no fucking license
Bookmark

Bab 2 Anata ni dake

 Saat membuka mataku, yang terlihat adalah langit-langit yang familiar.

(Ini... kamarku? Aku benar-benar hidup kembali!)

Sepertinya Izanami telah menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi tetap saja, aku belum tahu ini hari apa dan jam berapa, dan itu cukup membuatku cemas.

Suhu udaranya cukup nyaman, tapi terasa agak lembap. Mungkin sudah mendekati musim panas? Matahari terlihat baru mulai terbit, jadi kemungkinan ini masih pagi.


Yang paling aku ingin tahu sebenarnya adalah: "Aku kembali ke masa berapa tahun yang lalu?"

Kalau melihat kelakuan dewi itu, tidak menutup kemungkinan aku dikirim sepuluh tahun ke masa lalu.

Dengan panik, aku mencari ponselku untuk mengecek waktu dan tanggal.


Saat itu, sesuatu yang lembut menyentuh sikuku.


"Nngh..."

Terdengar desahan pelan, membuat tubuhku menegang.

Yang menyentuh sikuku ini... adalah dada seorang gadis yang belum sepenuhnya tumbuh...!?

Ya, ini jelas dada!


Namun kegembiraanku langsung pudar saat aku sadar siapa pemilik dada itu.

(Kalau dia ada di tempat tidurku... jangan-jangan ini Konomi!?)


Konoe Konomi. Adik tiriku yang dua tahun lebih muda dariku.

Orang tua kami menikah ulang saat aku duduk di kelas 1 SMP dan dia kelas 5 SD. Sejak saat itu, kami menjadi kakak-adik.

Setelah aku masuk SMA dan kami kehilangan kedua orang tua, hanya kami berdua yang tersisa.

Meski tidak sedarah, Konomi sangat menyayangiku dan sering masuk ke tempat tidurku seperti ini.


"......!"

Kilasan dari kejadian saat aku dibunuh terlintas di pikiranku.

Memang bukan Konomi yang membunuhku secara langsung, tapi penyebab utamanya adalah karena keputusan yang dia buat.


(A-a-apa yang harus kulakukan!? Kalau aku bakal dibunuh lagi, lebih baik sekalian remas aja nggak sih!?)

Siapa tahu Shinigami-chan bakal muncul lagi dan membunuhku.


Namun…


"Ehehe~... Kakak..."

Dengan senyum mengembang, Konomi menggosokkan pipinya ke dadaku.

Itu ekspresi bahagia yang sangat familiar. Melihat wajah tidur polosnya membuatku kehilangan semangat untuk marah.


"Sungguh deh. Tidur seenaknya aja."


"Nngyuu~"

Saat aku mencubit pipinya pelan, dia mengeluarkan suara aneh.


Ya sudah. Dia memang sedikit licik, tapi karena imut, aku maafkan soal kematian kemarin!


"Fuaaah... Kakak, selamat pagi~. Udah pagi ya?"

Sepertinya dia terbangun karena godaanku barusan. Dia mengucek matanya sambil duduk mengantuk.


"Kamu masuk ke tempat tidurku lagi, ya?"

"Ehehe~ soalnya, Konomi itu suka banget sama kakak."


Dia langsung memelukku erat.

Aku tidak bisa menahan senyum. Tidak ada tanda-tanda yandere...

Meskipun terkena sihir Izanami, bukan berarti dia yandere selamanya, ternyata.


"Sekarang... baru jam enam, lho? Kakak bangunnya cepat ya hari ini."

"...Masih jam segitu, ya."

Konomi mengecek waktu di ponselku, jadi aku sekalian melirik tanggalnya.


(3 Juni... Tahun ini juga pas banget saat aku kelas 2 SMA.)

Syukurlah, sepertinya aku tidak mengalami masalah dalam proses kebangkitan ini.

Oh iya, Konomi masih berambut kembar dua alias twintail.

Nanti saat dia lulus SMA, dia akan mengganti gaya rambut. Jadi, ini bisa jadi bukti bahwa waktunya benar-benar kembali ke masa lalu.


"Aku mau bangun sekarang. Kamu gimana? Sekali-kali bangun pagi juga bagus, lho..."

"Konomi mau tidur lagi, boleh nggak? Biar banyak tidur, nanti dada Konomi jadi tambah besar~"

"Baiklah, tidur aja. Tidur yang banyak dan besarkan itu dada! Itu hal yang sangat bagus!"


Dengan begitu, aku meninggalkan Konomi dan keluar dari kamarku.


Kalau waktu segini, seharusnya dia juga sudah ada di rumah ini.


"Ooh, beneran udah di sini."


Saat aku muncul di dapur, dia langsung menyambut.


"Kouki? Kamu udah bangun... cepat banget, ya."

Rambut hitam panjang, mata sayu, dada montok yang terlihat menonjol meski tertutup seragam dan apron.

Tubuhnya tidak kecil, tapi juga berisi dengan bentuk menggoda.


Namanya Yozakura Ruri.

Tetangga sekaligus teman sekelasku sejak kecil—bisa dibilang kami adalah teman masa kecil.


"Padahal semalam kamu begadang baca buku mesum, tapi bisa bangun juga ya."

"Kok kamu tahu!? A, a, bukan! Bukan buku mesum kok! Sumpah!"

"Menjijikkan."


Ruri menghina dengan nada dingin.

Dulu kami saling memanggil “Kou-chan” dan “Ruri-nee-chan”, tapi sekarang dia jadi jauh lebih dingin. Mungkin hubungan kami sedang dalam masa surut?


Meski begitu, sejak orang tuaku meninggal, dia selalu datang setiap hari untuk memasakkan makanan.

Meski dingin, aku tetap bersyukur.


"Cepat cuci muka sana. Makanannya belum selesai dimasak."


Sambil berkata begitu, dia terus memotong sayur dengan ritme mantap.

Tok tok tok—suara pisau itu tanpa sadar mengingatkanku pada hari saat aku dibunuh di hari kelulusan.


(Dada Shinigami-chan... eh, bukan! Aku dibunuh pakai sabit, kan!)

Walaupun bentuk pisau dan sabit berbeda, keduanya tetap senjata tajam.

Pemandangan pembunuhan itu kembali tergambar di pikiranku dan membuat tubuhku gemetar.


"…Kouki? Kenapa? Kamu kelihatan aneh."


Mungkin karena kami sering bersama, Ruri bisa langsung menyadarinya. Dia menghentikan aktivitas memasaknya.


Meski biasanya dingin, dia tetap perhatian.


"Tidak apa-apa kok. Cuma hal sepele. Tapi makasih udah khawatir."

"Aku bukan khawatir sama kamu… cuma kalau kamu kenapa-kenapa, Konomi-chan pasti sedih, kan? Jadi, kalau ada apa-apa, bilang aja."


Ucapannya bikin hatiku hangat.


"Iya, ngerti. Kalau ada sesuatu, aku bilang... ah, boleh nggak pegang dada?"

