, asalkan diberitakan oleh media. Nah, dengan begini, kau punya alasan untuk tidak pergi dengan alasan kau melihat berita itu."
Aku sudah bertekad untuk tidak mengomentari kekuasaan yang tidak masuk akal ini, tetapi aku ngeri memikirkan dari mana asalnya ide untuk dengan santai menggerakkan seseorang dan menyiapkan bahan peledak. Tapi baginya, itu pasti bukan masalah besar. Jika pembunuhan pun tidak bisa disalahkan, maka segalanya diizinkan.
"...Ah, begitu. Dia pasti sangat menginginkan sepuluh miliar dariku, tetapi karena identitasku tidak diketahui, Sugo tidak punya pilihan selain mengandalkan Sayama. Tunggu, tapi apa dia tahu aku di bawah umur?"
"Itu tidak masalah, kan? Karena fakta bahwa dia bertengkar denganmu itu benar. Jika dia bisa ditanyai mengapa dia bertengkar, sisanya akan terungkap dengan sendirinya. Dengan ini, dia mendapatkan kesempatan lagi untuk terhubung dengan pria yang dicintainya. Begitu dia memberikan informasinya, semuanya selesai. Jadi, terserah dia mau melakukan apa."
Meskipun dikatakan bertengkar itu benar, aku justru memikirkan payudara Ayaka-san... Ini bukan waktunya memikirkan itu. Bukankah ini tangan yang lihai yang merancang gerakan sejak awal? Aku mengira hubungan kami akan berakhir dengan permusuhan, tetapi dengan ini, Sayama tidak akan punya waktu untuk membalas dendam.
"Agak melegakan karena aku tidak perlu takut pembalasan di sekolah. Aku takut apa yang akan dia lakukan. Kalau dia mengancam akan melibatkan toko itu dan mengatakan aku di bawah umur..."
"Sulit baginya untuk melibatkanmu. Dia minum alkohol, tetapi kau hanya memamerkan uang. Selain itu, tidak mungkin dia melakukan hal sejauh itu. Bagaimanapun pembalasannya, dia pasti tidak mau kehilangan pria yang dicintainya."
Sambil berkata jangan khawatir, Eina menanggalkan salah satu tali gaunnya dan membiarkan aku membenamkan wajah di belahan dadanya untuk menenangkanku.
"Kau tidak perlu khawatir tentang apa pun di sisa hidupmu. Aku akan melindungimu, jadi jangan merasa cemas. Selama kau merasa nyaman, kau boleh berlaku agresif sesukamu."
"Gumu... Ngomong-ngomong, Eina. Menurutmu bagaimana akhir dari mereka berdua?"
"Jika yang disebut cinta sejati itu nyata, aku yakin mereka akan bahagia. Jika tidak... Yah, itu akan jadi hiburan. Selama kau tidak dalam bahaya, aku tidak akan melakukan apa-apa."
Aku merasakan firasat yang tidak menyenangkan.
Hubungan yang terputus oleh kekuatan sepuluh miliar yen, kini terhubung kembali oleh kebetulan yang ditakdirkan dari sudut pandang Sayama. Itu romantis, tetapi Sugo mungkin masih memiliki uang muka sepuluh juta, tetapi perusahaannya bangkrut, dan seratus juta dari Sayama sudah disita. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar jatuh miskin, tetapi sekarang dia jauh dari pria kaya yang diimpikan Sayama. Apakah Sayama masih akan mempertahankan cintanya pada pria seperti itu, ataukah dia akan menjadi dingin?
Lagi pula, apa yang akan dipikirkan orang tuanya? Perilakunya akhir-akhir ini sangat keterlaluan. Masalahnya di sekolah pasti sudah sampai ke telinga mereka. Bahkan jika yang disebut cinta sejati itu nyata, aku sama sekali tidak berpikir mereka akan bahagia. Paling tidak, hubungan keluarganya pasti akan hancur.
"―Fwaa. Aku mulai mengantuk. Tapi yang terakhir saja. Bagaimana pendapatmu tentang sentuhan Ayaka?"
"............Itu terasa enak."
"Begitu. Kau memang binatang, ya. Kalau begitu, apakah aku juga akan diserang? Seperti tali bahuku yang satunya juga dilepas."
"A-aku tidak akan melakukannya."
"Benarkah?"
....................
