──Teman.
Aku tidak pernah menyangka bahwa saat sudah menjadi anak SMA, aku akan kembali memikirkan makna dari keberadaan yang satu ini.
Kalau membuka kamus, atau sekadar mencarinya lewat ponsel, arti dari kata itu akan langsung muncul.
Seseorang yang setara, tempat berbagi cerita dan bersenang-senang bersama.
Kalau begitu, hubungan pertemanan yang aku jalin dengan Izuha Yume mungkin bisa dibilang sudah menyimpang—terlalu jauh dari makna aslinya.
Begitu ada pertukaran uang di antara kami, hubungan itu tidak bisa lagi disebut setara.
Kalau bicara soal keseimbangan kekuasaan, jelas Izuha yang ada di posisi atas.
Meski begitu, aku tidak berniat menyisipkan pendapat atau keberatanku soal itu.
Selama itu yang ia inginkan, aku hanya akan menjalankan peran sebagai “teman sewaan” sesuai dengan bayaran yang telah diterima.
Hubungan aneh di antara kami berdua ini bermula beberapa hari yang lalu.
Untuk menjelaskannya, kita perlu kembali mundur—bahkan sebelum prolog dimulai.
***
Setelah masuk SMA, akhirnya aku diizinkan untuk mulai kerja paruh waktu.
Dari sekian banyak pilihan seperti tempat karaoke, pusat game, restoran keluarga, minimarket, sampai toko buku, tempat yang kupilih justru adalah sebuah kantor tukang serba bisa.
Tukang serba bisa—alias “bisa apa saja”—memiliki cakupan kerja yang sangat luas.
Mulai dari membasmi hama, setting awal komputer, membersihkan makam, mengantar-jemput anak ke penitipan, mencabuti rumput halaman, sampai menemani ngobrol kakek-nenek.
Jujur saja, pekerjaannya berat.
Tapi justru karena itu, bayaran yang diberikan pun cukup besar—dan aku menyukainya.
Yang paling penting, kantor “Tukang Serba Bisa Narcissus” ini hanya diurus oleh satu orang saja, yaitu sang kepala kantor, Suisei Kohaku-san. Tidak ada karyawan lain.
Jadi, aku bisa bekerja tanpa harus terlibat dalam drama hubungan antarpegawai.
Hari itu, aku sedang membantu membereskan dokumen.
…Meski kalau disebut “membantu”, kayaknya malah terdengar kurang tepat.
Soalnya, sementara Kohaku-san asyik main mahjong online di laptop—
“Yosh, itu dia! Ron! Serangan langsung ke parent! Aku balik jadi top! Uuu, nikmatnyaaa!”—
aku sendirian merapikan struk dan tanda terima.
Aku benar-benar ingin dia sedikit bantuin, sih.
Kohaku-san itu orangnya ceroboh dan malas, jadi kalau aku dan putrinya, Marin-chan, nggak sesekali bersih-bersih kantor atau rapihin dokumen, tempat ini bakal cepat banget jadi berantakan dan nggak bisa dilihat.
“Hei, Tomoya-kuuun~”
Di saat pekerjaan tinggal sedikit lagi, suara itu memanggil dari belakang.
Bunyi klik mouse yang sejak tadi terdengar, juga mendadak berhenti.
Seperti yang bisa ditebak, itu suara Kohaku-san.
“Ada apa?”
Aku menjawab tanpa menghentikan pekerjaanku.
Lagipula dia bukan tipe yang bakal marah cuma karena hal sepele begitu.
“Udah lumayan lama juga ya, kamu kerja di sini.”
“Ya, sekitar dua bulan, sih.”
“Eh? Baru segitu? Kupikir udah setahun loh.”
Dia bukan bercanda, dan bukan juga sedang menggoda—aku yakin dia serius.
Dia memang sebegitu cerobohnya.
Sambil bilang, “Kalau sudah tua, perasaan waktu memang makin cepat,” dan sebagainya.
Tapi bicara soal penampilan, Kohaku-san terlihat sangat muda.
Sulit dipercaya kalau dia punya anak perempuan yang masih SMP—dua tahun lebih muda dariku.
Kalau sedang di luar, tubuhnya yang semampai dan wajah cantiknya sering menarik perhatian laki-laki.
