no fucking license
Bookmark

Epilog Classmate Bishoujo

 Pagi ini, kepalaku terasa jauh lebih pusing dari biasanya.

Tidak bisa dihindari, begadang semalaman sambil berjalan di jalan gelap benar-benar memberikan dampaknya.

Meskipun sempat sedikit pulih setelah mandi, tangan dan kaki masih terasa berat. Kelopak mata juga berat.


Rasanya seperti gravitasi bumi meningkat tiga kali lipat, membuatku berjalan sambil menyeret tubuh.

Dalam kondisi seperti ini, sepeda adalah tongkat penolongku.

Kalau sampai sepeda ini dirampas, aku mungkin akan langsung jatuh tersungkur.


Pukul tujuh lewat delapan belas pagi.

Jalan menuju sekolah dipenuhi oleh para siswa.

Mereka semua tampak tidak merasakan beban berat dari gravitasi sialan ini, dan terlihat jauh lebih ceria dibandingkan aku.


Wajahku sudah tirus seperti orang sekarat.

Sepertinya hanya aku saja yang terlihat seperti mayat hidup, sementara yang lain tertawa dengan bebasnya.


“Yaho~!”

Di tengah tawa ramai itu, terdengar suara yang entah kenapa terasa sangat menonjol.

Tanpa sadar, tubuhku langsung bereaksi terkejut.

Ah, payah banget.

Pasti itu cuma sapaan pagi yang ditujukan ke orang lain, bukan ke aku.


Soalnya, sejak masuk sekolah sampai beberapa bulan ini, tidak pernah sekalipun ada yang menyapaku di perjalanan ke sekolah.


Atau begitulah yang kupikir...


“Eeei, eeei~! Masa diabaikan sih? Nanti aku bisa nangis, tahu~?”

Seseorang menepuk pundakku.


Sentuhannya lembut, seperti tersinari matahari pagi. Saat aku menoleh...

Aroma manis dari sampo yang kukenal menyebar di udara pagi, dan di hadapanku berdiri Yume dengan wajah cemberut, entah kenapa... dalam seragam sekolah.


Bahkan dua kali “entah kenapa.”

Ah, jadi ini—


“Mimpi, ya.”

“Betul~ Ini Yume, lho~”

“Bukan itu maksudku...”


Pasti kenyataannya aku sudah tumbang karena kelelahan dan sekarang terkapar di depan pintu rumah.

Sial banget.


Hari ini aku harus pergi ke sekolah dan mengembalikan sepeda ini ke Yuubara.

Kalau aku melewatkan hari ini, tidak tahu kapan aku bisa bertemu dengannya lagi.


Bagaimana caranya supaya aku bisa bangun?

Kucoba menarik pipiku... dan rasanya sakit.


“Huh? Sakit, kok.”

“Apa yang kamu lakukan, sih.”

“Ini bukan mimpi?”

“Eh, ini beneran Yume, tahu.”


Yume menempelkan tangannya ke wajah sendiri dan menjawab.

“Bukan itu maksudku...”


Dengan ekspresi bingung, dia memiringkan kepalanya seolah bertanya, "Lalu maksudmu apa?"


“Jadi ini kamu yang asli?”

“Tentu saja. Mulai hari ini aku memutuskan untuk kembali ke sekolah. Mohon kerja samanya, ya.”


Sepertinya, memang begitu kenyataannya.


Selagi kembali menata langkah, aku mulai berjalan menuju sekolah berdampingan dengan Yume.


Biasanya, para murid yang tidak pernah memperhatikanku seakan aku hanyalah bagian dari pemandangan, kini mulai berbisik-bisik, “Siapa gadis imut itu?”, “Apa dia anak baru?”, atau “Kok kayaknya belum pernah lihat dia?”. Mereka semua memandang ke arah Yume dan menyebarkan berbagai desas-desus.


Aku merasa seolah pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Ya—saat kencan kami tempo hari.


Padahal itu baru terjadi belum lama, tapi rasanya seperti sudah sangat jauh berlalu.


“Sepertinya agak ribut, ya? Apa biasanya seramai ini?”

Pemilik perhatian itu, seperti biasa, tidak menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian.


“Entahlah.”

Aku menjawab dengan sengaja berpura-pura tidak tahu.


Kalau sampai dia sadar, bisa-bisa dia panik lagi, itu sudah kelihatan jelas.

Dan aku tidak punya tenaga untuk menghadapi itu sekarang.


“Apa-apaan, sih? Ayo ngobrol yang lebih serius, dong.”

“Serius gimana, coba? Ya udah, aku mau tanya. Kenapa tiba-tiba datang ke sekolah?”

“Enggak tiba-tiba juga, kan? Tadi juga aku bilang, pas kita pisah. ‘Sampai nanti, ya.’ Gitu.”

“...Kamu bilang gitu?”

“Bilang dong, jelas.”


Karena ngantuk dan capek, aku benar-benar tidak ingat.


