no fucking license
Bookmark

Prolog Classmate Bishoujo

 ──"Maukah kamu berteman denganku?"


Hubungan antara aku dan dia mungkin dimulai dengan satu kalimat klise—sesuatu yang pernah diucapkan hampir semua orang setidaknya sekali seumur hidup.


Saat masih TK atau SD, kata-kata permintaan itu sering digunakan sebagai semacam kontrak tidak tertulis, untuk mengukur jarak antara dua orang yang baru saja bertemu.


Bahkan sekarang pun, kalimat itu masih tertinggal jelas di sudut ingatanku.


Dengan menjawab kalimat itu sambil mengangguk, kami akan saling menggenggam tangan seperti sedang membubuhkan stempel tanda persetujuan.


Anak-anak—atau mungkin lebih tepatnya, kami yang masih kecil saat itu—mencoba mengisi ruang kosong antara diri mereka dan orang asing dengan sesuatu yang tak berbentuk bernama “persahabatan”, agar bisa merasa tenang.


Tapi sekarang, beberapa bulan telah berlalu sejak aku masuk SMA, dan tak ada satu pun orang di sekitarku yang masih mengikuti tradisi kuno seperti itu.


Biasanya, kami hanya merasa cocok secara alami, mulai mengobrol karena suatu alasan, lalu tanpa sadar sering bersama. Pada akhirnya, kami mulai menyebut satu sama lain sebagai “teman”, seolah itu sesuatu yang wajar.


Justru karena itulah, aku sama sekali tidak menyangka akan mendengar mantra usang seperti itu di tengah kawasan perumahan mewah seperti ini.


Itu terjadi di awal musim panas, beberapa hari setelah pengumuman masuknya musim hujan.


Yang menatapku dari bawah dengan sorot mata yang seperti diliputi demam itu adalah seorang teman sekelas yang—sejak masuk sekolah—belum pernah sekalipun hadir di kelas.


Namanya adalah Izuha Yume.


* * *


Aku rasa ini adalah kisah yang bisa terjadi di mana saja.


Tidak ada tabrakan dengan truk yang membuatku diberi kekuatan spesial oleh dewa. Tidak ada insiden besar yang mengguncang dunia. Tidak ada monster raksasa yang mengamuk dan menghancurkan kota. Bahkan kejadian seperti teroris yang menyandera sekolah—baik di masa lalu maupun nanti—tidak akan pernah terjadi.


Ini hanyalah kisah tentang seorang gadis yang sendirian bertemu dengan seorang laki-laki, lalu mereka menjadi teman.

Hanya itu saja.


Namun, bagi aku dan Izuha Yume, itu bukan sekadar 'hanya itu'.


Setidaknya bagi kami berdua, pertemuan ini adalah seperti bunga yang hanya mekar satu kali di dunia ini.


Karena dalam empat huruf sederhana — "itu saja" — kami berdua telah menyelipkan begitu banyak waktu dan perasaan di dalamnya.

Posting Komentar

Posting Komentar