Hari kelulusan SMA.
Aku dipanggil ke belakang gedung olahraga, dan di sanalah seorang gadis cantik menyatakan cinta padaku.
"Senpai! Aku menyukaimu, tolong jadilah pacarku……!"
Gadis yang mengaku padaku bernama Kanade Shizuku.
Dia adalah adik kelasku yang satu tahun lebih muda, dan rambutnya yang dikuncir kuda tampak begitu ceria. Mungkin karena gugup, dia mencubit ujung seragamnya erat-erat—sungguh imut.
Sebagai seorang cowok yang seumur hidup belum pernah punya pacar, tentu saja aku sangat senang saat menerima pengakuan itu.
(Akhirnya! Aku… akhirnya punya pacar!)
Aku punya sebuah impian.
Impian yang sangat lelaki, luhur, dan… mulia.
Aku ingin memegang payudara yang lembut!
Aku ingin menyentuh kulit montok dan kenyal!
Aku ingin menyembunyikan wajahku di rambutnya yang harum!
Aku ingin diinjak oleh kaki ramping dan lentur!
Impian indah itu—sekarang seolah hampir menjadi kenyataan.
Tapi… ada sedikit masalah.
"Konomi juga… sangat mencintaimu, Onii-chan!"
Menyusul Shizuku, gadis lain yang berdiri di sebelahnya juga menyatakan cinta.
Namanya Konoe Konomi—adik tiriku yang imut dengan dada kecil yang menggemaskan.
"Kouki-san, aku mencintaimu."
Dan lalu, gadis cantik lain yang berdiri di samping Konomi juga mengaku cinta.
Dia adalah teman sekelasku, Saionji Ayaka, yang punya ciri khas rambut terang dan… dada super besar.
Secara mengejutkan, aku mendapatkan pengakuan cinta dari tiga gadis sekaligus.
(A-apa yang harus kulakukan!? Haruskah aku memilih salah satu dari mereka!? Tapi mereka semua imut!)
Namun akhirnya—
"Aku nggak bisa memilih… semuanya imut, jadi aku nggak bisa menentukan satu!"
Seorang adik kelas imut seperti binatang kecil, adik tiri yang bikin ingin dilindungi, dan teman sekelas dengan dada besar menggoda.
Mereka semua terlalu sempurna untukku. Menolak mereka? Tidak mungkin!
Saat aku bingung, ketiga gadis itu dengan panik menggelengkan kepala.
"awa wa, maafkan kami! Kami bukan berniat membuatmu bingung… sebenarnya, kami bertiga sudah berdiskusi dan sepakat untuk menyatakan cinta bersama."
"Rasa cinta kami ke Onii-chan itu sama… jadi kami ingin cari cara agar semuanya bisa bahagia."
"Jika kau bersedia… bisakah kau pacaran dengan kami bertiga sekaligus?"
Itu adalah… sebuah tawaran yang sangat menguntungkan bagiku.
"A-apa benar tidak apa-apa? Maksudnya… ini bakal jadi harem, tapi kalian tetap oke!?"
Ketiga gadis itu mengangguk kuat.
Tampaknya, mereka mencintaiku sampai-sampai bersedia menerima hubungan harem.
Kalau begitu… sebagai pria, menerima cinta mereka semua adalah bentuk tanggung jawab!
"Dengan senang hati! Mari kita jalani hubungan ini dengan bahagia dan penuh kemesraan!"
Dengan semangat aku mengulurkan tangan, dan ketiganya langsung menyambutnya serempak.
"Sebagai pangeranku… tolong jaga aku, Senpai!"
"Kita akan selalu bersama ya, Onii-chan!"
"Mulai sekarang, aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Kouki-san♪"
Begitulah—hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku punya pacar.
Dan bukan cuma satu, tiga sekaligus!
Sekarang… apa yang harus kulakukan duluan?
Boleh nggak kalau langsung megang payudara?