Waktu pertama bertemu, aku juga cukup gugup.
Tapi setelah sering kerja bareng, aku jadi nggak bisa melihatnya sebagai wanita.
Bukan dalam arti buruk, lho.
Lebih ke arah rasa hormat sebagai atasan.
Serius, kalau dia bersikap sedikit lebih serius, dia sebenarnya keren dan bisa diandalkan, kok.
“Ngomong-ngomong, kamu punya keperluan apa? Kalau soal naikin gaji, aku sih senang banget.”
“Ohh~ enak tuh! Yuk, aku naikin.”
“Serius?!”
Aku spontan menghentikan pekerjaan dan menoleh.
Di sana, Kohaku-san menatapku seakan berkata, “Yes, akhirnya kena pancing juga.”
Kursi mahal yang dia suka pamerin, berderit pelan mengikuti gerakannya.
Buat perbandingan, kursi yang aku pakai katanya cuma seribu yen bekas.
Sial.
“Sebagai gantinya, kamu harus kerja lebih keras dari sebelumnya.”
“Tentu! Aku akan berusaha keras, apa pun pekerjaannya!”
“Heh~ Kamu bilang sendiri, ya? Cowok sejati nggak boleh ingkar janji.”
“Begitu juga Kohaku-san, ya. Jangan ingkar juga, dong.”
“Hahaha~ Bagus, bagus. Oke, kalau gitu… sekarang juga kamu bisa ke sini?”
Dia lalu mengirimkan tautan peta lewat aplikasi chat dari ponselnya.
Setelah kulihat, itu menunjukkan sebuah rumah di kawasan perumahan elit, sekitar dua stasiun dari sini.
Aku menatap layar ponsel, lalu bertanya.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Sendirian?”
“Jadiin itu syarat kenaikan gaji, deh. Oke?”
“Jadi maksudnya, masa training-ku udah selesai nih?”
“Bisa dibilang begitu. Jadi, gimana?”
Sampai saat ini, aku selalu mengerjakan tugas bersama Kohaku-san.
Bisa dibilang, aku cuma jadi asisten dia.
Kalau tidak termasuk urusan beresin dokumen, ini pertama kalinya aku ditugaskan sendirian.
Meski sempat ragu, tapi rasa senang karena merasa diakui oleh orang yang kuhormati jauh lebih besar.
“Aku terima.”
Makanya, aku langsung menjawab tanpa ragu.
“Bagus! Gitu dong!”
“Terus, aku bakal disuruh ngapain di sana?”
“Hmm… gini.”
Dia sempat terdiam sebentar, lalu—
“…Nanti juga tahu sendiri.”
“Kamu males jelasin, kan?”
“Iya.”
“Jawabnya langsung iya lagi… serius deh, Kohaku-san itu terlalu asal.”
“Kamu udah lumayan terbiasa sama caraku juga, ya~”
“Sejujurnya sih, aku nggak pengin terbiasa sama beginian…”
“Ahahaha. Ya udah, tak serahkan padamu, ya~”
Sambil menutupi rasa malasnya, Kohaku-san tersenyum miring di sudut bibir.
“Oh iya, satu hal terakhir. Aku belum cek langsung sih, tapi katanya klien kali ini itu teman sekelasmu. Namanya Izuha Yume-chan. Cewek, ya.”
Waktu dia mengatakannya, ekspresinya mengingatkanku pada anak kecil yang baru saja berhasil menjebak seseorang dengan prank iseng.
***
Beberapa puluh menit kemudian, aku pun tiba di depan rumah yang ditunjukkan di peta.
—Ehem.
Aku berdeham pelan, mencoba meredakan rasa gugup yang tak biasa kurasakan ini.
Meskipun pada akhirnya, usaha itu benar-benar tidak membuahkan hasil.
Bukan "kurang berhasil", tapi benar-benar tidak berhasil.
Darah yang mengalir dalam tubuhku terasa dingin, dan jantungku berdegup sedikit lebih kencang dari biasanya.
Penyebabnya sudah jelas—
Hal yang Kohaku-san katakan di menit-menit terakhir:
”Aku rasa, yang jadi klienmu itu teman sekelasmu.”
