"Akhirnya... selesai juga."
Di puncak kastil yang terbakar, aku menggenggam pedang Jepang di tangan sambil merasakan kepuasan dan kehampaan secara bersamaan. Tanpa iringan lagu penutup, hanya tulisan [TAMAT] yang terpampang di hadapanku.
Aku mengetuk ruang kosong dua kali untuk memunculkan menu, keluar dari game, lalu melepas benda yang tadi kupakai di kepala, dan meletakkannya dengan hati-hati di atas dudukan khusus.
Yang ada di hadapanku adalah benda menyerupai helm motor berwarna hitam, sebuah perangkat canggih.
Ini adalah perangkat misterius bernama Virtual Reality HeadGear—atau yang biasa disebut VR Headgear, sebuah alat game yang kini menjadi arus utama, memungkinkan pengguna untuk menyelami dunia virtual yang dibangun oleh program dengan kelima indra dan kesadaran sepenuhnya.
Sejak kemunculan VR Headgear ini, game konsol dan game handheld nyaris lenyap dari pasaran. Semua perusahaan game kini fokus mengembangkan VR game—game yang memungkinkan penyelaman penuh ke dalam dunia virtual.
—Game VR yang memungkinkanmu merasakan dunia lain bisa dibilang seperti sejenis narkoba.
Kalau sudah kecanduan, tentu saja waktu yang dihabiskan di dunia virtual akan jauh lebih banyak daripada di dunia nyata.
Dan di era sekarang, orang-orang seperti itu disebut pecandu VR, dan dianggap sebagai masalah oleh sebagian kalangan.
"...Segala sesuatu memang paling baik kalau dilakukan secukupnya."
Aku mengucapkan itu seakan masalahnya bukan milikku. Tapi nyatanya, aku sendiri—Kamijou Sora, siswa kelas dua di SMA Kamisato tahun ini—termasuk salah satu pecandu VR itu.
Dalam hal permainan, aku termasuk gamer "omnivora" yang memainkan berbagai genre, baik yang mendapat nilai tinggi maupun rendah.
Kalau terlalu pilih-pilih, aku tidak akan bisa menjadi pro gamer seperti guru yang dulu mengajariku betapa hebatnya dunia game lewat pengalaman langsung.
Dengan pola pikir itu, aku sering memilih game yang mustahil diselesaikan dengan skill pemain biasa, sampai-sampai teman-temanku sering berkata, "Kamu tuh, masokis ya," sambil mundur perlahan.
Kalau harus menyebut satu dari riwayat permainanku belakangan ini, game battle action "Musha Jigoku" yang baru saja kuselesaikan tadi benar-benar tidak layak direkomendasikan pada siapa pun.
Tidak ada cerita sama sekali, dan meski game ini VR dengan penyelaman penuh, anehnya pemain hanya bisa bergerak ke depan, belakang, kiri, dan kanan saat bertarung. Dan setiap kali mati, semua data di-reset. Setelah melalui penderitaan itu, yang menanti di akhir adalah ending multi-cabang dengan sistem waktu terbatas.
"Putri yang disekap, dual wielding... uh, kepalaku..."
Trauma baru yang tertanam di otakku membuat kepalaku nyeri. Sepertinya lebih baik berhenti memikirkannya.
—Singkatnya, ini adalah crappy game yang jauh lebih parah dari rumor yang beredar. Untuk menjaga kestabilan mental, aku biasanya main game bagus setelah main game jelek. Dan sekarang tubuhku menuntut game terbaik—sebuah "kamige"—untuk memulihkan diri dari luka batin ini.
Namun, game yang diakui sebagai "kamige" oleh semua orang tidaklah mudah ditemukan.
Setidaknya, dalam daftar yang terakhir kutinjau, tidak ada yang memenuhi kriteria.
"Game legendaris zaman dulu sudah terlalu sering kumainkan, jadi ya wajar kalau aku bosan. Kalau begitu, pilihan yang tersisa adalah..."
Di atas ranjang kamar sederhanaku, aku menghela napas panjang sambil memandangi sebuah kartu DL yang kupegang di tangan.
Judul yang tertera di sana adalah game VRMMORPG terbaru berjudul "Astral Online", sebuah game online yang memungkinkan bermain bersama pemain dari seluruh dunia.
Game ini mulai dijual di toko game seminggu lalu dan langsung menjadi hit besar, mencetak rekor 10 juta pemain aktif secara bersamaan.
Ceritanya adalah, pemain berperan sebagai salah satu petualang yang diutus dari langit ke benua Astral, dan bertualang untuk mengalahkan Raja Iblis "Shaitan" yang berusaha menaklukkan dunia.