Soalnya, di buku pelajaran (majalah dewasa) tertulis: kalau udah jadian, boleh melakukan hal-hal mesra!
"Ka-kalau begitu… boleh aku pegang payudara kalian dulu──"
Baru saja aku ingin bilang "izinkan aku meremasnya", saat itulah…
────
Tiba-tiba, suara lonceng yang indah menggema dari langit.
(Apa itu barusan?)
Bunyinya seperti bel gereja yang mengumumkan sesuatu…
"""Kyaaa!"""
Ketiga gadis—Shizuku, Konomi, dan Ayaka—berteriak kecil saat mendengarnya.
Aku buru-buru mendekat karena khawatir kalau-kalau sesuatu terjadi.
"Hei, kalian nggak apa-apa!?"
Ketiganya tampak goyah seperti sedang pusing, tapi tidak pingsan.
Begitu mendengar suaraku, mereka langsung menjawab.
"Aku baik-baik saja… Senpai, ehm… tadi kita lagi ngapain ya?"
"Konomi juga oke kok… ah iya, kita akan berbagi kakak kan?"
"Aku juga baik-baik saja. Kalau begitu… yuk, kita mulai bagi Kouki-san."
Tapi… ada yang aneh dengan mereka.
Entah kenapa, atmosfer mereka berubah.
"Eh? Maksudnya berbagi… bukannya kita sudah berbagi?"
Karena aku pacaran dengan mereka bertiga, otomatis perasaanku sudah dibagi ke mereka semua, kan?
Tapi kata-kata mereka terasa ganjil… meski aku mencoba untuk tidak terlalu khawatir.
"Yosh, saatnya pegang payudara──"
Aku tidak bisa menahan diri.
Tentu saja, target utamaku adalah Ayaka, pemilik dada terbesar.
Aku mengulurkan tangan ke arahnya.
Namun…
Cekrek♪
Seketika, aku merasakan sesuatu yang aneh di dadaku.
Aku melihat ke bawah dan…
(Huh? Ada yang nancep…!?)
Di dadaku, tertancap benda tajam besar.
Bentuknya mirip sabit raksasa.
(Tidak, tunggu dulu… ini pasti salah! Tidak mungkin aku ditusuk cuma karena ingin pegang dada, kan!?)
Mungkin aku salah lihat. Mari pastikan lagi.
(TIDAK SALAH, EMANG BENERAN NANCEP!!)
Tak peduli seberapa sering aku mengeceknya, sabit itu tetap tertancap dalam-dalam.
Dengan panik aku menatap ke arah si pemilik sabit.
Di depanku berdiri seorang wanita cantik berpakaian aneh, dengan senyum di wajahnya.
(Siapa dia!? Dan… kenapa bajunya seksi banget!)
Bahkan di tengah situasi seperti ini, aku—seorang perjaka—masih sempat tergoda.
Dada besar wanita itu tetap menonjol meski terbungkus kain putih bergulung seperti sarashi.
Rambut panjang hitamnya, wajahnya yang seperti boneka Jepang—dia sangat cantik.
Terlalu cantik sampai-sampai terasa tidak nyata… bahkan, membuat tubuhku gemetar.
(Dia ini… bukan manusia. Aku bisa merasakannya.)
(Dari mana dia muncul? Kenapa dia menusukku? Aku cuma mau megang payudara!!)
Pikiran mulai kalut. Aku pelan-pelan kehilangan kekuatan dan jatuh berlutut.
Sementara itu, ketiga gadis menatapku dari atas, tersenyum.
"Senang rasanya, karena Kouki-san bersedia dibagi."
"Kakak… mulai sekarang, Konomi akan selalu menjagamu ya?"
"Senpai! Aku akan sangat mencintaimu!"
Ucapan mereka aneh, dan senyuman mereka…
itu bukan senyuman normal.
(Mata mereka… tidak bersinar…?)
Mata yang tadinya berkilau penuh cinta, kini kosong dan mati.