Namanya, Izuha Yume.
Tapi meskipun aku sudah tahu namanya, wajahnya sama sekali tidak muncul di kepalaku. Bahkan terdengar asing di telinga.
Padahal sudah beberapa bulan sejak masuk SMA, tapi masih ada saja teman sekelas yang belum pernah kuajak bicara sama sekali.
Justru karena kami masih sedikit kenal, menjaga jarak itu jadi makin sulit.
Kalau ternyata si Izuha Yume ini ingat padaku… itu bakal jadi bencana.
Betapa canggungnya suasana nanti, sulit dibayangkan.
Tapi, bagaimanapun juga, aku ke sini untuk bekerja.
Nggak mungkin aku berdiri terus di depan pintu seperti orang linglung begini.
“Yosh. Ayo, kita mulai.”
Aku memantapkan hati dan menekan bel rumah.
Beberapa detik kemudian…
Saat pintu perlahan terbuka—angin kencang tiba-tiba bertiup, seolah menghisapku masuk.
Tubuhku terdorong ke depan satu langkah.
“Waah!? Eh, apa-apaan ini? Anginnya kenceng banget!”
Gadis yang muncul di hadapanku buru-buru menahan rambutnya yang terurai.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Ah, iya. Aku… baik-baik saja, kok.”
Sambil mengangguk cepat beberapa kali, dia merapikan rambutnya dengan tangan.
Usianya terlihat seumuran denganku.
Cewek seumuran bukan hal aneh.
Di sekolah saja, separuh isi kelas adalah perempuan.
Tapi—gadis ini jelas berbeda.
Bukan cuma "sedikit" beda, tapi jauh berbeda dari cewek-cewek yang aku kenal.
Kulitnya seputih porselen, seakan tak pernah tersentuh sinar matahari.
Rambutnya halus dan berkilau, seperti langsung keluar dari iklan sampo.
Mata besarnya bersinar terang, bibirnya merah merona, dan bahkan bentuk tubuhnya… sangat mencolok, bahkan terlihat jelas meski ditutupi pakaian.
Yang paling mencolok—adalah auranya.
Hanya dengan berdiri di sana, dia bisa menarik perhatian semua orang di sekelilingnya.
Apakah dia… Izuha Yume, si klien itu?
Kalau gadis secantik ini benar-benar satu kelas denganku, seharusnya aku pasti mengingatnya meski belum pernah bicara langsung.
Aku ini masih cowok berusia lima belas tahun.
Jelas aku belum jadi biksu atau mati rasa.
Tapi meskipun sudah kulihat wajahnya langsung begini…
Aku tetap tidak bisa mengingat apakah dia pernah duduk di kelas yang sama denganku.
“Ngomong-ngomong… kamu siapa, ya?”
“Ah, aku Kuguruki Tomoya, dari Narcissus. Oh ya, Narcissus di sini bukan tokoh dari mitologi Yunani, tapi nama tempat aku kerja—tukang serba bisa—”
“Tukang serba bisa! Akhirnya datang juga! Aku, Izuha Yume. Senang bertemu denganmu!”
Gadis itu membungkuk penuh semangat. Sepertinya, memang dia klienku.
“Senang bertemu juga.”
“Jadi, kamu yang bakal mendengarkan permintaan dariku, ya?”
“Sepertinya begitu.”
Begitu aku mengangguk, Izuha Yume langsung mengamatiku dari atas sampai bawah.
“Hohoho~ Wah, aku nggak nyangka yang datang bakal cowok. Kukira bakal yang datang itu si mbak yang ceria waktu nerima telepon. Tapi ya udah lah, ini juga lumayan sih. Wajahmu juga lumayan tipeku, hehe~”
“……Jadi, pekerjaan apa yang harus aku lakukan?”
“Oh iya, soal itu, ya… umm, jadi begini…”
Entah kenapa, Izuha Yume mulai menarik napas dalam-dalam.
Tarik, hembus, tarik.
Dada besarnya ikut mengembang, mengempis, lalu mengembang lagi.
Setelah memberi jeda panjang seperti itu, dia seolah sudah bulat tekad dan melontarkan permintaannya ke dunia—langsung dari lubuk hatinya.