"Selamat tidur, Keiya. Aku mencintaimu."
"S-selamat tidur, Eina. Aku mencintaimu."
Tidak mengulurkan tangan. Itu mustahil. Dengan dorongan yang melampaui rasionalitas di benakku yang berteriak jangan, aku menyadari ujung jariku telah menyentuh tali bahunya. Pada saat terakhir, rasionalitas kembali menghalangi. Perlawanan kecil bahwa aku tidak akan sepenuhnya dikendalikan oleh Eina menghentikan tanganku. Itu adalah rasionalitas yang pasti sebagai manusia, sesuatu yang pasti akan kudapatkan jika aku menjalani kehidupan normal.
Srekk, Srekk.
Tali bahu meluncur hingga ke pergelangan tangannya. Tubuhku tidak berhenti. Aku tidak bisa melawan, seolah terhipnotis. Aku tidak bisa menahan pesona Eina. Aku harus menyadari betapa bahagianya bisa tidur di samping gadis yang kucintai. Dibandingkan dengan itu, rasionalitas hanyalah belenggu yang tidak penting. Itu adalah sesuatu yang tidak perlu.
Srekk. Srekk, balun.
◇
Tidak jelas kapan tepatnya Eina memberi perintah itu, tapi bukan berarti dia harus turun tangan sendiri. Jika Yatsuka yang bertindak, hasilnya akan sama saja.
Di rumah besar ini, tidak ada satu pun televisi di tempat yang sering kami datangi. Jadi, TV yang sekarang diletakkan di depan ruang makan pagi ini jelas berasal dari kamar pribadi Yatsuka.
Di layar kamera, tampak bangunan yang telah hancur karena ledakan. Polisi masih menyelidiki kemungkinan antara kecelakaan atau tindak kriminal. Katanya, penyebab pasti masih diselidiki—tapi aku yakin hasilnya tidak akan pernah keluar.
Kalaupun keluar, itu pasti kebohongan—seperti “kebocoran gas” atau semacamnya. Alasannya akan dibuat seolah alami.
“Bagaimana dengan Sayama?”
“Belum ada kabar dari Yurie, jadi sepertinya dia belum dihubungi. Ledakan itu terjadi sekitar pukul empat dini hari. Kami juga menempatkan orang di sekitar rumah Sugo, tapi belum ada pergerakan. Mungkin dia masih tidur. Bagi orang yang menunggu sepuluh miliar yen, ini pasti jadi kejutan yang tidak menyenangkan.”
“Begitu. Kalau keduanya sudah bertemu, pastikan segera kirim siaran langsungnya, ya. Aku lebih suka menikmati prosesnya daripada hasil akhirnya. Hanya membayangkan percakapan mereka saja sudah menyenangkan.”
“Baik, Eina-sama. Tapi... soal sekolah, bagaimana dengan itu? Untuk Anda mungkin tidak masalah, tapi untuk Keiya-kun... bukankah lebih baik dia istirahat dulu?”
“Kau khawatir juga rupanya, Yatsuka. Aku sih tidak terlalu ambil pusing, tapi kalau kau sampai mengatakannya begitu, bagaimana kalau kau ikut saja?”
“Eh?”
Aku dan Yatsuka spontan bersuara bersamaan dan saling menatap.
Aku benar-benar tidak mengerti apa maksudnya.
Eina memiringkan kepala sejenak, lalu menepuk tangannya seperti baru ingat sesuatu.
“Oh, benar juga. Kau belum pernah ke sekolah, ya. Aku sudah menyiapkan seragam sekolah untuk semua orang supaya bisa menyusup kapan pun, bukan? Kau boleh ganti pakaian dulu, lalu ikut naik mobil bersama kami. Di sekolah, aku dan dia berpura-pura sebagai teman, jadi tidak bisa terus bersama. Tapi kau bebas berperan sesuai keinginanmu.”
“Eh, tunggu, Eina. Itu aneh, tahu! Kalau Yatsuka-san datang ke sekolahku, pasti langsung jadi pusat perhatian. Rambut pirang alaminya, tinggi menjulang, wajah cantik banget—semua orang pasti bertanya ‘Siapa gadis itu!?’”