"Denger ya, jangan salah paham. Aku peduli karena Konomi, bukan karena kamu. Aku nggak peduli sama kamu... dan stop pelecehan. Jijik."


Kamu sendiri yang suruh bilang kalau ada sesuatu! Aku cuma jujur kok...

Tapi dia malah memelototiku. Memang ya, cewek di masa puber itu rumit.


"Oh iya, sayuran dari kakek-nenek kamu udah sampai. Langsung kupakai buat masak, lho."

"...Oh, jadi udah nyampe, ya."


Kakek dan nenek yang mengurus pertanian sering mengirim hasil panennya ke rumah.

Entah kenapa, aku jadi pengen mendengar suara mereka.


Mereka pasti udah bangun di jam segini.


"Aku keluar sebentar, ya."


Aku mengambil ponsel dan keluar rumah.

Sebenarnya bisa aja nelpon dari dalam, tapi... entah kenapa, aku malu kalau Ruri mendengar percakapanku dengan mereka.


"...Halo? Ini aku."


Setelah beberapa dering, telepon dijawab.


『Aku? Siapa itu!? Jangan-jangan ini penipuan!? Jangan kira bisa nipu kakek, aku masih enam puluh tahun, tau!』

"Omong kosong, kamu udah tujuh puluh! Ini aku, Kouki. Apa kakek udah pikun sampai lupa suara cucunya?"

『...Kouki siapa ya?』

"Kakeeek!?"

『Fuhaha, bercanda doang. Jarang-jarang kamu nelpon pagi-pagi, ada apa?』


Itu jelas suara kakekku—ayah dari ayahku.

Walau Konomi bukan cucu kandung, kakek dan nenek memperlakukan kami berdua dengan sangat baik.

Konomi juga sangat menyayangi mereka.


Tentu saja aku juga sangat menyayangi kakek dan nenekku.


"Sebenarnya nggak ada keperluan penting sih. Cuma pengen bilang terima kasih karena sayurannya udah sampai. Ruri juga senang banget."


『Kalau Ruri-chan senang, kakek pun merasa usahanya terbayar! Dia pasti senang lihat terong dan mentimun segede itu, kan!?』

"Dasar kakek mesum! Nanti juga dimarahi nenek, tuh!"

『Aku nggak takut sama nenek itu! Fuhaha—eh, ya, sayang... itu cuma bercanda, jangan dipukul pakai alat pijat—awaaagh! KDRT!』


Sepertinya ucapannya ketahuan oleh nenek. Semangat terus, kek!


『Aduh, dasar kakekmu ini… halo, Kouki?』

Sekarang suara nenek terdengar di ujung telepon.


"Nenek? Terima kasih ya buat sayurannya. Selalu ngebantu banget."

『Ah, itu nggak seberapa. Yang penting kamu makan yang cukup dan tumbuh sehat. Itu satu-satunya bentuk bakti anak seperti kamu.』

"Iya... sehat, ya."


Jujur saja, setelah mendengar suara mereka, aku hampir menangis.

Aku pernah mati lebih dulu dari mereka. Tidak ada cucu yang lebih durhaka dari itu.


『Jaga Konomi baik-baik dan cepatlah dewasa, biar kakek-nenek ini bisa tenang di sisa usia kami.』

"...Aku ngerti, kok. Kalian tenang aja. Kalau hidupku berjalan baik, nanti aku bakal nikah dan punya anak cantik. Jadi jangan mati sebelum lihat cucumu, ya!"


Kalau aku berhasil bertahan hidup, Hikari pasti akan lahir.

Aku ingin mereka bisa melihat Hikari.


『Begitu ya... kalau gitu, kakek dan nenek harus hidup lama juga, ya.』


Nenek tertawa lembut. Entah dia percaya atau tidak, tapi… itu sudah cukup bagiku.


"Nanti aku telepon lagi, ya."

『Hubungi kapan saja. Kami selalu jadi pendukung kalian.』

"Makasih, Nek."


Setelah ucapan itu, telepon terputus.


"……Oke!"


Entah kenapa, aku merasa penuh semangat.

Memang banyak hal yang masih bikin cemas, tapi aku sadar—masih banyak hal yang belum kuselesaikan di dunia ini.


Aku tidak boleh mati. Demi kakek dan nenekku juga.


Setelah menelepon kakek dan nenek, aku akhirnya sarapan bersama Konomi yang baru bangun, dan Ruri yang sudah menyiapkan semuanya.


"Sarapan hari ini adalah sandwich isi banyak sayuran, lho~"

"Waa~! Konomi suka banget sayurannya!"

"Kya~♪ Konomi-chan yang semangat gini lucu banget…!"


Ruri memandang Konomi dengan mata berbentuk hati.

Dia memang selalu bersikap manja kalau berurusan dengan Konomi. Sepertinya dia benar-benar menganggap Konomi itu menggemaskan.


Yah, memang kenyataannya Konomi itu imut banget sih! Wajar aja kalau sampai dibuat jatuh hati.


"Aku juga, selamat makan~"

Aku ikut menyantap sandwich buatan Ruri setelah Konomi.

Di dalamnya ada ketimun dan terong yang dikirim langsung oleh kakek dan nenek.

Sebagaimana hasil panen langsung dari petani, rasanya segar dan enak banget.


"Nih, Kouki. Makan ini juga. Kamu pasti masih kurang, kan?"

"Ah, iya. Makasih."

"Bukan apa-apa. Cuma kebetulan aja ini sisa."


Meskipun dia bilang begitu, aku tahu Ruri sengaja membuat lebih banyak untukku.

Kami sudah kenal sejak kecil, jadi mudah bagiku membaca maksudnya.


Ruri memang bersikap dingin, tapi pada dasarnya dia orang yang perhatian dan baik hati.


"Makasih atas makanannya."

Setelah selesai sarapan dan bersiap-siap, kami pun berangkat ke sekolah.


Dalam perjalanan, Ruri dan Konomi tampak akrab berbincang di sebelahku.


"Ruri-onee-chan, sandwichnya enak banget~"

"Tubuh Konomi kan kecil, jadi kamu harus makan banyak biar bisa tumbuh besar ya~"

"Iya! Konomi bakal berusaha biar bisa jadi cewek berdada besar yang disukai kakak!"

"Kouki kan emang mesum yang suka banget sama oppai~"


…Tidak bisa kutampik. Karena kenyataannya aku memang suka oppai!

Tapi bukan berarti aku cuma suka yang besar aja, ya? Tolong jangan salah paham. Semua oppai itu indah!




"Hei, Kouki? Aku nggak peduli kamu suka cewek berdada besar atau apa, tapi tolong jangan ngomong yang jorok-jorok ya. Nanti buruk buat pendidikan Konomi-chan."


Tiba-tiba Ruri membisikkan hal itu di telingaku.

Karena dia terlalu menyayangi Konomi, Ruri sering banget menegur ucapan atau kelakuanku.

Seperti biasa, aku hanya menjawab dengan "iya, iya" sambil mengabaikannya.


Tapi saat itu…


(Ah… Apa nggak apa-apa kalau Konomi melihat aku terlalu dekat sama cewek lain?)