──Maukah kamu menjadi temanku?
Itu adalah rangkaian kata yang sama sekali tidak aku duga akan kudengar.
Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku mendengar sebuah permintaan yang begitu polos dan tulus seperti ini?
Bagian dalam perutku terasa geli, dan aku pun tertawa tanpa sadar.
Mungkin karena salah paham, wajah Izuha Yume bersinar seperti bunga yang mekar.
“Jadi reaksimu itu tandanya kamu setuju, kan?”
“Aku menolak, sih.”
“Ditolak!?”
Dia langsung lemas.
Benar-benar luar biasa. Seperti balon yang kempis mendadak karena bocor—shurururu—begitulah ekspresinya.
“Ke…kenapa? Kenapa, kenapa, kenapaaa?”
Setelah bahunya turun karena kecewa, sekarang dia panik. Kalau dibiarkan, mungkin aku bakal dipelototin sambil diguncang-guncang paksa layaknya korban headbang.
“Kalau ditanya kenapa juga….”
Aku menggaruk pipi, bingung mau menjelaskan dari mana.
Soalnya aku ke sini itu buat kerja, bukan buat nyari teman.
Tapi Izuha Yume tidak menyerah. Dia tetap kukuh.
“Ti-tidak boleh! Kamu harus jadi temanku!”
Lalu, dia pun menambahkan:
“Itu karena... itu isi dari permintaan kerjaku.”
“──Apa, katanya?”
Seketika, senyum jahil Kohaku-san yang aku lihat di kantor tadi muncul begitu saja di kepalaku.
***
Untuk mendengar penjelasan lebih lanjut soal pekerjaan, aku diajak masuk ke ruang tamu.
Kesan pertama: ruangannya luas, dengan langit-langit tinggi dan atmosfer yang terasa lapang.
Benar-benar rumah orang kaya.
Karena kebiasaan dari pekerjaan, aku secara refleks mengamati detail-detail kecil.
Semua tertata rapi dan bersih.
Tapi… ada sesuatu yang terasa aneh.
Ruangan ini, seolah-olah seperti model rumah contoh.
Dan baru kusadari—rumah ini terasa kurang berjiwa, sepi dari kehadiran penghuninya.
Ada ungkapan “bergaul dengan merah, maka kau akan ikut merah”, tapi bukan hanya manusia, rumah juga mencerminkan siapa penghuninya.
Biasanya dari tata ruang, warna furnitur, atau isi rak buku, kita bisa tebak sedikit banyak soal orang yang tinggal di situ.
Rumah itu layaknya cermin.
Namun, ruang tamu ini tidak mencerminkan siapa pun.
Satu-satunya hal yang terasa ‘hidup’ hanyalah sebuah foto keluarga di atas rak—yang malah terasa mencolok dan janggal di ruangan itu.
“Um… ada yang salah?”
“Enggak, nggak ada apa-apa… kok.”
Tapi aku langsung tahu alasannya.
Karena ini semua berhubungan erat dengan permintaan dari Izuha Yume.
“Kalau begitu, silakan duduk di sini.”
Setelah duduk di sofa, aku akhirnya mendengar penjelasan yang Kohaku-san tidak sempat berikan.
Klienku—Izuha Yume—adalah gadis SMA berumur sama denganku.
Kami bahkan sekelas. Tapi kami tidak saling mengenal sampai hari ini, karena sejak masuk sekolah, dia tidak pernah sekalipun hadir.
Katanya, sejak orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lalu lintas musim gugur tahun lalu, dia hidup sendirian dengan mengandalkan warisan, menikmati kehidupan sebagai hikikomori setengah permanen.
“Itu salah! Aku bukan hikikomori yang bolos sekolah, tapi petugas keamanan rumah penuh waktu! Tolong diperbaiki.”
“Tolong jangan baca isi kepalaku tanpa izin. Dan itu juga bukan hal yang patut dibanggakan.”
“Kalau kamu nggak suka sebutan itu, aku bisa jadi Kepala Keamanan Tingkat Satu, atau Direktur Utama. Tapi tolong jangan bilang aku ini hikikomori pemalas!”
“Lagian, semua sebutan itu artinya sama aja, kan?”