“Sudah kuurus dengan pihak sekolah, jadi tenang saja. Lagipula, seperti yang kukatakan tadi, aku sebenarnya tidak terlalu khawatir. Aku hanya ingin menghargai niat Yatsuka saja. Tapi kalau Keiya tidak mau, anggap saja pembicaraan ini tidak pernah terjadi.”
Aku menatap Yatsuka.
Dia berdiri, sementara aku duduk. Perbedaan tinggi badan kami begitu besar sampai aku seperti sedang menatap gunung.
“Y-Yatsuka-san... apa Anda yakin dengan ini?”
“Serahkan saja padaku. Sekalipun ada teroris yang menyerbu sekolah, aku akan melindungimu.”
“Kalau benar ada yang begitu, habisi saja semuanya,” sahut Eina dengan nada datar.
Yatsuka bicara seolah sedang mengutip adegan film, dan Eina menjawabnya dengan serius.
Aku benar-benar tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Tapi sejujurnya, aku juga punya sedikit rasa takut yang sama.
“Baiklah kalau begitu... tolong ya. Tapi, tolong jangan bersikap seperti pelayan pribadi di sekolah. Bertingkahlah seperti teman, oke? Jangan sampai timbul salah paham!”
“Bertingkah... seperti teman?”
Yatsuka tampak bingung, tidak benar-benar paham maksudku.
Sementara itu, Eina memanggil Haru melalui interkom dan memberi instruksi.
“Bangunkan Sugo lewat kunjungan polisi. Katakan pada mereka itu hanya untuk keperluan ‘wawancara penyelidikan’. Dia pria yang benar-benar busuk, tapi jangan ditangkap dulu—biarkan dia menikmati kesenangan terakhirnya.”
“Dimengerti! Serahkan padaku!”
Eina memang benci kebosanan. Dia tidak pernah tahan menunggu.
Sugo dan Sayama adalah dua orang yang ditakdirkan untuk terus menari di panggung ini sampai dia bosan menonton mereka.
Mereka tidak diberi waktu istirahat—karena akhir dari permainan ini sudah semakin dekat.
Sayama tidak datang ke sekolah hari itu.
Ironis, padahal dia sama sekali tidak tahu kalau Sugo sedang mencarinya.
Bagiku mungkin itu justru kabar baik, tapi jujur saja—aku tetap gugup seolah sedang berjalan di rumah hantu.
Beruntung ada Yatsuka yang berjalan di sampingku, tapi rasa takut itu tetap ada.
Melihat benda tajam saja sudah membuat kaki gemetar—apalagi jika aku tahu itu bisa diarahkan padaku.
“Kalau begini... apa yang akan terjadi ya?”
“Menurut laporan Yurie, Sayama sudah bangun, tapi belum keluar dari rumah. Tadi kami sadap panggilannya, sepertinya telepon dari Sugo terus berdatangan. Sekarang dia baru pertama kali menjawab.”
“Hmm... jadi ini yang disebut ‘lemah karena cinta’, ya. Artinya Sugo bangun pagi-pagi cuma untuk memanfaatkan Sayama lagi. Bisa langsung bergerak begitu setelah bangun tidur juga hebat, sih. Tapi, eh—Yatsuka-san, gaya bicaranya masih seperti pelayan, lho.”
“E-eh, a... Maaf. M-maksudku, pelajaran berikutnya selesai, nanti istirahat siang, kan? Bagus, ya.”
Cara bicaranya kaku sekali. Tapi, kalau dibilang dia blasteran, mungkin orang-orang masih bisa menerimanya.
Dia memang duduk di kelas yang sama denganku, tapi selalu menghilang saat jam pelajaran dimulai.
Tentu saja—nama Yatsuka tidak benar-benar terdaftar di sekolah. Seragamnya cuma penyamaran.
Jadi setiap kali pelajaran dimulai, dia akan “lenyap”.
Tapi saat istirahat, dia muncul begitu saja di depan mejaku dan menghilang lagi begitu bel berbunyi.
Wajar kalau teman-teman sekelas mulai heboh, seolah sedang menyaksikan hantu cantik yang muncul di siang bolong.
“Eh, siapa sih cewek itu!? Kenalin dong, Keiya!”
“Gila, cantiknya kebangetan! Aku jadi bingung pilih siapa—Eina atau dia!”
“Aku dulu nggak suka cewek tinggi, tapi kalau setinggi itu malah keren banget, ya.”