“Yah, sudahlah. Jadi kenapa kamu tiba-tiba mau datang ke sekolah?”

“Karena Tomoya-kun maksa banget pengen temenan. Nah, karena kita udah temenan, aku jadi enggak punya alasan lagi buat menolak sekolah, kan? Aku sudah mikir matang-matang, dan aku pilih untuk bareng kamu.”

“Begitu, ya.”

“Hehe, padahal sebenarnya ada alasan lain juga, sih~”


Yume menyeringai dan mendengus bangga lewat hidung.

Karena dia tampak seperti sedang menunggu aku bertanya, aku pun menanggapinya.


“Apa itu?”

“Soalnya... matahari pagi ini cantik banget. Sayang aja kalau aku cuma mager di bawah selimut.”


Sambil menengadah, Yume tersenyum jahil seolah ingin menyambut sinar matahari sepenuhnya.

Cahayanya berkilauan.


Menyinari rambut dan seragam barunya yang terlihat masih baru.


Yume pun ternyata mengalami hal yang sama.

Dia juga sadar bahwa dunia yang sebelumnya hanya monokrom kini mulai dipenuhi warna-warna cerah.


“Aku mengerti.”

“Eh? Maksudnya?”


Aku tidak ingin rasa sakitku dianggap milik orang lain.

Aku muak dengan simpati semu.


Tapi... berdiri di tempat yang sama dan merasakan emosi yang sama itu bukan hal buruk.

Berbagi hal itu bersama seseorang mungkin adalah sesuatu yang indah.


Jika bisa bertemu seseorang seperti itu di dunia yang luas ini, mungkin pantas disebut takdir.

Dia adalah satu-satunya bunga yang mekar di dunia yang kami temukan bersama.


“Memang, matahari pagi ini luar biasa indah.”

“Iya, kan? Aku juga ngerasa begitu.”


Mungkin... hanya itu saja sudah cukup.

Benar-benar cukup.


Bukan tentang sembuh dari luka atau mengatasi trauma—tapi justru alasan sederhana seperti itu lebih masuk akal.

Untuk datang ke sekolah, alasan ‘karena matahari pagi indah’ sudah lebih dari cukup.


Ya, begitu, kan?


“Kamu bakal tinggal sama Asagi-san, ya?”

“Itu masih dipikirin. Soalnya apartemen Asagi-chan jauh banget. Kalau mau berangkat dari sana, aku harus bangun satu jam lebih awal tiap hari. Lagian aku juga masih pengen merawat rumah itu dengan baik. Tapi, aku pikir mulai sekarang aku bakal lebih sering ketemu dia.”


“Itu bagus.”

“Kamu juga mau nemenin aku, kan, Tomoya-kun?”

“Aku juga?”

“Iya dong. Kita kan teman sekarang~”


Karena tekanan yang sulit ditolak, aku pun menyerah.


“Baiklah. Kalau kamu bilang duluan, aku bakal atur jadwal kerja paruh waktuku.”

“Terus, aku mau tanya satu hal lagi. Hari ini ada pelajaran apa aja, ya? Soalnya aku kehilangan jadwal yang dikasih guru sebelumnya. Kalau parah banget, pinjemin buku pelajaran ya. Eh, tapi enggak boleh, ya? Soalnya kita sekelas. Hmm, gimana dong...”


Mendengar kekhawatiran itu, aku tidak tahan dan tertawa.


Yah, memang enggak bisa disalahkan, sih.

Dia terlalu salah fokus—nggak nyangka banget.


“Eh? Kenapa kamu ketawa?”

“Kamu tuh... bener-bener milih waktu yang pas banget buat balik sekolah.”

“Eh?”


Yume membuka mulut lebar-lebar, benar-benar tidak mengerti situasi.

Jadi aku bisikkan padanya.


“Sekarang ini tuh, hari upacara penutupan semester.”

“Itu berarti...”

“Besok libur musim panas.”


“EEEEEEEEHHHHH!?”

Teman pertamaku yang kusayangi berseru kaget.


Aku tertawa kecil di sebelahnya, “Kukuku...”


“Padahal aku udah siap mental dan segalanya buat masuk sekolah~”

“Anak-anak sekelas pasti bakal mikir, ‘kenapa dia baru masuk sekarang sih?’ gitu.”

“Uuhh... Aku mau pulang aja ke kampung halaman. Aku mulai sekolah lagi pas semester dua aja, deh.”

“Oi oi. Jangan menyerah gitu. Ayo masuk. Aku bakal nemenin kok.”


Di bawah langit musim panas yang birunya menyilaukan mata, aku menggenggam tangan Yume yang berbalik untuk pergi.

Tak ada atas dan bawah di antara kami.


Hal yang menghubungkan kami juga bukan uang.


Sama seperti semua orang di sekitar kami, aku dan Yume pun punya hubungan yang nyata.

Tak ada lagi yang sendirian di sini.


TAMAT

Posting Komentar

Posting Komentar