Tiba-tiba saja aku jadi cemas.

Konomi saat ini sedang berada dalam kondisi di mana tingkat ketertarikannya padaku berlipat ganda gara-gara ulah Izanami.

Aku tidak tahu apa yang bisa memicu ledakan emosinya dan berubah jadi yandere.


Bisa saja, saat ini—saat Ruri terlihat terlalu dekat denganku—itu jadi pemicu yandere-nya Konomi.


(T-tapi nggak mungkin, kan? Harusnya nggak apa-apa, ya…?)


Dengan perasaan was-was, aku pun melirik ke arah Konomi.


"Haa… Andai bisa cepat gede, ya…"


Konomi meletakkan tangannya di dadanya sendiri sambil cemberut manja.

Tatapannya masih hidup… artinya, belum berubah jadi yandere.


Sepertinya Konomi tidak langsung jadi yandere hanya karena melihatku bersama cewek lain.


(Fuuuh… Syukurlah…)


Tanpa sadar, aku menghela napas lega.

Meski begitu, fakta bahwa aku harus terus waspada kapan pun dia bisa berubah tetap saja membuat stres.


Setelah sampai di sekolah, aku akan berpisah dengan Konomi.

Sebagai gantinya, aku bakal banyak menghabiskan waktu bersama dua orang lainnya—teman sekelasku Saionji Ayaka, dan adik kelas Kanade Shizuku.


Untuk berjaga-jaga, aku juga harus memastikan kondisi mereka berdua seperti apa.


"Kakak, aku berangkat ya!"

"Hati-hati di jalan."


Sekolahku, SMA Pertama, adalah sekolah gabungan SMP-SMA. Karena itu, sekolahku satu area dengan SMP tempat Konomi bersekolah, jadi kami bisa berangkat bersama. Tapi tentu saja, gedungnya berbeda, jadi kami berpisah di gerbang sekolah.


"Kalau begitu, sampai nanti malam."


Ruri sekelas denganku, tapi kami beda kelas, jadi kami berpisah di depan ruang kelas.


Sekarang, apakah dia sudah datang?


Aku melihat sekeliling kelas, dan melihat dia—Saionji Ayaka—sedang duduk di kursiku.


"Kuh… Kuh… Aah… Aromanya Kouki-san…"

"H-Hei, dasar mesum! Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini, Ayaka!?"


Dia mencium mejaku sambil tersenyum puas. Sungguh pemandangan yang bikin aku langsung ilfeel di pagi hari.


"A-a-a-aku nggak maksud gitu kok! Aku cuma sedikit punya ketertarikan sama aroma, itu saja! Jangan lihat aku kayak gitu, dong!?"


Saat menyadari kehadiranku, Ayaka panik dan mengibas-ngibaskan tangannya.

Di saat yang sama, payudaranya yang besar ikut bergoyang-goyang dengan heboh.


Seragam musim panas memang lebih tipis dibandingkan musim dingin, jadi… yah, belahan dada makin jelas terlihat. Aku suka!


Kancing seragam bagian dadanya bahkan sudah hampir copot karena nggak kuat menahan tekanan dada.

Dulu dia pernah bilang kalau pertumbuhan dadanya nggak berhenti, jadi mungkin ukuran seragamnya sudah nggak muat. Aku jadi makin penasaran akan sebesar apa nanti jadinya… masa depan sungguh cerah!


"Aduh… maaf, aku jadi memperlihatkan sisi memalukan ya…"


Mungkin karena merasa tidak sopan membuatku berdiri terus, Ayaka buru-buru bangkit berdiri.

Namun karena dadanya terlalu besar, dia tersangkut di tepi meja dan kehilangan keseimbangan.


"Awas!"


Aku cepat-cepat menangkap tubuhnya yang hampir jatuh.

Dan pada saat itu, payudaranya yang besar membungkus lenganku sepenuhnya.


(GILAAA! GILA BANGET!!)


Refleks mataku membelalak karena sensasi yang luar biasa. Ini… ini adalah payudara terbesar di sekolah…!


"Maaf ya…"

"Kuhampuni. Semua kuhampuni. Bahkan terima kasih!"


Karena sudah membiarkanku menyentuh payudaranya, aku memutuskan untuk memaafkannya atas segalanya.

Termasuk kalaupun dia pernah jadi yandere dan membunuhku dulu. Kalau hasilnya aku bisa merasakan ini, rasanya aku tidak menyesal mati sekali.


"Berat ya? Maaf ya kalau nyusahin…"


Ayaka tersenyum malu-malu sambil memperbaiki posisinya.

Tenang, berat badanmu ringan kok. Tapi ya… payudaramu memang berat!


Yah, yang jelas satu hal: Ayaka masih Ayaka yang biasa. Belum berubah jadi yandere.


"U-um… Kouki-san? Aku… menjijikkan ya?"

"Enggak juga? Aku tahu kok kamu punya fetish bau, dan aku nggak masalah kamu cium-cium mejaku. Semua orang punya selera masing-masing, kan?"


Ngomong-ngomong, fetish-ku adalah… payudara. Kecil, besar, semua aku suka. Aku cinta oppai!


"Kouki-san baik banget ya. Ufufu… kalau begitu, aku nggak akan sungkan lagi. Kuuuuhn kuhn~"


Ayaka mendekatkan wajahnya ke dadaku dan mengendus-endus dengan senang hati.


"Hey, jangan keterlaluan. Jangan endus orang lain kayak gitu terang-terangan."

"Ahhn~ Bau Kouki-san… Tapi tunggu. Ada bau aneh, deh…"


Padahal dia yang cium-cium sendiri, tapi malah dia yang mendadak mencibir.


"A-apaan? Aku bau, ya!? Bau banget, kah!?"

"Bukan begitu… cuma… hmm, mungkin cuma perasaanku saja?"


Ayaka menggeleng pelan, sementara aku langsung refleks mencium diri sendiri.

Tapi aku nggak mencium apa-apa. Tapi katanya, orang memang nggak bisa mencium bau tubuh sendiri… semoga itu cuma perasaannya.


"Ahh! Kalian enak banget sih, mesra-mesraan dari pagi gitu!"


Suara itu… satu suara yang memang sudah kutunggu-tunggu.


(Shizuku!? Wah, kok dia datang pas timing-nya kayak gini!)


Kanade Shizuku, adik kelasku satu tahun di bawah.

Biasanya dia ceria dan manis. Normalnya sih nggak perlu dikhawatirkan. Tapi sekarang beda.


(A-apa dia marah? Tadi dia lihat aku nempel banget sama Ayaka… Gawat!)


Shizuku, gara-gara Izanami, juga mengalami lonjakan perasaan cinta padaku.

Dia pasti sengaja datang ke kelas dua hanya buat ketemu aku.


Tapi untungnya, kekhawatiranku tidak terjadi.


"Ajak aku juga doooong~ Senpai~"


Shizuku langsung memeluk lenganku erat-erat. Matanya tetap bersinar ceria seperti biasa.