Tadi aku sempat dihujani pertanyaan bertubi-tubi bahkan di tengah pelajaran.
Entah siapa yang memberi ide gila itu, tapi Yatsuka muncul dengan rok mini dan kaki jenjang yang mencolok—benar-benar perpaduan berbahaya.
Biasanya dia memakai pakaian pelayan klasik yang tertutup, jadi penampilannya kali ini membuat seluruh kelas—baik cowok maupun cewek—terpaku.
Rambutnya dikuncir samping, dan jaket blazer-nya diikatkan di pinggang.
Aku curiga ini ide Yurie. Bahkan riasannya sedikit berbeda.
Sulit dijelaskan bagian mana, tapi wajahnya terlihat lebih muda dari biasanya.
“...”
“Keiya-kun?”
“Ah, bukan apa-apa. Ya, nggak ada apa-apa kok.”
Entah karena lelah menjawab rasa ingin tahu teman-teman, atau karena khawatir dengan sikap dingin Yatsuka yang seolah tak peduli dengan siapa pun, aku hanya bisa menghela napas.
Eina tampak tidak tertarik sama sekali dengan semua kehebohan ini. Seperti biasa, dia menghabiskan jam istirahat dengan membaca buku sendirian.
Dan tiba-tiba—
“Sagiri Keiyaaaaaaaaaaaa!!”
Suara teriakan nyaring menggema dari pintu kelas.
Jam istirahat hampir berakhir ketika Yatsuka-san mulai bersiap untuk bersembunyi. Saat itulah dia datang—Sayama Akina.
Yang mengejutkan, dia datang ke sekolah tanpa berganti pakaian—masih mengenakan piyama dari rumah.
Aku sempat berharap dia tidak tahu nama dan kelasku, tapi sejak aku pernah dipanggil ke gudang olahraga waktu itu, harapan itu lenyap. Tidak heran juga kalau itu bocor lewat Manari.
Kehadiran Yatsuka-san tentu menarik perhatian, tapi Sayama tampaknya tidak memperdulikannya sama sekali. Pandangannya hanya tertuju padaku. Begitu berdiri di depan mejaku, dia menghantam meja keras-keras, lalu menatapku dengan mata merah, masih belekan dan penuh amarah.
“A—Apa!?”
Dia tidak membawa pisau atau benda berbahaya. Benar-benar datang dengan tangan kosong.
Kalau aku meminta bantuan Eina, mungkin dia bisa menghapus semua bukti bahwa aku pernah masuk ke tempat itu. Tapi, yang tidak bisa dihapus adalah ingatannya.
Kalau dia memilih menyeretku ikut jatuh bersamanya, aku yang paling repot.
Eina memang bilang semuanya akan aman, tapi itu hanya analisis rasional. Manusia tidak selalu bisa berpikir rasional—kadang, emosi lebih dulu meledak.
Aku sudah tegang setengah mati, dan waktu Sayama tiba-tiba meraih tanganku, aku benar-benar sempat berpikir “ini sudah akhir hidupku”.
Bahkan Yatsuka-san sempat mengeluarkan pisau lipat kecil dari lengan bajunya.
Namun—
“Te... TERIMA KASIH BANYAAK!!!”
Ternyata semua ketakutanku sia-sia.
Aku hanya bisa terpaku, sementara dia menggenggam tanganku erat-erat sambil mengayunkannya ke atas-bawah dengan semangat.
“Kau itu malaikat cinta! Waktu pertama kali datang, aku serius mau ngebunuh kamu! Tapi ternyata semua itu demi aku, kan!? Kamu sengaja menghentikan aku supaya aku gak terus buang-buang uang, ya!? Terima kasih, terima kasih, terima kasih!”
“Uh... syukurlah kalau begitu? Meskipun aku... nggak terlalu ngerti, sih.”
“Ya, ya, gak apa-apa! Pokoknya terima kasih! Aku bakal keluar dari sekolah ini dalam waktu dekat! Ada orang yang benar-benar membutuhkanku sekarang! Aku gak akan pernah lupa kamu! Aku bakal undang kamu ke pernikahanku nanti! Daaah!”
Benar kata orang—cinta itu buta. Tapi yang satu ini sudah di level ekstrim.
Aku tidak tahu bagaimana caranya Sugo bisa menaklukkan Sayama lagi setelah dia sempat sadar dari keterpurukannya.
