no fucking license
Bookmark

Pagi Hari Bersama Seorang Maid

 "Selama—...—t pagi..."


"Nnngh!?"


Ada suara perempuan... terdengar seperti sedang kesulitan bernapas!?


Aku langsung bangun dari tempat tidur.


"Nngh... kamu sudah... bangun...?"


Begitu aku membuka mata, seorang maid sedang berdiri di samping ranjangku.


Tepatnya, itu adalah Hisaka Sayaka.


"Hisaka? Kamu ngapain di sini?"


"Hi-saka... salah... Sayaka-chan..."


"Aku tidak pernah minta kamu dipanggil pakai '-chan', tahu."


Kalau diperhatikan lebih saksama, Sayaka menggeleng-geleng pelan kepalanya ke kiri dan kanan.


Matanya yang besar pun hanya terbuka sepertiga, bahkan tidak yakin dia bisa melihat ke depan.


Pita yang biasa dia pakai di bagian dada baju maid-nya tidak ada, kancing bajunya terbuka sedikit sehingga belahan dadanya terlihat.


Bando di kepala pun miring, dan rambutnya berantakan.


"...Jangan-jangan, Sayaka ini tipe yang lemah di pagi hari?"


"Nngh, t-tidak... aku ini maid. Membangunkan tuan rumah adalah tugas penting..."


"Kamu belum resmi aku pekerjakan. Meski aku malas membenarkan terus, tapi... bisa nggak, bangun dulu dengan benar sebelum bangunin orang?"


"Nnngh..."


Akhirnya, dia bahkan tidak bisa membalas dengan wajar lagi.


Sudah beberapa hari sejak Sayaka mulai "menyerbu" tinggal di rumahku.


Sepertinya, dia mulai serius untuk menunjukkan kelayakannya agar diterima sebagai maid.


Beberapa hari ini dia tidak pernah membangunkanku seperti ini, sih...


Tapi aku tidak menyangka dia selemah itu di pagi hari.


Seorang maid yang tidak bisa bangun pagi itu... cacat fatal, bukan?


"Sarapan... b-belum aku siapkan..."


"Sudah kuduga!"


"Aku akan masak sekarang... jadi, Kiyomiya-kun, silakan bersiap... b-boleh aku bantu ganti pakaian...?"


"Cuci muka dan sadar dulu, ya? Dengan kondisi kayak gitu, kamu megang pisau atau nyalain kompor aja sudah ngeri."


"Serahkan padaku..."


Sayaka berjalan sempoyongan keluar dari kamar.


Apa dia benar-benar akan baik-baik saja?


Sambil merasa khawatir, aku menuju wastafel dan mencuci muka.


Rumah besar ini punya beberapa wastafel (aku bahkan belum ngecek semuanya), dan semuanya bisa dipakai buat cuci tangan dan muka secara bersamaan.


Setelah kembali ke kamar dan bersiap, aku turun ke lantai satu dan menuju ruang makan.


Di kediaman lama keluarga Kiyomiya, ruang makan memang disediakan secara terpisah khusus untuk makan.


"Pagi, Kiyomiya-kun. Pagi yang indah, ya."


"Kamu berubah drastis banget!!"


Hanya dalam beberapa menit, rasa kantuk Sayaka sepertinya hilang total—bando-nya sudah dipakai rapi, pita di bagian dada baju maid-nya terikat sempurna, dan matanya pun terbuka lebar.


"Kiyomiya-kun, bisakah kamu menunggu sekitar satu jam? Aku akan menyiapkan sarapan."


"Siapa juga yang masak sarapan selama satu jam pagi-pagi begini!?"


Cepat banget jadi enerjik!?


"Sarapan itu penting, lho. Kamu harus makan banyak. Lagipula, karena aku tidak tahu kamu lebih suka nasi atau roti, aku akan buat dua-duanya."


"Roti! Roti aja cukup! Maksudku, tolong roti aja!"


"Sikap hormat itu bagus, tapi tidak perlu pakai bahasa sopan ke maid, lho."


"Aku cuma nggak mau kamu mulai masak nasi dari awal... itu makan waktu banget..."


Dapur di kediaman lama Kiyomiya sudah direnovasi sebelumnya, jadi semua alat masaknya modern dan fungsional. Tapi tetap saja, masak nasi pasti makan waktu.


"Kalau begitu, tunggu sekitar dua puluh menit."


"...Yah, segitu sih masih bisa diterima."


Baru jam tujuh lebih sedikit.


Jarak dari sini ke sekolah Sou Shuukan tempat kami belajar hanya sekitar dua puluh menit jalan kaki. Keluar rumah jam delapan pun masih aman.


"〜〜〜〜〜♪"


"……"


Wah, langka banget... aku dengar Sayaka bersenandung.


Pasti di sekolah, dia bukan tipe yang bersenandung kayak begini.


"Sudah selesai."


"Ohhh..."


Dua lembar roti panggang renyah yang dioles mentega, ham & telur, sosis, salad, dan juga sup.


"Maaf ya, supnya instan karena aku kehabisan waktu."


"Ini udah luar biasa. Serius, Sayaka, kamu ternyata bisa masak juga ya..."


"Apa maksudmu dengan 'ternyata'!?"


Sang maid—atau gadis berbaju maid—kelihatan agak tersinggung.