(Syukurlah… dia belum yandere. Eh, dia juga wangi banget!)


"Waaah~ Shizuku-chan memang cinta banget ya sama Kouki-san."

"Iya! Aku cinta banget sama Senpai!"


Dan Ayaka juga nggak berubah.

Sama seperti Konomi, mereka nggak masalah walau aku dekat dengan cewek lain.


"Ah, aku belum sempat nyapa. Selamat pagi, Ayaka-senpai!"

"Selamat pagi juga. Kuuuhn kuhn~ Hmm, Shizuku-chan aromanya ceria banget dan manis ya~"

"Aduh, geliih~"


Ayaka langsung mengendus Shizuku juga. Tapi Shizuku kelihatan senang-senang saja.

Keduanya masih akrab seperti biasa.


Aku tahu, karakter yandere biasanya membenci cewek lain dan akan memusuhinya. Tapi mereka… sama sekali tidak terlihat seperti itu.


Karena itulah aku malah semakin merasa tidak tenang. Aku takut kapan saja mereka bisa berubah.


"Haaah…"


Aku pun menghela napas, dan Shizuku langsung cemberut.


"Senpai~ jangan menghela napas. Nanti kebahagiaan kabur, loh! Nih, biar aku bagi energi buat Senpai. Hug~!"


Shizuku memeluk lenganku lebih erat lagi. Tapi kali ini posisinya kurang pas.


"Ouch… ah…!"


Karena keseimbangan yang kurang, Shizuku pun terpeleset.

Cewek-cewek di sekitarku ini kok sering banget jatuh, ya?


Waktu Ayaka jatuh, aku kena bonus menyentuh payudaranya.

Dan sekarang Shizuku… memperlihatkan celana dalamnya padaku.


(Putih! Hmm, warna putih yang polos dan manis. Cocok banget buat gadis polos sepertinya!)


Begitu melihat pemandangan itu, semua kekhawatiranku langsung menguap.

Pemandangan seperti itu… ya, panty shot memang selalu luar biasa!


Untuk hal-hal rumit, nanti saja kupikirkan.

Yang penting sekarang, mereka semua masih bersikap biasa dan belum jadi yandere.


Selama di sekolah, aku terus mengawasi Shizuku dan Ayaka.

Pada akhirnya, keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda aneh, tapi karena aku terlalu tegang, rasanya aku jadi sangat lelah.


Aku terlalu fokus pada mereka, sampai-sampai aku tidak bisa memahami isi pelajaran.

Padahal ini adalah kedua kalinya aku mengikuti pelajaran kelas dua SMA, karena waktunya sudah diulang.

Tapi tetap saja, nilai-nilaiku biasa-biasa saja, dan pelajarannya masih terasa membingungkan. Belajar memang tetap menyebalkan.


(Aku butuh sedikit penyegaran, nih...)


Sepulang sekolah, aku berjalan sendiri di jalan pulang sambil menghela napas.

Konomi seharusnya sudah pulang lebih dulu.

Karena aku harus tetap waspada apakah dia akan berubah jadi yandere lagi atau tidak, aku memutuskan mampir ke toko buku sebagai bentuk pengalihan pikiran.


(Beli majalah dewasa, ah.)


Tapi aku sekarang adalah anak kelas dua SMA. Masih belum cukup umur untuk membeli buku 18+.

Jadi, dengan terpaksa aku memilih majalah gravure rating 15+.


(Syukurlah, ada majalah yang isinya cewek berdada besar. Kadang-kadang cewek gyaru kulit coklat juga oke, ya!)


Sambil menantikan waktu untuk menikmati majalah itu, aku pun membuka pintu rumah.


"Kakak! Selamat datang pulang!"


Begitu aku masuk, Konomi langsung melompat ke arahku dengan semangat.

Sepertinya dia sudah menungguku sejak tadi di depan pintu.


"O-oh, aku pulang."


Huh? Bukankah Konomi biasanya nggak sampai begini?

Setahuku dulu dia akan tetap santai-santai di ruang tamu saat aku pulang.


"Kakak, hari ini pulangnya lebih lama ya... Konomi tadi merasa kesepian."

"Eh? Ah… maaf ya. Aku tadi mampir sebentar ke toko buku."


Sambil meminta maaf, aku membalas pelukannya. Konomi pun tersenyum lega.


Namun, berbeda dengan ekspresinya, perasaan waswas di hatiku malah semakin membesar.


(Apa ini karena tingkat perasaannya yang jadi dua kali lipat...?)


Karena dia makin suka padaku, dia jadi lebih ingin cepat-cepat bertemu?

Kalau dipikir seperti itu, rasanya wajar dan nggak perlu dikhawatirkan…

Tapi entah kenapa, aku tetap merasa ada yang ganjil.


"Ehehe~ Tetap saja, Konomi paling suka berada di sebelah kakak."

"Begitu, ya? Aku juga senang kok kalau bareng Konomi."

"Kalau begitu, ayo kita selalu bersama selamanya! Janji ya!"


Tapi Konomi yang tersenyum polos itu tidak terlihat seperti sedang dalam mode yandere.

Daripada terlalu dipikirkan, mungkin lebih baik aku menenangkan diri dan tidak overthinking.


(Haaah… Sepertinya majalah gravure-nya harus dibaca nanti aja, deh...)


Dengan situasi seperti ini, Konomi sepertinya tidak akan menjauh dariku dalam waktu dekat.

Bahkan di rumah, aku belum bisa merasa tenang.


Dan larut malam pun tiba. Setelah Konomi tertidur, akhirnya aku bisa bebas.


Hari ini dia lebih lengket dari biasanya. Aku senang karena dia menyukaiku, tapi...

Dengan kondisi Konomi sekarang yang bisa berubah jadi yandere kapan saja, aku tidak bisa lengah. Itu membuatku sedikit kelelahan.


"Kouki, aku pulang dulu, ya."


Ruri yang tadi datang untuk memasakkan makan malam, memutuskan pulang karena sudah larut.

Rumahnya hanya sepuluh detik jalan kaki dari sini, jadi dia tidak akan ada masalah di malam hari.

Aku mengantarnya sampai ke depan pintu.


"Eh iya, malam-malam begitu, tolong pastikan kamu nutup tirai jendela, ya? Dari kamarku, aku bisa lihat kamu lagi baca buku cabul, lho."


"Ha!? Hei, kenapa kamu baru bilang sekarang!? Jangan-jangan kamu sengaja ngintip!?"


"Mana mungkin! Aku juga sudah nutup tirai kamarku kok... Jadi hati-hatilah sedikit."


"...Oke, maaf."


Saat aku minta maaf, dia hanya mengangkat bahu sambil tersenyum kecut.

Akhir-akhir ini dia memang agak dingin, tapi mungkin karena kami sudah lama saling kenal dan sering menghabiskan waktu bersama, berbicara dengannya selalu terasa menenangkan.


Karena sepanjang hari aku terus tegang baik di rumah maupun sekolah, keberadaan Ruri terasa sangat berharga.


"Oke, sampai ketemu besok ya."