Sepertinya, bunyi lonceng tadi memang membawa sesuatu yang jahat.
Kondisi mereka sekarang…
(Tunggu… ini yang disebut 'Yandere' itu!?)
Tidak, tenang dulu. Coba susun informasinya. Harus tetap rasional.
Sampaikan faktanya secara apa adanya.
Tiba-tiba ditusuk oleh wanita cantik pembawa sabit.
Lalu ketiga gadis yang menyatakan cinta padaku berubah menjadi Yandere.
...Oke. Tetap gak ngerti.
"Bolehkah aku punya wajah Kouki-san? Aku ingin melihatnya setiap hari."
"Aku mau lengannya! Supaya kita bisa terus bergandengan tangan!"
"Konomi… mau kakinya. Kalau bisa memegang kakimu, kau tidak akan kabur, kan?"
Tadi mereka bilang ingin berbagi cinta dan hidup bahagia bareng, kan!?
(TUNGGU. BUKAN PERASAANKU YANG DIBAGI, TAPI TUBUHKU!?)
Mereka benar-benar bermaksud membagi tubuhku secara fisik.
"Tunggu dulu! Wajah doang gak bisa ngapa-ngapain kan!? Pegangan tangan juga gak ada artinya kalau aku udah mati! Pegang kaki juga percuma kalau yang dipegang mayatnya, kan!? AKU KAN MATI!!"
Aku rasa itu adalah bantahan yang sangat masuk akal.
Tapi ketiga gadis itu hanya menatapku dengan bingung.
"Senpai tidak akan mati, kok?"
"Kakak akan hidup selamanya."
"Di dalam hati kami... selamanya, ya♪"
...Tidak. Percakapan ini tidak masuk akal.
Aduh, gadis-gadis Yandere ini benar-benar menakutkan!
Dan seolah menanggapi kata-kata mereka, wanita bersarashi itu kembali mengayunkan sabit raksasanya.
Seakan mengikuti perkataan tiga gadis itu—untuk benar-benar memotong-motong tubuhku.
(T-tunggu, dia serius mau motong aku jadi tiga bagian!?)
Bukan "seolah-olah", dia benar-benar berusaha membelahku jadi tiga!
(Ah… aku bakal mati. Gak bisa lagi… ini udah akhir.)
Tubuhku mulai terasa ringan, melayang…
Aku bahkan tidak bisa bicara lagi.
Tanpa bercanda, aku benar-benar akan mati.
Namun aku berusaha mengerahkan sisa-sisa tenaga yang kumiliki untuk mengangkat tanganku.
Setidaknya… sebelum mati, aku ingin menyentuh payudara!
Aku tidak mau mati dalam keadaan masih perjaka!
Tapi tangan itu bahkan tak mampu meraih apapun…
dan jatuh lemas ke tanah, begitu saja.
"Senpai, mari kita hidup bahagia bersama ya!"
"Kakak, Konomi tidak akan ke mana-mana kok!"
"Kouki-san, aku senang… karena aku akan semakin mengenalmu ke depannya♪"
Ketiganya tersenyum begitu bahagia.
Seperti pengantin wanita di hari pernikahan mereka.
Memandangku dengan mata berair yang begitu manis… tapi tentu saja, ini bukan momen yang membuatku bisa berkata "aww, so cute!"
Mereka tidak hanya imut—mereka sudah gila!
Mereka sudah tidak bisa disebut hanya sekadar "manja" atau "menggemaskan"…
mereka sudah masuk kategori sadis yang menyeramkan.
Kata-kata cinta yang mereka bisikkan di detik-detik kematianku, membuatku tak bisa membalas apa pun.
(Uuh... aku nggak mau mati sebagai perjaka… nggak mauuuuuuuuu!)
Itulah teriakan terakhir dalam hatiku,
sebelum pandanganku diselimuti oleh cahaya putih yang menyilaukan.
Konoe Kouki, wafat di usia 18 tahun.