Soalnya Sayaka punya aura cool dan seperti nggak hidup di dunia nyata, jadi kelihatan kayak tipe yang nggak bisa urus rumah.


"Aku tinggal berdua sama ibu. Mau nggak mau jadi harus bisa masak. Lagian, ibuku itu mantan maid profesional. Tapi sudahlah, silakan makan."


"Masakan hasil pelatihan profesional, nih. Aku makan, ya."


Ham & telur memang masakan sederhana, tapi potongan ham yang tebal dimasak tanpa gosong, ditambah telur mata sapi yang cuma dibumbui garam dan lada—aku suka banget.


Pertama aku makan begitu saja, lalu pakai saus.


Aku bukan tim kecap atau saus; aku sesuaikan dengan makanannya. Karena ini gaya barat, aku pakai saus.


"Enak. Jangan-jangan, kamu memang bisa jadi maid beneran...?"


"Kamu pikir aku selama ini dianggap apa?"


"Ya... anak kalangan atas biasanya nyuruh orang lain buat kerja rumah, kan? Aku nggak ada bayangan kalau gadis seumuranku bisa masak."


Sekarang ini pun, kebanyakan "orang kaya biasa" jarang punya pelayan.


Tapi kebanyakan siswa di Sou Shuukan berasal dari keluarga yang bisa dilacak silsilahnya hingga ratusan tahun ke belakang—bahkan ada yang leluhurnya tercatat di buku sejarah.


Keluarga Kiyomiya pun termasuk di antaranya. Sejak zaman Heian, hingga zaman modern, beberapa anggota keluarganya pernah tampil di panggung sejarah dan menyelesaikan berbagai "tugas besar."


Orang-orang dari kelas sosial seperti itu menganggap menyerahkan urusan rumah ke pelayan sebagai kewajiban.


"Kiyomiya-kun juga, biarkan aku yang mengurus pekerjaan rumahmu."


"Uhh..."


Sampai sekarang, Sayaka baru kuberi tugas bersih-bersih. Masak dan cuci baju masih aku urus sendiri.


Soalnya, menyuruh cewek sekelas untuk masakin? Aku siapa, raja?


Aku masih punya pola pikir rakyat biasa, bukan sombong.


Tapi... kenyataannya, rumah sebesar ini jelas mustahil dipelihara sendiri.


Masak setiap hari juga nggak mungkin. Aku sih awalnya niat bergantung pada makanan instan dan layanan antar.


"Kalau dibandingin, kamu lebih suka masakan tangan siswi SMA atau makanan dari minimarket?"


"Aduh, perlu ya pakai embel-embel 'siswi SMA' segala?"


Pilihan normal pun jadi terkesan mesum.


"Padahal kamu nggak perlu jadi maid...—eh, tunggu, Sayaka belum makan, kan?"


"Pelayan tidak boleh makan di meja yang sama dengan majikannya."


"Ya ampun kamu ini..."


Secara teknis, benar sih. Tapi...


"Udah lah, makan bareng aja, Sayaka. Kalau kelamaan nanti kita telat."


"Aku ini makannya sedikit, jadi cukup makan roti aja."


"Apa yang kamu makan terserah, tapi kalau cuma aku yang makan, rasanya bersalah banget."


Minta anak perempuan dari kelas sendiri masak, lalu cuma aku yang makan... siapa sih aku ini?


"Dan satu lagi, aku tegaskan lagi: kamu nggak perlu jadi maid. Kamu boleh tinggal di sini sampai semuanya tenang. Aku akan pastikan kamu punya tempat tinggal dan kebutuhan terpenuhi."


Aku memang menerima biaya hidup dari ayahku untuk tinggal di rumah lama keluarga Kiyomiya.


Penggunaan dana itu terserah padaku, jadi tidak masalah sekalipun Sayaka tinggal di sini.


Tentu saja aku bisa mempekerjakannya sebagai maid—tapi tidak akan aku katakan.


"Eh, Sayaka... apa kamu bisa berhenti pakai baju maid, minimal?"


"Bagaimanapun juga, aku tetap harus kerja rumah. Jadi baju maid ini semacam seragam kerja. Bisa dibilang ini versi profesional, jadi boleh dong aku pakai?"


"...Yah, bebas sih kamu mau pakai apa."


"Baju maid ini juga bukti tekadku. Aku bersumpah akan bekerja untuk Kiyomiya-kun di rumah ini."


"Uhh... mungkin kamu sebaiknya mikirin masa depanmu dulu daripada ngurus aku?"


"Majikanku ini cerewet sekali... nggak ada etika sama sekali, keluarga Kiyomiya."


"Jangan hujat aku dan keluarga sekaligus dong."


"Tapi tak apa. Soalnya aku sendiri yang akan membentukmu dari awal."


"Apa?"


Sayaka mendekat dan mencengkeram pundakku.


"Aku ini maid, dan kamu majikanku. Aku akan memastikan kamu jadi majikan sejati—yang bisa memerintahku sesuka hati dengan satu perintah..."


Dia makin mendekat dan berbisik di telingaku.


"Akan kubentuk kamu."


"..."


Apa-apaan itu... seram banget.


Padahal aku cuma... menampung teman sekelas yang terlantar, itu saja...!

Posting Komentar

Posting Komentar