Dia pun hendak keluar dari rumah. Awalnya aku berniat hanya melihatnya pergi,

tapi entah kenapa, tubuhku bergerak sendiri dan tanganku menahan tangannya…

Eh!? Apa yang kulakukan!?


"...Kenapa?"

Ruri menatapku heran sambil memiringkan kepala. Aku buru-buru melepaskan tangannya dan minta maaf.


"Ah, maaf! Bukan maksud apa-apa sih, cuma..."


Baiklah, aku akan jujur.


Sejujurnya, aku mulai merasa takut dengan mereka.

Shizuku, Ayaka, Konomi… aku tidak tahu kapan salah satu dari mereka akan berubah jadi yandere.

Karena itulah aku tidak bisa bersikap seperti biasa.


Sebenarnya, aku sedikit ingin lari dari semuanya.

Mungkin karena merasa nyaman, aku malah tanpa sadar meluapkan kelemahan ini pada Ruri, satu-satunya orang yang bisa kupercaya sebagai teman masa kecil.


Tanpa sadar, aku mengatakan hal seperti ini:


"Kalau... kalau misalnya, aku mengajakmu pergi jauh bersamaku... kamu bakal gimana?"


Pertanyaan yang konyol.

Pasti dia bingung. Aku pun buru-buru ingin menarik kembali kata-kataku.


Tapi...


"Oke. Tentu saja aku ikut."

Ruri mengangguk, seolah itu hal yang wajar.


"Eh? Beneran? Bukannya kamu benci aku? Kamu nggak keberatan!?"


Aku bertanya lagi karena kaget, tapi jawabannya tetap sama. Dia mengangguk pelan.


"Aku memang nggak suka sama kamu. Tapi aku akan ikut. Konomi pasti khawatir kalau kamu sendirian. Ini bukan buat kamu kok, jangan GR, ya?"


Dia tidak menanyakan lebih jauh alasan ucapanku.

Dia hanya mengatakan akan ikut denganku.

Dan... entah kenapa, aku merasa sangat lega dan bahagia mendengarnya.


"Iya... aku ngerti. Sebenarnya aku nggak benar-benar mau pergi ke mana-mana kok. Tapi tetap saja, makasih. Aku senang dengar itu."


"Begitu. Kalau begitu, jangan ngomong hal aneh-aneh lagi. Dan, jangan liatin dadaku dengan tatapan mesum."


"Aku nggak ngelihatin, tahu!? Bahkan aku sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk liatin itu!"


"Iya iya, anggap aja begitu. Oke, kali ini beneran pamit. Selamat malam."


"Iya, selamat malam."


Aku melambaikan tangan dan benar-benar mengantarnya sampai keluar.

Untuk pertama kalinya malam ini, aku merasa tenang.


(Ya... lari dari masalah bukan jalan yang baik. Mereka semua sebenarnya anak-anak baik...)


(Tapi kalau suatu saat aku benar-benar nggak kuat... mungkin aku bisa mengandalkan Ruri...)


Memikirkan itu saja sudah membuat hatiku sedikit lebih ringan.


(Oke! Karena sudah tenang berkat Ruri, saatnya baca buku cabul dan isi ulang semangat!)


Dengan tekad baru, aku membalikkan badan untuk kembali ke kamar.


Namun, pada saat itu...


"Onii-chan..."


"GYAA!? A-apa-apaan!? K-Konomi!? Kamu belum tidur!?"


Suara lirih itu… berasal dari Konomi, yang kupikir sudah tidur.


Dia berdiri agak jauh dariku, menatap dari balik bayangan.


"Kenapa? Mimpi buruk, ya?"


"Iya. Aku mimpi yang menakutkan..."


Meskipun kami berbicara, dia tidak mendekat.

Dia hanya diam di tempat, memandangi aku dengan tatapan kosong.


"Aku mimpi kakak… pergi dan nggak pernah kembali."


"Pergi? Nggak mungkin lah, mana bisa aku ninggalin kamu."


"Pembohong."


Sekujur tubuhku langsung merinding.

A-ada yang nggak beres di sini. Ini… ini mulai menyeramkan.


"Ko-Konomi? Kamu kenapa? Ayolah, sini, ke sini."


"Pembohong. Pembohong. Pembohong. Pembohong... PEMBOHONG!!"


Sudah tidak ada gunanya bicara. Dia tidak mendengarkan lagi.


"Padahal sudah janji akan selalu bersama... Kenapa? Kenapa? Kenapa kakak bilang bohong kayak gitu!?"


"A-aku nggak bohong! Konomi, kenapa kamu tiba-tiba kayak gini!?"


"BOHONG! Aku dengar sendiri... kamu bilang mau pergi sama Kak Ruri ... Aku nggak mau itu!!"


Konomi yang biasanya kalem sekarang berteriak sambil melangkah maju dari balik bayangan.


Tatapannya... sudah tidak memiliki cahaya.


(Y-yandere mode aktif!?)


Konomi yang manis dan lembut sudah menghilang.

Yang ada sekarang adalah Konomi yandere seperti saat upacara kelulusan dulu.


(Jangan bilang… pembicaraanku sama Ruri yang jadi pemicunya!?)


Sepertinya dia benar-benar percaya kalau aku akan meninggalkannya.


"Itu cuma bercanda! Aku nggak akan pergi ke mana-mana!"


"Bohong. Kakak lebih suka Kak Ruri daripada aku, kan?"


Dia sudah tidak bisa diajak bicara secara logis.


"Nggak bisa… Aku nggak bisa tanpa onii-chan. Aku nggak mau sendirian. Aku mau selalu bareng onii-chan… Makanya, biar onii-chan nggak pergi ke mana-mana, harus kucegah."


Tepat setelah dia mengatakan itu, muncul sosok wanita cantik bersarung dada dari belakangnya.


Di tangannya ada sabit besar… Itu dia, si malaikat maut yang membunuhku waktu upacara kelulusan!


Dia tersenyum manis, memandangi aku seolah sedang bersenang-senang.


Cantik! Tapi... ini bahaya banget. Kalau begini terus, aku bakal mati lagi!


"Tunggu dulu! Konomi-chan!? Bisa kita omongin dulu baik-baik!?"


"Aku nggak mau! Kakak itu pembohong! Udah cukup, kakak nggak perlu ngapa-ngapain lagi... Asal tetap di sampingku aja sudah cukup."


"Maksudmu... aku boleh jadi pria pengangguran yang hidup darimu!?"


"Bukan itu. Aku cuma mau bikin kakak nggak bisa ke mana-mana. Gak apa-apa kok, aku juga suka wajah tidur kakak. Baunya juga enak. Aku udah cukup bahagia asal kamu ada di sebelahku... Bahkan meskipun kamu udah mati."


"Tentu saja."


Si malaikat maut mengangguk mantap sambil mulai stretching.

Dia benar-benar siap membunuhku!?


Wah, dia sudah mengangkat sabitnya tinggi-tinggi... dan jaraknya terlalu dekat. Nggak bisa dihindari. Ini... udah tamat!