Meninggal sebagai perjaka, meninggalkan dunia ini──
"Ugh... hiks... ini terlalu kejam..."
Terdengar suara seseorang menangis, dan aku perlahan membuka mataku.
(Ah? Ini di mana?)
Tempat yang asing. Saat aku melihat sekeliling, yang tampak hanyalah ruang putih tak berujung.
Tidak ada lantai, dinding, ataupun langit-langit. Ruang aneh yang tampaknya tak berasal dari dunia ini.
"Ah, kamu sudah bangun?"
Gadis yang menangis sambil memandangiku dari atas adalah seseorang yang benar-benar tidak kukenal.
Rambut hitamnya halus dan berkilau, mata bundarnya besar dan hitam, tubuh kecilnya dibalut gaun putih lembut… mungkin sekitar anak SD?
Wajahnya memang imut, tapi tetap saja, dia di luar zona targetku.
Biasanya, aku hanya merasa ingin memberinya permen kalau melihat gadis kecil seperti ini. Tapi entah kenapa, hanya anak ini saja yang terus mengganggu pikiranku.
Padahal aku yakin belum pernah bertemu dengannya, tapi rasanya seperti pernah.
Saat aku masih memiringkan kepala mencoba mengingat, tiba-tiba gadis kecil itu memelukku erat.
"…Ayah!"
"Ayah!?"
Aku benar-benar terkejut mendengar kata-kata yang ia ucapkan.
(Aku ini masih perjaka, mana mungkin punya anak!?)
Apa aku berkembang biak secara aseksual tanpa sadar!? Apa karena terlalu lama jadi perjaka sampai karakteristik biologisku berubah!? Sungguh, jadi perjaka itu tidak ada untungnya!
"Ayah adalah... ayahku, Konoe Hikari! Aku sangat senang bisa bertemu Ayah waktu masih muda. Tapi... tapi... tetap saja, rasanya sedih..."
Jadi nama anak ini Hikari, ya. Tapi tetap saja, aku belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.
"H-Hey, sebenarnya ini semua apa sih...? Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?"
Pertanyaan terus bermunculan. Tempat ini di mana? Kenapa Hikari memanggilku Ayah?
Lebih penting lagi, yang paling membingungkan adalah...
(Aku… barusan kan mati! Kenapa aku masih sadar!?)
Konoe Kouki seharusnya sudah mati dalam keadaan perjaka. Tidak sempat meraba oppai, apalagi mencium celana dalam. Seharusnya aku mati penuh penyesalan.
"Aku yang akan jelaskan hal itu, kalau begitu. Ayo, lihat ke arah sini."
Saat aku masih dalam keadaan bingung, suara lain terdengar menggema di tempat yang seharusnya hanya ada aku dan Hikari.
"Kuhfufufu. Kau terpesona oleh kecantikanku, ya? Hm, tidak bisa disalahkan memang... Aku akan maafkan ketidaksopananmu itu. Ayo, lihat baik-baik padaku!"
Sombong banget. Jujur, agak nyebelin sih. Tapi ya… seperti yang dia bilang, dia memang cantik banget.
Rambut hitam pekat yang berkilau bak porselen, mata merah yang bersinar misterius, kulitnya putih seperti bisa memantulkan cahaya. Meski mengenakan pakaian seperti kimono tebal, bentuk payudaranya yang besar tetap terlihat jelas.
Tubuhnya benar-benar… sensual.
Tapi entah kenapa, walaupun seindah itu, si junior di bawah tidak bereaksi sama sekali. Tidak tertarik, bahkan.
Rasanya seperti wanita bersarashi yang membunuhku waktu itu… dia bukan manusia.
"Pertama, perkenalkan diriku. Aku adalah Izanami. Juga dikenal sebagai Yomitsu Ookami. Penguasa dunia bawah… tempat yang kalian manusia sebut sebagai alam baka. Aku adalah dewi cantik yang mengatur dunia ini."