Fokus utamanya adalah pertarungan melawan monster, tapi ada banyak fitur agar orang yang kurang suka bertarung tetap bisa menikmati game ini. Pemain bisa membentuk klan dan menjelajahi peta luas bersama teman, atau memilih profesi crafting untuk membuat senjata dan pakaian.
Menurut adikku Shiori dan teman-teman dekatku yang sudah memainkannya sejak hari pertama rilis, dalam game ini kamu bisa membeli rumah, bahkan menikah dengan NPC.
"Astral Online" yang sedang naik daun ini memang sedang jadi bahan pembicaraan di kalangan gamer. Saat aku bertanya apakah ada game seru yang bisa dimainkan selama liburan musim panas, semua orang langsung merekomendasikan game ini.
"Kamige dalam bentuk online, ya..."
Sambil menatap kartu DL itu, aku otomatis mengerutkan dahi pada bagian "online".
Karena suatu alasan di masa lalu, aku memutuskan untuk pensiun dari VRMMORPG pertama di dunia, "Sky High Fantasy"—alias SkyHigh—dan sejak itu aku sudah tiga tahun menjauhi game online.
Jadi, kenapa aku sekarang memiliki game ini?
Bukan karena aku membelinya sendiri di toko. Pagi hari saat game ini mulai dibagikan, aku dan Shiori mendapati kartu DL ini ada di dalam kotak pos rumah kami—dikirim atas nama tim pengembang SkyHigh.
Kenapa mereka mengirimkannya pada kami berdua, aku benar-benar bingung. Tapi kartu DL-nya asli.
(Shiori sempat mengajakku main bareng waktu itu...)
Namun karena sudah tiga tahun hidup dalam dunia offline, aku jadi canggung dan akhirnya menolak dengan alasan "nanti kalau sempat".
"Kalau saja waktu itu aku ikut... Tapi..."
Aku bergulat dengan perasaan galau dalam hati.
Tetap mempertahankan jalan ninja offline-ku, atau bersiap untuk berinteraksi dengan pemain lain dan kembali melangkah ke dunia game online?
Setidaknya, aku yakin game ini tidak akan mengecewakan. Toh, ini adalah game yang semua orang sepakat menyebut sebagai kamige.
"Uuh... hmm..."
Setelah merenung selama hampir satu jam, berputar-putar di kursi gaming, lalu berguling-guling di atas ranjang entah berapa kali, aku akhirnya menatap langit-langit kamar sambil kosong pikiran.
Saat itulah, ponsel di dekat bantal berbunyi menandakan pesan masuk.
"...Mereka, lagi."
Di layar LCD, seperti biasa, muncul pesan dari dua sahabatku—Takamiya Shinji dan Kouzuki Shirou: "Ayo main online bareng, sekali aja juga nggak apa-apa!"
Serius deh, ini timing-nya terlalu pas, sampai aku spontan menggerutu tanpa suara.
"Tapi kalau cuma sekali... ya, sekali aja, mungkin nggak apa-apa..."
Setelah cukup lama berpikir, aku meyakinkan diri sendiri dengan bergumam dan mengambil keputusan.
Aku meraih VR Headgear, membuka penutup kartu DL, dan memindai kodenya.
Setelah proses download dimulai, aku berbaring di atas ranjang. Melirik jam dinding—sekarang pukul 8:30 pagi.
Begitu kukabari mereka, hanya dalam hitungan detik muncul balasan: "Kami nunggu di Alun-Alun Awal."
"Seberapa pengen sih mereka main bareng aku..."
Aku tertawa kecil sambil memasang headgear dan menutup mata.
Headgear mulai menyambung ke otakku.
Dengan melakukan pengecekan keselamatan satu per satu, data sensorik virtual mulai mengalir masuk ke dalam diriku.
Saat kubuka mata perlahan, ruangan biru yang disebut "My Room" terbentang di sekelilingku.
Aku mengetuk ruang kosong dua kali untuk membuka menu, dan mataku langsung tertuju pada satu judul game yang muncul.
Itu adalah game yang baru saja selesai diunduh: Astral Online.
Begitu kugerakkan jari menyentuhnya, muncul pilihan [YA] atau [TIDAK] untuk memulai. Tanpa ragu, aku menekan [YA].
Layar selanjutnya menampilkan peringatan dasar yang selalu muncul di game VR:
Jangan bermain di luar ruangan.
Pastikan sudah ke toilet dan minum cukup air sebelum bermain.
Bermainlah di tempat yang aman agar tidak cedera jika tubuh bergerak mendadak setelah bermain.
Kebetulan aku di kamar. Sudah ke toilet dan minum juga.