Aku... mati.


"Setidaknya, sebelum dibunuh, tunjukin dulu celana dalammu!"


Sesaat sebelum sabitnya ditebaskan, aku reflek mengangkat rok Konomi.


Dan yang kulihat adalah... celana dalam hitam yang agak mencolok untuk gadis polos seperti dia.


(Uwohhh! Seksi banget! Aku dapat pemandangan terbaik!)


Aku bersukacita... meski hanya sesaat sebelum ajal.



"Sekarang kita akan selalu bersama, kak"


Suuk…

Dan pandanganku langsung diselimuti oleh cahaya putih yang menyilaukan.


Bagi diriku…

Ini adalah kematian untuk kedua kalinya.



Anehnya, rasa sakit akibat kematian itu sendiri tidak terlalu menyakitkan.

Namun, rasa takut karena telah mati—itu tetap tertinggal.

Meski ini adalah kali kedua aku mengalami kematian, aku benar-benar belum bisa terbiasa.


Untuk menenangkan diri, aku menarik napas panjang perlahan, lalu membuka mataku.



"Kufufu~. Bocah, ini sudah yang kedua, ya. Tak kusangka kau mati lagi bahkan sebelum sehari berlalu. Seperti biasa, kau sungguh menghiburku! Manusia memang menyenangkan~."


Yang pertama kali kulihat adalah Dewi Izanami yang sedang tertawa bahagia dari lubuk hatinya.


"Menurutmu siapa yang salah, hah!? Aku mati lagi gara-gara kau, tahu! Hei, sebagai permintaan maaf, biarkan aku pegang pahamu!"


"Hyaa!? H-Hey, jangan lancang pada dewi sepertiku! Berhent—ahihihi! A-aku sensitif, jadi geli, aku sudah bilang kan!"


Kematian kali ini pun, pada dasarnya, juga disebabkan oleh Izanami.

Kalau saja dia tidak melipatgandakan tingkat kesukaan Konome padaku, dia tidak akan menjadi yandere seperti itu.

Sebagai pembalasan, aku menggenggam lembut pahanya yang indah. Izanami pun tertawa terpingkal-pingkal sambil menggeliat.

Setelah membuatnya sampai keluar air mata karena geli, aku pun memutuskan untuk melepaskannya karena rasa kesalku sudah cukup terlampiaskan.



"Kuhaha! Sudah cukup! Aku tidak peduli meskipun kau menggelitiku sebanyak apapun! Memang, aku merasa sedikit bersalah, tapi jujur saja—melihatmu mati itu sangat menyenangkan, jadi situasi ini benar-benar terbaik buatku! Ayo, gelitiki sepuasmu! Aku akan terus tertawa melihat hidupmu yang menyedihkan itu!"


"Dasar nggak tahu malu… bener-bener keterlaluan."


Kelakuannya benar-benar keterlaluan, tapi entah kenapa justru terasa menyegarkan.

Yah, sekarang aku sudah merasa cukup puas, jadi untuk balas dendam berikutnya aku simpan dulu.

Ngomong-ngomong, aku harus segera menenangkan anak itu.



"Hikari, jangan terus menangis. Sini, kemarilah. Papa tidak apa-apa, kok."


Ya.

Karena aku telah mati, maka anakku di masa depan, Konoe Hikari, juga ikut mati.

Sama seperti sebelumnya, dia pun hadir di tempat ini.



"Hiks... higuuh..."


Tapi Hikari hanya meringkuk dan menangis di tempatnya.


"Papa... nggak apa-apa? Nggak sakit?"


Hikari mendekat dengan langkah kecil, lalu memelukku erat.

Air mata yang masih terus menetes dari matanya, pasti dia teteskan untukku.


"Hikari nggak suka kalau papa kesakitan..."


Hati lembut Hikari membuatku sangat terharu.


"Terima kasih sudah khawatir, Hikari. Tapi papa tidak apa-apa. Jadi, Hikari juga jangan menangis, ya? Kalau Hikari menangis, hati papa jadi ikut sakit, lho."


"Uuuh... kalau begitu, Hikari nggak akan nangis lagi."


Hikari langsung menurutiku, mengusap air matanya dengan kedua tangannya.


"Good girl. Anak pintar, ya."


"Ehehe... Papa, peluk Hikari?"


Saat aku mengelus kepalanya, Hikari akhirnya tersenyum kembali.

Dia lalu merengek manja meminta dipeluk, jadi aku menggendongnya ke dalam pelukanku.



Namun, ada sesuatu yang membuatku sedikit bingung.

Aku merasa… Hikari yang sekarang sedikit berbeda dari sebelumnya.



(Huh? Hikari… dulu nggak semanja ini, kan?)


Wujudnya memang sama seperti sebelumnya. Tapi banyak hal yang terasa janggal.

Kepribadiannya, misalnya—sekarang dia menyebut dirinya dengan "Hikari", bukan "aku" seperti dulu.

Dan cara dia memanggilku juga berubah dari "Otou-san" menjadi "Papa".

Kepribadiannya pun terasa lebih kekanak-kanakan dari sebelumnya.


Aku jadi penasaran. Jadi aku memutuskan bertanya pada Izanami.



"Izanami. Kepribadian Hikari… bukannya agak berubah, ya?"


"Tentu saja berubah. Bukankah itu sudah sewajarnya? Karena ibu dari gadis kecil itu juga berubah. Maka, wajar kalau kepribadiannya juga ikut berubah."


Izanami mengungkapkan fakta tersebut dengan santai, membuat mataku terbuka lebar karena terkejut.


"A-apa!? Ibunya bisa berubah!?"


"Benar. Takdir memiliki banyak cabang. Terutama untuk gadis kecil itu—dia adalah eksistensi yang belum tetap. Setiap kali angka probabilitas berubah, eksistensinya pun ikut berubah."


Jadi begitu… berarti masa depan bisa berubah, ya?


"Kalau begitu, siapa ibu dari Hikari sebelumnya!?"


"Hmm… kalau tidak salah, dia bisa berjalan dengan dua kaki."


"Aku ngerti! Jalan pakai dua kaki… tapi itu berarti bisa siapa saja dong!?"


"Y-ya, mau bagaimana lagi!? Membedakan manusia itu hampir mustahil bagi dewi sepertiku! Kecuali manusia seaneh kau, aku nggak punya minat buat mengingat yang lainnya!"


Kalau tahu begini, harusnya aku sudah tanya waktu itu… sekarang kebenarannya sudah tenggelam dalam kegelapan.


"N-nanti deh… Hikari, siapa nama mama kamu?"


"Mama? Mama namanya Konome, lho!"


(Jadi… kalau aku punya anak dari Konome, hasilnya akan seperti ini, ya. Kalau dipikir-pikir, memang banyak kemiripan antara Hikari yang ini dengan Konome…)


Penyebutan dirinya pakai nama sendiri, manja, dan sifatnya yang kekanak-kanakan meski usianya tidak kecil—ya, memang persis.