AHAHA, dewi katanya. Lucu banget, wkwk.
…Itu yang biasanya akan aku pikirkan. Tapi sekarang, entah kenapa, aku bisa merasakan bahwa dia memang bukan manusia. Jadi mungkin saja dia memang dewi.
"Alam baka, ya…"
"Benar. Kau sudah mati. Dibunuh dengan sangat tragis dan dibelah jadi beberapa bagian."
"Dibelah…!"
Dengan ucapan itu, aku langsung mengingat bagaimana aku mati.
Iya, aku ditusuk berulang kali oleh wanita bersarashi itu dengan sabit raksasanya! Tubuhku dipotong jadi tiga bagian, kan!? Serem banget kalo dibayangin!!
Padahal aku baru aja pacaran sama tiga cewek cantik dan siap menikmati hidup harem… siapa sangka malah berakhir kayak gini.
(Tapi... kenapa mereka tiba-tiba berubah jadi yandere sih?)
Ingatanku sebelum mati pun kembali. Ketiga pacarku jelas berubah drastis sebelum aku dibunuh.
Itu memang bikin penasaran… tapi, yah, sekarang mungkin udah nggak penting lagi.
"Jadi aku... beneran mati, ya..."
Untuk kesekian kalinya, aku menyadari kenyataan pahit itu.
Meninggal tanpa kehilangan keperjakaan, tanpa pernah menyentuh oppai satu kali pun…
Maaf, Ayah, Ibu di surga… aku gagal meneruskan garis keturunan keluarga kita...
"Ngomong-ngomong, anak kecil itu memang benar-benar putrimu, tahu? Seharusnya dia lahir di masa depan, tapi karena kau mati duluan, jiwanya juga ikut datang ke sini."
"A-apaa!? Jadi di masa depan aku akan menikah!? Dan... punya anak secantik ini!?"
Sumpah aku kaget banget! Jadi ada kemungkinan aku bisa punya anak secantik ini!?
Dan sekarang aku paham kenapa sejak awal Hikari terasa tidak asing.
Wajahnya mirip denganku, dan aku juga merasakan dorongan kuat untuk melindunginya… seperti semacam naluri seorang ayah.
"Ayah… aku tumbuh sehat dan ceria di masa depan, tahu? Sebenarnya… aku ingin menikah dengan Ayah setelah dewasa nanti… tapi sekarang, itu nggak bisa lagi…"
Meskipun Hikari tidak bisa menikah dengan ayahnya, dia tetap menangis penuh penyesalan.
Hey, aku ternyata sangat dicintai oleh anakku sendiri… dan itu bikin hatiku hangat.
Tapi karena itu juga, aku merasa lebih sedih karena tahu aku tidak akan bisa bertemu lagi dengannya di masa depan.
"Maaf ya, Hikari… sialan…"
Satu tahun.
Yah, kalau cuma selama itu, mungkin masih bisa aku tahan.
"Selama waktu itu, perasaan mereka tetap dua ratus persen, ya... Bisa-bisa aku dibunuh cuma gara-gara hal sepele."
"Aku sendiri pun terkejut. Ternyata manusia yang punya tingkat ketertarikan dua ratus persen, bisa tiba-tiba ingin membunuh orang yang mereka cintai... Kufufu. Menarik sekali. Sangat memikat."
"Kalau menurutku sih, sama sekali nggak lucu!"
Karena ulah Izanami, tingkat ketertarikan ketiga gadis itu meningkat secara berlebihan hingga dua ratus persen, dan tinggal menunggu momen saja sebelum sisi yandere mereka muncul.
Begitu mereka ‘ingin membunuhku’ karena terlalu cinta, semuanya selesai.
Shinigami-chan yang terikat padaku akan mengayunkan sabit besarnya mengikuti kehendak mereka.
"Kalau begitu, aku nggak boleh hidup kembali pas hari kelulusan. Soalnya waktu itu, mereka semua udah cinta banget sama aku, pasti langsung yandere."