Di samping bantal ada botol minuman isotonik, dan ada pagar pengaman agar tidak jatuh dari ranjang. Jadi aku bisa fokus bermain dengan tenang.
"Kalau begitu, mari mulai gamenya!"
Begitu suara dikenali, layar peringatan menghilang dan dunia biru itu berubah menjadi putih terang.
BGM yang indah mengalun. Lalu suara gadis tanpa ekspresi mulai membacakan narasi yang tertulis di kartu DL:
—Di zaman purba, seekor makhluk lahir dari emosi negatif umat manusia. Makhluk itu menciptakan enam binatang baru dan memulai perang melawan dua belas malaikat pelindung. Setelah pertempuran panjang, makhluk itu akhirnya disegel oleh malaikat Sephiroth. Para malaikat, kehabisan tenaga, mempercayakan kekuatan mereka pada keluarga kerajaan di berbagai penjuru dunia, sebagai persiapan menghadapi kebangkitan Raja Iblis Shaitan di masa depan. Waktu pun berlalu...
Karena sudah berkali-kali membaca narasi ini saat masih ragu ingin bermain, aku langsung men-skip begitu opsi itu muncul. Lalu muncullah layar baru di hadapanku.
Kini, proses character creation untuk memulai Astral Online dimulai.
Yang muncul di layar adalah versi scan tubuhku sendiri, dibuat saat full scan untuk keperluan VR.
Rambut dan mata hitam, wajah standar khas pria Jepang.
Tidak berotot karena tidak pernah berolahraga, tubuhku benar-benar biasa.
Kalau harus menilai diri sendiri, mungkin aku cuma dapat nilai 50 dari 100.
Di beberapa game, karakter ini bisa diubah jadi cowok ganteng. Tapi karena ingin cepat main, aku skip semua proses pengeditan karakter.
Langkah selanjutnya adalah memilih profesi.
Dari lebih dari sepuluh pilihan, yang paling menarik perhatian adalah: "Ksatria", "Pencuri", "Alkemis", "Penyihir", "Pandai Besi", "Ninja", "Pendeta", "Pemanggil", "Penjinak Binatang", "Pemburu", dan "Penyihir Penguat".
Saat aku bingung memilih sambil menyilangkan tangan, aku teringat percakapan VR chat beberapa hari lalu. Dua sahabatku bilang mereka main sebagai Ksatria dan Penyihir.
Kalau ingin bermain bareng mereka, mungkin aku harus memilih profesi mid-line yang bisa mendukung baik frontliner maupun backliner.
Setelah menimbang-nimbang sambil menatap daftar pilihan, aku mengangkat tangan kanan dan memilih "Penyihir Penguat".
Alasannya simpel: bisa memperkuat defense frontliner dan meningkatkan attack power backliner dengan skill buff. Dan jika bisa memperkuat diri sendiri untuk jadi attacker juga, akan jadi komposisi party yang seimbang.
Setelah memilih profesi, berikutnya adalah memilih senjata.
Berbagai jenis senjata muncul di hadapan, dan aku tanpa ragu memilih pedang satu tangan.
Alasannya beragam: mudah digunakan, tidak terlalu rumit, dan jika tidak memakai perisai, tangan bebas untuk mengambil potion dengan cepat.
Tapi alasan utamanya tetap: aku suka pedang satu tangan karena sudah terbiasa menggunakannya.
Setelah itu, muncul layar untuk memasukkan nama karakter.
Ini adalah momen krusial bagi seorang gamer.
Nama lucu atau aneh memang biasa di game, tapi ini adalah full-dive VR, dan avatar-nya adalah hasil scan penuh—ibarat duplikat diriku sendiri. Kalau pakai nama aneh, siapa tahu apa komentar sahabatku nanti.
Untuk amannya, aku ketik nama yang selalu kupakai saat serius: nama asliku dalam katakana—Sora.
"Avatar selesai dibuat. Jika ada masalah, silakan hubungi World Support System. Semoga keberuntungan menyertai petualanganmu, wahai petualang terpilih."
Setelah mendengar suara gadis yang terdengar tidak berperasaan, namun entah kenapa terasa nyaman dan nostalgic, penglihatanku perlahan berubah dari dunia biru menjadi kegelapan.
Akhirnya, saatnya dimulai.
Perasaan senang dan harapan terhadap game ini membuatku tak sadar tersenyum.
Dan dengan itu, aku—sebagai petualang Sora—seharusnya akan mendarat di Alun-Alun Awal Kerajaan Yggdrasil, titik awal dalam Astral Online.
—Seharusnya.


Posting Komentar