"Papa… mama nyakitin papa, maaf ya…"


"Itu bukan salahmu, Hikari. Lagipula, mama-mu juga sebenarnya nggak bersalah. Yang salah adalah dewi bodoh itu yang satu-satunya kelebihan cuma wajah dan tubuhnya!"


"Kufufu~. Bodoh pun aku nggak masalah~."


Izanami sudah masuk mode tidak tahu malu dan tak terkalahkan. Apapun yang kukatakan tidak akan ada gunanya.



"Lalu, bocah, bagaimana? Kalau kau ingin hidup kembali, aku bisa menghidupkanmu lagi dengan kekuatanku. Karena jujur saja, melihat hidupmu itu sangat menyenangkan. Tapi kalau kau sudah lelah dan tidak mau mengalami kesulitan lagi, kau bisa tetap mati. Mungkin itu malah lebih mudah bagimu."


Izanami menyerahkan keputusan padaku.

Selama dia masih tertarik padaku, sepertinya aku bisa hidup kembali berkali-kali.

Atau lebih tepatnya, selama mental-ku tidak benar-benar hancur.



"Papa..."


Ekspresi Hikari masih suram. Dia pasti tidak ingin aku terluka lagi.

Anak ini benar-benar baik… bahkan terlalu baik untuk menjadi anakku sendiri.


Dan karena itu, aku berpikir…



"Tentu saja aku akan hidup kembali. Aku ingin melihat Hikari tumbuh besar dan menjadi anak yang hebat!"


Perasaan ini tidak berubah.

Meskipun aku harus mati dua kali, jika pada akhirnya Hikari bisa lahir ke dunia, maka aku tidak akan pernah menyerah.



"Hikari, jangan khawatir. Papa baik-baik saja, kok."


Saat aku tersenyum padanya, Hikari langsung memelukku erat.


"Iya! Papa, aku sayang papa!"


Sambil mengelus kepala anakku yang manis itu, aku mengalihkan perhatian ke Izanami.



"Ngomong-ngomong… sebelum mati tadi, aku sempat melihat celana dalam Konome. Warnanya hitam dan cukup mencolok… karena itu, aku jadi makin semangat buat hidup lagi!"


"Kuhaha! Gayamu yang keren langsung rusak! Tapi begitulah dirimu, bocah!"


Keinginanku memang tak bisa disembunyikan.

Selain karena Hikari, aku juga nggak mau mati dalam keadaan masih perjaka!



"Kalau begitu, tolong kembalikan waktunya ke sebelum aku dan Ruri ngobrol. Soalnya gara-gara percakapan itu, Konome jadi yandere. Kira-kira sepuluh menit sebelumnya!"


Kalau bisa hidup lagi, maka menghentikan mode yandere bukanlah hal yang sulit.

Cukup kembali ke waktu sebelum penyebabnya terjadi, maka masalah pun selesai.


Tapi kekuatan Izanami—semacam sihir itu—ternyata tidak bisa dibuat sesuka hatiku.



"Sepuluh menit? Aku tak bisa mengatur waktu sedetail itu. Kalau tahun, sih, masih bisa."


"Tentu saja nggak bisa dong! Serius nih…?"


Benar juga, dia pernah bilang hanya bisa mengatur waktu dalam skala tahunan.



"Kalau begitu, sejauh mana kamu bisa mengatur waktunya dengan pasti?"


"Kalau cuma beberapa saat sebelum mati, sih, nggak masalah!"


"Yah, itu sih percuma!"


Kalau begitu, Konome tetap saja bakal mode yandere! Tapi, mau gimana lagi.


Setidaknya aku harus berharap kali ini waktu yang dipilih tidak terlalu buruk.

Kita anggap saja ada jeda satu menit sebelum kejadian. Mari rencanakan dari situ.



(Pertama-tama, aku harus menghindari sabit besar itu… Lalu, aku harus menenangkan Konome.)

Tadi, Konome tampak benar-benar kehilangan kendali, sampai-sampai tidak mau mendengarkan ucapanku.


(Sebenarnya, kenapa dia sampai segitu paniknya, ya…?)

Sepertinya dia sangat takut kalau aku akan pergi jauh darinya.



(Kalau begitu, hal pertama yang harus kulakukan adalah—membuat Konome merasa tenang.)

Apa yang harus aku lakukan supaya dia merasa aman?

Mungkin aku bisa minta bantuan Hikari juga.



"Hikari. Mamamu itu orang seperti apa?"


Saat kutanya begitu, Hikari mulai bercerita tentang Konome dari sudut pandang seorang anak.



"Mama? Mama itu suka banget skinship! Hikari juga sering dipeluk mama, lho!"


"Skinship, ya…"


"Waktu mama nyentuh Hikari dan papa, mama selalu kelihatan bahagia banget!"


Kalau dipikir-pikir, memang Konome sangat suka menyentuhku.

Itu bisa jadi petunjuk yang bagus.



"Terima kasih, Hikari. Berkatmu, sepertinya papa bisa menolong mama."


"Benarkah? Mama… bakal baik-baik saja?"


"Tentu saja! Soalnya papa Hikari ini hebat, lho!"


Saat aku mengatakannya dengan penuh keyakinan, Hikari langsung mengangguk kuat-kuat.

Sebagai seorang anak, dia juga sangat khawatir pada ibunya, Konome. Anak yang benar-benar luar biasa.



"Baiklah, kayaknya aku bisa mengatasinya! Izanami, ayo hidupkan aku kembali."


"Baiklah. Berjuanglah sekuat tenaga, bocah! Dan buatlah aku tertawa puas lagi!"


Yah, memang ini semua awalnya gara-gara dia… tapi kalau marah pun tak akan ada gunanya sekarang.



"Oke, waktunya—hop!"


Dengan ringan, Izanami menepukkan tangannya.



Dan pada saat itu, pandanganku yang tadinya terang berubah menjadi gelap total.



"Papa… semangat ya."


Ucapan lembut itu dibisikkan di telingaku oleh Konome yang sedang kupeluk.

Dan begitulah, aku pun hidup kembali—sekali lagi.


"Aku harus memastikan kakak tidak pergi ke mana pun!"


Ketika kesadaranku kembali, Shinigami-chan baru saja mengayunkan sabit besarnya.


(Aku masih punya waktu!)


Terakhir kali aku tidak bisa bereaksi karena terlalu mendadak, tapi kali ini aku bisa bergerak dengan sigap.


Pertama, agar tidak terkena sabetan sabit besar itu, aku memeluk Konomi dan mendorongnya hingga terjatuh.


Sabit besar itu melintas di atas kepalaku.


"Kya!"


"Konomi, maafkan aku!"


Dadaku sakit karena rasa bersalah, tetapi aku akan terbunuh jika tidak melakukan apa-apa, jadi mau bagaimana lagi.


"Tenanglah, Konomi!"


"Tidak! Lepaskan! Kalau begini terus, kakak akan menghilang… aku tidak mau itu! Aku ingin bersamamu selamanya! Aku tidak peduli jika aku mati, asalkan kau tetap di sisiku!"