Apakah karena kelemahan hati seorang gadis yang sudah terlanjur jatuh cinta? Atau karena Sugo memang sudah berpengalaman memanipulasi perempuan seperti ini?
Sayama berlari keluar seperti angin—ringan, seolah seluruh bebannya lenyap.
Kelas pun hening, semua orang bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Hanya Eina yang menutup bukunya dengan tenang, lalu melemparkan sebuah kedipan penuh arti seolah ingin berkata, ‘kan sudah kubilang?’
Dalam kekacauan itu, Yatsuka-san dengan tenang menyimpan kembali pisau yang sempat dikeluarkannya, lalu menghilang dari kelas seperti bayangan.
Tidak ada seorang pun yang memperhatikannya lagi. Semua masih sibuk membicarakan “drama besar” yang baru saja terjadi di depan mata.
Ya... bisa dibilang aku beruntung.
Dia mengucapkan terima kasih, tapi tidak tahu kalau sebenarnya dia hanya menjadi “mainan” dalam permainan orang lain.
Ada sedikit rasa bersalah dalam diriku, tapi aku tidak punya niat sedikit pun untuk ikut campur atau menyelamatkannya.
Lagipula, kalau aku ikut turun tangan, aku justru akan merusak kesenangan Eina.
Jadi apa pun yang terjadi nanti—aku tidak akan menolong. Dan memang sudah terlambat untuk itu.
“...‘Cinta sejati’, huh.”
Aku mengambil buku catatan yang dulu diberikan Eina dari saku seragamku.
Selama ini tidak pernah kupakai, tapi di halaman pertama ada gambar payung cinta—dengan tulisan tangan “Eina” dan “Keiya” di bawahnya.
“...”
Cinta sejati.
Aku tidak bisa bilang kalau apa yang ada antara aku dan Eina adalah “cinta sejati”.
Hubungan kami pun awalnya didasari oleh uang, sama seperti Sayama dan Sugo.
Tapi tetap saja... aku ingin melihat bagaimana semua ini berakhir—bukan karena penasaran, tapi karena aku ingin menyaksikannya sampai tuntas.
Bagaimana perbedaan kecil—antara orang yang menggunakan uang dan orang yang dikendalikan oleh uang—akan mengubah nasib mereka.
Di atap sekolah, Eina sudah menyiapkan “pertunjukan akhir”.
Tayangan itu memperlihatkan Sayama dan Sugo yang bertemu di alun-alun dekat stasiun.
Sebuah drone terbang di atas mereka, menyiarkan gambar langsung.
Eina bahkan menyelipkan alat penyadap di tas Sugo, jadi suaranya bisa terdengar dengan cukup jelas meskipun agak berisik.
『Sugo-san! Ada apa sih? Katanya mau bicara hal penting! Aku nggak marah soal kemarin, kok! Karena kamu udah minta maaf... dan aku kan calon istri yang pemaaf, hehe!』
『Akina-chan... sebenarnya aku cuma mau tahu, siapa laki-laki yang bersamamu di tempat itu kemarin. Meminta maaf itu mudah, tapi aku ingin tahu yang sebenarnya.』
『Oh, dia? Anak sekolah yang sama denganku. Aku juga kaget lihat dia di sana. Masih remaja, tapi bisa-bisanya nongkrong di tempat kayak gitu!』
Komentarnya masuk akal, tapi... terlalu polos.
Seperti orang yang belum sadar bahwa sekarang dia sedang duduk di tepi jurang.
“Dia nggak tahu, ya,” gumamku. “Kalau dia sudah menyerahkan semua informasi tentangku, berarti dia udah gak punya nilai apa pun buat Sugo.”
“Manusia tidak selalu bertindak dengan perhitungan logis,” kata Eina pelan.
“Kalau dia benar-benar secerdas itu, dia gak akan terjebak oleh penipu semacam itu sejak awal.”
“...Tapi aneh juga, ya. Hubungan mereka itu dibangun karena uang, tapi sekarang mereka bicara soal ‘perasaan’. Aneh banget.”
“Orang tidak selalu memilih secara rasional, Keiya. Lihat saja ibumu—dia bisa saja tetap menerima uang dariku dan mempertahankanmu, tapi dia malah melepaskanmu begitu saja. Itu bukan keputusan yang logis. Tapi begitu memang manusia. Ada kalanya perasaan lebih kuat dari untung rugi.”