“Nggak sama! Itu memengaruhi mood-ku banget, loh! Tomoya-kun!”
Baiklah, kita kembali ke topik.
Karena Izuha Yume terlalu berisik, aku kasih dia kesempatan bicara.
Jadi, Izuha Yume adalah cewek SMA cantik usia lima belas tahun.
Daripada pergi sekolah, dia lebih memilih bekerja sebagai petugas keamanan rumah dengan penuh kebanggaan. Tapi, masalah muncul.
Tantenya, yang jadi wali sahnya, akan datang untuk menginspeksi pekerjaannya.
Kalau dinilai buruk, dia akan dicopot dari jabatan sebagai direktur. Dengan kata lain, kebebasannya bisa direnggut.
Dan untuk mencegah hal itu, dia memutuskan untuk bertarung.
Perjuangan suci demi mempertahankan kebebasan hidupnya.
“Dan… begitulah kira-kira ceritanya. Chan-chan.”
Serius banget, terus ditutup dengan “chan-chan” seenaknya.
“Aku cuma pengen terdengar imut…”
“Ya ampun, kamu baca pikiranku lagi. Sudah lah. Terus, apa hubungannya aku jadi temanmu dengan semua ini?”
“Nah, itu dia. Aku kan udah lama banget nggak sekolah.”
Nada bicaranya berubah drastis, dan dia memalingkan wajah dengan malu.
Lalu dengan suara kecil dan lemah, dia berkata:
“Teman… aku gak punya.”
Sambil memutar-mutarkan jari telunjuknya, ekspresinya kelihatan gelisah.
“……Lalu?”
“Tapi, karena tanteku terus-terusan bilang ‘kamu penyendiri, kamu penyendiri’, aku jadi terpancing dan reflek bilang ‘aku punya sahabat, kok!’ Dan… aku udah janji mau ngenalin sahabat itu waktu dia datang nanti…”
Akhirnya, dia melirik ke arahku dari bawah—tatapan memohon penuh harap.
“Jadi… aku minta tolong, berpura-puralah jadi temanku.”
Dan begitulah, Izuha Yume yang berusia lima belas tahun dengan polos mengangkat tangannya seperti bersorak atas keberhasilannya.
“Benar sekali! Aku nemu brosur jasa kamu di kotak pos dan mikir, ‘inilah harapanku satu-satunya!’ Terus aku telpon, dan si mbak di sana bilang ‘Oke, bisa!’ dengan santai banget!”
“Kohaku-san, dasar. Diterima aja semua permintaan aneh…”
Pasti dia sudah tahu situasinya, dan sengaja menyembunyikannya supaya bisa lihat reaksiku.
Pasti. Memang dia seperti itu.
“Umm… jadi, nggak bisa ya?”
Izuha Yume kembali melirikku dengan mata penuh harap. Ciluk… ciluk…
Tapi, mana bisa aku bilang nggak.
Kalau ini dianggap bagian dari pekerjaan, maka akan kulakukan dengan baik.
Tentu saja, dengan satu syarat.
“Aku minta bayaran yang layak, ya.”
Setelah menjawab dengan datar, Izuha Yume menghela napas lega.
“Terima kasih! Kalau begitu, mulai sekarang, selama satu setengah bulan ke depan, aku titipkan padamu, ya.”
“Kenapa selama itu?”
“Supaya kita benar-benar bisa terlihat seperti sahabat sejati saat tanteku datang. Kita harus jadi teman yang sempurna. Mari buat hari-hari kita menyenangkan, Tomoya-kun. Selama masa kerja ini… izinkan aku memanggilmu begitu. Soalnya, kita ini teman, kan.”
Hari itu, langit yang selama ini terus tertutup awan gelap mendadak cerah.
Dalam keseharian yang biasanya diwarnai hujan dan kekhawatiran harus bawa payung atau tidak, hari ini terasa seperti sebuah keajaiban kecil.
Di sebuah ruang tamu cerah yang mungkin terletak di ujung dunia—bukan di pusat gemerlap seperti para atlet atau idol—pekerjaan aneh “menjadi teman sekelas yang sedang tidak masuk sekolah” ini pun diam-diam dimulai.
…Chan-chan.


Posting Komentar