Namun, Konomi terus berteriak dan berontak.


Sebelum Shinigami-chan membunuhku, aku harus menghilangkan kecemasan Konomi!


"Aku tidak akan menghilang. Aku berjanji."


"Pembohong! Kakak juga akan menghilang… sama seperti Papa dan Mama, kau pasti akan menghilang tiba-tiba, kan?! Aku tidak mau itu!"


Air mata mengalir dari matanya yang kosong.


(Oh, jadi begitu… itu masalahnya.)


Mendengar perkataannya barusan, aku akhirnya bisa memahami perasaan Konomi.


(Konomi takut aku akan menghilang, seperti saat Ayah dan Ibu mengalami kecelakaan.)


Kedua orang tua kami, yang sangat penting bagi kami, sudah tiada.


Suatu hari, mereka tiba-tiba meninggal karena kecelakaan. Aku ingat Konomi terus menangis saat itu… tapi berkat aku yang selalu di sisinya, dia bisa bangkit kembali.


Artinya, aku adalah satu-satunya keluarga Konomi dan juga penopang emosionalnya.


Sekarang, setelah "Izanami" membuat tingkat kesukaannya padaku berlipat ganda, keberadaanku semakin besar di dalam dirinya. Sampai-sampai dia berpikir untuk membunuhku agar bisa tetap di sisiku…


Jika begitu, hanya ada satu hal yang harus kulakukan.


Tidak ada yang istimewa. Aku hanya perlu menenangkannya seperti yang selalu kulakukan.


Petunjuk untuk itu sudah kudapat dari Hikari.


"Konomi… aku tidak akan meninggalkan sisimu. Aku sangat menyayangimu."


"Pembohong! Kakak pasti lebih suka Kak Ruri daripada Konomi, kan… Kak Ruri cantik dan payudaranya juga besar!"


"Bukan bohong! Aku akan membuktikan dengan tindakanku bahwa aku lebih mencintaimu daripada Ruri… jadi, maafkan aku, ya?"


Tepat setelah mengatakan itu, aku mengendurkan tanganku yang menahan Konomi, membebaskannya.


Konomi segera berusaha melepaskan diri dariku, tapi sebelum itu—


"Momimomimomimomi!"


—Aku meremas payudara Konomi dengan sekuat tenaga!


Meskipun kecil, payudara yang jelas-jelas ada itu terasa lembut dan luar biasa. Bisa meremasnya sepuasnya benar-benar hebat! Ini saja sudah sepadan dengan usaha untuk hidup kembali.


"Hyaaaah!?"


Mendapat pelecehan seksual yang tiba-tiba, bahkan Konomi yang dalam mode yandere pun terkejut.


Dia berteriak dan menggeliat, tapi karena aku menahannya, dia pasrah saja.


Ini kesempatanku! Aku terus berbicara tanpa henti.


"Payudara yang bagus. Payudara ini tidak kalah dengan milik Ruri."


"...Uhm, itu bohong. Payudaraku kecil."


"Bukan bohong! Semua payudara itu sama-sama menakjubkan! Yang besar memang bagus, tapi yang kecil juga luar biasa. Masing-masing punya kelebihan yang berbeda, jadi jangan menyangkal payudaramu sendiri seperti itu!!"


Aku mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya. Memang benar, semakin besar payudara, semakin menakjubkan.


Tapi, yang kecil pun bagus. Tidak ada tingkatan dalam payudara. Semuanya sama-sama luar biasa.


"Aku suka payudara Konomi. Lihat, aku sangat menyukainya sampai aku memaksamu jatuh dan meremasnya seperti ini. Apa kau percaya? Kalau tidak percaya, aku akan meremasnya lebih keras, apa kau mau begitu?"


"...Mesum! Kakak mesum!"


"Ya, benar. Kakakmu yang kau sayangi ini memang mesum. Apa kau pikir aku akan meninggalkan sisi Konomi? Aku sangat menyukai Konomi sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak memaksamu jatuh seperti ini, apa kau benar-benar berpikir aku akan menghilang?"


Aku menghentikan tanganku yang meremas, lalu menangkup wajah Konomi.


Aku menyeka air mata yang mengalir dengan jariku, dan tersenyum lembut padanya.


"Aku tidak akan menghilang seperti Ayah dan Ibu. Percayalah padaku."


Kulit kami bersentuhan. Merasakan kehangatan satu sama lain, entah kenapa hatiku terasa tenang. Begitu juga diriku, dan tentu saja… Konomi juga pasti merasakan hal yang sama.


"...Sungguh? Sungguh, sungguh, tidak akan menghilang?"


Ekspresinya sedikit lebih tenang dari sebelumnya.


Pipinya memerah karena payudaranya diremas, tapi air matanya sudah tidak mengalir lagi.


Merasa lega melihat itu, aku menganggukkan kepala dengan kuat.


"Ya. Aku akan tetap di sisimu."


"...Tidak akan membenci Konomi?"


"Apa kau pikir aku akan membencimu, padahal aku sangat ingin meremas payudaramu?"


"...Ingin melakukan hal mesum pada Konomi?"


"Tentu saja! Tidak, biarkan aku melakukannya!"


"...Maukah kau mencintai Konomi?"


"Sebagai keluarga, dan sebagai seorang gadis… aku sangat mencintaimu, Konomi."


Setelah mengatakan itu, Konomi tiba-tiba memelukku dengan sekuat tenaga.


"Konomi juga sangat mencintaimu, kak!"


Yang terdengar bukanlah suara dingin saat dia dalam mode yandere, melainkan.


"Payudara ini masih memalukan, jadi jangan terlalu sering disentuh… t-tapi sesekali boleh, ya? Sebagai gantinya, Konomi juga akan banyak menyentuh kakak!"


Mata Konomi yang menatapku berbinar seperti biasanya.


Shinigami-chan… ya, dia sudah tidak ada. Melihat sekeliling ruangan, dia tidak terlihat, jadi kurasa sekarang sudah aman.


Entah bagaimana, krisis yandere Konomi berhasil kuhindari… Syukurlah.


"Oke, oke."


Aku membalas pelukannya dan membelai kepalanya. Ketika aku melakukannya, Konomi tersenyum lembut, seolah merasa lega. Memang benar, senyum paling cocok untuk gadis ini.


Melihat senyumnya yang begitu tulus, aku benar-benar merasa bersyukur bisa hidup kembali.


"Sudah larut, mari kita tidur. Kali ini aku akan tidur bersamamu agar tidak mimpi buruk."


"Benarkah? Terima kasih… t-tapi, jangan sentuh payudaraku lagi, ya? Aku jadi deg-degan dan tidak bisa tidur nanti."


"Itu belum tentu~ Kalau Konomi jadi anak nakal yang begadang, aku tidak tahu, lho~"


"A-aku akan tidur! Kalau kakak ada di sampingku, aku pasti bisa langsung tidur!"


Begitulah, kami berdiri sambil bercanda.


Konomi yang kembali seperti semula, memang gadis yang paling manis—

Posting Komentar

Posting Komentar