"Aku bisa mengatur kapan kau hidup kembali, kok? Tapi ya, aku ini agak ceroboh, jadi rentangnya cuma bisa per tahun. Aku bahkan bisa membuatmu kembali ke masa lalu. Karena aku ini dewi yang maha kuasa!"
"Iya iya, kamu hebat banget deh… Tapi tunggu, kalau aku kembali ke masa sebelum sihirmu aktif, berarti efek sihirnya juga hilang dong? Bisa batal, kan?"
"Tidak. Kekuatan dewi milikku terpatri langsung ke jiwa manusia. Lagipula, waktu itu kan hanya konsep bagi makhluk hidup? Kami para dewa hidup dalam kekekalan, jadi tidak terlalu memedulikan hal semacam itu."
Aku sih nggak terlalu ngerti logikanya, tapi intinya… sihirnya nggak bisa dibatalkan.
"Kalau begitu, lebih aman kembali ke waktu satu tahun sebelum kelulusan... Mungkin sekitar awal kelas dua SMA."
Dari titik itu, aku harus menjalani hidup setahun penuh tanpa memicu yandere mereka.
Menahan diri agar tidak membuat mereka terlalu cinta.
Dan setelah itu... aku akan menyentuh oppai.
Itu baru namanya Happy Ending!
"Aku memang harus menunda kelulusan dari status perjaka... Tapi kalau dipikir positif, aku bisa menjalani masa SMA yang menyenangkan sekali lagi. Itu juga nggak buruk."
Setelah lulus, aku sebenarnya berencana membantu kakek dan nenek yang tinggal di desa dan mengelola pertanian.
Jadi, bisa mengulang kehidupan SMA bersama semua orang sebelum perpisahan… bukan ide yang buruk.
"Ayah… yakin bisa?"
Hikari, yang sedari tadi mendengarkan, menggenggam tanganku erat dengan raut khawatir.
"Aku nggak mau lihat Ayah kesakitan, lho…"
Mungkin anak ini lebih takut akan kematianku daripada diriku sendiri.
"Jangan khawatir! Aku ini calon Ayahmu, tahu!? Entah kapan waktunya nanti, pastikan kamu lahir kembali di dunia nyata dan tunjukkan wajah ceriamu. Biarkan aku jadi Ayahmu, Hikari."
Meski aku masih perjaka, hatiku sudah sepenuhnya menerima Hikari sebagai anakku.
Entah kenapa, naluriku berteriak bahwa aku harus melindungi anak ini.
"Untuk Hikari juga, aku nggak akan menyerah."
Aku mengucapkannya dengan penuh tekad untuk menenangkan dia.
Hikari pun mengangguk dengan senyum cerah di wajahnya.
"Iya! Tolong jadikan aku putri Ayah, ya!"
"Serahkan saja padaku!"
Melihat senyum itu, hatiku terasa hangat. Aku merasa bisa melakukan apa pun demi anak ini.
"Yosh, siap-siaplah. Aku juga cukup menantikan untuk mengintip kehidupanmu sekali lagi, tahu?"
"Padahal semua ini gara-gara kamu… haah. Sudahlah."
Yang paling menyebalkan dari dia itu—dia benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali.
Tapi mungkin memang salahku juga karena berharap dewa bisa mengerti perasaan manusia.
Karena itu sudah di luar kendalinya, tak ada gunanya terus mengeluh.
"Kalau masih perjaka, aku nggak boleh mati! Demi oppai!"
Aku nggak bisa mati sebelum menyentuh oppai!
"Kalau begitu… Hoi-to-na."
Izanami bertepuk tangan pelan.
Sesaat setelah itu, pandanganku berubah menjadi gelap gulita.
"Ayah, semangat ya!"
Suara dukungan Hikari menjadi yang terakhir kudengar, sebelum kesadaranku menghilang ke dalam kegelapan──



Posting Komentar