“...Jadi kamu tahu, tapi tetap memberinya uang waktu itu?”
“Tentu saja. Aku membeli apa pun yang aku inginkan, berapa pun harganya.
Dan waktu itu... yang kuinginkan adalah dirimu, Keiya. Aku benar-benar ingin memilikimu. Itu adalah satu-satunya pembelian terbesar dalam hidupku.
Kalau mau dibilang romantis... aku membeli takdirku waktu itu.”
“...Kau tidak menyesal?”
“Uang hanya punya nilai kalau digunakan. Selama kamu masih di sisiku, berapa pun yang kubayar, semuanya sepadan.”
“...Eina.”
Kami kembali menatap layar.
Percakapan mereka makin memanas.
『Apa!? Jadi itu alasan kamu ngajak aku ketemuan!? Katanya mau ngomong hal penting!』
『Ini hal penting! Sepuluh miliar yen, Akina! Toko itu meledak, tapi kalau dapat uang itu, semuanya bisa dimulai dari awal lagi!』
『Uang sepuluh miliar!? Kamu ‘kan presiden direktur! Kamu bisa cari uang sebanyak itu kapan pun, kan!? Bilang dong kalau kamu cuma bercanda!』
“Sudah cukup,” kata Eina pelan.
Dia menyeruput kopi dari termos yang dibawa Yatsuka, wajahnya tanpa ekspresi—antara dingin dan sedih.
『Kau pikir aku bercanda!? Perusahaanku sudah bangkrut! Aku gak tahu gimana caranya, tapi tiba-tiba dibubarkan secara paksa! Semuanya disita! Uangku hilang! Jadi cepat kasih tahu di mana anak itu!』
『...Apa?』
『Cepat! Kalau aku tahu keberadaannya, mungkin aku bisa dapat uang itu!』
Wajah Sayama tidak terlihat jelas dari drone, tapi dari suaranya—dia seperti kehilangan semua warna kehidupan.
Dia tidak menjawab. Tidak bergerak.
Lalu bibirnya bergetar, hanya mengucapkan satu kata—
『Pembohong.』
Eina menatap layar dan berkata datar,
“Seperti pepatah bilang—cinta seratus tahun pun bisa pudar dalam sekejap. Gadis itu pantas mendapatkan akhir seperti ini.”
『Pembohong... pembohong... PEMBOHONGGGGGGGGG!!!』
Dan kemudian—
Sayama mengeluarkan pisau yang disembunyikan di balik bajunya, lalu berlari menubruk Sugo di depan semua orang.
Terdengar suara logam menembus daging, dan teriakan histeris menggema di alun-alun.
『Padahal aku benar-benar mencintaimu! Kamu bilang kita bakal menikah setelah lulus!』
Eina menghela napas.
“Kasihan juga, tapi gadis itu mencintai uangnya, bukan orangnya.
Tidak ada cinta yang lebih kosong dari itu.”
Sementara di layar, drone masih menyiarkan Sayama yang menangis histeris sambil berteriak nama pria yang telah ia bunuh dengan tangannya sendiri.
『Aku cinta kamu, Sugo! Kenapa!? Kenapaaaaaaa!!!』
Cinta sejati, pada akhirnya, hanyalah cermin.
Orang jatuh cinta pada bayangan dirinya sendiri yang memantul di dalamnya.
Dan begitu cermin itu retak—yang tersisa hanyalah wajah yang hancur oleh realitas.
“Setidaknya dia jadi pelajaran berharga,” ujar Eina datar.
“Tragis memang, tapi berkat itu aku jadi ingat... aku tidak boleh kehilangan cinta yang nyata. Karena cinta palsu hanya akan berakhir seperti ini.”
“Tenang saja,” kataku sambil menutup laptop dan menggenggam tangannya.
“Cinta kita itu nyata. Benar-benar nyata. Lagipula... benang merah antara kita sudah lama dijamin oleh tiga miliar yen, kan?”
Aku menumpangkan jariku di atas jemarinya, lalu menyodorkan buku catatan yang dulu ia berikan.
“Eina, bagiku... kau adalah matahariku. Sejak masih jadi teman, aku sudah jatuh cinta padamu. Terima kasih, Eina. Aku hidup... hanya untukmu.”





Posting Komentar